Anda di halaman 1dari 23

Tugas

Penyelidikan Lokasi Proyek


(Survei Awal, CPT, Vane Shear Test, SPT)

Sekolah Tinggi Teknik – PLN

Disusun Oleh :
Kelompok 6
Nabilla Riskia Sukma (201421126)
Wilda Helmina Purba (201521027)
Zulfahmi Argian Pratama (201521032)
Kirfan Stevanly Bleskadit (201521041)
Latifah Meda Ferlita (201521101)
Farisy Jannah Ramadhanty (201521107)
Muhammad Akbar Hizbullah (201521114)

Jurusan Teknik Sipil


Sekolah Tinggi Teknik – PLN Jakarta
2018
Survei Awal Penyelidikan Lokasi Proyek

Pada awal pelaksanaan proyek, pengukuran awal yang baik termasuk survey lokasi dan
pematokan awal menentukan kelancaran pelaksanaan pekerjaan berikutnya. Hal-hal yang
sebaiknya diperhatikan dalam pengukuran awal, survey lokasi dan pematokan awal antara lain
diuraikan secara singkat pada bagian ini.

Pemeriksaan dan pematokan batas lahan


Hal yang paling mendasar adalah memastikan bahwa lahan yang dilaksanakan adalah
sesuai dengan lokasi yang disebutkan dalam Kontrak dan Sertifikat Tanah yang dimiliki oleh
Owner, karena semua acuan perletakan bangunan dan infrastrukturnya, harus mengacu pada batas-
batas lahan yang benar.

Langkah pemeriksaan dan pematokan batas lahan adalah sebagai berikut :


1. Pastikan bahwa patok batas lahan, pada tiap sudut perimeter lahan sesuai dengan data
Badan Pertanahan Nasional, jika belum ada patok dari BPN, sebaiknya diminta pihak BPN
atau pengelola kawasan untuk memasang patok-patok batas lahan yang sesuai dengan data
mereka
2. Jika patok yang ada belum permanen (tidak dicor) atau tidak terlindungi dengan baik,
sebaiknya dibuat patok beton dengan cor dan memasang titik batas dengan tanda paku
tertanam di tiap patok dan lindungilah patok-patok tersebut dengan perimeter yang baik
dan mudah dipantau (dari bambu atau kaso dan diberi tanda warna atau bendera atau tanda
lain yang mudah dilihat)
3. Setelah dipastikan seluruh patok perimeter sesuai, Berita Acara Joint Survey yang sudah
disahkan bersama instansi terkait dan Konsultan Pengawas atau Owner harus disimpan dan
menjadi dasar acuan seluruh pengukuran berikutnya
4. Titik batas lahan dan garis perimeternya diplot ke gambar dan dilakukan cross check
apakah sesuai dengan batas yang diberikan dalam gambar desain atau gambar konstruksi
jika terjadi perbedaan maka harus dilaporkan kepada Konsultan untuk dilakukan
penyesuaian gambar desain
5. Periksa luas lahan apakah sesuai dengan luasan pada sertifikat tanah yang dimiliki Owner
6. Buatlah patok-patok benchmark utama (BM) yang terhubung dengan seluruh titik sudut
perimeter lahan di lokasi yang tidak terganggu selama pelaksanaan proyek dan diplotkan
pada gambar pelaksanaan, serta menjadi acuan awal pelaksanaan pematokan (stacking out)
pada bangunan-bangunan yang akan dilaksanakan
7. Jika diperlukan, dapat dibuat patok-patok pinjaman untuk mempermudah pelaksanaan
pengukuran dan pematokan berikutnya

Pemeriksaan level dan kontur tanah eksisting


Setelah batas lahan dipastikan sesuai, segera dilakukan pemeriksaan level dan kontur tanah
eksisting, untuk mendapatkan data acuan level bangunan serta infrastruktur yang akan
dilaksanakan.Data dari pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk perhitungan pekerjaan cut and
fill serta galian/urugan yang diperlukan.
Tanda atau marking level di lapangan untuk level acuan seluruh bangunan yang akan
dikerjakan, dapat berupa tanda segitiga terbalik berwarna merah dan angka level acuan, yang dapat
dibuat pada patok BM utama atau pada bangunan atau infrastruktur eksisting yang dipastikan tidak
akan berubah dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal selama pelaksanaan proyek.
Lakukan pengukuran kontur tanah eksisting, termasuk level jalan raya, saluran, pedestrian,
dsb, termasuk seluruh kondisi eksisting pada area di sekitar lokasi proyek jika memungkinkan
(sekitar 5m' di luar batas lahan).Pastikan data dipelihara dengan baik dan jika tanda yang dibuat di
lapangan terhapus atau rusak segera lakukan perbaikan atau pembuatan tanda yang baru.
Setelah diperoleh data dari pengukuran dan pengecekan batas lahan serta kontur eksisting, data
yang ada diplotkan di Gambar Situasi dan Potongan, sebagai gambar kerja, meliputi data-data dan
informasi antara lain :

1. Titik patok dan garis perimeter (batas lahan)


2. Titik patok benchmark dan pinjaman
3. Titik penempatan tanda atau marking level acuan
4. Garis kontur lahan eksisting
5. Posisi dan dimensi perimeter as atau perimeter luar masing-masing bangunan serta
infrastruktur utama yang akan dikerjakan, termasuk jarak antar bangunan dan infrastruktur
yang direncanakan
6. Garis sepadan bangunan (GSB)
7. Bangunan atau konstruksi atau infrastruktur eksisting di dalam area proyek
8. Untuk infrastruktur atau bangunan eksisting tertentu perlu diukur dan digambarkan posisi
dan dimensi aktualnya, serta diberikan tanda untuk infrastruktur eksisting yang akan
terpengaruh pekerjaan, misal : tiang listrik atau lampu PJU atau bak kontrol atau pohon
yang harus dibongkar atau dipindahkan karena lokasi penempatannya akan dibangun jalan
entrance maupun exit
9. Potongan melintang dan memanjang jalan raya eksisting dan infrastrukturnya, untuk
menunjukkan level masing-masing infrastruktur eksisting (jalan, saluran, kabel dan pipa
eksisting)
10. Potongan memanjang dan melintang yang menunjukkan level bangunan dan infrastruktur
(jalan dan saluran) yang akan dilaksanakan, untuk menunjukkan level rencana terhadap
jalan dan saluran drainase eksisting jika terdapat masalah segera informasikan kepada
Konsultan dan Owner supaya dapat diperoleh solusinya bersama-sama, misal : untuk
kemiringan saluran yang akan dilaksanakan terhadap outlet pada pertemuan dengan saluran
drainase eksisting.
11. Infrastruktur eksisting di sekitar perimeter proyek yang harus dipantau dan diambil posisi
dan levelnya antara lain :
12. jalan raya, saluran dan trotoar/pedestrian
13. tiang telepon
14. tiang listrik dan lampu PJU
15. rambu-rambu dan pohon penghijauan milik instansi kawasan atau pemerintah
16. posisi utilitas kabel dan pemipaan eksisting termasuk bak kontrol maupun instalasi
kontrol lainnya
17. menara air atau menara telekomunikasi yang berada di dekat perimeter lahan proyek,
yang mungkin akan terpengaruh, mempengaruhi atau harus dilindungi dari efek
pelaksanaan pekerjaan
18. bangunan dan utilitas milik tetangga di samping dan di seberang lokasi proyek
19. sungai, lereng dan vegetasi tinggi di sekitar lokasi proyek dalam radius yang berpengaruh
pada ataupun dipengaruhi oleh pelaksanaan proyek

Selain itu perlu juga didokumentasikan kondisi tiap bangunan atau infrastruktur atau lereng alam
eksisting, serta dibuat laporan atau berita acara yang diserahkan ke Konsultan, Owner atau instansi
terkait, untuk data dan dasar jika terjadi permasalahan, misalnya tuduhan menimbulkan kerusakan
atau tuntutan untuk memperbaiki dan memasang kembali dari pihak lain supaya dapat diketahui
apakah memang kerusakan ditimbulkan karena pelaksanaan proyek atau sudah rusak sebelum
proyek dimulai.

Pengamatan Lokasi Lapangan


Selain pengukuran dan pendataan serta pembuatan gambar seperti diuraikan di atas, kondisi
lapangan baik di dalam lokasi maupun di sekitar lokasi proyek, perlu diamati antara lain :

1. kondisi tanah dan vegetasi serta konstruksi dan utilitas eksisting di lokasi proyek
2. bahaya alam (lereng yang mudah longsor, daerah sambaran petir, dsb)
3. kondisi lalu lintas serta manuver kendaraan di sekitar lokasi proyek
4. lokasi dan nomor telepon instansi penting (kantor pemerintahan dan kawasan yang
terdekat dengan lokasi proyek : kantor kelurahan atau kecamatan, kantor polisi, klinik
atau rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, tempat ibadah, warung makan dan kios,
dsb)
5. kondisi sosial di sekitar lokasi proyek.

Hal ini dimaksudkan supaya tim Kontraktor dapat mengantisipasi segala kendala yang
mungkin timbul serta membuat persiapan pencegahannya, termasuk memberikan gambaran awal
yang baik untuk penempatan bangunan sementara termasuk akses dan jalan kerja yang diperlukan.
Kendala yang mungkin timbul antara lain : potensi kemacetan pada jam tertentu di jalan sekitar
proyek, adanya cekungan yang harus diperbaiki sebelum pelaksanaan konstruksi jalan di
proyek,dsb. Pengamatan ini juga berguna untuk menganalisa metoda kerja yang akan digunakan,
dalam kaitan aspek teknis maupun non teknis yangmungkin terjadi.

Walaupun pengamatan dan informasi ini pada umumnya telah dilakukan sebelum mengikuti
tender, lebih baik pada awal pelaksanaan, tim konstruksi melakukan pengamatan ulang supaya
diperoleh gambaran yang lebih jelas dan akutal termasuk jika informasi dari tim tender terdapat
kekurangan atau kurang jelas.
Penyelidikan Tanah

Penyelidikan tanah merupakan suatu upaya memperoleh informasi bawah tanah untuk
perencanaan pondasi bangunan sipil. Penyelidikantanah harus mencapai kedalaman dimana tanah
memberikan daya dukungatau mengkontribusi penurunan akibat struktur yang akan
dibangun.Penyelidikan tanah mencakup antara lain, pengeboran tanah, pengambilancontoh tanah,
pengujian lapangan, pengujian laboratorium dan observasiair tanah. Kedalaman penyelidikan
tergantung pada jenis struktur, jenistanah, prakiraan jenis pondasi yang akandipakai
Penyelidikan tanah sangat penting untuk dilakukan, tujuan utama penyelidikan tanah
adalah untuk menentukan jenis dan kedalamanpondasi, untuk menentukan kondisi alamiah dan
lapisan tanah yang di tinjau, mengevaluasi beban-daya dukung pondasi, menentukan
potensialproblem misal : tanah ekspensif, tanah mudah longsor, (collapsible soil), memperkirakan
air tanah, memperkirakan tekanan tanah lateralmisalnnya untuk dinding penahan tanah, dan
menentukan cara pelaksanaannya (construction method).

Langkah dan tahapan `penyelidikan


Tahapan penyelidikan tanah dan studi pondasi dapat mengikutiprosedur berikut:
1. Evaluasi dan studi kondisi lapangan.
Sebelum diadakan suatu penyelidikan tanah, diperlukaninformasi keadaan di
lapangan.Pengamatan mengenai topografi,vegetasi, bangunan yang telah ada, jalan akses dan lain-
lain.Peninjauan seperti ini perlu dilakukan oleh seorang ahligeoteknik. Informasi lain yang dapat
dikumpulkan adalah kondisi geologi, kegempaan regional, peraturan setempat, dan
besarnnyabeban dari struktur, informasi ini akan membantu tahappenyelidikan selanjutnnya.
Kedalaman penyelidikan tanah sangat berpengaruh pada jenis pondasi yang dipakai seperti
keterangandibawah ini ;

Pondasitelapakdanlajur : 3 x lebarpondasi (min. 9m)


Pondasirakit : 2 x lebar pondasi
Pondasitiangpancang : 2 x lebar tiang
Pondasitiangpancang+rakit : 2 x lebar bangunan
DindingPenahanTanah : 0,7 x lebargalianatau1 xtinggigalian(terbesar)
TimbunanTanah : 2 x lebartimbunan
2. Penyelidikan tanah awal
Pada tahapan ini dilakukan pemboran dan uji lapangan dalam jumlah yang
terbatas.Gunannya adalah untuk merencanakanpenyelidikan tanah selanjutnnya, tetapi pada
proyek dengan skalakecil, tahap ini ditiadakan.Penyelidikan tanah awal juga seringdigunakan
untuk studi kelayakan.Jumlah penyelidikan tanah padapenyelidikan awal untuk tanah normal
setiap 100 s/d 200msedangkan untuk tanah lunak setiap 50 s/d 100m.

3. Penyelidikan tanah detail


Pada tahap ini, informasi keadaan tanah yang dibutuhkan untuk perancangan dan
konstruksi pondasi dalam dikumpulkan.Informasi ini harus mencukupi perencanaan dan
kontraktor untukmenentukan jenis, kedalaman dan daya dukung pondasi dan untukmengantisipasi
penurunan yang akan terjadi, masalah yang timbulselama konstruksi dll.

Untuk dapat melakukan analisis Geoteknik (Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi) yang
benar dan baik, sangat diperlukan data-data tanah (soil test) bawah permukaan yang lengkap dan
akurat.Data-data ada yangdiperoleh langsung dari survey geoteknik lapangan dan ada yang
diperolehlangsung dari uji laboratorium terhadap contoh tanah yang diambil dari bawah
permukaan melalui boring. Penyelidikan tanah dilapangan dapatberupa penggunan dan
interpretasi foto udara dan remote sensing, metodegeofisik, metode geolistrik, sumur uji (test pit)
pemboran (boring)(dangkal sampai dalam), uji penetrometer (uji sondir, Cone PenetrationTest –
CPT), uji Vane Shear Test, Pocket Penetometer Test, CaliforniaBearing Test (CBR) dan lain
lain.Pemboran tanah/boring dan sondir (CPT) adalah pekerjaan yangpaling umum dan akurat
untuk tanah berlempung dalam survey geotekniklapangan. Yang dimaksud dengan pemboran
tanah adalah membuat lubangkedalam tanah dengan menggunakan alat bor manual maupun alat
bormesin dengan tujuan :
1) Mengidentifikasi jenis tanah sepanjang kedalaman lubang bor.
2) Untuk mengambil contoh tanah asli maupun tidak asli padakedalaman yang dikehendaki.
3) Untuk memasukkan alat uji penetrasi baku (StandartPenetration Test, SPT) pada
kedalaman yang dikehendaki.
4) Untuk memasukkan alat uji lainnya kedalam tanah yangdikehendaki, misalnya : uji
rembesan lapangan, uji vane shear,uji presuremeter, pengukuran tekanan air pori dan
lain-lain.

Para peneliti geoteknik telah banyak membuat studi tentang hasil SPTuntuk membuat
korelasi dengan hasil uji lapangan yang lain, denganberbagai sifat tanah, seperti jenis-jenis tanah
dan konsistensinya, dengan kekuatan geser tanah, parameter konsolidasi, relatif density, daya
dukung pondasi dangkal, daya dukung pondasi dalam, tiang bor dan lain-lain.

Pekerjaan sondir (Dutch Cone Penetration Test, CPT) merupakan alat penyelidikan tanah
yang sangat sederhana dan populer di Indonesia. Darialat sondir, memberikan tekanan konus (qc)
dan hambatan pelekat (fs)yang dapat dikorelasikan terhadap parameter tanah yang lain seperti
:undrained shear strength (Cu), kompressibilitas (Cc), elastisitas tanah (Es)dan dapat
memperkirakan jenis lapisan tanah dan parameter tanah lainnya.
Sampai sekarang ini, hasil uji sondir untuk tujuan-tujuan seperti :
1) Evaluasi kondisi tanah bawah permukaan di lapangan,stratigrafi (menduga struktur
lapisan tanah), klasifikasi lapisantanah, kekuatan lapisan tanah dan kedalaman lapisan
tanahkeras.
2) Menentukan lapisan tanah yang harus dibuang dan digantidengan tanah yang lebih baik
dan dipadatkan dan control kepadatan tanah timbunan.
3) Perencanaan pondasi dan perhitungan settlement.
4) Perencanaan stabilitas lereng galian atau timbunan dan lain-lain.
Penyelidikan tanah di laboratorium yang umum dilakukanadalah: sifat fisik tanah (w, e,
n, Gs, Sr), sifat plastisitas tanah (LL, PL,γ, PI, SL, SI, Ac,LI), sifat consolidasi tanah (mv, Cc,
Cr, Cs, Ca, Cv, Pc),sifat kuat kuat geser tanah (c, , c’ , ’ , Su, qu, St, Es), sifat copaction tanah
timbunan ( mak., OMC, CBR, Rd).

Hasil survei lapangan dan uji laboratorium tersebut dimaksudkan untuk dipakai sebagai
input disain pondasi, timbunan tanah dan rekayasa bangunan sipil bagian bawah, untuk lebih
mudah danpraktisnya kegunaan data tanah terhadap perencanaan pondasi dapat dibuat diagram
secara singkat sebagai berikut :

Metode penyelidikan tanah

Penyelidikan tanah yang umum dilakukan adaah berdasarkan metode :


1. Pengeboran
 Pengeboran Manual (bor tangan)
Dilakukan dengan cara menekan dan memutar agar masuk ketanah dasar,
kemampuan terbatas hannya cocok untuk pondasi dangkal dan digunakan untuk tanah
kohesif tidak banyak mengandung krikil, tidak sesuai digunakan untuk pengeboran dibawah
muka air tanah, kedalaman pengeboran 5-6 m bisa juga sampai 10 m, biasannya
penyelidikan tanah untuk proyek jalanraya, jalan rel, lapangan terbang, ringan portable dan
ekonomis dengan menggunakan alat sederhana, tidak mahal, dapat memperoleh sempel
besar, cepat pelaksanaan dan banyak digunakan. Terdapat kekurangan pada penyelidikan ini
yaitu, arearasio besar (30%), control penetrasi sulit, kualitas sempel sangat tergantung pada
pelaksanaan pengeboran.

 Pengeboran Bilas (wash boring)


Dilakukan dengan menggunkan mesin bor rotary dengan cara dikorek dan dibilas
dari dasar lubang dengan sirkulasi air untuk memudahkan penembusan ujung mata bor,
sangat cocok digunakan pada tanah lunak, kurang sesuai untuk pemboranbatuan, gangguan
terhadap struktur tanah sangat minimal. Pengeboran ini bertujuan untuk mengetahui
pertemuan antara tanah lunak dan tanah kasar (padat).
2. Cone Penetration Test/Sondir
Penyelidikan tanah dibutuhkan untuk keperluan desain pondasi TL. Yang sering digunakan
adalah dengan metode sondir. Mengingat bahwa umumnya rute jalur transmisi sangat panjang dan
lokasinya seperti persawahan dan perbukitan dan jauh dari jalan yang bisa diakses dengan
kendaraan roda empat, untuk gampangnya dipakai mesin sondir ringan, yaitu dengan kapasitas
sondir 2.5 ton. Dan alat sondir ini mudah diangkut dengan kendaraan kecil (pick up) dengan bak
terbuka dan dibawa ke lokasi penyondiran dengan tenaga manusia. Tim sondir biasanya terdiri
dari 5 orang. Batang sondir (rod) dipergunakan untuk menyondir secara vertikal hingga kedalaman
tanah 25 m dari permukaan tanah, atau kira-kira ada 25 batang yang lurus (vertically) ( panjang 1
btg= 1 m) yang lurus. Umumnya dari supplier jumlah batang hanya disediakan 20 buah saja, perlu
diorder kembali untuk keperluan pengukuran yang lebih dalam dan cadangan sewaktu-waktu
hilang atau rusak/bengkok. Dan tipe konus(cone) yang selalu dipakai adalah hanya dual-cone atau
bikonus (lihat gambar). Untuk pelumas alat sondir perlu diperhatikan bahwa oli yang dipakai
adalah dengan tingkat kekentalan (vikositas) khusus, yaitu SAE-10, dan jarang didapatkan
disekitar lokasi, maka perlu disediakan dengan jumlah yang cukup selama perawatan dan
pemakaian. Data sondir yang dibutuhkan selain dari angka perlawanan konus dan gaya gesernya
adalah penentuan kedalaman air tanah (ground water level) yang diindikasikan basahnya batang
sondir/pipa sondir pada kedalam tertentu selama pengujian.

Hal ini bisa juga diperoleh dari survei sumur penduduk sekitarnya jika memungkinkan.
Kedalaman muka air tanah biasanya juga berbeda antara musim kering atau hujan. Kondisi lokasi
juga perlu diperhatikan apakah, daerah tapak tower terendam dalam keadaan banjir (musim hujan,
apakah ada banjir tahunan atau pada periode tertentu, seperti disawah atau rawa misalnya).
Proyeksi ketinggian banjir juga sedapat mungkin diketahui dan dicantumkan dalam laporan
penyelidikan. Dalam penyondiran informasi penting adalah lokasi tower/pole, setiap lokasi tapak
tower ditandai dengan marka dari beton yang berisikan nomer lokasi atau nomer tower, letak
marka ini adalah sebagai center peg (CP) danjangan sampai dipindahkan dari tempatnnya atau
terganggu oleh peralatan dan pekerja, pantangan penyondiran jangan dilakukan pada titik daerah
dimana terdapat jalur pipa listrik,gas atau air, karena dapat membahayakan keselamatan pekerja.

3. Soil Mechanic Test in laboratory

Penyelidikan dilakukan dengan membawa hasil (sample) dari pengeboran tanah untuk
dilakukan parameter nilai dari lapisan tanah seperti berat jenis triaxial dll. Tujuannya untuk
identifikasi tanah, identifikasi urutan lapisan, kedalaman, dan ketebalan tanah, kekuatantanah,
kepadatan dan sifat deformasi tanah. Untuk tanah yang tebal biasannya diambil beberapa sempel.
Kualitas sampel dinyatakan dalam kelas sampel.
Kualitas sampel dipengaruhi oleh :
1) Alat
2) Jenis tanah
3) Pelaksanaan pengambilan
4) Transportasi
5) Penyimpanan
6) Pengujian di laboratorium
7) Pelaksanaan pengujian
4. Trial Pits
Atau penggalian percobaan umumnnya dilakukan pada saat akan dimulai pekerjaan
konstruksi pondasi dangkal (shallow foundation). Penyelidikan ini dengan cara menggali lubang
min 1m x 1m x 1m kedalaman 2m-4m. biasannya digunakan untuk bangunan ringan seperti
gedung, dinding penahan, jalan raya.

5. Metode Geofisika
Metode Refraksi Seismik
a) Berdasarkan waktu tempuh (kecepatan) penjalaran gelombang seismic di bawah muka
bumi.
b) Banyak digunakan dalam industry minyak bumi
c) Dalam geologi teknik, digunakan dalam pengukuran diatas laut.

Macam Metode Seismik


1. Seismik Refreksi (Bias)
Metode Resistivitas elektrik (Geolistrik)
1. Memanfaatkan kelistrikan tanah dan batuan
2. Umumnya hanya dilakukan di darat
3. Resistivitas batuan sangat bervariasi, tergantung pada tipe batuan/mineral dan ruang pori
(porositas, permeabilitas, saturasi air dan salinitas)
4. Resitivitas tanah akan berkurang ketika kadar air maupun konsentrasi garam bertambah.
5. Metoda ini biasanya digunakan untuk, antara lain : eksplorasi mineral, geoteknik,
geohidrologi, permasalahn lingkungan dan arkeologi.

Akusisi Data Resistivitas :


1. Horizontal Profiling (HP), untuk mengetahui variasi tipe tipe tanah secara lateral.
2. Vertikal Elektrikal Sounding (VES), untuk mengetahui variasi resitivitas secara vertical
atau dikenal sebagai resistivitas 1 dimensi.
3. Dua dimensi, menggambarkan resistivitas bawah permukaan secara dua dimensi yakni
perubahan resistivitas secara vertical dan horizontal.
4. Tiga dimensi, gabungan resistivitas dua dimensi dan mapping.
5. Kelas Sempel

Berdasarkan penyelidikan tanah, tanah dibagi kedalam soil class, yang didasarkan pada:
1. Daya dukung tanah (allowable bearing capacity)
2. Kondisi letak air tanah (ground water condition) kering (dry) atau jenuh (submerged).
3. Sudut keruntuhan tanah (soil frustrum angel)
4. Kondisi lapisan bawah (ground layer condition) tanah (soil) atau batuan (rock)

Hasil penyelidikan tanah disiapkan dalam bentuk dokumen engineering yang berisikan :
1. CPT Report yang berisikan : Data pengukuran, CPT Chart /grafik sondirdan foto lokasi
sondir
2. Borelog, untuk tiap lokasi tower yang dibutuhkan penentuan jenis lapisandan penyelidikan
lanjutan
3. Soil test report, dari laboratorium untuk lokasi tanah buat pondasi yang diperlukan guna
penyelidikan lanjut.
4. Fondation Schedule, yang merupakan rangkuman rencana tipe pondasi dari tiap lokasi
struktur yang akan dibangun.
Standart Penetration Test (SPT)

SPT (Standard penetration test) adalah salah satu jenis uji tanah yang sering digunakan
untuk mengetahui daya dukung tanah selain CPT. SPT dilaksanakan bersamaan dengan
pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh
terganggu dengan teknik penumbukan. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding
tebal ke dalam tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah
sedalam 300 mm (1 ft) vertikal. dilakukan dengan memukul sebuah tabung standar kedalam lubang
bor sedalam 450 mm menggunakan palu 63,5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian 760 mm, Yang
dihitung adalah jumlah pukulan untuk melakukan penetrasi sedalam 150 mm. Jumlah pukulan
yang digunakan adalah pada penetrasi sedalam 300 mm terakhir. Sewaktu melakukan pengeboran
inti, jika kedalaman pengeboran telah mencapai lapisan tanah yang akan diuji, mata bor dilepas
dan diganti dengan alat yang disebut tabung belah standar (Standar Split barrel sampler). Setelah
tabung ini dipasang, bersama-sama dengan pipa bor, alat diturunkan sampai ujungnya menumpu
lapisan tanah dasar, dan kemudian dipukul dari atas.

Dapat digunakan untuk mendapatkan parameter tanah secara kualitatif melalui korelasi
empiris Keunggulan SPT Profil kekuatan tanah tidak menerupakan Dalam sistem beban jatuh ini,
digunakan palu dengan beban 140 lb (63,5 kg) yang dijatuhkan secara berulang dengan ketinggian
30 in (0,76 m). Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu berturut-turut setebal 6 in
(150 mm) untuk masing-masing tahap.

Tahap pertama dicatat sebagai dudukan, sementara jumlah pukulan untuk memasukkan
tahap kedua dan ketiga dijumlahkan untuk memperoleh nilai pukulan N atau perlawanan SPT
(dinyatakan dalam pukulan /0,3 m atau pukulan per foot(ft)). Uji SPT dilakukan pada setiap 2m
pengeboran dan dihentikan pada saat uji SPT N diatas 60 N berturut turut sebanyak 3 kali. SPT
Merupakan singkatan dari standard penetration test, merupakan salah satu uji tanah yang paling
sering dilakukan, dilakukan dengan menjatuhkan batangan besi (pemukul) ke bor yang ada di
dalam tanah, dan menghitung jumlah pukulan yang diperlukan untuk memperdalam lubang bor
sedalam 15 cm. Semakin banyak pukulan yang diperlukan, semakin keras tanah yang sedang
diteliti, dan dapat disimpulkan juga semakin besar phi ataupun kohesi dari tanah tersebut.

Standart Penetration Test (SPT) dilakukan untuk mengestimasi nilai kerapatan relatif dari
lapisan tanah yang diuji.Untuk melakukan pengujian SPT dibutuhkan sebuah alat utama yang
disebut Standard Split Barrel Sampler atau tabung belah standar.Alat ini dimasukkan ke dalam
Bore Hole setelah dibor terlebih dahulu dengan alat bor.Alat ini diturunkan bersama-sama pipa
bor dan diturunkan hingga ujungnya menumpu ke tanah dasar.Setelah menumpu alat ini kemudian
dipukul (dengan alat pemukul yang beratnya 63,5 kg) dari atas. Pada pemukulan pertama alat ini
dipukul hingga sedalam 15 cm. Kemudian dilanjutkan dengan pemukulan tahap kedua sedalam 30
cm dan dilanjutkan sedalam 45. Pukulan kedua dan ketiga inilah muncul nilai "N" yang merupakan
manifestasi jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk membuat tabung standar mencapai kedalaman
45 cm.

Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah, disertai
pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm vertikal. Dalam
sistem beban jatuh ini digunakan palu dengan berat 63,5 kg, yang dijatuhkan secara berulang
dengan tinggi jatuh 0,76 m. Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu berturut-turut
setebal 150 mm untuk masing-masing tahap. Tahap pertama dicatat sebagai dudukan, sementara
jumlah pukulan untuk memasukkan tahap ke-dua dan ke-tiga dijumlahkan untuk memperoleh nilai
pukulan N atau perlawanan SPT (dinyatakan dalam pukulan/0,3 m).

Teknik pemboran yang baik merupakan salah satu prasyarat untuk mendapatkan hasil uji
SPT yang baik. Teknik pemboran yang umum digunakan adalah teknik bor bilas (wash boring),
teknik bor inti (core drilling) dan bor ulir (auger boring). Peralatan yang digunakan pada masing-
masing teknik pemboran harus mampu menghasilkan lubang bor yang bersih untuk memastikan
bahwa uji SPT dilakukan pada tanah yang relatif tidak terganggu Bila digunakan teknik bor bilas
maka mata bor yang digunakan harus mempunyai jalan air melalui samping mata bor dan bukan
melalui ujung mata bor.

Apabila air yang dipompakan melalui batang pancang kedasar lubang keluar dari ujung
mata bor maka aliran air dari ujung mata bor tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
pelunakan\ganguan pada dasar lubang bor, yang pada gilirannya akan menghasikkan nilai N yang
lebih rendah dari pada yang seharusnya.

Peralatan

1. Mesin bor yang dilengkapi dengan peralatannya;


2. Mesin pompa yang dilengkapi dengan peralatannya;
3. Split barrel sampler
4. Palu dengan berat 63,5 kg dengan toleransi meleset ±1%.
5. Alat penahan (tripod);
6. Rol meter;
7. Alat penyipat datar;
8. Kerekan;
9. Kunci-kunci pipa;
10. Tali yang cukup kuat untuk menarik palu;
11. Perlengkapan lain.
12.

Prosedur Percobaan

 Persiapan pengujian
1. Lakukan persiapan pengujian SPT di lapangan dengan tahapan sebagai
berikut:
2. Pasang blok penahan (knocking block) pada pipa bor;
3. Beri tanda pada ketinggian sekitar 75 cm pada pipa bor yang berada di atas
penahan;
4. Bersihkan lubang bor pada kedalaman yang akan dilakukan pengujian dari
bekas-bekas pengeboran;
5. Pasang split barrel samplerpada pipa bor, dan pada ujung lainnya
disambungkan dengan pipa bor yang telah dipasangi blok penahan;
6. Masukkan peralatan uji SPT ke dalam dasar lubang bor atau sampai
kedalaman pengujian yang diinginkan;
7. Beri tanda pada batang bor mulai dari muka tanah sampai ketinggian 15 cm,
30 cm dan 45 cm.
 Prosedur pengujian
1. Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut:
2. Lakukan pengujian pada setiap perubahan lapisan tanah atau pada interval
sekitar 1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperluan;
3. Tarik tali pengikat palu (hammer) sampai pada tanda yang telah dibuat
sebelumnya (kira-kira 75 cm);
4. Lepaskan tali sehingga palu jatuh bebas menimpa penahan
5. Ulangi 2) dan 3) berkali-kali sampai mencapai penetrasi 15 cm;
6. Hitung jumlah pukulan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm yang pertama;
7. Ulangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-dua dan ke-tiga;
8. Catat jumlah pukulan N pada setiap penetrasi 15 cm:
- 15 cm pertama dicatat N1
- 15 cm ke-dua dicatat N2
- 15 cm ke-tiga dicatat N3

Jumlah pukulan yang dihitung adalah N2+ N3. Nilai N1 tidak diperhitungkan
karena masih kotor bekas pengeboran;

9. Bila nilai N lebih besar daripada 50 pukulan, hentikan pengujian dan tambah
pengujian sampai minimum 6 meter;
10. Catat jumlah pukulan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis tanah batuan.

Pelaksanaan Standar Penetration Test (SPT)


Cone Penetration Test (CPT) / SONDIR

Cone Penetration Test (CPT) atau lebih sering disebut sondir adalah salah satu survey
lapangan yang berguna untuk memperkirakan letak lapisan tanah keras. Tes ini baik dilakukan
pada lapisan tanah lempung. Dari tes ini didapatkan nilai perlawanan penetrasi konus. Perlawanan
penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per
satuan luas. Sedangkan hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus
dalam gaya per satuan panjang. Nilai perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat dapat
diketahui dari bacaan pada manometer.

Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahui karakteristik tanah yang
dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan konstruksi. Sondir ada
dua macam, yang pertama adalah sondir ringan dengan kapasitas 0-250 kg/cm² dan yang kedua
adalah sondir berat dengan kapasitas 0-600kg/cm². Jenis tanah yang cocok disondir dengan alat
ini adalah tanah yang tidak banyak mengandung batu.

Komponen utama sondir


Komponen utama sondir adalah konus yang dimasukkan kedalam tanah dengan cara
ditekan. Tekanan pada ujung konus pada saat konus bergerak kebawah karena ditekan, dibaca pada
manometer setiap kedalaman 20 cm. Tekanan dari atas pada konus disalurkan melalui batang baja
yang berada didalam pipa sondir (yang dapat bergerak bebas, tidak tertahan pipa sondir). Demikian
juga tekanan yang diderita konus saat ditekan kedalam tanah, diteruskan melalui batang baja
didalam pipa sondir tersebut ke atas, ke manometer.
Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk:
1. Menentukan tipe atau jenis pondasi apa yang mau dipakai
2. Menghitung daya dukung tanah asli
3. Menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya

Tujuan Percobaan
1. Mengetahui perlawanan penetrasi konus.
2. Mengetahui hambatan lekat tanah.

Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam percobaan sondir adalah sebagai berikut:

1. Membersihkan lokasi sekitar sondir dari rerumputan dan bebatuan, sehingga terdapat
permukaan yang rata,
2. Memasang angker dan mengaturatur mesin sondir bisa berdiri vertikal tempat yang
akan diperiksa dan pasang manometer,
3. Mengisi mesin sondir dengan oil SAE 20. Usahakan pengisian oil sondir sampai bebas
udara,
4. Memasang konis atau batang konis tersebut pada ujung pipa sondir pertama,
5. Pasang rangkai pertama beserta konis tersebut pada mesin sondir,
6. Menyiapkan alat-alat untuk pembacaan antara lain tutup kran-kran dan jarum
manometer harus pada posisi 0,
7. Kemudian kran pada manometer 0–60 kg/cm2 dan 0–250 kg/cm2 dibuka dan mulai
penekanan. Umumnya konis atau batang konis mencapai kedalaman 20 cm,manometer
dibaca, mula-mula perlawanan tanah konis untuk penekanan 4 cm ke bawah sama 20
cm akan didapat pembacaan tahanan (JP) yaitu perlawanan penetrasi konis (PK) dan
hambatan lekat (HL). Pembacaan manometer yaitu saat terjadi loncatan pada jarum
manometer,
8. Kemudian dilakukan penekanan untuk kedalaman 20 cm berikutnya. Kemudian ulangi
lagi pembacaan tekanan konis atau batang konis pada pembacaan total,
9. Harus diperhatikan jika tanahnya makin keras dan PK + JP mendekati 90 kg/cm2
dilakukan pergantian manometer dengan jalan menutup kran manometer 0–60
kg/cm2 pindah manometer 0–250 kg/cm2,
10. Pembacaan PK dan JP dilakukan tiap 20 cm dan seterusnya. Pembacaan dihentikan jika
didapat pembacaan PK tiga kali berturut-turut melebihi 200 kg/cm2 atau sampai
kedalaman 30 m,
11. Apabila digunakan konis tidak memakai batang konis maka pembacaan manometer
hanya dilakukan pada penekanan pertama (PK). Penekanan dilakukan pada setiap
penekanan pipa sedalam 20 cm, dan
12. Untuk sondir berat pada waktu tekanan manometer tiga kali berturut-turut melebihi 500
kg/cm2 atau kedalaman maksimum 30 m dihentikan.

Keuntungan dan Kerugian Alat Sondir

 Keuntungan:
a. Cukup ekonomis.
b. Apabila contoh tanah pada boring tidak bisa diambil (tanah lunak / pasir).
c. Dapat digunakan manentukan daya dukung tanah dengan baik.
d. Adanya korelasi empirik semakin handal.
e. Dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran.
f. Dalam prakteknya uji sondir sangat dianjurkan didampingi dengan uji lainnya baik
uji lapangan maupun uji laboratorium, sehingga hasil uji sondir bisa diverifikasi atau
dibandingkan dengan uji lainnya.
g. Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.
h. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan
i. Dapat digunakan pada lapisan berbutir halus
j. Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.

 Kerugian:
a. Jika terdapat batuan lepas biasa memberikan indikasi lapisan keras yang salah.
b. Jika alat tidak lurus dan tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh bisa
merugikan.
c. Tidak dapat diketahui tanah secara langsung
Pelaksanaan Cone Penetration Test/Sondir
Vane Shear Test (VST)

Tujuan dari Vane Shear Test adalah untuk menyelidiki/mengetahui jenis-jenis lapisan
tanah(stratigrafi) pada setiap kedalaman. Menetapkan kedalaman untuk pengambilan contoh tanah
asli atau tidak asli, Pengambilan contoh tanah asli dan tidak asli untuk keperluaan penyelidikan
lebih lanjut di Laboratorium. Mengukur kekuatan geser langsung di lapangan.

Penyelidikan tanah dilapangan dibutuhkan untuk data perencanaan pondasi bangunan.


Penyelidikan dapat dilakukan dengancara menggali lubang-percobaan (trial-pit), pengeboran, dan
pengujian langsung dilapangan(in-situ test ). Terdapat beberapa cara penyelidikan tanah yang
berguna untuk mengetahui kondisi lapisan tanah dan sifat-sifat teknisnya,diantaranya :

1) Lubang-percobaan (trial-pit)
2) Bor tangan (hand auger)
3) Bor cuci (wash boring)
4) Penyelidikan dengan pencucian (wash probing).

Vane Shear Test (VST) merupakan alat in-situ yang digunakan untuk menentukan nilai
kuat geser tak terdrainase dari suatu tanah. Kapasitas VST dapat mencapai pada kuat geser hingga
200 kPa pada tanah lunak jenuh air. Dari penelitian sebelumnya, pengujian VST pada tanah dengan
konsistensi medium hingga lempung lunak diperoleh nilai su ≤ 50 kPa. VST juga dapat digunakan
pada tanah lanau, gembur dan material tanah lainnya yang dapat diprediksi kekuatan geser tak
terdrainase-nya. Metode penggunaan VST ini tidak dapat diaplikasikan pada 10 tanah pasir,
gravel, dan jenis tanah lainnya yang memiliki permeabilitas tinggi. Pada penelitian sebelumnya
diperoleh bahwa alat VST memang dibutuhkan untuk tes pada tanah yang memiliki permeabilitias
rendah untuk respon dari suatu pengujian untuk menggambarkan kuat geser tak terdrainase. Tes
ini dilakukan pada tahun 1919 di Swedia kemudian dikembangkan oleh John Olsson (di Flodin
dan Broms, 1981). VST terdiri dari empat baling-baling (blade) berbentuk persegi panjang dengan
sudutnya 90˚, baling-baling tersebut kemudian akan didorong masuk ke dalam tanah kemudian
diikuti dengan pengukuran torsi yang dibutuhkan pada prosedur uji ketika baling-baling
menggeser tanah. Torsi yang didapat dapat mengukur seberapa besar perlawanan tanah yang
muncul akibat pergeseran yang diterima dari baling-baling.

Beberapa keuntungan dari penggunaan VST ini adalah :

1. Salah satu metode in-situ yang ekonomis dan cukup cepat dalam prosedur pengujian di
lapangan.
2. Dapat mengukur kuat geser tanah dalam kapasitas yang besar hingga 200 kPa.
3. VST dapat menentukan propertis tanah lunak sensitif yang sulit dilakukan di
laboratorium tanpa perlakuan yang halus.
4. Salah satu alat yang sering digunakan dalam menganalisis kuat geser tak terdrainase.

Adapun beberapa kekurangan dari penggunaan VST ini adalah:

1. VST dapat terjadi kesalahan (error) yang diakibatkan oleh kelebihan gaya gesek pada
batang VST, kalibrasi torsi yang tidak sesuai, derajat putaran yang tidak memenuhi
standar.
2. Sangat tergantung pada operator dalam memutar VST sehingga keakuratan hasil
sangat dipengaruhi pada operator yang melakukan.

ASTM D2573 memberikan beberapa sumber-sumber mayor mengenai eror yang terjadi di
alat uji vane shear. Bor putar (rotary drill) Tujuan pengeboran salah satunya untuk mengambil
sampel tanah asli (undisturbed sample) dan sampel tanah tidak asli (disturbed sample), sehingga
kita dapat mengidentifikasi jenis-jenis lapisan tanah pada setiap kedalaman, apakah tanahtersebut
berjenis pasir, lanau, lempung atau berupa gabungan dari jenis-jenis tanah tersebut.

Peralatan

Alat bor terdiri dari :

1. Stang bor secukupnya


2. kunci mata bor
3. T + engkol2

Alat sampling terdiri dari :

1. Tabung sampel
2. Stick aparat + kunci yang sesuai

Alat Vane terdiri dari :

1. Mata Vane + koupling


2. Stang vane secukupnya + kepala
3. Torsimeter

Perlengkapan :

1. Kunci pipa
2. Parafin
3. Obeng / spatula
4. Kompor
5. Dongkrak & angker
6. Panci

Prosedur Kerja

A. Pengambilan Contoh Tanah Asli


1. Contoh tanah asli diambil pada setiap interval tertentu.
2. Pada kedua sisi lubang bor dipasang angker tempat dudukan rangka dongkrak.
3. Dasar lubang dibersihkan dari runtuhan tanah (memakai tangan kalau
memungkinkan).
4. Mata bor dilepas dari stangnya dan diganti dengan stick aparat untuk memasang tabung
sampel.
5. Ukur panjang tabung sampel kemudian tabung sampel dimasukkan ke dalam lubang
bor hingga dasar lubang.
6. Pada bagian atas dari stangnya dipasang kepala untuk dudukan alas martil.
7. Tekan dengan cara memukul dudukan alas dengan martil sampai tabung sample terisi
penuh.
8. Setelah tabung sampel penuh stang diputar 180 derajat untuk memutuskan tanah
dibagian bawah tabung sampel kemudian ditarik ke atas dan dikeluarkan dari lubang.
9. Segera lepaskan tabung sampel dari stangnya lalu dibersihkan. Tanah pada kedua
ujungnya dikorek sedikit kemudian ditutup dengan parafin cair yang telah dipersiapkan
sebelumnya, kemudian diberi label.

B. Vane Shear Test

1. Stel alat Vane yang terdiri dari mata vane (bagian bawah), kopling stang dan kepala
(connection).
2. Masukkan alat Vane ke dalam lubang bor, di tekan/ dipukul hingga mata sampai
kopling benar-benarmasuk ke dalam tanah asli.
3. Dengan menggunakan kunci pas, putar stang bolak-balik hingga bagian stang terbebas
dari pengaruh gesekan tanah.
4. Pasang torsi meter lalu putar perlahan-lahan searah dengan putaran jarum jam hingga
terjadi keruntuhan yang ditunjukkan oleh menurunnya bacaan jarum hitam dari
torsimeter sedangkan jarum merah menunjukkan bacaan maksimum kemudian catat
bacaan tersebut.

Pelaksanaan Vane Shear Test


Uji Beban Plat
Plate Load Test adalah uji lapangan untuk menentukan daya dukung tanah dan
kemungkinan penyelesaian di bawah beban yang diberikan. Uji Beban Plate pada dasarnya terdiri
dari pemuatan pelat baja yang ditempatkan pada tingkat pondasi dan merekam permukiman yang
sesuai dengan setiap kenaikan beban. Beban uji secara bertahap meningkat sampai piring mulai
tenggelam dengan kecepatan tinggi. Nilai total beban pada pelat pada tahap seperti itu dibagi
dengan luas pelat baja yang memberi nilai daya dukung akhir tanah. Daya dukung tanah yang
utama dibagi dengan faktor keamanan yang sesuai (yang bervariasi dari 2 sampai 3) sampai pada
nilai daya dukung yang aman dari tanah. Untuk pemahaman yang lebih baik, Uji Beban Lempeng
ini dapat dibagi menjadi beberapa kepala berikut:
1. Uji set-up
2. Prosedur pengujian
3. Interprestasi hasil
4. Keterbatasan tes

1. Setup Uji:
Sebuah lubang uji digali di lokasi sampai kedalaman pondasi diusulkan untuk diletakkan.
Lebar lubang harus paling sedikit 5 kali lebar pelat uji. Di tengah pit ada sedikit depresi atau lubang
persegi dibuat yang ukurannya sama dengan ukuran pelat uji dan tingkat bawahnya sesuai dengan
tingkat pondasi sebenarnya. Kedalaman lubang harus sedemikian rupa sehingga rasio kedalaman
terhadap lebar area yang dimuat kira-kira sama dengan rasio kedalaman aktual dengan lebar
pondasi.
Pelat baja ringan (juga dikenal sebagai pelat bantalan) yang digunakan dalam pengujian tidak
boleh kurang dari 25 mm dan ukurannya bisa bervariasi antara 300 sampai 750 mm. Pelat itu bisa
berbentuk persegi atau melingkar. Pelat melingkar diadopsi dalam kasus pijakan melingkar dan
pelat persegi digunakan pada semua jenis pijakan lainnya. Pelat adalah mesin di sisi dan tepi.

2. Prosedur Pengujian:
Beban diterapkan ke pelat uji melalui kolom yang ditempatkan di pusat. Beban uji
ditransmisikan ke kolom dengan salah satu dari dua metode berikut
(i) Dengan metode pemuatan beban atau pemuatan reaksi
(ii) Dengan metode truss loading.

(i) Pembebanan gravitasi atau metode pemuatan reaksi:


Dalam kasus metode pemuatan gravitasi, platform pemuatan dibangun di atas kolom
yang ditempatkan pada pelat uji dan beban uji diterapkan dengan menempatkan bobot mati dalam
bentuk kantong pasir, pig iron, balok beton, batang timbal, dll pada platform. Sering kali jack
hidrolik diletakkan di antara platform pemuatan dan bagian atas kolom untuk menerapkan beban
ke pelat uji - reaksi soket hidrolik ditanggung oleh platform yang terpasang. Bentuk pemuatan ini
disebut sebagai pemuatan reaksi.
Metode Uji Beban Plate - Reaksi dengan pemuatan gravitasi

Metode Reaksi Truss:


Dalam kasus metode truss reaksi, alih-alih membangun platform pemuatan, rangka baja
dengan ukuran yang sesuai disediakan untuk menahan reaksi jack hidrolik. Batangnya terpasang
kuat ke tanah dengan menggunakan jangkar baja dan tali pria disediakan untuk memastikan
stabilitas lateralnya. Saat beban diterapkan ke pelat uji, alat itu mulai tenggelam perlahan.
Penyelesaian pelat dicatat ke akurasi 0,02 mm dengan bantuan alat pengukur dial sensitif.
Setidaknya dua alat pengukur suara digunakan untuk memperhitungkan penyelesaian diferensial.
Alat pengukur dial ditempatkan pada ujung pelat yang berlawanan arah dan berlawanan, dan satu
alat pengukur dial dipasang pada batang referensi atau datum yang didukung secara independen.
Saat piring tenggelam, ram dari alat pengukur dial bergerak ke bawah dan penyelesaiannya dicatat.
Besarnya beban ditunjukkan pada alat pengukur beban dari jack hidrolik. Beban diterapkan dalam
kenaikan reguler sekitar 2KN atau 1/5 dari daya dukung akhir yang diharapkan, mana yang kurang.
Penyelesaian harus diamati untuk setiap kenaikan beban setelah selang waktu 1, 4, 10, 20, 40 dan
60 menit dan kemudian pada interval per jam sampai tingkat penyelesaian menjadi kurang dari
002 mm per jam. Beban maksimum yang harus diaplikasikan untuk pengujian harus sekitar 15 kali
daya dukung akhir yang diharapkan dari tanah.
Dalam kasus tanah liat, kurva penyelesaian waktu harus diplot pada setiap tahap beban
dan beban harus ditingkatkan ke tahap berikutnya, baik ketika kurva menunjukkan bahwa
penyelesaian telah melampaui 70 sampai 80% dari penyelesaian akhir yang mungkin terjadi pada
tahap tersebut atau pada tingkat akhir periode 24 jam.
Uji Beban Plate - Reaksi oleh Truss Loading
Untuk tanah selain tanah liat, setiap kenaikan beban harus dijaga agar tidak kurang dari satu jam
atau sampai saat tingkat penyelesaian dikurangi secara berarti (dengan nilai 0,02 mm per mm).
Peningkatan berikutnya beban kemudian harus diterapkan dan pengamatan diulang. Pengujian
dilanjutkan sampai penyelesaian 25 mm dalam keadaan normal atau 50 mm pada kasus khusus
(seperti kerikil padat, dan campuran pasir) diperoleh atau sampai terjadi kegagalan, mana saja yang
lebih awal.

3. Interpretasi Hasil:
Observasi intensitas beban dan penyelesaian uji beban pelat diplot dalam bentuk kurva
penyelesaian beban.

Load Settlement Curves


Gambar diatas menunjukkan empat kurva khas yang diterapkan pada tanah yang berbeda.
 Kurva I khas untuk tanah non.cohesive longgar. Dapat dilihat bahwa pada awalnya kurva
ini adalah garis lurus, namun seiring kenaikan beban, ratakannya. Tidak ada titik jelas
kegagalan geser.
 Kurva II khas untuk tanah kohesif. Ini mungkin tidak cukup lurus pada tahap awal dan
bersandar ke sumbu penyelesaian saat permukiman meningkat.
 Kurva III khas untuk tanah yang sebagian kohesif.
 Kurva IV khas untuk tanah non-kohesif yang padat.
Daya dukung yang aman diperoleh dengan membagi daya dukung akhir dengan faktor
keamanan yang bervariasi dari 2 sampai 3. Nilai daya dukung yang aman sehingga sampai pada,
dianggap berdasarkan kriteria kegagalan geser.
Daya dukung yang aman (SBC) berdasarkan permukiman yang diizinkan. Seperti yang
ditunjukkan sebelumnya permukiman pijakan juga terkait dengan SBC tanah. Nilai daya dukung
akhir dan karenanya SBC dalam kasus ini, dapat diperoleh dari kurva penyelesaian beban dengan
membaca nilai intensitas beban sesuai dengan penyelesaian pelat uji yang diinginkan. Nilai
permukiman yang diizinkan (Sf) untuk berbagai jenis pijakan (terisolasi atau rakit) untuk berbagai
jenis struktur ditentukan di l.S. kode. Penyelesaian pelat uji (Sp) yang sesuai dapat dihitung dari
rumus berikut,
Sf = Sp {[B (Bp + 0.3)] / [Bp (B + 0.3)]} ^ 2
Dimana,
B = lebar pijakan dalam mm.
Bp = lebar pelat uji dalam mm.
Sp = penyelesaian pelat uji dalam mm.
Sf = penyelesaian pijakan dalam mm.

4. Keterbatasan uji beban lempeng:


Uji beban lempeng, meskipun sangat berguna dalam memperoleh informasi yang
diperlukan tentang tanah untuk disain pondasi memiliki keterbatasan sebagai berikut,
 Hasil pengujian hanya mencerminkan karakter tanah yang berada di kedalaman kurang
dari dua kali lebar pelat bantalan. Biasanya pondasi lebih besar dari pelat uji, permadani
dan ketahanan geser tanah terhadap kegagalan geser akan bergantung pada sifat banyak
lapisan kapur. Dengan demikian hasil tes bisa menyesatkan jika karakter tanah berubah
pada kedalaman dangkal.
 Uji Beban Piring berdurasi pendek, tidak memberikan penyelesaian akhir terutama dalam
kasus tanah kohesif.
 Untuk tanah liat, kapasitas bantalan (dari pertimbangan geser) untuk pondasi yang besar,
hampir sama dengan pelat uji yang lebih kecil. Tapi di tanah berpasir padat, kelebihan
bantalan meningkat dengan ukuran pondasi dan karenanya uji dengan plat uji ukuran lebih
kecil cenderung memberi nilai konservatif pada tanah berpasir padat.
Mengingat keterbatasan di atas, metode uji beban lempeng untuk menentukan SBC tanah
dapat dianggap memadai untuk struktur ringan atau kurang penting dalam kondisi normal. Namun,
dalam kasus lapisan tanah yang tidak biasa dan untuk semua struktur berat dan penting, tes
laboratorium atau uji lapangan yang relevan sangat penting untuk membangun SBC tanah.
KESIMPULAN
Dengan mengumpulkan dan mempelajari semua data tentang keadaan tanah dan kondisi geologi
di lapangan/di laboratorium:
1. Dapat diketahui menentukan jenis dan kedalaman pondasi, memperkirakan air tanah,
memperkirakan tekanan tanah lateral.
2. Dalam pengujian Standart Penetration Test (SPT), dapat diketahui nilai kerapatan relatif
dari lapisan tanah yang diuji.
3. Dari pengujian Sondir/ uji CPT, untuk mengetahui karakteristik tanah yang dilakukan di
lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan konstruksi serta
mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan tanah lekat.
4. Dengan melakukan Vane shear test dapat menyelidiki/mengetahui jenis-jenis lapisan
tanah(stratigrafi) pada setiap kedalaman dan dapatmenentukan nilai kuat geser tak
terdrainase dari suatu tanah.

5. Berdasarkan hasil penyelidikan Alat uji Sondir, pengujian Bor serta pengujian penetrasi
dengan SPT yang dilakukan di masing-masing lokasi dapat diketahui type dan bentuk
pondasi yang nantinya dipakai pedoman dalam pelaksana pekerjaan di lapangan.