Anda di halaman 1dari 19

TOPOGRAFI AKUNTANSI PAJAK

Informasi Akuntansi

Akuntansi merupakan kegiatan jasa yang berfungsi menyajikan informasi kuantitatif


mengenai suatu entitas ekonomis sebagai dasar untuk pengambilan suatu keputusan ekonomis
terhadap beberapa alternatif yang tersedia. Sedangkan akuntansi pajak merupakan bagian dari
akuntansi yang berhubungan dengan penyajian infomasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.

Informasi kuantitatif dikategorikan sebagai informasi akuntansi, apabila informasi


kuantitatif tersebut dapat dukur dan dinyatakan dalam bentuk uang (money measurement
concept). Data yang berkenaan dengan umur pegawai, lamanya pengalaman kerja, walaupun
termasuk dalam informasi kuantitatif, akan tetapi tidak dapat dikategorikan sebagai inlormasi
akuntansi. karena tidak dapat diukur dengan uang. Pada dasarnya, tidak ada satu batasan yang
tajam antara informasi nonkeuangan (nonmonetary information) dan informasi keuanqan
(monetary information), karena tidak jarang Informasi nonkeuangan tersebut dlcantumkan
dalam laporan keuangan dalam angka memperjelas laporan keuangan tersebut. misalnya data
yang bekenaan dengan jumlah unit penjualan. jumlah unit persediaan. jumlah unit produksi,
dan seterusnya.

Pada umumnya, informasi yang diperlukan dalam rangka pengelolaan perusahaan,


adalah:

1) Informasi operasional (oprating information)


2) Informasi akuntansi keuangan financial accounting infornatwu)
3) lnfomasi akuntansi manajemen (manajcmcn accounting information)
4) Infoimasi akuntansi pajak (tax accounting information)

OIeh karena akuntansi pajak ditujukan untuk dapat menyajikan informasi yang berkenaan
dengan perpajakan, maka metode, prosedur. dan teknik pembukuannya sangat dipengaruhi
oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang meliputi undang-undang
pajak. peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri keuangan, keputusan dan
surat edaran Direktur Jenderal Pajak. Dalam hal ini, keputusan/surat edaran Direktur Jenderal
Pajak selain berfungsi mengintrepretasikan pasal-pasal dalam undang-undang yang sesuai
dengan apa yang dimaksudkan oleh pemerintah, juga berfungsi sebagai petunjuk
pelaksanaannya. Selain itu, akuntansi pajak juga dipengaruhi oleh perjanjian penghindaran
pajak berganda (tax treaty) dan keputusan peradilan pajak {(Pengadilan Pajak)—Peradilan
Tata Usaha Negara (PTUN)} yang merupakan yurisprudensi dan dapat merupakan sumber
rujukan bagi akuntansi pajak.

Bahkan, sistem pungutan yang saat ini disebut sebagai sistem “self-assessment” pun
berpengaruh terhadap akuntansi pajak. Namun, sebelum sampai kepada system pungutan
tersebut, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu mengenai inti persoalan perpajakan.
Inti Persoalan Perpajakan

Inti persoalan perpajakan adalah siapa yang harus membayar pajak dan berapa besarnya
pajak yang terutang. Persoalan tentang siapa yang harus membayar pajak adalah persoalan
subjek pajak, yang terdiri dan orang pribadi atau badan, sedangkan besaran pajak terutang,
menyangkut masalah objek pajak, tarif pajak dan dasar pengenaan pajak. Apabila di dalam
subjek pajak terdapat objek pajak. maka dia disebut Wajib Pajak (Taxpayer), dan apabila tarif
dikalikan dengan dasar pengenaan pajak, maka akan diperoleh pajak terutang.

Inti persoalan tersebut jelas memperlihatkan bahwa pengetahuan dasar yang mutlak
harus diketahui guna penghitungan pajak terutang adalah subjek pajak, objek pajak, tarif, dan
dasar pengenaan pajak dan masing-masing jenis pajak. Bahkan, sesungguhnya pengetahuan
dasar tensebut tdak sebatas perundang-undangan saja, tetapi juga harus dipelajari ketentuan
yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri
Keuangan. Keputusan atau Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Yang pada dasarnya
merupakan petunjuk pelaksanaan, dan bahkan terkadang disertai pula dengan cara-cara
menghitung pajak terutang.

Sistem Self-Assessment

Sistem pemungutan yang dianut Indonesia saat ini, ialah sistem menetapkan sendiri (self
assessment), yaitu ketetapan pajak yang ditetapkan oleh wajib pajak sendiri yang
dilakukannya dalam Surat Pemberitahuan (SPT). Menurut Carl S. Shoup, sistem self
assessment merupakan tipe ke-6 dan tipe administrasi perpajakan yang selanjutnya
mengungkapkan pula bahwa tipe administrasi perpajakan banyak ditentukan oleh bentuk
kerja sama atau tingkat partisipasi wajib pajak atau pemotong/pemungut pajak dan respons
wajib pajak terhadap pengenaan pajak tersebut. Dalam tipe ke-6 ini wajib paak mendapat
beban yang berat, karena wajib pajak harus melaporkan semua informasi yang relevan dalam
Surat Pemberitahuannya, menghitung dasar pengenaan pajaknya, mengalkulasi jumlah pajak
yang terutang dan melunasi pajak yang terutang atau mengangsur jumlah pajak yang
terutang. Bersamaan dengan ¡tu wajib pajak memperoleh pula kesempatan yang luas untuk
melakukan penyelundupan, baik secara unilateral yaitu dengan cara memberikan informasi
yang palsu atau menunda pembayaran, maupun secara bilateral yaitu dengan cara kolusi
dengan petugas penetapan, pemeriksa dan penagih pajak dan jajaran instansi pajak.
Sanggahan dapat terjadi sejak saat wajib pajak tersebut mengisi Sunat Pemberitahuannya,
dan sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menjelaskan atau mempertahankan hal-
hal yang ditetapkannya dalam Surat Pemberitahuannya sendlri apabila diminta oleh Instansi
pajak. Wajib Pajak pun harus pula dengan sungguh sungguh memerhatikan tançjgal jatuh
tempo atau tanggal menjelang jatuh tempo pengisian SPT dan pembayarannya, agar tidak
dianggap bersalah melakukan kelalaian memenuhi kewajiban perpajakannya atau dengan
perkataan lain penggunaan system selain partisipasi wajib pajak yang sangat Puas dalam hal
ketetapan pajak, juga mengandung risiko terbukanya kesempatan penyelundupan pajak yang
lebih luas, baik unilateral maupun bilateral serta mudahnya terjadi ekstorsi.
Tidak ada satu pasal pun dalam undang-undang perpajakan yang menjelaskan apa yang
dimaksud dengan sistem baru tersebut, terkecuali dalam penjelasan atas Undang-undang RI.
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakari. yang berbunyi
sebagai berikut:

Ciri dan corak tersendiri dan sistem pemungutan pajak tersebut adalah:

a. Pemungutan pajak merupakan perwujudan dan pengabdian kewajiban dan peían serta
Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban
perpajakan yang dipenlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional;
b. Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pajak, sebagai pencerminan kewajiban di
bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri. Pemenintah,
dalam hal ini aparat perpajakan sesuai dengan fungsinya berkewajiban melakukan
pembinaan, penelitian, dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak berdasarkan ketentuan yang diganiskan dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan;
c. Anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan
kegotongroyongan nasional melalu i ifrmn inciighihuig, nwniprrIrilungkan, dati
nwmbaar s€ndiri paak I/aug teriiulang ‘self.aessircnt), sehingga melalui sistem ini
pelaksanaan administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi,
terkendali, sederhana dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat Wajib Pajak.

Perbedaan Laporan Keuangan Komersial Dengan Laporan Keuangan Fiskal

Membicarakan masalah perbedaan laporan keuangan komersial dengan laporan


keuangan fiskal, sama halnya dengan membicarakan masalah akuntansi pajak, sedangkan
akuntansi pajak umumnya menyangkut masalah kapan suatu penghasilan diakui sebagai
penghasilan dan kapan suatu biaya diakui sebagai pengurangan dan penghasilan tersebut.
Masalah ini sesungguhnya tergantung kepada tahun pajak atau tahun buku wajib pajak
(pembayar pajak), metode akunting yang digunakannya dan doktrin serta konsep yang
menjadi acuannya.

Akuntansi yang menjembatani aktivitas ekonomis dengan para pengambil keputusan,


baik internal maupun eksternal, menyajikan kepada para pengguna informasi tersebut dalam
bentuk laporan keuangan, yang sekurang-kurangnya terdiri dari posisi keuangan, kinerja, arus
kas perusahaan, perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan. Perbedaan kepentingan
antarkelompok pengguna laporan keuangan tersebut menyebabkan pula ketidaksamaan
informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut.

Pada umumnya, perusahaan yang bergerak di bidang bisnis akan menyusun laporan
keuangan yang berbeda antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan yang
dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang disampaikan ke
Direktorat Jenderal Pajak. Perbedaan tersebut tidaklah dimaksudkan untuk tujuan-tujuan
tertentu, seperti penyelundupan pajak, akan tetapi lebih cenderung kepada penyesuaian
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Perbedaan utama antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal
disebabkan karena perbedaan tujuan serta dasar hukumnya, walaupun dalam beberapa hal
terdapat kesamaan antara akuntansi pajak yang mengacu kepada ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan dan akuntansi keuangan yang mengacu kepada standar
akuntansi keuangan. Apabila ditelusuri lebih lanjut, ternyata penyebab perbedaan antara
akuntansi pajak dengan akuntansi keuangan, antara lain karena:

1) Tujuan utama akuntansi keuangan adalah pemberian informasi penting kepada para
manajer, pemegang saham, pemberi kredit, dan pihak-pihak yang berkepentingan
lainnya, dan merupakan tanggung jawab para akuntan untuk melindungi pihak-pihak
tersebut dan informasi yang menyesatkan.
2) Sebaliknya, tujuan utama sistem perpajakan (termasuk akuntansi pajak) adalah
pemungutan pajak yang adil, dan merupakan tanggung jawab Direktorat Jenderal Pajak
untuk melindungi para pembayar pajak dan tindakan semena-semena.
3) Sejalan dengan tujuan dan tanggung jawab tersebut di atas, pninsip yang dianut oleh
akuntansi keuangan adalah prinsip konservatif, sehingga kemungkinan kesalahannya
lebih cenderung kepada understatement pelaporan penghasilan atas asetnya
dibandingkan dengan pelaporan overstatement.
4) Di samping perbedaan acuan yang dianut dalam penyusunan laporan keuangan untuk
kepentingan perpajakan, dan sudut pandang Direktorat Jenderal Pajak laporan
keuangan yang understatement tersebut, tentunya tidak dapat dipakai sebagai dasar
untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang. Selain ¡tu, apabila dikaitkan dengan
alat dan prosedur, kepastian hokum, pembukuan atau pencatatan serta perilaku sosial
dan ekonomi, maka masih terdapat beberapa perbedaan antara akuntansi pajak dengan
akuntansi keuangan, antara lain sebagai benikut:
5) Alat dan prosedur pembayaran pajak Pada penjualan secara kredit, setiap angsuran
yang diterima dan si pembeli terdini dan komponen pembayaran pokok, bunga dan
keuntungan si penjual. Berdasarkan keuntungan yang diperoleh dan setiap angsuran,
barulah dapat dipastikan berapa besar PPh yang terutang atas keuntungan tersebut dan
selanjutnya muncul masalah tentang kapan PPh terutang tersebut harus dilunasi
bergantung kepada prosedur yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
6) Kepastian Dalam rangka membandingkan antara penghasilan dengan biaya, pada
akuntansi keuangan masih terdapat kemungkinan untuk melakukan taksiran-taksiran
seperti halnya pada perhitungan cadangan piutang ragu-ragu, sedangkan akuntansi
pajak sama sekali tidak dimungkinkan untuk melakukan taksiran-taksiran yang
semacam ¡tu. Piutang tidak tertagih yang dapat dibiayakan, apabila piutang tersebut
secara nyata benar-benar tidak dapat ditagih, dengan membuat daftar para piutang tidak
tertagih tersebut yang sudah diajukan untuk diproses secara hukum. Jumlah yang nyata-
nyata tidak tertagih tersebut merupakan jumlah piutang yang dapat dikurangkan sebagai
biaya dan tidak jumlah yang ditaksir.
7) Pembukuan atau pencatatan
Dikaitkan dengan kepastian hukum dan kemudahan pencatatannya, segala sesuatu
yang bersifat taksiran atau perkiraan atau pemberian dalam bentuk natura dan
kenikmatan yang bersifat susah diukur, tidak diperkenankan untuk dikurangkan sebagai
biaya fiskal, sedang hal yang semacam ini masih saja dapat terjadi pada audit yang
dilakukan para akuntan publik. Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, wajib pajak yang menyelenggarakan pembukuan, diharuskan melampirkan
laporan keuangannya pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang
disampaikan ke Direktorat Jenderal Pajak, dengan catatan Surat Pemberitahuan yang
diserahkan tersebut haruslah benar-lengkap-jelas. Di lain pihak, para Akuntan Publik
yang mengaudit laporan keuangan tersebut akan mengeluarkan opininya berkenaan
dengan hasil auditnya tersebut, seperti opini wajar tanpa pengecualian (unqualified
opinion) apa bila laporan keuangan yang di audit tersebut telah memenuhi standar-
standar yang disusun oleh organisasi Akuntan Publik. Walaupun diketahui, antara
kriteria benar-lengkap-jelas (pajak) dan kriteria wajar tanpa pengecualian (akuntan
public) mungkin saja terdapat perbedaan-perbedaan.
8) Dampak sosia! dan ekonomi
Sering kali pula ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan digunakan
untuk kepentingan pengaturan suatu investasi atau merupakan ¡nsentif guna
pengembangan usaha sosial dan ekonomi, seperti biaya reklamasi, bantuan makan yang
disediakan di tempat kerja, zakat dan pengecualian-pengecualian dalam keadaan
tertentu yang selama ini tidak dikenal sebagai biaya fiskal, pada kondisi tertentu dapat
dikurangkan sebagai biaya fiskal. Ketentuan itu juga mencakup penghapusan atau
amortisasi dipercepat yang memungkinkan pengembalian atas penanaman tersebut
Iebih cepat dan masa manfaatnya. Menyadari perbedaan tujuan dan tanggung jawab
serta pertentangan-pertentangan tersebut, sulit untuk dapat diterima apabila ada yang
memperkirakan bahwa antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan diperkirakan
sama. Untuk Iebih mempenjelas perbedaan tersebut, berikut ini diuraikan secara
Iengkap tentang laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan dan laporan
keuangan berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan.

a. Laporan Keuangan Versi Standar Akuntansi Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan


informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam rangka pengambilan
keputusan. Informasi posisi keuangan terutama disediakan dalam neraca, informasi kinerja
terutama disediakan dalam laporan laba rugi dan informasi perubahan posisi keuangan
disajikan dalam laporan arus kas tersendiri.

Informasi Posisi Keuangan Posisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh sumber daya
yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas, serta kemampuan
beradaptasi terhadap perubahan Iingkungan. Informasi sumber daya ekonomi yang
dikendalikan dan kemampuan perusahaan dalam memodiuikasi sumber daya ini di masa lalu
berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara
kas) di masa depan. Informasi struktur keuangan berguna untuk memprediksi kebutuhan
pinjaman di masa depan dan bagaimana penghasilan neto (laba) dan arus kas di masa depan
akan didistribusikan kepada mereka yang memiliki hak di dalam perusahaan; informasi
tersebut juga berguna untuk memprediksi seberapa jauh perusahaan akan berhasil
meningkatkan lebih lanjut sumber keuangannya.

Informasi likuiditas dan solvabilitas berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan


dalam pemenuhan komitmen keuangannya pada saat jatuh tempo. Likuiditas merupakan
ketersediaan kas jangka pendek di masa depan setelah memperhitungkan komitmen yang
ada. Solvabilitas merupakan ketersediaan kas jangka panjang untuk memenuhi komitmen
pada saat jatuh tempo.

Informasi Kinerja Perusahaan

Informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai


perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan.
Informasi fluktuasi kinerja bersifat penting dalam hubungan ini. Informasi kinerja bermanfaat
untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dan sumber daya
yang ada. Di samping itu, informasi tersebut juga berguna dalam perumusan pertimbangan
tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya. Dapat
disimpulkan bahwa informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut dimaksudkan:

1) Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva dan
kewajiban serta modal suatu perusahaan.
2) Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva
neto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang muncul dan kegiatan usaha
dalam rang ka memperoleh laba.
3) Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di
dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4) Untuk memberikan informasi penting Iainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan
kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan
investasi.
5) Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan
laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi
mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan. Dalam pemberian informasi
untuk membantu para pemakai laporan seperti disebutkan dalam angka 3) di atas,
tentunya termasuk pula pihak fiskus yang akan mempergunakan ¡nformasi tersebut
sebagai dasar untuk memastikan kebenaran perhitungan besarnya pajak yang terutang
oleh wajib pajak. Keterbatasan Informasi dalam Laporan Keuangan Informasi yang
terdapat dalam laporan keuangan tersebut, bukanlah merupakan satu satunya sumber
informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi atau keputusan lainnya, akan tetapi
tentunya ada nformasi lain yang harus dipertimbangkan, karena sifat dan keterbatasan
laporan keuangan tersebut, seperti:
(1) Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang
telah lewat.
(2) Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan pihak tertentu.
(3) Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dan penggunaan taksiran dan
berbagai pertimbangan.
(4) Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula penerapan
prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau Pos tertentu mungkin tidak
dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap
kelayakan laporan keuangan.
(5) Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian; bila
terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian
suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau
nilai aktiva yang paling kecil.
(6) Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu
peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas).
(7) Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan
pemakai laporan keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan
sifat informasi yang dilaporkan.
(8) Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan
variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan
antarperusahaan.
(9) Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikualifikasikan
umumnya diabaikan.

b. Laporan Keuangan Versi Ketentuan Peraturan Perundang undangan Perpajakan

Pada dasarnya antara akuntansi keuangan dengan akuntansi pajak memiliki kesamaan
tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognisi
penghasilan dan biaya. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, bahwa
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekadar instrument pentransfer
sumber daya, akan tetapi sering kali pula digunakan untuk tujuan memengaruhi perilaku
wajib pajak untuk investasi kesejahteraan dan lain-lain yang terkadang merupakan alasan
untuk membenarkan penyímpangan dan prinsip akuntansi. Beberapa prinsip akuntansi yang
menjadi fokus perbedaan orientasi adalah:

Pengakuan Penghasilan dan Biaya

Walaupun rekognisi penghasilan dan biaya antara standar akuntansi dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan hampir sebagian besar tidak terdapat perbedaan,
akan tetapi beberapa hal seperti pemberian dalam bentuk natura/benfit in kind, bantuan atau
sumbangan, hibah, dividen antarperusahaan (intercompany) dividen, norma penghitungan
atau pungutan yang bersifat final, merupakan hal-hal yang tidak objek pajak atau merupakan
biaya fiskal yang tidak dapat dikurangkan, yang diatur dalam pasal 4 ayat (2) dan ayat (3),
pasal 9 ayat (1) dan (2), pasal 14 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakh dengan Undang-undang Nomor
17 Tahun 2000 yang diikuti pula dengan Peraturan

Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan atau Surat Keputusan dan Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak, sebagai petunjuk pelaksanaannya. KonsistensiSeperti halnya
pada metode akuntansi yang harus diaplikasikan secara taat asas dan waktu ke waktu,
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan juga menganut hal yang sama seperti
yang tertuang dalam pasal 28 ayat (5) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhïr
dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000. Akan tetapi, kadang kala terdapat
penyimpangan dan ketentuan tersebut, seperti misalnya antara lain rekognisi keuntungan
kapital dan transfer harta dan hasil operasi bisnis mancanegara serta perlakuan kerugian
mancanegara atau harta yang tidak dipakai dalam usaha yang umumnya dituangkan dalam
Surat Keputusan Menteri Keuangan dan atau Surat Keputusan/Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak.

Konservatisme

Untuk mengantisipasi risiko di masa yang akan datang, biayanya diaktualisasikan


dalam pembentukan atau pemupukan dana cadangan atau menggunakan nilai ganti terhadap
persediaan, tanpa rekognisi atas kiaim yang belum terealisasi. Dalam hal ini, otoritas pajak
cenderung akan meneliti secara seksama setiap elemen yang akan mengurangi dasar
pengenaan pajaknya yang antara lain merupakan penyebab tidak diperkenankannya
pemakaian prinsip akuntansi, seperti pembentukan cadangan piutang ragu-ragu terkecuali
untuk bank dan leasing dengan hak opsi serta perusahaan asuransi, dan cadangan biaya
reklamasi untuk usaha pertambangan dan hanya menggunakan metode harga perolehan
secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama (FIFO)
serta tidak boleh menggunakan LIFO untuk menilai persediaan dan pemakaian persediaan
untuk perhitungan harga pokok, sesuai pasal 9 ayat (1) huruf c dan pasal 10 ayat (6) Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali
diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000.

Going Concern or Contuinity (Kesinambungan)

Asumsi yang dianut oleh para akuntan, bahwa tanpa bukti yang kuat tentang hal
sebaliknya (likuidasi), suatu entitas akan beroperasi selama mungkin tanpa dibatasi oleh
waktu. Asumsi ini digunakan sebagai dasar untuk menggunakan harga historis terhadap aset
yang digunakan dalam perusahaan dan merupakan dimensi dinamis dan akuntansi. Walaupun
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan menganut prinsip going concern yang
sama, akan tetapi adanya ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
mengatur tentang kompensasi kerugian, menunjukkan hal yang berbeda, sesuai pasal 6 ayat
(2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000.

Metode Akuntansi (Accounting Method)

Semua laporan keuangan dipersiapkan untuk memenuhi tujuan tertentu dan tujuan ini
pada akhirnya akan memengaruhi bentuk dan ¡si dan laporan keuangan dengan segala
keterbatasannya. Misalnya, laporan keuangan yang dipersiapkan untuk digunakan oleh para
manajer akan berbeda dengan laporan keuangan yang dipersiapkan untuk keperluan pasar
modal atau keperluan instansi lainnya seperti bank dan lembaga keuangan lainnya.

Dalam hal ¡ni, pula laporan keuangan yang disusun untuk keperluan pengisian Surat
Pemberitahuan Pajak Penghasilan yang tentunya akan berbeda dengan laporan keuangan
yang dipersiapkan untuk keperluan para penanam modal atau pihak ketiga lainnya.
Sesungguhnya perbedaan tersebut tidak saja disebabkan oleh siapa pemakainya, tetapi juga
tergantung kepada “metode” apa yang digunakannya, apakah metode akunting yang bersifat
umum atau prosedur akunting yang bersifat spesifik untuk setiap keadaan.

Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan, bahwa laporan keuangan yang didasarkan pada
Stelsel Kas (cash-basis) akan berbeda dengan laporan keuangan yang disusun berdasarkan
Stelsel Akrual (accrual-basis), walaupun disusun dalam periode yang sama dengan elemen-
elemen yang sama pula. Tambahan lagi, walaupun laporan keuangan tersebut telah disusun
sama-sama berdasarkan Stelsel Kas atau Stelsel Akrual, namun hasilnya tetap menunjukkan
perbedaan-perbedaan selama masing-masing laporan keuangan tersebut menggunakan,
misalnya, prosedur penyusutan yang berbeda atau penilaian persediaan yang berbeda dan
seterusnya.

Dapatlah dipastikan bahwa perhitungan laba menurut akuntansi akan sangat berbeda
dengan perhitungan penghasilan (laba) menurut fiskus yang menjadi dasar untuk menentukan
besarnya pajak penghasilan yang terutang, karena selain hal tersebut terdapat ketentuan
pengatur yang berbeda pula. Persyaratan teoritis yang diberlakukan terhadap metode
akuntansi untuk kepentingan perpajakan adalah:

1. Metode akuntansi haruslah sesuai (conform) dengan pembukuan/akuntansi pada


umumnya.
2. Metode akuntansi hendaknya dengan jelas mencerminkan penghasilan perusahaan yang
bersangkutan.
3. Untuk memenuhi ketentuan tersebut (nornor 1 dan 2), wajib pajak dapat menggunakan
salah satu metode akuntansi berikut ¡ni: stelsel kas; stelsel akrual; kombinasi antara
stelsel kas dan stelsel akrual sesuaí ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang dikenal sebagai metode hibrida (a hybrid nietliod); metode Iainnya
yang diperkenankan oleh ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan seperti
metode cicilan (flic installment method) dan metode persentase penyelesaian ((lie
perceis (age of completion me (hod).
4. Wajib pajak yang kegiatan usahanya terdiri dan perdagangan (trade) dan bisnis
(business) Iainnya, dapat menggunakan metode akuntansi yang berbeda-beda antara
perdagangan dan bisnis lainnya tersebut.
5. Terkecuali apabila diatur lain, perubahan suatu metode akuntansi yang digunakan wajib
pajak, haruslah terlebih dahulu mendapat izin dan Direktur Jenderal Pajak.

Ditinjau dan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, keseluruhan hal


tersebut di atas telah diatur dalam pasal 28 UU Nomor 6 Tahun 1984 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000.

Pasal 28

(1) Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan
Wajib Pajak badan di Indonesia, wajib menyelenggarakan pembukuan.
(2) Dikecualikan dan kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tetapi wajib melakukan pencatatan adalah Wajib Pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi
yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
(3) Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memerhatikan itikad
baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.
(4) Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan
huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia
atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
(5) Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau
stelsel kas.
(6) Perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku, harus mendapat
persetujuan dan Direktur Jenderal Pajak.

Sedangkan ketentuan yang mengatur tentang Norma Penghitungan Penghasilan Neto


dimaksud dalam pasal 28 tersebut di atas, diatur dalam pasal 14 dan pasal 15 Undang undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah,
terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 14

(1) Penghasilan Neto dan Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk menentukan
penghasilan neto, dibuat dan disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
(2) Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dan Rp
600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah), boleh menghitung penghasilan neto dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu
3 (tiga) bulan pertama dan tahun pajak yang bersangkutan.
(3) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang menghitung penghasilan netonya
dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, wajib menyelenggarakan
pencatatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan.
(4) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak memberitahukan kepada
Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto, dianggap memilih menyelenggarakan
pembukuan.
(5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan, termasuk Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4), yang ternyata tidak atau tidak
sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan
pencatatan atau pembukuan atau bukti-bukti pendukungnya, maka penghasilan netonya
dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Neto atau cara lain yang ditetapkan dengan
keputusan menteri keuangan (1).
(6) Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diubah dengan
keputusan Menteri Keuangan.

Pasal 15

Norma Penghitungan khusus untuk menghitung penghasilan neto dan Wajib Pajak
tertentu yang tidak dapat dihitung berdasarkan ketentuan pasal 16 ayat (1) atau ayat (3)
ditetapkan Menteri Keuangan.

a. Stelsel Kas (The Cash Basis Method—The Cash Receipts and Disbursements Method)

Sebagian besar wajib pajak orang pribadi menggunakan stelsel kas sebagai dasar
pembukuannya. Selain mudah melaksanakannya, stelsel kas memerlukan pencatatan yang
Iebih sedikit dibandingkan dengan pencatatan menurut metode lainnya, akan tetapi
sebaliknya stelsel kas membatasi pengendalian atas pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya
pembayaran dimuka atau pembayaran kemudian. Pada umumnya penggunaan stelsel kas
didasarkan kepada prinsip pembukuan penghasilan pada saat diterima tunal dan pembukuan
pengeluaran pada saat benar-benar telah dibayar, tentunya dengan beberapa modifikasi dan
pengecualian-pengecualian dan kedua ketentuan dasar tersebut di atas.

Untuk mencegah berkembangnya cara penghindaran pajak tersebut. Maka dikembangkan


pula konsep “casi, equivalent,” yang pada dasarnya konsep tersebut menyarankan apabila
wajib pajak menenima dalam transaksinya non-cash asset, maka untuk perhitungan
penerimaannya hendaknya non-cash asset tersebut dinilai sebesar nilai pasar yang berlaku
terhadap tion-cash asset pada saat terjadinya transaksi tersebut. Dengan perkataan lain, atas
transaksi pertukaran jasa yang bersifat ,,on-cush asset pada saat transaksi tersebut terjadi,
sudah dianggap sebagai penerimaan yang telah direalisir, walaupun wajib pajak mendasarkan
pembukuannya pada stelsel kas.

Ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan di Indonesia menganut stelsel


campuran (hybrid) Cara tersebut, apabila ditinjau dan sudut pandangan ketentuan peraturan
peruridang undangan perpajakan sering disebut sebagai berbasiskan doktrin penerimaan
konstruktif (constructive receipt doctrine), yang menyebutkan bahwa doktrin ¡ni hanya
diterapkan terhadap wajib pajak yang menyelenggarakan pembukuan dengan basis kas (cash,
basis) dan transaksinya/penghasilannya memiliki kriteria-kriteria berikut ini:

1) Wajih Pajak penerima penghasilan dapat mengendalikan penghasilan tersebut yang


secara substansi tidak dibatasi atau dilarang untuk menggunakannya.
2) Penghasilun tersebut sudah dikreditkan atau tersedia digunakan oleh wajib pajak
penerima penghasilan.
3) Penghasiian tersebut harus selalu tersedia untuk dibayarkan kepada wajib pajak penerima
penghasilan, atau dengan perkataan lain, wajib pajak pembayar harus selalu siap untuk
sewaktu-waktu melunasi pembayaran, apabila ada permintaan dan wajib pajak penerima
penghasilan.

Untuk mencegah adanya pengunduran waktu penerimaan tunai, walaupun sesungguhnya


wajib pajak tahu bahwa penerimaan tersebut dapat diterimanya tanpa menundanya, maka
Pemerintah dalam penjelasan pasal 28 ayat (5) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor l7Tahun
2000, menyebutkanantara lain: Dengan cara ¡ni, pemakaian stelel kas dapat mengakibatkan
perhitungan yang mengaburkan terhadap penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dan tahun
ke tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Oleh
karena tu, untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel kas harus
memerhatikan hal-hal antara lain sebagai berikut:

1) Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan,
balk yang tunai maupun yang hukan. Da lam menghitung harga pokok penjualan harus
diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan.
2) Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi,
biaya-biaya yang dikurangkan dan penghasilan hanya dapat dilakukan rnelalui
penyusutan dan amortisasi.
3) Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten). Dengan demikian,
penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran.
Dan seterusnya.

Jelas terlihat bahwa ketentuan ¡ni dimaksudkan untuk mencegah wajib pajak yang
menggunakan stelsel kas sebagai dasar pembukuannya, dan penundaan penerimaan tunai
yang berarti juga menunda pajak penghasilannya untuk mengambil keuntungan dari “present
value” dan nilai uang tersebut dan mengambil manfaat dan pengenaan pajak yang rendah
akibat ditundanya pelaporan penghasilan tersebut.

Doktrin “constructive receipt” yang dimaksud, sedikit banyak mirip dengan pelaksanaan
pembukuan dengan dasar stelsel akrual yang membukukan penghasilan tersebut sebagal
penghasilan pada saat diperolehnya (bukan diterima tunal) penghasilan tersebut.

Keunggulan Stelsel Kas

Walaupun penggunaan stelsel kas akan mengakibatkan terbatasnya penguasaan wajib


pajak terhadap penghasilan yang merupakan haknya, namun sebaliknya dengan
menggunakan stelsel kas, wajib pajak dapat mengawasi dengan hampir sempurna atas semua
pengeluaran yang dapat dikurangkan dan penghasilannya.

Wajib Pajak tidak akan membukukan penghasilannya sebagai penghasilan sampai


saat penghasilan tersebut benan-benar diterimanya. OIeh karena itu, apabila wajib pajak tidak
menginginkan penghasilan tersebut diterima dalam suatu tahun tertentu, maka wajib pajak
dapat menunda melakukan penagihan terhadap pelanggan atau kliennya. Sebaliknya,
pengeluaran-pengeluaran wajib pajak tidak akan dikurangkan dan penghasilannya sampai
saat pengeluaran tersebut benar-benar dibayar. Wajib Pajak yang menggunakan stelsel kas
akan dapat melakukan seleksi terhadap tagihan-tagihan pengeluaran yang akan dibayar pada
akhir tahun atau menundanya sampai tahun depan.

Sebagai tambahan, apabila pada akhir tahun terdapat pengeluaran-pengeluaran yang


masih harus dibayar, wajib pajak dapat pula melakukan pembayaran Iebih dulu atas
pengeluaran tersebut dengan tujuan agar terdapat pengeluaran yang cukup besar dalam tahun
yang terkait, dan dengan demikian dapat pula mengurangi beban pajaknya.

Kendala yang Terdapat pada Stelsel Kas

Jarang sekali terjadi bahwa penerimaan dan pengeluaran kas yang benar-benar telah
diterima dan telah dibayar tersebut, mencerminkan penghasilan yang sesungguhnya dan
usaha tahun yang terkait. Bahkan, hal yang sering terjadi adalah bahwa penghasilan yang
dihitung berdasarkan stelsel kas ini memperlihatkan penghasilan yang jauh berbeda dengan
penghasilan yang benar-benar merupakan penghasilan tahun yang bersangkutan.

Apabila kita kurang berhati-hati mengamatinya, maka penggunaan stelsel kas ini akan
dapat mengakibatkan distorsi penghasilan dan tahun ke tahun. Kadang-kadang terjadi bahwa
pembayaran pajak yang dilakukan dalam tahun yang bersangkutan melebihi jumlah pajak
yang seharusnya dibayar. Hal ini dikarenakan penerimaan yang bukan merupakan
penghasilan tahun yang bersangkutan yang diterima lebih dulu akan meningkatkan
pembayaran pajak dalam tahun tersebut.
Meratakan Penghasilan

Salah satu cara yang paling efektif untuk meratakan penghasilan adalah dengan cara
menunda melaporkan penghasilan sampai wajib pajak tersebut siap dan merasa mampu untuk
membayar pajaknya. Tampaknya hal ini tidak merupakan masalah yang sulit bagi wajib pajak
yang menggunakan stelsel kas, karena adanya ketentuan tentang pengertian penghasilan yang
benar-benar sudah diterima saja yang akan dilaporkan.

b. Stelsel Akrual (The Accrual Basis Method)

Wajib Pajak yang mendasarkan pembukuannya pada stelsel akrual, mengakui


penghasilan tersebut sebagai penghasilan pada saat diperoleh, walaupun penghasilan tersebut
belum diterima secara tunaL dan mengurangkannya dengan biaya-biaya pada saat biaya
tersebut terutang, walaupun biaya tersebut belum dibayar secara tunai.

Seperti diketahui, penghasilan yang diterima di muka pada umumnya dapat dipakai pada
saat diterimanya penghasilan tersebut, walaupun wajib pajak mendasari pembukuannya pada
stelsel akrual. Hal serupa terlihat pada doktrin yang telah disinggung sebelumnya, bahwa
penghasilannya dapat dipajaki walaupun belum seluruhnya diterima oleh wajib pajak.

Pada dasarnya, ketentuan mengenai penghitungan besarnya penghasilan bruto pada


stelsel akrual, kurang Iebih sama dengan besarnya penghasilan bruto pada laporan keuangan
perusahaan. Dalam penghitungannya, stelsel akrual harus memerhatikan penjualan dan
pembeliannya serta persediaan barang dagarigan/barang jadi, dan kebanyakan dan
kontroversial yang tenjadi antara wajib pajak yang menggunakan stelsel akrual dan instansi
pajak berkisar pada masalah periode suatu pengeluaran yang diperkenankan untuk
dikurangkan.

Sebagai contoh misalnya, pengeluaran untuk suatu pembayaran dimuka. Umumnya


pengeluaran yang semacam ini yang diperuntukkan pembelian bahan baku, bahan pembantu
atau perlengkapan, dapat dikurangkan dalam periode tahun pengeluarannya, walaupun bahan
baku, bahan bantu dan perlengkapan Iainnya tersebut belum digunakan sampai tahun depan.
Apabila pembayaran tersebut diperuntukkan untuk harta yang belum selesai dikerjakan
sampai dengan akhir tahun buku yang bersangkutan, maka yang dapat dikurangkan hanyalah
pengeluaran-pengeluaran untuk bagian-bagian yang sudah diselesaikan.

Deposit yang dibayar dimuka untuk barang-barang dan jasa dapat dikurangkan sebagai
biaya pada tahun diterimanya barang-barang dan jasa tersebut, sedang pengeluaran-
pengeluaran untuk barang modal seperti mesin-mesin dan peralatan lainnya harus
dikapitalisasi dan kemudian disusutkan sesuai dengan ketentuan yang belaku.
Keunggulan Stelsel Akrual

Stelsel akrual sebaiknya digunakan apabila bisnis wajib pajak tersebut terdiri dan
berbagai transaksi yang kompleks sepanjang tahun yang bersangkutan. Stelsel ini
mencerminkan penghasilan yang lebih akurat dibandingkan dengan stelsel kas, dan dalam
banyak hal, penghasilan dan pengeluaran wajib pajak dapat dicocokkan satu sama lainnya
dan hal ini akan lebih mendekati kebenarannya apabila wajib pajak menggunakan “natural
business year.”

Pengawasan terdapat penghasilannya dapat dilakukari dengan cara menentukan kapan


suatu penghasilan tersebut dianggap sebagai penghasilan. Misalnya, penghasilan atas jasa
diakui sebagai penghasilan apabila sudah dibuatkan fakturnya, dan hasil penjualan diakui
sebagai penghasilan apabila sudah ada penyerahan, sehingga wajib pajak dapat mengatur
pengenaan pajaknya sesuai keinginannya dengan cara menetapkan tanggal pembuatan
fakturnya atau tanggal penyerahannya.

Banyak pula di antara wajib pajak yang menggunakan stelsel akrual, melaporkan
penghasilannya sesuai dengan jumlah pembuatan faktur, dan pada akhir tahun terkadang
memasukkan pula semua nilai barang/jasa yang belum diserahkan atau dibuatkan fakturnya.
Untuk melaksanakan hal ini, biasanya wajib pajak membukukannya dalam suatu perkiraan
yang disebut perkiraan “barang dalam pengerjaan.” Bagi perusahaan yang mendasarkan
bebannya atas dasar prinsip “finie basis” ternyata akan didapati bahwa penggunaan perkiraan
“barang dalam pengerjaan” akan mengeliminir jumlah distorsi yang cukup besar.

Apabila digunakan periode waktu yang kurang lebih sama setiap tahunnya dan kurang
lebih sama pula tarifnya, maka penghasilan setiap tahunnya kurang lebih identik pula.
Hendaknya diperhatikan bahwa apabila terdapat jumlah beban besar yang belum
terselesaikan pada awal satu tahun, dianjurkan untuk tidak menggunakan stelsel akrual.
Selain itu, yang baru akan dapat melaksanakan stelsel akrual yang baik, apabila perusahaan
tersebut menggunakan perkiraan “barang dalam pengerjaan” sebagai alat untuk meratakan
penghasilannya dan tahun ke tahun.

Dalam situasi bisnis yang cenderung memburuk, penagihan piutang usaha pun
mengalami kemacetan, tetapi sebaliknya, apabila situasi bisnis membaik kembali, maka akan
ada kecenderungan bahwa penerimaan hasil dapat diperoleh dalam waktu yang cukup
singkat. Demikian halnya piutang usaha yang selama ini belum dilunasi akan diterima pula
pembayarannya, atau dengan perkataan lain dalam situasi ekonomi yang membaik,
penghasilannya akan bertambah secara tidak normal sehingga penghasilan yang merupakan
penghasilan tahun-tahun resesi akan dipajaki dalam tahun terakhir dan dalam kelas
penghasilan yang bertarif tinggi. Wajib Pajak yang menggunakan stelsel akrual dapat
mengurangi fluktuasi tersebut secara berhati-hati dalam menangani masalah piutang ragu-
ragu.
Kendala yang Terdapat pada Stelsel Akrual

Dengan menggunakan stelsel akrual, wajib pajak harus melaporkan penghasilannya yang
secara pasti belum diterimanya dalam bentuk kas (tunai), dan sebagai akibatnya perusahaan
harus pula menyisihkan sebagian dan penerimaan kasnya untuk keperluan pembayaran Pajak
Penghasilan yang juga belum pasti diterima. Selain ¡tu, juga tidak terdapat pengendalian
terhadap biaya-biaya yang sesungguhnya dibayar dan biaya-biaya yang masih harus dibayar.
Satu-satunya pengendalian yang ada hanyalah pengendalian terhadap tanggal-tanggal
pembayaran yang benar-benar sudah terjadi.

Formula Penghitungan Pajak Penghasilan Yang Terutang

Untuk dapat mengelola pajak penghasilan agar didapat beban pajak yang paling
euisien, mutlak diperlukan pengetahuan yang cukup tentang cara menghitung pajak
penghasilan yang terutang. Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang didasarkan pada
formula umumTampïlan 4-6, dengan penjelasan sebagai berikut:

1) Pengertian Penghasilan diatur dalam pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) khusus untuk
Bentuk Usaha Tetap;
2) Penghasilan Tidak Objek Pajak Penghasilan diatur dalam Pasal 4 ayat (3);
3) Pengertian Biaya Fiskal Dapat Dikurangkan diatur dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3)
khusus untuk Bentuk Usaha Tetap, Pasal 6 ayat (1), Pasal 11 dan Pasal liA sepanjang
yang menyangkut penyusutan harta berwujud dan amortisasi harta tidak berwujud;
4) Koreksi Biaya Fiskal Tidak Dapat Dikurangkan diatur dalam Pasal 9 ayat (1) dan ayat
(2);
5) Kompensasi Kerugian diatur da lam Pasal 6 ayat (2);
6) Penghasilan Tidak Kena Pajak diatur dalam Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 7;
7) Tarif Pajak diatur dalam Pasal 17;
8) Kredit pajak diatur dalam Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah beberapa kali
diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000. Termasuk dalam pengertian
tersebut di atas, juga beberapa pengertian atau petunjuk pelaksanaan yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan/Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak.

Secara lengkap pasal-pasal tersebut dapat terlihat dalam Undang-undang Nomor 7


Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir
dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 akan dicantumkan sebagian (pasal 4 ayat (1),
dan ayat (2), pasal 5 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), pasal 6 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3),
pasal 7, pasal 17, pasal 20, pasal 21, pasal 22, pasal 23, pasal 24, pasal 25 dan pasal 29)
dalam bab ini dan sebagian lagi (pasal 4 ayat (3), pasal 9 ayat (1) dan (2). pasal 18, pasal 10
ayat (6), pasal 11 dan pasal liA) dalam bab rekonsiliasi laporan keuangan komersial ke
laporan keuangan fiskal.
Untuk tujuan perbandingan antara ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
dengan standar akuntansi keuangan, berikut ini disajikan formula perhitungan penghasilan
(laporan laba-rugi) versi Standar Akuntansi Keuangan yang terdapat dalam PSAK No.1
paragraf 56 sebagai berikut:

Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut:

a) pendapatan
b) laba rugi bersih
c) beban pinjamari
d) bagian dan aba atau rugi perusahaan afihiasi dan asosiasi yang diperlakukan mengguna
kan metode ekuitas
e) beban pajak
f) laba atau rugi dan aktivitas normal perusahaan
g) Pos luar biasa
h) Hakminoritas
i) laba atau rugi bersih untuk periode berjalan

Selanjutnya paragraf 58 menyebutkan bahwa perusahaan menyajikan di laporan laba


rugi atau di catatan berupa laporan keuangan, rincian beban dengan menggunakan klasifikasi
yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban dalam perusahaan.

Khusus mengenai pengertian dengan latar belakangnya berdasarkan ketentuan


peraturan perundang-undangan perpajakan dibandingkan dengan pengertian penghasilan
berdasarkan standar akuntansi keuangan akan diuraikan Iebih lanjut berikut ini.

a. Penghasilan

Pada dasarnya, pengertian penghasilan menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan


Penyajian Laporan Keuangan, Standar Akuntansi Keuangan yang merupakan pedoman pokok
dalam penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Komersial tidak berbeda jauh dengan
pengertian penghasilan yang dianut oleh ketentuan peraturan perundang undangan
perpajakan.

Definsi Penghasilan Menurut Standar Akuntansi Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan Bab Pendahuluan paragraf 70, disebutkan


bahwa:

Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi
dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dan kontnibusi penanaman modal.
Selanjutnya paragraf 74, 75, 76, dan 77 menyebutkan:
74. Definisi penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenues) maupun keuntungan
(gains). Pendapatan muncul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang bisa dan dikenal
dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fr es), bunga, dividen,
royalti dan sewa.

75. Keuntungan mencerminkan pos Iainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan
mungkin muncul atau mungkin tidak muncul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang
biasa. Keuntungan mencerminkan kenaikan manfaat ekonomi, dan dengan demikian pada
hakikatnya tidak berbeda dengan pendapatan. OIeh karena itu, Pos tersebut tidak dipandang
sebagai unsur terpisah dalam kerangka dasar ini.

Dan seterusnya

PSAK No. 25 menyebutkan hal yang sama sebagal berikut:

Sebagai pcningkatan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi tertentu dalam
bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dan kontribusi penanaman modal. Penghasilan (income)
meliputi baik pendapatan (revenues) maupun keuntungan (gain) dengan pengertian
pendapatan lebih lanjut sebagai benikut:

Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dan manfaat ekonomi yang muncul dan
aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan
kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dan kontribusi penanaman modal.

Pengakuan Penghasilan

92. Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau knaikan manfaat ekonomi di masa
depan yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan
dapat diukur dengan andal. ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan
pengakuan kenaikan aktiva atau penurunan kewajihan (misalnya, kenaikan bersih aktiva yang
muncul dan penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang muncul dari
pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar).

Pengertian Penghasilan Menurut Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan

Ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak memberikan secara


Iengkap, baik definisinya maupun pengakuannya, tetapi hanya tercakup dalam satu pasal saja
dalam Undang-undang Pajak Penghasilan, yang dikenal sebagai objek pajak sebagai berikut:

Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik
yang berasal dan Indonesia maupun dan luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi
atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan flama dan dalam
bentuk apa pun.

Penjelasan

Undang-undang ini menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian


yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak dan mana pun asalnya yang dapat dipergunakan untuk
konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut. Pengertian penghasilan dalam
undang-undang ini tidak memerhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi
terhadap adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib
Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk
kegiatan rutin dan pembangunan.