Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

K DENGAN MASALAH KEPERAWATAN


UTAMA NYERI AKUT PADA KASUS TRAUMA MATA DI RUANG TULIP KELAS
1 RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Disusun Oleh :

PRODI S1 KEPERAWATAN C
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH GOMBONG
2010/2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan
karunianya sehingga makalah yang berjudul ..........................................................ini dapat
diselesaikan. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah dan untuk
memberikan pengetahuan kepada calon perawat.

Dalam pembuatan makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
Kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, karena kesempurnaan itu
hanya milik Allah SWT. Kami berharap para pembaca berkenan kiranya menyampaikan kritik,
usul, dan saran kepada kami sehingga makalah yang ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
kelak.

Gombong, 09 Juni 21017

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
......................................................................................................................................................

KATA PENGANTAR
......................................................................................................................................................

DAFTAR ISI
......................................................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar
Belakang
......................................................................................................................................................

1.2
Tujuan
......................................................................................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN SEVEN JUMP

2.1 Skenario
kasus
......................................................................................................................................................

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

BAB 4 PENUTUP
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Osteomielitis adalah infeksi tulang, lebih sulit di sembuhkan dari pada infeksi jaringan
lunak, karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi , tingginya
tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (Pembentukan tulang baru disekeliling jaringan
tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Infeksi disebabkan oleh penyebaran
hematogen (melalui darah) dari fukos infeksi di tempat lain ( misalnya : tonsil yang terinfeksi,
lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen
biasanya terjadi di tempat di mana terdapat trauma atau di mana terdapat resistensi rendah,
kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Infeksi dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (misalnya : ulkus
dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang ( misalnya :
fraktur terbuka, cedera traumatic seperti luka tembak, pembedahan tulang).
Pasien yang beresiko tinggi mengalami Osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk,
lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu, pasien yang menderita artitis
rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang,
menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang, atau sedang mengalami sepsis rentan,
begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan
pus, mengalami nefrosis insisi margial atau dehidrasi luka, atau memerlukan evakuasi
hematoma pascaoperasi.
1.2 TUJUAN
A. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat Membuat dan melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan
osteomilitis
B. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan Pengertian osteomilitis
2. Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab osteomilitis
3. Mahasiswa mampu menyebutkan Klasifikasi osteomilitis
4. Mahasiswa mampu menjelaskan Faktor Risiko osteomilitis
5. Mahasiswa mampu menjelaskan Patofisiologi osteomilitis
6. Mahasiswa mampu menjelaskan Penatalaksanaan osteomilitis
7. Mahasiswa mampu membuat Konsep dasar Asuhan keperawatan pada pasien
dengan osteomilitis
BAB ll
ANALISA SEVEN JUMPS
2.1 SKENARIO KASUS
Tn X ( 48 tahun ) datang dengan keluhan badanya demam, nyeri dipaha kirinya, keluar
pus, dan cairan kekuningan di luka di pahanya. Dan sudah di rasakan 2 bulan, Dari penjelasan
pasien, pasien 3 bulan yang lalu kecelakan dan mengalami patah tulang di pahanya, karena
keterbatasan biaya, pasien hanya di bawa ke sangkal putung. Pasien tidak mempunyai riwayat
penyakit keturunan, DM atau Hipertensi, Hasil pemeriksaan fisik, femur sinistra teraba
hangat,kemerahan, dan kaki sakit bila di gerakan, VS : TD: 130/80 mmHg S 37,9 C, RR 36
x/mnt. N : 88x/mnt Hasil Lab : WBC : 15.000 mg/dl. HGB: 11 mg %,. Pasien mendapat inj
flagyl 3 x 500 mg, excelase 3 x 1 kapsul, inj cefriaxone 2 x 1 G.
A.2PEMBAHASAN SEVEN JUMPS
A. Step 1 Klasifikasi Kata Sulit
1. Flagyl adalah obat yang digunakan untuk mengobati beberapa jenis infeksi yang
disebabkan oleh bakteri anaerob dan protozoa seperti uretritis dan vaginitis
karena Trichomonas vaginalis, amoebiasis di usus dan hati.

B. Step 2 merumuskan masalah


1. Mengapa pada pasien menggeluhkan demam?
2. Mengapa kaki pasien sakit bila di gerakan?
3. Kenapa kaki kiri pasien mengeluarkan pus dan cairan kekuningan?
4. Kenapa RR pasien meningkat?
5. Mengapa Leukosit pasien meningkat?
6. Kenpa pasien mengeluhkan nyeri?
7. Kenapa kaki pasien kemerahan?
8. Apa saja komplikasi dari penyakit Osteomielitis?
9. Apa pemeriksaan penunjang Osteomielitis?
10. Apa Penatalaksaan pada Osteomielitis ?
11. Diagnosa apa saja pada kasus tersebut?

C. Step 3 Meengklarifikasi masalah


1. Terjadi demam karena pasien mengalami infeksi akibat fraktur yang tidak di
tangani dengan benar sehingga kompensasi tubuh untuk melawan infeksi
tersebut adalah dengan suhu tubuh yang tinggi
2. Karena pada tulang pasien tidak tersambung dengan baik sehingga terasa sakit
bila digerakan
3. Karena perawatan luka pasien yang tidak benar dan steril sehingga bakteri
mudah masuk dan berkembang biak di lukanaya
4. Karena pasien merasakan sakit pada paha kirinya sehingga pasien mengalami
sesak nafas
5. Karena pada kaki pasien sudah terjadi infeksi dan sudah mengeluarkan pus dan
cairan kekuningan sehingga bakteri mudah masuk dan imun tubuh merespon
untuk memakan kuman dengan di tandai leukosit meningkat
6. Karena saraf merespon terjadinya luka menyerang syaraf sehingga terjadi nyeri
7. Terjadi proses inflamasi sehingga menimbulkan kemerahan
8. Infeksi yang terus menerus akan menyebabkan amioloidiosis, anemia, penurunan berat
badan,kelemahan dan abses tulang
9. Cek laboraturium, Biopsi tulang, radiologis, sinar X,
10. Penatalaksanaanya yaitu di berikan antibiotik,memberikan Imobilasi anggota gerak
11. Nyeri akut,resiko infeksi,Hipertermi,kerusakan intergitas kuli,Gangguan mobilitas f

D. Step 4 Mind Mapping dan Pathway


Mind Mapping

PENGERTIAN

KOMPLIKASI

PENYEBAB
TANDA DAN
GEJALA Osteomielitis

KLASIFIKASI
DIAGNOSA PATOFISIOLOGI

D. STEP 5 ( menentukan tujuan belajar )

1. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dari Osteomielitis


2. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi dari Osteomielitis
3. Mahasiswa mampu menjelaskan proses manifestasi kilins dari Osteomielitis
4. Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosa keperawatan pada kasus
5. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan Osteomielitis
6. Mahasiswa mampu memberikan intervensi keperawatan
E. STEP 6 Mengumpulkan informasi tambahan

1. Hematogenous osteomyelitis, infeksi disebabkan bakteri melalui darah. Acute


hematogenous osteomyelitis, infeksi akut pada tulang disebabkan bekteri yang berasal
dari sumber infeksi lain. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Bagian yang sering
terke na infeksi adalah bagian yang sedang bertumbuh pesat dan bagian yang kaya akan
vaskularisasi dari metaphysis. Pembuluh darah yang membelok dengan sudut yang tajam
pada distal metaphysis membuat aliran darah melambat dan menimbulkan endapan dan
trombus, tulang itu sendiri akan mengalami nekrosis lokal dan akan menjadi tempat
berkembang biaknya bakteri. Mula-mula terdapat fokus infeksi didaerah metafisis, lalu
terjadi hipertermi.
2. Perjalanan klinis osteomielitis biasanya dimulai dengan nyeri lokal serta timbul dengan
cepat, malaese generalisata, demam dan kedinginan. Riwayat infeksi sebelumnya di dapat
dalam sekitar 50% pasien. Pembengkakan generalisata dalam daerah infeksi biasanya
disertai dengan eritema. Pembesaran kelenjar limfe proksimal bisa ada. Pemeriksaan
laboratorium menunjukkan lekositosis, anemia ringan sampai sedang dan peningkatan
laju endap darah. Karena tanda-tanda radiografi osteomielitis tidak terbukti sekitar 10
hari, maka diagnosis dibuat atas dasar klinis saja dalam kasus akut.2
Pada awal penyakit, gejala sistemik seperti febris, anoreksia, dan malaise menonjol,
sedangkan gejala lokal seperti pembengkakan atau selulitis belum tampak. Pada masa ini
dapat terjadi salah diagnosis sebagai demam tifoid. Nyeri spontan lokal yang mungkin
disertai nyeri tekan dan sedikit pembengkakan serta kesukaran gerak dari ektremitas yang
terkena, merupakan gejala osteomyelitis hematogen akut. Pada saat ini diagnosis harus
ditentukan berdasarkan gejala klinis, untuk memberikan pengobatan yang adekuat.
Diagnosis menjadi lebih jelas bila didapatkan sellulitis subkutissorces:
http://sanirachman.blogspot.com/2009/11/to-z-about-osteomielitis.html#ixzz4x07L0ftx
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial
3. Osteomyelitis paling sering disebabkan oleh staphylococcus aureus.Organisme penyebab
yang lain yaitu salmonella, streptococcus, dan pneumococcus. Metafisis tulang terkena
dan seluruh tulang mungkin terkena. Tulang terinfeksi oleh bakteri melalui 3 jalur :
hematogen, melalui infeksi di dekatnya atau scara langsung selama pembedahan. Reaksi
inflamasi awal menyebabkan trombosis, iskemia dan nekrosis tulang. Pus mungkin
menyebar ke bawah ke dalam rongga medula atau menyebabkan abses superiosteal.
Suquestra tulang yang mati terbentuk. Pembentukan tulang baru dibawah perioteum yang
terangkan diatas dan disekitar jaringan granulasi, berlubang oleh sinus-sinus yang
memungkinkan pus keluar (Overdoff, 2002:541, Rose,)
4. Pada osteomyelitis, bakteri mencapai daerah metafisis tulang melalui darah dan tempat
infeksi di bagian tubuh yang lain seperti pioderma atau infeksi saluran nafas atas. Trauma
ringan yang menyebabkan terbentuknya hematoma diduga berperan dalam menentukan
timbulnya infeksi didaerah metafisis yang kaya akan pembuluh darah. Hematoma tersebut
merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri yang mencapai tulang melalui
aliran darah. Sorces : http://sanirachman.blogspot.com/2009/11/to-z-about
osteomielitis.html#ixzz4x05tmgZo Under Creative Commons License: Attribution Non-
Commercial
5. Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung pada umur, daya
tahan penderita, lokasi infeksi serta virulensi kuman. Infeksi terjadi melalui aliran darah
dari focus tempat lain dalam tubuh pada fase bakteremia dan dapat menimbulkan
septicemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juxta epifisis pada daerah
metafisis tulang panjang. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan edema di daerah
metafisis disertai pembentukan pus. Terbentuknya pus dalam tlang dimana jaringan
tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang
bertambah. Peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan
timbulnya trombosis pada pembuluh darah tulang yang akhitnya menyebabkan nekrosis
tulang. Di samping proses tersebut, pembentukan tulang baru yang ekstensif terjadi pada
suatu lingkungan tulang seperti peti mayat yang disebut involucrum dengan jaringan
sekuestrum di dalamnya. Proses ini terlihat jelas pada akhir minggu kedua. Apabila pus
menembus tulang maka terjadi pengaliran pus (discharge) dan involuvrum keluar melalui
lobang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit.
6. Hematogenous osteomyelitis, infeksi disebabkan bakteri melalui darah. Acute
hematogenous osteomyelitis, infeksi akut pada tulang disebabkan bekteri yang berasal
dari sumber infeksi lain. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Bagian yang sering
terkena infeksi adalah bagian yang sedang bertumbuh pesat dan bagian yang kaya akan
vaskularisasi dari metaphysis. Pembuluh darah yang membelok dengan sudut yang tajam
pada distal metaphysis membuat aliran darah melambat dan menimbulkan endapan dan
trombus, tulang itu sendiri akan mengalami nekrosis lokal dan akan menjadi tempat
berkembang biaknya bakteri. Mula-mula terdapat fokus infeksi didaerah metafisis, lalu
terjadi hipertermi. Karena tulang bukan jaringan yang bisa berekspansi maka tekanan
dalam tulang ini menyebabkan nyeri lokal yang sangat hebat.
7. Gejala menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan dan kelainan bentuk.
Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.Setelah terjadi fraktur, bagian- bagian
yang tak dapat digunakan dan cenderung bergeser secara tidak alamiah ( gerakan luar
biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen tulang menyebabkan
deformitas.Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur.Saat ekstremitas
diperiksa dengan tangan, teraba ada derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat
gesekan antar fragmen.Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi
sebagai akibat trauma dna perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bias baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.
8. Komplikasi yang terjadi dapat berupa kekambuhan yang dapat mencapai 20%, cacat
berupa destruksi sendi, fraktur, abses tulang, sellulitis, gangguan pertumbuhan karena
kerusakan cakram epifisis, pelepasan implant buatan, timbulnya saluran sinus pada
jaringan lunak dan osteomyelitis kronis

9. a. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan
darah.
b. Pemeriksaan titer antibodi – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji
sensitivitas.
c. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh
bakteri Salmonella.
d. Pemeriksaan Biopsi tulang.
e. Pemeriksaan ultra sound
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
f. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik,
setelah dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus.
10. Setelah penilaian awal, riwayat yang mendasari penyakit dan penentuan etiologi
mikrobiologi dan kepekaannya, penatalaksanaan meliputi terapi antimikroba,
debridemen, dan jika perlu stabilisasi tulang. Pada kebanyakan pasien dengan
osteomyelitis, terapi antibiotik menunjukkan hasil yang maksimal. Antimikroba harus
diberikan minimal 4 minggu (idealnya 6 minggu) untuk mencapai tingkat kesembuhan
yang memadai. Untuk megurangi biaya pemberian antibiotik secara oral dapat
dipertimbangkan. Pada Anak-anak dengan osteomyelitis akut harus diberi terapi
antibiotik secara parenteral selama 2 minggu sebelum diberikanperoral.

Osteomyelitis hematogen akut harus diterapi segera. Biakan darah didapatkan dan
antibiotik intravena dimulai tanpa menunggu hasil biakan. Karena staphylococcus
merupakan organisme penyerang tersering, maka antibiotik yang dipilih harus
mempunyai spektrum antistafilokokus. Jika biakan darah kemudian negatif, maka aspirasi
subperiosteaum atau aspirasi intramedula pada tulang yang terlibat bisa diperlukan.
Pasien diberikan istirahat baring, keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan,
antipiretik diberikan untuk demam dan ektremitas dimobilisasi dalam gips dua katup,
yang memungkinkan inspeksi harian. Perbaikan klinis biasanya terlihat dalam 24 jam
setelah pemberian terapi antibiotik. Jika timbul kemunduran, maka diperlukan intervensi
bedah.2 Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan meliputi; (a) adanya abses; (b)
rasa sakit yang hebat; (c) adanya sekuester, dan ; (d) bila mencurigakan adanya perubahan
ke arah keganasan (karsinoma epidermoid). Saat yang terbaik untuk melakukan
pembedahan adalah bila involukrum telah cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur
pascabedah.5

Setelah kultur dilakukan, terapi empiris parenteral antibiotik regimen nafcillin dengan
cefotaxime atau cefriaxone merupakan terapi awal klinik dari bakteri yang dicurigai.
Setelah diketahui hasil kultur regimen antibiotik disesuaikan.1 Pada Osteomyelitis
hematogen, agen penginfeksi meliputi S aureus, organisme Enterobacteriaceae, group A
dan B Streptoco.

Terapi bedah osteomyelitis adalah insisi dan drainase. Pendekatan bedah tergantung pada
lokasi dan luas infeksi serta harus memungkinkan untuk drainase selanjutnya bagi luka.
Korteks di atas abses intramedula dilubangi serta debris nekrotik disingkirkan dengan
kuretase manual dan irigasi bilas pulsasi. Harus hati-hati untuk menghindari lempeng
fiseal berdekatan. Luka dibalut terbuka untuk memungkinkaaan drainase dan ekstremitas
dimobilisasi dalam gips. Antibiotik intravena diteruskan selama minimum 2 minggu dan
bisa diperlukan selama 6 minggu, tergantung pada organisme dan kerentanannya terhadap
antibiotik.2 Antimikroba harus diberikan minimal 4 minggu (idealnya 6 minggu) untuk
mencapai tingkat kesembuhan

Luka dibalut pada interval teratur dan dibiarkan sembuh dengan intensi sekunder atau
ditutup dengan cangkok sebagian ketebalan kulit, bila jaringan granulasi adekuat telah
berkembang. Bila proses akut telah dikendalikan, maka terapi fisik harian dalam rentang
gerakan diberikan. Pemulaian aktivitas penuh tergantung pada jumlah tulang yang
terlibat. Dalam infeksi luas, kelemahan nantinya akibat hilangnya tulang bisa
menyebabkan fraktur patologi.

Osteomyelitis direct/ eksogen akut diterapi sama seperti osteomyelitis hematogen akut.
Organisme penyebab biasanya lebih dikenali dengan biakan luka daripada biakan darah.
Debridemen luka yang adekuat diperlukan, seperti juga terapi antibiotik yang dipilih atas
dasar sensitivitas bakteri. Dalam beberapa kasus, luas penyakit dan virulensi organisme
yang terlibat menghalangi pembasmian akhir infeksi ini..

Pada pasien dengan osteomyelitis yang berhubungan dengan trauma, agen penginfeksi
meliputi S aureus, coliform bacilli, dan Pseudomonas aeruginosa. Antibiotik yang utama
adalah nafcillin and ciprofloxacin. Obat alternatif meliputi vancomycin dan generasi ke-
tiga cephalosporin dengan aktivitas antipseudomonal.

11. Nyeri akut,resiko infeksi,Hipertermi,kerusakan intergitas kuli,Gangguan mobilitas fisik

STEP 7 Mensintesis/Menguji Informasi Baru

1.DEFINISI

Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat
disebabkan oleh bakteri, virus atau proses spesifik (m, Tuberkulosa, jamur). ( kapita Selekta
kedokteran, P 358. Jakarta. 2000 ). Infeksi tulang dengan menghasilkan nanah yang dapat menjadi
akut / kronis, menyerang dari satu lokasi saja (umumnya) tetapi tidak dapat menyebar melalui
sumsum tulang dan membran yang melindungi tulang. ( Diseases Dr. Robert Coopai. Jakarta 1996 )
Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan
darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum
(pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). Osteomeilitis dapat menjadi masalah
kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas.
Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
1.Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
 Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus
(Henderson, 1997)
 Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu
disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streplococcus dan
organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adalah infeksi lain.

2.ETIOLOGI
Osteomielitis terjadi sebagai invasi langsung ke dalam jaringan tulang dari luka yang terbuka,
fraktura tulang atau sebagai infeksi sekunder. Pada infeksi pada organ – organ tubuh yang
jauh dari tulang misalnya : radang tenggorokan karena streptokokkus atau pneomonia
bakterial. phatogen utama adalah:
 staphylococcus aureus,
 Eschericia coli,
 Streptococcus phygenus dan
 Basilus tuberculosa.

 Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di
tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas).
Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat
trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
 Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus
dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur
ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik
seperti luka tembak, pembedahan tulang.
 Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk,
lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita artritis
reumatoid, telah di rawat lama dirumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang,
menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan,
begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka
mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan
evakuasi hematoma pascaoperasi.
Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3
cara:
 Aliran darah
 Penyebaran langsung
 Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya.

3.MANIFESTASI KLINIS
 Panas tinggi, anoreksia, malaise ( adanya prpses septikemi ).
 Nyeri tulang dekat sendi, tidak dapat menggunakan anggota bersangkutan, pembengkakan
lokal (tanda-tanda radang akut : rubor, dolor, kalor, tumor, fungsi larsa) dan nyeri tekan.
 Pada osteomielitis kronik biasanya rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena
nanah dan bengkak.
 LAB : leokositosis, anemia, LED meningkat.

4.KLASIFIKASI
Menurut kejadiannya osteomyelitis ada 2 yaitu :
1. Osteomyelitis Primer  Kuman-kuman mencapai tulang secara langsung melalui luka.
2. Osteomyelitis Sekunder  Adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari
suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran nafas, genitourinaria furunkel).
Sedangkan osteomyelitis menurut perlangsungannya dibedakan atas :
a. Steomyelitis akut
 Nyeri daerah lesi
 Demam, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional
 Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka
 Pembengkakan lokal
 Kemerahan
 Suhu raba hangat
 Gangguan fungsi
 Lab = anemia, leukositosis
b. Osteomyelitis kronis
 Ada luka, bernanah, berbau busuk, nyeri
 Gejala-gejala umum tidak ada
 Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur
 Lab = LED meningkat
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
Staphylococcus (orang dewasa), Streplococcus (anak-anak), Pneumococcus dan Gonococcus.

5.PATOFISIOLOGI
Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme
patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan
Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram
negatif dan anaerobik.

Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut
fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi
superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah
pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen
dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.

Respons inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan Vaskularisas
dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat
tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan
dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat
dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang.

Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering harus
dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya
terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan
tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat
mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan
tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses
penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses
kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.

6.KOMPLIKASI
a. Dini
– Mati oleh karena septisemia.
– Abses ditampat lain oleh karena penyebarab infeksi, misalnya abese otak, paru-paru, hepan,
dll.
b. Lanjut
– Osteomilitis kronis.
– Kontraktur sendi.
– Gangguan pertumbuhan.

7.PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
 Pemeriksaan titer antibodi – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji
sensitivitas.
 Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri
Salmonella.
 Pemeriksaan Biopsi tulang.
 Pemeriksaan ultra sound
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
 Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik, setelah
dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus.
8.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

 Pemeriksaan sinar X : menunjukkan pembengkakan jaringan lunak, pd osteomilitis kronik


terlihat peningkatan periosteum, sequestra dan pembentukan tlg.
 Pada sekitar 2 mg tdp daerah dekalsifikasi ireguler,
 nekrosis tulang, pengangkatan periosteum, pembentukan tulang baru
 Pemeriksaan darah : peningkatan leukosit, peningkatan LED
 Kultur darah : menentukan jenis antibiotik yg sesuai.

9.PENATALAKSANAAN MEDIS
 Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan
mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit
beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah.
 Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan
swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika
yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
 Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena,
dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi
sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke
daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus
menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang
terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang
diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol,
antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan
absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan.
 Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena
harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi
secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
 Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuvan terhadap debridemen bedah.
Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat
mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan
rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan
kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang
permanen.
 Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon
agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat
dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat
diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping
dengan pemberian irigasi ini.
 Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang
penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang
berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun
dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan
darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan
eradikasi infeksi.
 Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan.
Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau
penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya
patah tulang.
10.PENCEGAHAN
 Pencegahan Osteomielitis adalah sasaran utamanya. Penanganan infeksi fokal dapat
menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak dapat
mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatikan terhadap lingkungan
operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.

 Antibioika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat
pembedahan dan Selma 24 sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik
perawatan luka pascaoperasi aseptic akan menurunkan insiden infeksi superficial dan
potensial terjadinya osteomielitis.
DAFTAR PUSTAKA
Noor Helmi, Zairin. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika
Smeltzer, Suzanne C, dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Jakarta : EGC
Suratun. 2008. Klien Gangguan Muskuloskeletal : Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC