Anda di halaman 1dari 1

Antara Pikiran dan Hati

MONOLOG

Kopi dan teh berbeda


Warna dan rasa itulah perbedaan yang akan membuat keindahan
Perbedaan pada sebuah monolog kehidupan

Dialog imaji antara pikiran dan hati


Hei sedang musim semi sepertinya hati
Ha? Ini bulan September musim panas
Em, bukan bukan itu maksudku
Ah aku mengerti, cinta?
Iya, kamu tak khawatir padaku?
Maksudmu?
Bagaimana bila tersemat nama seseorang
Heh, jangan macam-macam kamu
Hanya pengandaian. Bagaimana bila suatu waktu aku merasakan sesuatu
Hati-hati duhai hati, bila kamu terjatuh aku harus bekerja keras menggapaimu
Aku akan baik-baik saja
Aah, sekarang kamu berkata begitu, tapi nanti sekalinya kamu jatuh semuanya menjadi tampak benar,
sampai-sampai aku tak mampu menjadi aku
Bukankah fitrah bila aku merasakan cinta
Betul, tapi kamu harus tau. Cinta itu menuntut, menuntut untuk diungkapkan dan menuntut untuk
disampaikan
Sampaikan saja kalau gitu
Sampaikan dengan meminang pemilik nama itu
Bagaimana kalau belum siap untuk itu?
Tak perlu utarakan apa-apa
Jadi bila tersemat sebuah nama padaku tidak akan disampaikan kepada pemilik nama itu?
Hati, bila cinta bersemi maka hal yang harus dilakukan adalah melamar pemilik nama itu, menikahi dia.
Namun bila belum mampu maka tidak perlu utarakan apa yang kamu rasakan
Kenapa begitu?
Itu yang terbaik untuk keduanya
Tapi,
Ssssst