Anda di halaman 1dari 45

REFERAT

DOKTER FORENSIK SEBAGAI SAKSI AHLI

Diajukan Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Persyaratan dalam Menempuh


Program Pendidikan Dokter Umum

Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik:


dr. Edi Syahputra Hasibuan, SpKF, MHKes
dr. Edgar P.R.P. Hutajulu
dr. Fujianto

Disusun oleh:
Ferdiansyah I11108079 FK UNTAN
Khalik Perdana Putra I11110027 FK UNTAN
Citra Kristi Melasari I11110029 FK UNTAN
Karolus I11112026 FK UNTAN
Octa Tirandha I11112077 FK UNTAN

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
ANTON SOEDJARWO
PONTIANAK
PERIODE 28AGUSTUS -23SEPTEMBER 2017
HALAMAN PENGESAHAN

DOKTER FORENSIK SEBAGAI SAKSI AHLI

Diajukan Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Persyaratan dalam Menempuh


Program Pendidikan Dokter Umum

Disusun oleh:

Ferdiansyah I11108079 FK UNTAN


Khalik Perdana Putra I11110027 FK UNTAN
Citra Kristi Melasari I11110029 FK UNTAN
Karolus I11112026 FK UNTAN
Octa Tirandha I11112077 FK UNTAN

Pontianak, September 2017


Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik

dr. Edi Syahputra Hasibuan, SpKF, Hkes


No. REG. STR : 33.1.1.607.2.11.06207
KATA PENGANTAR

Dokter forensikmemiliki peran penting sebagai saksi ahli dalam membantu


proses peradilan. Referat ini disusun dengan harapan agar dapat menambah
pustaka mengenai peran dokter forensik sebagai saksi ahli dalam persidangan.
Bersama ini perkenankan penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura dr. Arif Wicaksono
M.Biomed yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk
mengikuti kepaniteraan klinik Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Tanjungpura.
2. dr. Adang Azhar, Sp. F, DFM, sebagai Kabiddokkes Polda Kalbar yang
telah memberi kesempatan kepada kami sehingga dapat melaksanakan
kepaniteraan klinik Stase Forensik di Biddokkes Polda Kalbar.
3. drg. Sugiyato, sebagai kepala Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo
Pontianak, yang telah memberikan kesempatan bagi kami sehingga kami
dapat menggunakan fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit Bhayangkara
Anton Soedjarwo demi kelancaran pembelajaran kepaniteraan klinik Stase
Forensik.
4. dr. Edi Syahputra Hasibuan, SpKF, MHKes, yang telah bersedia
meluangkan waktu, memberikan ilmu, serta bimbingan yang terbaik
dengan penuh kesabaran sehingga kami dapat menjalani Kepaniteraan
Klinik Stase Forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo
Pontianak dengan sebaik-baiknya.
5. dr. Edgar PRP Hutajulu, dr. Fujianto, drg. Yosep Ginting, drg. Herry
Wirananta, MM., dr. Avia Atryka, drg. Wenny Herawati, drg. Dian Ratna
W, dr. Agung, dr. Mirza, dr. Mira, dr. Wirdasari, dr. Gesit, dr Rangga,
seluruh staf Biddokkes Polda Kalbar dan seluruh staf Rumah Sakit
Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak yang tidak dapat kami sebutkan
satu per satu yang telah membantu dalam proses pelaksanaan Kepaniteraan
Klinik Stase Forensik.
Penulis menyadari bahwa referat ini belumlah sempurna, sehingga penulis
terbuka terhadap masukan dan kritikan yang membangun demi memperbaiki dan
menambah manfaat dari referat ini. Atas waktu dan perhatian yang diberikan bagi
referat ‘Dokter Forensik Sebagai Saksi Ahli’ ini penulis sampaikan terima kasih.

Pontianak, September 2017

Tim Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 4
Identifikasi Medikolegal .................................................................................. 4
Dasar Medikolegal Identifikasi ........................................................................ 6
Metode Identifikasi Medikolegal ..................................................................... 7
Pasca Identifikasi Medikolegal… .................................................................... 35
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 35
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 37
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 .............................................................................................................. 10
Gambar 2 .............................................................................................................. 12
Gambar 3. .............................................................................................................. 13
Gambar 4. .............................................................................................................. 17
Gambar 5. .............................................................................................................. 19
Gambar 6. .............................................................................................................. 23
Gambar 7. .............................................................................................................. 25
Gambar 8. .............................................................................................................. 27
Gambar 9. .............................................................................................................. 29
Gambar 10. ............................................................................................................ 30
Gambar 11. ............................................................................................................ 30
Gambar 12. ............................................................................................................ 31
Gambar 13. ............................................................................................................ 33
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan bermasyarakat selalu saja terdapat perselisihan,


penganiayaan, pembunuhan, perkosaan dan sebagainya.Perkara yang mengganggu
ketentraman dan kepentingan pribadi. Untuk menyelesaikan perkara demikian
sangatlah diperlukan suatu sistem atau cara yang memberikan ganjaran dan hukuman
yang setimpal kepada yang bersalah sehingga perbuatan yang serupa tidak terulang
kembali dan sebaliknya yang tidak bersalah terbebas dari tuntutan hukuman. Dari
dahulu orang telah memikirkan bagaimana mendapatkan cara untuk menegakkan
keadilan ini.1
Diperlukan suatu cara pembuktian yang dapat dilakukan dan yang dapat
diterima oleh masyarakat. Perkembangan zaman dan kemajuan berfikir, membuat
cara mencari kebenaran dan keadilan melalui model ini pelan-pelan ditinggalkan dan
mencari cara lain yang lebih tepat. Para penegak hukum mendapat metode yang lain,
selain bukti dari kesaksian atau keterangan saksi yang tetap dipercaya sampai kini,
juga dipergunakan keterangan terdakwa di bawah sumpah menurut kepercayaannya
atau agama yang dianut sampai sekarang masih dipakai.1
Menurut pasal 183 KUHAP, dinyatakan bahwa hakim tidak boleh
menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya
dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-
benar telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Oleh karena
itu, penyidik ditingkat penyidikan serta penuntutan umum ditingkat sidang
pengadilan mempunyai tugas untuk menyodorkan alat bukti yang diperlukan atau
menyodorkan bahan-bahan sedemikian rupa sehingga kemudian dapat diolah menjadi

1
Amir, Amri, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, Ramadhan, Medan, 2005 dan M Jusuf Hanafiah,
Etika Kedokteran dan Hukum kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1999.
alat bukti di sidang pengadilan. Alat bukti tersebut menurut pasal 184 KUHAP terdiri
atas keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa.2,3
Menurut pasal 183 KUHAP, dinyatakan bahwa hakim tidak boleh
menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya
dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-
benar telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Oleh karena
itu, penyidik ditingkat penyidikan serta penuntutan umum ditingkat sidang
pengadilan mempunyai tugas untuk menyodorkan alat bukti yang diperlukan atau
menyodorkan bahan-bahan sedemikian rupa sehingga kemudian dapat diolah menjadi
alat bukti di sidang pengadilan. Alat bukti tersebut menurut pasal 184 KUHAP terdiri
atas keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa.2
Dokter disamping sebagai tenaga medis, juga dituntut kewajiban untuk
memberikan bantuan kepada penegak hukum.Ada spesialis tertentu dalam hal ini
yang dikenal sebagai Spesialis Forensik. Di dalam suatu pemeriksaan persidangan
perkara pidana hakim yang melakukan pemeriksaan persidangan namun tanpa adanya
alat bukti, hakim tidak akan dapat mengetahui dan memahami apakah suatu tindak
pidana telah terjadi dan apakah terdakwa benar-benar telah melakukan tindak pidana
tersebut dan bertanggung jawab atas peristiwa itu, jadi adanya alat bukti mutlak
dibutuhkan dan harus ada diajukan di dalam pemeriksaan persidangan sehingga
hakim dapat dengan pasti menemukan kebenaran materiil.3
Selama keterangan dokter dalam kapasitasnya sebagai ahli telah memenuhi
syarat formal dan syarat materiil maka keterangan tersebut dapat berfungsi sebagai
sebagai alat bukti. Karena itu menjadi tugas hakim menguji kedua syarat tadi.
Keterangan dokter dalam kapasitasnya sebagai ahli dapat berupa alat bukti kategori

2
Budi S, Samsu Z. Peranan Dalam Penegakan Hukum. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan
Hukum Sebuah Pengantar. Edisi Pertama. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2003:p.8-16.

3
Herkutanto, Visum Et Repertum dan Pelaksaannya, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2006.
keterangan ahli, alat bukti kategori surat keterangan ahli, dan juga keterangan yang
dapat menguatkan keyakinan hakim.4
Oleh karena itu referat dengan judul “Dokter Sebagai Saksi Ahli” kami susun
agar baik pembaca maupun penulis memiliki pengetahuan mengenai peran,
kualifikasi, tugas, tanggung jawab, pedoman, tata cara dan sikap dokter sebagai saksi
ahli di persidangan.

4
Budi S, Samsu Z. Loc cit.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah dokter sebagai saksi ahli di pengadilan


Otopsi untuk kepentingan peradilan baru benar – benar dilakukan ketika
Kaisar Julius terbunuh oleh anggota–anggota senat kerajaan Romawi. Pada waktu itu,
Dokter Antitius diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah dan kemudian beliau
menyatakan bahwa dari 23 luka pada tubuh Kaisar Julius tersebut, penyebab
kematiannya adalah luka yang telah menembus jantung. Oleh banyak peneliti, kasus
tersebut diklaim sebagai kasus hukum pertama yang diselesaikan dengan
memanfaatkan ilmu kedokteran.5

Gambar 1. Ilustrasi Pembunuhan Kaisar Julius.


(Sumber:http://www.todayifoundout.com/index.php/2013/04/et-tu-brute-not-caesars-
famous-last-words/)

5
Nasution, GB, Possible, JF. Fungsi dan peranan dokter dalam proses peadilan. Majalah Kedokteran
Nusantara, Vol 45 No. 1; April 2012.
Gambar 2.Kematian Kaisar Julius dengan 23 luka
tusukan.(Sumber:https://azrincuprat.wordpress.com/2010/01/09/kemahsyuran-gaius-
julius-caesar/)

Sementara pada zaman Nabi Sulaiman diyakini oleh para peneliti sebagai
kasus pertama dalam peradilan yang penyelesaiannya dilakukan dengan menerapkan
ilmu kedokteran jiwa. Dikisahkan dua orang wanita membawa bayi mereka masing-
masing kemudian keduanya melaksanakan keperluan di sungai sedangkan bayinya
ditinggal di pinggir sungai. Saat kedua wanita itu selesai dengan keperluan masing –
masing di sungai, mereka mendapati bahwa bayinya tinggal satu orang, sedangkan
bayi lainnya telah dimakan oleh serigala. Masing-masing bersikukuh bahwa bayi itu
adalah bayi kandungnya. Salah satu wanita yang pandai berbicara akhirnya
memenangkan pertikaian dan mendapatkan bayi tersebut. Nabi Sulaiman melakukan
fasilitasi dengan menawarkan solusi kepada kedua wanita tersebut karena
memenangkan sesuatu hanya berdasarkan kepiawaian berpidato tanpa penelusuran
siapa yang sebenarnya berhak, jelas tidak adil.6

6
Ibid
Solusi yang ditawarkan oleh Nabi Sulaiman adalah dengan membelah bayi
tersebut menjadi dua, sama rata, dan masing – masing bagiannya diserahkan ke kedua
wanita tersebut. Wanita pertama menyetujuinya, namun wanita lainnya menangis
karena tak tega melihat anaknya dibelah dua. Berdasarkan reaksi ini maka Nabi
Sulaiman memutuskan untuk menghukum penjara wanita yang pandai berpidato dan
memberikan bayi tersebut ke wanita yang menangis. Mengapa? Karena seorang ibu
yang sejati tak mungkin tega melihat anaknya dibelah dua.7

Gambar 3. Kebijaksanaan Nabi Sulaiman.


(Sumber:http://thewhynotcorner.blogspot.co.id/2017/06/kebijaksanaan-nabi-sulaiman-as-
dan.html)

2.2 Pengertian dokter sebagai saksi ahli di pengadilan


2.2.1. Pengertian dokter secara umum
Dokter dari bahasa latin berarti “ guru “ adalah seseorang yang karena
keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, tidak semua orang yang
menyembuhkan penyakit bisa disebut dengan dokter, karena untuk menjadi
seorang dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan
mempunyai gelar dalam bidang kedokteran. Pendidikan dokter spesialis
merupakan program pendidikan lanjutan dari program pendidikan dokter setelah
7
Ibid
dokter menyelesaikan wajib kerja sarjananya dan atau langsung setelah
menyelesaikan pendidikan dokter umum. Dokter adalah tenaga profesi yang
mempunyai kemampuan untuk menggerakkan potensi yang ada bagi terwujudnya
tujuan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat umumnya. Dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu maka pelayanan dokter itu
mencakup semua aspek.8

2.2.2. Pengertian saksi dan saksi ahli


Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan
penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri. Sedangkan, pengertian saksi ahli
menurut Franklin C.A.(1988) adalah seseorang yang dapat menyimpulkan
berdasarkan pengalaman keahliannya tentang fakta atau data suatu kejadian, baik
ditemukan sendiri maupun oleh orang lain, serta mampu menyampaikan pendapatnya
tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagai saksi ahli harus dapat
menarik kesimpulan, serta menyatakan pendapat sesuai dengan keahliannya.9
Saksi ahli menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Pasal 179:10
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman
atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi
keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan

8
Fitri. “Profesi Dokter: Definisi, Kompetensi Dasar dan Tugas Dokter”. 2014. Diakses
dari:http://sehat.link/definisi-dan-sejarah-terbentuknya-pofesi-dokter.info.html pada tanggal 3
Agustus 2017 pukul 17.00 WIB.
9
Prakoso J. Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian Di Dalam Proses Pidana. Yogyakarta: Liberty.
1988:p.78-86.
10
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) .
sumpah atau janji yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang
keahliannya.
Ada beberapa perbedaan prinsip antara saksi dengan saksi ahli. Perbedaan
tersebut antara lain:11
1. Saksi hanya boleh menceritakan apa yang dilihat, didengar atau dialaminya
saja sedangkan saksi ahli boleh memberikan kesimpulan (interpretasi).
2. Saksi tertentu (antara lain dokter yang merawat pasien) tetap harus
menghormati kerahasiaan medik (konfidensialitas medik) sedangkan ahli
tidak, sebab yang diperiksa ahli bukan pasien, tetapi barang bukti sehingga
tidak terkena kewajiban merahasiakan fakta-fakta yang ditemukan.
3. Di sidang pengadilan saksi wajib bersumpah akan memberikan keterangan
yang sebenar-benarnya sedangkan ahli wajib bersumpah akan memberikan
keterangannya berdasarkan pengetahuannya sebaik-baiknya.
4. Saksi tidak dibolehkan memberikan keterangan tertulis dengan mengingat
sumpah waktu menerima jabatannya sedangkan ahli sendiri boleh.

2.2.3 Dokter Sebagai Ahli


Dari segi yuridis, setiap dokter adalah ahli, baik dokter itu ahli ilmu
kedokteran kehakiman ataupun bukan, Oleh sebab itu setiap dokter dapat dimintai
bantuannya untuk membantu membuat terang perkara pidana oleh pihak yang
berwenang. Dokter pemeriksa sebagai saksi ahli dapat terkait visum et repertum yang
dibuat ataupun di luar VeR berupa pertanyaan hipotetik hakim. Dokter diminta hadir
di pengadilan, oleh karena dua versi. Versi pertama sebagai saksi A charge. Saksi ini
dihadirkan ke persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum dimana keterangannya dapat
menguntungkan maupun memberatkan terdakwa.Versi kedua dokter bertindak
sebagai saksi A de Charge.Saksi ini dihadirkan ke persidangan oleh terdakwa atau
penasehat hukumnya, dimana keterangan yang diberikannya meringankan terdakwa

11
Prakoso J. Loc cit.
atau dapat dijadikan dasar bagi nota pembelaan (pledoi) dari terdakwa atau penasehat
hukumnya.12Sehingga pada tahap pemeriksaan di pengadilan, baik jaksa penuntut
maupun penasehat hukum tersangka dapat menghadirkan saksi atau ahli dengan ijin
hakim.Seorang dokter dapat pula dipanggil untuk didengar dan diperiksa sebagai
saksi, bila dinilai penyidik terkait langsung dengan kasus.13
Berdasarkan Ethical Guidelines for Doctors Acting as Medical Witnesses,
terdapat dua jenis saksi medis, sehingga ketika dokter dipanggil untuk menjadi saksi
medis, penting untuk membedakan konteks bukti yang akan disertakan, apakah
sebagai saksi fakta (dokter yang merawat) atau saksi pendapat (ahli independen).
Saksi fakta diberikan oleh dokter yang memeriksa, merawat atau memberikan
penatalaksanaan sebuah kasus medik. Dokter tersebut akan diminta untuk
mempresentasikan bukti medis terhadap penatalaksanaan yang telah dilakukannya
dan memberikan informasi yang faktual tentang hasilnya.14
Saksi pendapat adalah saksi ahli yang independen yang diminta untuk
memberikan pendapat yang independen berdasarkan fakta-fakta dari kasus tertentu
yang sudah ada. Dalam hal ini dokter akan memberikan pendapat sesuai dengan
pengalaman dan keahliannya yang relevan. Sebagai saksi ahli independen, dokter
dapat membantu pengadilan dalam dua cara, yaitu dengan memberikan pendapat ahli
berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya terhadap fakta dan menginformasikan
pengadilan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keahlian khusus mereka.15

12
Irene P. Tinjauan Yuridis terhadap Perlindungan Karyawan Notaris sebagai Saksi dalam Peresmian
Akta (Skripsi). Fakultas Hukum Universitas Indonesia: Depok; 2010.
13
Kristanto E, Isries AM. Hak Undur Diri dalam Pemeriksaan di Sidang Pengadilan dalam Konteks
Rahasia Kedokteran. Dalam: Tjiptomartono AL, editor (penyunting). Penerapan Ilmu Kedokteran
Forensic dalam Proses Penyidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Sagung Seto; 2008. hlm. 252-6.
14
Australian Medical Association.Ethical Guidelines for Doctors Acting as Medical Witnesses.AMA
Position Statement.2011; 1- 6.
15
Ibid
Apabila pengacara atau penyidik memiliki pertanyaan untuk informasi lebih
lanjut dan dokter mengalami kesulitan dalam menjawabnya, di luar negeri terdapat
MDO (Medical Defence Organization) untuk dimintai bantuan.16Di Indonesia dokter
dapat berkonsultasi kepada ahli Kedokteran Forensik. Jika diperlukan untuk
berdiskusi dengan saksi ahli independen lain atau menyiapkan laporan dengan saksi
ahli lain, dokter harus memberikan penilaian independennya, mengidentifikasi hal-hal
yang disetujui, tidak disetujui dan mengutarakan alasannya. Dokter harus
menghindari instruksi atau permintaan untuk terjadinya kesepakatan. Gunakan cara
yang sederhana dan objektif ketika memberikan bukti.17

2.2.4.Pengertian pengadilan dan peradilan


Pengadilan adalah badan atau instansi resmi yang melaksanakan sistem
peradilan berupa memeriksa, mengadili, dan memutus perkara.Bentuk dari sistem
Peradilan yang dilaksanakan di Pengadilan adalah sebuah forum publik yang resmi
dan dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku di Indonesia.18
Sedangkan peradilan adalah segala sesuatu atau sebuah proses yang
dijalankan di Pengadilan yang berhubungan dengan tugas memeriksa, memutus dan
mengadili perkara dengan menerapkan hukum dan/atau menemukan hukum “in
concreto” (hakim menerapkan peraturan hukum kepada hal-hal yang nyata yang
dihadapkan kepadanya untuk diadili dan diputus) untuk mempertahankan dan
menjamin ditaatinya hukum materiil, dengan menggunakan cara prosedural yang
ditetapkan oleh hukum formal.19

2.2.5.Status dokter dalam proses peradilan pidana

16
Ibid
17
Susanti R. Peran Dokter Sebagai Saksi Ahli Di Persidangan. Jurnal Kesehatan Andalas.
2013;2(2):p.101-4.
18
Harahap, Yahya. 2009. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika
19
Ibid
Apabila pada penyidikan terdapat barang bukti berupa jenazah, orang hidup,
potongan tubuhyang diduga berasal dari tubuh manusia maka saksi ahli yang tepat
adalah dokter.
Pada KUHAP pasal 1 butir 28, pasal 133 ayat (1), pasal 179 ayat (1) maka
setiap dokter secara implisit dapat dikategorikan sebagai saksi ahli sepanjang
memenuhi persyaratan sebagai berikut:20
1. Pasal 1 butir 28 KUHAP
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang
memiliki keahlian khusus yang dapat membuat terang perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan.
2. Pasal 133 ayat (1) KUHAP
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.
3. Pasal 179 ayat 1 KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman
atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi
keadilan.

2.3 Peranan dokter dalam proses peradilan


Terdapat dua macam proses peradilan, yaitu proses peradilan pidana dan
perdata. Kasus pidana terjadi jika ada pelanggaran hukum terhadap hukum pidana
meliputi pelanggaran yang sifatnya intentional (kesengajaan), recklessness
(kecerobohan), atau negligence (kurang hati-hati). Contoh kasus pidana antara lain
pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, dan sebagainya. Sedangkan kasus perdata

20
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Op cit hal ?.
meliputi perbuatan – perbuatan yang dapat menyebabkan kerugian materiil ataupun
imateriil, perceraian, perselisihan tentang status ke-ayahan seorang anak, dan
sebagainya. Proses peradilan pidana diatur dalam KUHAP dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan tersebut maka proses peradilan pidana dibagi menjadi beberapa
tingkat yaitu :
1. Penyelidikan.
2. Penyidikan.
3. Penuntutan.
4. Pemeriksaan sidang di pengadilan.21

2.3.1.Tingkat penyelidikan22
Penyelidikan diartikan sebagai tindakan mencari dan menemukan suatu
peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya
dilakukan penyidikan. Penyelidik diberi kewenangan untuk melakukan segala
tindakan yang dibenarkan menurut undang-undang.Berdasarkan ketentuan tersebut
penyelidik dapat dibenarkan untuk meminta ahli untuk membantu menentukan ada
tidaknya peristiwa tindak pidana.
Bantuan dokter dalam tahap ini adalah pemeriksaan jenazah di rumah sakit
dan dapat pula berupa pemeriksaan jenazah di tempat kejadian perkara.Tujuan
utamanya untuk menentukan peristiwa itu merupakan tindak pidana atau
bukan.Bantuan dokter di TKP dapat memastikan korban sudah mati atau belum.Hal
ini sangat penting sebab belum tentu korban yang tergeletak tidak bernapas dan tidak
bergerak itu sudah mati.Kehadiran dokter juga dapat dimanfaatkan untuk
memberikan pertolongan yang tepat jika ternyata korban masih hidup. Selain itu
bantuan dokter juga untuk menentukan cara kematian, yaitu apakah karena

21
Hutauruk J. Ilmu Forensik dan Toksikologi.Edisi Kelima, Cetakan I. Jakarta:Penerbit Widya
Medika. 1995: p. 14-7.

22
Ibid
pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan. Dokter juga dapat membantu mencari,
mengumpulkan, dan menyelamatkan barang bukti bagi kepentingan pemeriksaan
selanjutnya. Hal ini juga penting sebab semakin banyak barang bukti yang
ditemukan, termasuk barang bukti medik, akan semakin mempermudah penegak
hukum dalam membuat terang suatu perkara pidana dimana barang bukti medik
tersebut harus diselamatkan dari kerusakan dan dokter memang memiliki kemampuan
itu.

2.3.2. Penyidikan dan penyidikan tambahan oleh penyidik23


Penyidikan menurut KUHAP adalah tindakan mencari dan mengumpulkan
bukti-bukti sehingga perkaranya menjadi jelas dan pelaku dapat ditangkap. Untuk
keperluan penyidikan tersebut penyidik diberi kewenangan oleh undang-undang
untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan, termasuk meminta bantuan ahli.
Bila penyidik merasa sudah cukup, ia dapat mempersiapkan berkas-berkasnya untuk
disampaikan ke penuntut umum. Penuntut umum hanya memiliki waktu tujuh hari
untuk menentukan apakah hasil penyidikan sudah lengkap atau belum, bila dirasa
belum lengkap ia dapat mengembalikan berkas perkara kepada penyidik agar
dilakukan penyidikan tambahan. Dalam waktu 14 hari sejak tanggal penerimaan
berkas, penyidik yang bersangkutan harus sudah menyampaikannya kembali ke
penuntut umum. Penyidikan tambahan adalah segala tindakan yang dilakukan oleh
penyidik sesuai dengan petunjuk penuntut umum berkenaan dengan dikembalikannya
berkas perkara karena belum dinilai lengkap.
Bantuan dokter dalam tahapan ini adalah menentukan identitas korban, proses
kejadian yang terungkap (kapan dilakukan, benda yang digunakan, cara, serta akibat)
dan identitas pelakunya dikenali, dokter juga dapat memberikan keterangan tentang
objek korban yang meliputi :

23
Ibid
 Jenazah yang diduga akibat pembunuhan, penganiayaan, kelalaian orang
lain, dan sebagainya. Dokter dalam kapasitasnya sebagai ahli akan
melakukan otopsi agar dapat diketahui :
o Identitas.
o Proses kematian : waktu, tempat, benda yang digunakan, cara
melakukan tindakan, sebab kematian.
o Identitas pelaku bilamana mungkin.
 Jenazah Bayi.
Dengan bantuan otopsi dapat dibuktikan:
o Bayi viabel atau tidak.
o Lahir hidup atau mati.
o Lama hidup di luar kandungan.
o Sebab kematian bayi.
 Korban penganiayaan, bantuan dokter untuk membuktikan :
o Ada perlukaan atau tidak.
o Benda yang menjadi penyebabnya.
o Bagaimana cara benda tersebut mengakibatkan luka.
o Derajat luka (kualifikasi luka).
 Korban tindak pidana kejahatan seksual, bantuan dokter untuk mengetahui :
o Tanda persetubuhan.
o Identitas laki laki yang menyetubuhi.
o Tanda-tanda kekerasan baik fisik maupun obat-obatan yang
mengakibatkan ketidaksadaran korban.
 Objek lainnya
Jika ditemukan barang bukti yang diduga merupakan bagian tubuh
manusia atau barang bukti yang berasal dari tubuh manusia.Selain itu dokter
juga dapat memberikan keterangan tentang objek tersangka atau terdakwa
yang meliputi :
o Menentukan tersangka atau terdakwa yang diduga menderita kelainan
jiwa dan apakah mampu untuk mempertanggungjawabkan
tindakannya. Menentukan jenis kelainan jiwa yang dialami, dan
identifikasi apakah gangguan jiwa tersebut dapat menyebabkan
terdakwa bertanggung jawab atau tidak.
o Mengetahui tersangka atau terdakwa yang tidak jelas umurnya dan
sulit ditentukan sebagai dewasa atau anak-anak.
o Menilai tersangka atau terdakwa tindak pidana kejahatan seksual yang
mengaku menderita impotensi.
o Membuktikan kasus pembunuhan anak sendiri pada tersangka yang
menyangkal telah melahirkan anak.

2.3.3. Tingkat penuntutan oleh penuntut umum24


Bila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan dapat dilakukan
penuntutan maka penuntut umum dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan.
Kemudian pengadilan negeri akan menentukan apakah perkara tersebut akan menjadi
kewenangannya atau tidak. Apabila memang menjadi kewenangannya maka ketua
pengadilan akan menunjuk hakim untuk melakukan persidangan.

2.3.4. Tingkat Pemeriksaan di sidang pengadilan oleh hakim25


Tugas utama hakim ialah menemukan kebenaran materiil yaitu kebenaran
yang sesungguhnya.Hakim tidak boleh memvonis seseorang bersalah jika bukti tidak
mendukung meskipun terdakwa mengakuinya. Sebaliknya ia harus memvonis
seseorang bersalah jika bukti mendukung walaupun terdakwa menyangkal keras. Ia
dapat meminta ahli untuk membantu menemukan kebenaran materiil tersebut.
Pada proses peradilan perdata tidak ada penyelidik, penyidik, maupun
penuntut umum. Hanya hakim yang mengadili perkara serta para pihak bersengketa,

24
Ibid
25
Ibid
penggugat, dan tergugat yang masing masing boleh diwakili pengacaranya.Tugas
hakim dalam sidang adalah menasihati kedua belah pihak agar mengupayakan
penyelesaiannya di luar sidang, sebab penyelesaian melalui sidang pengadilan sangat
birokratis, membutuhkan waktu yang lama serta biaya yang tidak sedikit.Keputusan
pengadilan kaku dan dapat mengecewakan salah satu atau kedua belah pihak.
Dalam mendapatkan kepastian tentang kebenaran suatu hal yang tidak
mungkin diketahui oleh hakim ia dapat memerintahkan kepada ahli supaya
memberikan keterangan atau pendapatnya. Dalam rangka menemukan kebenaran
materiil maka dokter dalam kapasitasnya sebagai ahli dapat diminta bantuannya
untuk memberikan keterangan.

2.4 Aspek hukum dokter dan peradilan


2.4.1. Wewenang penyidik
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) no 58 tahun 2010 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidanamenyatakan penyidik adalah pejabat POLRI berpangkat
serendah-serendahnya Inspektur Dua yang berpendidikan paling rendah Sarjana.
Sedangkan apabila pada sektor kepolisian tidak ada penyidik yang memenuhi
persyaratan di atas kepala sektor kepolisian yang berpangkat Bintara di bawah
Inspektur Dua polisi karena jabatannya adalah penyidik.26
Menurut Undang Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 bab XIX pasal 189
ayat (2), penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:27
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang
tindak pidana di bidang kesehatan.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana di bidang kesehatan.

26
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah No. 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
27
Undang Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum
sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan.
d. Melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak
pidana di bidang kesehatan.
e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam
perkara tindak pidana di bidang kesehatan.
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang kesehatan.
g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang
membuktikan adanya tindak pidana di bidang kesehatan.

Menurut KUHAP pasal 112, dituliskan bahwa:28


1. Penyidik yang melakukan pemeriksaan dengan menyebutkan alasan
pemanggilan secara jelas, berwenang memanggil tersangka dan saksi yang
dianggap perlu untuk diperiksa dengan surat panggilan yang sah dengan
memperhatikan tenggang waktu yang wajar antara diterimanya panggilan dan
hari seorang itu diharuskan memenuhi panggilan tersebut.
2. Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang
penyidik memanggil sekali lagi dengan perintah kepada petugas untuk
membawanya.
Sedangkan pada pasal 113 KUHAP: Jika seseorang tersangka atau saksi yang
dipanggil memberi alasan yang patut dan wajar bahwa ia tidak dapat datang kepada
penyidik yang melakukan pemeriksaan, penyidik itu datang ke tempat
kediamannya.29

28
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
29
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
2.4.2. Alat bukti sah30
Pasal 183 KUHAP:
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.
Pasal 184 KUHAP:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa

2.4.3.Definisi saksi, keterangan saksi, dan keterangan ahli


Bab I pasal 26 KUHAP 31
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan
penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri.

Menurut pasal 179 KUHAP, Saksi ahli adalah: 32


1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman
atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi
keadilan.

30
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
31
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
32
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan
yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

2.4.4. Keterangan saksi


Pasal 27 KUHAP33
Keterangan saksi adalah salah satu bukti dalam perkara pidana yang berupa
keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat
sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dan pengetahuannya itu.
Keterangan saksi menurut Pasal 185 KUHAP adalah:34
1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
pengadilan.
2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa
terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila
disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.
4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian
atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila
keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa,
sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
5. Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja,
bukan merupakan keterangan saksi.

Pasal 117 KUHAP35

33
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
34
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
35
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
(1) Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan
dari siapa pun dan atau dalam bentuk apapun.
(2) Dalam hal tersangka memberi keterangan tentang apa yang sebenarnya ia
telah lakukan sehubungan dengan tindak pidana yang dipersangkakan
kepadanya, penyidik mencatat dalam berita acara seteliti-telitinya sesuai
dengan kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri.

2.4.5.Keterangan ahli
Pasal 1 Butir 28 KUHAP36
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang
memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu
perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan (pengertian keterangan ahli secara
umum).

2.4.6. Permintaan sebagai saksi ahli


Pasal 179 ayat 1 KUHAP37
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman
atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 224 KUHP38


Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-
undang yang harus dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara
paling lama sembilan bulan.

36
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
37
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
38
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
Gambar 4. Sidang Pengadilan (Sumber:http://www.tribratanewsriau.com/read-51-1923-
2016-09-23-penyidik-dihadirkan-sebagai-saksi-dalam-sidang-pembunuhan-nk.html)

2.4.7. Keterangan ahli diberikan secara lisan


Pasal 186 KUHAP39
Keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 18640


Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan
dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP
saksi ahli).

39
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
40
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
2.4.8. Keterangan ahli diberikan secara tertulis
Pasal 187 KUHAP41
Surat sebagimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan dari seorang ahli
yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu
keadaan yang diminta secara resmi daripadanya.

2.4.9. Dasar pengadaan Visum et Repertum


Pasal 133 KUHAP42
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan mengenai seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

2.4.10. Proses di pengadilan


Pasal 230 KUHAP43
(1) Sidang pengadilan dilangsungkan di gedung pengadilan dalam ruang sidang.
(2) Dalam ruang sidang, hakim, penuntut umum, penasihat hukum dan panitera
mengenakan pakaian sidang dan atribut masing-masing.
(3) Ruang sidang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditata menurut ketentuan
sebagai berikut:

41
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
42
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
43
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
a. Tempat meja dan kursi hakim terletak lebih tinggi dari tempat penuntut
umum, terdakwa, penasihat, penasihat hukum dan pengunjung;
b. Tempat panitera terletak di belakang sisi kanan tempat hakim ketua
sidang;
c. Tempat penuntut umum terletak di sisi kanan depan tempat hakim;
d. Tempat terdakwa dan penasihat hukum terletak di sisi kiri depan dari
tempat hakim dan tempat terdakwa di sebelah kanan tempat penasihat
hukum;
e. Tempat kursi pemeriksaan terdakwa dan saksi terletak di depan tempat
hakim;
f. Tempat saksi atau ahli yang telah didengar terletak di belakang kursi
pemeriksaan;
g. Tempat pengunjung terletak di belakang tempat saksi yang telah didengar;
h. Bendera Nasional ditempatkan di sebelah kanan meja hakim dan panji
Pengayoman ditempatkan di sebelah kiri meja hakim sedangkan lambang
Negara ditempatkan pada dinding bagian atas belakang meja hakim;
i. Tempat rohaniawan terletak di sebelah kiri tempat panitera;
j. Tempat sebagimana dimaksud huruf a sampai huruf i diberi tanda
pengenal;
k. Tempat petugas keamanan dibagian pintu masuk utama ruang sidang dan
ditempat lain yang dianggap perlu.
(4) Apabila sidang pengadilan dilangsungkan diluar gedung pengadilan, maka
tata tempat sejauh mungkin disesuaikan dengan ketentuan ayat (3) tersebut
diatas.
(5) Dalam hal ketentuan ayat (3) tidak mungkin dipenuhi maka sekurang-
kurangnya bendera nasional harus ada.
Pasal 232 KUHAP44
1. Sebelum sidang dimulai, panitera, penuntut umum, penasihat hukum dan
pengunjung yang sudah ada, duduk ditempatnya masing-masing di dalam
ruang sidang.
2. Pada saat hakim memasuki dan meninggalkan ruang sidang semua yang hadir
berdiri untuk menghormat.
3. Selama sidang berlangsung setiap orang yang keluar masuk ruang sidang
diwajibkanmemberi hormat.

Gambar5. Denah Sidang Pengadilan


(Sumber:https://bapaswonosari.wordpress.com/sub-sie-bka/sidang-pengadilan-negeri/)

2.4.11. Pemanggilan saksi ke pengadilan45


Tata cara pemanggilan saksi ahli diatur dalam pasal 227 KUHAP secara garis
besarnya adalah:
1. Semua jenis pemberitahuan atau panggilan oleh pihak yang
berwenangdisampaikan selambat-lambatnya tiga hari sebelum tanggal hadir
yang ditentukan.

44
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
45
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
2. Petugas yang melaksanakan panggilan harus bertemu sendiri dan berbicara
langsung dengan orang yang dipanggil.
3. Bila orang yang dipanggil tidak terdapat di salah satu tempattinggalnya atau
tempat kediamannya terakhir, surat panggilan disampaikan melalui Kepala
Desa atau pejabat, dan jika di luar negeri melalui perwakilan Republik
Indonesia di tempat dimana orang yang dipanggil tinggal.

2.4.12 Pemanggilan saksi ke ruang sidang


Pasal 160 KUHAP ayat (1) :46
a. Saksi dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang menurut urutan
yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua sidang setelah mendengar
pendapat penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum;
b. Yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang menjadi
saksi;
c. Dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun yang memberatkan
terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan perkara dan atau yang
diminta oleh terdakwa atau penasihat hukum atau penuntut umum selama
berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya putusan, hakim ketua
sidang wajib mendengar keterangan saksi tersebut.
Pasal 160 KUHAP ayat (2) :47
“Hakim ketua sidang menanyakan kepada saksi keterangan tentang nama
lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan,
tempat tinggal, agama dan pekerjaan, selanjutnya apakah ia kenal terdakwa
sebelum terdakwa melakukan perbuatan yang menjadi dasar dakwaan serta
apakah ia berkeluarga sedarah atau semenda dan sampai derajat keberapa
dengan terdakwa, atau apakah ia suami atau isteri terdakwa meskipun sudah
bercerai atau terikat hubungan kerja dengannya”.

46
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
47
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
Pasal 160 KUHAP ayat (3)48
“Sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji
menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan
keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya”.
Pasal 160 KUHAP ayat (4)49
“Jika pengadilan menganggap perlu, seorang saksi atau ahli wajib bersumpah
atau berjanji sesudah saksi atau ahli itu selesai memberi keterangan”.

2.4.13. Pengambilan sumpah saksi ahli


Pasal 120 KUHAP 50
1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli
atau orang yang memiliki keahlian khusus.
2. Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik
bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-
baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau
jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk
memberikan keterangan yang diminta.

48
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
49
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
50
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
Gambar6. Pengucapan Sumpah Di Pengadilan.(Sumber:
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50f4cb9b4d327/kewajiban-saksi-bersumpah-
menurut-agamanya)

2.4.14. Sanksi hukum bila menolak bersumpah atau berjanji


Pasal 161 KUHAP ayat 151
Dalam hal saksi atau ahli tanpa alasan yang sah menolak untuk bersumpah
atau berjanji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 160 ayat (3) dan ayat (4), maka
pemeriksaan terhadapnya tetap dilakukan, sedang ia dengan surat penetapan hakim
ketua sidang dapat dikenakan sandera di tempat rumah tahanan Negara paling lama
empat belas hari.

2.4.15. Sanksi hukum bila menolak datang ke persidangan


Pasal 216 KUHP 52

51
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
52
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu,
atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk
mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja
mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan
ketentuan, diancam dengan pidana penjara selama empat bulan dua minggu atau
denda paling banyak Sembilan Ribu Rupiah.

2.4.16. Biaya saksi dan ahli ditanggung oleh negara


Pasal 136 KUHAP 53
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana
dimaksud dalam Bagian Kedua Bab 14 ditanggung oleh Negara.
Pasal 229 ayat 1 KUHAP 54
Saksi atau ahli yang telah hadir memenuhi panggilan dalam rangka
memberikan keterangan di semua tingkat pemeriksaan, berhak mendapat penggantian
biaya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.4.17. Alasan hak undur diri sebagai saksi ahli


Pasal 168 KUHAP55
a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas dan ke bawah
sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama dengan keluarga.
b) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu
atau bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan
anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.
c) Suami atau istri terdakwa, meskipun sudah bercerai atau bersama-sama
sebagai terdakwa.

53
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
54
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
55
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
Pasal 170 KUHAP Ayat 156
Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.

Pasal 170 KUHAP Ayat 28


Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan
tersebut.

2.5Cara dokter menyampaikan kesaksian di pengadilan


Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai seorang saksi ahli adalah (Prakoso,
1987).57
1. Syarat objektif
a) Sehat, dewasa, tidak dibawah perwalian, sebagaimana (pasal 171
KUHAP)
b) Tidak boleh ada hubungan keluarga dengan terdakwa, baik pertalian
darah atau karena perkawinan, dan bukan orang yang bekerja atau yang
mendapat gaji dari terdakwa (pasal 168 KUHAPidana)
2. Syarat formil
Saksi ahli harus disumpah menurut aturan agamanya, untuk memberi
keterangan yang sebenarnya, sebagaimana diatur dalam pasal 120 ayat (2)
KUHAP, pasal 179 ayat (2) KUHAP.
Menurut KUHAP 133 ayat 1 yang berwenang melakukan pemeriksaan
forensik dan membuat keterangan ahli adalah dokter ahli kehakiman atau dokter dan

56
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
57
Prakoso J. Loc cit.
ahli lainnya.Sedangkan dalam penjelasan KUHAP tentang pasal tersebut dikatakan
bahwa yang dibuat oleh dokter ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli
sedangkan jika dibuat oleh selain ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan.Secara garis besar semua dokter dapat membuatkan keterangan ahli
namun agar tertib administrasinya maka sebaiknya permintaan keterangan ahli hanya
diajukan kepada dokter yang bekerja pada suatu instansi kesehatan (puskesmas
hingga rumah sakit) atau instansi khusus yang mirip dengan pemerintah.

2.5.1. Tata cara pemanggilan saksi ahli


Pihak yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli menurut
KUHAP pasal 133 ayat (1) adalah penyidik.Penyidik pembantu juga memiliki
wewenang tersebut sesuai pasal 11 KUHAP.Permintaan keterangan ahli oleh
penyidik ini harus dilakukan secara tertulis (secara tegas diatur dalam KUHAP pasal
133 ayat 2 terutama untuk korban mati).Surat permintaan keterangan ahli ini
ditujukan kepada instansi kesehatan atau instansi khusus bukan kepada individu
dokter yang bekerja dalam instansi tersebut.58
Menurut pasal 1 butir 28, pasal 133 ayat 1 serta pasal 179 ayat 1 maka setiap
dokter (apakah dokter ahli kehakiman, dokter umum, atau dokter spesialis) secara
implisit dapat dikategorikan sebagai ahli sepanjang memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a) Ia memang diminta secara resmi oleh penegak hukum yang mempunyai
kewenangan untuk itu.
b) Permintaan tersebut dalam kapasitasnya sebagai ahli.59

2.5.2. Cara memberikan keterangan ahli

58
Njowito H. KUHAP Dan Profesi Dokter. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi Kedua. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama. 1992 :p.1-30.
59
Ibid
Apabila saksi ahli telah datang ke pengadilan sesuai dengan tanggal
pemanggilannya, pertama-tama saksi ahli melaporkan kedatangannya kepada panitera
pengadilan, lalu menunggu gilirannya untuk dipanggil memasuki ruang sidang.Di
ruang sidang saksi ahli duduk berhadapan dengan hakim, dan setiap pertanyaan yang
diajukan oleh jaksa, pengacara atau terdakwa kepada saksi ahli harus melalui hakim.
Semua jawaban harus diberikan secara jelas, tidak berbelit, menggunakan bahasa
Indonesia yang baik, mudah dipahami, hati-hati, sopan, dan sesuai batas profesi
(Baheram, 1995).60

2.5.3.Kewajiban dan hak sebagai saksi ahli


Didasarkan KUHAP, saksi ahli memiliki kewajiban dan hak sebagai berikut:
1. Kewajiban61
a. Didasarkan pasal 159 ayat (2) KUHAP saksi ahli wajib menghadap ke
persidangan setelah dipanggil dengan patut.
b. Didasarkan pasal 160 KUHAP, saksi ahli wajib bersumpah menurut
agamanya untuk memberi keterangan yang sebenarnya.
2. Hak sebagai saksi ahli62
Didasarkan pasal 229 KUHAP, saksi ahli yang telah hadir berhak mendapat
penggantian biaya menurut Undang-Undang yang berlaku.

2.5.4. Tata tertib persidangan


Dalam persidangan, ada beberapa tata tertib atau petunjuk yang harus
diperhatikan, antara lain:63

1. Sebagai saksi ahli, dokter diharapkan datang 15 menit sebelum jadwal yang
sudah ditentukan.
60
Ibid
61
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
62
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) . Op cit hal ?
63
Njowito H. KUHAP Dan Profesi Dokter. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi Kedua. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama. 1992 :p.1-30.
2. Duduk rapi dan sopan selama persidangan.
3. Memanggil seorang hakim dengan sebutan “Yang Mulia” dan seorang
Penasihat Hukum dengan sebutan “Penasihat Hukum”.
4. Berbicara dengan suara jelas ketika seorang hakimatau penasehat hukum
mengajukan pertanyaan, sehingga para hakim yang lain dapat mendengar
dengan jelas.
5. Mengungkapkan kebenaran.
6. Usahakan berbicara lambat, jelas dan tegas agar dapat didengar oleh semua
pihak.
7. Bersikap tidak berpihak, tetapi berusaha membantu pengadilan untuk
memperoleh kebenaran.
8. Jika memungkinkan, usahakanlah untuk tidak menggunakan bahasa medis,
agar terhindar dari pertanyaan tambahan untuk memperjelas istilah medis
yang digunakan.
9. Usahakan jawaban yang singkat , jika mungkin jawab dengan “Ya” atau
“Tidak”.
10. Berikan jawaban secara tepat dan singkat.
11. Jangan berdebat dengan pengacara pihak pembela.
12. Jika diperlihatkan suatu buku atau paragraf untuk dibaca, lalu ditanya apakah
dokter setuju dengan pernyataan yang ditulis oleh pengarang, sebaiknya
dokter juga membaca bagian atas dan bawah dari paragraf yang ditunjukkan
dan jika perlu membandingkannya.
13. Jangan membuat pernyataan dengan cakupan yang terlalu luas.
14. Hindari penggunaan gaya bahasa secara berlebihan.
15. Dilarang memberikan komentar/saran/tanggapan terhadap sesuatu yang
terjadi.

2.5.5. Contoh kasus dokter sebagai saksi ahli


Di Indonesia, peran seorang dokter sebagai saksi ahli dalam peradilan telah
membuahkan banyak hasil. Sebagai salah satu contoh nyatanya dapat kita lihat pada
kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaenyang melibatkan ketua KPK non aktif
Antasari Azhar.Pada persidangan waktu lalu, dihadirkan seorang saksi ahli dalam
bidang forensik, yaitu Dokter Abdul Munim Idris dan ahli uji balistik yaitu M.
Simanjuntak.64
Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim pimpinan Hery Swantoro,
Munim menyebutkan bahwa jenazah Nasrudin telah dimanipulasi atau sudah tidak
asli lagi sebelum dia melakukan otopsi terhadap jenazah Nasrudin. Akibatnya, dokter
Munim tidak bisa memastikan beberapa hal yang berkaitan dengan kematian
Nasrudin.Dokter Munim menjelaskan bahwa saat tiba di ruang Forensik Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo (RSCM), jenazah Nasrudin dalam keadaan sudah telanjang,
sebagian rambutnya telah digunting, dan luka tembak telah dijahit. Sebagaimana
diketahui, sebelum dibawa ke RSCM, jenazah Nasrudin sempat di rawat di rumah
sakit Mayapada di Tangerang lalu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
(RSPAD) Gatot Subroto.Dengan kondisi mayat seperti itu. Tidak ada ciri – ciri bekas
luka tembak. Padahal menurut beliau sendiri, untuk mengotopsi jenazah perlu ada
beberapa faktor yakni keadaan mayat baik keaslian barang bukti, teknis pemeriksaan,
dan koordinasi.65

64
Media Indonesia. “Munim Idris Tidak Goyah”. 2009. Diakses dari: http://bataviase.co.id/detailberita-
10392538.html pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 17.00 WIB.
65
Ibid
Gambar 7. Kasus Antasari. (Sumber:https://kabarnet.in/kasus-antasari-azhar/ )

Walaupun demikian, dokter Munim masih bisa mengetahui jenis peluru yang
ditembakkan yaitu kaliber 9 mm dari tipe senjata SNW, karena dua peluru masih
berada di dalam kepala korban saat jasad Nasrudin dibawa ke RSCM untuk menjalani
otopsi. Peluru pertama ditemukan berada di atas telinga kanan di bawah kulit, dan
peluru kedua berada di rongga tengkorak di antara jaringan otak.Akibat mayat sudah
tidak asli itu, beliau tidak dapat menentukan peluru mana yang menyebabkan
kematian korban dan kapan saat kematian dari Nasrudin. Menurut Munim,
berdasarkan sifat luka di kepala korban, hasil pemeriksaan forensik menunjukkan
bahwa penembakan dilakukan dari jarak jauh. Tetapi dokter Munim sendiri tidak
mengesampingkan kemungkinan adanya tembakan jarak dekat yang ditempel dengan
penghalang, misalnya dengan bantal, sehingga sifat luka tembaknya terlihat seperti
luka tembak jarak jauh.66
Selain kondisi mayat Nasrudin yang sudah tidak asli lagi, fakta lain adalah
tentang adanya permintaan dari seorang penyidik di Polda Metrojaya kepada dirinya
untuk mengubah hasil pemeriksaan forensik terhadap jenazah Nasrudin, yaitu tentang
jenis peluru yang ditembakkan eksekutor kepada korban yaitu kaliber 9 mm. Angka

66
Media Indonesia. “Munim Idris Tidak Goyah”. 2009. Diakses dari: http://bataviase.co.id/detailberita-
10392538.html pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 17.00 WIB.
tersebut diminta petugas Pusat Laboratorium Forensik untuk dihilangkan. Tetapi
dokter Munim menolak untuk melakukan hal tersebut.67

67
Ibid
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dokter sebagai orang yang ahli di bidang kedokteran dapat dilibatkan sebagai
saksi ahli sehingga berkewajiban untuk memberikan keterangan ahli apabila ada
permintaan atau panggilan dari pihak yang berwenang dalam menangani suatu
kasus.Untuk menjadi seorang saksi ahli harus memenuhi syarat - syarat yang telah
diatur oleh Undang - undang. Dalam hal ini dokter berperan dalam memberikan
keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa, menjelaskan visum et repertum, dan
menjelaskan kaitan antara temuan visum et repertum dengan temuan ilmiah alat bukti
sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari
sisi ilmiah. Seorang dokter umum harus mampu melakukan prosedur pemeriksaan
forensik klinis sesuai masalah, kebutuhan korban dan sesuai kewenangannya dokter
umum harus mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian
masalah kesehatan dan hukum secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan
mutakhir untuk mendapatkan hasil yang optimum dan dalam upaya maksimal
menghadirkan keadilan seobjektif mungkin.
Peran dokter umum dalam pelayanan kedokteran forensik diatur dalam
undang–undang yang tercantum dalam pasal 133 KUHAP. Sesuai standar pendidikan
profesi dokter, dokter umum selama pendidikan sudah mempelajari forensik klinik
dan patologi forensik, maka dokter umum berwenang memberikan pelayanan
forensik berupa pemeriksaan korban hidup karena kecelakaan lalu lintas, kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT), kasus penganiayaan, dan pemeriksaan luar korban
meninggal meliputi pemeriksaan label, benda di samping mayat, pakaian, ciri
identitas fisik, ciri thanatologis, perlukaan dan patah tulang. Standar profesi dokter
dibidang kedokteran forensik dapat kita definisikan sebagai standar keilmuan dan
keterampilan minimal yang harus dikuasai seorang dokter dalam menggunakan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk membantu penegakan hukum, keadilan,
dan memecahkan masalah – masalah hukum.

3.2 Saran
Setiap dokter harus memahami peran sebagai seorang saksi ahli, karena suatu
saat bisa diminta bantuannya dalam sebuah proses peradilan dimana pun dia berada.
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku
Amir, Amri, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, Ramadhan, Medan, 2005 dan
M Jusuf Hanafiah, Etika Kedokteran dan Hukum kesehatan, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1999.
Budi S, Samsu Z. Peranan Dalam Penegakan Hukum. Peranan Ilmu Forensik
Dalam Penegakan Hukum Sebuah Pengantar. Edisi Pertama. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2003:p.8-10.
Harahap, Yahya. 2009. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika
Herkutanto, Visum Et Repertum dan Pelaksaannya, Ghalia Indonesia, Jakarta,
2006.
Hutauruk J. Ilmu Forensik dan Toksikologi.Edisi Kelima, Cetakan I.
Jakarta:Penerbit Widya Medika. 1995: p. 14-7.
Kristanto E, Isries AM. Hak Undur Diri dalam Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
dalam Konteks Rahasia Kedokteran. Dalam: Tjiptomartono AL, editor
(penyunting). Penerapan Ilmu Kedokteran Forensic dalam Proses
Penyidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Sagung Seto; 2008. hlm. 252-6.
Njowito H. KUHAP Dan Profesi Dokter. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi
Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1992 :p.1-30.
Prakoso J. Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian Di Dalam Proses Pidana.
Yogyakarta: Liberty. 1988:p.78-86.

B. Skripsi
Irene P. Tinjauan Yuridis terhadap Perlindungan Karyawan Notaris sebagai Saksi
dalam Peresmian Akta (Skripsi). Fakultas Hukum Universitas Indonesia:
Depok; 2010.
C. Jurnal dan Majalah
Australian Medical Association. Ethical Guidelines for Doctors Acting as
Medical Witnesses. AMA Position Statement. 2011; 1- 6.
Nasution, GB, Possible, JF. Fungsi dan peranan dokter dalam proses peadilan.
Majalah Kedokteran Nusantara, Vol 45 No. 1; April 2012.
Susanti R. Peran Dokter Sebagai Saksi Ahli Di Persidangan. Jurnal Kesehatan
Andalas. 2013;2(2):p.101-4.

D. Peraturan dan Undang-undang


Kitab-kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2010 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 Tentang
Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Undang Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009

E. Media Elektonik
Fitri. “Profesi Dokter: Definisi, Kompetensi Dasar dan Tugas Dokter”. 2014. Diakses
dari:http://sehat.link/definisi-dan-sejarah-terbentuknya-pofesi-dokter.info.html
pada tanggal 3 Agustus 2017 pukul 17.00 WIB.
Media Indonesia. “Munim Idris Tidak Goyah”. 2009. Diakses dari:
http://bataviase.co.id/detailberita-10392538.html pada tanggal 3 Agustus 2017
pukul 17.00 WIB.