Anda di halaman 1dari 25

SKIZOFRENIA

Oleh
inggri Ocvianti Ningsih
I11112058

Pembimbing:
Mayor CKM (K) dr. Lollytha C. Simanjuntak, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMKIT TK. II DUSTIRA CIMAHI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2018
DEFINISI
Berasal dari bahasa Yunani, “schizein” yang berarti “terpisah” atau
“pecah”, dan “phren” yang artinya “jiwa”.

Skizofrenia adalah diagnosis kejiwaan yang menggambarkan gangguan


mental dengan karakter abnormalitas dalam persepsi atau gangguan
mengenai realitas.

Berdasarkan PPDGJ III, skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom


dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan
penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating”) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik,
fisik, dan sosial budaya.
ETIOLOGI
• Faktor genetic menentukan timbulnya skizofrenia.
• Yang diturunkan adalah potensi untuk mendapaatkan skizofrenia melalui
gen yang resesif.
Genetik • 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai
hubungan derajat pertama dengan skizofrenia.
• Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat ke dua dikatakan lebih
sering dibandingkan populasi umum.
• Banyak dilaporkan adanya hubungan lokasi kromosom dengan skizofrenia
• Lengan panjang kromosom 5, 11, dan 18, lengan pendek kromosom 19 serta
kromosom X paling sering disebut.
• Lokus pada kromosom 6, 8, dan 22 juga terlibat.
Model Diatesis- • integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan
stres • seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) ada
kemungkinan lingkungan akan menimbulkan stres.

Kejadian
prenatal atau misalnya hipoksia, infeksi virus prenatal, penyalahgunaan zat oleh
perinatal ibu hamil, trauma kepala ketika persalinan dll.
 Dopamin merupakan neurotransmiter pertama yang berkontribusi terhadap gejala
skizofrenia
Dopamin  Dopamin perantara biosintesis hormone adrenalin dan noradrenalin.
 Dopamin berfungsi dalam mengatur perilaku dan kognisi, pola tidur, mood, perhatian.

Teori jalur dopamine


dalam skizofrenia

1. Mesokortikal dopamine pathways hipoaktivitas daerah ini 2. Mesolimbik dopamine pathways


menyebabkan symptom negative dan gangguan kognitif  hiperaktivitas dari daerah ini
 Simptom negative dan kognitif disebabkan terjadi penurunan menyebabkan symptom positif .
dopamine di jalur mesokortikal terutama daerah dorsolateral  Jalur ini berperan dalam
prefrontal korteks. emosional, perilaku khususnya
 Defisit behavioural  penurunan aktivitas mororik. Aktivitas halusinasi pendengaran, waham
yang berlebihan dari system glutama  proses degenerasi dan gangguan pikiran.
dimesokortikal jalur dopamine  memperberat symptom
negative. .
.
SEROTONIN
 Ketidak seimbangan neurotransmiter serotonin salah satu penyebab kejadian skizofrenia.
 Etiologi skizofrenia secara umum sering dihubungkan dengan modulasi serotonin terhadap
ncurotransmisi dopaminergik.
 Serotonin di otak dihasilkan oleh neuron serotonergik yang badan selnya terdapat di raphe nuclei
batang otak.
 Neuron ini memiliki sistem eferen yang sangat luas pada berbagai regio otak dan jalur serabutnya
sangat kompleks, meliputi seluruh jalur utama di otak.
 Secara umum neuron serotonergik ini mempcrsarafi korteks serebrum dan region limbik, yakni area
yang bertanggung jawab dalam proses pikir, bicara dan tingkah laku.
Serotonin
 Reseptor serotonin terdiri dari beberapa subtipe, yang satunya adalah reseptor serotonin 6 (5-
HT6).
 Reseptor 5-HT6 secara ekslusif diekspresikan di susunan saraf pusat. Reseptor ini merupakan
reseptor yang berikatan dengan protein G.
 Reseptor 5-HT6 diduga memainkan peran dalam patogenesis skizofrenia. Hal tersebut didasarkan
pada hasil penelitian bahwa jumlah reseptor 5-HT6 relatif banyak di regio limbik dan korteks
serebrum serta memiliki afinitas yang tinggi terhadap beberapa anti psikotik.
 Perubahan fungsi reseptor 5-HT6 di beberapa regio otak, terutama regio limbik dan korteks
serebrum akan memengaruhi fungsi-fungsi yang dijalankan oleh regio tersebut. Dan gangguan pada
regio tersebut akan memunculkan gangguan-gangguan pada fungsi pikir, bicara dan tingkah laku,
yang secara umum ditemui pada pasien skizofrenia.
Sistem Limbik
Sistem limbik berfungsi dalam:
• Emosi.
• Pola-pola perilaku sosioseksual dan kelangsungan
hidup dasar.
• Motivasi.
• Belajar.
Sistem limbik berperan dalam pengendali emosi.
Berperan dalam neuropatologi skizofrenia.
Studi sampel otak skizofrenia post-mortem adanya
pengurangan ukuran region yang meliputi
amigdala,hipokampus, dan girus parahipokmpus.
Ganglia basalis
Basal ganglia berperan dalam motor kontrol
dan tindakan otomatis dari ketrampilan
motorik yang bertindak dengan memfasilitasi
penggunaan perencanaan motorik.
Pada skizofrenia menunjukan gerakan aneh,
bahkan saat tidak ada gangguan pergerakan
terinduksi obat.  gerakan aneh meliputi cara
berjalan yang aneh, seringai wajah dan
sterotipi.

korelasi dengan tingkat keparahan gejala dan defisit kognitif.


Temuan yang paling konsisten adalah hubungan antara pengurangan
materi abu-abu dari gyrus temporal superior dan keparahan gejala
positif, khususnya halusinasi Penurunan volume hippocampal
berkorelasi dengan keparahan gejala positif dan negatif yang lebih
besar dan fungsi sosial yang lebih buruk
FREUD
Teori Psikoanalitik
• Skizofrenia adalah hasil dari fiksasi perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis
• Kerusakan ego (ego defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom skizofrenia
• Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta kerusakan ego yang mungkin
merupakan hasil dari relasi obyek yang buruk turut memperparah symptom skizofrenia.
• skizofrenia adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon terhadap frustasi dan konflik dengan
orang lain.

• Gangguan skizofrenia disebabkan oleh kesulitan interpersonal yang terjadi sebelumnya


• pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia, kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap
realitas dan kontrol terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi.
• Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi masing-masing pasien.
Teori Psikodinamik
• Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif diasosiasikan dengan onset
akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat kaitannya
dengan adanya konflik.
• Simptom negatif berkaitan erat dengan faktor biologis, dan karakteristiknya
adalah absennya perilaku/fungsi tertentu.
• Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat
konflik intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang
mendasar.
Gejala Klinis

Gejala negatif meliputi afek


mendatar atu menumpul,
miskin bicara (alogia) atau isi
Gejala positif mencakup
bicara, bloking, kurang
waham dan halusinasi
merawat diri, kurang
motivasi, anhedonia, dan
penarikan diri secara sosial.
Gangguan Proses pikir
• Asosiasi longgar  aliran pikiran berupa perpindahan ide dari satu subjek ke
subjek lain.
• Pemasukan berlebihan
• Neologisme  kata baru yang diciptakan oleh pasien
• Klang asosiasi  keterkaitan kata-kata dengan bunyi yang mirip namun berbeda
arti, kata – kata tersebut tidak memiliki hubungan logis.
• Ekolalia  pengulangan kata atau kalimat yang diucapkan pasien yang bersifat
psikopatologis.
• Alogia
Gangguan isi pikir
Waham  Semakin akut skizofrenia semakin sering ditemui waham disorganisasi
atau waham tidak sistematis:
• Waham kejar
• Waham kebesaran
• Waham rujukan
• Waham penyiaran pikiran
• Waham penyisipan pikiran
Gangguan persepsi
a. Halusinasi
b. Ilusi dan depersonalisasi

Gangguan perilaku
• Salah satu gangguan aktivitas motorik pada skizofrenia adalah gejala katatonik yang
dapat berupa stupor atauh gaduh gelisah
• Gangguan perilaku lain adalah stereotipi dan manerisme.
Gangguan Afek

• Kedangkalan respons emosi


• Parathimi : apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada
penderita timbul rasa sedih atau marah.
• Paramimi : penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis.
DIAGNOSIS SKIZOFRENIA
• Harus ada sedikitnya satu gejala berikuti ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu
kurang tajam atau kurang jelas) :

a. "thought echo“ = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran
ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
thought insertion or withdrawal' = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
thought broadcasting" = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;

b. “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

"delusion of influence" = waham tentang dirinya , dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari 'luar; atau

"delusion of passivity" = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
"dirinya" = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);

"delusional perception" = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna saogat khas bagi dirinya, biasanya bersifat
mistik atau mukjizat;
c. halusinasi auditorik :

• suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
• Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai jenis suara yang berbicara), atau
• jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham - waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setamp&t dianggap tidak wajar dan aeauatu yang
mustahil, iniaalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di ata« rnanuftja
biasa (misalnya mampu mengendali' k jin cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia lain).
• Atau paling sedikit dua gejala d i bawah ini yang harus selalu ada secara jelas :

e. halusinasi yang menetap dari pancaindera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila teijadi setiap hari selama berminggu-mmggu atau berbulan-bulan terus menerus,

f. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau
pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

g. perilaku kata tonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea,
negativisme, mutisme, dan stupor;

h. gejala-gejala "negatif*, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak
wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kineija sosial; tetapi harus jelas
bahwa semua ha) tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
• Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk
setiap fase nonpsikotik prodromal);
• Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek
perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self- absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosiaL
SKIZOFRENIA PARANOID
• Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
• Sebagai tambahan ;

- halusinasi dan/atau waham harus menonjol;


a) suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal
berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);
b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol;
c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau "passivity“ (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling
khas;

- gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/ tidak menonjol.
SKIZOFRENIA KATATONIK
• Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

• Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
a. stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak
berbicara);
b. gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
c. menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau
aneh);
d. negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau
pergerakan kearah yang berlawanan);
e. rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakkan dirinya);

f. fleksibilitas cerea / "waxy flexibility" (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
g. gejala-gejala lain seperti "command automatism" (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta
kalimat-kalimat.
SKIZOFRENIA HEBEFRENIK
• Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

• Diagoosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya malai 15-25 tahun).

• •Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang menyendiri isolitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.

• Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3- bulan lamnya untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :

 perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecendrungan un tuk selalu menyendiri tsolitary), dan
perilaku menan jukan hampa tujuan dan hampa perasaan

 afek pasien dangkal dan tidak wajar sering disertai oleh cekikikan atau perasaan puas diri senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap,
tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriaka), dan
ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated -phrases);

 proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren.

• Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya
tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta
sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
puspose).

• Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.
Farmakoterapi
• Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk
mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan.
• Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama
terhadap gejala positif.
• Antagonis Serotonin-Dopamin
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal ayng minimal atau tidak ada, berinteraksi
dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan
mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga
menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta
lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia.