Anda di halaman 1dari 28

REFLEKSI KASUS

SEORANG BAYI DENGAN BBLR, SGNN DAN


HIPOGLIKEMIA
Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak

Disusun Oleh:
Shintia Malinda
30101307080

Pembimbing:
dr. Budi Nur Cahyani Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Shintia Malinda


NIM : 30101307080
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA )
Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian : Ilmu Kesehatan Anak
Judul : BBLR, SGNN dan Hipoglikemia

Demak, Juli 2018


Mengetahui dan Menyetujui
Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Sunan Kalijaga Kab. Demak

Pembimbing,

dr. Budi Nur Cahyani Sp. A


STATUS PASIEN

A. IDENTITAS
1. IDENTITAS PASIEN
a. Nama : By. Ny. Y
b. Umur : 0 hari
c. Jenis Kelamin : laki - laki
d. Alamat : Demak
e. Tanggal dan Jam Masuk : 26 Juni 2018 jam 22.00 WIB
f. Ruang : Perinatologi
g. No. RM : KLJG01200xxxxxx
h. No. Reg : RG00xxxxxx
i. Status Pasien : BPJS PBI
2. IDENTITAS ORANG TUA
i. Ayah
a. Nama : Tn. J
b. Umur : 36 tahun
c. Pekerjaan : Buruh
ii. Ibu
a. Nama : Ny. Y
b. Umur : 32 tahun
c. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
B. ANAMNESIS
Dilakukan secara Alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 28 Juni 2018
jam 16.00 yang dilakukan di ruang Perinatologi RSUD Sunan Kalijaga Demak serta
didukung catatan medik.
1. Keluhan Utama : Sesak nafas
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang bayi laki-laki lahir dari ibu G2P1A0, 32 tahun, usia kehamilan 39
minggu lahir spontan atas indikasi IUGR dan partus prematorus imminent pada
tanggal 26 Juni 2018 jam 19.00 di rumah pasien. Bidan datang 15 menit setelah
bayi lahir. Bayi dalam keadaan biru dan tali pusat belum dipotong. APGAR
score tidak dapat dinilai, berat badan lahir 2120 gram, panjang badan 45 cm
lingkar kepala 30 cm, dan lingkar dada 29 cm, plasenta lahir lengkap.
Ibu bayi mengatakan bayi langsung menangis saat lahir, setelah ± 15
menit kulit bayi tampak membiru dan tampak sesak. Bayi kurang aktif dan tangis
kurang kuat. Keadaan bayi yang kurang baik maka dibawa ke IGD RSUD Sunan
Kalijaga Demak dan diharuskan dirawat di ruang perawatan bayi dengan risiko
tinggi.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat Hipertensi pada ibu : Disangkal
 Riwayat DM pada ibu : Disangkal
 Riwayat infeksi dan demam saat kehamilan : Disangkal
 Riwayat perdarahan saat hamil : Disangkal
 Riwayat ibu mengkonsumsi jamu saat hamil : Disangkal
 Riwayat aktifitas berat saat hamil : Disangkal
 Riwayat bepergian jauh saat hamil : Disangkal
4. Riwayat Sosial Ekonomi

Biaya pengobatan menggunakan asuransi BPJS PBI.

Kesan: ekonomi cukup.

5. Riwayat Pemeliharaan Prenatal


Ibu memeriksakan kandungannya pada usia kehamilan 13 minggu. Mulai
usia kehamilan hingga mendekati persalinan, pemeriksaan dilakukan sebanyak
3 kali di bidan. Pemeriksaan USG tidak pernah dilakukan.
Selama kehamilan berat badan ibu bertambah sebanyak 2 kg/bulan. Ibu
makan dengan nasi, lauk dan pauk cukup, serta minum 1500 ml air/hari. Riwayat
anemia saat kehamilan disangkal, riwayat preeklamsia dan eklamsia selama
kehamilan disangkal. Tidak ada perdarahan selama kehamilan
Kesan: riwayat pemeliharaan prenatal kurang baik.
6. Riwayat Pemeliharaan Postnatal
Pemeliharaan postnatal dilakukan oleh bidan di rumah pasien.
7. Riwayat Pertumbuhan Bayi
Kesan :
- BB : Kecil Masa Kehamilan
- PB : Perawakan pendek
- LK : Mikrocephal

8. Riwayat Perkembangan Bayi


Penilaian perkembangan bayi dengan Ballard & Dubowitz Score

Skor : 35  kehamilan 38 minggu


Kesan : Tidak sesuai denganb usia kehamilan
9. Riwayat Imunisasi :
Hepatitis B : Dilakukan saat pulang
BCG : Belum dilakukan
Polio : Belum dilakukan
DPT : Belum dilakukan
Campak : Belum dilakukan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap sesuai usia

C. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 28 Juli 2018 jam 17.00 WIB di ruang Perinatologi
Status Present
Jenis Kelamin : Laki - laki
Usia : 0 hari
Berat Badan : 2120 gram
Panjang Badan : 45 cm
Lingkar kepala : 30 cm
Lingkar dada : 39 cm

o Tanda Vital
Nadi : 139 x/menit, irama regular, tegangan kuat
Suhu : 36,3ºC (aksilla)
Pernapasan : 64 x / menit, reguler, kedalaman cukup
Saturasi : 98% dengan Headbox 7 L/menit

o Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Gerak kurang aktif, tangis kurang kuat, tampak sesak.
Kepala
Sutura tidak lebar, moulding (-), ubun-ubun teraba, ukuran fontanela tidak lebar dan
datar, caput suksadenum (-), sefal hematoma (-).

Wajah
Simetris, tampak kuning (-), penampakan sindrom down (-).

Mata
Jumlah 2 ditengah, sklera ikterik (-/-), strabismus (-/-), glaukoma kongenital (-/-)
katarak kongenital (-/-), koloboma (-/-), sekret (-/-), epichantus tidak melebar.

Telinga
Jumlah 2, bentuk normal, fistel (-/-)

Hidung
Bentuk normal, pernafasan hidung (+), nafas cuping hidung (+), sekret (-/-)

Mulut
Simetris, ukuran normal, labiopalatoskisis (-), ranula (-), foote’s sign (-), sianosis (+)

Leher
Simetris, gerakan tak terbatas, leher pendek (-)

Thorax
Simetris, retraksi suprasternal (-) intercostal (+) subcostal (+),
 Paru-paru
Inspeksi : Simetris, dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi (+)
Palpasi : Stem fremitus kanan dan kiri sama.
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Suara dasar : Bronkovesikuler (+), Suara tambahan : wheezing
(-), ronkhi(-).
 Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga ke V, linea midclavicularis
sinistra, 1 cm ke medial, tidak kuat angkat, tidak melebar.
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Reguler, Bunyi jantung I-II reguler , gallop (-), bising (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar,simetris
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani
Palpasi : Supel, turgor kembali cepat, massa (-), hepar dan lien tidak
teraba.
Genitalia
Laki - laki, testis sudah turun, rugae jelas
Anus (+)
Ekstremitas
Pemeriksaan Superior Inferior
Jari lengkap +/+ +/+
Kelainan kongenital -/- -/-
Akral Dingin -/- -/-
Capillary refill <2 <2
Sianosis +/+ +/+
Lanugo Tipis Tipis
Ikterik -/- -/-

Refleks Primitif
 Reflek moro : (+)
 Tonic neck : (+)
 Sucking reflek : (+)
 Rooting reflek : (+)
 Palmar reflek : (+)
 Plantar reflek : (+)

Pemeriksaan downe score


 Frekuensi Napas :1
 Retraksi :2
 Sianosis :1
 Merintih :1
 Air entry :1
Downe score : 6
Kesan : Gangguan Nafas Sedang

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Darah Rutin dan GDS tanggal 26 Juli 2018
Hasil Nilai Normal
Hb 17,8 14-24 g/dL
Hematokrit 50,2 ↑ 38-47%
Leukosit 8.100 3,6-11,0 x 103
Trombosit 186.000 150-400 x 103
GDS jam 21.00 21 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS jam 23 103 70 – 115 mg/dL
Kesan : Haem, Hipoglikemia (perbaikan)
Pemeriksaan GDS tanggal 27 Juli 2018
Hasil Nilai Normal
GDS Jam 06.00 37 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 08.00 42 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 10.00 34 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 12.00 83 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 14.00 80 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 16.00 24 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 18.00 256 ↑ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 20.00 302 ↑ 70 – 115 mg/dL
Kesan : Hipoglikemia - Hiperglikemia
Pemeriksaan GDS tanggal 28 Juli 2018
Hasil Nilai Normal
GDS Jam 05.00 46 ↓ 70 – 115 mg/dL
GDS Jam 09.00 114 70 – 115 mg/dL
Kesan : Hipoglikemia (perbaikan)
Pemeriksaan GDS tanggal 29 Juli 2018
Hasil Nilai Normal
GDS Jam 08.00 77 70 – 115 mg/dL
Kesan : Normal
Pemeriksaan GDS tanggal 30 Juni 2018
Hasil Nilai Normal
GDS Jam 08.00 49 ↓ 70 – 115 mg/dL
Kesan : Hipoglikemia
E. DIAGNOSA KERJA
o Diagnosis utama : BBLR
o Diagnosis komorbid :
o Diagnosis komplikasi : SGNN
Hipoglikemia - Hiperglikemia
o Diagnosis sosial ekonomi : Cukup
o Diagnosis Imunisasi : Lengkap sesuai usia
o Diagnosis Pertumbuhan : Kecil Masa Kehamilan, perawakan pendeK
Mikrosefal
o Diagnosis Perkembangan : Tidak sesuai usia kehamilan
F. TERAPI
- O2 Headbox 8 lpm
- Infus D10% 8 tpm
- Inj Vit K 1x1 mg
- Inj Cefotaxim 2x100 mg
- Inj Gentamisin 2x5 mg
- Inj Ca Glukonas 1x2 cc
-
G. EDUKASI
 Memberitahukan kepada ibu pasien bahwa pasien mengalami sesak jadi perlu
diberikan bantuan dengan menggunakan oksigen.
 Memberitahukan kepada ibu pasien bahwa pasien akan dilakukan observasi untuk
menilai sesak dan komplikasinya
 Meminta kepada ibu pasien bahwa untuk sementara bayinya tidak boleh disusui
dahulu karena bisa menyebabkan keluhan sesaknya bertambah parah karena ketika
menyusui bayi membutuhkan banyak tenaga.

H. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad fungtionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : dubia ad bonam
I. Progress Note

Waktu/ Tanggal Hari ke 2 perawatan Hari ke 3 perawatan


27/6/18 28/6/18
Keluhan Sesak (+) Sesak (+)
BAK (+) BAB (+) dbn BAK (+) BAB (+) dbn
Panas (-) Panas (-)
Menangis (+) kurang kuat Menangis (+) kurang kuat
Keadaan umum CM, kurang aktif, bayi tampak kecil CM, kurang aktif, bayi tampak kecil
Vital: nadi 142 x/mnt 138 x/mnt
RR 60 x/mnt 58 x/mnt
Suhu 36,6 ºC 36,0 ºC

PF : Kepala Mesochepal, caput (-) Mesochepal, caput (-)


Mata isokor isokor
Hidung Nafas cuping (-) Nafas cuping (-)
Bibir Sianosis (-), kering (-), Sianosis (-), kering (-),
Leher Pemb KGB (-) Pemb KGB (-)
Thorak Simetris, retraksi (+), Simetris, retraksi (+),
merintih(-) merintih(-)
Abdomen Supel, BU (+), Supel, BU (+),
Ekstremitas Akral dingin (-) Akral dingin (-)

Downe Score : Downe Score :


RR :1 RR :0
Retraksi : 2 Retraksi : 1
Sianosis : 1 Sianosis : 1
Merintih : 0 Merintih : 0
Air entry : 0 Air entry : 0
Total : 4 (Gangguan Napas Total : 2 (Gangguan Napas
Sedang)
Ringan)

Px Penunjang - GDS Jam 08 : 42 - GDS Jam 5 : 46


bolus 4cc D10% bolus 4cc D10%
-GDS Jam 10 : 34 -GDS Jam 8 : 34
Bolus 4 cc inf D10% 12 tpm Bolus 4 cc inf D10% 12 tpm
-GDS Jam 12 : 83 -GDS Jam 12 : 83
-GDS Jam 14 : 80 -GDS Jam 14 : 80
-GDS Jam 16 : 24
Bolus 4cc D10%
-GDS Jam 18 : 256
-GDS Jam 20 : 302
 Infus D5%

Asses BBLR BBLR


SGNN SGNN
Hipoglikemia-Hiperglikemia Hippoglikemia-Hiperglikemia
Terapi O2 Head Box 8 lpm O2 Head Box 8 lpm
Infus D10% 12 tpm Infus D10% 12 tpm
Inj Cefotaxim 2x100mg Inj Cefotaxim 2x100mg
Inj. Gentamicin 1x10 mg Inj. Gentamicin 1x10 mg
Inj Ca gluconas 1x2cc Inj Ca gluconas 1x2cc
Diit Minum per oral Minum per oral
Program

Waktu/ Tanggal Hari ke 4 perawatan Hari ke 5 perawatan


29/6/18 30/6/18
Keluhan Sesak (+) berkurang Sesak (-)
BAK (+) BAB (+) dbn BAK (+) BAB (-) dbn
Panas (-) Panas (-)
Menangis (+) cukup kuat Menangis (+) kuat
Keadaan umum CM, kurang aktif, bayi tampak kecil CM, aktif, bayi tampak kecil
Vital: nadi 136 x/mnt 140 x/mnt
RR 46 x/mnt 48 x/mnt
Suhu 36,5 ºC 36,3 ºC

PF : Kepala Mesochepal, caput (-) Mesochepal, caput (-)


Mata isokor isokor
Hidung Nafas cuping (-) Nafas cuping (-)
Bibir Sianosis (-), kering (-), Sianosis (-), kering (-),
Leher Pemb KGB (-) Pemb KGB (-)
Simetris, retraksi (+) Simetris, retraksi (+)
Thorak minimal, merintih(-) minimal, merintih(-)
Supel, BU (+), Supel, BU (+),
Abdomen Akral dingin (-) Akral dingin (-)
Ekstremitas
Pemeriksaan -GDS Jam 5 : 46 GDS Jam 8 : 77
Penunjang ganti infus D10%
-GDS Jam 9 : 114
tx lanjut

Asses BBLR BBLR


SGNN SGNN
Hipoglikemia-Hiperglikemia Hipoglikemia-Hiperglikemia
Terapi O2 Head Box 6 lpm  ganti Nasal O2 Nasal 2 lpm
kanul 2 lpm Infus D10% 12 tpm
Infus D10% 12 tpm Inj Cefotaxim 2x100mg
Inj Cefotaxim 2x100mg Inj. Gentamicin 1x10 mg
Inj. Gentamicin 1x10 mg
Diit Minum per oral Latihan netek
Program O2 Nasal 2 lpm O2 Nasal 2 lpm Aff

Waktu/ Tanggal Hari ke 6 perawatan Hari ke 7 perawatan


1/7/18 2/7/18
Keluhan Sesak (-) Sesak (-)
BAK (+) BAB (+) dbn BAK (+) BAB (-) dbn
Panas (-) Panas (-)
Menangis (+) kuat Menangis (+) kuat
Keadaan umum CM, aktif, bayi tampak kecil CM, aktif, bayi tampak kecil
Vital: nadi 142 x/mnt 140 x/mnt
RR 46 x/mnt 49 x/mnt
Suhu 36,4 ºC 35,9 ºC

PF : Kepala Mesochepal, caput (-) Mesochepal, caput (-)


Mata isokor isokor
Hidung Nafas cuping (-) Nafas cuping (-)
Bibir Sianosis (-), kering (-), Sianosis (-), kering (-),
Leher Pemb KGB (-) Pemb KGB (-)
Simetris, retraksi (-), Simetris, retraksi (-),
Thorak merintih(-) merintih(-)
Supel, BU (+), Supel, BU (+),
Abdomen Akral dingin (-) Akral dingin (-)
Ekstremitas
Pemeriksaan -GDS : 49
Penunjang  Tx lanjut

Asses BBLR BBLR


SGNN SGNN
Hipoglikemia-Hiperglikemia Hipoglikemia-Hiperglikemia
Terapi Infus D10% 12 tpm O2 Nasal 2 lpm
Inj Cefotaxim 2x100mg Infus D10% 12 tpm
Inj. Gentamicin 1x10 mg Inj Cefotaxim 2x100mg
Inj. Gentamicin 1x10 mg
Diit Netek (+) Netek (+)
Program Cek bilirubin T/D/I
Jika hasil<10  tidak usah FT
Waktu/ Tanggal Hari ke 8 perawatan Hari ke 9 perawatan
3/7/18 4/7/18
Keluhan Sesak (-) Sesak (-)
BAK (+) BAB (+) dbn BAK (+) BAB (-) dbn
Panas (-) Panas (-)
Menangis (+) kuat Menangis (+) kuat
Keadaan umum CM, aktif, bayi tampak kecil CM, aktif, bayi tampak kecil
Vital: nadi 136 x/mnt 140 x/mnt
RR 50 x/mnt 46 x/mnt
Suhu 36,3 ºC 36,2 ºC

PF : Kepala Mesochepal, caput (-) Mesochepal, caput (-)


Mata isokor isokor
Hidung Nafas cuping (-) Nafas cuping (-)
Bibir Sianosis (-), kering (-), Sianosis (-), kering (-),
Leher Pemb KGB (-) Pemb KGB (-)
Simetris, retraksi (-), Simetris, retraksi (-),
Thorak merintih(-) merintih(-)
Supel, BU (+), Supel, BU (+),
Abdomen Akral dingin (-) Akral dingin (-)
Ekstremitas
Pemeriksaan Bilirubin:
Penunjang T:
D:
I:

Asses BBLR BBLR


SGNN SGNN
Hipoglikemia-Hiperglikemia Hipoglikemia-Hiperglikemia
Terapi Infus D10% 12 tpm Infus D10% 12 tpm
Inj Cefotaxim 2x100mg Inj Cefotaxim 2x100mg
Inj. Gentamicin 1x10 mg Inj. Gentamicin 1x10 mg
Fototerapi
Diit Netek (+) Netek (+)
Program Fototerapi -imun Hb0
-BLPL
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.

2. Klasifikasi

BBLR dapat digolongkan sebagai berikut :


a. Prematuritas murni
Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan
sesuai untuk masa kehamilan.
Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit dan komplikasi akibat
kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang.
b. Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.
Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang
baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan dari bayinya
sendiri.

3. Epidemiologi
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor
utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan
anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan.
Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain,
yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka
BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI,
angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan
pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal
7%.
4. Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu
yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,
kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya
BBLR
a) Faktor ibu
 Penyakit : Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
 Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti
perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
 Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang
dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia
 Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok,
ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
b) Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
c) Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi,
sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun.
5. Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam
jangka waktu kurang lebih dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang.
a. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan
mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
BBLR :

o Umur ibu
o Riwayat hari pertama haid terakir
o Riwayat persalinan sebelumnya
o Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
o Kenaikan berat badan selama hamil
o Aktivitas
o Penyakit yang diderita selama hamil
o Obat-obatan yang diminum selama hamil
b. Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain :

o Berat badan <>


o Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
 Tulang rawan telinga belum terbentuk.
 Masih terdapat lanugo.
 Refleks masih lemah.
 Alat kelamin luar; perempuan: labium mayus belum menutup labium
minus; laki-laki: belum terjadi penurunan testis & kulit testis rata.
o Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).
 Tidak dijumpai tanda prematuritas.
 Kulit keriput.
 Kuku lebih panjang
c. Pemeriksaan penunjang
o Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
o Pemeriksaan skor ballard

o Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan
analisa gas darah.
o Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan
kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom
gawat nafas.
o USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan kurang bulan.

6. Penatalaksanaan/ terapi
a. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :

o Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau


Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10
hari, dan umur 4-6 minggu)
b. Diatetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks
menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan
dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau
pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih
untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan
pipet atau selang kecil yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan
utama :

o Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup
dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan
bayi menghisap paling kurang sehari sekali.
o Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari
selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan
keadaan bayi adalah sebagai berikut :
a. Berat lahir 1750 – 2500 gram
Bayi Sehat
o Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil
lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu
lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
o Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai
efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap,
tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara
pemberian minum.
Bayi Sakit
o Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV,
berikan minum seperti pada bayi sehat.
o Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
 Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
 Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah
bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi
menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu.
 Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh;
gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung
 Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
 Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila
bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi
menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan
keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau
tersedak.
b. Berat lahir 1500-1749 gram
Bayi Sehat
o Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang
dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau
ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak),
berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian
menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat menelan tanpa
batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun ada
kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
o Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit
o Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
o Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
jumlah cairan IV secara perlahan.
o Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok apabila
kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau
tersedak
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.
c. Berat lahir 1250-1499 gram
Bayi Sehat
o Beri ASI peras melalui pipa lambung
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit
o Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
o Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
jumlah cairan intravena secara perlahan.
o Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.
d. Berat lahir < 1250 gram (tidak tergantung kondisi)
o Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
o Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi
pemberian cairan intravena secara perlahan.
o Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
o Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
o Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
sendok, coba untuk menyusui langsung.
c. Suportif
Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal:

o Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh


bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas,
inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan
setempat sesuai petunjuk.
o Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
o Ukur suhu tubuh dengan berkala
o Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
o Jaga dan pantau patensi jalan nafas
o Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
o Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia,
kejang, gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
o Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
o Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan
ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.
d. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan saat dirawat
1) Terapi

o Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan


o Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu
2) Tumbuh kembang

o Pantau berat badan bayi secara periodik


o Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir ≥1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat
lahir <1500>
o Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
- Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180
ml/kg/hari
- Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar
jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
- Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian
ASI hingga 200 ml/kg/hari
- Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu.
Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan
mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang
sebagai berikut :

o Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
o Hitung umur koreksi.
o Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
o Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
o Awasi adanya kelainan bawaan.
7. Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :

o Hipotermia
o Hipoglikemia
o Gangguan cairan dan elektrolit
o Hiperbilirubinemia
o Sindroma gawat nafas
o Paten duktus arteriosus
o Infeksi
o Perdarahan intraventrikuler
o Apnea of Prematurity
o Anemia
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir
rendah (BBLR) antara lain :
o Gangguan perkembangan
o Gangguan pertumbuhan
o Gangguan penglihatan (Retinopati)
o Gangguan pendengaran
o Penyakit paru kronis
o Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
o Kenaikan frekuensi kelainan bawaan
8. Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal.
Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering disebabkan
karena komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneumonia, perdarahan
intrakranial, hipoglikemia. Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan
bicara, IQ rendah.
9. Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah
langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :

o Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama


kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga
berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus
cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang
lebih mampu
o Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung
dengan baik
o Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi
sehat (20-34 tahun)
o Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan
pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan
akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.
Tanda kecukupan pemberian ASI:
o BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari.
o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap  ASI akan menetes dari
payudara yg lain.
Indikasi bayi BBLR pulang:
o Suhu bayi stabil.
o Toleransi minum oral baik  terutama ASI.
o Ibu sanggup merawat BBLR di rumah
Cara menghangatkan bayi
Cara Petunjuk penggunaan
Kontak kulit  Untuk semua bayi
 Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau
menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4 oC) apabila cara lain
tidak mungkin dilakukan.
KMC  Untuk menstabilkan bayi dgn berat badan <2.500 g, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan
berat badan <1.800 g.
 Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)
 Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat
merawat bayinya.
Pemancar panas  Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.
 Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan, atau
menghangatkan kembali bayi hipotermi.
Inkubator Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g yang tidak
dapat dilakukan KMC.
Ruangan hangat  Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak
memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.
 Tidak untuk bayi sakit berat.

Jumlah cairan yang dibutuhkan bayi (ml/Kg)

Umur (hari)
Berat (g)
1 2 3 4 5+
>1500 60 80 100 120 150
<1500 80 100 120 140 150

Jumlah ASI untuk bayi sehat berat 1250-1499


Umur (hari)
Pemberian
1 2 3 4 5 6 7
Jumlah ASI tiap 3 jam 10 15 18 22 26 28 30
(ml/kali)

Kebutuhan cairan elektrolit bayi (ml/kg)

Berat badan <1000 1000 - <1500 1500 – 2500 >2500


(g)
Hari I 120 cc D5% 100 cc D7,5% 80 cc D10% 80 cc D10%
Hari II 140 cc D5% 120 cc D7,5% 100 cc D10% 90 cc D10%
Hari III 170 cc D5% 130 cc D7,5% 110 cc D10% 100 cc D10%
Hari >IV 200 cc 140-150 cc 130-150 cc 120-150 cc
Pembuatan cairan D7,5% = 93 cc (D5%) + 7 cc (D40%) = 100 cc D7,5%.
DAFTAR PUSTAKA

Azis, Abdul Latief. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Kesehatan Anak, edisi
III. RSU Dokter Sutomo. Surabaya

Behrman, RE, Kliegman RM. The Fetus and the Neonatal Infant, In : Nelson Textbook of
pediatrics; 17 th ed. California: Saunders. 2004; 550-8.

Kosim, Sholeh. 2008. Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta

Prawiroharjo, sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional .Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta ,Balai Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Poesponegoro, Hardiono, dr. Sp.A(K). 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.

Suraatmaja, Sudrajat, dr,SpA(K). Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak.
RSUP Sanglah, Denpasar.

Surasmi A., Handayani S., Nurkusuma H. Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah.
Dalam: Perawatan Bayi Resiko Tinggi, cet. 1. Jakarta: EGC, 2003; 30-56