Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TRANSFORMATOR DAYA DI GARDU INDUK

2.1 Gardu Induk


Gardu induk adalah suatu instalasi yang terdiri dari peralatan listrik yang
merupakan pusat beban yang diambil dari saluran Transmisi yang secara
spesifik berfungsi untuk:
a. Mentransformasi tenaga listrik dari tegangan tinggi ke tegangan tinggi
lainnya atau dari tegangan tinggi ke tegangan menengah.
b. Pengukuran, pengawasan operasi serta pengaturan dari pengamanan dari
sistem tenaga listrik.
Pengaturan daya ke gardu-gardu induk lainnya melalui tegangan tinggi dan
gardu-gardu induk distribusi melalui feeder tegangan menengah. Gardu induk
dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu (petunjuk pengoperasian pemeliharaan
peralatan untuk instalasi gardu induk, 1995) :
1. Menurut Tegangan
a. Gardu induk transmisi
Yaitu gardu induk yang mendapat daya dari saluran transmisi
untuk kemudian menyalurkannya ke daerah beban (industri, kota,
dan sebagainya). Gardu induk transmisi yang ada di PLN adalah
tegangan tinggi 150 KV dan tegangan tinggi 30 KV.
b. Gardu induk distribusi
Yaitu gardu induk yang menerima tenaga dari gardu induk
transmisi dengan menurunkan tegangannya melalui transformator
tenaga menjadi tegangan menengah (20 KV, 12 KV atau 6 KV) untuk
kemudian tegangan tersebut diturunkan kembali menjadi tegangan
rendah (127/220 V atau 220/380 V) sesuai dengan kebutuhan.
2. Menurut Penempatan Peralatan
a. Gardu induk pasangan dalam (indoor substation)
Gardu induk yang semua peralatannya dipasang didalam
gedung atau ruang tertutup. Jenis pasangan dalam ini dipakai untuk
menjaga keselarasan dengan daerah sekitarnya dan untuk
menghindari bahaya kebakaran dan gangguan suara.
b. Gardu induk pasangan luar (out door substation)
Gardu induk yang semua peralatannya berada diluar gedung
atau ruang terbuka. Alat control serta alat ukur berada dalam ruangan
atau gedung, ini memerlukan tanah yang begitu luas namun biaya
kontruksinya lebih murah dan pendinginannya murah.
c. Gardu induk sebagian pasangan luar (combine out door substation)
Sebagian peralatan gardu induk jenis ini dipasang dalam ruang
tertutup dan yang lainnya dipasang diluar dengan
mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungan.
d. Gardu induk pasangan bawah tanah (underground substation)
Gardu induk jenis ini umumnya berada dipusat kota. Karena
tanah yang tidak memadai jadi semua peralatan dipasang dalam
bangunan bawah tanah kecuali pendingin
e. Gardu induk sebagian pasang dibawah tanah (semi underground
substation)
Gardu induk jenis ini yang sebagian peralatannya dipasang
bawah tanah. Biasanya transformator daya dipasang bawah tanah
dan peralatan lainnya dipasang diluar diatas tanah.
f. Gardu induk mobil (mobile substation)
Peralatan gardu induk jenis ini diletakkan diatas trailler hingga
dapat dipindahkan ketempat yang membutuhkan, biasanya di pakai
dalam keadaan darurat dan sementara waktu guna pencegahan
beban lebih berskala dan guna pemakaian sementara ditempat
pembangunan.

Gardu induk dilengkapi komponen utama sebagai fasilitas yang diperlukan


sesuai dengan tujuannya serta mempunyai fasilitas untuk operasi dan
pemeliharaan, komponen tersebut antara lain :
a. Transformator Daya
b. Pemisah
c. Pemutus Tenaga
d. Transformator Tegangan
e. Transformator Arus
f. Arrester
g. Panel kontrol.
h. Baterai
i. Busbar
j. Sistem pentanahan titik netral

2.2 Transformator
Transformator merupakan peralatan listrik statis yang bekerja berdasarkan
prinsip induksi elektromagnetik untuk menaikkan tegangan (step up) atau
menurunkan tegangan (step down), tanpa merubah frekuensi.
Transformator dapat dibagi menurut fungsi/pemakaian seperti :
a. Transformator mesin (pembangkit)
b. Transformator gardu induk
c. Transformator distribusi
Penggunaan transformator pada sistem penyaluran tenaga listrik dapat
dibagi:
a. Trafo penaik tegangan (step up) atau disebut trafo daya, untuk menaikkan
tegangan pembangkit menjadi tegangan transmisi.
b. Trafo penurun tegangan (step down), dapat disebut trafo distribusi, untuk
menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi.
c. Trafo instrumen, untuk pengukuran yang terdiri dari trafo tegangan dan
trafo arus, dipakai menurunkan tegangan dan arus agar dapat masuk ke
meter-meter pengukuran.

2.2.1 Bagian-bagian transformator


Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai
fungsi nya masing-masing, bagian tersebut diantara nya :
a. Tangki transformator
Tangki trafo berfungsi sebagai wadah minyak transformator dan
sebagai pelindung bagian-bagian transformator yang berada dalam
minyak.
b. Konservator transformator
Konservator transformator berfungsi untuk menampung
pemuaian minyak transformator jika temperatur transformator
meningkat.
c. Pendingin transformator
Pendingin transformator berfungsi mengurangi panas yang
timbul pada inti besi dan kumparan dengan membuangnya keluar
sehingga panas tersebut tidak merusak laminasi lapisan inti besi dan
isolasi penghantar kumparan transformator.
d. Bushing transformator
Bushing transformator adalah diatas tangki transformator yang
berfungsi menghubungkan kumparan transformator dengan instalasi
diluar trafo, misalnya dengan terminasi kabel atau saluran yang
menuju ke pemutus tenaga.

Gambar 2. 1 Bushing Transformator

e. Tap changer
Tap changer berfungsi mengubah rasio jumlah lilitan kumparan
primer terhadap sekunder apabila terjadi perubahan beban
transformator.
f. Penyerap air
Penyerap air yang berupa tabung berisi zat higroskopis silicagel
yang berfungsi untuk menyerap air dari udara yang masuk ke dalam
transformator.
g. Indikator
Indikator berfungsi untuk memonitor kondisi transformator saat
dibebani, seperti temperatur dan tinggi permukaan minyak, sistem
peringatan dini transformator dan posisi tap changer.
h. Pengaman transformator
1. Relay Buchholz yang berfungsi mendeteksi adanya gas yang
ditimbulkan oleh loncatan bunga api dan pemanasan setempat
dalam minyak transformator. Tekanan gas yang makin lama
makin besar menyebabkan pelampung akan turun dan menutup
kontak air raksa, mula-mula kontak 1 untuk alarm kemudian
kontak 2 untuk mentrip coil PMT, sehingga PMT membuka.
2. Relay temperatur adalah rele mekanis yang berfungsi untuk
mendeteksi temperatur minyak dan kumparan secara langsung.
3. Relay diferensial yang berfungsi untuk mengamankan
transformator jika ada gangguan hubung singkat. Prinsip kerja
relay tekanan mendadak (sudden pressure relay) adalah apabila
tekanan minyak transformator naik mendadak karena timbul
banyaknya gas didalam konservator, maka pelat berlubang akan
bergerak keatas dan menutup kontak microswitch yang
mengirim arus ke trip coil dan membuka PMT.

2.2.2 Bagian Pembantu Transformator Daya


Bagian pembantu transformator daya dapa diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas
akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut
mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi
(di dalam transformator). Maka untuk mengurangi kenaikan suhu
transformator yang berlebihan maka perlu dilengkapi dengan
alat/system pendingin untuk menyalurkan panas keluar transformator.
Media yang dipakai pada system pendingin dapat berupa
Udara/gas, Minyak dan Air. Sedangkan pengalirannya (sirkulasi)
dapat dengan cara:
1. Alamiah (natural). Pada cara alamiah yaitu menggunakan udara
sebagai pendingin dengan cara melengkapi transformator
dengan sirip-sirip radiator agar daya tangkap aliran udara
semakin membaik.
2. Tekanan/Paksaan yaitu penyaluran panas yang lebih cepat lagi,
cara alamiah dapat dilengkapi dengan peralatan untuk
mempercepat sirkulasi media pendingin dengan pompa-pompa
sirkulasi minyak, udara dan air, cara ini disebut pendingin paksa
(Forced).
Macam-macam system pendingin transformator berdasarkan
media dan cara pengalirannya dapat diklasifikasikan pada table 2.1
sebagai berikut:
Tabel 2.1 Macam – Macam Sistem Pendingin Transformator

media
Macam sistem
No Dalam transformator Diluar transformator
pendingin
Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi
alamiah paksa alamiah paksa
1 AN - - Udara -
2 AF - - - Udara
3 ONAN Minyak - Udara -
4 ONAF Minyak - - Udara
5 OFAN - Minyak Udara -
6 OFAF - Minyak - Udara
7 OFWF - Minyak - Air
8 ONAN/ONAF Kombinasi 3 dan 4
9 ONAN/OFAN Kombinasi 3 dan 5
10 ONAN/OFAF Kombinasi 3 dan 6
11 ONAN/OFWF Kombinasi 3 dan 7
*) Menurut IEC tahun 1976

b. Tap Changer
Tap Changer adalah alat perubah perbandingan lilitan
transformasi untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder yang
diinginkan dari tegangan jaringan / primer yang berubah-ubah.
Perubahan tap transformator hanya dapat dilakukan pada keadaan
tidak berbeban atau sering disebut dengan “Off Load Tap Changer”
dan hanya dapat dioperasikan manual. Sedangkan tap changer yang
dapat beroperasi untuk mengubah tap transformator dalam keadaan
transformator berbeban disebut “On Load Tap Changer” dan dapat
dioperasikan secara manual dan otomatis.
c. Alat Pernapasan (Dehydrating Breather)
Udara luar yang lembab akan menurunkan nilai tegangan
tembus minyak transformator, maka untuk mencegah hal
tersebut,pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi dengan
alat pernapasan berupa tabung berisi Kristal zat hygroskopis.
d. Indikator-Indikator : Thermometer dan Permukaan Minyak
Untuk mengawasi kinerja transformator selama beroperasi,
maka diperlukan adanya indicator pada transformator sebagai
berikut:
1. Indikator suhu minyak
2. Indikator permukaan minyak
3. Indikator system pendingin
4. Indikator kedudukan tap dan sebagainya
e. Peralatan Proteksi
1. Rele Bucholz
Rele bucholz adalah alat/rele untuk mendeteksi dan
mengamankan terhadap gangguan di dalam transformator
dengan memanfaatkan sifat kimiawi
2. Pengaman tekanan lebih
Alat ini berupa membrane yang terbuat dari kaca, plasti,
tembaga atau katup berpegas. Berfungsi sebagai pengaman
tangka transformator terhadap kenaikan tekanan gas yang
timbul didalam tangka dan kekuatannya lebih rendah dari
kekuatan tangka transformator.
3. Rele tekanan lebih
Rele ini bekerja akibat adanya kenaikan tekanan gas yang
tiba-tiba sehingga rele langsung menjatuhkan pmt.
4. Relay suhu
Rele ini bekerja akibat adanya kenaikan tekanan gas yang
tiba-tiba sehingga langsung menjatuhkan pmt.
5. Relay pengaman tangki
Biasanya menggunakan rele arus lebih dengan
karakteristik waktu kerja seketika.
f. Peralatan Tambahan Untuk Pengamanan Transformator
1. Rele differensial
Berfungsi mengamankan transformator dari gangguan
didalam transformator antara lain Flash Over antara kumparan
dengan kumparan atau kumparan dengan tangka atau belitan
dengan belitan.
2. Rele arus lebih
Berfungsi mengamankan transformator dari arus yang
melebihi rating yang telah diperkenankan lewat dari
transformator tersebut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh
karena beban lebih atau gangguan hubung singkat.
3. Rele tangka tanah
Berfungsi untuk mengamankan transformator bila ada
hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian
yang tidak bertegangan pada transformator.
4. Rele hubung tanah
Berfungsi mengamankan transformator bil ada hubung
singkat satu phasa ke tanah.
5. Rele termis
Berfungsi untuk mengamankan transformator dari
kerusakan isolasi kumparan, akibat adanya panas yang berlebih
yang ditimbulkan oleh arus lebih.
6. Arrester
Berfungsi sebagai penangkal petir.

2.3 Prinsip Kerja Transformator


Transformator terdiri atas dua buah kumparan (primer dan sekunder) yang
bersifat induktif. Kedua kumparan ini terpisah secara elektrik namun
berhubungan secara magnetis melalui jalur yang memiliki reluktansi rendah.
Apabila kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik
maka fluks bolak-balik akan muncul di dalam inti yang di laminasi, karena
kumparan tersebut membentuk jaringan tertutup maka mengalirlah arus primer.

Gambar 2.2 Prinsip kerja transformator


Akibat adanya fluks dikumparan primer maka di kumparan primer terjadi
induksi sendiri (self induction) dan terjadi pula induksi di kumparan sekunder
karena pengaruh induksi dari kumparan primer atau disebut sebagai induksi
bersama (mutual induction) yang menyebabkan timbulnya fluks magnet di
kumparan sekunder, maka mengalirlah arus sekunder jika rangkaian sekunder
di bebani,sehingga energi listrik dapat di transfer keseluruhan (secara
magnetisasi).

2.3.1 Keadaan Transformator Tanpa Beban

Gambar 2.3 Trafo dengan sisi sekunder hubungan terbuka


Dari gambar 2.3 menunjukkan suatu bentuk trafo dengan rangkaian
pada sisi sekunder dalam keadaan terbukan ataupun tidak berbeban, dan
pada bagian primernya diberikan tegangan berubah-ubah vi . Kemudian
arus iφ , yang biasa disebut sebagai arus eksitasi, akan mengalir pada sisi
primer dan menghasilkan fluks yang berubah-ubah secara magnetic.
Fluks tersebut menghasilkan gaya gerak listrik dengan persamaan
sebagai berikut ini :
𝑑𝜆1 𝑑𝜑
e 1= = N1 ≈ (2.1)
𝑑𝑡 𝑑𝑡

dimana :
λ1 = fluks disisi primer
φ = fluks di inti trafo yang menghubungkan dua belitan
N1 = jumlah lilitan kawat di belitan primer

2.3.2 Keadaan Transformator Berbeban


Bila belitan lilitan kawat tembaga di sisi sekunder pada gambar 2.3
diatas dihubungkan dengan beban, maka akan terlihat seperti pada
gambar 2.4. Belitan sisi sekunder terhubung ke beban dan diasumsikan
bahwa arus yang keluar dari belitan sekunder adalah bernilsi positif, maka
arus tersebut akan menghasilkan gaya gerak magnet yang berlawanan
arah dengan arah yang di hasilkan oleh arus dari lilitan primer.
Dengan hasil asumsi tersebut di atas, maka pada gambar 2.3 dapat
dikatakan apabila tegangan yang berubah waktu v1 diberikan pada belitan
primer akan dihasilkan fluks inti φ yang menghasilkan gaya gerak listrik e 1
yang sebanding dengan tegangan v1.

v1 = ℯ1 =N1 =𝑑𝑑𝑡𝜑 (2.2)

Gambar 2.4 Trafo Ideal Terhubung Beban


Fluks pada inti juga terhubung ke bagian sekunder trafo sehingga
menghasilkan induksi gaya gerak listrik emf e2 sehingga belitan sekunder
akan menghasilkan tegangan pada terminalnya dengan persamaan:

v2 = ℯ2 =N2 =𝑑𝑑𝑡𝜑 (2.3)


Dengan membandingkan persamaan (2.2) dan (2.3) maka
diperoleh:
𝑣1 𝑁1
= (2.4)
𝑣2 𝑁2

2.4 Sumber Panas Pada Transformator


Temperatur yang melampaui batas kemampuan menahan panas bagian-
bagian transformator dapat merusak bagian dari isolasi sehingga dapat
mengurangi umur operasi transformator.
Sumber panas didalam transformator terdapat pada :
1. Kumparan transformator
Kumparan transformator yang mempunyai tahanan 𝑅 bila dilalui
arus beban 𝐼 akan menghasilkan rugi-rugi tembaga sebesar 𝐼 2 𝑅.
2. Inti besi
Di inti besi transformator terdapat rugi-rugi besi seperti :
a. Rugi arus pusar (eddy current) akibat fluks magnetic yang
berubah-ubah :
2
Pe = k e . f e . Bef . t 2 (watt) (2.5)
Keterangan :
Pe = Rugi arus pusar (Watt/kg)
ke = Konstanta material
2
Bef = Nilai efektif kerapatan fluks magnetic (Weber/m2)
t = Tebal lapisan laminasi inti besi (m)

b. Rugi histeresis
Rugi histeresis adalah rugi-rugi yang timbul sebagai akibat
diperlukannya daya untuk membolak-balik dipole (elemen-
elemen magnet kecil) pada inti besi :
Ph = k h . f . Bmax (watt/kg) (2.6)
Keterangan :
Ph = Rugi histeresis (watt/kg)
f = Frekuensi sistem (50 Hz)
Bmax = Kerapatan fluks magnetic maksimum (Weber/m2)
n = Konstanta Steinmetz yang mempunyai nilai antara 1,6-
2,5
Makin tinggi nilai 𝐵𝑚𝑎𝑘𝑠 makin tinggi nilai n
kh = Koefisien rugi-rugi histerisis transformator, besarnya
antara 1,4-2,5.
Dari uraian diatas tampak bahwa rugi-rugi transformator terutama
disebabkan oleh rugi-rugi tembaga yang dipengaruhi perubahan
beban transformator. Sedangkan rugi-rugi besi praktis konstan
karena besarnya tegangan operasi yang mempengaruhi rugi-rugi besi
juga konstan.

2.5 Pengaruh Thermal Pada Transformator Daya


Thermal stress, kandungan air dan oksigen mempengaruhi tingkat
penurunan bahan isolasi. Komponen yang paling penting dari system isolasi
kertas adalah yang membungkus lilitan konduktor tembaga atau aluminium yang
tidak mudah diganti. Oleh karena itu, umur cellulosic material (isolasi kertas,
menjadi factor pembatas dalam operasi (Sigid,2009).
Transformator merupakan peralatan listrik yang mempunyai bagian statis
atau tidak bergerak, kecuali kipas pendingin, pompa minyak dan pengubah
tegangan. Masa guna dari sebuah transformator banyak di pengaruhi oleh
kekuatan dari isolasinya, dimana perubahan sifat dari isolator akan membuat
penurunan masa guna dari transformator (Krisnadi,2011).
Transformator biasanya di desain untuk dipergunakan pada temperatur
lingkungan 20ºC dimana transformator tersebut beroperasi. Di Indonesia
beberapa lokasi penempatan transformator mempunyai temperature diatas
30ºC, sehingga transformator tidak bisa bekerja secara optimal karena
temperatur tertinggi pada transformator akan lebih tinggi dari maksimum yang
ditentukan. Pengoperasian diatas temperatur yang di persyaratkan akan
mengakibatkan menurunnya kekuatan isolasi, oleh karenanya dilakukan untuk
menghindari pengurangan umur yang diakibatkan menurunnya kualitas dari
isolatornya (Krisnadi,2011).
2.6 Temperatur Lingkungan
Temperatur lingkungan (ambient temperature) adalah temperatur disekitar
suatu peralatan listrik, yang merupakan faktor penting dalam menentukan
kemampuan peralatan listrik saat melayani beban, pada saat temperatur
meningkat di waktu pembebanan, temperature ambient harus ditambahkan
untuk menentukan temperature operasi. Dalam paper IEEE temperatur
lingkungan rata-rata yang digunakan adalah 300C.

2.7 Temperatur Hotspot


Temperatur hot-spot adalah temperatur titik tertinggi pada kumparan
transformator yang terletak antara kumparan dan inti besi yang tidak tercapai
oleh minyak pada saat beban transformator tertinggi. Temperatur hot-spot
dipengaruhi oleh besar beban dan temperatur lingkungan. Temperatur
lingkungan merupakan variabel dinamis yang mempengaruhi temperatur hot-
spot secara linier.
Berdasarkan model IEEE Annex G, nilai akhir temperatur hot-spot dihitung
berdasarkan rumus :
θH = θA + ∆θTO + ∆θH (2-7)
Keterangan :
θH = Temperatur hot-spot (0C)
θA = Temperatur ambient (0C)
∆θTO = Kenaikan temperatur top-oil terhadap temperatur ambient (0C)
∆θH = Kenaikan temperatur hot-spot terhadap temperatur top-oil (0C)
2.7.1 Kenaikan Temperatur hotspot
Kenaikan temperatur hot-spot terhadap temperatur top-oil dapat
dihitung dengan rumus :
∆θH = H . g . K 2m (2-8)
Keterangan :
∆θH = Kenaikan temperatur hot-spot terhadap temperatur top-oil
(0C)
H = Faktor hot-spot yang disebabkan akibat rugi arus pusar
(eddy current) pada kumparan akhir, menurut IEEE untuk transformator
daya digunakan nilai H = 1,3
g = Selisih antara temperatur rata-rata kumparan dengan
temperatur rata-rata minyak (0C)
m = Konstanta ekponensial hot-spot
Berdasarkan nilai konstanta m tergantung dari tipe pendinginan yang
digunakan seperti yang diperlihatkan pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Besarnya nilai konstanta m


Tipe Pendinginan M

OA 0,8

FA 0,8

NDFOA 0,8

DFOA 1,0

Sumber : IEEE Guide for Loading Mineral-Oil-Immersed Transformers


2.7.2 Tipe Pendinginan
1. OA (Oil Air) adalah pendinginan dengan minyak yang kemudian
didinginkan oleh udara.
2. FA (Force Air) adalah pendinginan dengan udara yang kemudian
didinginkan menggunakan kipas.
3. NDFOA (Non-Directed Forced Oil Air) adalah pendinginan dengan
minyak yang kemudian didinginkan dengan kipas, tanpa
menggunakan pompa sirkulasi minyak.
4. DFOA (Directed Forced Oil Air) adalah pendinginan dengan minyak
secara paksa menggunakan pompa sirkulasi minyak yang kemudian
didinginkan di radiator yang didinginkan secara paksa dengan kipas.

2.8 Batas Kenaikan Temperatur


Isolasi yang biasa dipakai dalam transformator bia cepat sekali menjadi
buruk apabila dikenai panas dengan temperature diatas 100ºC secara terus
menerus. Temperatur diatas 100ºC ini hanya dapat ditahan dalam selang waktu
yang relaif singkat, namun efek komulatif dan hubungan antara temperatur
dengan waktu tidak dapat ditentukan. Kenaikan temperatur pada belitan, inti dan
minyak trafo dirancang untuk pemakaian dengan ketinggian tidak lebih dari 1000
meter diatas permukaan laut. Untuk transformator yang menggunakan media
pendingin air, maka temperatur air tidak boleh lebih dari 25ºC, sedangkan untuk
transformator yang menggunakan media pendingin udara, maka temperatur
udaranya tidak boleh lebih dari 40ºC dan tidak boleh dibawah -25ºC untuk
pemasangan luar dan tidak boleh dibawah -5ºC untuk pemasangan dalam.
Sebagai tambahan untuk pendinginan dengan udara, temperaturnya tidak
melebihi rata-rata 30ºC untuk satu hari (Krisnadi,2011).

Gambar 2.5 Diagram Thermal Transformator


Metode ini disederhanakan sebagai asumsi yang telah dibuat sebagai berikut:
a. Temperatur minyak bertambah secara linear dari bawah keatas
sepanjang belitan kumparan transformator
c. Temperatur belitan bertambah secara linear dari bawah keatas,
dengan sebuah konstanta perbedaan temperatur g.
c. Kenaikan temperatur hot spot dibagian atas belitan lebih tinggi
daripada rata-rata kenaikan temperatur belitan. Untuk
mempertimbangkan non-linearan seperti meningkatnya rugi-rugi
pada bagian atas belitan, perbedaan temperatur hotspot dan
temperatur minyakbagian atas belitan didefinisikan sebagai Hg.
Faktor H dari hotspot menurut IEC 60076-7, untuk transformator
distribuso digunakan H=1,1 dan transformator daya digunakan nilai
H=1,3. Sedangkan untuk kenaikan hotspot dapat dihitung dengan
rumus (2-8)
2.9 Temperatur Minyak Bagian Atas
Temperatur minyak bagian atas (Top Oil Temperature) adalah temperatur
minyak pada bagian teratas kumparan. Temperatur minyak bagian atas pada
keadaan beban penuh ditentukan tes pabrik. Jika kekurangan data nilai
temperatur minyak bagian atas maka nilainya harus diasumsikan. Pada keadaan
beban penuh, temperatur hot-spot tertinggi untuk gradient temperatur minyak
bagian atas adalah 1100C, dimana ini adalah temperatur minyak maksimum
yang diizinkan untuk perkiraan masa operasi normal.
Persamaan untuk temperatur minyak bagian atas (top-oil temperature)
adalah:
θTO = θA + ∆θTO (2-9)
Keterangan :
θTO = Temperatur top-oil (0C)
θA = Temperatur ambient (0C)
∆θTO = Kenaikan temperatur top oil terhadap temperatur ambient (0C)

Kenaikan temperatur top-oil terhadap temperatur ambient dapat dihitung


dengan rumus :
t

∆θTO = (∆θTO,u + θA − ∆θTO,i ) (1 − e τTO
) + ∆θTO,I (2-10)

Keterangan :
∆θTO = Kenaikan temperatur top-oil terhadap temperatur ambient (0C)
∆θTO,u = Kenaikan temperatur top-oil akhir terhadap temperatur ambient
untuk beban (0C)
θA = Temperatur ambient (0C)
∆θTO,I = Kenaikan temperatur top-oil awal terhadap temperatur ambient
(0C)
τTO = Konstanta waktu minyak transformator daya bertipe
pendinginan
(DFOA) = 1,5 jam
Standar : IEEE

2.10 Kenaikan Temperatur Top-oil Akhir


Kenaikan temperatur top-oil akhir dapat dihitung dengan rumus :
(K2 .R+1 n
∆θTO,u = ∆θTO,R [ ] (2-11)
(R+1)

Keterangan :

∆θTO,u = Kenaikan temperatur top-oil akhir terhadap temperatur

ambient untuk beban (0C)

∆θTO,R = Kenaikan temperatur top oil terhadap temperatur ambient

pada beban rating pada posisi tap yang akan dipelajari (0C)

K = Faktor beban (daya semu beban/daya semurating trafo)

R = Rasio rugi-rugi total dan rugi-rugi tanpa beban

n = Konstanta ekponensial top-oil

Tabel 2.3 Besar nilai konstanta n

Tipe Pendinginan N

OA 0,8

FA 0,9

NDFOA 0,9

DFOA 1,0

Sumber : IEEE Guide for Loading Mineral-Oil Immersed Transformers

2.11 Equivalent Factor Aging


FEQA (Equivalent Aging Factor) yang merupakan efek akumulasi penuaan

selama selang waktu tertentu dinyatakan dengan rumus :

∑N
n=1 FAA,n .∆tn
FEQA = ∑N
(2-12)
n=1 ∆tn

Keterangan :

n = Indeks dari interval waktu (t)

N = Jumlah total interval waktu


∆t n = Interval waktu (jam)

2.12 Percentage Lost Life


Efek penuaan juga dapat dinyatakan dalam presentase kehilangan umur

(%loss of life) sebagai berikut :

FEQA x t x 100
%kehilangan umur = (2-13)
umur isolasi yang normal

Keterangan : Pada perhitungan umur isolasi yang normal (normal insulation life),

IEEE menetapkan standar 180.000 jam atau 20,55 tahun.

2.13 Syarat Minyak Transformator


Minyak transformator mempunyai sifat isolasi dan sifat sebagi media

pemindah panas sehingga dapat juga berfungsi sebagai media pendingin.

Syarat minyak transformator :

a. Kekuatan isolasi harus tinggi (>10 kV/mm)

b. Penyalur panas yang baik, berat jenis yang kecil sehingga partikel-partikel

dalam minyak dapat mengendap dengan cepat.

c. Viskositas yang rendah, agar lebih mudah bersirkulasi dan memiliki

kemampuan pendinginan yang lebih baik.

d. Titik nyala yang tinggi (minimum 1400C), untuk mencegah terlalu banyak

hilangnya minyak menjadi gas yang dapat menimbulkan bahaya

kebakaran.

e. Tidak bereaksi terhadap material lain sehingga tidak merusak material

isolasi padat.
2.14 Pembebanan Oil-Immersed Pada Transformator Daya
Output kVA nominal suatu transformator adalah beban yang dapat

disalurkan secara kontinyu pada tegangan output nominal tanpa melebihi

kenaikan temperatur yang ditentukan dalam kondisi tes.

Kenaikan temperatur hot-spot diatas temperatur top-oil dikenal sebagai

gradient tembaga hot-spot dan beban penuh dapat diperkirakan, ditunjukkan

pada gambar 2.4 berikut :

Gambar 2.6 Kurva kenaikan temperatur top-oil fungsi waktu, untuk

pembebanan full load dan ½ full load

Output transformator yang dapat disalurkan selama operasi tanpa

memburuknya isolasi tergantung pada karakteristik desain berikut dan kondisi

operasi :

1. Suhu lingkungan.

2. Kenaikan minyak atas suhu lingkungan.

3. Kenaikan tempat terpanas di atas suhu minyak atas (terpanas gradien

tempat tembaga).

4. Transformator termal waktu yang konstan.

5. Rasio kerugian beban tanpa kehilangan beban.


2.15 Batas Temperatur dan Pembebanan
Tabel 2.4 Batas temperatur dan pembebanan, untuk pembebanan diatas

rating pelat nama transformator daya dengan kenaikan 65 0C.

Temperatur minyak bagian atas 1100C

Temperatur penghantas paling panas 1800C

Pembebanan maksimum 200%

Sumber : IEEE Guide for Loading Mineral-Oil-Immersed Transform