Anda di halaman 1dari 26

Nama : __________________

Perusahaan : __________________
Tanggal : __________________

SERTIFIKASI & PEMBINAAN CALON AHLI K3 LISTRIK

Waktu : 120 menit


________________________________

Jumlah soal = 84 soal


Berarti Nilai per soal = 100 : 84 = 1,1904
Jadi jika misalnya benar semua 84 soal, nilainya = 84 x 1,1904 = 100
Jika misalnya yang benar adalah 65 soal, nilainya = 65 x 1,1904 = 77,37
Beri tanda lingkaran pada huruf jawaban a,b,c,d yang Saudara anggap
Beri tanda lingkaran pada huruf benar.
jawaban a,b,c,d yang Saudara anggap
benar.

I(MD).1. KEBIJAKAN,PEMBINAAN, DAN PENGAWASAN K3.


1. Dua (2) Undang-undang yang menjadi dasar hukum pelaksanaan K3
secara umum adalah :
a. Undang-undang No.1 tahun 1970 dan Undang-undang No13 tahun 2003
b. Undang-undang No.2 tahun 1970 dan Undang-undang No.14 tahun 2003
c. Undang-undang No.3 tahun 1970 dan Undang-undang No.15 tahun 2003
d. Undang-undang No.4 tahun 1970 dan Undang-Undang No.16 taun 2003.

1
2. Menurut Peratuan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No.12
tahun 2015 tanggal 9 April 2015 tentang K3 Listrik ditempat kerja pada
Pasal 1 Ayat 1 :
a. Yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja.
b. Yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
c. Yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja melalui upaya pencegahan penyakit akibat kerja.
d. Yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan penyakit kerja.

I(MD).2. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN NORMA K3 LISTRIK.


3. Pasal-pasal didalam Undang-undang No.1 tahun 1970 mengharuskan
upaya keselamatan kerja listrik adalah :
a. Pasal 1 Ayat 2 huruf q , yang berbunyi: “Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan,
disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan LISTRIK, gas, minyak atau air”,
dan Pasal 3 Ayat 1 q, yang berbunyi “Mencegah aliran listrik yang
berbahaya”.
b. Pasal 2 Ayat 2 huruf q , yang berbunyi: “Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan,
disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan LISTRIK, gas, minyak atau air”,
dan Pasal 3 Ayat 1 q, yang berbunyi “Mencegah aliran listrik yang
berbahaya”.
c. Pasal 3 Ayat 2 huruf q , yang berbunyi: “Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan,
disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan LISTRIK, gas, minyak atau air”,
dan Pasal 3 Ayat 1 q, yang berbunyi “Mencegah aliran listrik yang
berbahaya”.
d. Pasal 4 Ayat 2 huruf q , yang berbunyi: “Dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan,
disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan LISTRIK, gas, minyak atau air”,
dan Pasal 3 Ayat 1 q, yang berbunyi “Mencegah aliran listrik yang
berbahaya”.

4. Menurut Surat Keputusan Drektur Jendral Pembinaan Pengawasan


Ketenagakerjaan & K3 No.47/PPK&K3/VIII/2015 tanggal 05 Agustus
2015 tentang Pembinaan Teknisi K3 Listrik, pada Lampiran Huruf A;
Tujuan Pembinaan Ahli K3 Listrik secara umum adalah:
a. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan norma K3
listrik ditempat kerja, dan Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam
melakukan pemasangan dan pemeliharaan terhadap instalasi, perlengkapan
dan peralatan listrik secara aman ditempat kerja.

2
b. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan norma K3
listrik ditempat kerja, dan Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam
melakukan pemasangan terhadap instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik
secara aman ditempat kerja.
c. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan norma K3
listrik ditempat kerja, dan Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam
melakukan pemeliharaan terhadap instalasi, perlengkapan dan peralatan
listrik secara aman ditempat kerja.
d. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan norma K3
listrik ditempat kerja, dan Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam
melakukan instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik secara aman ditempat
kerja.

II(MI).1. PERSYARATAN K3 PERENCANAAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMBANGKITAN LISTRIK.
5. Persyaratan K3 Perencanaan Instalasi di Pembangkitan Listrik meliputi
1. Penentuan daerah aman pada area pembangkitan berdasarkan gambar
perencanaan.
2. Tata letak peralatan, dan perlengkapan dari aspek lingkungan berbahaya.
3. Tata letak peralatan, dan perlengkapan dari aspek lingkungan keseluruhan.
4. Penentuan daerah aman pada area pembangkitan berdasarkan gambar
perencanaan & Tata letak peralatan, dan perlengkapan dari aspek lingkungan
berbahaya.

6. Persyaratan K3 peralatan dan perlengkapan pada dokumen


perencanaan instalasi pembangkitan meliputi :
a. PHB, Peralatan proteksi, Peralatan penyalur, Peralatan yang tidak terpakai.
b. PHB, Peralatan proteksi, Peralatan penyalur, Peralatan pengatur.
c. PHB, Peralatan proteksi, Peralatan penyalur, Peralatan masih bisa
dioperasikan.
d. PHB, Peralatan proteksi, Peralatan penyalur, Peralatan sedangan dalam
perbaikan.

II(MI).2. PERSYARATAN K3 PERENCANAAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI TRANSMISI LISTRIK.
7. Skema/gambar Transmisi listrik meliputi :
a. Transformator, SUTT/SUTET Tower Lattice, Gardu Induk, Pemisah (PMS),
Pemutus Tenaga Listrik (PMT).
b. Transformator, SUTT/SUTET Tower Lattice, Gardu Induk, Pemisah (PMS).
c. Transformator, SUTT/SUTET Tower Lattice, Gardu Induk, Pemutus Tenaga
Listrik (PMT).

3
d. Transformator, SUTT/SUTET Tower Lattice, Pemisah (PMS), Pemutus Tenaga
Listrik (PMT).

II(MI).3. PERSYARATAN K3 PERENCANAAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI DISTRIBUSI LISTRIK.
8. Fungsi Distribusi tenaga listrik adalah :
a. Pembagi atau penyaluran tenaga listrik kebeberapa tempat (pelanggan).
b. Merupakan sub sistem tenaga listrik yang berhubungan dengan pelanggan.
c. Pembagi atau penyaluran tenaga listrik kebeberapa tempat (pelanggan), dan
merupakan sub sistem tenaga listrik yang berhubungan dengan pelanggan.
b. d.Pembagi atau penyaluran tenaga listrik ke sub sistem tenaga listrik yang
berhubungan dengan pelanggan.

II(MI).4. PERSYARATAN K3 PERENCANAAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMANFAATAN LISTRIK.
9. Instalasi listrik adalah :
a. Saluran listrik dan Pengendali maupun peralatan yang terpasang baik di
dalam maupun di luar bangunan untuk menyalurkan arus listrik.
b. Saluran listrik dan Pengendali maupun peralatan yang terpasang.
c. Pengendali maupun peralatan yang terpasang baik di dalam bangunan untuk
menyalurkan arus listrik.
d. Pengendali maupun peralatan yang terpasang di luar bangunan untuk
menyalurkan arus listrik.

II(MI).5. PERSYARATAN K3 PEMASANGAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMBANGKITAN LISTRIK.

10. Jenis-jenis pekerjaan pemasangan instalasi listrik di sistem


pembangkitan tenaga listrik, yang meliputi :
a. Jenis jenis Pembangkit, Ruang Lingkup Perencanaan Perlengkapan &
peralatan Pembangkitan, Instalasi listrik / list drawing.
b. Jenis jenis Pembangkit, Ruang Lingkup Pemeliharaan Perlengkapan &
peralatan Pembangkitan, Instalasi listrik / list drawing.
c. Jenis jenis Pembangkit, Ruang Lingkup Pemasangan Perlengkapan &
peralatan Pembangkitan, Instalasi listrik / list drawing.
d. Jenis jenis Pembangkit, Ruang Lingkup Proyek Perlengkapan & peralatan
Pembangkitan, Instalasi listrik / list drawing.

4
II(MI).6. PERSYARATAN K3 PEMASANGAN INSTALASI, PERLENGKAPAN
DAN PERALATAN LISTRIK DI TRANSMISI LISTRIK.
11. Jenis-jenis pekerjaan pemasangan instalasi listrik di sistem transmisi
tenaga listrik, yang meliputi:
a. Jenis jenis Komponen pada Transmisi, Ruang Lingkup Pemasangan
Perlengkapan & peralatan transmisi, Assesoris Pada Transmisi.
b. Jenis jenis Komponen pada Distrubusi, Ruang Lingkup Pemasangan
Perlengkapan & peralatan transmisi, Assesoris Pada Transmisi.
c. Jenis jenis Komponen pada Pembangkitan, Ruang Lingkup Pemasangan
Perlengkapan & peralatan transmisi, Assesoris Pada Transmisi.
b. Jenis jenis Komponen pada Pemanfaatan, Ruang Lingkup Pemasangan
Perlengkapan & peralatan transmisi, Assesoris Pada Transmisi.

II(MI).7. PERSYARATAN K3 PEMASANGAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI DISTRIBUSI LISTRIK.
12. Dua (2) macam konstruksi Saluran Distribusi adalah :
a. Saluran Arus bolak-balik dan Saluran Arus Searah
b. Saluran Tegangan Rendah dan Saluran Arus Rendah
c. Saluran Frekwensi Sedang dan Saluran Frekwensi Rendah
d. Saluran udara (Overhead) dan Saluran bawah tanah (Underground).

13. Dibandingkan dengan Saluran bawah tanah (Underground), maka


Keuntungan Saluran Udara (Overhead) antara lain adalah :
a. Biaya investasi lebih mahal, Biaya Pemeliharaan lebih murah, Cara
pemeliharaan lebih mudah, Cocok untuk daerah yang sering banjir.
b. Biaya investasi lebih murah, Biaya Pemeliharaan lebih mahal, Cara
pemeliharaan lebih mudah, Cocok untuk daerah yang sering banjir.
c. Biaya investasi lebih murah, Biaya Pemeliharaan lebih murah, Cara
pemeliharaan lebih mudah, Cocok untuk daerah yang sering banjir.
d. Biaya investasi lebih murah, Biaya Pemeliharaan lebih murah, Cara
pemeliharaan lebih sulit, Cocok untuk daerah yang sering banjir.

14. Jenis-jenis Instalasi pada pekerjaan pemasangan Instalasi di


Distribusi listrik :
1. Instalasi listrik, meliputi : Simbol gambar satu garis Listrik, Contoh
SLD, No Gambar / Dok RKS.
2. Perlengkapan listrik, meliputi : Jenis Tiang, Cross Arm, Isolator ,
SUTM / Saluran Udara Tegangan Menengah, SKTM / Saluran Kabel
Tegangan Menengah, Gardu Distribusi , Konstruksi Jaringan
Tegangan Rendah / SUTR dan SKTR.
3. Peralatan listrik, meliputi Peralatan Utama sistem distribusi yaitu :
Trafo Distribusi, Papan Hubung Bagi TR / PHB TR, Alat Pengukur

5
dan Pembatas / APP, Pentanahan /Grounding , Proteksi Sistem
Distribusi, Peralatan Kerja & Alat Uji.
Pernyataan tersebut diatas:
a. Semuanya benar
b. Semuanya salah
c. Sebagian benar
d. Perlu dikaji ulang

II(MI).8. PERSYARATAN K3 PEMASANGAN INSTALASI, PERLENGKAPAN


DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMANFAATAN LISTRIK.
15. Menurut PUIL 2011, Amademen 1 tahun 2013, halaman 149 dari 154,
Arti nomenklatur “N” pada kabel NYA, NYM, NYY, NYFGbY adalah :
a. N=kabel standar konduktor tembaga
b. N=kabel standar konduktor aluminum
c. N=kabel standar konduktor perak
d. N=kabel standar konduktor titanium

16. Yang dimaksud dengan Saluran pentanahan TN-S adalah :


a. TN-S=Terra Neutral Sensored, artinya kawat netral dan kawat pentanahan
di sensor.
b. TN-S=Terra Neutral Separated, artinya kawat netral dan kawat pentanahan
dipisah.
c. TN-S=Terra Neutral Supplied, artinya kawat netral dan kawat pentanahan di
supply (catu).
d. TN-S=Terra Neutral Seried, artinya kawat netral dan kawat pentanahan
disambung secara seri.

17. Elektroda Pentanahan terdiri dari :


a. Elektroda Batang, Elektroda Pita, dan Elektroda Plat.
b. Elektroda Bawah, Elektroda Tengah, dan Elektroda Atas.
c. Elektroda Magnit, Elektroda Induksi, dan Elektroda Elektro..
d. Elektroda Rendah, Elektroda Menengah, dan Elektroda Tinggi.

18. Persyaratan K3 Pekerjaan Pemasangan Instalasi, Perlengkapan, dan


Peralatan Listrik di Pemanfaatan Tenaga Listrik, antara lain meliputi :
a. Prosedure Keselamatan Listrik, dan Keselamatan K3 Listrik Yang diperlukan
(Electrical Safety Requirements).
b. Prosedure Perencanaan Listrik, dan Keselamatan K3 Listrik Yang diperlukan
(Electrical Safety Requirements).
c. Prosedure Pemasangan Listrik, dan Keselamatan K3 Listrik Yang diperlukan
(Electrical Safety Requirements).
d. Prosedure Pemeliharaan Listrik, dan Keselamatan K3 Listrik Yang diperlukan
(Electrical Safety Requirements).

6
II(MI).9. PERSYARATAN K3 PEMELIHARAAN INSTALASI, PERLENGKAPAN
DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMBANGKITAN LISTRIK.
19. Pemeliharaan listrik terdiri dari :
a. Preventive Maintenance (PM) yaitu pemeliharaan berkala; Breakdown
maintenance (BM) yaitu perbaikan peralatan listrik sehingga bisa
dipertahankan ketersediaan, keandalan, dan efisiensinya untuk menjamin
pasokan listrik.
b. Tindakan perbaikan peralatan listrik yang terus menerus dengan metode
PDCA (Plan, Do, Check, Action) dan Pengujian tahanan isolasi, sehingga bisa
dipertahankan ketersediaan, keandalan, dan efisiensinya untuk menjamin
pasokan listrik kepada pelanggan internal maupun eksternal.
c. Preventive Maintenance (PM) yaitu pemeliharaan berkala; Predictive
Maintenance (PdM) yaitu pemeliharaan berdasarkan kondisi perlatan; dan
Corrective Maintenance (CM) yaitu pemeliharaan berupa koreksi yang
direncanakan maupun yang tidak direncanakan (breakdown maintenance).
d. Tindakan perbaikan peralatan listrik yang terus menerus dengan metode
FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) dan RCA (Root Cause Analysis)
sehingga bisa dipertahankan ketersediaan, keandalan, dan efisiensinya untuk
menjamin pasokan listrik kepada pelanggan internal maupun eksternal.

20. Pembangkit listrik di Indonesia terdiri dari :


a. Pembangkit listrik yang hasil listriknya dijual ke konsumen melalui PLN.
b. Pembangkit listrik yang hasil listriknya untuk keperluan sendiri.
c. Pembangkit listrik yang hasil listriknya dijual ke konsumen melalui PLN, dan
Pembangkit listrik yang hasil listriknya untuk keperluan sendiri.
d. Pembangkit listrik yang hasil listriknya tidak dijual ke konsumen melalui PLN,
dan Pembangkit listrik yang hasil listriknya tidak untuk keperluan sendiri.

21. Obyek Pemeliharaan di Pembangkitan listrik adalah :


a. Jenis Pembangkit (PLTU, PLTG,PLTD,PLTGU,PLTA/hidro,PLTN,PLTP,
PLTB,PLTS), Instalasi listrik, Transformator, Generator, Switchgear, Proteksi,
Elektronik, APAR.
b. Lampu-lampu penerangan, stop kontak dan perlengkapannya, genset,
gardu listrik, Elektronik, APAR.
c. Permanent Magnetic Generator (PMG), Automatic Voltage Regulator (AVR),
stator, rotor, kumparan pemguat, Elektronik, APAR.
d. Uninterruptible Power Supply (UPS), Rectifier, Komutator, Transformator,
stator, rotor, kumparan pemguat, Elektronik, APAR.

7
22. Tujuan dari Proteksi dan koordinasi sistem listrik menurut standard
ANSI/IEEE Std 242 1986/2001, adalah :
a. Mencegah kecelakaan pada manusia dan ternak, memperbaiki kerusakan
pada peralatan, dan membatasi durasi pemadaman listrik.
b. Mencegah kecelakaan pada manusia, mengganti peralatan-peraltan yang
tidak berfungsi, dan mencegah terjadinya pemadaman listrik.
c. Mencegah kecelakaan pada manusia dan ternak, meminimalisasi kerusakan
pada peralatan dan memperbaikinya sesegera mungkin, dan menghemat
biaya operasional listrik.
d. Mencegah kecelakaan pada manusia, meminimalisasi kerusakan pada
peralatan, dan membatasi durasi pemadaman listrik.

23. Alat proteksi utama pemutus listrik terdiri dari :


a. Circuit Breaker (Pemutus Tenaga/PMT), Kontaktor magnetik.
b. Circuit Breaker (Pemutus Tenaga/PMT), Fuse (Sekering).
c. Fuse (Sekering), Relay proteksi.
d. Circuit Breaker (Pemutus Tenaga/PMT), Relay proteksi.

24. Circuit Breaker (Pemutus Tenaga/PMT) terdiri dari :


a. MCB (Miniatur Circuit Breaker), MCCB (Molded Case Circuit Breaker), ACB
(Air Circuit Breaker), OCB (Oil Circuit Breaker), Protective Relay 50/51,
Protective Relay 87.
b. MCB (Miniatur Circuit Breaker), MCCB (Molded Case Circuit Breaker), ACB
(Air Circuit Breaker), OCB (Oil Circuit Breaker), VCB (Vacuum Circuit
Breaker), Gas SF6 Circuit Breaker (SF6 CB).
c. ACB (Air Circuit Breaker), OCB (Oil Circuit Breaker), VCB (Vacuum Circuit
Breaker), Gas SF6 Circuit Breaker (SF6 CB), Thermal Trip Cicuit Breaker,
Magnetic Trip Circuit Breaker.
d. ACB (Air Circuit Breaker), OCB (Oil Circuit Breaker), VCB (Vacuum Circuit
Breaker), Gas SF6 Circuit Breaker (SF6 CB), Thermal Magnetic Trip Circuit
Breaker, Lightning Arrester.

25. Fungsi Protective Relay (Rele proteksi) adalah :


a. Sebagai “alat perantara” untuk men-trip-kan Circuit Breaker, dimana
Protective Relay akan menerima indikasi gangguan listrik (berupa arus,
tegangan, dan lain-lain). Dan apabila gangguan listrik tsb. melampaui batas
setting-nya, maka kontak pada Protective Relay akan menutup sehingga
meng-energize Tripping Coil dan men-trip-kan Circuit Breaker.
b. Sebagai peralatan utama yang dapat memutuskan aliran listrik secara
selektif hanya untuk peralatan yang besar saja.

8
c. Sebagai “alat perantara” untuk memutuskan Fuse (Sekering), dimana
Protective Relay akan menerima indikasi gangguan listrik (berupa arus,
tegangan, dan lain-lain). Dan apabila gangguan listrik tsb. melampaui batas
setting-nya, maka kontak pada Protective Relay akan menutup sehingga
meng-energize Tripping Coil dan memutuskan Fuse (Sekering).
d. Sebagai peralatan sekunder yang dapat mengisolasi pemadaman listrik
untuk daerah-daerah tertentu saja.

26. Cara kerja Circuit Breaker dan Fuse adalah :


a. Kontak dari Circuit Breaker akan membuka jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan setelah itu kontak tidak dapat ditutup
kembali apabila gangguan listriknya telah tidak ada. Sedangkan pada Fuse,
elemen logam didalamnya akan melebur jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan Fuse tsb.harus diganti elemen
logamnya saja.
b. Kontak dari Circuit Breaker akan membuka jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan setelah itu kontak tidak dapat ditutup
kembali apabila gangguan listriknya telah tidak ada. Sedangkan pada Fuse,
elemen logam didalamnya akan melebur jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan Fuse tsb. harus diganti lengkap (tidak
dianjurkan untuk mengganti elemen logamnya saja).
c. Kontak dari Circuit Breaker akan membuka jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan setelah itu kontak dapat ditutup kembali
apabila gangguan listriknya telah tidak ada. Sedangkan pada Fuse, elemen
logam didalamnya akan melebur jika ada gangguan listrik (berupa arus,
tegangan, dan lain-lain) dan Fuse tsb. harus diganti elemen logamnya
saja.
d. Kontak dari Circuit Breaker akan membuka jika ada gangguan listrik (berupa
arus, tegangan, dan lain-lain) dan setelah itu kontak dapat ditutup kembali
apabila gangguan listriknya telah tidak ada. Sedangkan pada Fuse, elemen
logam didalamnya akan melebur jika ada gangguan listrik (berupa arus,
tegangan, dan lain-lain) dan Fuse tsb.harus diganti lengkap (tidak
dianjurkan untuk mengganti elemen logamnya saja).

27. UPS (Uninterruptible Power Supply) merupakan salah satu peralatan


elektronik yang ada di Pembangkitan listrik, yaitu juga merupakan
peralatan :
a. Yang digunakan untuk catu daya beban-beban yang normal sebagaimana
biasa sehingga suplai boleh terputus atau lampu boleh berkedip.
b. Yang digunakan untuk catu daya beban-beban yang sangat penting
sehingga tidak boleh suplai listrik terputus atau lampu tidak boleh berkedip.

9
c. Yang digunakan untuk kebutuhan listrik di sekolah-sekolah SMK dan SMA di
Jakarta sehingga para siswanya bisa belajar dengan baik.
d. Yang digunakan untuk kebutuhan listrik di pusat-pusat perbelanjaan dan
perdagangan sehingga kegiatan ekonomi bisa berjalan dengan baik.

28. Manajemen Pemeliharaan di Pembangkitan listrik meliputi :


a. P.O.A.C (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) terhadap 5 M (Man,
Machine, Money, Material, Method).
b. P.D.C.A (Plan, Do, Check, Action) terhadap 5 M (Man, Machine, Money,
Material, Method).
c. F.M.E.A (Failure Mode and Effect Analysis) terhadap 5 M (Man, Machine,
Money, Material, Method).
d. R.C.A (Root Cause Analysis) terhadap 5 M (Man, Machine, Money, Material,
Method).

29. Bahaya listrik menurut John Cadick dalam bukunya “Electrical Safety
Handbook” adalah :
a. Lightning, Electrostatic, Electricity leakage
b. Shock, Arc, Blast, dan other hazards.
c. Sudden death, Electricity leakage, Fire.
d. Short Cicuit, Alternating Current, Direct Current

30. Bahaya SHOCK adalah :


a. Terperanjat dan terjatuh saat bekerja pada pemeliharaan listrik
b. Serangan jantung akibat melihat orang mengalami kecelakaan listrik.
c. Kulitnya terbakar karena mnyentuh peralatan-peralatan yang tidak
dioperasikan oleh listrik.
d. Tersengat listrik atau Kesetrum yaitu Stimulasi fisik atau trauma yang terjadi
sebagai akibat dari mengalirnya arus listrik lewat melalui tubuh.

31. Dalam PUIL 2011 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik tahun 2011),
halaman 6 dari 639, bahaya kejut listrik terbagi menjadi dua yaitu :
a. Terperanjat dan Terjatuh
b. Sentuh langsung dan Sentuh tidak langsung
c. Tidak terlihat dan terlihat
d. Sentuh benda padat dan Sentuh benda cair

32. Dalam PUIL 2011 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik tahun 2011),
halaman 43 dari 639, tegangan yang aman bagi manusia adalah :
a. Kurang dari 220 Volt AC, dan kurang dari 380 Volt DC
b. Kurang dari 120 Volt AC, dan kurang dari 220 Volt DC
c. Kurang dari 100 Volt AC, dan kurang dari 120 Volt DC
d. Kurang dari 50 Volt AC, dan kurang dari 120 Volt DC

10
33. Dengan menggunakan Kurva Arus mengalir ketubuh (mA)-vs-
Waktu(mS), apa reaksi tubuh manusia apabila teraliri Arus listrik
sebesar 20 mA dalam waktu 2 detik ?
a. Tidak terasa
b. Terasa, tetapi belum menyebabkan gangguan kesehatan
c. Kejang otot, dan gangguan pernafasan
d. Kegagalan detak jantung, kematian

34. Alat yang dipergunakan untuk menyelamatkan manusia dari bahaya


“SHOCK=(tersengat listrik)” pada tegangan rendah adalah :
a. ELCB, alias RCCB, alias GFCI, alias RCD, alias GPAS
b. Circuit Breaker, alias Fuse, alias Sekering, alias Switchgear, alias Switchyard
c. UPS, alias Charger, alias Rectifier, alias Diodes, alias Capacitor
d. Slip ring, alias Exciter, alias PMG, alias PT, alias CT

35. Sensitivitas ELCB ditentukan sebesar 30 mA (PUIL 2011 halaman 118


dari 639, dan halaman132 dari 639), karena apabila manusia teraliri
arus sebesar 30 mA, maka berakibat :
a. Mulai terkejut atau tidak bisa mengendalikan kan diri sendiri
b. Mulai lengket atau mulai tidak bisa melepaskan diri sendiri (Can not let go)
c. Mulai terjatuh atau mulai tidak bisa berdiri lagi
d. Mulai terjatuh atau mulai tidak bisa melepaskan diri sendiri (Can not let go)

36. Kita telah mengetahui bahwa Sensitivitas ELCB untuk menyelamatkan


manusia dari bahaya SHOCK (=tersengat listrik) adalah 30 mA.
Berapa milidetik ELCB tersebut akan trip memutuskan aliran listrik ?
[Gunakan Kurva Arus mengalir ketubuh (mA)-vs-Waktu(mS)]
a. 10 milidetik
b. 20 milidetik
c. 30 milidetik
d. 40 milidetik

37. Berikut ini adalah cara mencegah terjadinya bahaya SHOCK


(=tersengat listrik), benar atau salah ?
1.Jangan membiasakan diri mencoba secara sengaja maupun tidak
sengaja memegang benda-benda logam yang kemungkinan bisa ada
tegangan listriknya.
2.Isolasi bagian-bagian terbuka yang bertegangan.
3.Beri tutup yang aman pada bagian-bagian yang bertegangan
4.Beri pagar pengaman pada bagian-bagian bertegangan yang
kemungkinan bisa tersentuh manusia secara tidak sengaja, pasang
peralatan Interlocking (bila perlu).

11
5.Pasang Grounding pada Instalasi listrik
6.Pasang Grounding pada bagian-bagian yang kemungkinan bisa
bertegangan (misalnya frame dari motor, dan lain-lain)
7.Pasang ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) dengan sensitivity
maksimum 30 mA. Nama lain dari ELCB adalah GPAS (Gawai Proteksi
Arus Sisa), alias RCCB (Residual Current Circuit Breaker), alias RCD
(Residual Current Detector), alias GFCI (Ground Fault Current
Interrupter).
8.Laksanakan LOTO (Lock Out Tag Out) sewaktu melakukan
pekerjaan listrik.
9.Gunakan PPE yang baik, tepat, dan benar

Pernyataan tersebut diatas :


a. Semuanya salah b. Semuanya benar
c. Sebagian salah d. Sebagian benar

38. Tahanan pentanahan (Earth Resistance) diukur dengan menggunakan


Alat “Earth Resistance Tester”. Besarnya tahanan pentanahan (earth
resistance) menurut standard NFPA, IEEE, dan PUIL 2011
Amandemen 3 tahun 2014 halaman 7 dari 29, adalah :
a. Maksimum 2 Ohm.
b. Maksimum 3 Ohm.
c. Maksimum 4 Ohm.
d. Maksimum 5 Ohm.

39. Pekerja pemeliharaan listrik tidak dianjurkan bekerja sendirian, harus


selalu bekerja 2 orang (Electrician + Helper).
Tujuannya adalah :
a. Agar bisa saling membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat
b. Agar bisa saling menyelamatkan apabila terjadi kecelakaan tersengat listrik
c. Agar bisa saling memberi solusi dalam menyelesaikan pekerjaan
d. Agar bisa saling mendiskusikan banyak hal dalam menyelesaikan pekerjaan.

40. Jenis-jenis bahaya Arc, adalah :


a. Arc Flash = Arc yang timbul karena Short Circuit [terhubungnya kawat fasa
AC atau kawat positif + DC dengan kawat lain atau bagian konduktor lain
sebelum pemakaian (load)], dan Arc yang menyebabkan manusia tersengat
listrik (Shock).
b. Arc Flash = Arc yang timbul karena Short Circuit [terhubungnya kawat fasa
AC atau kawat positif + DC dengan kawat lain atau bagian konduktor lain
sebelum pemakaian (load)], dan Arc yang menyebabkan KEBAKARAN (Fire)

12
c. Arc Flash = Arc yang timbul karena Short Circuit [terhubungnya kawat fasa
AC atau kawat positif + DC dengan kawat lain atau bagian konduktor lain
sebelum pemakaian (load)], dan Arc yang menyebabkan bahaya induksi
elektromagnetik
d. Arc Flash = Arc yang timbul karena Short Circuit [terhubungnya kawat fasa
AC atau kawat positif + DC dengan kawat lain atau bagian konduktor lain
sebelum pemakaian (load)], dan Arc yang menyebabkan bahaya radiasi

41. Berikut ini adalah CARA MENCEGAH TERJADINYA Arc Flash [Arc yang
timbul karena Short Circuit [terhubungnya kawat fasa AC atau kawat
positif + DC dengan kawat lain atau bagian konduktor lain sebelum
pemakaian (load)] :
1.Pada saat melakukan pekerjaan Pemeliharaan, harus selalu
listriknya dimatikan dulu (off & LOTO), kecuali terpaksa.
2.Hindarkan kemungkinan terjadinya short circuit, dan pastikan harus
ada alat proteksi (CB atau Fuse)
3. Hindari Kondisi tidak aman (Unsafe condition) dan Perilaku yang
tidak aman (Unsafe Act)
4. Gunakan Alat Pelaindung Diri (APD) yang baik dan benar

Pernyataan tersebut diatas :


a. Semuanya salah
b. Semuanya benar
c. Sebagian salah
d. Sebagian benar

42. Dalam teori Segitiga Api (Fire Triangle), Api akan muncul apabila ada
Oxigen, Fuel, dan Heat, masing-masing dalam jumlah yang cukup.
Dalam sistem tenaga listrik, “HEAT” bisa timbul karena :
1. Terjadi short circuit, tetapi alat proteksi tidak mentripkan cicuit
2. Kualitas kabel (kawat dan isolasi) tidak baik
3. Penggunaan jenis kabel yang salah (misalnya NYM hanya untuk
indoor).
4. Ukuran kawat terlalu kecil
5. Terjadi “loss connection” (dari sambungan kawat, tusuk kontak
yang bertumpuk-tumpuk yang cenderung tidak rapat, dan lain-lain)

Pernyataan tersebut diatas :


a. Sebagian salah
b. Sebagian benar
c. Semuanya salah
d. Semuanya benar

13
43. Cara mencegah terjadinya bahaya ARC yang menyebabkan
Kebakaran:

a. 1. Hindarkan kemungkinan terjadinya short circuit, dan harus ada alat


proteksi (CB atau Fuse)
2. Gunakan kulaitas kabel (kawat dan isolasi) yang baik
3. Gunakan jenis kabel yang benar
4. Gunakan ukuran kawat yang sesuai dengan KHA (Ampacity)nya.
5. Hindari terjadinya “Loss connection”
b. 1. Hindarkan kemungkinan terjadinya short circuit, dan harus ada alat
proteksi (CB atau Fuse)
2. Gunakan kulaitas kabel (kawat dan isolasi) yang baik
3. Gunakan jenis kabel yang benar
4. Gunakan ukuran kawat yang sesuai dengan KHA (Ampacity)nya.
5. Selalu berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan Pemeliharaan

c. 1. Hindarkan kemungkinan terjadinya short circuit, dan harus ada alat


proteksi (CB atau Fuse)
2. Gunakan kulaitas kabel (kawat dan isolasi) yang baik
3. Gunakan jenis kabel yang benar
4, Hindari terjadinya “Loss connection”
5. Selalu berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan Pemeliharaan
d. 1. Hindarkan kemungkinan terjadinya short circuit, dan harus ada alat
proteksi (CB atau Fuse)
2. Gunakan kulaitas kabel (kawat dan isolasi) yang baik
3. Gunakan ukuran kawat yang sesuai dengan KHA (Ampacity)nya.
4. Hindari terjadinya “Loss connection”
5. Selalu berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan Pemeliharaan

44. Bahaya Blast (ledakan) pada listrik, terdiri dari :


a. Blast yang berasal dari equipment yang pemeliharaannya kurang baik ,
misalnya Tranformator meledak Battery meledak Dan lain-lain, serta Blast
yang terjadi karena Interrupting Rating (Breaking Capacity) yang tidak
benar pada CB & Fuse
b. Blast yang berasal dari equipment baru , misalnya Tranformator meledak
Battery meledak Dan lain-lain, serta Blast yang terjadi karena Interrupting
Rating (Breaking Capacity) yang tidak benar pada CB & Fuse
c. Blast yang berasal dari equipment yang pemeliharaannya bagus , misalnya
Tranformator meledak Battery meledak Dan lain-lain, serta Blast yang
terjadi karena Interrupting Rating (Breaking Capacity) yang tidak benar
pada CB & Fuse

14
d. Blast yang berasal dari equipment dari pabrik lain , misalnya Tranformator
meledak Battery meledak Dan lain-lain, serta Blast yang terjadi karena
Interrupting Rating (Breaking Capacity) yang tidak benar pada CB & Fuse

45. Berikut ini adalah Cara mencegah Blast yang berasal dari equipment
yang pemeliharaannya kurang baik:
1.Laksanakan pekerjaan Pemeliharaan (PM, PdM, dan CM) sesuai
dengan prosedur-prosedur pemeliharaan (Maintenance Prosedures).
2. Lakukan JSA (Job Safety Analysis) untuk setiap pekerjaan
Pemeliharaan (PM, PdM, CM)
Pernyataan tersebut diatas :
a. Sebagian salah
b. Sebagian benar
c. Semuanya salah
d. Semuanya benar

46. Yang dimaksud dengan BLAST yang terjadi karena Interrupting


Rating yang tidak benar pada CB & Fuse, adalah :
a. Bila terjadi short circuit dan alat proteksinya tidak trip tetapi pecah (break)
maka terjadi blast.
b. Bila terjadi short circuit dan alat proteksinya trip tetapi tidak pecah (tidak
break) maka terjadi blast.
c. Bila terjadi short circuit dan alat proteksinya trip tetapi pecah (break) maka
terjadi blast.
d. Bila terjadi short circuit dan alat proteksinya tidak trip tetapi tidak pecah
(tidak break) maka terjadi blast.

47. Pada Fuse maupun Circuit Breaker :


o Contact Rating [Amper]: untuk proteksi over current (over load) ,
dan Short circuit
o Breaking Capacity (Interrupting Current) [kA] : untuk bertahan
tidak pecah jika terjadi short circuit.
Pernyataan tersebut diatas :
a. Sebagian salah
b. Sebagian benar
c. Semuanya salah
d. Semuanya benar

15
48. Cara mencegah Blast yang terjadi karena Interrupting Rating yang
tidak benar pada CB & Fuse, adalah :
1. Hindari kemungkinan terjadinya short circuit
2. Pastikan Breaking Capacity dari Fuse dan Circuit Breaker adalah
lebih besar daripada Maximum Short Circuit pada titik terjadinya
short circuit tersebut. Maximum Short Circuit pada setiap titik Bus
dihitung menggunakan software misalnya ETAP (Electrical Transient
Analizer Program), atau dengan menggunakan Tabel seperti contoh
dari PLN.
Pernyataan tersebut diatas :
a. Semuanya salah
b. Semuanya benar
c. Sebagian salah
d. Sebagian benar

49. Yang dimaksud bahaya-bahaya lain dari listrik adalah bahaya-bahaya


yang selain Shock, Arc & Blast :
1.Bahaya Induksi Electromagnetic ketika sedang melakukan
pekerjaan pemeliharaan listrik
2.Bahaya radiasi ketika sedang melakukan pekerjaan pemeliharaan
listrik
3.Bahaya terpeleset ketika sedang melakukan pekerjaan
pemeliharaan listrik
4.Bahaya jatuh dari ketinggian ketika sedang melakukan pekerjaan
pemeliharaan listrik
5.Bahaya tersentuh panas pada peralatan listrik ketika sedang
melakukan pekerjaan pemeliharaan listrik
6. Dan lain-lain
Pernyataan tersebut diatas :
a. Semuanya salah
b. Semuanya benar
c. Sebagian salah
d. Sebagian benar

50. Cara mencegah bahaya-bahaya lain dari listrik adalah bahaya-bahaya


yang selain Shock, Arc & Blast adalah :
a. Hati-hati, Hindari Unsafe Condition & Unsafe Acts, Gunakan APD yang tepat
dan baik, Patuhi rambu-rambu yang dipasang, Patuhi prinsip-prinsip K3
Umum, dan K3 Spesialis.
b. Hati-hati, Hindari Unsafe Condition & Unsafe Acts
c. Gunakan APD yang tepat dan baik, Patuhi rambu-rambu yang dipasang,
Patuhi prinsip-prinsip K3 Umum, dan K3 Spesialis.
d. Patuhi rambu-rambu yang dipasang, Patuhi prinsip-prinsip K3 Umum, dan
K3 Spesialis.

16
51. CHECK LIST Pemeriksaan dan dan pengawasan persyaratan K3 alat-
alat uji listrik dalam hal Insulation (isolasi) yang sangat berkaitan
dengan terjadinya Short Circuit yang menyebabkan Shock, Arc &
Blast.
1.Teknologi kesatu (paling awal) adalah dengan menggunakan
Insulation Resistance Tester (Meger) : Untuk Tegangan Rendah s/d
Tegangan Menengah. Rule of Thumb : Insulation Resistance minimum
= 1000 Ohm/Volt (Sesuai dengan PUIL 2011 halaman 452 dari 639).
Aplikasi didunia industri seringkali + 1 MOhm, sehingga menjadi (kV
operasi isolasi) + 1 MOhm.
Jika tegangan operasi kabel berisolasi 220 Volt, maka Insulation
Resistance minimum adalah :
a. = 1,21 Mohm.
b. = 1,22 Mohm.
c. = 1,23 Mohm.
d. = 1,24 Mohm.

52. Insulation Resistance Test merupakan :


a. “Indication Test”
b. “Measurement Test”
c. “Information Test”
d. “Go or No Go Test”

53. Teknologi kedua adalah “Polarization Index (P.I) Test” :


Khusus untuk equipment yang ada winding-nya, misalnya Motor,
Generator, Transformator, dll, dan Untuk Tegangan Rendah s/d
Tegangan Menengah.
Hasilnya:
< 1.0 = Bahaya
1.0 - 1.4 = Jelek
1.5 - 1.9 = Bisa dipertanyakan
2.0 – 2.9 = Lumayan
3.0 – 4.0 = Bagus
> 4.0 = Sangat bagus
Jika hasil pengukuran PI pada winding Transformator adalah = 1,3,
berarti :
a. Winding pada Transformator tersebut sangat kotor dan sangat
terkontaminasi
b. Winding pada Transformator tersebut kotor dan terkontaminasi
c. Winding pada Transformator tersebut agak kotor atau agak bersih dari
kotoran kontaminasi
d. Winding pada Transformator tersebut bersih atau sangat bersih dari
kotoran kontaminasi

17
II(MI).10. PERSYARATAN K3 PEMELIHARAAN INSTALASI,
PERLENGKAPAN DAN PERALATAN LISTRIK DI TRANSMISI LISTRIK.
54. Objek pemeliharaan Instalasi, Perlengkapan, dan Peralatan listrik di
Transmisi listrik adalah : Tranformator,Saluran Udara Tegangan
Tinggi, Gardu Induk, Pemisah (PMS), Pemutus Tenaga Listrik (PMT),
Penggerak Pemutus Tenaga, Kompesator, Peralatan SCADA dan
Telekomunikasi, PLC, Peralatan Kopling, Kapasitor Kopling, Wave
trap, Line Matching Unit, Peralatan Pengaman, Sistem Pentanahan
Titik Netral, Kabel Tenaga, Proteksi Sistem Penyaluran, Charger
(Rectifier),Automatic Voltaga Regulator (AVR), Rangkaian voltage
Dropper, Rangkaian Proteksi Tegangan Surja Hubung, Baterai (DC
Power).
Pernyataan tersebut diatas :
a. Semuanya benar
b. Semuanya salah
c. Sebagian benar
d. Perlu dikaji ulang

II(MI).11. PERSYARATAN K3 PEMELIHARAAN INSTALASI,


PERLENGKAPAN DAN PERALATAN LISTRIK DI DISTRIBUSI LISTRIK.
55. Objek Pemeliharaan di Distribusi adalah :
a. Gardu Distribusi, Trafo Distribusi, Jaringan Distribusi, Alat Pembatas dan
Pengukur, Jaringan Distribusi Tegangan Menengah, Jaringan Distribusi
Tegangan Rendah, Saklar dan Pengaman Pada Jaringan Distribusi.
b. Gardu Distribusi, Air Conditioning Unit, Condenser, Evaporator, Metering
Device, Cooling Tower, Uninterruptible Power Supply, Jaringan Distribusi
Tegangan Rendah, Saklar dan Pengaman Pada Jaringan Distribusi.
c. Gardu Distribusi, Trafo Distribusi, Jaringan Tegangan rendah, Alat
Pembatas dan Pengukur, Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM),
Saluran Kabel Tegangan Rendah (SUTR),, Jaringan Distribusi Tegangan
Rendah, Saklar.
d. Trafo Arus, Jaringan berikat, Alat Pembatas dan Pengukur, Jaringan
Distribusi Tegangan Menengah, Jaringan Distribusi Tegangan Rendah,
Saklar dan Proteksi pada Jaringan tegangan rendah.

56. Macam-macam Gardu Distribusi, yaitu :


a. Gardu Distribusi, Gardu Perumahan, Gardu Industri, Gardu Konsumen
akhir.
b. Gardu Cantol, Gardu Portal, Gardu Kios, Gardu Beton
c. Gardu Permanen, Gardu Sementara, Gardu Industri, Gardu Konsumen
akhir.
d. Gardu Tarik, Gardu Dorong, Gardu Kios, Gardu Beton

18
57. Sasaran Pemeliharaan Peralatan Gardu Distribusi adalah :
a. Instalasi tegangan tinggi (TT), Instalasi tegangan menengah closed type,
Transformator, Rak Tegangan Rendah, Pelindung Tegangan lebih, Sipil
Gardu, dan lain-lain
b. Instalasi tegangan menengah (TM), Instalasi tegangan menengah closed
type, Transformator, Rak Tegangan Rendah, Pelindung Tegangan lebih,
Sipil Gardu, dan lain-lain
c. Instalasi tegangan ektra rendah (TER), Instalasi tegangan menengah
closed type, Transformator, Rak Tegangan Rendah, Pelindung Tegangan
lebih, Sipil Gardu, dan lain-lain
d. Instalasi tidak ada tegangan (TAT), Instalasi tegangan menengah closed
type, Transformator, Rak Tegangan Rendah, Pelindung Tegangan lebih,
Sipil Gardu, dan lain-lain

58. Salah satu teknologi untuk mengetahui kondisi isolasi pada Sistem
Distribusi adalah “Hi Pot Test”.
a. Teknologi tersebut merupakan Pengujian Tahanan isolasi yang merupakan
diagnosa yang meliputi pengukuran arus bocor ketika potensial tinggi
(diatas normal diterapkan).
b. Teknologi tersebut merupakan Pengujian Tahanan isolasi yang merupakan
diagnosa yang meliputi pengukuran arus bocor ketika potensial tinggi
(diatas normal diterapkan).
c. Teknologi tersebut merupakan Pengujian berkelanjutan yang merupakan
diagnosa yang meliputi pengukuran arus bocor ketika potensial tinggi
(diatas normal diterapkan).
d. Teknologi tersebut merupakan Pengujian Lulus/gagal yang merupakan
diagnosa yang meliputi pengukuran arus bocor ketika potensial tinggi
(diatas normal diterapkan).

59. Teknologi untuk mengetahui kondisi isolasi pada Sistem Distribusi


adalah Teknologi “Tangen Delta Test”. Jika hasilnya = 0,552%,
artinya :
a. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya sangat bagus
b. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya bagus
c. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya rusak
d. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya sangat rusak

60. Jika adalahTeknologi “Tangen Delta Test”, hasilnya = 0,107%,


artinya :
a. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya sangat bagus
b. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya bagus
c. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya rusak
d. Menurut Standar ANSI C 57.12.90, isolasinya sangat rusak

19
II(MI).12. PERSYARATAN K3 PEMELIHARAAN INSTALASI,
PERLENGKAPAN DAN PERALATAN LISTRIK DI PEMANFAATAN LISTRIK.
61. Pada suatu saat terjadi air menggenang dihalaman industri. Bagian
Mechanical telah menentukan akan dipasang pompa 5 HP.
Bagian Electrical harus memasang motor listrik untuk memutar
pompa tsb. Tersedia digudang Motor listrik AC,3 fasa, 380 Volt, 9
Amper, Effisiensi = 85%.
a. Motor tersebut tidak dipilih karena setelah dihitung, motor tersebut tidak
bisa memutar pompa 5HP
b. Motor tersebut dipilih karena setelah dihitung motor tersebut bisa memutar
pompa 5HP
c. Pompa dibiarkan tapa motor listrik sehingga air makin menggenang.
d. Pompa diperbaiki dulu karena ada kerusakan.

62. Sesuai PUIL 2011 ketentuan 510.5.3.1 halaman 400 dari 639 dan
Tabel K.52.3.4 pada PUIL 2011 Amademen 1 tahun 2013, halaman
121 dari 154, Kabel NYM yang akan digunakan pada motor tersebut
diatas adalah (supaya lebih aman, ukuran kawat dinaikkan satu
step):
a. Berukuran 6 mm2
b. b.Berukuran 4 mm2
c. Berukuran 2,5 mm2
d. Berukuran 1,5 mm2

63. Sesuai dengan Tabel K.52.3.4 pada PUIL 2011 Amademen 1 tahun
2013, halaman 121 dari 154, Ukuran Circuit Breaker yang akan
dipasang adalah :
a. 10 A
b. 20 A
c. 25 A
d. 35 A

64. Agar mata kita tetap sehat maka Tingkat pencahayaan (lux) untuk
Ruang kerja di Perkantoran adalah :
a. 150 lux
b. 250 lux
c. 300 lux
d. 350 lux

65. Objek Pemeliharaan di Pemanfaatan adalah :


a. Instalasi Listrik, Peralatan Listrik Rumah Tangga, Sistem Pengendalian,
Mesin Listrik, Programmable Logic Controller (PLC).
b. Instalasi Listrik, Peralatan Listrik Rumah Tangga, Sistem Pengendalian,
Mesin Listrik, Power Carrier Line (PLC).

20
c. Instalasi Listrik, Peralatan Listrik Rumah Tangga, Sistem Pengendalian,
Mesin Listrik, Professional Logic Controller (PLC).
d. Instalasi Listrik, Peralatan Listrik Rumah Tangga, Sistem Pengendalian,
Mesin Listrik, Proporsional Logic Controller (PLC).

66. Instalasi listrik meliputi :


a. Jaringan listrik, Pencahayaan, Penyambung Pada Instalasi Listrik, Sistem
Pentanahan.
b. Jaringan listrik, Pencahayaan, Pipa Pada Instalasi Listrik, Sistem
Pentanahan.
c. Jaringan listrik, Pencahayaan, Pengukur Pada Instalasi Listrik, Sistem
Pentanahan.
d. Jaringan listrik, Pencahayaan, Pendeteksi Pada Instalasi Listrik, Sistem
Pentanahan.

67. Jaringan listrik yang terdiri dari :


a. Alat Pengukur dan Pembatas, Panel Hubung Bagi (PHB), Penghantar.
b. Alat Pengukur dan Penahana, Panel Hubung Bagi (PHB), Penghantar.
c. Alat Pengukur dan Pendeteksi, Panel Hubung Bagi (PHB), Penghantar.
d. Alat Pengukur dan Pelindung, Panel Hubung Bagi (PHB), Penghantar.

68. Pencahayaan yang terdiri dari :


a. Lampu Ruang, Neon Sign/Lampu Tabung, Lampu Merkuri, Lampu Sodium.
b. Lampu Meja, Neon Sign/Lampu Tabung, Lampu Merkuri, Lampu Sodium.
c. Lampu Panggung, Neon Sign/Lampu Tabung, Lampu Merkuri, Lampu
Sodium.
d. Lampu Pijar, Neon Sign/Lampu Tabung, Lampu Merkuri, Lampu Sodium.

69. Pipa Pada Instalasi Listrik yang terdiri dari :


a. Pipa Universal, Pipa Paralon / PVC, Pipa Fleksibel, Tule / Selubung Pipa,
Klem / Sangkang, Sambungan Pipa /Sock, Sambungan Siku, Kotak Khusus.
b. Pipa Union, Pipa Besi, Pipa Fleksibel, Tule / Selubung Pipa, Klem /
Sangkang, Sambungan Pipa /Sock, Sambungan Siku, Kotak Spesifik.
c. Pipa Union, Pipa Paralon / PVC, Pipa Fleksibel, Tule / Selubung Pipa, Klem /
Sangkang, Sambungan Pipa /Sock, Sambungan Siku, Kotak Sambung.
d. Pipa Galvanized, Pipa Besi, Pipa Fleksibel, Tule / Selubung Pipa, Klem /
Sangkang, Sambungan Pipa /Sock, Sambungan Siku, Kotak Terhubung.

70. Sistem Pengendalian Motor terdiri dari :


a. Kontaktor Magnit, Kontak Utama dan Kontak Bantu, Kontaktor Magnit
dengan Timer, Rele Pengaman Arus Lebih/Thermal Overload Relay, Sistem
Pengendali Telemagnetik.
b. Kontaktor Magnit, Kontak Utama dan Kontak Bantu, Kontaktor Magnit
dengan Timer, Rele Pengaman Arus Lebih/Thermal Overload Relay, Sistem
Pengendali Elektromagnetik.

21
c. Kontaktor Magnit, Kontak Utama dan Kontak Bantu, Kontaktor Magnit
dengan Timer, Rele Pengaman Arus Lebih/Thermal Overload Relay, Sistem
Pengendali berbasis Induksi.
d. Kontaktor Magnit, Kontak Utama dan Kontak Bantu, Kontaktor Magnit
dengan Timer, Rele Pengaman Arus Lebih/Thermal Overload Relay, Sistem
Pengendali berbasis Thermal.

71. Yang dimaksudkan sebagai Mesin Listrik dalam Pemanfaatan adalah :


a. Transformator Satu Fasa, Transformator Tiga Fasa, Transformator Khusus
(Autotransformator, Transformator Pengukuran), Generator Arus Searah,
Motor Arus Searah, Motor Induksi Tiga Fasa, Generator Sinkron, Motor
Sinkron, Motor Satu Fasa, Generator Set.
b. Transformator Arus, Transformator Potensial, Transformator Khusus
(Autotransformator, Transformator Pengukuran), Generator Arus Searah,
Motor Arus Searah, Motor Induksi Tiga Fasa, Generator Sinkron, Motor
Sinkron, Motor Satu Fasa, Generator PLTD.
c. Transformator Frekwensi tetap, Transformator Tiga Fasa, Transformator
Khusus (Autotransformator, Transformator Pengukuran), Generator Arus
Searah, Motor Arus Searah, Motor Induksi Tiga Fasa, Generator Sinkron,
Motor Sinkron, Motor Satu Fasa, Generator PLTU.
d. Transformator Auto, Transformator Tiga Fasa, Transformator Khusus
(Autotransformator, Transformator Pengukuran), Generator Arus Searah,
Motor Arus Searah, Motor Induksi Tiga Fasa, Generator Sinkron, Motor
Sinkron, Motor Satu Fasa, Generator PLTG.

72. Insulation (isolasi) sangat berkaitan dengan terjadinya Short Circuit


yang menyebabkan Shock, Arc & Blast. Teknologi kesatu (paling
awal) adalah :
a. Dengan menggunakan Insulation Resistance Tester (Meger), yang
dipergunakan untuk Tegangan Rendah s/d Tegangan Menengah
b. Dengan menggunakan Hi-pot Tester. yang dipergunakan untuk Tegangan
Rendah s/d Tegangan Menengah
c. Dengan menggunakan Tangen DeltaTester, yang dipergunakan untuk
Tegangan Rendah s/d Tegangan Menengah
d. Dengan menggunakan Partial Discharge Tester, yang dipergunakan untuk
Tegangan Rendah s/d Tegangan Menengah

73. Insulation Resistance Test merupakan “Go or No Go Test” (uji


keputusan). Jika tegangan operasi kabel berisolasi 380 Volt , maka
Insulation Resistance minimum adalah :
a. Sama dengan 1380 Mega Ohm.
b. Sama dengan 138 Mega Ohm.
c. Sama dengan 13,8 Mega Ohm.
d. Sama dengan 1,38 Mega Ohm.

22
II(MI).13. PERSYARATAN K3 SISTEM PENYALUR PETIR
74. Proteksi terhadap bahaya akibat petir dilakukan :
a. Dengan Kawat penyalur petir
b. Dengan Arester
c. Dengan Kawat penyalur petir dan Arester
d. Tanpa Kawat penyalur petir dan tanpa Arester

75. Jika ada badai petir diarea terbuka, maka yang paling aman adalah
berlindung :
a. Dibawah pohon yang tinggi dengan banyak ranting.
b. Dibawah pohon yang kokoh dengan banyak cabang.
c. Dibawah gubug yang normal dengan lantai tanah.
d. Didalam mobil dengan jendela pintu tertutup.

II(MI).14. PERSYARATAN K3 LISTRIK RUANG KHUSUS


76. Yang dimaksud dengan Ruang khusus dalam PUIL 2011 halaman 548
adalah :
a. Ruang dengan sifat dan keadaan tertentu seperti ruang rendah, ruang
tinggi, ruang dengan bahaya bencana alam dan lingkungan, atau ruang
yang memerlukan regulasi lebih khusus untuk penanganannya.
b. Ruang dengan sifat dan keadaan tertentu seperti ruang rapat, ruang
pekerja, ruang dengan bahaya pencurian dan perampokan, atau ruang
yang memerlukan pengaturan lebih khusus untuk pelaporannya.
c. Ruang dengan sifat dan keadaan tertentu seperti ruang operasional, ruang
kedap suara, ruang dengan bahaya kebisingan dan pencemaran, atau
ruang yang memerlukan regulasi lebih khusus untuk mitigasinya.
d. Ruang dengan sifat dan keadaan tertentu seperti ruang lembab, ruang
berdebu, ruang dengan bahaya kebakaran dan ledakan, atau ruang yang
memerlukan pengaturan lebih khusus untuk instalasinya.

77. Menurut PUIl 2011 halaman 548, yang dimaksud dengan Instalasi
khusus adalah :
a. Instalasi penerangan dengan karakteristik umum sehingga
penyelenggaraannya tidak memerlukan ketentuan tersendiri, misalnya
instalasi gedung, instalasi lampu ruangan besar dan sedang, dan lain-lain.
b. Instalasi listrik dengan karakteristik tertentu sehingga penyelenggaraannya
memerlukan ketentuan tersendiri, misalnya instalasi derek, instalasi lampu
pencahayaan tanda dan bentuk, dan lain-lain.
c. Instalasi listrik dengan ukuran kawat tertentu sehingga
penyelenggaraannya memerlukan ijin yang berwajib, misalnya instalasi
barak militer, instalasi lampu pencahayaan jalan raya, dan lain-lain.

23
d. Instalasi penerangan dengan karakteristik tertentu sehingga
penyelenggaraannya memerlukan perencanaan rinci dan terpadu, misalnya
instalasi pelabuhan, instalasi bandar udara dan perlengkapannya, dan lain-
lain.

78. Sistem kabel untuk Instalasi khusus :


a. Kabel yang berselubung logam, termoplastik atau elastomerik, termasuk
kabel berinsulasi mineral dapat digunakan untuk perkawatan yang
permanen.
b. Kabel yang berselubung satu, dua atau tiga, termasuk kabel berinsulasi
empat dapat digunakan untuk perkawatan yang permanen.
c. Kabel yang berselubung sementara, semi permanen atau permanen,
termasuk kabel tak berinsulasi dapat digunakan untuk perkawatan yang
permanen.
d. Kabel yang tak berselubung logam, termoplastik atau elastomerik,
termasuk kabel tak berinsulasi mineral dapat digunakan untuk perkawatan
yang permanen.

79. Pada Instalasi khusus :


a. Setelah semua kabel terpasang didalam konduit, fitting pengedap harus
diisi dengan kompon yang tidak dapat mengkerut pada saat mengering dan
kedap air serta tidak dapat rusak disebabkan oleh bahan kimia yang
terdapat dalam ruang bahaya.
b. Setelah semua kabel terlepas konduit, fitting pengedap harus diisi dengan
kompon yang tidak dapat mengkerut pada saat mengering dan kedap air
serta tidak dapat rusak disebabkan oleh bahan kimia yang terdapat dalam
ruang bahaya.
c. Setelah semua kabel terpasang tanpa konduit, fitting pengedap harus diisi
dengan kompon yang tidak dapat mengkerut pada saat mengering dan
kedap air serta tidak dapat rusak disebabkan oleh bahan kimia yang
terdapat dalam ruang tertentu.
d. Setelah tidak semua kabel terlepas didalam konduit, fitting pengedap harus
diisi dengan kompon yang tidak dapat mengkerut pada saat mengering dan
kedap air serta tidak dapat rusak disebabkan oleh bahan kimia yang
terdapat dalam ruang tertentu.

II(MI).15. PERSYARATAN K3 PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN INSTALASI,


PERLENGKAPAN, DAN PERALATAN LISTRIK PERTAMA DAN/ATAU
PERUBAHAN.
80. Item-item Pengujian pertama/perubahan peralatan dan
perlengkapan listrik, meliputi:
a. Transformator (Kumparan TT/TR, Inti, Pendingin).
b. Transformator (Kumparan TT/TR, Inti, Pendingin), Motor-motor Listrik.

24
c. Transformator (Kumparan TT/TR, Inti, Pendingin), Motor-motor Listrik,
Switchgear/PHB, Instrument Transformer.
d. Transformator (Kumparan TT/TR, Inti, Pendingin), Motor-motor Listrik,
Switchgear/PHB, Instrument Transformer, Uji fungsi Peralatan proteksi
(Pada Generator, Pada Trafo, Pada Instalasi Tenaga/Motor,dll).

II(MI).16. PERSYARATAN K3 PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN INSTALASI,


PERLENGKAPAN, DAN PERALATAN LISTRIK BERKALA.
81. Pemeriksaan dan Pengujian listrik secara berkala :
a. Diatur dalam PUIL 2011 halaman 448 dari 639 yaitu Bagian 6 (Verifikasi)
yang ruang lingkupnya adalah memberikan verifikasi awal dan periodik dari
instalasi listrik.
b. Tidak diatur dalam PUIL 2011 Bagian 6 (Verifikasi).
c. Diatur dalam PUIL 2011 Bagian 8 (Ketentuan untuk berbagai ruang dan
instalasi khusus).
d. Diatur dalam PUIL 2011 Bagian 9 (Pengusahaan instalasi listrik).

II(MI).17.PRAKTEK
Dengan menggunakan “Check list Pencegahan Bahaya Listrik”,
praktekkan dilapangan untuk melakukan AUDIT terhadap Sistem Tenaga
Listrik yang telah ada (existing), dan INVESTIGASI terhadap kecelakaan
kerja listrik.

II(MI).18.SEMINAR
Seminar dari hal-hal yang telah dipraktekkan.

III(MP).1. PELAKSANAAN K3 LISTRIK DALAM PENERAPAN SISTEM


MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (PERATURAN
MENTERI NO.50 TAHUN 2012)
82. Kegiatan K3 Listrik dalam Penerapan SMK3 adalah :
a. 2 (dua prinsip) yaitu Penetapan kebijakan K3; perencanaan K3.
b. 3 (tiga) prinsip yaitu :Penetapan kebijakan K3; perencanaan K3;
pelaksanaan rencana K3.
c. 4 (Empat) prinsip yaitu :Penetapan kebijakan K3; perencanaan K3;
pelaksanaan rencana K3; pemantauan dan evaluasi kinerja K3.
d. 5 (Lima) prinsip yaitu :Penetapan kebijakan K3; perencanaan K3;
pelaksanaan rencana K3; pemantauan dan evaluasi kinerja K3; dan
peninjauan dan peningkatan kinerja SMK3.

25
III(MP).2. ANALISIS DAN PELAPORAN KECELAKAAN KERJA LISTRIK
83. Langkah Analisis dan Pelaporan kecelakaan kerja listrik sekurang-
kurangnya meliputi :
a. Mengumpulkan data, Membandingkan data, Mencari hubungan / relevansi ,
Mencari kesimpulan, Menetapkan pengendalian
b. Mengumpulkan data.
c. Mengumpulkan data, Membandingkan data.
d. Mengumpulkan data, Membandingkan data, Mencari hubungan / relevansi ,
Mencari kesimpulan.

III(MP).3. KESEHATAN KERJA LISTRIK


84. Kesehatan Kerja menurut Joint ILO/WHO Committee tahun 1995
adalah :
a. Promosi dan pemeliharaan kesehatan.
b. Promosi dan pemeliharaan kesehatan, pencegahan gangguan kesehatan.
c. Promosi dan pemeliharaan kesehatan, pencegahan gangguan kesehatan,
perlindungan pekerja.
d. Promosi dan pemeliharaan kesehatan, pencegahan gangguan kesehatan,
perlindungan pekerja, penempatan dan pemeliharaan pekerja.

==oo00oo==

Selamat bekerja.
Moto : Kerja keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

26