PERUNDANG UNDANGAN
& DASAR
K3 LISTRIK
Yakin Ermanto.ST.CTOT
Modul Pelatihan K3 Listrik
PERATURAN DAN STANDAR TEKNIS
K3 LISTRIK
PERMENAKER 12/2015, K3 LISTRIK
PERMENAKER 33/2015, PERUBAHAN
UU PERMENAKER 12/ 2015
NO. 1 TAHUN 1970
TENTANG PERMENAKER 31/2015
KESELAMATAN
KERJA PERMENAKER 6/2017,
K3 ELEVATOR & ESCALATOR
DENGAN TERBITNYA PERMEN NO.12 TAHUN 2015
MAKA KEPMEN NO.75 TAHUN 2002 2
PERATURAN TENAGA TEKNIS
K3 LISTRIK
KEP.DIRJEN NO.48/2015 TENTANG
UU PEMBINAAN TEKNISI K3 LISTRIK
NO. 1 TAHUN 1970
TENTANG KEP.DIRJEN NO.47/2015 TENTANG
KESELAMATAN PEMBINAAN CALON AHLI K3 LISTRIK
KERJA PERMENAKER 6/2017,
TEKNISI K3 ELEVATOR & ESCALATOR
OPERATOR K3 ELEVATOR & ESCALATOR
AHLI K3 EL. ES
3
Peraturan di bidang K3 Listrik
yang terbaru
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 1
Pembangkitan Listrik adalah kegiatan untuk memproduksi dan
membangkitkan tenaga listrik dari berbagai sumber tenaga
Contoh : PLTA, PLTU, PLTS, PLTD dsb
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 1
Transmisi Listrik adalah kegiatan penyaluran tenaga listrik dari tempat
pembangkit energi listrik sampai ke saluran distribusi listrik
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 1
Distribusi Listrik adalah kegiatan menyalurkan tenaga listrik dari
sumber daya listrik besar sampai ke pemanfaat listrik
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 1
Pemanfaatan Listrik adalah kegiatan mengubah energy listrik menjadi
energi bentuk lain
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 1
Instalasi Listrik adalah jaringan perlengkapan listrik yang
membangkitkan, memakai, mengubah, mengatur, mengalihkan,
mengumpulkan atau membangkitkan tenaga listrik.
Perlengkapan Listrik adalah setiap benda yang digunakan untuk
keperluan pembangkitan, konversi, transmisi, distribusi atau
pemanfaatan energy listrik
Peralatan Listrik adalah barang pemanfaatan listrik yang merupakan
unit lengkap dan dapat mengubah energy listrik menjadi energy
bentuk lain
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 2
Pengusaha dan / atau Pengurus wajib melaksanakan K3 listrik di
tempat kerja.
Pasal 3
Pelaksanaan K3 listrik bertujuan:
a. melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dan orang
lain yang berada di dalam lingkungan tempat kerja dari potensi
bahaya listrik;
b. menciptakan instalasi listrik yang aman, handal dan memberikan
keselamatan bangunan beserta isinya; dan
c. menciptakan tempat kerja yang selamat dan sehat untuk
mendorong produktivitas.
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 4
(1) Pelaksanaan K3 listrik merupakan pelaksanaan persyaratan K3
yang meliputi:
a. perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan,
pemeliharaan;
b. pemeriksaan dan pengujian.
(2) Persyaratan K3 dilaksanakan pada kegiatan:
a. pembangkitan listrik;
b. transmisi listrik;
c. distribusi listrik; dan
d. pemanfaatan listrik;
yang beroperasi dengan tegangan lebih dari 50 volt arus bolak
balik atau 120 volt arus searah.
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 5
(1) Kegiatan perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, dan
pemeliharaan yang dilaksanakan pada kegiatan pembangkitan,
transmisi, distribusi dan pemanfaatan listrik wajib mengacu kepada
standar bidang kelistrikan dan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Kegiatan perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, dan
pemeliharaan juga dilakukan terhadap instalasi, perlengkapan, dan
peralatan listrik.
(3) Standar bidang kelistrikan :
a. SNI
b. Standar International
c. Standar Nasional Negara lain yang ditentukan oleh Pengawas
Spesialis K3 Listrik
Undang undang No 1 tahun 1970
Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan RI
No. 12 Tahun 2015
Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan RI
No. 33 Tahun 2015
STANDAR K3 LISTRIK DI INDONESIA
!"#$%&#$' !"#$%&#$' !"#$"%&'"#( !"#+"'$,"#
("3+"'$,"#
()&*&* ()&*&* )*+,-./ -./0122
45/0111
STANDAR TERBUKA
Standar
SNI – IEC – REGULASI NEGARA
K3 Listrik
LAIN
KET : AVE 38 – PUIL 64, PUIL 77 – PUIL
87, PUIL 2000 & PUIL 2011
diberlakukan oleh Kemenaker
sebagai STANDAR WAJIB
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 6
(3). Perencanaan, pemasangan, perubahan, dan pemeliharaan
dilakukan oleh:
a. Ahli K3 bidang listrik pada perusahaan; atau
b. Ahli k3 bidang listrik pada PJK3
(4) Dalam hal kegiatan yang dilaksanakan berupa pemasangan
dan pemeliharaan pada pembangkitan, transmisi, distribusi dan
pemanfaatan listrik, dapat dilakukan oleh:
a. Teknisi K3 Listrik pada perusahaan; atau
b. Teknisi K3 Listrik pada PJK3
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 7
Untuk perusahaan yang memiliki pembangkitan listrik > 200 kVA
wajib mempunyai Ahli K3 bidang Listrik.
Pasal 8
Kertentuan dan tata cara penunjukkan PJK3, Ahli K3 bidang Listrik,
Teknisi K3 Listrik sebagaimana yang dimaksud pasal 6 dan pasal 7
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
undangan. (Kepdirjen No. 47 / 2015 & Kepdirjen No. 48 / 2015).
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 9
Pemeriksaan & Pengujian
1) Pemeriksaan merupakan kegiatan penilaian dan pengukuran terhadap
instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik untuk memastikan
terpenuhinya standar bidang kelistrikan dan ketentuan peraturan
perundang – undangan.
2) Pengujian merupakan penilaian, perhitungan, pengetesan dan
pengukuran terhadap instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik
untuk memastikan terpenuhinya standar bidang kelistrikan dan
ketentuan peraturan perundang – undangan.
3) Pemeriksaan & Pengujian wajib dilakukan pada perencanaan,
pemasangan, penggunaan, perubahan dan pemeliharaan untuk
kegiatan pembangkitan, transmisi, distribusi dan pemanfaatan listrik
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 10
1) Pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh :
a. Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik
b. Ahli K3 Listrik pada Perusahaan dan/atau
c. Ahli K3 Listrik pada PJK3
2) Pemeriksaan dan pengujian dilakukan :
a. Sebelum penyerahan kepada pemilik/ pengguna;
b. Setelah ada perubahan/ perbaikan; dan
c. Secara berkala
3) Hasil pemeriksaan dan pengujian digunakan sebagai bahan
pertimbangan pembinaan dan/ atau tindakan hukum oleh Pengawas
Ketenagakerjaan
Pasal 10 tersebut di atas adalah isi dari perubahan Permen No. 12 tahun
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 11
1) Pemeriksaan secara berkala dilakukan paling sedikit 1 (satu) tahun
sekali
2) Pengujian secara berkala dilakukan paling sedikit 5 (lima) tahun sekali
3) Hasil pemeriksaan dan pengujian harus dilaporkan kepada Kepala
Dinas Propinsi
Pasal 12
Perusahaan yang menggunakan perlengkapan dan peralatan listrik wajib
menggunakan perlengkapan dan peralatan listrik yang telah mempunyai
sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga atau instansi yang berwenang
Permenaker RI No. 12 Tahun 2015
Tentang
K3 Listrik di Tempat Kerja
Pasal 13
Pengawasan pelaksanaan K3 listrik di tempat kerja dilaksanakan
oleh Pengawas Ketenagakerjaan
Pasal 14
SANKSI
Pengusaha dan / atau Pengurus yang tidak mematuhi Peraturan
Menteri ini dikenakan sanksi sesuai dengan UU No.1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja dan UU No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan
Pasal 15
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, KepMenakertrans No.
75 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan SNI 04-0225-2000 mengenai
PUIL 2000 di Tempat Kerja, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Arus / Tegangan listrik
DANGER Tidak tampak
Tidak berbau
Tidak berbunyi
Dapat dirasakan
Dapat menyebabkan
Kematian
6/17/22 22
PENERAPAN
1. Mengidentifikasi NSPK
bahaya
• Memeriksa,
• Meneliti,
Pengawas Instalasi & • Menghitung,
/Ahli K3 Peralatan • Mengukur SAFE
listrik • Menguji
• Menganalisis,
DANGER
2. Menilai Risiko 3. Kendalikan
!" #$%&'()% *$+'%,'-'% )%./'-'.) -)./0)* .$.1')
/1&1'% 2$%331%''%%4'
5"666#$%7$3'+ /)(81-%4' 8'+'4' '*)8'/ -)./0)*
¥ 8'+'4' .$%/1+'% -'%3.1%3
¥ 8'+'4' .$%/1+'% /),'* -'%3.1%3
¥ 8'+'4' *$8'*'0'%
RUANG LINGKUP
1. Perencanaan, pembuatan, pemasangan
atau perakitan, penggunaan atau
pengoperasian, dan pemeliharaan
instalasi listrik.
2. Personil yang bertanggung jawab dalam
K3 Listrik.
O Potensi Bahaya Listrik
Potensi Bahaya Listrik bagi manusia, yaitu :
- Bahaya Kejut Listrik karena Sentuhan Tegangan
- Bahaya Kebakaran
- Bahaya Panas yang dapat merusak Isolasi
- Bahaya Ledakan atau percikan metal panas
6/17/22 26
Identifikasi Bahaya
O Sebelum memulai suatu pekerjaan,harus dilakukan
Identifikasi Bahaya guna mengetahui potensi
bahaya dalam setiap pekerjaan.
O Identifikasi Bahaya dilakukan bersama pengawas
pekerjaan dan Safety Departement.
27
Identifikasi Bahaya
O Identifikasi Bahaya menggunakan
teknik yang sudah baku seperti Check
List, JSA, JSO,What If, Hazops, dsb.
O Semua hasil identifikasi Bahaya harus
didokumentasikan dengan baik dan
dijadikan sebagai pedoman dalam
melakukan setiap kegiatan.
28
Kerusakan
Peralatan Korban
Mesin, jiwa
Instalasi Cacat,
cidera,
Bahan Accident Sakit
Cara kerja,
Proses Kerugian
Citra
Lingkungan
29
PEMERIKSAAN DOKUMEN
1. Dokumen Gambar Lengkap Instalasi Listrik
Setempat
2. Dokumen hasil riksa uji instalasi listrik
3. SOP Dari suatu alat/sistem listrik yang akan
dioperasikan
4. Manual Book
5. Sertifikat uji kelayakan
6/17/22 30
PEMERIKSAAN VISUAL
1. Pemeriksaan cara pemasangan / visual
2. pengecekan material (Kabel Suplai, PHB,
Hantaran Utama, Kotak Kontak, Saklar,Fitting,
Grounding).
3. Pengecekan kontinuitas, terminasi dan
sambungan.
4. Pengecekan polaritas, warna, labeling (penandaan)
31
!" 9$%31*10'%6/'+'%'%6).:-'.);
#" 9$%31*10'%6/$3'%3'%6*$0&'6,'%6'01.64'%36
($%3'-)0"
$" 9$%31*10'%60$.)./'%.)62$(81()'%"
%" <1%3.)620:/$*.)6.4./$(6)%./'-'.)6-)./0)*"
6/17/22 32
INSTRUMEN UJI
O INSULATION TESTER
O EARTH TESTER
O AVO METER
O TANG AMPER METER
O ALAT UJI GPAS 33
PENGAMATAN VISUAL AREA PHB
34
PENGAMATAN VISUAL AREA PHB
Temuan Hasil Pemeriksaan
Area panel dilindungi
dengan pagar dan pintu
pagar terkunci sehingga
aman dari sentuhan orang
yang tidak berwenang,
bebas dari benda-benda
yang menghalangi juga
kemungkinan benturan
Pintu – pintu panel tertutup
dan terkunci, Ada lampu
tanda,Ada alat ukur
35
TEGANGAN SENTUH
Panel aman dari
bahaya tegangan
sentuh tidak
langsung
Terlihat dari
pengukuran Body
panel ke ground
6/17/22 36
Nilai Tahanan Isolasi yang diukur (MΩ)
Penghantar yang Tegangan Standar
diukur 1 2 3 Rata-rata Kerja (volt) minimum (MΩ)
R-N 0,05 0,05 0,05 0,05 220 0,22
S-N 0,8 1 1 0,93 220 0,22
T-N 0,3 0,35 0,45 0,36 220 0,22
R-S 1,25 1,45 1,5 1,4 380 0,38
S-T 1,6 1,6 1,8 1,67 380 0,38
R-T 1 1,4 1,4 1,26 380 0,38
R-PE 0,05 0,1 0,1 0,08 220 0,22
S-PE 0,8 1 1,2 1 220 0,22
T-PE 0,8 1 1 0,93 220 0,22
6/17/22 37
Dari data pengukuran diatas didapatkan bahwa nilai
tahanan isolasi pada penghantar R-N dan R-PE tidak
sesuai dengan standar yang terdapat pada PUIL 2000
3.20.3 yaitu dimana nilai tahanan isolasi adalah 1 MΩ/1KV
kemungkinan pada penghantar phasa R tahanan
isolasinya sudah berkurang sehingga menyebabkan nilai
tahanan isolasinya menjadi kecil.
6/17/22 38
Perlu penggantian penghantar phasa R
agar nilai tahanan isolasinya sesuai
dengan standar yang di isyaratkan oleh
PUIL 2000 3.20.3
6/17/22 39
N
ika sri wulandari, kemakertrans ri 40
Dampak Arus Listrik Pada Manusia
Tergantung pada :
besar arus yang mengalir ke tubuh.
bagian tubuh yang terkena.
lama/ durasi pekerja terkena arus
kejut.
6/17/22
EFEK SENGATAN LISTRIK
BESAR ARUS YANG AKIBAT YANG TIMBUL
MELEWATI TUBUH
1 mA, atau kurang TIDAK ADA AKIBAT, TIDAK TERASA
AMAN
1 – 8 mA SENGATAN TERASA TETAPI TIDAK SAKIT
DAN TIDAK MENGGANGGU KESADARAN
8 – 15 mA SENGATAN TERASA SAKIT, TETAPI MASIH BISA
MELEPASKAN DIRI, KESADARAN TIDAK HILANG
BERBAHAYA
15 – 20 mA SENGATAN SAKIT KESADARAN BISA HILANG DAN
TIDAK BISA MELEPASKAN DIRI
20 – 50 mA KESAKITAN, SUSAH BERNAFAS, TERJADI
KONSTRAKSI PADA OTOT & KESADARAN HILANG
100 – 200 mA KONDISI MEMATIKAN LANGSUNG DAN SUSAH
DITOLONG
200 mA atau lebih TERBAKAR DAN JANTUNG BERHENTI BERDETAK
TEGANGAN SENTUH ABB
YANG DIIJINKAN (IEC)
Tegangan Sentuh Waktu Maksimum Yang
(Volt) Diijinkan (Detik)
< 50 ~
50 5
75 1
90 0.5
110 0.2
150 0.1
220 0.05
280 0.03
Arus listrik pada tubuh dapat mengakibatkan :
menghentikan fungsi jantung dan
menghambat pernafasan.
Panas yang ditimbulkan oleh arus dapat
menyebabkan kulit atau tubuh terbakar,
khususnya pada titik dimana arus masuk
ke tubuh.
6/17/22
Arus listrik pada tubuh dapat
mengakibatkan :
Beberapa kasus dapat menimbulkan
pendarahan, atau kesulitan bernafas dan
gangguan saraf.
Gerakan spontan akibat terkena arus
listrik, dapat mengakibatkan cidera lain
seperti akibat jatuh atau
terkena/tersandung benda lain.
6/17/22
Proteksi dari Arus Kejut
Proteksi Sentuh langsung :
1. Mencegah mengalirnya arus melalui
tubuh
2. Membatasi arus yang dapat mengalir
melalui badan sampai nilai yang lebih
kecil dari arus kejut
6/17/22
menghentikan fungsi jantung dan menghambat pernafasan
6/17/22
Luka bakar akibat listrik
6/17/22
Kemungkinan jatuh dari ketinggian
6/17/22
6/17/22
Bahaya kejut listrik
disebabkan oleh :
! "#$%&'($ )($*+&$*
! "#$%&'($ ,-.(/ 0($*+&$*
Bahaya Sentuhan Langsung
!"#$%&'# ('#)*%#)
(.(0(' 1('(2( +#$%&'($ 3(.(
1(*-($ /4$.&/%-5 2($*6+#7(8(
$489(061#8%#*($*($
PROTEKSI BAHAYA
SENTUHAN LANGSUNG
METODA :
1 Isolasi bagian aktif
2 Penghalang atau Selungkup
33 Rintangan
4
4 Jarak aman atau diluar jangkauan
5 Isolasi lantai kerja.
ika Menggunakan APD/PPE
6 sri wulandari, kemakertrans ri 53
MENGISOLASI BAGIAN AKTIF
MENGISOLASI BAGIAN AKTIF
MENGISOLASI BAGIAN AKTIF
MENGISOLASI BAGIAN AKTIF
MENUTUP DENGAN
PENGHALANG/SELUNGKUP
MENUTUP DENGAN
PENGHALANG/SELUNGKUP
MENUTUP DENGAN
PENGHALANG/SELUNGKUP
MENUTUP DENGAN PENGHALANG/SELUNGKUP
MEMASANG RINTANGAN
MEMASANG RINTANGAN
MEMASANG RINTANGAN
Proteksi dengan rintangan
O Rintangan mencegah sentuh tidak sengaja ke
bagian aktif tetapi tidak mencegah sentuh
disengaja
O Rintangan mencegah mendekatnya badan
dengan tidak sengaja ke bagian aktif
O Rintangan dapat dilepas tanpa menggunakan
kunci atau pekakas, tetapi harus aman sehingga
tercegah lepasnya rintangan secara tidak sengaja
6/17/22
MEMBERI JARAK DI LUAR JANGKAUAN
PROTEKSI BAHAYA
“JARAK AMAN”
Jarak aman atau diluar jangkauan :
TEGANGAN
JARAK (cm)
(KV)
1 50
12 60
20 75
70 100
150 125
220 160
ika sri wulandari, kemakertrans ri 67
500 300
ISOLASI LANTAI KERJA
MENGGUNAKAN
ALAT PELINDUNG DIRI
O Safety shoes yang sesuai
standar
O sarung tangan
O hoods, sleeves, matting,
and blankets
O Topi / Hard hat (insulated
- nonconductive)
MENGGUNAKAN
ALAT PELINDUNG DIRI
MENGGUNAKAN
ALAT PELINDUNG DIRI
BAHAYA SENTUH
TIDAK LANGSUNG
=$%/1+'% /),'* -'%3.1%3
!"!#!$ %!$!&! '()*+$!) ,!"! %!-.!)
/0)"+/*.1 &!)-2'(3!4! )045!#2*."!/
%(4*(-!)-!)625()7!". %(4*(-!)-!) /!4()!
*(47!". /(-!-!#!) .'0#!'.
PROTEKSI BAHAYA
SENTUH TIDAK LANGSUNG
METODA :
1 Pemutusan supply secara otomatis
2 Memasang grounding (pembumian)
33 Mempergunakan perlengkapan kelas ii atau dengan
isolasi ekivalen
4
4 Proteksi dengan lokasi tidak konduktif
ika sri wulandari, kemakertrans ri 73
PROTEKSI BAHAYA
SENTUH TIDAK LANGSUNG
METODA :
5
Proteksi dengan ikatan penyama potensial lokal
bebas BUMI
6 Proteksi dengan separasi listrik.
Memisahkan sirkit perlengkapan dari jaringan
sumber dg menggunakan trafo pemisah atau motor
generator.
7 Mamasang tanda keselamatan
ika sri wulandari, kemakertrans ri 74
GROUNDING
• Grounding menyalurkan
arus bocor
• Saat ada tegangan petir
atau maka arus mengalir ke
tanah
75
MENGGUNAKAN PERLENGKAPAN
DENGAN ISOLASI GANDA
Menggunakan perlengkapan/alat listrik
yang memiliki isolasi ganda yaitu
perlengkapan/alat listrik dimana bagian-
bagian yang tersentuh dalam
pemakaiannya terbuat dari bahan isolasi,
pada alat kelas ini tidak diperlukan
grounding
76
PROTEKSI LOKASI TIDAK KONDUKTIF
Tangan dan kaki tidak dalam keadaan
basah saat bekerja dengan instalasi/
peralatan listrik
Lantai kerja listrik dalam keadaan kering
77
PROTEKSI LOKASI TIDAK KONDUKTIF
ika sri wulandari, kemakertrans ri 78
MAMASANG TANDA
KESELAMATAN
Listrik identik dengan kebakaran
1. Pembebanan lebih
2. Sambungan tidak sempurna
3. Perlengkapan tidak standar
4. Pembatas arus tidak sesuai
5. Kebocoran isolasi
6. Listrik statik
7. Sambaran petir 80
ika sri wulandari, kemakertrans ri
SEKIAN & TERIMAKASIH