Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

KLASIFIKASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


DENGAN PROSES FISIKA

Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas


Mata kuliah Limbah Industri
Dosen : Ir.Agus Subiyakto,MSc.

Oleh : DANU MAMLUKAT


NIM : 16510016

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK


INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA 2018

1
KLASIFIKASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

1. Klasifikasi Teknologi Pengolahan Limbah Cair

S
Pengolahan limbah cair dapat diklasifikasikan ke dalam tiga metode yaitu
pengolahan fisik, kimia dan biologi. Penerapan masing-masing metode tergantung pada
kualitas air
baku dan kondisi fasilitas yang tersedia. Dalam tabel berikut ditampilkan kontaminan yang
umum ditemukan dalam air limbah serta sistem pengolahan yang sesuai untuk
menghilangkannya.
Tabel 1.1. Sistem Pengolahan Untuk Menghilangkan Bahan Pencemar Dalam Air Limbah
KONTAMINAN SISTEM PENGOLAHAN KLASIFIKASI
Padatan tersuspensi Screening dan communition F
Sedimentasi F
Flotasi F
Filtrasi F
Koagulasi/sedimentasi K/F
Land treatment F
Biodegradable organics Lumpur aktif B
Trickling filters B
Rotating biological contactors B
Aerated lagoons (kolam aerasi) B
Saringan pasir F/B
Land treatment B/K/F
Pathogens Khlorinasi K
Ozonisasi K
Land treatment F

Suspended-growth nitrification
Nitrogen B
and denitrification
Fixed-film nitrification and
B
denitrification
Ammonia stripping K/F
Ion Exchange K
Breakpoint khlorinasi K
Land treatment B/K/F

2
Koagulasi garam logam /
Phospor K/F
sedimentasi
Koagulasi kapur/sedimentasi K/F
Biological / Chemical phosphorus
B/K
removal
Land treatment K/F

Refractory organics Adsorpsi karbon F


Tertiary ozonation K
Sistem land treatment F

Logam berat Pengendapan kimia K


Ion Exchange K
Land treatment F

Padatan inorganik terlarut Ion Exchange K


Reverse Osmosis F
Elektrodialisis K

Keterangan : B=Biologi,K=Kimia,F=Fisik

3
2. Pengendalian Limbah Cair Dengan Proses Fisika

- Screening
Pada umumnya setiap sistem pengolahan limbah cair mempunyai unit alat penyaring
awal/pendahuluan. Proses penyaringan awal ini disebut screening dan tujuannya adalah untuk
menyaring atau menghilangkan sampah/benda padat yang besar agar proses berikutnya dapat
lebih mudah lagi menanganinya. Dengan hilangnya sampah-sampah padat besar maka
transportasi limbah cair pasti tidak akan terganggu, misalnya bila proses transportasi
limbah cair diakomodasikan dalam sebuah saluran terbuka atau pun tertutup yang mengalir
secara gravitasi, maka tidak akan dijumpai penyumbatan di sepanjang jaringan saluran.
Disamping itu, bila limbah cair perlu dipindahkan dengan menggunakan pompa, maka
proses screening sungguh berfungsi menghilangkan bahan atau benda-benda yang dapat
membahayakan atau merusak pompa limbah cair tersebut. Jadi proses screening melindungi
pompa dan peralatan lainnya.

Perangkat pemroses penyaringan kasar yang biasa digunakan dikenal pula dengan sebutan
bar screen atau bar racks. Alat ini biasanya diletakkan pada intake bak penampung limbah
cair untuk mencegah masuknya material besar seperti kayu atau daun-daunan. Umumnya
jarak antara bar yang tersusun pada rack bervariasi antara 20 mm hingga 75 mm, bergantung
pada tingkat kapasitas dan performance unit pompa yang dipakai. Pada keadaan tertentu
biasa digunakan pula microstrainer dengan ukuran 15 hingga 64 micrometer dengan tujuan
untuk menyaring organisme plankton. Microstrainer biasa digunakan untuk limbah cair dari
reservoir pertama (awal). Microstrainer terdiri dari bingkai berbentuk silinder yang ditutup
dengan jala terbuat dari kawat tahan karat. Pada saat silinder berputar partikel tersuspensi
menempel pada bagian dalam dari permukaan silinder yang kemudian dibersihkan dengan
semburan jet air.

4
- Aerasi
Tujuan proses aerasi adalah mengontakkan semaksimal mungkin permukaan cairan
dengan udara/atmosfir. Agar transfer sesuatu zat/komponen dari satu medium ke medium
yang lain berlangsung lebih efisien, maka yang terpenting adalah terjadinya turbulensi antara
cairan dengan udara, sehingga tidak terjadi interface yang stagnan/diam antara cairan dan
udara yang dapat menyebabkan laju perpindahan terhenti. Untuk memperoleh keadaan
tersebut, terdapat beberapa prinsip dasar alat aerasi yaitu :
- Aerator air terjun,
- Sistem aerasi difusi udara,
- Aerator mekanik.

Sistem aerator air terjun yang umum digunakan adalah : Aerator Spray, Aerator
Cascade, Aerator Multiple-Tray. Pada aerator spray, air dipaksakan masuk melalui nozzle,
seperti pada air mancur. Pada aerator cascade air disebarkan dengan cara mengalirkan pada
lempengan tipis yang disusun seperti tangga atau sekat agar terjadi turbulensi untuk
mencampurkan udara yang terabsorpsi dalam cairan dan agar cairan terangkat ke permukaan
sehingga terjadi kontak dengan udara. Pada Aerator multiple-tray cairan dialirkan ke bagian
atas dari beberapa tahap tray yang berisi butiran medium seperti arang, batu atau butiran
keramik. Air teraerasi saat mengalir melalui medium yang ada pada tray, dan kemudian
cairan jatuh dari tray ke tray.

Pada sistem difusi udara, udara dimasukkan ke dalam cairan yang akan diaerasi dalam
bentuk gelembung-gelembung yang naik melalui cairan tersebut. Ukuran gelembung
bervariasi dari yang besar hingga yang halus, tergantung pada alat aerasi. Alat aerasi yang
umum adalah difuser porous, difuser non-porous dan difuser U-tube. Aerator mekanik
dihasilkan dengan cara memecah permukaan air limbah secara mekanik. Dengan timbulnya
interface cairan-udara yang besar, maka terjadi perpindahan oksigen dari atmosfir ke dalam
air.

5
Pada sistem ini digunakan turbin sistem hybrid yang melibatkan impeler dan sumber
udara. Udara yang keluar dari bagian bawah impeler, dipecah menjadi gelembung yang halus
dan merembes ke seluruh tangki akibat gerakan pompa pada impeler. Pada pengolahan air
limbah, proses aerasi diterapkan untuk menghilangkan senyawa organik dan non-organik
yang volatile, memberikan oksigen untuk proses biologi, dan untuk meningkatkan kandungan
oksigen pada air yang telah diolah.

- Mixing
Pencampuran diperlukan apabila ada suatu materi harus bercampur dengan materi lain
secara sempurna. Disamping itu proses pencampuran diperlukan apabila dalam suatu reaktor
harus dijaga konsentrasi atau temperatur yang merata. Proses mixing umumnya digunakan
pada pencampuran bahan koagulan dengan air dan pada penambahan khlor untuk
disinfeksi. Pada pengolahan air limbah, mixing diperlukan pada proses pengolahan biologi
yang memerlukan pencampuran yang terus menerus, sehingga proses biologi dapat terjadi
lebih efektif. Alat atau metode pencampuran dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :

- Turbin atau padle mixer


- Propeler mixer
- Pneumatic mixer
- Hydraulic mixing dan
- In-line hydraulic dan Static mixing.

- Flokulasi
Flokulasi adalah proses penggabungan partikel-partikel kecil menjadi partikel besar
dengan memanfaatkan tenaga hidrodinamik. Umumnya jenis alat flokulasi yang digunakan
adalah rotating paddles. Partikel-partikel secara bertahap akan bergabung melalui proses
flokulasi perikinetic yang terjadi akibat gerakan Brown, namun proses ini sangat lambat.
Proses tersebut dapat di percepat dengan memberikan kecepatan gradien yang menghasilkan
flokulasi orthokinetic. Dengan kata lain flokulasi Orthokinetic dapat meningkat dengan cara
memberikan kecepatan gradien pada cairan. Partikel-partikel yang bergerak dengan
kecepatan yang berbeda lebih cenderung untuk bergabung menjadi partikel yang lebih besar.
Berdasarkan ini proses flokulasi dipengaruhi oleh kecepatan gradien rata-rata. Pada
6
prakteknya kecepatan gradien rata-rata adalah fungsi dari input tenaga pencampuran
(mixing power).

Variabel yang mempengaruhi flokulasi adalah karakteristik cairan, koagulan yang


digunakan, pH dan temperatur. Pada kenyataannya untuk proses rancangan unit, perlu
dilakukan percobaan flokulasi terlebih dahulu. Berdasarkan standar GLUMRB untuk
perencanaan tangki flokulasi, direkomendasikan beberapa hal :

Disain inlet dan outlet sedemikian rupa sehingga tidak terjadi short-circuit dan pecah
flok. Kecepatan minimum tidak lebih kecil dari 15,2 cm/menit namun tidak lebih dari 45,7
cm/menit, dengan waktu tinggal untuk pembentukkan flok paling sedikit 30 menit.
Pengaduk sebaiknya dijalankan dengan kecepatan yang bervariasi, kecepatan paddle berkisar
antara 15,2 cm sampai dengan 76,2 cm/detik. Tangki flokulasi dan sedimentasi diletakkan
sedekat mungkin. Kecepatan aliran air berflokulasi dalam saluran ke dalam tangki
sedimentasi tidak lebih kecil dari 15,2 cm/detik, namun tidak boleh lebih dari 45,7 cm/detik.
Untuk pelengkap proses flokulasi pada pengolahan berskala kecil, lebih cocok menggunakan
sistem baffle dari pada sistem pencampuran mekanik.

- Sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu unit operasi untuk menghilangkan materi tersuspensi atau flok
kimia secara gravitasi. Proses sedimentasi pada pengolahan air limbah umumnya untuk
menghilangkan padatan tersuspensi sebelum dilakukan proses pengolahan selanjutnya.
Gumpalan padatan yang terbentuk pada proses koagulasi masih berukuran kecil. Gumpalan-
gumpalan kecil ini akan terus saling

7
bergabung menjadi gumpalan yang lebih besar dalam proses flokulasi. Dengan terbentuknya
gumpalan-gumpalan besar, maka beratnya akan bertambah, sehingga karena gaya beratnya
gumpalan-gumpalan tersebut akan bergerak ke bawah dan mengendap pada bagian dasar
tangki sedimentasi.

- Filtrasi (Penyaringan)
Tujuan penyaringan adalah untuk memisahkan padatan tersuspensi dari dalam air yang
diolah. Pada penerapannya filtrasi digunakan untuk menghilangkan sisa padatan tersuspensi
yang tidak terendapkan pada proses sedimentasi. Pada pengolahan air buangan, filtrasi
dilakukan setelah pengolahan kimia-fisika atau pengolahan biologi.

Ada dua jenis proses penyaringan yang umum digunakan, yaitu penyaringan lambat dan
penyaringan cepat. Penyaringan lambat adalah penyaringan dengan memanfaatkan energi
potensial air itu sendiri, artinya hanya melalui gaya gravitasi. Penyaringan ini dilakukan
secara terbuka dengan tekanan atmosferik. Sedangkan penyaringan cepat adalah penyaringan
dengan menggunakan tekanan yang melebihi tekanan atmosfir.

Berdasarkan jenis media filter yang digunakan, penyaringan dapat digolongkan menjadi
dua jenis, yaitu filter media granular (butiran) dan filter permukaan. Pada jenis media
granular, media yang paling baik mempunyai karakteristik sebagai berikut: Ukuran butiran
membentuk pori-pori yang cukup besar agar partikel besar dapat tertahan dalam media,
sementara butiran tersebut juga dapat membentuk pori yang cukup halus, sehingga dapat
menahan suspensi. Butiran media bertingkat, sehingga lebih efektif pada saat proses
pencucian balik (backwash). Saringan mempunyai kedalaman yang dapat memberikan
kesempatan aliran mengalir cukup panjang. Sejauh ini media yang paling baik adalah pasir
yang ukuran butirannya hampir seragam dengan ukuran antara 0,6 hingga 0,8 mm.

8
Laju operasi untuk penyaringan ditentukan oleh kualitas air baku, pengolahan kimia yang
diterapkan dan media filter. Pada umumnya laju penyaringan pada saringan pasir cepat
adalah 82,4 liter per menit/m 2. Sistem yang ada pada saat ini dapat menaikkan aliran hingga
206 liter per menit/m2. Unggun saringan yang terdiri dari dua jenis media, yaitu arang dan
pasir menghasilkan lapisan media arang yang butirannya besar (berat jenis 1,4-1,6) berada
diatas media pasir yang lebih halus (berat jenis 2,6). Susunan media dari atas ke bawah
kasar-halus, akan memudahkan aliran air. Flok yang besar akan tertahan butiran arang di
bagian atas/permukaan unggun.

Sementara materi yang lebih halus di butiran pasir di bagian bawah. Oleh karena itu pada
unggun saringan yang kedalamannya tinggi dapat mencegah terjadinya penyumbatan yang
terlalu dini di permukaan. Pada proses penyaringan cepat atau dengan tekanan, air dialirkan
ke dalam unggun dengan tekanan. Saringan tekan umumnya tidak digunakan pada sistem
pengolahan yang berskala besar karena keterbatasan ukuran. Saringan tekan lebih banyak
digunakan pada pengolahan domestik berskala kecil.

Permasalahan yang timbul pada proses penyaringan lambat dengan gaya gravitasi adalah
pengambilan endapan lumpur yang terbentuk pada lapisan atas permukaan. Pengambilan
dapat dilakukan dengan proses pencucian balik, yaitu dengan membalikkan arah aliran air
dari bawah ke atas. Pengaliran air pencuci ini biasanya harus mempunyai tekanan yang lebih
besar agar mampu mengangkat lapisan endapan lumpur dan kemudian terbuang pada saluran
air limpasan.

Proses pencucian balik pada unit alat penyaringan lambat dibutuhkan waktu yang lebih
lama. Sedangkan pada unit penyaringan cepat, proses pencucian balik (backwashing) dapat
dilakukan dengan lebih mudah dan lebih cepat. Dengan tekanan yang umumnya cukup
besar, maka butiran media penyaring akan terangkat mengambang, sehingga butiran-butiran
pengotor atau endapan yang melekat akan mudah hanyut dalam aliran air cucian yang
mengalir lebih cepat dari bawah ke atas.

9
- Adsorpsi
Adsorpsi adalah penumpukan materi pada interface antara dua fasa. Pada umumnya zat
terlarut terkumpul pada interface. Proses adsorpsi memanfaatkan fenomena ini untuk
menghilangkan materi dari cairan. Banyak sekali adsorbent yang digunakan di industri,
namun karbon aktif merupakan bahan yang sering digunakan karena harganya murah dan
sifatnya nonpolar. Adsorbent polar akan menarik air sehingga kerjanya kurang efektif. Pori-
pori pada karbon dapat mencapai ukuran 10 angstrom. Total luas permukaan umumnya
antara 500 – 1500 m2/gr. Berat jenis kering lebih kurang 500 kg/m3.

- Gas Stripping
Pada saat ini penggunaan gas stripping hanya terbatas pada pengolahan air limbah. Zat-
zat yang umum di stripping adalah amonia, hidrogen sulfida, sulfur dioxide dan phenol.
Pada proses stripping air dialirkan ke bawah melalui media ring atau pada permukaan yang
beralur. Sementara udara bersih atau gas lain dialirkan berlawanan arah. Sistem ini disebut
teknik packed column. Pada sistem ini, aliran gas ke atas (disebut stripping gas) mengambil
gas-gas terlarut yang akan dihilangkan dalam cairan.

Pada saat cairan turun di dalam kolom, cairan mengeluarkan gas terlarut sementara gas
pada phasa gas masuk ke dalam air. Perpindahan gas terjadi karena adanya ketetapan hukum
mass transfer gas dan cairan. Efisiensi perpindahan tergantung pada :
- Distribusi atau penyebaran air ke seluruh permukaan kolom
- Luas area interface gas-cairan
- Kemurnian dari stripping gas, untuk mencegah pengotoran air yang diolah
- Distribusi gas stripping dalam kolom.

10
- Flotasi

Kebalikan dari proses pengendapan, flotasi adalah proses pemisahan padatan-cairan


atau cairan-cairan yang dalam hal ini partikel atau cairan yang dipisahkan mempunyai berat
jenis yang lebih kecil dari pada cairan. Apabila perbedaan berat jenis secara alamiah cukup
untuk dilakukan pemisahan, maka proses flotasi dinamakan “flotasi alamiah” (natural
flotation).

Apabila ditambahkan sesuatu dari luar untuk mempercepat pemisahan partikel,


walaupun secara alamiah berat jenis partikel tersebut lebih ringan dari pada cairan,
dinamakan “flotasi dibantu”(aided flotation). Istilah “flotasi terdorong” (induced flotation),
diterapkan pada keadaan berat jenis partikel secara alamiah lebih besar dari pada cairan,
namun dibuat agar berat jenisnya lebih kecil. Sebagai contoh penggabungan gas-partikel
sehingga berat jenisnya lebih kecil dari cairan.

Kecepatan ‘gelembung gas naik’ pada aliran laminer digambarkan oleh persamaan Stokes’.

V = g/18 . ( l - g) . d2

Dimana : d = diameter gelembung


 l = berat jenis cairan
 g = berat jenis gas
 = viskositas absolut

Dari persamaan ini dapat disimpulkan, bahwa semakin besar diameter gelembung semakin
besar pula kecepatan naiknya.

11
- Flotasi Dengan Microbubbles
Proses induced flotation yang menggunakan gelembung halus atau microbubbles yang
berdiameter 40 – 70 micron disebut dissolved air flotation (DAF). Teknik yang umum
digunakan untuk menghasilkan microbubble adalah pressurization. Gelembung diperoleh
dengan cara mengekspansi cairan yang telah banyak mengandung udara pada tekanan
beberapa bar. Jenis tekanan yang dilepaskan akan menentukan kualitas gelembung yang
dihasilkan. Cairan yang ditekan dapat air baku (full-flow pressurization) atau recycle air
olahan (recycle pressurization).
Pada proses klarifikasi air permukaan atau air industri digunakan sistem recycle
pressurization.
Pada kasus pemekatan lumpur, digunakan full-flow pressurization atau recycle
pressurization,

- Natural Flotasi

Flotasi alamiah biasanya diterapkan pada proses pemisahan minyak. Pada flotasi ini
kemungkinan didahului dengan proses penyatuan gelembung (microdroplets menempel
satu dengan yang lain) untuk mencapai ukuran minimum sehingga terjadi pemisahan.

- Aided Flotation (Flotasi Dibantu)

Flotasi ini adalah flotasi alamiah yang ditingkatkan dengan menyemburkan gelembung
udara. Proses ini biasa diterapkan pada pemisahan lemak yang terdispersi dalam cairan.
Dalam sistem ini terdapat dua daerah; satu daerah untuk pencampuran dan emulsifying; yang
lainnya daerah penenang untuk proses flotasi.

12
- Penerapan Flotasi

Penerapan DAF (Dissolved Air Flotation) pada pengolahan air :


- Pemisahan flok pada proses klarifikasi/penjernihan.
- Pemisahan dan perolehan kembali serat pada efluen pabrik kertas.
- Pemisahan minyak terflokulasi atau tidak terflokulasi dalam air limbah yang terdapat
pada efluen refineri, airport dan pabrik baja.
- Pemekatan lumpur dari pengolahan biologi air limbah atau dari proses klarifikasi air
minum.
- Klarifikasi cairan lumpur aktif.

- Proses Membran

Padatan terlarut dapat dipisahkan dari air atau air limbah melalui penggunaan membran
semipermiable yang mempunyai diameter pori berukuran 3 angstrom. Apabila pemisahan
terjadi dengan melewatkan air melalui membran maka proses disebut osmosis atau
hyperfiltration. Proses sebaliknya yaitu melewatkan molekul atau ion terlarut melalui
membran disebut proses dialysis. Sebagai tenaga penggeraknya dapat berupa fisik (tekanan),
kimia (konsentrasi), panas (temperatur) atau listrik. Penerapan proses membran adalah
desalinasi air untuk penggunaan air domestik dan air industri, pengolahan limbah industri dan
pengambilan kembali (recovery) materi berharga dari aliran air buangan.

- Reverse Osmosis

Apabila dua larutan yang mempunyai konsentrasi berbeda dipisahkan oleh membran
semipermible, maka perbedaan chemical potential akan terjadi pada membran. Air akan
menembus membran dari konsentrasi rendah/encer (potensi lebih tinggi) ke bagian yang
konsentrasi tinggi/pekat (potensi rendah). Aliran akan terus berlangsung hingga beda
tekanan mengimbangi perbedaan chemical potential.

13
Penyeimbang beda tekanan disebut tekanan osmotic dan besarnya tergantung pada
karakteristik larutan, konsentrasi dan temperatur. Apabila tekanan diberikan pada arah
sebaliknya dan lebih besar dari tekanan osmotic, maka yang terjadi aliran mengalir dari
konsentrasi pekat ke konsentasi rendah. Proses ini disebut reverse osmosis.

- Pengeringan / Pengolahan Lumpur

Lumpur yang dihasilkan dari proses sedimentasi diolah lebih lanjut untuk mengurangi
sebanyak mungkin air yang masih terkandung didalamnya. Proses pengolahan lumpur yang
bertujuan mengurangi kadar air tersebut sering disebut dengan pengeringan lumpur. Ada
empat cara proses pengurangan kadar air, yaitu secara alamiah, dengan tekanan
(pengepresan), dengan gaya sentrifugal dan dengan pemanasan.

Pengeringan secara alamiah dilakukan dengan mengalirkan atau memompa lumpur


endapan ke sebuah kolam pengering (drying bed) yang mempunyai luas permukaan yang
besar dengan kedalaman sekitar 1 atau 2 meter. Proses pengeringan berjalan dengan
alamiah, yaitu dengan panas matahari dan angin yang bergerak di atas kolam pengering
lumpur tersebut. Cara pengeringan seperti ini tentu saja sangat bergantung dari cuaca dan
akan bermasalah bila terjadi hujan. Bila lumpur tidak mengandung bahan yang berbahaya,
maka kolam pengering lumpur dapat hanya berupa galian tanah biasa, sehingga sebagian air
akan meresap ke dalam tanah dibawahnya.

Tetapi bila lumpur mengandung bahan yang berbahaya (misalnya logam berat & phenol),
maka kolam lumpur harus terbuat dari beton dan pada bagian bawah kolam harus
mempunyai saluran rembesan larutan yang kemudian harus diolah kembali. Cara
pengeringan seperti ini memang tergolong mudah dan murah, namun membutuhkan waktu
yang lama, serta tidak sesuai untuk lumpur yang mengandung zat-zat berbahaya yang mudah
menguap. Secara periodik kolam lumpur harus dikeruk untuk memindahkan lumpur kering.
Bila lumpur kering masih mengandung

14
unsur yang berbahaya, maka masih harus ditangani secara khusus, misalnya diolah lebih
lanjut dengan pembakaran (incineration).

Pengeringan lumpur dengan cara tekanan (pengepresan) dilakukan dengan


mengalirkan lumpur di antara dua plat (belt) yang berperforasi. Kemudian dengan sistem
rolling kedua plat tersebut bergerak dan menekan lumpur ditengahnya. Dengan demikian
lumpur seolah terperas dan cairan keluar melalui lubang-lubang perforasi. Cara pengeringan
lumpur seperti ini sungguh efektif dan banyak digunakan untuk skala besar (pabrik). Cairan
yang keluar apabila masih mengandung bahan yang berbahaya, maka harus diolah lebih
lanjut. Pengeringan lumpur dengan cara ini dapat mengurangi kadar air di bawah 10%.

Selanjutnya bila lumpur kering masih mengandung bahan yang berbahaya, maka
dapat diolah lebih lanjut, misalnya dengan pembakaran pada incinerator. Cara pengeringan
dengan tekanan memang membutuhkan lebih banyak energi, namun prosesnya dapat jauh
lebih cepat. Peralatan selain sistem belt, misalnya Plate & Frame Filter Press (PFFP). Alat
ini merupakan susunan plat-plat berperforasi yang dirangkai sedemikian rupa sehingga
lumpur yang dialirkan ke dalam sistem ini akan tersaring dengan cepat. Hasil pengeringan
lumpur dengan PFFP sebenarnya kurang begitu baik, yaitu kadar air dalam lumpur kering
masih di atas 10%, bahkan sampai 20%.

Proses pengeringan lumpur dengan gaya centrifugal (centrifuge), prinsipnya seperti


proses pengeringan pada mesin cuci pakaian. Namun dalam peralatan ini, hasil lumpur yang
sudah melekat dan memadat pada bagian dinding dibawa dengan suatu Screw Conveyor yang
berputar dan kemudian mengeluarkan lumpur keringnya pada bagian sisi yang lain.
Pengurangan kadar air dari lumpur dengan cara ini dapat dilakukan dalam skala kecil sampai
besar. Sistem ini sangat jarang digunakan di Indonesia, walaupun energi yang dibutuhkan
tidak terlalu besar. Proses pengeringan lumpur dengan pemanasan biasanya diterapkan pada
suatu pabrik yang mempunyai panas buang yang cukup tinggi, sehingga panas buang
tersebut dapat termanfaatkan dengan optimal.

15
16