Anda di halaman 1dari 22

SISTEM PEMBANGKIT TENAGA

UAP
Prof. Dr. Ir. Dipl.-Ing. Bambang Teguh P., DEA
SISTEM TENAGA UAP MODERN
SISTEM TENAGA UAP MODERN

13

19 21 22
16 18 5
17

14 20
23

12 11

10
FWH
3
4
8 9
2
15
1

6 7
DIAGRAM TEKANA – ENTALPI (P – h)

Kritis
p

Cair Uap jenuh


bawah Cair + Uap
dingin

A D ---- T konstan
---- P konstan
---- s konstan
Uap panas lanjut
---- v konstan
Cair jenuh

h
DIAGRAM TEMPERATUR – ENTROPI (T – S)

Kritis
T ---- p konstan

D
Uap panas
lanjut
Cair
bawah
A
dingin Cair + Uap
Uap jenuh
Cair jenuh

s
SIKLUS RANKINE SEDERHANA
• SKEMA SISTEM TENAGA UAP SEDERHANA (SIKLUS TERBUKA)

QB
2 3 Proses
Turbin uap 1-2 air dipompa secara adiabatik
Pompa Boiler reversibel (isentropik)
2-3 air diuapkan di dalam Boiler
WT menjadin uap jenuh pada
WP tekanan konstan
3-4 uap diekspansikan di turbin uap
1 4 secara isentropik

P
2 3 T 3

2
1 4 P atm 4
1

h s
SIKLUS RANKINE SEDERHANA (lanjutan)
Jika diasumsikan :
• Energi kinetik dan potensial dapat diabaikan pada tingkat keadaan 1, 2,
3 dan 4,
• Aliran stasioner, tingkat keadaan stasioner dan air/uap berada pada
tingkat keadaan keseimbangan pada 1, 2, 3 dan 4

Persamaan kesetimbangan energi pada pompa


W
WP  P  h2  h1 J kg
M
Dimana:  = laju aliran massa air (kg/s)
M
 = daya pompa (J/s = W)
WP

h = entalpi jenis (J/kg)


• Jika diasumsikan air adalah inkompresibel, dan pemompaan
berlangsung isentropik, h2 – h1 ~  (P2 – P1)

WP  P2  P1 J kg


SIKLUS RANKINE SEDERHANA (lanjutan)

Persamaan kesetimbangan energi pada tutbin

W
WT   T  h3  h4 J kg Dimana:
M
 = laju aliran massa uap (kg/s)
M
 = daya turbin (J/s = W)
WT

h = entalpi jenis uap (J/kg)

Persamaan kesetimbangan energi pada Boiler

• Energi panas yg digunakan untuk menguapkan air


Q
QB  B  h3  h2 J kg
M

Dimana:  = Panas yg dibutuhkan untuk menguapkan air


QB
(kg/s)
SIKLUS RANKINE SEDERHANA (lanjutan)

Efisiensi

Wnet WT  WP
 
QB QB
Work Ratio, WR
Wnet
rW 
WT

Specific Steam Consumption, SSC

Mass florate of vapor kg / h


SSC 
Unit power output kW 
M


kg kW .h
W net
SIKLUS RANKINE MODERN, ideal
• Dipasang kondensor untuk mengkondensasikan uap agar dapat
digunakan lagi sebagai fluida kerja
• Mengkondensasikan uap pada suhu lebih rendah dari atmosfir shg
menghasilkan h turbin lebih besar
QB
2 3 P
Turbin uap 2 3
Pompa Boiler
P atm
WT 1 4
WP
Kondensor
1 4

h
QC
• P kondensat < P atm, (h3 – h4) > dari siklus Rankine sederhana
• Kesulitan kondensor, harus ada ejektor supaya udara dan gas2 yg tak
terkondensasi bisa dibuang ke atmosfir
• Sistem etrsebut di atas masih kurang menguntungkan karena uap basah
yg menggerakkan sudu2 (perlu dijaga x=0,9)
SIKLUS AKTUAL

P
2s 2
3 T 3
2
2s TH
1
4s 4 1 TL 4s 4

h s
Proses 1-2 dan 3-4 tidak lagi isentropik akibat adanya produksi entropi
Bagaimana memperbaiki efisiensi siklus Rankine:
1. Menaikkan tekanan maksimum dari siklus yg memberikan TH lebih
tinggi  efisiensi dan kebasahan uap pada turbin lebih baik, tetapi
kerja output tidak lebih tinggi
2. Menurunkan tekanan minimum pada siklus  efisiensi lebih baik,
tetapi kebasahan uap meningkat.
STUDI KASUS
• Jika diketahui kondisi operasi TH = 280oC dan TL = 30oC
Siklus ideal : 1 – 2s – 3 – 4s , P dan T = 1
Siklus aktual : 1 – 2 – 3 – 4 , P dan T = 0,8
• Tentukan perbandingan  siklus

Dari data uap diperoleh :


h1=130 kJ/kg h2s=136 kJ/kg h3=2770 kJ/kg h4s=1750 kJ/kg

Ideal WT  WP 1020  6
WT  h3  h4s  2770  1750     0,385
QB 2634
1020J kg W  WP 1020  5
rW  T   0,99
WP  h2s  h1  136  130  WT 1020
6J kg   x3600
M M
SSC      3,6kg kW.h
QB  h3  h2s  2770  136  Wnet Mx1014
2634J kg
STUDI KASUS, lanjutan

Aktual
WT  WP 816  8
   0,307
h2s  h1 QB 2632
P   h2  138kJ / kg
h2  h1 W  WP 816  8
rW  T   0,99
WT 816
h3  h4
T   h4  1954kJ / kg 
h3  h4s M
SSC    816  4,4kg kW.h
Wnet
WT  h3  h4s  2770  1954 
816J kg

WP  h2  h1  138  130 
8J kg

QB  h3  h2  2770  138 
2632J kg
SIKLUS RANKINE DGN SUPERHEATER
• Dipasang superheater untuk memanaskan lanjut uap di dlm agar
temperatur uap jauh di atas temperatur jenuhnya
• Uap masuk turbin lebih kering  mengurangi korosi pada sudu turbin

QB QS • Efisiensi naik, tetapi boiler


2’ memerlukan material yg tahan
2 3
Superheater Turbin uap temperatur tinggi
Boiler
Pompa

WT
P
WP
Kondensor 2 2’
1 4 3

1
QC 4
Tambahan kerja
T 3 output dibanding h
tanpa superheater
2 1
4 Qin  QB  QS J kg

s
SIKLUS RANKINE DGN SUPERHEATER, lanjutan

• Pada T3 yg ditetapkan, jika tekanan dinaikkan (P3 menjadi P3’) akan


memperbaiki efisiensi karena WT membesar dan Qin turun. Akan tetapi
kualitas uap keluar turbin lebih buruk.
• Jika tekanan keluar diturunkan (P4 menjadi P4’)  efisiensi naik, tapi
kualitas menjadi lebih buruk

3’
P 3
3’ T
2 3
2 1
1 4
4 4’
4’
s
h
SIKLUS RANKINE DGN REHEATER

QB QS QRH P
2 3 4 2
5 3
Boiler Superheater Reheater 4
Pompa 5
1 6

WP WT1 WT2
Kondensor Turbin 1 Turbin 2 h
1
6
3
QC T 5
2 4
Reheater : alat untuk memanaskan ulang uap dari HP
turbine (Turbin 1) dengan memanfaatkan 1 6
panas gas buang
s
WT1  h3  h4 J kg Wnet  WT1  WT 2  WP J kg
WT 2  h5  h6 J kg Qin  QB  QS  QRH  h3  h2   h5  h4  J kg
Wnet
WP  h2  h1 J kg 
Qin
SIKLUS RANKINE DGN REHEATER, lanjutan

• Permasalahan kondisi uap basah pada keluaran turbin jika beroperasi


pada tekanan lebih tinggi dengan temperatur yg sama dapat diatasi
dengan memanaskan ualang uap
• Kehilangan kerja dapat menurunkan efisiensi. Akan tetapi temperatur
maksimum menjadi lebih rendah dan uap mempunyai kualitas yg lebih baik
pada saat keluar

Kehilangan kerja
3 dibanding dgn
superheater saja
T
5
2 4

1 6

s
SIKLUS RANKINE DGN REGENERATOR

QB

3 Turbin uap T 2’ 3
Boiler 2
WT
Regenerator
1 4
4’ 1’ 4’
2’ QC
2
a b c d s
Pompa Kondensor
WP 1

• Regenerator ditujukan untuk meningkatkan temperatur rata2 air pada saat


masuk ke boiler
• Perhatikan siklus Rankine tanpa superheater 1-2-2’-3-4-1. Efisiensinya
lebih kecil dibanding siklus Carnot 1’-2’-3-4-1’ akibat pemanasan air pada
suhu suhu tidak merata (2-2’)
• Regenerator dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
SIKLUS RANKINE DGN REGENERATOR, lanjutan
• Bila regenerator berupa Alat Penukar
T 2’ 3 Kalor (APK) dengan efektivitas 100%,
2
Regenerator maka T3’ = T2.
3’ • Selama luas di bawah garis 1-2-2’ dan 3-
1 3’-4’ persis sama, efisiensi dari siklus 1-
1’ 4’ 4 2-2’-3-4’-1 akan persisi sama dengan
efisiensi siklus Carnot (1’-2’-3-4-1), yg
a b c d s bekerja untuk TH dan TL yg sama

• Pada kenyataanya APK yg sempurna dgn efektivitas 100% tidak


mungkin bisa.
• Untuk alasan tersebut, pada aplikasi yg aktual, sesudah ekspansi pada
tingkat awal di turbin sejumlah uap dicerat (extract) dan digunakan
sebagai pemanas di Feed Water Heater (FWH) (lihat bab selanjutnya)
SIKLUS RANKINE DGN Open Feed Water Heater
PH
QB T
Pi
4 5
Turbin uap 5
Boiler 4 PL
WT 3 m
Pompa 2 2 6
7 1-m
6 1
m (1-m) 7
WP2
QC
3 2
a b c s
OFWH Kondensor
1
WP1 Pompa 1

• Sesudah ekspansi pada tingkat awal di turbin (5-6), sejumlah uap dicerat
(extract) dan digunakan sebagai pemanas di Feed Water Heater (FWH)
(proses 6-3), dan sisanya terus berekspansi di dlm turbin (proses 6-7) dan
di teruskan ke kondensor.
• Dengan menggunakan FWH, temperatur rata2 air selama penambahan
panas (proses 4-5) sudah tinggi shg memperbaiki efisiensi siklus.
SIKLUS RANKINE DGN Open Feed Water Heater, lanjutan

PH Energy Balance dan Mass Balance di


T OFWH
Pi
• Jumlah uap yg dicerat (m1) untuk
5
4 PL setiap 1kg uap yg melalui turbin
3 m
2
1-m
6
1 m1h2  m1h6  h3
1 7 h3  h2
m1  kg / kg uap masuk turbin
h6  h2
a b c s
QB QS

4 Superheater 5
Boiler Turbin uap

WT
Pompa 2
7
6
WP2 QC
2
3
OFWH Kondensor
1
WP1 Pompa 1