Anda di halaman 1dari 2

A.

Model komunikasi “Shanon dan Weaver”


Pada suatu pagi hari tepatnya pukul 07.30 di dalam ruangan perawatan di salah satu
rumah sakit daerah Tulungagung, terdapat seorang pasien wanita (ibu rumah tangga)
berusia 49 tahun sedang terbaring lemah mengeluhkan nyeri dibagian lutut karena luka
akibat kecelakaan. Kemudian datang seorang perawat untuk mengkaji keluhan yang
diderita ibu tersebut.
Perawat : “Selamat pagi ibu…” (tersenyum)
Pasien : “Iya selamat pagi mbak…” (membalas senyum)
Perawat : “Perkenalkan ibu nama saya Sintia Febryani, saya mahasiswa dari STIKes
Karya Putra Bangsa. Pagi ini saya akan mengkaji tentang masalah penyakit yang
dikeluhkan oleh ibu sebelum nantinya akan dilakukan tindakan keperawatan. Kalau boleh
tahu ibu dengan nama siapa ?”
Pasien : “Iya salam kenal juga mbak. Nama saya Siti Aminah, mbak bisa panggil saya
Bu Siti saja”.
Perawat : “Baik bu siti, apa yang ibu keluhkan ?”
Pasien : “Ini mbak bagian lutut saya sakit rasanya nyeri mbak sejak kecelakaan
kemarin dan jadi agak bengkak.” (menyentuh lutut dengan sedikit merenung)
Perawat : “mm..” (menganggukkan kepala). “Iya ibu itu memang efek dari luka yang
ibu alami karena pada luka ibu terjadi peradangan.”
Pasien : “Apa itu berbahaya mbak ?.” (sedikit cemas)
Perawat : “Tidak ibu, peradangan itu merupakan gejala yang menguntungkan dan
merupakan pertahanan tubuh yang bekerja untuk menetralisir dan menghancurkan agen
pencedera dalam persiapan penyembuhan luka, jadi ibu siti tidak usah begitu khawatir.”
(menjelaskan)
Pasien : “Emm..begitu.” (sedikit lega)
Perawat : “Iya ibu, baiklah saya permisi dulu silahkan ibu beristirahat kembali nanti
saya akan datang lagi untuk melakukan tindakan keperawatan luka ibu. Apakah ibu siti
bersedia ?.”
Pasien : “Iya mbak.” (menganggukkan kepala)
Perawat : “kalau begitu saya permisi dulu ibu, selamat pagi.”
Pasien : “Iya, selamat pagi mbak.”
Setelah pengkajian selesai, kemudian perawat tersebut keluar dari ruangan itu dan
akan kembali lagi untuk melakukan tindakan keperawatan pada luka yang diderita ibu
tersebut.
B. Model komunikasi “ Leary”
Pada suatu pagi disebuah Puskesmas di daerah Tulungagung datang seorang ibu paruh
baya dengan tujuan untuk memeriksakan tentang keluhan yang dialami ibu tersebut yang
berangsur-angsur hari tidak kunjung sembuh.
Klien : “Permisi, selamat pagi dok.” (tersenyum)
Dokter : “Selamat pagi, silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?.”
Klien : “Begini dok beberapa hari terakhir ini saya merasa sering kelelahan, kepala
saya pusing terus kadang itu saya merasa sedikit sesak saat bernapas dan badan saya itu
terasa lemas sekali dok.” (sambil merenung dengan mata sayup)
Dokter : “Mari ibu silahkan berbaring sebentar saya akan periksa dulu.”
(mempersilahkan)
Klien : “Baik dok.” (sambil berjalan)