Anda di halaman 1dari 44

TUGAS RADIOLOGI

Oleh :
Nuzulut Fiana
1618012116

Perceptor :
dr. Karyanto, Sp. Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU RADIOLOGI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2018
1. Klasifkasi Tuberculosis

 Berdasarkan Internasional (American Tuberculosis Association)


Tuberkulosis paru dibagi menjadi Tuberkulosis anak (infeksi primer) dan
tuberkulosis orang dewasa (re-infeksi).
a. Tuberkulosis primer : dapat berlokasi dimana saja dalam paru, namun
sarang dalam parenkim paru sering disertai oleh pembesaran kelenjar
limfe regional (kompleks primer)
 Tidak disertai gejala klinis
 Lokasi kelainan biasanya pada satu lobus, terutama lobus kanan
bagian bawah, tengah, dan lingula serta segmen anterior lobus atas
 15% pada foto thoraks terlihat normal
 Pada paru dijumpai infiltrat dan kavitas
 Kelainan: limfadenopati, parenchymal disease, miliary disease, dan
efusi pleura
b. Tuberkulosis sekunder : sarang biasanya di lapangana atas dan segmen
apikal lobus bawah, walaupun kadang dapat terjadi juga di lapangan
bawah, biasanya disertai pleuritis.
Klasifikasi tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis
Association :
1. Tuberkulosis minimal : yaitu luas sarang-sarang yang terlihat
tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks,
dan iga 2 depan; sarang soliter dapat berada di mana saja tidak
harus berada di kavitas atas. Tidak ditemukan adanya lubang.
2. Tuberkulosis lanjut sedang : luas sarang-sarang yang bersifat
bercak-bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila ada
lubang, diameternya tidak melebihi 4 cm. Jika sifat bayangan
sarang-sarang berupa awan yang menjelma menjadi daerah
konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi luas
satu lobus.
3. Tuberkulosis sangat lanjut : luas daerah yang dihinggapi oleh
sarang-sarang lebih daripada klasifikasi kedua diatas, atau bila
ada lubang-lubang, maka diameter keseluruhan semua lubang
melebihi 4 cm.
Ada beberapa cara pembagian kelainan yang dapat dilihat pada foto
Roentgen. Salah satu pembagian adalah menurut bentuk kelainan,
yaitu :
1. Sarang eksudatif, berbentuk awan-awan atau bercak, yang batasnya
tidak tegas dengan densitas rendah
2. Sarang produktif, berbentuk butir-butir bulat kecil yang batasnya
tegas dan densitasnya sedang
3. Sarang induratif atau fibrotik, yaitu yang berbentuk garis-garis,
atau pita tebal, berbatas tegas dengan densitas tinggi.
4. Kavitas (lubang)
5. Sarang kapur ( kalsifikasi)

 Berdasarkan tipe pasien


a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
c. Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahah BTA positif atau biakan positif.Bila BTA
negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan
beberapa kemungkinan :
 Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur,
keganasan dll)
 TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang
berkompeten menangani kasus tuberkulosis
d. Kasus drop out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan
tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai.
e. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan) atau akhir pengobatan.
f. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan
pengawasan yang baik
g. Kasus bekas
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif,
atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat
pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung. Pada kasus
dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada
perubahan gambaran radiologi
2. Patofisiologi dan gambaran radiologis tuberculosis anak

Paru merupakan port d’entree lebih dari 98% kasus infeksi TB. Kuman
TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang ukurannya sangat kecil (<5
mikrometer), akan terhirup dan dapat mencapai alveolus.. Pada sebagian
kasus, kuman TB dapat dihancurkan seluruhnya oleh mekanisme imunologis
nonspesifik, sehingga tidak terjadi respons imunologis spesifik. Akan tetapi,
pada sebagian kasus lainnya, tidak seluruhnya dapat dihancurkan. Pada
individu yang tidak dapat menghancurkan seluruh kuman, makrofag alveolus
akan memfagosit kuman TB yang sebagian besar dihancurkan. Akan tetapi,
sebagian kecil kuman TB yang tidak dapat dihancurkan akan terus
berkembang biak di dalam makrofag, dan akhirnya menyebabkan lisis
makrofag. Selanjutnya, kuman TB membentuk lesi di tempat tersebut, yang
dinamakan fokus primerGhon.

Dari fokus primer Ghon, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke
lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di
saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena.
Jika fokus primer terletak dilobus bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan
terlibat adalah kelenjar limfe parahilus (perihiler), sedangkan jika fokus
primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal.
Gabungan antara fokus primer, limfangitis, dan limfadenitis dinamakan
kompleks primer (primary complex).

Pada saat terbentuknya kompleks primer, TB primer dinyatakan telah


terjadi.Setelah terjadi kompleks primer, imunitas selular tubuh terhadap TB
terbentuk, yang dapat diketahui dengan adanya hipersensitivitas terhadap
tuberkuloprotein, yaitu uji tuberkulin positif. Selama masa inkubasi, uji
tuberkulin masih negatif. Pada sebagian besar individu dengan sistem imun
yang berfungsi baik, pada saat sistem imun selular berkembang, proliferasi
kuman TB terhenti. Akan tetapi, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup
dalam granuloma. Bila imunitas selular telah terbentuk, kuman TB baru yang
masuk kedalam alveoli akan segera dimusnahkan oleh imunitas selular
spesifik (cellular mediated immunity,CMI).

Setelah imunitas selular terbentuk, fokus primer di jaringan paru biasanya


akan mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi
setelah terjadi nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional
juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya
biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat
tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini, tetapi
tidak menimbulkan gejala sakit TB.

Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas selular, dapat terjadi


penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman
menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer, atau
berlanjut menyebar secara limfohematogen. Dapat juga terjadi penyebaran
hematogen langsung, yaitu kuman masuk ke dalam sirkulasi darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang
menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.

Pada TB paru anak, ciri radiografi adalah berukuran relatif lebih besar dan
pentingnya limfadenopati dibandingkan dengan ukuran yang kurang
signifikan pada fokus parenkim. Adenopati selalu hadir dengan tuberkulosis
pada anak, tetapi tidak dapat dilihat oleh radiograf polos ketika temuan paru
lainnya muncul. Kebanyakan kasus TB paru pada anak, infiltrat ringan
parenkim dan limfadenopati resolusi secara spontan, radiografi dada tetap
normal, dan anak tanpa gejala. Pada beberapa anak, kelenjar getah bening
hilus dan mediastinum terus membesar dan dapat segera terlihat pada rontgen
dada. Sumbatan sebagian bronkus yang disebabkan oleh kompresi eksternal
dari node membesar dapat menyebabkan terperangkapnya udara, hiperinflasi,
dan bahkan emfisema. Nodus yang menempel dan menyusup ke dinding
bronkus, caseum mengisi lumen menyebabkan obstruksi lengkap. Hal ini
menyebabkan atelektasis yang biasanya melibatkan distal segmen lobar ke
lumen terhambat. Yang dihasilkan bayangan radiografi biasanya disebut
runtuhnya-konsolidasi atau lesi segmental. Temuan ini mirip dengan yang
disebabkan oleh aspirasi benda asing; pada dasarnya, kelenjar getah bening
bertindak sebagai benda asing. Beberapa lesi segmental di lobus yang berbeda
dapat terlihat pada 25% anak-anak.

Gambar Chest x-ray pada anak denganTB paru primer

Perbedaan tuberkulosis primer (TB anak) dengan tuberkulosis sekunder (TB


dewasa/re-infeksi) antara lain, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
TB primer TB sekunder
(TB anak) (TB dewasa)
Lokasi Dapat di semua bagian paru Apeks dan infra klavikuler
Kelenjar limfe regional Membesar Tidak
Penyembuhan Perkapuran Fibrosis
Penyebaran Hematogen Sering Jarang
3. Differential Diagnosis dan ciri-ciri radiologis bayangan opak/semiopak
pada lapangan paru

NO. DIAGNOSA Interpretasi Hasil Gambaran Radiologis


BANDING
1. Bronkopneumonia Bercak infiltrat pada lapangan
bawah/tengah paru.

2. Bronkitis kronik Bronkitis kronis golongan ringan:


corakan peribronkial yang
ramai/bertambah di bagian basal
paru oleh penebalan dinding
bronkus dan peribronkus.
Bronkitis kronis golongan sedang
juga disertai emfisema.
Bronkitis kronis golongan berat
ditemukan hal-hal tersebut diatas
dan disertai cor pulmonale
(komplikasi bronkitis kronis).

3. Tuberkulosis paru Bercak berawan pada kedua


lama aktif lapangan paru atas yang disertai
kavitas, bintik-bintik kalsifikasi,
garis fibrosis yang menyebabkan
retraksi hilus ke atas.
4. Tuberkulosis Bercak-bercak granuler pada
miliar seluruh lapangan kedua paru

5. Tuberkulosis paru Bercak berawan disertai kavitas


aktif pada kedua lapangan paru.

6. Pneumonia Bayangan perselubungan


alveolar homogenberdensitas tinggi pada
non segmental atau segmental,
lobus paru, atau pada sekumpulan
segmen lobus yang berdekatan,
berbatas tegas. Air bronchogram
biasanya ditemukan diantara
daerah konsolidasi.
7. Pneumonia Gambaran bronchial cuffing, yaitu
interstitial penebalan dan edema pada
dinding bronkiolus. Corakan
bronkovaskular meningkat,
hiperaerasi, bercak-bercak infiltrat
dan efusi pleura juga dapat
ditemukan.

8. Abses paru Satuatau multi kavitas berdinding


tebal, dapat pula ditemukan
permukaan udara dan cairan di
dalamnya.Bayangan dengan batas
tidak tegas (irreguler), dinding
granulomatous/radang/jaringan
atelektasis, bila berhubungan
dengan bronkus air fluid level (+),
sering dekat dengan permukaan
pleura (fistula bronchopleura).

9. Efusi pleura Perselubungan homogen


menutupi struktur paru bawah
yang biasanya relative radioopak
dengan permukaan atas cekung
,berjalan dari lateral atas kearah
medial bawah. Jaringan paru
akan terdorong kearah
sentral/hilus dan kadang
mendorong mediastinum kearah
kontralateral.
10. Atelektasis Bayangan lebih suram (densitas
tinggi) pada bagian paru, baik
lobaris, segmental, atau seluruh
paru, dengan penarikan
mediastinum kearah atelektasis,
sedangkan diafragma tertarik
keatas dan sela iga menyempit.

11. Tumor paru Perselubungan homogen yang


berbatas tegas pada daerah paru.

12. Metastasis paru Gambaran bayangan bulat


berukuran beberapa milimeter
sampai beberapa centimeter,
tunggal (soliter) atau ganda
(multiple), batas tegas yang sering
disebut coin lesion pada kedua
lapangan paru. Bayangan tersebut
dapat mengandung bercak
kalsifikasi. Dapat juga terdapat
pembesaran kelenjar
mediastinum, penekanan trakea,
bronkovaskular kasar unilateral
atau bilateral atau gambaran garis-
garis berdensitas tinggi halus
seperti rambut.
13. Edema paru Perselubungan atau perbercakan
di 2/3 medial (perihilar) kedua
paru (bilateral) yang memberikan
gambaran “bat wings
appearance”.

14. Hyalin membran Lesi granuler yang merata di


disease (HMD) seluruh paru, ukuran paru
mengecil, batas pembuluh darah
tidak jelas, dan toraks berbentuk
bel. Pada kasus lebih berat
didapatkan bayangan paru lebih
radioopak, adanya air
bronkogram, dan batas jantung
dan mediastinum yang tidak jelas,
kadang-kadang diperoleh
gambaran ground glass
appearance. Pada keadaan paling
berat ditemukan gambaran white
lung.
15. Sindrom aspirasi Bercak-bercak tersebar di kedua
mekonium paru, kadang disertai atelektasis.
4. Differential Diagnosis dan ciri-ciri radiologis bayangan lusen pada
lapangan paru

NO DIAGNOSA Interpretasi Hasil Gambaran Radiologis


BANDING
1. Pneumothorax Tampak hiperlusen avaskuler
pada lapangan paru
dextra/sinistra; adanya gambaran
paru dextra / sinistra kolaps
dengan bayangan pleura
visceralis yang jelas terlihat
sesuai gambaran pleural white
line, dengan shift mediastinum
ke arah berlawanan (tidak selalu
ada). Lapangan paru luar terlihat
hitam

2. Tension Pada foto inspirasi, paru yang


Pneumothorax terkena seluruhnya kolaps tetapi
mediastinum ditengah. Pada foto
ekspirasi, udara terjebak di
hemithorax yang terkena di
bawah tekanan positif, jantung,
dan paru kontralateral tertekan
ke arah yang sehat

3. Emfisema Toraks berbentuk


silindrik.Bayangan paru lebih
radiolusen pada seluruh paru
atau lobaris ataupun segmental,
corakan jaringan paru tampak
lebih jelas, vascular paru yang
relative jarang.Diafragma letak
rendah dengan bentuk yang
datar dan peranjakan yang
berkurang. Jantung ramping,
sela iga melebar.
4. Pulmonary Tampak fissura horizontal pada
embolus paru kanan atas dimana daerah
tersebut terlihat lebih hitam
dibandingkan bagian
kontralateral pada tinggi yang
sama (Westermark’s sign) dari
perfusi yang berkurang pada
daerah paru yang
mengindikasikan bahwa arteri
pada daerah ini mengandung
gumpalan besar. Daerah
konsolidasi dibawah fissura
horisontal, merupakan titik kecil
dari infarksi.
5. Bronkiektasis Bronkovaskular yang kasar yang
umumnya terdapat di lapangan
bawah paru, atau gambaran
garis-garis translusen yang
panjang menuju ke hilus dengan
bayangan konsolidasi sekitarnya
akibat peradangan sekunder,
kadang-kadang juga bisa berupa
bulatan-bulat antranslusen yang
sering dikenal sebagai gambaran
sarang tawon (honey comb
appearance). Bulatan-bulatan
ini dapat berukuran besar
(diameter 1-10cm) yang berupa
kista-kista translusen dan
kadang-kadang berisi cairan (air
fluid level) akibat peradangan
sekunder.
6. Chronic Kedua lapangan paru terlihat
obstructive lebih hitam dan lebih besar
secara volume dibandingkan
pulmonary dengan gambaran normal.
disease Hemidiafragma terlihat rata.
(COPD) Lebih sedikit pembuluh darah
yang terlihat secara peripheral
terutama di bagian atas dan
tengah namun arteri pulmonari
terlihat besar di pertengahan
7. Flail chest Bayangan udara yang terlihat
akibat kontusio paru. Gambaran
fraktur kosta yang multipel.

8. Stenosis pulmo Bayangan radiolusen pada


bagian aorta karena terjadinya
ppengecilan aorta serta arteri
pulmonalis menonjol. Pembuluh
darah paru-paru berkurang dan
tampak kecil-kecil.

9. Kista Paru Tampak hilus normal, corakan


paru bertambah,
rongaluscen/opak berdinding
tipis reguler, soliter/multipel di
kedua lapang paru
10. Bula Terdapat area fokal dengan
emfisematus gambaran radioluscent yang
dapat dilihat dengan jelas karena
dilapisi oleh sebuah dinding
tipis. Fluid level memungkinkan
adanya infeksi di dalam
bula.Karakteristik dalam foto
thoraks lain ialah paru yang
hiperekspansi dengan
pendataran kedua
hemidiafragma.

5. Proses terbentuknya sinar X dan gambaran skematis


Sifat sinar x
a. Daya tembus
Makin tinggi tegangan tabung (kilovolt) yang digunakan makin tinggi
daya tembusnya
b. Pertebaran
Apabila berkas sinar x melalui suatu zat maka berkas tersebut akan
bertebaran ke segala arah, menimbulkan radiasi sekunder pada zat
yang dilaluinya. Hal ini mengakibatkan gambar radiograf dan pada
film akan tampak pengaburan kelabu secara menyeluruh. Untuk
mengurangi radiasi sekunder ini, maka antara subjek dengan film
rongent diletakkan grid.Grid terdiri atas potongan-potongan timah tipis
yang letaknya sejajr, masing-masing dipisahkan oleh bahan tembus
sinar.
c. Penyerapan
Makin tinggi berat atomnya atau kepadatan bahan tersebut, makin
besar penyerapan
d. Efek fotografik
Sinar x dapat menghitamkan emulsi film (perak-bromide) setelah
diproses secara kimiawi (dibangkitkan) dikamar gelap
e. Luminisensi
Sinar x menyebabkan bahan seperti kalsium tungstate atau zink sulfide
memendarkan cahaya. Luminisensi ada 2 jenis: flourosensi
(memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar x saja) dan
fosforisensi (pemendaran cahaya akan berlangsung beberapa saat
walaupun radiasi sinar x sudah dimatikan)
f. Ionisasi
g. efek biologicdipergunakan dalam radioterapi

Urutan proses terjadinya sinar x:


a. Katoda dipanaskan (>20000 derajat celcius) sampai menyala dengan
mengalirkan litrik yang berasal dari transformator
b. Karena panas, elekron-elektron dari katoda terlepas
c. Sewaktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi, electron-
elektron akan dipercepat gerakannya menuju anoda dan dipusatkan ke
alat pemusat
d. Katoda dibuat relatif negatif terhadap target dengan memilih potensial
tinggi
e. Awan-awan elektron mendadak dihentikan pada target sehingga
terbentuk panas (>99%) dan sinar x (<1%)
f. Pelindung timah akan mencegah keluarnya sinar x dari tabung
sehingga sinar x yang terbentuk hanya keluar melalui jendela
g. Panas yang tinggi pada target kibat benturn electron ditiadakan oleh
radiator pendingin
h. Jumlah sinar x yang dilepaskan setiap satuan waktu dapat dilihat pada
miliamper sedangkan janga waktu pemotretan dapat dikendalikan oleh
second
6. Organ intraabdominal yang retroperitoneal dan intraperitoneal
a. Organ intraperitoneal
Merupakan organ yang berada di dalam cavum abdomen yang sebagian
besar (>2/3 permukaan organnya) diliputi oleh peritoneum visceral dan
biasanya memiliki penggantung. Organ tersebut adalah:
1) Gaster
2) Vessica fellea
3) Lien
4) Duodenum pars superior
5) Hepar
6) Jejunum
7) Ileum
8) Colon transversum
9) Colon sigmoid
10) Caecum
11) Appendix vermiformis
12) Cauda pancreas

b. Organ retroperitoneal
Organ yang berada di dalam cavum abdomen dan sebagian kecil (hanya
1/3 bagian organnya) ditutupi oleh peritoneum visceral sejak lahir
hingga dewasa, meliputi traktur urinarius dan vascular besar, antara
lain:
1) Renal
2) Ureter
3) Vesica urinaria
4) Vena cava inferior
5) Aorta abdominalis
6) Ductus thoracicus
Organ retroperitoneal sekunder
Organ yang berada di dalam cavum abdomen yang awalnya terletak
intraperitoneal kemudian menjadi retroperitoneal, yaitu:
1) Colon ascendens
2) Colon descendens
3) Rectum
4) Pancreas (caput, collum, corpus)
5) Duodenum (pars descendens, transversum, dan descendens)

7. Trauma kepala dan ciri-ciri gambaran radiologi

Fraktur pada Tulang Tengkorak

Fraktur linear

Fraktur
Depresi/Impresi

Fraktur Diastasis

Fraktur yang terjadi pada sutura


sehingga terjadi pemisahan sutura
kranial. Fraktur ini biasa terjadi pada
anak usia di bawah 3 tahun
Fraktur Basis Cranii

Perdarahan Epidural

Hematoma epidural biasanya


dapat dibedakan dari hematoma
subdural dengan bentuk
bikonveks dibandingkan dengan
crescent-shape dari hematoma
subdural. Selain itu, tidak seperti
hematoma subdural, hematoma
epidural biasanya tidak melewati
sutura. Hematoma epidural
sangat sulit dibedakan dengan
hematoma subdural jika
ukurannya kecil

Perdarahan Subdural

Pada fase akut, hematoma


subdural muncul berbentuk
bulan sabit, ketika cukup besar,
hematoma subdural
menyebabkan pergeseran garis
tengah. Pergeseran dari gray
matter-white matter junction
merupakan tanda penting yang
menunjukkan adanya lesi
Perdarahan Subarachnoid

Pada CT scan, perdarahan


subaraknoid (SAH) terlihat mengisi
ruangan subaraknoid yang biasanya
terlihat gelap dan terisi CSF di sekitar
otak. Rongga subaraknoid yang biasanya
hitam mungkin tampak putih di
perdarahan akut. Temuan ini paling
jelas terlihat dalam rongga subaraknoid
yang besar

Perdarahan Intraserebral

Perdarahan intraserebral biasanya


disebabkan oleh trauma terhadap pembuluh
darah, timbul hematoma intraparenkim
dalam waktu ½-6 jam setelah terjadinya
trauma. Hematoma ini bisa timbul pada area
kontralateral trauma. Pada CT scan sesudah
beberapa jam akan tampak daerah
hematoma (hiperdens), dengan tepi yang
tidak rata

Perdarahan Intraserebral diserati perdarahan


intraventrikular

Perdarahan intraventrikular merupakan


penumpukan darah pada ventrikel otak.
Perdarahan intraventrikular selalu timbul
apabila terjadi perdarahan intraserebral. Pada
perdarahan intraventrikular akan terlihat
peningkatan densitas dari gambaran CT scan
kepala. Jika terlambat ditangani, perdarahan
intraventrikular akan menyebabkan terjadinya
ventrikulomegali pada sistem ventrikel
(hidrosefalus) dari gambaran CT scan
Tripod Fracture

Fraktur Le fort

Panah putih: Le fort tipe 1 (through maxilla)

Panah hitam: Le fort type 2 (the medial


orbital wall and orbital floor)
8. Indikasi, kontraindikasi, persiapan dan pelaksanaan pada
a. Colon in Loop
Indikasi
 Colitis : Peradangan / Imflamasi pada mucosa colon.
 Polyp,lesi,tumor,carcinoma.
 Diverticulitis
 Megacolon.
 Invaginasi yaitu masuknya lumen usus bagian proximal ke dalam
lumen usus bagian lebih distal yang diameternya lebih besar,
pemeriksaan ini dilakukan pada pasien anak-anak, sifatnya
sebagai tindakan terapi

Kontraindikasi

1. Perforasi
2. Kolitis berat dimana dinding kolon menjadi sangat tipis dan ditakutkan
dapat terjadi perforasi, NEC
3. Keadaan umum pasien yang jelek
4. Ileus paralitik

Persiapan

a. Mengubah pola makan penderita . Penderita hendaknya memakan


makanan yang mempunyai konsistensi lunak, rendah serat, rendah
lemak.
b. Minum air sebanyak mungkin agar tinja di kolon tetap lembek
c. Pemberian pencahar

Lama persiapan berkisar 1-2 hari tergantung keadaan penderita dan klinis.

Pelaksanaan

Pelaksanaan persiapan:

- Satu hari sebelum pemeriksaan pasien makan bubur kecap


- Jam 22:00 makan malam terakhir
- Jam 22:00 pasien makan garam inggris (MgSO2) dan mulai puasa
- Boleh minum maksimal 100 cc sampai jam 12 malam
- Mengurangi bicara dan merokok untuk menghindari penumpukan
udara dalam seluruh saluran traktus gastrointestinal
Cara pemeriksaan :

1. Media kontras

Kontras yang lazim digunakan ialah larutan barium dengan konsentrasi


antara 70-80 W/V %. Banyaknya (mL) sangat bergantung pada
panjang pendeknya kolon. Umumnya 600-800 mL sudah memadai.

2. Teknik pemeriksaan

Kontras ganda relatif lebih sulit dibandingkan kontras tunggal, karena


harus melalui tahap-tahap tertentu agar hasil radiografi yang
didapatkan benar-benar optimal.

 Tahap pengisian, pengisian larutan barium ke dalam lumen


kolon melalui anus sampai fleksura lienalis atau pertengahan
kolon transversum (namun hal ini tergantung pada panjang
pendeknya kolon). Bagian kolon yang belum terisi dapat diisi
dengan mengubah posisi penderita dari supine menjadi right
decubitus.
 Tahap pelapisan, dengan menunggu 1-2 menit, larutan barium
mendapatkan kesempatan untuk melapisi mukosa kolon dengan
sempurna.
 Tahap pengosongan, sisa larutan barium dalam lumen kolon
dibuang sebanyak yang dapat dikeluarkan dengan memiringkan
penderita ke kiri (left decubitus) dan menegakkan meja
pemeriksaan (upright)
 Tahap pengembangan, dipompakan udara kedalam lumen kolon
sehingga seluruh kolon mengembang sempurna.
 Tahap pemotretan, dilakukan pemotretan atau eksposur
radiografik dengan posisi tergantung pada bentuk kolon dan/atau
kelainan yang ditemukan
Teknik Pemasukan Media Kontras:
- Metode Kontras Tunggal
 Pemeriksaan hanya menggunakan BaSO4 sebagai media kontras.
 Kontras dimasukkan ke kolon sigmoid, desenden, transversum,
ascenden sampai daerah sekum.
 Dilakukan pemotretan full fillng
 Evakuasi, dibuat foto post evakuasi
- Metode Kontras GandaSatu Tingkat
 Kolon diisi BaSO4 sebagian selanjutnya ditiupkan udara untuk
mendorong barium melapisi kolon
 Selanjutnya dibuat foto full filling
- Kontras Ganda Dua Tingkat
 Kolon diisi BaSO4 sampai kira-kira fleksuralienalis atau pertengahan
kolon transversum
 Pasien disuruh merubah posisi agar barium masuk ke seluruh kolon
 Menunggu 1 – 2 menit supaya barium melapisi mukosa kolon
 Pasien disuruh BAB
 Dipompakanudarakedalamkolon=1800–2000ml,tidakboleh berlebihan
karena akan timbul komplikasi : reflex fagal (wajah pucat, bradikardi,
keringat dingin dan pusing)
 Tahap pemotretan
 Pemotretan dilakukan apabila yakin seluruh kolon mengembang
semua
 Posisi pemotretan tergantung dari bentuk dan kelainan serta lokasinya.
 Proyeksi PA, PA oblig & lateral ( rectum )
 Proyeksi AP, AP oblig ( kolon transversum termasuk fleksura)
 ProyeksiPA,PA oblig pasien berdiri (fleksuralienalis dan hepatica)
b. IVP

Indikasi pemeriksaan IVP :


- Batu ginjal
- Batu saluran kemih
- Radang ginjal
- Radang pada saluran kemih
- Batu ureter
- Tumor
- Hipertrofi prostat

Kontraindikasi pemeriksaan IVP:


- Alergi terhadap media kontras
- Pasien yang mempunyai kelainan atau penyakit jantung
- Pasien dengan riwayat atau dalam serangan jantung
- Multimyeloma
- Neonatus
- Diabetes mellitus tidak terkontrol/parah
- Pasien yang sedang dalam keadaan kolik
- Hasil laboratorium ureum<60 mg% dan creatinin <2 mg%
- Persiapan IVP : Pemeriksaan ureum kreatinin (Kreatinin maksimum
2mg%)
Persiapan:
- Malam sebelum pemeriksaan pasien diberi laksansia untuk membersihkan
kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal
- Pasien tidak diberi minum mulai jam22.00 malam sebelum pemeriksaan
untuk mendapatkan keadaan dehidrasi ringan
- Keesokan harinya pasien harus puasa, mengurangi bicara dan merokok
untuk menghindari gangguan udara usus saat pemeriksaan
- Pada bayi dan anak diberi minum yang mengandung karbonat untuk
mendistensikan lambung dan gas
- Pada pasien rawat inap dapat dilakukan lavement (klisma)
- Skin test subkutan untuk memastikan bahwa penderita tidak alergi
terhadap penggunaan kontras
Pelaksanaan IVP :
- Pasien diminta mengosongkan buli-buli
- Dilakukan foto BNO
- Injeksi kontras IV(setelah cek tensi dan cek alergi), beberapa saat dapat
terjadi kemerahan, rasa asin di lidah, sakit kepala ringan, gatal, mual dan
muntah.
- Diambil foto pada menit ke-5, 15, 30 dan 45
- Menit ke-5 : menilai nefrogram dan mungkin sistem pelviokalises (SPC)
- Menit ke-15 : menilai sistem pelviokalises sampai dengan kedua ureter
- Menit ke-30 : Menilai ureter dengan buli-buli
- Menit ke-45 : menilai buli-buli

Setiap pemeriksaan saluran kemih sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto polos
abdomen.Yang harus diperhatikan pada foto polos abdomen ini adalah
bayangan, besar (ukuran), dan posisi kedua ginjal.Dapat pula dilihat kalsifikasi
dalam kista dan tumor, batu radioopak dan perkapuran dalam ginjal.Harus
diperhatikan batas otot Psoas kanan dan kiri.

Foto BNO-IVP polos


Sumber : Radiologi Diagnostik FK UI

Menurut Meschan, digunakan film bucky antero-posterior abdomen setelah


penyuntikan, ulangi pemotretan film antero-posterior abdomen dengan jarak
waktu setelah disuntik kontras intravena,masing-masing adalah :
1. Empat sampai 5 menit :
Dilakukan foto pada 5 menit pertama dengan area jangkauan pada
pertengahan proccecus xyphoideus dan pusat. Foto ini untuk melihat
perjalanan kontras mengisi sistem kalises pada ginjal. Memakai ukuran
kaset 24 x 30 cm dengan posisi antero-posterior sama seperti foto
abdomen. Penekanan ureter dilakukan dengan tujuan untuk menahan
kontras media tetap berada pada sistem pelvikalises dan bagian ureter
proksimal.Penekanan ureter diketatkan setelah dilakukan pengambilan
foto menit kelima.

Foto menit ke-5


Sumber : Radiologi Diagnostik FK UI

2. Delapan sampai 15 menit


Bila pengambilan gambar pada pelvikalises di menit ke lima kurang baik,
maka foto diambil kembali pada menit ke 10 dengan tomografiuntuk
memperjelas bayangan. Menggunakan kaset 24 x 30 cm mencakup
gambaran pelviokaliseal, ureter dan buli-buli mulai terisi media kontras
dengan posisi antero-posterior sama seperti foto abdomen, pertengahan
diantara proccesus xyphoideus dengan umbilicus.
Foto menit ke-15
Sumber : radiologi Diagnostik FK UI

3. Dua puluh lima sampai 30 menit


Setelah menit ke- 30 kompresi dibuka dan diambil gambar dengan
menggunakkan kaset ukuran 30x40 cm. Dibeberapa Rumah Sakit setelah
menit ke -30 diharuskan meminum air yang banyak. Foto ini digunakan
untuk mengevaluasi kemampuan ginjal mensekresikan bahan kontras, tapi
di beberapa Rumah Sakit tidak dengan posisi antero-posterior sama seperti
foto abdomen.

Foto menit ke-30


Sumber : Radiologi Diagnostik FK UI

4. Foto terlambat, jika konsentrasi dan ekskresi sangat kurang pada 1-8 jam
Setelah masuk ke menit 60 dibuat foto BNO lagi dengan kaset 30x40cm.
Setelah hasil rontgen dikonsultasikan pada dokter ahli radiologi dan
dinyatakan normal maka pasien diharuskkan berkemih kemudian di foto
kembali. Jika dokter ahli radiologi menyatakan ada gangguan biasanya
dilakukan foto 2 jam. Dengan posisi AP sama seperti foto abdomen.
Foto menit ke 60 atau lebih
Sumber : Radiologi Diagnostik FK UI

Pada pemotretan menit ke 30 atau 45 IVP telah memasuki fase


sistogram.Pada saat ini kontras telah mengisi Vesica Urinariasehingga VU
Nampak putih. VU kita nilai dindingnya apakah permukaannya rata
(Normal) atau bergelombang (Sistitis/ Radang VU), adakah filling defect
yang Nampak sebagai area radioluscent saat VU terisi kontras
(menunjukkan adanya batu radioluscent jika filling defect permukaan nya
licin dan ikut bergerak saat berpindah posisi, atau adanya tumor atau
massa pada dinding VU jika filling defect permukaannya tidak rata dan
tidak ikut bergerak jika berpindah posisi), indentasi, additional shadow
(menunjukkan adanya batu/massa), dan ekstravasasi kontras yang
menunjukkan adanya ruptur VU (ruptur VU intraperitoneal : kontras
masuk ke cavum peritoneum dan mengalir mengikuti kontur usus,
menyebar ke sulcus paracolica, mengumpul di daerah subfrenik dextra,
subhepatika, inframesokolika dextra-sinistra. Karena urin mengikuti
kontur usus maka akan nampak gambaran berbentuk seperti lengkung
usus halus, sedangkan pada ruptur VU ekstraperitoneal akan terjadi
ekstravasasi kontras ke jaringan lunak sekitar sehingga nampak seperti
bulu di daerah retropubicum kemudian menyebar ke dinding anterior
abdomen dan mengalir ke arah paha, dapat juga mengumpul di jaringan
lemak anterior m.psoas dan naik secara retrograd ke sampai setinggi
ginjal.
5. Foto terakhir biasanya film berdiri atau foto setelah berkemih / Post Void
Yang terakhir lakukan foto postvoid dengan posisi AP supine atau erect
untuk melihat kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah buli-buli.
Dengan posisi erect dapat menunjukan adanya renmobile (perpindahan
posisi ginjal yang tidak normal) pada kasus posthematuri.

Foto Post Void


Sumber : Radiologi Diagnostik FK UI
Fase Post miksi yakni pemotretan yang dilakukan setelah pasien disuruh
berkemih (kencing). Hal ini dilakukan untuk menilai fungsi pengosongan
VU.Apakah terdapat kelainan dalam fungsi pengosongan VU yang
menunjukkan adanya batu, BPH dll. Pada kasus injury diaphragma UG
kontras akan masuk ke scrotum.

9. Kelainan-kelainan pada jantung dan gambaran radiologis


1. ASD
Rontgen dada biasanya menunjukkan temuan non spesifik, seperti
pembesaran atrium kanan, ventrikel kanan, pembuluh darah paru, atrium
kiri, dan segmen proksimal SVC.ASD dapat memberikan gambaran foto
thorax normal dalam tahap awal ketika ASD kecil. Dapat juga
memberikan gambaran tanda-tanda peningkatan aliran paru (peningkatan
aliran paru atau vaskularisasi shunt), pembuluh darah paru membesar,
vaskularisasi upper zone prominen, tanda-tanda akhir dari hipertensi arteri
paru, pembesaran ruang jantung : atrium kanan, ventrikel kanan dengan
catatan atrium kiri normal dalam ukuran dan arkus aorta kecil normal.
Gambaran Thoraks PA pada ASD: sedikit peningkatan pada arteri
pulmonalis marking dengan ukuran jantung yang normal. Segmen arteri
pulmonal utama adalah convex

2. VSD
Temuan pemeriksaan fisik tergantung ukuran VSD. Pasien dengan VSD
tanpa komplikasi biasanya asianotik dan apeks teraba lateral serta
hiperdinamik. Murmur holosistolik berhubungan dengan thrill sistolik dan
terdengar paling jelas di SIC 4-5 di batas jantung kiri dengan penjalaran
ke parasternal kanan. Bunyi S3 dan diastolic rumble juga terdengar karena
ada peningkatan aliran yang melewati katup mitral.

Foto thorax PA pada pasien VSD

3. PDA
Gambaran foto toraks PDA tergantung besar kecilnya PDA yang terjadi.
Bila PDA kecil sekali, gambaran jantung dan pembuluh darah paru normal
Foto Thorak pada pasien dengan PDA kecil

Bila PDA cukup besar, maka gambaran radiologinya:


 Aorta descedens dan arkus tampak normal atau membesar sedikit dan
nampak menonjol pada proyeksi PA
 A. pulmonalis tampak menonjol lebar di samping aorta
 Pembuluh darah paru dan hilus nampak melebar, karena volume darah
yang bertambah
 Pembesaran atrium kiri
 Pembesaran ventrikel kanan dan kiri. Pada orang dewasa, gambaran
radiologi ini tampak jelas, tetapi pada anakanak tidak khas dan sulit
dinilai, karena biasanya jantung anak-anak masilh berbentuk bulat.
Pelebaran pembuluh darah paru untuk sebagian radiografi PA tidak
nampak karena tertutup oleh jantung, terutama di bagian sentral
Radiologi pada pasien dengan PDA cukup besar. Tampak adanya penonjolan
aorta, pembesaran atrium kiri, hipertrofi ventrikel kiri

Bila keadaan telah lanjut dan timbul tanda hipertensi pulmonal, gambaran
radiologinya:
 Pembuluh darah paru bagian sentral melebar.
 Hilus melebar. Pembuluh darah paru perifer berkurang.
 Ventrikel kanan semakin besar karena adanya hipertrofi dan dilatasi.
 Arteri pulmonalis menonjol.
 Aorta descendens lebar dengan arkus yang menonjol.
 Atrium kiri nampak normal kembali. Pembesaran dari arkus aorta di
samping pembesaran a. pulmonalis adalah khas dan dapat dipakai
untuk membedakan PDA dari ASD atau VSD.
Gambaran PDA dengan hipertensi pulmonal. Tampak gambaran khas hipertensi
pulmonal, yaitu pulmonary tree (Hilus melebar, pembuluh darah paru
perifer berkurang)

Kardiomegali dengan dilatasi Arteri Pulmonal. Terlihat pleothora pulmonal


bilateral/dilatasi pembuluh darah paru/pulmonary tree
Terlihat gambaran PDA closure device, terletak pada tempat yang tepat,
kardiomegaly, penebalan kontur arteri pulmonal dan pleothora bilateral

4. Tetralogi of Fallot
Gambaran radiologi khas pada tetralogi of fallot adalah boots shape
appearence

Foto thorax PA pada pasien TOF


5. Coartasio Aorta

Foto thoraks PA pada pasien koartasio aorta

Gambaran radiologik yang ditemukan pada pasien koartasio aorta


termasuklah pembesaran jantung kiri (hipertrofi ventrikel kiri) yang dinilai
dari peningkatan batas jantung kiri (gambar A).Kardiomegali dinilai dari
peningkatan Cardiothoracic Index yang lebih dari 0.5.Ditemukan juga
dilatasi arteri subklavika kiri (anak panah). Di gambar B, terlihat gambaran
penyempitan di aspek inferior tulang iga akibat dilatasi arteri interkosta
(inferior rib notching: Roesler sign)

10. Kelainan dan gambaran radiologi pada pemeriksaan IVP

Kelainan Gambaran Radiologis

Horseshoe Tampak perubahan konfigurasi sistem pelviokalices.


kidney Bayangan ginjal tampak seperti massa di sisi kanan dan
kiri garis tengah yang dihubungkan oleh ismus
Merupakan
anomali dari
fungsi ginjal
Agenesis renal Tampak tidak adanya bayangan ginjal, baik unilateral atau
bilateral.
Bila unilateral, akan tampak hipertrofi ginjal yang ada.
Tampak lying down adrenal sign, yaitu adrenal tampak
memanjang karena tidak adanya ginjal.

Striktur uretra Tampak bagian uretra yang striktur dan tidak terisi kontras

Pyelonefritis Tampak seperti obstruksi traktus urinarius, dan seringkali


disertai adanya gas pada sistem pelviokalices
BPH Tampak indentasi prostat ke arah vesika urinaria. Dapat
berbentuk seperti angka 3 yang telungkup (three prone
sign)

Hidronefrosis Tampak dilatasi sistem pelviokalices

Grade 1 (blunting)
Grade 2 (flattening)

Grade 4 (ballooning)
Grade 3 (clubbing)
Tumor Grawitz Tampak massa yang meluas (ekspansi), berbentuk
tonjolan (contour bulge).
Adanya displacement dari kaliks ginjal.
Akibat efek massa dan kebutuhan perfusi vaskular yang
meningkat: pembesaran ureter dan pelvis ginjal, obstruksi
duktus koligentes dan penurunan fungsi ginjal.
Dapat tampak gambaran hidronefrosis pada massa yang
besar, akibat kompresi dari kaliks mayor, pelvis renalis
dan ureter

Angiomyolipoma Tampak massa yang memiliki bagian lemak, otot polos,


ginjal dan vaskular. Bila terdapat hemoragi, sulit dibedakan
dengan karsinoma ginjal.
Kelainan Gambaran Radiologis

Divertikulosis Tampak beberapa additional shadow pada regio sigmoid

Kolitis Hilangnya lipatan haustral