Anda di halaman 1dari 4

Penegakkan Diagnosis Appendisitis

1. Klinis

 Nyeri tekan pada titik McBurney

 Kocher’s sign: berdasarkan anamnesis pasien, awal mula nyeri pada region
umbilical kemudian bergeser perlahan ke region iliaka kanan

 Obturator sign: Pasien diminta untuk berbaring terlentang kemudian kaki


kanan pasien ditekuk untuk memfleksikan lutut sekitar 90o kemudian putar
sendi paha ke lateral dan media. Jika pasien merasa nyeri abdominal saat
maneuver dilakukan, obturator sign positif.

 Psoas sign: Pasien diminta untuk berbaring terlentang kemudian tangan


pemeriksa diletakkan pada lutut kanan pasien untuk melakukan tahanan.
Pasien kemudian diminta untuk mengangkat lutut kanannya melawan tahanan
yang diberikan pemeriksa. Jika pasien merasa nyeri abdominal saat maneuver
dilakukan, psoas sign positif.

 Rovsing’s sign: Pemeriksa melakukan penekanan dalam menggunakan jari-jari


tangan secara pelan-pelan pada abdomen kuadran kiri bawah. Jika timbul rasa
sakit pada kuadran kanan saat kuadran kiri ditekan maka Rovsing’s sign
positif.

2. Pemeriksaan Darah Lengkap dan Urinalisis

 Leukosit > 10.500 sel/microliter

 Neutrofilia

Pada pasien bayi dan lansia, hitung leukosit tidak terlalu bisa dipercaya karena
pasien-pasien tersebut kemungkinan tidak memberikan respon yang normal terhadap
infeksi. Pada wanita hamil, leukositosis fisiologis tidak dapat digunakan untuk
menegakkan appendisitis.

Urinalisis biasanya dilakukan untuk mengeksklusi diagnosis banding yang


berhubungan dengan saluran kemih. Namun, pada 19% - 40% pasien appendisitis,
dapat juga ditemukan abnormalitas seperti pyuria, bacteriuria, dan haematuria.
3. C-reactive protein

Kadar CRP > 1 mg/dL pada appendisitis.

4. Ultrasonografi atau Sonografi Doppler

Dalam pemeriksaan ultrasonografi (USG), appendiks akan tampak sebagai


struktur yang berlamela, memanjang, dan tak tampak ujungnya. Appendiks yang
mengalami inflamasi akan tampak kaku dan tampak membulat pada gambar
transversum. Pengukuran appendiks dilakukan dengan kompresi penuh. Diagnosis
appendisitis ditegakkan apabila diameter dari appendiks yang telah terkompresi
melebihi 6 mm. Perforasi didiagnosis apabila kontur tampak ireguler atau bila
ditemukan cairan periapendisial.

5. Computed Tomography (CT-Scan)

Gambaran yang dihasilkan dari pemeriksaan computed tomography (CT)


menujukkan adanya appendisitis bila ditemukan perbesaran appendiks > 6 – 9 mm.
Pada kasus berat dengan perforasi, adanya phlegmon atau abses dapat terlihat. Cairan
kental yang menutupi pelvis juga dapat terlihat pada keadaan pus atau kebocoran
enterik.

6. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemeriksaan MRI dilakukan untuk menghindari paparan sinar radiasi,


misalnya pada ibu hamil. Meskipun menunjukkan hasil diagnosis yang baik,
pemeriksaan MRI cukup mahal dan waktu pemeriksaannya sangat lama. Pada MRI
biasanya appendiks akan tampak sebagai struktur tubuler dengan prolongasi
intraluminal T1 dan T2. Appendisitis didiagnosis menggunakan nilai ambang yang
kurang lebih sama dengan CT dan USG. Peradangan akan tampak sebagai
hiperintensitas T2 pada lemak periappendisial.

7. X-Ray (Foto Polos Abdomen)

Pemeriksaan radiografi akan tampak abnormal pada 95% kasus appendisitis.


Gambaran yang mungkin akan ditemukan adalah gambaran faecalith, gas di
appendiks, air-fluid level, atau distensi ileum terminal, sekum, atau kolon asendens
(tanda adanya ileum paralitik terlokalisir), hilangnya bayangan sekum, kekaburan atau
obliterasi dari otot psoas kanan, skoliosis ke kanan dari spina lumbar, adanya densitas
atau gambaran berawan di atasi sendi sakroiliaka kanan, dan udara atau cairan bebas
pada rongga intraperitonial. Appendikolith yang mengalami kalsifikasi juga dapat
ditemukan pada 13% - 22% pasien appendisitis akut

Tatalaksana Appendisitis

1. Unit Gawat Darurat atau Pre Operasi


Pada saat pasien masuk ke UGD dengan kecurigaan appendisitis, segera
lakukan pemasangan intravena dan administrasikan cairan kristaloid (terutama pada
pasien dengan tanda-tanda dehidrasi atau septikemia). Pasien dapat diberikan
analgesik dan antiemetik intravena apabila diperlukan untuk meningkatkan
kenyamanan pasien; sejauh ini tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa
pemberian analgesik dapat mempengaruhi keakuratan pemeriksaan fisik. Puasakan
pasien minimal selama 6 jam, sampai semalaman sebelum administrasi anastesia dan
tindakan operasi. Sebelum semua tindakan operasi appendisitis, pasien harus
diberikan antibiotik profilaksis intravena untuk mencegah penyebaran infeksi intra
abdomen dan komplikasi post operasi di abdomen atau luka insisi. Pasien biasanya
diberikan antibiotik spektrum luas untuk bakteri gram negatif dan anaerobik.
Cefuroxime atau metronidazole biasanya dipilih (atau carbapenem pada pasien
dengan alergi penisilin).
2. Operasi
Appendektomi hingga saat ini masih menjadi satu-satunya penatalaksanaan
kuratif untuk appendisitis. Manajemen untuk pasien dengan massa appendiksial
dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
- Phlegmon atau abses kecil: setelah pemberian antibiotik IV, appendektomi interval
dapat dilakukan 4 – 6 minggu kemudian
- Abses yang lebih besar: setelah dilakukan drainase perkutaneus dengan antibiotik IV,
pasien dapat dipulangkan dengan dipasang kateter; appendektomi interval dapat
dilakukan setelah fistula menutup.
- Abses multikompartemen: pasien membutuhkan operasi drainase segera
Appendektomi dibagi menjadi dua yaitu appendektomi terbuka dan
appendektomi laparoskopi:
- Appendektomi terbuka (laparotomi): prosedur pembedahan ini telah dilakukan lebih
dari satu abad yang lalu sebelum ditemukannya laparaskopi. Prosedur ini mengangkat
appendiks yang terinfeksi melalu satu insisi besar pada area abdomen kanan bawah.
Panjang insisi biasanya dibuat 2 sampai 3 inch. Saat insisi telah membuka rongga
abdomen dan appendiks telah teridentifikasi, dokter akan mengangkat jaringan yang
terinfeksi dan memotong appendiks dari jaringan di sekelilingnya. Setelah
memastikan bahwa tidak ada jaringan sekelilingnya yang mengalami kerusakan atau
gangguan, dokter akan menutup jahitan dengan menjahit otot dan kulit.
- Appendektomi laparoskopi: prosedur pembedahan ini meliputi insisi pada abdomen
sejumlah tiga atau empat, dengan panjang 0,25 – 0,5 inch. Kemudian suatu alat bedah
khusus bernama laparoscope akan dimasukkan melalui salah satu insisi. Laparoscope
tersebut tersambung dengan suatu monitor di luar tubuh pasien dan akan membantu
dokter untuk menginspeksi daerah yang terinfeksi. Dua insisi lainnya dibuat secara
spesifik untuk mengangkat appendiks dengan menggunakan instrumen bedah. Operasi
ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan operasi terbuka yaitu masa
penyembuhan yang lebih singkat, nyeri post-operasi yang lebih ringan, dan tingkat
infeksi lokasi pembedahan superfisial yang lebih ringan. Namun kekurangannya,
tidak semua tempat memiliki fasilitias laparoskopi dan tidak semua dokter bedah
mampu melakukan prosedur ini. Selain itu prevalensi abses intra abdomen pada
prosedur laparoskopi lebih tinggi dibanding prosedur laparotomi.
3. Post Operasi
Setelah operasi, pasien akan diminta untuk rawat inap selama beberapa
minggu sambil dimonitor keadaan tanda vitalnya. Pasien akan diberikan cairan
intravena, analgesik, dan antibiotik bila diperlukan untuk mencegah infeksi post
operasi. Pasien akan dianjurkan untuk duduk di tepi tempat tidur atau berjalan dalam
jarak dekat beberapa kali sehari. Apabila appendiks tidak mengalami rupture, proses
penyembuhan total akan berjalan lebih cepat sekitar 4 – 6 minggu, namun akan
semakin lama bila telah mengalami ruptur.