Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Rumah sakit sebagai salah satu organisasi yang bergerak di bidang

jasa, tentunya mempunyai pelanggan baik internal maupun eksternal.

Pelanggan internal rumah sakit terdiri dari beberapa profesi yang di

antaranya adalah perawat. Menurut UU No.4 Tahun 2009, rumah sakit yaitu

institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat

jalan dan gawat darurat.

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan menjadi isu utama dalam

pembangunan kesehatan baik dalam lingkup nasional maupun global. Hal

itu di dorong karena semakin besarnya tuntutan terhadap unit pelayanan

kesehatan untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan secara prima

terhadap pasien. Dalam pengembangan masyarakat yang semakin kritis,

maka mutu pelayanan akan menjadi sorotan baik untuk pelayanan medis,

keperawatan maupun bentuk pelayanan lainnya (Trimurti, 2008). Menurut

Kemenkes RI (2017) menyatakan bahwa tenaga perawat menempati urutan

jumlah terbanyak 49%. Berdasarkan hal tersebut, manajer keperawatan

harus merencanakan dengan tepat, melakukan penataan secara efektif dan

efisien terhadap tenaga perawat yang menjadi tanggung jawabnya. Di

harapkan penentuan karakteristik pekerjaan berdasarkan pendekatan model

asuhan yang diberikan dapat meningkatkan kepuasan kerja perawat.

Pelayanan keperawatan mempunyai posisi strategi dalam menentukan mutu

1
2

pelayanan kesehatan di rumah sakit karena perawat adalah yang terbanyak

dan yang paling banyak kontak dengan pasien. Perawat sebagai pemberi

jasa keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit, sebab

perawat berada disana dalam 24 jam memberikan asuhan keperawatan.

Perawat dalam melaksanakan tugasnya belum di tunjang dengan sumber

daya manusia yang memadai, sehingga kinerja perawat sering menjadi

sorotan baik oleh profesi lain maupun pasien atau keluarga (Triwibowo,

2013).

Karakteristik Individu adalah karakteristik dari masing-masing

individu (personal) yang meliputi : cirri biografis (usia, jenis kelamin, status

perkawinan, dan masa kerja). Ciri kepribadian, nilai, sikap, persepsi, dan

tingkat kemampuan dasar yang akan mempengaruhi perilaku mereka di

tempat kerja (Robbins, 2009). Sedangkan menurut Sopiah (2008) bahwa

faktor personal misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,

kepribadian, masa kerja dll mempengaruhi komitmen karyawan pada

organisasi Sedangkan dari lima hipotesis yang di ajukan hanya satu yang

terbukti yaitu ada hubungan antara pendidikan perawat dengan kepuasan

kerja perawat.

Menurut Hasibuan (2007) motivasi adalah keinginan yang terdapat

pada diri seorang individu yang merangsang untuk melakukan tindakan-

tindakan. Dengan motivasi, seorang karyawan akan memiliki semangat yang

tinggi dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepadanya. Menurut

Prasojo (2007) motivasi menjadi penting karena dengan motivasi di

harapkan setiap individu bersedia berkerja keras, disiplin dalam menaati


3

berbagai kebijakan dan peraturan, serta antusias untuk mencapai

produktivitas tinggi. Menurut Nursalam (2014) motivasi adalah karakteristik

psikologis manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen

seseorang. Motivasi merupakan faktor yang dapat berubah, motivasi

berkembang sesuai dengan tujuan. (Fahradi, 2008).

Menurut Ravianto (2010) yang mengutip pendapat Robert A.

Sutermeiter dalam Vionita (2007) menyimpulkan bahwa kerja atau prestasi

kerja manusia, 80-90% tergantung kepada motivasinya untuk bekerja dan

10-20% tergantung kepada kemampuannya. Di Amerika Serikat, Kanada,

Inggris, dan Jerman menunjukkan bahwa 41% perawat di rumah sakit

mengalami ke tidak puasan dengan pekerjaannya dan 22% di antaranya

merencanakan meninggalkan pekerjaannya dalam satu tahun (Baumann,

2007). Curtis (2007) melaporkan bahwa perawat mengalami kepuasan kerja

tingkat rendah hingga sedang. Penelitian di Indonesia oleh Wuryanto (2010)

menganalisis efek karakteristik individu terhadap kepuasan kerja para-para

perawat dalam penelitian tersebut di peroleh kesimpulan bahwa karakteristik

individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja para

perawat.

Pada penelitian lain yang di lakukan oleh Nursiani dkk (2010) di

peroleh kesimpulan bahwa karakteristik individu mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap kepuasan kerja. Pendapat lain mengatakan bahwa

kepuasan kerja itu merupakan keadaan emosional karyawan yang terjadi

maupun tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa kerja karyawan dan
4

perusahaan atau organisasi dengan nilai tingkat balas jasa yang memang di

inginkan oleh karyawan yang bersangkutan (Maryoto, 2008).

Penelitian yang di lakukan oleh Fahradi (2008) di RSUD Raty

Zalecha Martapura menunjukkan hasil bahwa umur, jenis kelamin, motivasi

kerja dan kepuasan kerja perawat secara umum mempunyai hubungan

dengan kinerja perawat dengan hasil statistik umur (p-value= 0,016), jenis

kelamin (p-value = 0,002), motivasi kerja (p-value = 0,005) dengan kinerja

perawat. Menurut Mangkunegara (2010) bahwa ada hubungan positif antara

motivasi berprestasi dengan pencapaian kinerja yang berarti pimpinan,

manajer dan pegawai yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan

mencapai kinerja tinggi dan sebaliknya mereka yang kinerjanya rendah di

sebabkan karena motivasi kerjanya rendah.

Kepuasan kerja di pengaruhi oleh beberapa faktor baik internal

maupun eksternal. Teori Dua Faktor dari Herzberg menyatakan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan yaitu faktor intrinstik pekerjaan

dan ekstrinsik pekerjaan (Gitosudarmo & Sudita, 2008). Faktor intrinstik

(job contenf) berkaitan dengan isi pekerjaan yang meliputi prestasi,

pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan, pertumbuhan

dan perkembangan pribadi. Faktor ekstrinsik berkaitan dengan keadaan

pekerjaan (job context) yang meliputi gaji, jaminan pekerjaan ,kondisi kerja,

status, kebijakan, kualitas supervisi, kualitas hubungan antar pribadi dengan

atasan, bawahan, dan sesama pekerja dan jaminan sosial.


5

Kepuasan kerja mengacu kepada sikap individu secara umum

terhadap pekerjaan. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi

mempunyai sikap positif terhadap pekerjaannya, seseorang yang tidak puas

dengan pekerjaannya mempunyai sikap negatif terhadap pekerjaan tersebut

(Robbins, 2009). Locke menyimpulkan dari batasan tersebut bahwa ada dua

unsur penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan

kebutuhan-kebutuhan dasar. Nilai-nilai pekerjaan merupakan tujuan yang

ingin dicapai dalam melakukan individu dikatakan selanjutnya bahwa nilai-

nilai pekerjaan harus sesuai atau membantu pemenuhan kebutuhan dasar

(Munandar, 2007).

Robbin (2009) menyatakan bahwa, “Faktor-faktor yang mudah di

definisikan dan tersedia, data yang dapat di peroleh sebagian besar dari

informasi yang tersedia dalam berkas personalia seorang pegawai

mengemukakan karakteristik individu meliputi usia, jenis kelamin, status

perkawinan banyaknya tanggungan dan masa kerja dalam organisasi”.

Menurut Morrow menyatakan bahwa komitmen organisasi di pengaruhi

oleh karakter personal (individu) yang mencakup usia, masa kerja,

pendidikan dan jenis kelamin (Prayitno, 2007). Faktor usia juga bisa

berpengaruh pada kinerja perawat di lihat dari sejumlah kualitas positif yang

di bawa para pekerja lebih tua pada pekerjaan mereka. Tetapi para pekerja

lebih tua juga di pandang kurang memiliki fleksibilitas dan sering menolak

teknologi baru (Robbins, S.P, 2008). Menurut Nursalam (2008) bahwa

semakin banyak masa kerja perawat maka semakin banyak pengalaman

perawat tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai


6

dengan standart atau prosedur tetap yang berlaku. Notodmodjo (2007)

menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi

akan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi pula jika di bandingkan

dengan orang-orang yang memiliki pendidikan seseorang dapat

meningkatkan kematangan intelektual sehingga dapat membuat keputusan

dalam bertindak.

Kepuasan kerja akan tercapai apabila karyawan dapat mencapai

tiga kedudukan psikologis yang kritis. Kedudukan psikologis tersebut yaitu

pertama, karyawan merasakan pekerjaan sebagai sesuatu yang penting dan

bermanfaat. Kedua, karyawan mengalami bahwa ia bertanggung jawab

terhadap pekerjaan itu secara individu maupun hasil. Ketiga, karyawan

dapat merasakan hasil apa yang dicapai dan apakah hasil tersebut

memuaskan atau tidak (Fahradi, 2008).

Beberapa penelitian tentang kepuasan kerja perawat di

Internasional dan Indonesia antara lain Wang et al 2015 di Shanghai di

ketahui bahwa kepuasan kerja perawat rendah terbesar 60,8%. Kartika 2012

di Bekasi di ketahui bahwa kepuasan kerja perawat yang rendah sebanyak

70,96%. Muhammad 2009 di Medan bahwa kepuasan kerja perawat yang

rendah sebanyak 41,4%. Hasil penelitian masih banyak perawat yang

kurang puas dengan pekerjaannya. Menurut teori faktor mempengaruhi

kepuasan kerja perawat.

Menurut Weiss, et al 2007 Minnesota Satisfaction Questionnaire

(MSQ) ada 20 unsur yang di eksplorasi dan dinilai yaitu : kemampuan,


7

prestasi kerja, aktivitas, pengembangan diri, peningkatan wewenang, sistem

kebijakan organisasi, kopensasi, rekan kerja, kreativitas, otonomi, nilai

normal, penghargaan, tanggung jawab, keamanan, pelayanan sosial, status

sosial, supervisi karyawan, supervisi teknis, variasi kerja dan suasana kerja.

Apabila dua puluh unsur ini tidak tercapai keinginan perawat dalam bekerja

akan menyebabkan ke tidak puasan perawat berdampak negatif di pelayanan

di rumah sakit. Maka faktor ini menentukan perawat dalam pelayanan

asuhan keperawatan yang bermutu.

Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi merupakan rumah

umum milik Pemerintahan Daerah Provinsi Jambi besar lahan 49,581 m²

dengan luas bangunan 12,282 m² dan sebagai rumah sakit umum pendidikan

tipe B sebagai rumah sakit rujukan provinsi Jambi. Rumah sakit ini

memiliki ruang rawat inap terdiri dari 14 ruangan dan ruangan rawat jalan

terdiri dari 12 ruangan rawat jalan.

Kepuasan perawat merupakan hal yang tidak boleh di abaikan oleh

suatu organisasi atau rumah sakit karena kepuasan yang di rasakan oleh

karyawan khususnya perawat merupakan media untuk meningkatkan

semangat kerja (Robbins, 2009). Berdasarkan data ketenagaan kerja

perawat Raden Mattaher di Tahun 2016 di dapatkan data jumlah seluruh

perawat sebanyak 373 perawat. Jumlah perawat yang terbanyak terdapat di

ruang bedah 39 perawat dan ruang penyakit dalam 34 perawat, jadi

jumlahnya 73 perawat.
8

Tabel 1.1
Jumlah Perawat di Instalasi Rawat Inap
RSUD Raden Mattaher Tahun 2015 dan 2016
No Ruangan Jumlah perawat Jumlah perawat
tahun 2015 tahun 2016
1 Mayang Menggurai 23 24
2 Pinang Masak 24 23
3 Kelas 1 23 36
4 Kelas 2 21 34
5 Penyakit Dalam 34 38
6 Bedah 37 44
7 Kebidanan 24 24
8 Anak 25 26
9 Jantung 14 15
10 Saraf 18 19
11 Paru 18 19
12 THT/Mata 18 18
13 PRT/Nicu 28 28
14 Vk 25 25
JUMLAH 332 373
Sumber :RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2016

Berdasarkan tabel diatas jumlah perawat terbanyak di Tahun 2016

yaitu di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam dan Ruang Bedah Rumah

Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi yaitu berjumlah 38 dan 44

perawat.

Tabel 1.2
Data Ketenagaan di Instalasi Rawat Inap Ruang Bedah dan Ruang
Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Tahun 2016
Ruang Bedah Ruang Penyakit Dalam
Jenis Kelamin Jenis Kelamin
Perempuan : 34 orang Perempuan : 30 orang
Laki-laki : 10 orang Laki-laki : 5 orang
Pendidikan Pendidikan
D3 Kep : 36 orang D3 Kep : 29 orang
S1 Kep : 1 orang S1 Kep : 3 orang
Ners : 6 orang Ners : 6 orang
Spk : 1 orang Spk :-
Sumber : RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2016
9

Berdasarkan data jumlah ke tidak hadiran perawat di RSUD Raden

Mattaher Jambi pada periode tahun 2013 dari 297 perawat sebanyak 13%

perawat tidak hadir dengan berbagai alasan izin, dinas luar, cepat pulang

dan alpa. Pada tahun 2014 mengalami penurunan dari 301 perawat

sebanyak 7% ke tidak hadiran, sedangkan pada tahun 2015 kembali

meningkat menjadi sebanyak 15% ke tidak hadiran. Masih tingginya

jumlah ke tidak hadiran perawat akan mempengaruhi kinerja pelayanan di

rumah sakit (SDM RSUD Mattaher Jambi, 2015).

Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti pada

perawat di Ruang Rawat Inap Bedah sebanyak 5 perawat dan Penyakit

Dalam sebanyak 5 perawat Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mataher

pada tanggal 10 April sampai dengan 13 April 2017 dengan melakukan

wawancara. Berdasarkan hasil yang didapat ada 10 perawat yang

mengatakan tidak puas akan sistem pembagian insentif yang di terima saat

ini tidak sesuai pekerjaan yang di lakukan. Dari 10 perawat terdapat 5

perawat mengatakan kurang puas karena fasilitas rumah sakit yang

seadanya dan erdapat 5 perawat mengatakan kurang puas supervisi dari

kepala ruangan yang kurang teratur. Hasil wawancara tentang motivasi

menunjukan hasil sebanyak 4 perawat dari 10 perawat menyatakan

mempunyai motivasi kerja yang baik dan di buktikan dengan pengamatan

penulis bahwa perawat mau berinteraksi dengan klien dan sebanyak 6

perawat kurang mempunyai motivasi kerja yang di buktikan perawat

banyak ngobrol di ruangan perawat.


10

Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti berasumsi bahwa, saat

ini perawat belum puas terhadap insentif dan supervisi yang kurang teratur

yang menjadi salah satu faktor ke tidak kepuasan kerja oleh perawat di

RSUD Raden Matther. Berdasarkan data yang di dapatkan, fenomena dan

wawancara yang di lakukan di RSUD Raden Mattaher, maka peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Motivasi Kerja

dan Karakteristik Perawat Dengan Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana Di

Ruang Rawat Inap Bedah dan Ruang Penyakit Dalam RSUD Radden

Mattaher Jambi Tahun 2017“.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena tersebut maka rumusan masalah

penelitiannya adalah “Apakah ada Hubungan motivasi kerja dan

karakteristik perawat dengan kepuasan kerja perawat pelaksana di ruang

rawat inap bedah dan ruang penyakit dalam RSUD Raden Mattaher Jambi “.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan motivasi kerja dan karakteristik perawat

dengan kepuasan kerja perawat pelaksana ruang rawat inap bedah

dan ruang penyakit dalam di RSUD Raden Mattaher Jambi.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran karakteristik perawat pelaksana yang


meliputi : umur, jenis kelamin, masa kerja, pendidikan, di RSUD
Raden Mattaher Jambi.
11

b. Diketahuinya gambaran motivasi dan kepuasan kerja perawat


pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang penyakit dalam
RSUD Raden Mattaher Jambi.

c. Diketahuinya hubungan antara usia, jenis kelamin, lama kerja,


pendidikan dan motivasi dengan kepuasan kerja perawat
pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang penyakit dalam
RSUD Raden Mattaher Jambi.

d. Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin dengan kepuasan


kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang
penyakit dalam RSUD Raden Mattaher Jambi.

e. Diketahuinya hubungan antara lama kerja dengan kepuasan kerja


perawat pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang penyakit
dalam RSUD Raden Mattaher Jambi.

f. Diketahuinya hubungan antara pendidikan dengan kepuasan kerja


perawat pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang penyakit
dalam RSUD Raden Mattaher Jambi.

g. Diketahuinya hubungan motivasi dengan kepuasan kerja perawat


pelaksana di ruang rawat inap bedah dan ruang penyakit dalam
RSUD Raden Mattaher Jambi.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi terutama bagi

pihak manajemen rumah sakit di bidang keperawatan dalam

menyusun kebijakan yang terkait dengan status keluarga dan

pendidikan dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kepuasan

kerja perawat pelaksana pada ruang bedah dan ruang penyakit dalam

di RSUD Radden Mattaher Jambi.


12

1.4.2 Bagi Perawat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi

perawat, dapat di jadikan saran atau wadah menyampaikan informasi

kepada pihak yang bewenang agar dapat di tindak lanjuti sehingga

dapat mengevaluasi kebijakan yang ada.

1.4.3 Bagi Penelitian lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi bagi

penelitian lain untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan

peran dan fungsi supervisor lainnya di rumah sakit khususnya di ruang

rawat inap.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode

penelitian Cross Sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan

motivasi kerja dan karakteristik individu dengan kepuasan kerja perawat

pelaksana di ruang rawat inap bedah dan penyakit dalam di RSUD Raden

Mattaher Jambi. Penelitian ini telah dilakukan di ruang rawat inap bedah dan

penyakit dalam pada tanggal 15 september s/d 31 oktober Tahun 2017.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang berada diruang

bedah yang berjumlah 39 dan ruang penyakit dalam yang berjumlah 34

perawat dan pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan

teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan

hasil penelitian ini dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji

statistik chi-square.