Anda di halaman 1dari 9

Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur superfisial pada kulit kepala, bulu

mata dengan kecenderungan menyerang tangkai rambut dan folikel – folikel rambut. Penyakit ini
termasuk kepada mikosis superfisialis atau dermatofitosis. Beberapa sinonim yang digunakan
termasuk ringworm of the scalp dan tinea tonsurans. Di Amerika Serikat dan wilayah lain di dunia
insiden dari tinea kapitis meningkat.
Dermatofitosis mempunyai beberapa gejala klinik yang nyata, tergantung pada letak anatomi
dan etiologi agents. Secara klinis dermatofitosis terdiri atas tinea kapitis, tinea favosa (hasil dari
infeksi oleh Trichophyton schoenleinii), tinea corporis ( ringworm of glabrous skin ), tinea imbrikata (
ringworm hasil infeksi oleh T. concentrikum ), tinea unguium ( ringworm of the nail ), tinea pedis (
ringworm of the feet ), tinea barbae ( ringworm of the beard ) dan tinea manum ( ringworm of the
hand).
Di klinis tinea kapitis ditemukan berbeda – beda dari dermatofitosis non inflamasi dengan
sisik mirip dermatitis seboroik sampai inflamasi dengan lesi bersisik yang eritematous dan
kerontokan rambut atau alopesia dan dapat berkembang menjadi inflamasi yang berat berupa abses
yang dalam disebut kerion, ysng mempunyai potensi menjadi jaringan parut dan menyebabkan
alopesia yang menetap. Keadaan penyakit ini tergantung pada interaksi antara host dan agen
penyebab.
1.2 Rumusan Masalah
– Apa pengertian tinea kapitis ?
– Bagaimana epidemiologi tinea kapitis ?
– Bagaimana etiologi tinea kapitis ?
– Bagaimana patogenesis tinea kapitis ?
– Bagaimana manifestasi klinis dari tinea kapitis ?
– Bagaimana cara diagnosis tinea kapitis ?
– Bagaimana cara pencegahan tinea kapitis?
– Bagaimana terapi medis dari tinea kapitis?
– Bagaimana prognosis dari tinea kapitis ?

1.3 Tujuan Penulisan


– Untuk mengetahui pengertian tinea kapitis.
– Untuk mengetahui epidemiologi tinea kapitis.
– Untuk mengetahui etiologi tinea kapitis.
– Untuk mengetahui patogenesis tinea kapitis.
– Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari tinea kapitis.
– Untuk mengetahui cara diagnosis tinea kapitis.
– Untuk mengetahui cara pencegahan tinea kapitis.
– Untuk mengetahui terapi medis dari tinea kapitis.
– Untuk mengetahui bagaimana prognosis dari tinea kapitis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tinea Kapitis
Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies
dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan
kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion. 2 Tinea kapitis lebih
banyak terdapat pada anak-anak prapubertas (preadolescent).
2.2 Epidemiologi
Insiden tinea kapitis masih belum diketahui pasti, tersering di jumpai pada anak-anak 3-14 tahun
jarang pada dewasa, kasus pada dewasa karena infeksi T. Tonsurans dapat dijumpai misalkan
pada pada pasien AIDS dewasa. Transmisi meningkat dengan berkurangnya hiegiene sanitasi
individu, padatnya penduduk, dan status ekonomi rendah.
Insiden tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di medan 0,4% (1996-1998), RSCM besar
Jakarta 0,61- 0,87% tahun 19989-1992, Manado 2,2 -6 % (1990-1991) dan Semarang 0,2%.
Di Surabaya kasus baru Tinea kapitis antara tahun 2001 -2006 insiden nya dibandingkan kasus
baru dermatonikosis dipolidermatomikosis URJ kulit dan kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31
% -1,55 %. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33% anak laki-
laki lebih banyak (54,5%)dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion
(62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. Spesies penyebab
Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton
mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda,
binatang pengerat dan kera ).
2.3 Etiologi
Spesies dermatofit umumnya dapat sebagai penyebab, kecualiE.
floccosum, T.concentricum dan T. mentagrophytes var. interdigitale(T. interdigitale) yang
semuanya jamur antropofilik tidak menyebabkan tinea kapitis dan T. Rubrum jarang. Tinea
kapitis disebabkan oleh trychopphyt canis T. Tonsurans ditularkan melalui kontak antara anak
dengan anak yang dapat menyerang batang rambut yang menyebabkan kerontokkan secara klinis
yang akan dijumpai sebuah atau beberapa bercagak yang budar, berwarna kemudian rambut
menjadi rapuh dan patah atau didekat sehingga meninggalkan bercak – bercak kebotakan. Tiap
negara dan daerah berbeda-beda untuk spesies penyebab tinea kapitis , juga perubahan waktu
dapat ada spesies baru karena penduduk migrasi. Spesies antropofilik (yang hidup di manusia)
sebagai penyebab yang predominan.
2.4 Patogenesis

Dermatofit ektotrik (diluar rambut) infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis,


menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawah kutikula 1 dari pertengahan sampai
akhir anagen saja sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa
intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan
dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa pada
daerah batas ini disebut Adamson’s fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi
menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut.
Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya
sekarang menjadi sangat rapuh sekali. Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang
tampak pada rambut yang patah, walaupun hifa intrapilari ada juga. Patogenesis infeksi endotrik
(didalam rambut) sama kecuali kutikula tidak terkena dan artrokonidia hanya tinggal dalam
batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya
rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding
folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik juga lebih kronis
karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen.

2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis tergantung etiologinya :

1. Bentuk non inflamasi, manusia atau epidemik.


Umumnya karena jamur ektotriks antropofilik, M. audouinii di Amerika dan Eropa
namun sekarang jarang atau M. ferrugineum di Asia. Lesi mula-mula berupa papula kecil yang
eritematus, mengelilingi satu batang rambut yang meluas sentrifugal mengelilingi rambut-rambut
sekitarnya. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Rambut-rambut pada daerah yang
terkena berubah menjadi abu-abu dan kusam sekunder dibungkus artrokonidia dan patah
beberapa milimeter diatas kepala. Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah yang
berbatas jelas pada daerah oksiput atau leher belakang.
Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksiMicrosporum. Ini berhubungan dengan
mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi sebum dengan meningkatnya asam
lemak-lemak yang fungistatik, bahkan asam lemak yang berantai medium mempunyai efek
fungistatik yang terbesar. Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur
seperti M. audouinii.

2. Bentuk inflamasi
Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau geofilik (M.gypseum).
Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai kerion yaitu pembengkakan yang dipenuhi
dengan rambut-rambut yang patah-patah dan lubang-lubang folikular yang mengandung pus3.
Inflamasi seperti ini sering menimbulkan alopesia yang sikatrik. Lesi keradangan biasanya gatal
dan dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan lesi tambahan pada kulit halus.

3. Tinea Kapitis black dot/ Black dot Ring Worm


Bentuk ini disebabkan karena jamur endotrik antropofilik, yaituT. tonsurans atau T.
violaceum. Rontok rambut dapat ada atau tidak. Bila ada kerontokan rambut maka rambut-
rambut patah pada permukaan kepala hingga membentuk gambaran kelompok black dot.
Biasanya disertai skuama yang difus; tetapi keradangannya bervariasi dari minimal sampai
folikulitis pustula atau lesi seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang terkena biasanya

Berdasarkan bentuk yang khas, tinea kapitis dibagi dalam empat bentuk:
1. Gray pacth ring worm
Penyakit ini dimulai dengan papel merah kecil yang melebar kesekitarnya dan
membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak
mengkilat lagi dan mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga menimbulkan alopesia
setempat. Dengan pemeriksaan dengan sinar wood tampak flourisensi kekuning-kuningan pada
rambut yang sakit melalui batas gray pacth tersebut. Jenis ini biasanya disebabkan spesies
mikrosporon dan trikofiton.
2. Black dot ring worm
Terutama disebabkan oleh trikofiton tonsuran, T.Violaseum dan T.Mentagrofites. Infeksi
jamur terjadi dalam rambut (endotrik) atau diluar rambut atau (ektotrik) yang menyebabkan
rambut putus tepat pada permukaan kulit kepala.
Ujung rambut tampak sebagai titik-titik hitam diatas permukaan kulit yang bewarna
kelabu, sehingga tampak sebagai gambaran “black dot”. Biasanya bentuk ini terdapat pada orang
dewasa dan sering terjadi pada wanita. Rambut sekitar lesi juga jadi tidak bercahaya lagi
disebabkan kemungkinan sudah terkena infeksi.
3. Kerion
Bentuk ini adalah bentuk yang serius, karena disertai radang yang hebat yang bersifat
lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan kadang-kadang
ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah ini putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini
menyembuh akan meninggalkan suatu daerah yang botak permanen oleh karena terjadi sikatrik.
Bentuk ini disebabkan oleh mikrosporon kanis, M.gipseum , trikofiton tonsuran dan
T.Violaseum.
4. Tinea favosa
Kelainan dikepala dimulai dengan bintik-bintik kecil dibawah kulit yang bewarna merah
kekuningan dan berkembangan menjadi krusta yang berbentuk cawan (skutula), serta memberi
bau busuk seperti bau tikus “moussy odor”. Rambut diatas skutula putus-putus dan mudah lepa
dan tidak mengikat lagi.
Bila menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen.
Penyebab utamanya adalah trikofiton schoenleini, T.violaseum, dan T.gipsum. oleh karena tinea
kapitis ini sering menyerupai penyakit-penyakit kulit yang menyerang daerah kepala, maka
penyakit ini harus dibedakan dengan penyakit-penyakit bukan oleh jamur seperti :
1. Tsoriasis vulgaris
2. Dermatitis seboroika
3. Trikoti lomania
2.6 Diagnosis

1. Gejala Klinis
Dipertimbangkan diagnosis tinea kapitis bila:
Pada anak-anak dengan kepala berskuama, alopesia, limfadenopati servikal posterior
atau limfadenopati aurikuler posterior atau kerion. Juga termasuk pustul atau
abses,dissecting cellulitis atau black dot.

2. Pemeriksaan penunjang

2.1. Pemeriksaan Lampu Wood


Rambut yang tampak dengan jamur M. canis, M. audouinii danM.ferrugineum mem-
berikan fluoresen warna hijau terang oleh karena adanya bahan pteridin. Jamur lain
penyebab tinea kapitis pada manusia memberikan fluoresen negatif artinya warna tetap
unguyaitu M. gypsium dan spesies Trichophyton (kecuali T. Schoenleinii pe-nyebab
tinea favosa memberi fluoresen hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur
yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi.

2.2. Pemeriksaan sediaan KOH

Kepala dikerok dengan objek glas, atau skalpel no.15. Juga kasa basah digunakan
untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan rambut atau pangkal
rambut dicabut yang ditaruh di objek glas selain skuama, KOH 20% ditambahkan dan
ditutup kaca penutup. Hanya potongan rambut pada kepalaharus termasuk akar
rambut, folikel rambut dan skuama kulit. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia.
Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut-rambut yang
lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur7. Pada pemeriksaaan mikroskop akan
tampak infeksi rambut ektotrik yaitu pecahan miselium menjadi konidia sekitar batang
rambut atau tepat dibawah kutikula rambut dengan kerusakan kutikula. Pada infeksi
endotrik, bentukan artrokonidia yang terbentuk karena pecahan miselium didalam
batang rambut tanpa kerusakan kutikula rambut.

2.3. Kultur

Memakai swab kapas steril yang dibasahi akua steril dan digosokkan diatas kepala
yang berskuamaatau dengan sikat gigi steril dipakai untuk menggosok rambut-rambut
dan skuama dari daerah luar di kepala, atau pangkal rambut yang dicabut langsung ke
media kultur. Spesimen yang didapat dioleskan di
media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose agar + khloramfenikol +
sikloheksimid) atau Dermatophyte test medium (DTM). Perlu 7 – 10 hari untuk mulai
tumbuh jamurnya. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh
karena ada bahan fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur
dematofit positif.
2.7 Pencegahan
1. Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada
anak-anak lain.
2. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila perlu dikultur
3. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung
bantal dan lain yang dipakai dikepala.
4. Anak-anak kontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan ke dokter/rumah sakit bila
anak-anak terdapat kerontokan rambut yang disertai skuama. Dapat diperiksa dengan
lampu Wood.
5. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 3-6 bulan.
Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen.
6. Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka dan pakaian
pasien, dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebik baik dibuang.
7. Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi
ke sekolah.
8. Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala.
2.8 Terapi Medis

1. Terapi Utama
Pengobatan yang ideal dan cocok untuk anak-anak adalah sediaan bentuk likuid, terasa enak,
terapi singkat, keamanan yang baik dan sedikit interaksi antar obat.
– Tablet Griseofulvin
– Tablet microsize (125, 250, 500mg) 20 mg / Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu
– Tablet ultramicrosize (330mg) 15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu
Diminum bersama susu atau es krim oleh karena absorbsinya dipercepat dengan makanan
berlemak.
– Semua baik untuk karena Microsporum maupun Trichophyton. Pemberian pertama untuk 2
minggu kemudian dilakukan pemeriksaan lampu Wood, KOH dan kultur.
– Kapsul Itrakonazol (100 mg) dosis 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6 minggu.
– Terapi denyut dosis 5 mg/Kg BB/ hari selama 1 minggu, istirahat 2 minggu/siklus.
– Tablet Terbinafin (tablet 250 mg).
– Tablet Flukonazo.

2. Terapi Ajuvan

– Shampo
Shampo obat berguna untuk mempercepat penyembuhan, mencegah kekambuhan
dan mencegah penularan, serta membuang skuama dan membasmi spora viabel, diberikan
sampai sembuh klinis dan mikologis.
a. Shampo selenium zulfit 1% – 1,8% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru
dicuci.
b. Shampo Ketokonazole 1% – 2% dipakai 2-3 kali/ minggu didiamkan 5 menit baru
dicuci.
c. Shampo povidine iodine dipakai 2 kali / minggu selama 15 menit.
Setelah menggunakan shampo diatas maka dianjurkan memakai Hair
Conditioner dioleskan dirambutnya dan didiamkan satu menit baru dicuci air. Hal ini
untuk membuat rambut tidak kering. Juga shampo ini dipakai untuk karier asimptomatik
yaitu kontak dekat dengan pasien, seminggu 2 kali selama 4 minggu.
Karena asimptomatik lebih menyebarkan tinea kapitis disekolah atau penitipan anak yang
kontak dekat dengan karier daripada anak-anak yang terinfeksi jelas.

– Terapi Kerion
Pengobatan optimal kerion tidak jelas apakah perlu dengan obat oral antibiotika dan
kortikosteroid sebagai terapi ajuvan dengan griseofulvin. Beberapa penelitian menyatakan :
a. Kerion lebih cepat kempes dengan kelompok yang menerima griseofulvin saja.
b. Sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih / hilang dengan kelompok yang menerima ke 3
obat yaitu griseofuvin, antibiotika dan kortikosteroid oral.
c. Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik. Juga bermanfaat menyembuhkan
nyeri dan pembengkakan3,17. Dosis prednison 1 mg/Kg BB/pagi untuk 10-15 hari pertama
terapi.
d. Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama bila dijumpai banyak krusta.

2.9 Prognosis

Tinea kapitis tipe Gray patch sembuh sendirinya dengan waktu, biasanya permulaan
dewasa. Semakin meradang reaksinya, semakin dini selesainya penyakit, yaitu yang zoofilik (M.
canis, T. mentagrophytes dan T. verrucosum) . Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan normal
penyakit tanpa pengobatan. Namun pasien menyebarkan jamur penyebab kelain anak selama
waktu infeksi. Sebaliknya infeksi endotrik menjadi kronis dan berlangsung sampai dewasa.
T. violacaum, T. tonsurans menyebabkan infeksi tetap, pasien menjadi vektor untuk
menyebarkan penyakit dalam keluarga dan masyarakat1, pasien seharusnya cepat diobati secara
aktif untuk mengakhiri infeksinya dan mencegah penularannya.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Tinea kapitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur superfisial pada kulit kepala, bulu
mata dengan kecenderungan menyerang tangkai rambut dan folikel – folikel rambut. Penyakit ini termasuk
kepada mikosis superfisialis atau dermatofitosis. Tinea kapitis sering terjadi pada anak-anak dengan
bermacam-macam gejala klinis. Tinea kapitis disebabkan oleh trychopphyt canis T. Tonsurans
ditularkan melalui kontak antara anak dengan anak yang dapat menyerang batang rambut yang
menyebabkan kerontokkan secara klinis yang akan dijumpai sebuah atau beberapa bercagak
yang budar, berwarna kemudian rambut menjadi rapuh dan patah atau didekat sehingga
meninggalkan bercak – bercak kebotakan.
Keadaan penduduk yang padat menyimpan jamur penyebab dan adanya karier
asimtomatis yang tidak diketahui menyebabkan prevalensi penyakit. Tablet griseofulvin adalah
pengobatan yang efektif dan aman, sebagai obat lini pertama (gold standard). Obat lini kedua
yaitu Itrakonazol, terbinafin atau kalau terpaksa dengan flukonazol diberikan untuk pasien yang
tidak sembuh dengan griseofuvin, atau dapat sebagai obat jamur lini pertama. Terapi ajuvan
dengan shampo anti jamur untuk membasmi serpihan (fomites) yang terinfeksi, mengevaluasi
serta penanganan kontak yang dekat dengan pasien. Tinea kapitis tipe Gray patch sembuh
sendirinya dengan waktu, biasanya permulaan dewasa. Semakin meradang reaksinya, semakin
dini selesainya penyakit, yaitu yang zoofilik (M. canis, T. mentagrophytes dan T. verrucosum) .
Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan normal penyakit tanpa pengobatan. Namun pasien
menyebarkan jamur penyebab kelain anak selama waktu infeksi. Sebaliknya infeksi endotrik
menjadi kronis dan berlangsung sampai dewasa.

3.2 Saran

Sebaiknya dilakukan diagnosa terlebih dahulu sebelum penyakit ini masuk kedalam
tubuh manusia sehingga dapat diatasi secara cepat sebelum penyakit ini bertambah lebih parah.
Diagnosa yang dapat dilakukan adalah dengan cara pemeriksaan gejala klinis dan pemeriksaan
penunjang serta dapat dilakukan dengan cara Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter
hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain. Mencari kontak manusia atau keluarga, dan bila
perlu dikultur. Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung
bantal dan lain yang dipakai dikepala.Anak-anakkontak disekolah atau penitipan anak diperiksakan
ke dokter/rumah sakit bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang disertai skuama. Dapat
diperiksa dengan lampu Wood. Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan,
sering perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen.
Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka dan pakaian pasien, dan
sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebik baik dibuang. Begitu pengobatan dimulai
dengan obat anti jamur oral dan shampo, pasien dapat pergi ke sekolah.Tidak perlu pasien mencukur
gundul rambutnya atau memakai penutup kepala. Namun apabila sudah terkena penyakit ini maka
segera melakukan terapi secara medis.