Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI DI RUANG CEMPAKA 2


RSUD dr. LOEKMONO HSDI KUDUS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Dasar


Kebutuhan Dasar Manusia

Disusun Oleh

DANU ARIYANTO
NIM 1820161017

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS
2017
Kebutuhan Dasar Manusia: Gangguan Oksigenasi
1. Anatomi Pernapasan

a) Hidung
Hidung terdiri dari hidung eksterna dan rongga hidung di belakang hidung eksterna.
Hidung eksterna terdiri dari tulang kartilago sebelah bawah dan tulang hidung di
sebelah atas ditutupi bagian luarnya dengan kulit dan pada bagian dalamnya dengan
membran mukosa.Rongga hidung memanjang memanjang dari nostril pada bagian
depan ke apertura posterior hidng, yang keluar ke nasofaring bagian belakang.Septum
nasalis memisahkan kedua rongga hidung. Septum nasalis merupakan struktur tipis
yang terdiri dari tulang kartigo, biasanya membengkok ke satu sisi atau salah satu sisi
yang lain, dan keduanya dilapisi oleh membran mukosa. Dinding Lateral dari rongga
hidung sebagian dibentuk oleh maksila, palatum dan os sphenoid.Konka superior,
Inferior dan media (turbinasi hidung) merupakan tiga buah tulang yang melengkung
lembut melekat pada dinding lateral dan menonjol ke dalam rongga hidung. Ketiga
tulang tersebut tertutup oleh membran mukosa. Sinus paranasal merupakan ruang
pada tulang kranial yang berhubungan melalui ostium ke dalam rongga hidung. Sinus
tersebut ditutupi oleh membran mukosa yang berlanjut dengan rongga hidung.
Ostium ke dalam rongga hidung. Lubang hidung, sinus sphenoid, diatas konkha
superior. (Syaifuddin, 2008)

b) Faring
Faring atau tenggorok merupakan struktur sperti tuba yang menghubungkan
hidung dan rongga mulut ke laring. Adenoid atau tonsil faring terletk dalam langit-
langit nasofaring . Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus
respiration dan digestif (Brunner & Suddarth. 2002)
c) Laring
Laring merupakan pangkal tenggorok merupakan jalinan tulang rawan yamg
dilengkapi dengan otot, membrane, jaringan ikat, dan ligamentum . Sebelah atas
pintu masuk laring membentuk tepi epiglottis, lipatan dari epiglottis ariteroid dan piat
intararitenoid, dan sebelah tepi bawah kartilago krikoid. Fugsi laring sebagai
vokalalisasi yang menilabtaknsistem pernapasan yang meliputi pusat khusus
pengaturan bicara dalam kortek serebri, pusat respirasi di dalam batang otak,
artikulasi serta resonansi dari mulut dan rongga hidung. (Syaifuddin, 2008)

d) Trakea
Trakea adalah tabung berbentuk pipa seperti huruf C yang dibentuk oleh tulang-
tulang rawan yang disempurnakan oleh selaput, terletak di antara vertebrae servikalis
VI sampai ke tepi bawah ketilago krikoidea vertebra torakalis V. Panjangnya kira-
kira 13 cm dan diameter 2,5 cm dilapisi oleh otot polos, mempunyai dinding
fibroealitis yang tertanam dalam balok-balok hialin yang mempertahankan trakea
tetap terbuka.

e) Bronkus
Bronkus merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus terdapat pada ketinggian
vertebra torakalis IV dan V. Bronkus mempunyai struktur sama dengan trakea dan
dilapisi oleh sejenis sel yang sama dengan trakea dan berjalan ke bawah kearah
tumpuk paru. Bagian bawah trakea mempunyai cabang 2, kiri dan kanan yang
dibatasi oleh garis pembatas.
f) Pulmo (Paru-paru)
Pulmo atau paru merupakan salah satu organ pernapasan yang berada didalam
kantong yang dibentuk oleh pleura parietalis dan pleura viseralis. Kedua paru sangat
lunak, elastic, dan berada dalam rongga torak. Sifatnya ringan dan terapung di dalam
air. Paru berwarna biru keabu-abuan dan berbintik-bintik karena partikel-partikel
debu yang masuk termakan oleh fagosit. Fungsi utama paru-paru adalah untuk
pertukaran gas antara udara atmosfer dan darah. Dalam menjalankan fungsinya, paru-
paru ibarat sebuah pompa mekanik yang berfungsi ganda, yakni menghisap udara
atmosfer ke dalam paru (inspirasi) dan mengeluarkan udara alveolus dari dalam
tubuh (ekspirasi). ( Syafudin, 2008)
2. Fisiologi Pernafasan
Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi, yakni : ventilasi, perfusi dan difusi (Potter
& Perry, 2006).
a) Ventilasi
Ventilasi merupakan proses untuk menggerakan gas kedalam dan keluar paru-
paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan throak yang elastic dan
persarafan yang utuh. Otot pernapasan yang utama adalah diagfragma(Potter & Perry,
2006). Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru,
jumlahnya sekitar 500 ml. Udara yang masuk dan keluar terjadi kare.na adanya
perbedaan tekanan antara intrapleural lebih negative (752 mmHg) daripada tekanan
atmofer (760 mmHg) sehingga udara akan masuk ke alveoli.
1. Kerja Pernapasan
Pernafasan adalah upaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan
membuat paru berkontraksi. Kerja pernafasan ditentkan oleh tingkat kompliansi
paru, tahanan jalan nafas, keberadaan ekspirasi yang aktif, dan penggunaan otot-
otot bantu pernafasan.
Kompliansi menurun pada penyakit, seperti edema pulmonar, interstisial,
fibrosis pleura, dan kelainan struktur traumatic, atau congenital seperti kifosis
atau fraktur iga.
Tahanan jalan nafas dapat mengalami peningkatan akibat obstruksi jalan
nafas, penyakit di jalan nafas kecil (seperti asma), dan edema trakeal. Jika
tahanan meningkat, jumlah udara, jumlah udara yang melalui jalan nafas
anatomis menurun. Ekspirasi merupakan proses pasif normal yang bergantung
pada property recoil elastic dan membutuhkan sedikit kerja otot atau tidak sama
sekaliVolume Paru
Volume paru normal diukur melalui pemeriksaan fungsi pulmonary.
Spirometer mengukur volume paru yang memasuki atau yang meninggalkan
paru-paru. Variasi volume paru dapat dihubungkan dengan status kesehatan,
seperti kehamilan, latihan fisik, obesitas, atau kondisi paru yang obstruktif.
Jumlah surfaktan, tingkat kompliansi, dan kekuatan otot bantu pernafasan
mempengaruhi tekanan dan volume di dalam paru-paru.

2. Tekanan
Gas bergerak ke dalam dan keluar paru karena ada perubahan tekanan.
Tekanan intrapleura bersifat negative atau kurang dari tekanan atmosfer yakni
760 mmHg pada permukaan laut. Supaya udara mengalir ke dalam paru-paru,
maka tekanan intrapleura harus lebih negative dengan gradient tekanan antara
atmosfer dan alveoli
b) Perfusi
Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk
dioksigenasi, di mana pada sirkulasi paru adalah darah dioksigenasi yang mengalir
dalam arteri pulmonaris dri ventrikel kanan jantung. Darah ini memperfusi paru
bagian respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida
di kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Sirkulasi
paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi volume darah yang besar
sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan volume atau
tekanan darah sistemik.
c) Difusi
Difusi merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang
lebih tinggi kedaerah degan konsentrasi yang lebih rendah. Difusi gas pernafasan
terjadi di membrane kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipegaruhi oleh
ketebalan membrane.
3. Konsep Dasar
a. Pengertian
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar.Keberadaan
oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme
dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. ( Andarmoyo,
sulistyo 2012).
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme
untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Oksigen akan digunakan
dalam metabolisme sel membentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang merupakan sumber
energi bagi sel tubuh agar berfungsi secara optimal. Terapi oksigen merupakan salah satu
terapi pernafasan dalam mempertahankan oksigenasi. Tujuan dari terapi oksigen adalah
untuk memberikan transpor oksigen yang adekuat dalam darah sambil menurunkan upaya
bernafas dan mengurangi stress pada miokardium( Potter & Perry 2006).

Kebutuhan Oksigen
Kapasitas (daya muat) udara dalam paru-paru adalah 4.500-5.000 ml (4,5-5,1). Udara yang
diproses dalam paru-paru hanya sekitar 10% (  500ml), yakni yang dihirup (inspirasi) dan
yang dihembuskan (ekspirasi) pada pernafasan biasa (Mubarak, 2008).
Nilai-Nilai Normal Perkembangan pada Pernafasan
Keterangan Bayi Dewasa
Frekuensi pernafasan (RR) 30- 60 x 16-20x

Pola nafas Kedalaman dan Pernafasan dada


frekuensitidak teratur teratur
Pernafsan perut

Bunyi nafas Keras, terdengar kasar Bersih


pada akhir ispirasi

Bentuk dada Bundar Elips

Perubahan Fungsi Pernapasan


Perubahan dalam fungsi pernapasan disebabkan penyakit dan kondisi-kondisi yang
mempengaruhi ventelasi dan transport oksigen.
a) Hiperventilasi
Hiperventilasi meerupakan suatu kondisi ventilasi yang berlebihan yang dibutuhkan
untuk mengeleminasi kerbondioksida normal di vena yang diproduksi melalui
metabolism seluler. Hieprventilasi bisa disebabkan oleh ansietas, infeksi, obat-
obatan, ketidakseimbangan asam-basadan hipoksia yang dikaitkan dengan embolus
paru atau syok. Hiperventilasi juag dapat ketika tubuh berusaha mengompensasi
asidosis metabolic dengan memproduksi alkalosis repiratorik. Tanda dan gejala
hiperventilasi adlaah takikardi, nafas pendek, nyeri dada, pusing, disorientasi, tinnitus
dan penglihatan yang kabur.
b) Hipoventilaasi
Tertjai ketika ventilasi alveolar tidak adekuat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh
atau mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Tanda dan gejala hipoventilasi
adalah pusing, nyeri kepala, letargi, disorientasi, koma dan henti jantung. Terapi
umtuk penanangan hiperventilasi dan hipoventilasi dimulai dengan mengobati
penyebab yang mendasaro gangguan tersebut, kemudian ditingkatkan oksigenasi
jaringan, perbaikan fungsi ventilasi, dan upaya keseimbangan asam basa.
c) Hipoksia
Hipoksia adalah oksigenasi yang tidak adekuat pada tingkat jaringan Kondisi ini
terjadi akibat defesiensi pengahantaran oksigen atau penggunaan oksigen diseluler.
Hipoksia disebabkan oleh penuruanan kadar hemoglobin dan penuruna kapasitas
darah yang membawa oksigen, penuruan konsentrasi oksigen yang diinspirasi,
ketidakmampuan jaringan untuk mengambil oksigen dari darah seperti terjadi pada
kasus keracunan sianida. Penurunan difusi oksigen dari alveoli ke darah, seperti
terjadi pada pada kasus
Pneumonia, perfusi darah yang mengandung oksigen jaringan yang buruk, sperti pada
syok dan keruskan vemtilasi. Tanda dan gejala hipoksia termsuk rasa cemas, gelisah,
tidak mampu berkonsentrasi, penurunan tingkat kesadaran, pusing perubahan prilaku,
pucat dan sianosis.
b. Etiologi
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami gangguan oksigenasimenurut
NANDA (2015),yaitu hiperventilasi, hipoventilasi, deformitas tulang dan dinding dada,
nyeri,cemas, penurunan energy,kelelahan, kerusakan neuromuscular, kerusakan
muskoloskeletal, kerusakan kognitif / persepsi, obesitas, posisi tubuh, imaturitas
neurologis kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler-alveoli.
c. Tanda & gejala (NANDA,2015)
- Suara napas tidak normal.
- Perubahan jumlah pernapasan.
- Batuk disertai dahak.
- Penggunaan otot tambahan pernapasan.
- Dispnea.
- Penurunan haluaran urin.
- Penurunan ekspansi paru.
- Takhipnea
d. Patofisiologi
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi. Proses ventilasi
(proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru),
apabila pada proses ini terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik
dan sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan
pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke jaringan) yang
terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas. Selain kerusakan pada
proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada transportasi seperti perubahan volume
sekuncup,afterload, preload, dan kontraktilitas miokard juga dapat mempengaruhi
pertukaran gas (Brunner & Suddarth, 2002).
e. Pathway
Obstruksi dispnea yang disebabkan oleh berbagai etiologi

Fungsi pernafasan Terganggu

Ventilasi pernafasan obstruksi jalan nafas perubahan volume sekuncup


Pengeluaran mukus berlebihan after load serta kontraktilitas

Hipoventilasi/ bersihan jalan nafas tidak efektif terganggunya difusi


Hipoventilasi pertukaran O2 dan CO2 alveoli

Takipnea/bradipnea gangguan pertukaran gas

Pola nafas tidak efektif

f. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
Saat melakukan inspeksi perawat melakukan oservasi dari ujung kepala sampai kaki
klien untuk mengkaji kulit dan warna membarn mukosa, penampilan umum, tingkat
kesadaran, keadekuatan sirkulasi sistemik, pola pernapasan dan gerakan dinding
dada.
b) Palpasi
Palpasi dilakukan untuk mengkaji beberapa daerah. Dengan palpasi, jenis dan jumlah
kerja thorak, daearah nyeri, tekan dapat diketahui dan perawat dapat mengidentifikasi
taktil fremitis, getaran dada, angkatan dada dan titik impuls maksimal.
c) Perkusi
Perkusi adalah tindakan mengetuk-ngetuk suatu objek untuk menentukan adanya
udara, cairan, atau benda padat di jaringan yang berada di bawah objek tersebut.
d) Auskultasi
Penggunaan auskultasi memampukan perawat mengidentifikasi bunyi paru dan
jantung yang normal maupun yang tidak normal.

2. pemeriksaan Laboratorium
a) Elektrokardiogram
Elektrokardiogram ( EKG ) menghasilkan rekaman grfaik aktivitas listrik jantung,
mendeteksi transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
b) Pemeriksaan fungsi paru
Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas secara
efisien.
c) Pemeriksaan gas darah arteri
Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane kapiler alveolar
dan keadekuatan oksigenasi.
d) Oksimetri
Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler
e) Pemeriksaan sinar x dada
Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses abnormal.
f) Bronkoskopi
Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel sputum/benda asing yang
menghambat jalan nafas.
g. Penatalaksanaan medis
1. Penatalaksanaan medis
a) Pemantauan Hemodinamika
b) Pengobatan bronkodilator
c) Melakukan tindakan delegatif dalam pemberian medikasi oleh dokter, misal:
nebulizer, kanula nasal, masker untuk membantu pemberian oksigen jika
diperlukan.
d) Penggunaan ventilator mekanik
e) Fisoterapi dada
2. Penatalaksanaan keperawatan
1) Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
a) Pembersihan jalan nafas
b) Latihan batuk efektif
c) Pengisafan lender
d) Jalan nafas buatan
2) Pola Nafas Tidak Efektif
a) Atur posisi pasien ( semi fowler )
b) Pemberian oksigen
c) Teknik bernafas dan relaksasi
3) Gangguan Pertukaran Gas
a) Atur posisi pasien ( posisi fowler )
b) Pemberian oksigen
c) Pengisapan lender
3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Keadekuatan sirkulasi, ventelasi, perfusi, dan transport gas – gas pernapasan kejaringan
dipengaruhi oleh empat tipe factor :
a. Faktor fisiologis
Tabel 1. Proses Fisiologis yang Mempengaruhi Oksigenasi (Potter & Perry, 2006)

PROSES PENGARUH PADA OKSIGENASI

Anemia Menurunkan kapasitas darah yang


membawa oksigen

Racun inhalasi Menurunkan kapasitas darah yang


membawa oksigen

Obstruksi jalan nafas Membatasi pengiriman oksigen yang


diinspirasi ke alveoli

Dataran tinggi Menurunkan konsentrasi oksigen


inspirator karena konsentasi oksigen
atmosfer yang lebih rendah.

Demam Meningkatkan frekuensi metabolism dan


kebutuhan oksigen di jaringan.

Penurunan pergerakan dinding dada Mencegah penurunan diafragma dan


(kerusakan muskulo) menurunkan diameter anteroposterior
thoraks pada saat inspirasi, menurunkan
volume udara yang diinspirasi.

Adapun kondisi yang mempengaruhi gerakan dinding dada :


1. Kehamilan
Ketika fetus mengalami perkembangan selama kehamilan, maka uterus maka
uterus yanb berukuran besar akan mendorong isi abdomen ke atas diagfragma.
2. Obesitas
Klien yang obese mengalami penurunan volume paru. Hal ini dikarenakan thorak
dan abdomen bagian bawah yang berat.
3. Kelainan musculoskeletal
Kerusakan muskulosetal di region thorak menyebabkan penurunan oksigenasi.
4. Konfigurasi structural yang abnormal
5. Trauma
6. Penyakit otot
7. Penyakit system persarafan
8. Perubahan system saraf pusat
9. Pengaruh penyakit kronis.
10. Faktor Perkembangan
a) Bayi Prematur
Bayi premature : berisiko terkena penyakit membrane hialin, yang diduga
disebabkan defisiensi surfaktan.

b) Bayi dan Todler


Bayi dan toddler : berisiko mengalami infeksi saluran pernafasan atas
(ISPA) hasil pemaparan dari anak-anak lain dan pemaparan asap dari rokok.
Selain itu, selama proses pertumbuhan gigi, beberapa bayi berkembang
kongesti nasal yang memungkinkan pertumbuhan bakteri dan meningkatkan
potensi terjadinya ISPA. ISPA yang sering doalami adalah nasofaringitis,
faringitis, influenza, dan tonsillitis.

c) Anak usia sekolah dan remaja


Anak usia sekolah dan remaja terpapar pada infeksi pernapasan dan
factor-faktor resiko pernafasan, misalnya asap rokok dan merokok.
d) Dewasa muda dan dewasa pertengahan
Individu pada usia pertengahan dan dewasa muda terpapar pada banyak
factor resiko kerdiopulmonar seperti diet yang tidak sehat, kurang latihan
fisik, obat-obatan.
e) Lansia
Kompliansi dinding dada menurun pada klien lansia yang berhubungan
dengan osteoporosis dan kalsifikasi tulang rawan kosta. Otot – otot
pernapasan melemah dan sirkulsi pemubuluh darah pulmonar menurun.

b. Faktor Perilaku
a) Nutrisi
Nutrisi mempengaruhi fungsi kardiopulmonar dalam beberapa cara. Klien yang
mengalami kekurangan gizi mengalami kelemahan otot pernafasan. Kondisi ini
menyebabkan kekekuatan otot dan kerja pernapasan menurun.
b) Latihan Fisik
Latihan fisik meningkatkan aktivitas metabolism tubuh dan kebutuhan oksigen.
Frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat, memampukan individu untuk
mengatasi lebih banyak oksigen dan mengeluarkan kelebihan karbondoksida.
c) Merokok
Dikaitkan dengan sejumlah penyakit termasuk penyakit jantung, penyakit paru
obstrukti kronis, dan kanker paru.
d) Penyalahgunaan Substansi
Penggunaan alcohol dan obat-obatan secara berlebihan akan menggganggu
oksigenasi jaringan. Kondisi ini sering kali memiliki asupan nutrisi yang
buruk.Kondisi ini menyebabkan penurunan asupan makanan kaya gizi yang
kemudian menyebabkan penurunan prosuksi hemoglobin.
c. Faktor Lingkungan
a) Abestosis merupakan penyakit paru yang memperoleh di tempat kerja dan
berkembang setelah individu terpapar asbestosis.
b) Ansietas
Keadaan yang terus-menerus pada insietas beat akan meningkatkan laju
metabolisme tubuh dan kebutuhan oksigen akan meningkat(Potter & Perry,
2006).

4. MASALAH-MASALAH YANG MUNGKIN TERJADI


Komplikasi

a. Penurunan Kesadaran
b. Hipoksia
c. Cemas dan gelisah

Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif
b. Pola napas tidak efektif
c. Gangguan pertukaran gas
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN OKSIGENASI

A. PENGKAJIAN
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif
Data Subjektif
- Pasien mengeluh sesak saat bernafas
- Pasien mengeluh batuk tertahan
- Pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi jalan nafas
- Pasien merasa ada suara nafas tambahan.
Data Objektif
- Pasien tampak tersengal-sengal dan pernafasan dangkal
- Terdapat bunyi nafas tambahan
- Pasien tampak bernafas dengan mulut
- Penggunaan otot bantu pernafasan dan nafas cuping hidung
- Pasien tampak susah untuk batuk
2) Pola nafas tidak efektif
Data Subjektif
- Pasien mengatakan nafasnya tersengal-sengal dan dangkal
- Pasien mengatakan berat saat bernafas
Data Objektif
- Irama nafas pasien tidak teratur
- Orthopnea
- Pernafasan disritmik
- Letargi
3) Gangguan pernafasan gas
Data Subjektif
- Pasien mengeluh pusing dan nyeri kepala
- Pasien mengeluh susah tidur
- Pasien merasa lelah
- Pasien merasa gelisah
Data Objektif
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak gelisah
- Perubahan pada nadi
- Pasien tampak lelah
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan Jalan Nafas Berhubungan dengan:
- Sekresi kental/belebihan sekunder akibat infeksi, fibrosis kistik atau influenza.
- Imobilitas statis sekresi dan batuk tidak efektif
- Sumbatan jalan nafas karena benda asing

2. Pola Nafas Tidak Efektif Berhubungan dengan:


- Lemahnya otot pernafasan
- Penurunan ekspansi paru
- Gangguan Pertukaran Gas Berhubungan dengan:
- Perubahan suplai oksigen
- Obstruksi saluran nafas
- Adanya penumpukan cairan dalam paru
- Edema paru

3. Gangguan pertukaran gas Berhubungan dengan


- Ketidak seimbangan ventilasi perfusi
- Perubahan membran alveolar kapiler

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx 1: bersihan jalan nafas tidak efektif
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif
Kreteria hasil:
- Menunjukkan jalan nafas bersih
- Suara nafas normal tanpa suara tambahan
- Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
- Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas
Intervensi Rasional
Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas Pernafasan mengi, rochi, wheezing
dan adanya secret & Pantau TTV menunjukkan tertahannya secret obstruksi
jalan nafas
Terapi inhalasi dan latihan pernafasan dalam Untuk memudahkan pernafasan dan
dan batuk efektif membantu mengeluarkan secret
Disfungsi pernafasan adalah variable yang
Catat adanya derajat dispnea, geliasah, distres
tergantung pada tahap proses kronis selain
pernafasan, dan penggunaan otot bantu nafas
proses akut yang menimbulkan perawatan di
rumah sakit
Anjurkan intake cairan 3000cc/hari jika tidak Membantu mengencerkan secret
ada kontraindikasi
Beri posisi yang nyaman seperti posisi semi
Memungkinkan ekspansi paru maksimal
fowler

Kelembapan mempermudah pengeluaran


Kolaborasi humidikasi tambahan ( nebulizer )
dan mencegah pembentukan mucus tebal
dan terapi oksigen
pada bronkus dan membantu pernafasan

Dx 2: pola nafas tidak efektif


Tujuan: pola nafas efektif
Kreteria hasil:
- Menunjukkkan pola nafas efektif dengan frekuensi nafas 16-20 kali/menit dan irama
teratur
- Mampu menunjukkan perilaku peningkatan fungsi paru

Intervensi rasional

Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan Kecepatan pernafasan meningkatkan dispnea


ekspansi dada. Catat upaya pernafasan dan terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman
termasuk penggunaan otot bantu nafas bervariasi tergantung derajat gagal nafas.
Ekspansi dada

Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Duduk tinggi memungkinkan ekpansi paru dan
Ambulasi pasien sesegera mungkin memudahkan pernafasan

Memberikan informasi dapat memberi


Berikan informasi tentang gaya hidup sehat,
pengetahuan pada pasien tentang faktor yang
teknik bernafas, dan relaksasi
terkait dengan posisinya
Pengobatan mempercepat penyembuhan dan
Delegatif dalam pemberian pengobatan
memperbaiki pola nafas

Dx 3: gangguan pertukaran gas


Tujuan: mempertahankan pertukaran gas
Kreteria hasil:
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
- Tidak ada gejala distres pernafasan
Intervensi Rasional
Catat frekuensi, kedalaman, dan kemudahan Peningkatan kerja nafas dapat menunjukkan
dalam bernafas peningkatan konsumsi oksigen

Selidiki kegelisahan dan perubahan mental Dapat menunjukkan peningkatan hipoksia atau
atau tingkat kesadaran komplikasi

Berikan terapi oksigen melalui nasal, masker Memaksimalkan sediaan oksigen khususnya
parsial ventilasi menurun
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Andarmoyo, Sulistyo. (2012). Kebutuhan Dasar Munusia ( Oksigenasi ). Yogyakarta : Graha


Ilmu.

Syaifuddin.(2008). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta : EGC

potter, perry. (2006). Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta: EGC.

Mansjoerc Arif, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta:Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.

Mubarak, Wahit Iqbal dan Ns. Nurul Chayatin. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia:
Teori Dan Aplikasi Dalam Praktek. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Kebutuhan Dasar Munusia ( Oksigenasi ).Yogyakarta : Graha Ilmu.

NANDA. (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi& Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10.


Jakarta: EGC

Dochterman & Bullecheck. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi 5 Bahaasa
Indonesia. Yogyakarta: Micromedia.

Dochterman & Bullecheck. (2016). Nursing Interventions Classification (NOC) Edisi 6 Bahaasa
Indonesia. Yogyakarta: Micromedia