Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

TEORI AKUNTANSI

Oleh:

KELOMPOK 9

IDA BAGUS PUTU JULIO SWASTIKA (1607532005)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. TUJUAN KEUANGAN DAN KUALITAS INFORMASI MENURUT ETAP
A. Tujuan Laporan Keuangan

Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
dimaksudkan untuk digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP), yaitu
entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan menerbitkan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna
eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam
pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

SAK ETAP bertujuan untuk menciptakan fleksibilitas dalam penerapannya dan


diharapkan memberi kemudahan akses ETAP kepada pendanaan dari perbankan. SAK
ETAP merupakan SAK yang berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK Umum,
sebagian besar menggunakan konsep biaya historis; mengatur transaksi yang dilakukan
oleh ETAP; bentuk pengaturan yang lebih sederhana dalam hal perlakuan akuntansi dan
relatif tidak berubah selama beberapa tahun.

B. Kualitas Informasi

Menurut SAK ETAP (2009) karateristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
adalah sebagai berikut:

1. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Pengguna yang
dimaksud adalah masyarakat yang mengerti tentang ekonomi dan keuangan.
2. Relevan
Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi
keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau
mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
3. Materialitas
Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan
dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan.
4. Keandalan
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan
penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan.
5. Pertimbangan Sehat
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan
pertimbangan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga
aset atau penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban
tidak disajikan lebih rendah.
6. KelengkapanAgar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus
lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau
menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau
dari segi relevansi.
7. Dapat Dibandingkan
Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode
untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.
Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar
entitas untukmengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan secara relatif.
8. Tepat Waktu
Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam jangka
waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya
dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan
relevansinya.
9. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat Manfaat informasi seharusnya melebihi
biaya penyediannya.
2. TUJUAN KEUANGAN DAN KUALITAS INFORMASI MENURUT PSAK
A. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No. 1 (2015:3) adalah :
Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi
sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan
ekonomi.

Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen


atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam
rangka mencapai tujuan laporan keuangan, laporan keuangan menyajikan
informasi mengenai entitas yang meliputi: “asset, liabilitas, ekuitas,
pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan
distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik dan arus kas”. Informasi
tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan
keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan
khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.
B. Kualitas Informasi
1. Penyajian secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
arus kas entitas, Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur
dampak darl transaksi, peristiwa lain dan kondisi sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan aset, liabilitas, penghasilan dan beban yang diatur dalam Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan
pengungkapan tambahan jika dibutuhkan, dianggap menghasilkan penyajian
laparan keuangan secara wajar.
2. Kelangsungan Usaha

Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang


kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun
laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen
memiliki intensi untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau
tidak memiliki alternatif lain yang realistis selain melakukannya. Jika manajemen
menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian yang
material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan
keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan
kelangsungan usaha, maka eniitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Jika
entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha,
maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan
dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak
dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan
usaha.
Dalam menilai apakah dasar asumsi kelangsungan usaha adalah tepat, manajemen
memperhitungkan seluruh informasi yang tersedia mengenai masa depan, paling
sedikit (narnun tidak terbatas pada) dua betas bulan dari akhir periode pelaporan.
Tingkat pertimbangan bergantung pada fakta dari setiap kasus. Ketika selama ini
entitas menghasilkan laba dan memiliki akses ke sumber .pembiayaan, maka dapat
disirnpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai tanpa rnelalui analisis
rinci. Dalam kasus lain, manajemen mungkin perlu untuk rnempertimbangkan
beberapa faktor yang mempengaruhi profitabilitas masa kini maupun yang
diharapkan di masa depan, jadwal pernbayaran utang clan sumber potensial
pembiayaan pengganti sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan
usaha telah sesuai.

3. Dasar Akrual

Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Ketika akuntansi berdasarkan akrual dlgunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai
aset, Iiabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan)
ketika pos• pos tersebut rnemenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur-
unsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan.

4. Materialitas dan Penggabungan

Entitas menyajikan secara tersendiri setiap kelas pos serupa yang material.
Bntitas menyajikan secara tersendiri pos yang memiliki sifat atau fungsi yang tidak
serupa kecuali pos tersebut tidak material.
Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejurnlah transaksi atau
peristiwa lain yang digabungkan ke dalam kelas-kelas sesuai sifat atau fungsinya.
Tahap akhir dari proses pengabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian data
yang telah diringkas dan diklasifikasikan,yang rnembentuk pos-pos dalam laporan
keuangan. Jika suatu pos secara individual tidak material, maka dapat digabungkan
dengan pos lain di dalam laporan keuangan atau di dalam catatan atas laporan
keuangan. Pos yang tidak cukup material untuk disajikan tersendiri dalam laporan
keuangan mungkin cukup material untuk disajikan tersendiri dalam catatan atas
laporan keuangan.
Entitas tidak perlu menyediakan pengungkapan yang spesifik yang disyaratkan oleh
suatu PSAK jika informasi tersebut tidak material.

5. Saling Hapus

Entitas tidak melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau penghasilan dan
beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh suatu PSAK.
Entitas melaporkan secara tersendiri aset dan liabilitas, serta penghasilan dan
beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensiflain
atau laporan posisi keuangan mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan
baik untuk memahami transaksi, peristiwa, atau kejadian lain yang telah terjadi
maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali jika sating hapus
mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa lain. Pengukuran aset secara
neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (sebagai contoh, penyisihan keusangan
atas persediaaan dan penyisihan piutang tak tertagih) bukan termasuk kategori
saling hapus.
PSAK 23: Pendapatan mendefinisikan pendapatan dan mensyaratkan entitas
untuk mengukurnya berdasarkan nilai wajar dari jumlah yang diterima atau akan
diterima, dengan memperhitungkan jumlah potongan dagang dan rabat volume
yang diperkenankan oleh entitas. Dalam aktivitas normal, entitas juga
melakukan transaksi lain yang tidak menghasilkan pendapatan tetapi insidental
terhadap aktivitas penghasil utama pendapatan. Entitas menyajikan hasil dari
transaksi tersebut dengan mengurangkan setiap penghasilan dengan beban terkait
yang timbul dari transaksi yang sama sepanjang penyajian tersebut mencerminkan
substansi dari transaksi atau peristiwa lain tersebut.
6. Frekuensi Pelaporan

Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif)


setidaknya secara tahunan, Ketika akhir periode pelaporan entitas berubah dan
laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih
pendek daripada periode satu tahun, maka sebagai tambahan terhadap periode
cakupan laporan keuangan, entitas mengungkapkan:
a. alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek;
dan
b. fakta bahwajumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat
dibandingkan secara keseluruhan

7. Informasi Komparatif

Informasi Komparatif Minimum


38. Entitas menyajikan informasi komparatif terkait dengan periode
terdekat sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan
keuangan periode berjalan, kecuali diizinkan atau disyaratkan lain oleh SAK.
Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan
periode sebelumnya diungkapkan jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan
periode berjalan.
38A. Entitas menyajikan, minimal, dua laporan posisi keuangan, dua laporan
laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, dua laporan laba rugi terpisah Oika
disajikan), dua laporan arus kas, dan dua laporan perubahan ekuitas, serta catatan
atas laporan keuangan terkait.
38B. Dalam beberapa kasus, inforrnasi naratif yang disajikan dalam laporan
keuangan untuk periode terdekat sebelumnya masih tetap relevan pada periode
berjalan. Sebagai contoh, entitas mengungkapkan dalam periode berjalan
rincian tentang sengketa hukum, yang basil akhirnya belum diketahui secara pasti
pada akhir periode terdekat sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian.
Pengguna laporan keuangan dapat memperoleh manfaat atas pengungkapan
informasi adanya ketidakpastian pada akhir periode pelaporan terdekat sebelumnya
dan dari pengungkapan informasi mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan
selama periode untuk mengatasi ketidakpastian tersebut

8. Konsistensi Penyajian

45.Penyajian dan klasijikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode


dilakukan secara konsisten kecuali:
a. setelah tetjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau
kajian ulang atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian
atau pengklasi.fikasian yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan
mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan penerapan kebijakan
akuntansi dalam PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi, dan Kesalahan; atau
b. perubahan tersebut disyaratkan oleh suatu PSAK.
46.Sebagai contoh, akulslsi atau pelepasan yang signifikan, atau kajian ulang
atas penyajian laporan keuangan, mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa
laporan keuangan perlu disajikan secara berbeda. Entitas rnengubah penyajian
laporan keuangan hanya jika perubahan tersebut rnenyediakan informasi yang
andal dan lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan dan struktur yang baru
memiliki kecenderungan akan digunakan seterusnya, sehingga keterbandingan
tidak terganggu. Ketika membuat perubahan tersebut dalam penyajian laporan
keuangan, entitas rnereklasifikasi informasi komparatif sesuai dengan paragraf 41
dan 42.

3. TUJUAN KEUANGAN DAN KUALITAS INFORMASI MENURUT SYARIAH


A. Tujuan Laporan Keuangan

1. Menyediakan informasi keuangan. Ini merupakan tujuan yang paling pokok dari
laporan keuangan, yaitu menyediakan informasi keuangan entitas syariah pada satu
periode akuntansi. Dari informasi keuangan, para pengguna dapat menjadikan laporan
keuangan sebagai rujukan atau bahan dalam pengambilan keputusan ekonomi, seperti
keputusan investasi oleh investor, keputusan ekspansi oleh manajemen, dll. Informasi
keuangan ini tersaji pada laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas,
dan laporan perubahan ekuitas.
2. Menyediakan informasi kepatuhan terhadap prinsip syariah (sharia compliance).
Selain menyediakan informasi keuangan, laporan keuangan syariah juga menyediakan
informasi kepatuhan terhadap prinsip syariah. Jadi, dari laporan keuangan syariah
dapat dilihat apakah aktivitas entitas syariah telah sesuai dengan prinsip syariah atau
belum. Contoh, perlakuan pendapatan bunga yang diperoleh entitas syariah, apakah
diakui sebagai pendapatan bunga atau dana sosial. Informasi ini sangat dibutuhkan
oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk proses pengawasan.
3. Menyediakan informasi mengenai pemenuhan tanggungjawab sosial. Sebagai
bentuk pemenuhan tanggung jawab sosial, entitas syariah juga menyediakan informasi
sosial dalam laporan keuanganya. Informasi ini disajikan pada laporan sumber dan
penyaluran dana zakat, dan laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan. Laporan
keuangan syariah wajib menyediakan informasi sosial, walaupun secara pelaksanaan
belum dilakukan.

B. Kualitas Informasi

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah


(selanjutnya disebut PSAK 101) menetapkan dasar penyajian laporan keuangan bertujuan
umum untuk entitas syariah. Pernyataan ini mengatur persyaratan penyajian laporan
keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan keuangan atas
transaksi syariah.

PSAK 101 memberikan penjelasan atas karakteristik umum pada laporan keuangan
syariah, antara lain terkait:

 Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap SAK;


 Dasar akrual;
 Materialitas dan penggabungan;
 Saling hapus;
 Frekuensi pelaporan;
 Informasi komparatif; dan
 Konsistensi Penyajian
PSAK 101 juga memberikan penjabaran struktur dan isi pada laporan keuangan syariah,
mencakup:

1. Laporan Posisi Keuangan


2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
3. Laporan Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan atas Laporan Keuangan