Anda di halaman 1dari 5

Nama kelompok : Rias Aldila (160342606246)

Septianti Amalia (160342606226)


Offering : I
BAB 11
TRANSFORMASI BAKTERI
Transformasi adalah suatu proses transfer informasi genetik dengan bantuan potongan
DNA ekstraseluler. Fragmen DNA yang berasal dari bakteri donor diambil oleh bakteri lain
dalam kedudukan sebagai bakteri resipien, berkenaan dengan transformasi tersebut, jika
bakteri donor dan bakteri resipien berbeda secara spesifik, maka akan dihasilkan rekombinan
genetik yang terbentuk melalui peristiwa pindah silang yang melibatkan fragmen DNA dari
donor dan DNA atau kromosom resipien. Sel-sel yang telah mengalami transformasi disebut
sebagai transforman.

Transformasi Alami dan Transformasi Buatan


Pada transformasi alami bakteri mampu mengambil fragmen DNA secara alami, pada
transformasi buatan bakteri diubah secara genetic agar dapat melakukan transformasi. Bakteri
yang biasanya mengalami transformasi secara alami adalah Bacillus subtili sedangkan
transformasi buatan adalah E. coli.
Pengambilan oleh molekul DNA bakteri resipien adalah suatu proses aktif yang
membutuhkan energi. Proses tersebut tidak mencakup peristiwa masuknya molekul DNA
secara pasif melalui dinding sel maupun membrane sel-sel yang permeable tidak seluruh
spesies bakteri mengalami transformasi secara alami. Spesies-spesies yang dapat
mengalaminya adalah yang memiliki mekanisme enzimatik yang terlibat pada peristiwa
pengambilan fragmen DNA maupun rekombinasi. Pada spesies-spesies yang dapat
mengalami transformasi alami tidak semua sel pada suatu populasi mampu secara aktif
mengambil fragmen DNA. Terdapat sel- sel kompeten yang secara aktif mengambil fragmen
DNA sehingga mampu melakukan proses tranformasi.
Sel-sel tersebut memiliki faktor kompeten yang merupakan suatu protein permukaan
sel atau suatu enzim yang terlibat dalam pengikatan DNA bahwa sel-sel kompeten tersebut
merupakan sel-sel resipien. Sel-sel kompeten yang memiliki faktor kompeten tersebut telah
diketahui pula bahwa proporsinya pada suatu kultur berubah-ubah mengikuti kondisi
pertumbuhan maupun tingkat kurva pertumbuhan. Jumlah sel-sel kompeten paling banyak
dijumpai pada bagian akhir fase log.
Proses Transformasi
Tahap 1: molekul DNA unting ganda berikatan pada tapak resepior yang terdapat
dipermukaan sel. Penkatan ini bersifat reversiel.
Tahap 2 : pengambilan DNA donor yang bersifat ifferersibel pada suatu DNA donor
menjadi resisten terhadap enzim DNAse dalam medium
Tahap 3: konversi molekul DNA donor yang berupa unting ganda menjadi molekul
unting tunggal melalui degradasi ukleotida terhadap salah satu unting
Tahap 4: integrasi (insersi kovalen) seluruh atau sebagian unting tunggal DNA donor
tersebut ke dalam kromosom resipien
Tahap 5: segregasi dan ekspresi fenotipik gen donor yang telah terintegrasi.

Masuknya DNA donor ke dalam sel resipien, bahwa eksenuklease spesifik (atau
enzim translokase DNA) menarik satu unting DNA donor kedalam sel resipien. Penarikan
unting didukung oleh energi yang diperoleh dari degradasi unting komplementer. Ketiga
tahap pertama dari proses transformasi yang telah disebutkan tidak spesifik pada DNA yang
homolog. Tahap ke 4 bersifat spesifik untuk DNA yang homolog. Suatu bakteri resipien akan
menjalani tahap 1,2,dan 3.

Pemetaan kromosom bakteri melalui transformasi


Rekombinasi transformasi pada bakteri dapat digunakan untuk mengungkap pautan
gen, urutan gen, serta jarak peta. Penanda genotik pada kromosom donor yang digunakan
berdekatan satu sama lain.jika letak penanda berjauhan, maka tidak akan pernah terbawa
molekul DNA pentransformasi yang sama. Penanda itu selalu terletak pada fragmen DNA
yang berlainan. Misalkan pada gen X dan Y, pada DNA donor terdapat gen X+ Y+
sedangkan pada resipien ada gen XY transformasi simultan adalah produk dari peluang
transformasi tiap gen. jika frekuensi transformasi per gen adalah 1 dalam 103 maka
diharapkan frekuensi transformasi adalah sebesar 1 dalam 106 sel resipien.
Urutan gen pada kromosom bakteri dapat ditetapkan atas data transformasi.
Contohnya jika gen P dan Q sering mengalami transformasi, demikian pula gen Q dan O,
tetapi gen O dan P jarang mengalami kotransformasi maka urutan gen adalah p-q-o.
berkenaan dengan pemetaan gen pada kromosom bakteri dapat diperoleh suatu peta fisik gen-
gen terhadap lokasi fisiknya sepanjang molekul DNA. Ukuran fragmen DNA dapat dikontrol
karena itu peluang kotransformasi dari 2 gen dapat dihubungkan dengan ukuran molekul
DNA pentransformasi.
BAB 12
TRANSDUKSI PADA BAKTERI
Transduksi adalah rekombinasi genetik pada bakteri yang diperantarai oleh fag.
Transduksi terjadi setelah terlebih dahulu suatu partikel fag membawa sebuah kromosom dari
satu bakteri (donor) ke bakteri lain (resipien).

Fag virulen dan Virulen Sedang


Terdapat dua macam fag yang terlibat pada proses transduksi. Fag yang pertama yaitu
fag virulen, dan yang kedua adalah fag virulen sedang. Fag virulen selalu memperbanyak diri
dan merobek sel inang setelah infeksi. Sedangkan fag virulen sedang memiliki dua alternatif,
bisa menjalani fase litik atau bisa menjalani fase lisogenik. Selama fase litik, fag melakukan
reproduksi dan memecahkan sel inang. Sedangkan selama fase lisogenik, fag
mengintegrasikan kromosomnya ke kromosom sel inang dan memperbanyak diri. Kromosom
fag yang terintegrasi ini disebut profag. Terintegrasinya kromosom fag ke dalam kromosom
inang terjadi melalui mekanisme rekombinasi spesifik tapak.

Macam tranduksi
Terdapat dua macam tranduksi yaitu tranduksi umum dan transduksi khusus atau
transduksi terbatas.
1. Transduksi umum
Pada transduksi umum, potongan DNA dari bakteri donor akan dibawa ke bakteri
resepien. Pembawaan DNA tersebut berupa potongan-potongan acak. Proses transduksi
umum dapat teramati pada strain-strain E. coli yang diperantarai oleh fag P1. Pertama, fag P1
menginfeksi sel donor E. coli. Kemudian, DNA sel inang akan terpotong-potong selama fase
litik. DNA yang terpotong-potong tadi akan berintegrasi dengan DNA fag. Sehingga
dihasilkan keturunan fag pentransduksi. Lalu sel inang akan mengalami lisis dan fag akan
keluar menuju bakteri resipien yang bersifat auksotrofik. Fag tersebut akan menginfeksi sel
resipien dan melakukan pertukaran gen dengan cara pindah silang. Hingga akhirnya terbentuk
suatu transduktan stabil. Setelah fag pentransduksi menyuntikan fragmen DNA ke sel
resipien, fragmen tersebut dapat terintegrasi dengan kromosom sel resipien atau bisa tidak
terintegrasi dan bebas dalam sitoplasma. Fragmen yang tidak terintegrasi tidak akan
melakukan replikasi dan akan diwariskan hanya ke satu sel turunan selama tiap pembelahan
sel. Fragmen pentransduksi yang tidak terintegrasi ini disebut transduktan abortif. Transduksi
umum dapat digunakan untuk memetakan letak gen, misalnya pada E. coli. Letak gen pada
strain E. coli dapat ditentukan melalui kotransduksi, yaitu dengan membuat penanda yang
diseleksi dan yang tidak diseleksi.
2. Transduksi khusus
Transduksi khusus diperantarai oleh fag yang bersifat virulen sedang, semacam fag
lambda. Fag ini hanya mentransduksi fragmen tertentu dari kromosom bakteri. Kromosom
dari fag ini dapat melakukan replikasi secara otonom (tidak tergantung pada replikasi inang)
serta dapat pula melakukan replikasi dalam keadaan terintegrasi dengan kromosom inang.
Integrasi kromosom fag semacam lambda diperantarai oleh suatu rekombinasi antara
bentukan kromosom fag intraseluler yang sirkuler di satu pihak dengan kromosom bakteri
yang juga sirkuler. Peristiwa ini terjadi pada tapak pelekatan spesifik di kedua kromosom
terkait.
Di saat fase profag, gen-gen litik pada kromosom virus mengalami represi.
Mekanisme represi itu berlangsung dalam suatu sistem represor-represor-promotor, mirip
dengan yang dijumpai pada operon bakteri. Suatu bakteri yang mengandung profag
dinyatakan bersifat lisogenik, dan hubungan antara profag-inang disebut lisogeni. Sebuah sel
yang lisogenik kebal terhadap infeksi kedua oleh fag yang sama. Hal itu karena gen-gen litik
fag yang sudah menginfeksi mengalami represi.
Fag yang tergolong virulen sedang jarang mengalami transisi spontan dari lisogenik
menjadi lisis. Proses terbebasnya profag dari kromosom terjadi sangat teliti dalam arti
pemotongannya dalam ukuran yang tepat. Tapi tidak jarang juga pemotongan terjadi pada
tapak yang lain, bukan pada tapak awal. Kesalahan pemotongan ini dapat disebabkan oleh
terbentuknya partikel pentransduksi khusus. Kesalahan itu dapat terjadi pada gen yang
letaknya berdekatan.
Rekombinasi pada transduksi umum dan transduksi khusus berbeda. Jika pada
transduksi umum rekombinasi mengganti suatu segmen kromosom resipien dengan suatu
segmen kromosom donor, pada transduksi khusus segmen DNA donor dan kromosom fag
ditambhakan kepada kromosom resipien sehingga menghasilkan suatu tranduktan yang
diploid parsial.

Pertanyaan :
1. Jelaskan perbedaan transformasi bakteri secara alami dan buatan?
Jawab: Pada transformasi alami bakteri mampu mengambil fragmen DNA secaraalami,
sedangkan transformasi buatan bakteri diubah secara genetic agar dapat melakukan
transformasi. Bakteri yang biasanya mengalami transformasi secara alami adalah
Bacillus subtili sedangkan transformasi buatan adalah E. coli.
2. Mengapa tidak semua bakteri dapat melakukan transformasi alami?
Jawab : Transformasi alami hanya dapat dilakukan oleh bakteri yang memiliki
mekanisme enzimatik yang terlibat pada peristiwa pengambilan fragmen DNA
maupun pada proses rekombinasi. Kemampuan mengambil fragmen DNA
dipengaruhi adalanya sel-sel kompeten.
3. Bagaimana kelanjutan dari fragmen DNA hasil dari integrasi fag dengan bakteri
donor?
Jawab : Fragmen DNA dapat diintegrasikan atau tidak diintegrasikan pada bakteri
resipien. Jika fragmen tidak diintegrasikan, maka fragmen tersebut tidak akan
melakukan replikasi dan hanya diwariskan ke satu sel turunan selama tiap
pembelahan sel.