Anda di halaman 1dari 4

Menurut Padila (2013), etiologi typhus adalah salmonella typi.

Salmonella para typhi A, B, C,


ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan
carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella
typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

Penyakit Typhus Abdominalis disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa/Eberthella


typhosa basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora dengan masa
inkubasi 10-2- hari.

Menurut Rampengan (2007), kumanSalmonella Abdominalis ini dapat hidup baik sekali pada suhu
tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rendah, serta mati pada suhu 70° C atapun oleh
antiseptik. sampai saat ini, diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia. Salmonella typhosa
mempunyai 3 macam antigen, yaitu:

1. Antigen O = Ohne Hauch = antigen somatik (tidak menyebar).

2. Antigen H = Hauch (menyebar), terdapat pada flagel dan berifat termolabil.

3. Antigen V1 = Kapsul = merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O
terhadap fagositosis.

Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga
macam antibodi yang lazim disebut aglutinin. Salmonella typhosa juga dapat memperoleh plasmid
faktor-R yang berkaitan dengan resisten terhadap multipel antibioti. Ada 3 spesies utama, yaitu:

1. Salmonella typhosa (satu serotipe)

2. Salmonella choleraesius (satu serotipe)

3. Salmonella enteretidis (lebih dari 1500 serotipe)

Kuman Salmonella Abdominalis dapat menular dengan mudah melalui 5 F yaitu:

1. Food (makanan).

2. Fingers (jari tangan/kuku).

3. Fomitus (muntah).

4. Fly (Lalat).

5. Melalui feses.

Menurut Padila (2013), komplikasi yang terjadi pada typhus abdominalis adalah sebagai
berikut.
1. Komplikasi Intestinal

a. Perdarahan usus

b. Perforasi usus

c. Illius paralitik

2. Komplikasi extra intestinal

a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi(renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, trmboplebitis.

b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.

c. Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis.

d. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.

e. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.

f. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.

g. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain


bare dan sidroma katatonia.

Menurut Widoyono (2011), strategi pencegahan demam tifoid mencakup hal-hal berikut.

1. Penyediaan sumber air minum yang baik

2. Penyediaan jamban yang sehat

3. Sosialisasi budaya cuci tangan

4. Sosialisasi budaya merebus air sampai mendidih sebelum diminum

5. Pembrantasan lalat

6. Pengawasan kepada para penjual makanan dan minuman

7. Sosialisasi pemberian ASI pada ibu menyusui

8. Imunisasi

Adapun jenis vaksin yang tersedia adalah:

a. Vaksin parenteral utuh

b. Vaksin oral Ty21a

c. Vaksin parenteral polisakarida


Menurut Padila (2013), pemeriksaan laboratorium pada pasien dengan penyakit typhus
abdominalis adalah sebagai berikut.

1. Pemeriksaan darah perifer lengkap

Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat
terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.

2. pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan
SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus.

3. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak
menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah
tergantung dari beberapa faktor, yaitu:

a. Teknik pemeriksaan laboratorium

b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit

c. Vaksinasi si masa lampau

d. Pengobatan dengan obat anti mikroba.

4. Kultur

a. Kultur darah: Bisa positif pada minggu pertama

b. Kultur urine: Bisa positif pada akhir minggu kedua

c. Kultur feses: Bisa positif fari minggu kedua hingga minggu ketiga

5. Uji widal

Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antbodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji widal
dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutini dalam serum penderita demam typhoid. Akibat
adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:

a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman)

b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman)

c. Aglutinin Vi, yang dibuat karena ragsangan antigen Vi (berasal dari saimpai kuman).

6. Anti salmonella typhi lgM


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini infeksi akut Salmonella typhi, krena antibodi
lgM muncul padahari ke-3 dan 4 terjadinya demam.

Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.

Rampengan, T.H. 2007. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC.

Suriadi. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.

Susilaningrum R., Nursalam dan Utami S. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak: untuk Perawat dan
Bidan, Jakarta: Salemba Medika.

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Jakarta:
Penerbit Erlangga.