Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

PENETAPAN RESIKO INFEKSI DAN PENCEGAHANNYA

A. Latar Belakang
Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) sangat penting untuk dilaksanakan di rumah sakit
sebagai tempat fasilitas pelayanan kesehatan, disamping sebagai tolak ukur mutu pelayanan juga
untuk melindungi pasien, petugas, pengunjung dan keluarga serta lingkungan dari resiko tertular
penyakit infeksi karena perawatan, bertugas dan berkunjung ke rumah sakit. Rumah Sakit sebagai
salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat diharapkan
dapat memberikan pelayanan yang bermutu sesuai standar yang sudah ditentukan.

Kebersihan program dan kegiatan PPI di rumah sakit memerlukan keterlibatan semua pihak yaitu
keterlibatan semua profesional dan unit kerja ( Dokter, Perawat, Ahli Laboratorium, K3, Farmasi,
Ahli Gizi, Sanitasi, CSSD dan Loundry, IPSRS, dan bagian Rumah Tangga Rumah Sakit ),
sehingga diperlukan wadah untuk pengorganisasiannya berupa komite PPI. Kerjasama organisasi
PPI dalam pelaksanaannya harus didukung komitmen tinggi manajerial sehingga menentukan
terlaksananya program dan kegiatan dengan baik semuanya itu akan menjamin mutu pelayanan
Rumah Sakit.

Infeksi rumah sakit merupakan masalah serius bagi semua serius bagi semua rumah sakit, dampak
yang muncul sangat membebani rumah sakit maupun pasien. Adapun factor yang
mempengaruhinya antara lain, Banyaknya pasien yang dirawat sebagai sumber infeksi bagi
lingkungan pasien lainnya maupun petugas kontak langsung antara pasien dengan pasien lainnya
maupun petugas kontak langsung antara pasien dengan pasien lainnya, kontak langsung antara
petugas dengan pasien yang tercemar, penggunaan peralatan medis yang tercemar kuman, kondisi
pasien yang lemah.
Kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit harus dilaksanakan secara
menyeluruh dengan baik dan benar disemua sarana kesehatan rumah sakit, dengan prosedur yang
baku untuk setiap tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi tersebut, untuk itu perlu adanya
suatu pedoman yang digunakan di Rumah Sakit Keluarga Husada Batam.

Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi merujuk pada pedoman manajerial dan pedoman
pencegahan dan pengendalian infeksi dari Departemen Kesehatan 2009, Infeksi yang berasal dari
lingkungan rumah sakit dikenal dengan istilah infeksi nosokomial mengingat seringkali tidak bias
secara pasti ditentukan asal infeksi, maka sekarang istilah infeksi nosokomial diganti dengan
istilah baru yaitu “Healthcare – associated infections” (HAis). Diharapkan dengan adanya
Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi ini, seluruh petugas Rumah Sakit Umum Dr.
Aliyah Kendari memiliki sikap dan perilaku yang mendukung standar pencegahan dan
pengendalian infeksi di Rumah Sakit Keluarga Husada Batam

B. Tujuan
Tujuan Umum :
Menyiapkan agar Rumah Sakit Keluarga Husada Batam dengan sumber daya terbatas dapat
menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi, sehingga dapat melindungi tenaga
kesehatan dan masyarakat dari penularan penyakit menular ( Emerging Infectious Diseases )
yang mungkin timbul, khususnya dalam menghadapi kemungkinan pandemic influenza.

Tujuan Khusus :
Membuat standar pelaksanaan Pencegahan dan pengendalian infeksi bagi petugas kesehatan
di Rumah Sakit Keluarga Husada Batam meliputi :
1. Konsep dasar penyekit infeksi
2. Fakta – fakta penting beberapa penyakit menular
3. Kewaspadaan isolasi
4. Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah Sakit Keluarga Husada
Batam
5. Kesiapan menghadapi pandemi penyakit menular
6. Surveilans Pencegahan dan Pengendalian infeksi
C. Ruang Lingkup
Pedoman ini memberi panduan bagi petugas kesehatan di Rumah Sakit Keluarga Husada
Batam dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada pelayanan terhadap
pasien yang menderita penyakit menular melalui udara, kontak droplet atau penyakit menular
melalui udara, kontak, droplet atau penyakit infeksi lainnya. Ruang lingkup pelayanan
Pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi :
 Kewaspadaan standart dan berdasarkan transmisi
 Pelayanan surveilens PPI
 Hand Higiene sebagai bariier protection.
 Penggunaan APD
 Pelayanan CSSD
 Pelayanan Linen
 Pelayanan Kesehatan karyawan
 Pelayanan Pendidikan dan edukasi kepada staf, pengunjung dan pasien
 Pelayanan pemeriksaan baku mutu air bersih dan IPAL bekerja sama dengan IPSRS.
 Pelayanan pengelolaan kebersihan lingkungan
 Pelayanan management resiko PPI
 Antibiogram dan pola kuman Rumah Sakit Keluarga Husada Batam
 Penggunaan bahan single use yang di re-use

D. BATASAN OPERASIONAL
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk indonesia,
ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi berasal dari Komunitas ( Communityacquired
infection )atau berasal dari lingkungan rumahsakit ( Hospital Acquired infection ) yang
sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial. Dengan berkembangnya system
pelayanan kesehatan khusus dalam bidang perawatan pasien, sekarang perawatan tidak hanya
di rumah sakit saja, melainkan juga di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, bahkan
perawatan di rumah ( Home Care).

Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang di maksudkan untuk tujuan
perawatan atau penyembuhan pasien, baik bagi pasien atau bahkan pada petugas kesehatan itu
sendiri. Karena seringkali tidak bisa secara pasti ditentukan asal infeksi, maka sekarang
instilah infeksi nosokomial ( Hospital acquired infection ) diganti dengan istilah baru yaitu ”
Healthcare- associated infections” (HAIs) dengan pengertian yang lebih luas tidak hanya di
rumah sakit tetapi juga difasilitasi pelayanan kesehatan lainnya. Juga tidak terbatas infeksi
pada pasien saja, tetapi juga infeksi pada petugas kesehatan yang terjadi didapat pada saat
melakukan tindakan perawatan pasien. Khusus infeksi yang terjadi atau didapat di rumah
sakit, selanjutnya disebut sebagai infeksi rumah sakit (Hospital infection ).

1. Beberapa Batasan / Definisi


a. Kolonisasi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi, dimana organisme
tersebut hidup, tumbuh, dan berkembang biak, tanpa disertai adanya respon imun atau
gejala klinik. Pada kolonisasi, tubuh penjamu tidak dalam keadaan suseptibel. Pasien atau
petugas kesehatan bisa mengalami kolonisasi dengan kuman pathogen tanpa menderita
sakit, tetapi dapat menularkan kuman tersebut keorang lain. Pasien atau petugas kesehatan
tersebut dapat bertindak sebagai ”Carrier”.
b. Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organism), dimana
terdapat respon imun, tetapi tidak disertai gejala klinik.
c. Penyakit Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organism) yang disertai
adanya respon imun dan gejala klinik.
d. Penyakit menular atau infeksius
Adalah penyakit infeksi tertentu yang dapat berpindah dari satu orang keorang lain, baik
secara langsung maupun tidak langsung
e. Inflamasi
Merupakan bentuk respon tubuh terhadap suatu agen karena infeksi, trauma, pembedahan
atau luka bakar yang ditandai dengan adanya sakit/ nyeri (dolor), panas (calor), kemerahan
(rubor), pembengkakan (tumor) dan gangguan fungsi.
f. Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)
Sekumpulan gajala klinik atau kelainan laboratorium yang merupakan respon tubuh
(inflamasi) yang bersifat sistemik. Kriteria SIRS bila ditemukan 2 atau lebih keadaan
berikut :

Hipertermi/ hipotermi/suhu tidak stabil, takikardi (sesuai usia) ,takipnoe(sesuai usia), serta
Leukositosis atau leukopenia atau hitung jenis leukosit jumlah sel muda lebih dari 10%
pada dewasa dan 20% pada bayi. SIRS dapat disebabkan karena infeksi atau non infeksi
seperti trauma, pembedahan, luka bakar, pankreatitis,atau gangguan metabolik. SIRS yang
disertai fokus infeksi disebut ”sepsis”.

2. Rantai Penularan
Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui rantai
penularan.Apabila satu rantai dihilangkan atau di rusak, maka infeksi dapat di cegah atau di
hentikan.Komponen yang di perlukan sehingga terjadi penularan tersebut adalah :
a. Agen infeksi ( infectious agent)adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan
infeksi.Pada manusia agen infeksi dapat berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur dan
parasit.Ada tiga faktor pada agen penyebab yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu
: patogenitas,virulensi, dan jumlah (dosis, atau ”load”).
b. Reservoir atau tempat agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan siap di
tularkan kepada orang. Reservoir yang paling umum adalah manusia,binatang, tumbuh-
tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik lainnya.Pada orang sehat permukaan kulit,
selaput lendir saluran nafas atas,usus dan vagina merupakan reservoir yang umum.
c. Pintu keluar ( portal of exit ) adalah jalan dari mana agen infeksi meninggalkan reservoir.
Pintu keluar meliputi saluran pernafasan, pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit
dan membran mukosa,transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
d. Transmisi ( cara penularan ) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi dari
reservoir ke penderita yang susep tibel.Ada beberapa cara yaitu : (1) Kontak langsung dan
tidak langsung, (2) Droplet, (3 ) airbone, (4) melalui venikulum ( makanan , air / minuman
, darah ) dan ( 5 ) melalui vector biasanya serangga dan binatang pengerat .
e. Pintu masuk ( portal of entri ) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki pejamu yang
suseptibel . Pintu masuk bisa melalui saluran pernafasan , pencernaan , saluran kemih
dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh ( luka ).
f. Pejamu ( host ) yang susptibel adalah orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang
cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah terjadinya infeksi atau penyakit.
Faktor yang khusus dapat mempengaruhi adalah umur, status gizi, status imunisasi,
penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan, pengobatan dengan
imunosupresan. Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin , ras atau
etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan herediter.

Agen
Host/ reservoir
pejamu
rentan

Tempat Tempat
masuk keluar
Metode
penulara
n

Gambar 2 . Skema rantai penularan penyakit infeksi

3. Faktor Risiko ” healthcare- associated infections” (HAIs)


a. Umur : neonatus dan lanjut usia lebih rentan
b. Status imun yang rendah/terganggu (imuno-kompromais) : penderita dengan penyakit
kronik, penderita keganasan, obat-obatan imunosupresan
c. Interupsi barier anatomis :
 Keteter urine : meningkatkan kejadian infeksi saluran kemih
(ISK).
 Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi luka operasi atau
” Surgical site infection (SSI) ”

 Intubasi pernapasan /
ventilasi mekanik : meningkatkan kejadian ”Hospital acquired
Pneuminia”(HAP/VAP).
 Kanula vena dan arteri : menimbulkan infeksi luka infus (ILI), ”
Blood Stream Infection ”(BSI).
 Luka bakar dan Trauma

d. Implantasi benda asing :


 Indwelling catheter”
 ”Surgical suture material”
 ”Cerebrospinal fluid shunts”
 ”Valvular/ vascular prostheses”

e. Perubahan mikroflora normal : pemakaian antibiotik yang tidak bijaksana menyebabkan


timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai antimikroba.

4. Pencegahan dan pengendalian infeksi


Proses terjadinya infeksi tergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu, agen infeksi
(patogenitas, virulensi dan dosis ) serta cara penularan, identifikasi faktor risiko pada pejamu
dan pengendalian infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya HAIs, baik pada pasien
ataupun pada petugas.

5. Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari :


a. Peningkatan daya tahan pejamu, Dengan pemberian imunisasi aktif ( contoh vaksinasi
hepatitis B ), imunisasi pasif ( immunoglobulin), dan promosi kesehatan secara umum
termasuk nutrisi adekuat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
b. Inaktivasi agen penyebab infeksi, Dilakukan dengan metode fisik maupun kimiawi,
contohnya metode fisik adalah : pemanasan ( pasteurisasi dan sterilisasi) dan memasak
makanan metode kimiawi termasuk klorisasi air, desinfeksi dll.
c. Memutus rantai penularan, Merupakan cara yang paling mudah untuk pencegahan
penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya tergantung dari ketaatan petugas dalam
melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan pencegahan ini dengan cara
melaksanakan ” Isolation Precautions” ( Kewaspadaan isolasi ) yang terdiri dari dua pilar/
tingkatan yaitu ” Standard precautions” ( kewaspadaan berdasarkan cara penularan)
d. Tindakan pencegahan paska pajanan ( ”Post exposure prophilaxis”/PEP) terhadap petugas
kesehatan. Pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh
lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya.
Penyakit yang perlu mendapatkan perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.

FAKTA-FAKTA PENTING PENYAKIT MENULAR

I. INFLUENZA
1. INFLUENZA MUSIMAN DAN INFLUENZA A (H5NI)
a. Pengertian
Influenza adalah penyakit virus acute yang menyerang saluran pernapasan, ditandai
demam, sakit kepala, mialgia, coryza, lesu, dan batuk.

b. Penyebab
Virus influenza A, B, C, Tipe A terdiri dari banyak subtipe yang berpotensi terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB) atau endemi/ pandemi. Subtipe virus influenza A dapat
menyerang unggas dan mamalia, bila terjadi pencampuran antara 2 subtipe dapat terjadi
subtipe baru yang sangat virulen dan mudah menular serta berpotensi menyebabkan
pandemi.

c. Epidemiologi
Influenza dapat ditemukan diseluruh dunia terutama pada musim penghujan di wilayah
2 musim dan pada musim dingin di wilayah empat musim. Biasa terjadi epidemi tahunan
berulang yang disebabkan oleh virus yang mengalami ”antigenic drift”, namun dapat
terjadi pandemi global akibat virus yang mengalami ”antigenic drift”

d. Cara Penularan
Melalui udara atau kontak langsung dengan bahan yang terkontraminasi. Masa inkubasi
biasanya 1-3 hari.

e. Gejala Klinis
Gejala Influenza yang umum adalah demam, nyeri otot dan malaise. Biasanya influenza
akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.

f. Masa Penularan
Mungkin dapat berlangsung selama 3-5 hari sejak timbulnya gejala kliniks, pada anak
muda sampai 7 hari

g. Kerentanan dan Kekebalan


Infeksi dan vaksinasi menimbulkan kekebalan terhadap virus spesifik. Lamanya
antibody bertahan paska infeksi dan luasnya spektrum kekebalan tergantung tingkat
perubahan antigen dan banyaknya infeksi sebelumnya.

g. Cara Pencegahan
- Menjaga kebersihan perorangan terutama melalui pencegahan penularan melalui
batuk, bersin, dan kontak tidak langsung melalui tangan dan selaput lendir saluran
pernapasan.
- Vaksinasi menggunakan virus inaktif dapat memberikan 70-80% perlindungan
pada orang dewasa muda apabila antigen dalam vaksin sama atau mirip dengan
strain virus yang sedang beredar ( musim), pada orang usia lanjut vaksinasi dapat
mengurangi beratnya penyakit, kejadian komplikasi dan kematian.
- Obat anti virus (penghambat neuraminidase seperti aseltamivir dan penghantar M2
channel rimantadin, amatadin) dapat dipertimbangkan terutama pada mereka yang
beresiko mengalami komplikasi ( orang tua, orang dengan penyakit jantung/ paru
menahun). Akhir-akhir ini dilaporkan terjadinya resistensi terhadap amantadin,
rimantadin yang semakin meningkat.
- Isolasi umumnya tidak dilakukan karena tidak praktis. Pada saat epidemi isolasi
dilakukan terhadap pasien dengan cara menempatkan mereka secara kohort.
2. INFLUENZA A ( H5N1) ATAU FLU BURUNG
a. Pengertian
Flu burung adalah salah satu penyakit yang di khawatirkan dapat menyebabkan
pandemi. Penyakit flu burung penting untuk di ketahui sebagai Emerging infectious
Diseases.

b. Penyebab
Flu burung ( Avian influenza ) disebabkan virus influenza subtipe H5N1, flu burung
dapat terjadi secara alami pada semua burung. Burung membawa virus kemudian
menyebarkan melalui saliva, sekresi patuk, dan feses. Burung yang kontak dengan
burung pembawa virus, dapat tertular dan menimbulkan sakit, sekretnya akan tetap
infeksius selama sepuluh hari. Faeses burung yang terinfeksi dapat mengeluarkan
virus dalam jumlah besar.

c. Epidemiologi
Flu burung pada manusia sampaisaat ini telah dilaporkan di banyak negara terutama
di Asia. Di daerah dimana terdapat interaksi tinggi antara populasi hewan khususnya
unggas dan manusia ( animal- human interface ) risiko terjadi penularan pada
manusia. Saat ini flu burung dianggap sangat potensial sebagai penyebab terjadinya
pandemi influenza. Sebagian besar kasus infeksi flu burung pada manusia yang
dilaporkan, terjadi akibat dekat dan kontak erat dengan unggas terinfeksi atau benda
terkontaminasi. Angka kematian tinggi, antara 50-80 %. Meskipun terdapat potensi
penularan virus H5N1 dari manusia ke manusia,model penularan semacam ini belum
terbukti.

d. Kelompok usia yang beresiko


Virus H5N1 menyerang dan membunuh kelompok usia muda. Sebagian besar kasus
terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang sebelumnya sehat.
Mengapa virus H5N1 perlu mendapat perhatian khusus dari 15 subtipe virus flu
burung, virus H5N1 menjadi perhatian khusus, dengan alasan sebagai berikut :
- Sejak tahun 2003, H5N1 menyebar luas di Asia pada populasi unggas dan bergerak
ke Eropa pada tahun 2005. Selain itu terjadi perluasan host (pejamu) dari burung ke
mamalia.
- Risiko manusia dan terinfeksi H5N1 tinggi, dipedesaan Asia unggas di ternakkan
dekat wilayah pemukiman dan dibiarkan berkeliaran secara bebas.
- Virus ini telah menyebabkan penyakit yang parah pada manusia dengan kematian
tinggi ( dilaporkan mencapai sekitar 50%, meskipun data surveilans mungkin tidak
lengkap )
- Fakta terpenting bahwa H5N1 dapat bermutasi secara cepat dan berkemampuan
memperoleh gen dari virus yang menginfeksi spesies hewan lain.

e. Cara penularan ke manusia


Kontak langsung dengan unggas terinfeksi atau benda yang terkontaminasi, oleh feses
burung saat ini sebagai jalur utama penularan terhadap manusia.

f. Masa Inkubasi
Masa inkubasi virus influenza pada manusia sangat singkat yaitu 2 sampai 3 hari,
berkisar 1 sampai 7 hari. Pada influenza A (H5N1) masa inkubasi 3 hari berkisar 2
sampai 8 hari.

g. Gejala-gejala pada manusia


Gejala-gejala flue burung pada manusia adalah :
 Demam tinggi (suhu ≥38o C )
 Batuk
 Pilek
 Nyeri Tenggorokan
 Nyeri Otot
 Nyeri Kepala
 Gangguan pernapasan atau sesak napas
Gejala tambahan yang mungkin ditemukan :
 Infeksi selaput mata
 Diare atau gangguan saluran cerna
 Fatigue/ letih

Catatan :
Bila menemukan kasus demam ( suhu tubuh ≥ 38o C ) ditambah 1 atau lebih gejala
dan tanda diatas patut dicurigai sebagai kasus flu burung ; terutama bila dalam
anamnesa diperoleh keterangan salah satu atau lebih dibawah ini :
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah kontak dengan penderita influenza A/
H5N1 yang tealah di konfirmasi
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah kontak dengan unggas, termasuk ayam
mati karena penyakit
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah bekerja memproses sample dari orang
atau hewan yang diduga mengalami infeksi virus flu burung patogen tinggi ( High
Patogenic Avian Influenza / HPAI).
 Tinggal diwilayah / dekat dengan kasus HPAI yang dicurigai atau telah
dikonfirmasi.

h. Pencegahan
Khusus dalam kasus wabah flu burung perlu;
 Menghindari kontak dengan burung terinfeksi atau benda terkontraminasi
 Menghindari peternakan unggas
 Hati-hati ketika menangani unggas
 Memasak unggas dengan baik (suhu 60o selama 30 menit atau 80o selama 1
menit)
 Menerapkan tindakan untuk menjaga kebersihan tangan :
 Setelah memegang unggas
 Setelah memegang daging unggas
 Setelah memasak
 Sebelum makan
i. Pengobatan anti virus untuk influenza
Obat anti virus bekerja menghambat replikasi virus, sehingga dapat mengurangi gejala
dan komplikasi orang yang terinfeksi. Obat anti virus influenza tersebut yaitu :
 Amantadine
 Rimantadine
 Oseltamivir ( Tamiflu)
 Zanamivir ( Relenza )

j. Penularan di Rumah Sakit


 Virus mungkin masuk ke rumah sakit melalui cairan tubuh ( terutama dari
pernapasan ) pasien yang sudah didiagnosis menderita flu burung atau masih
suspek maupun probable.
 Semua tenaga kesehatan, laboratorium, radiologi, petugas kebersihan, atau pasien
lain dan pengunjung rumah sakit beresiko terpajan flu burung.
 Penularan lewat udara, droplet dan kontak.

k. Penatalaksanaan
 Identifikasi dan isolasi pasien
Semua pasien yang datang kerumah sakit dengan demam, dan gejala infeksi
pernapasan harus ditangani sesuai dengan tindakan hygiene saluran pernapasan
seperti yang dibahas dalam buku ini. Pasien dengan riwayat perjalanan kedaerah yang
terjangkit flu burung dalam waktu 10 hari terakhir, dirawat inap dengan infeksi
saluran pernapasan berat atau berada dalam pengamatan untuk flu burung, harus
ditangani dengan menggunakan kewaspadaan standar dan kewaspadaan penularan
lewat kontak, droplet dan udara seperti pada pasien SARS. Kewaspadaan ini harus
dilakukan selama 7 hari setelah turun demam pada orang dewasa, 21 hari sejak onset
penyakit pada anak-anak dibawah 12 tahun, sampai diagnosis alternatif ditegakkan
atau hasil uji diagnostik menunjukkan bahwa pasien tidak terinfeksi oleh virus
influenza A.
 Langkah penting pencegahan dan pengendalian infeksi
Pencegahan dan pengendalian penyebaran flu burung di Rumah Sakit Umum Dr.
Aliyah Kendari :
 penempatan pasien diruang isolasi khusus flu burung dengan tekanan
negatif.
 Pengawasan terhadap implementasi kewaspadaan standard dan
kewaspadaan penularan lewat udara, droplet dan kontak.

II. HIV – AIDS


a. Pengertian
AIDS ( Acquaired Immuno Deficiency Syndrome ) merupakan kumpulan gejala penyakit yang
disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat terserang virus Human Immunodeficiency
Virus (HIV)

b. Penyebab
Human Immunodeficiency Virus (HIV), termasuk retrovirus yang terdiri atas 2 tipe : tipe 1
(HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2)

c. Cara Penularan
Penularan HIV dri orang ke orang melalui kontak seksual yang tidak dilindungi, baik homo
maupun heteroseksual, pemakaian jarum suntik yang terkontraminasi, kontak kulit yang lecet
dengan bahan infeksius, transfusi darah atau komponen nya yang terinfeksi, transplantasi organ
dan jaringan. Sekitar 15-35% bayi yang lahir dari ibu yang HIV (+) terinfeksi, transplantasi
organ dan jaringan. Sekitar 15-35% bayi yang lahir dari ibu yang HIV (+) terinfeksi melalui
placenta dan hampir 20% bayi yang disusui oleh ibu HIV (+) dapat tertular. Penularan dapat
juga terjadi pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum suntik yang mengandung darah yang
terinfeksi.
d. Masa Inkubasi
Bervariasi tergantung usia dan pengobatan antivirus. Waktu antara terinfeksidan terdeteksinya
antibody sekitar 1-3 bulan namun untuk terjadinya AIDS sekitar <1tahun hingga >15 tahun.
Tanpa pengobatan efektif, 50% orang dewasa yang terinfeksi akan menjadi AIDS dalam waktu
10 tahun.

e. Gejala Klinis
Biasanya tidak ada gejala klinis yang khusus pada orang yang terinfeksi HIV dalam waktu 5
sampai 10 tahun. Setelah terjadi penurunan sel CD4 secara bermakna baru AIDS mulai
berkembang dan menunjukkan gejala-gejala seperti :
 Penurunan berat badan secara drastis
 Diare yang berkelanjutan
 Pembesaran kelenjar leher dan atau ketiak
 Batuk terus menerus
 Gejala klinis lainnya tergantung pada stadium klinis dan jenis infeksi oportunistik yang
terjadi.

f. Pengobatan
Pemberian anti virus (Highly Active Anti Retroviral Therapy, HAART ) dengan 3 obat atau
lebih dapat meningkatkan prognosis dan harapan hidup pasien HIV. Angka kematian di negara
maju menurun 80% sejak digunakannya kombinasi obat antivirus.

g. Masa Penularan
Tidak diketahui pasti, diperkirakan mulai sejak terinfeksi dan berlangsung seumur hidup.

h. Kerentanan dan Kekebalan


Diduga semua orang rentan. Terutama pada PMS ( Penyakit Menular Seksual ) dan pria yang
tidak dikhitan kerentanan meningkat.
i. Cara Pencegahan
Menghindari perilaku risiko tinggi seperti seks bebas tanpa perlindungan, menghindari
penggunaan alat suntik bergantian, melakukan praktek transfusi dan donor organ yang aman
serta praktek medis dan prosedur laboratorium yang memenuhi standar.

j. Profilaksis paska pajanan


 Diberikan obat ARV untuk mengurangi risiko penularan HIV terhadap petugas kesehatan
setelah terpajan. Studi kasus kelola menyatakan bahwa pemberian ARV segera setelah
pejanan perkutan menurunkan resiko infeksi HIV sebesar 80% ( Cardo dkk. N. Engl J Med
1997). Efektifitas ARV apabila diberikan dalam 1 jam setelah pejanan selama 28 hari.
 Pemeriksaan sample darah HIV
 Pemeriksaan antibodi pada bulan ke3 dan ke 6
 Petugas yang terpajan dimonitor oleh dokter penyakit dalam atau anak dan perlu dukungan
psikologis.
 Lapor ke K3 RSWS

III. ANTRAKS

a. Pengertian
Antraks adalah penyakit bakteri akut yang biasanya mengenai kulit, saluran pernapasan
atau saluran pencernaan

b. Epidemiologi
Penyakit antraks pada manusia terdapat diseluruh dunia. Umumnya didaerah pertanian
dan industri. Mereka yang berisiko terkena antraks adalah :
- Orang yang kontak dengan binatang yang sakit
- Digigit serangga tercemar antraks
- Orang yang mengkonsumsi daging binatang terinfeksi
- Orang yang kontak dengan kulit, bulu, tulang binatang yang mengandung spora
antraks.
c. Penyebab
Bacillus anthracis, bakteri gram positif berbentuk batang, berspora

d. Cara Penularan
Penularan melalui kontak dengan jaringan, bulu binatang yang sakit dan mati atau tanah
yang terkontraminasi (antraks kulit). Infeksi juga dapat melalui inhalasi spora (antraks
paru) atau memakan daging tercemar yang tidak dimasak dengan baik (antraks saluran
pencernaan). Jarang terjadi penularan dari orang ke orang.

e. Masa Inkubasi
Antara 1-7 hari, bisa sampai 60 hari

f. Gejala klinis
 Gejala klinis antraks sangat tergantung patogenesis dan organ yang terkena (kulit,
paru, saluran pencernaan, meningitis). Di Indonesia terbanyak ditemukan antraks
kulit.
 Gejala antraks kulit : 3-5 hari setelah endospora masuk kedalam kulit timbul makula
kecil warna merah yang berkembang menjadi papel gatal dan tidak nyeri. Dalam 1-
2 terjadi vesikel, ulkus dan ulcerasi yang dapat sembuh spontan dalam 2-3 minggu.
Dengan antibiotika mortalitas antraks kulit kurang dari 1%.
 Gejala antraks saluran pencernaan : mual, demam, nafsu makan menurun, abdomen
akut, hematemesis, melena. Bila tidak segera diobati dapat mengakibatkan kematian.
 Gejala antraks saluran pernapasan meliputi :
- Antraks pada daerah orofaring akan menimbulkan demam, sukar menelan,
limfadenopati regional.
- Antraks pada paru ada 2 tahap. Tahap pertama ringan berlangsung 3 hari
pertama muncul gejala flu, nyeri tenggorok, demam ringan, batuk non
produktif, nyeri otot, mual, muntah, tidak terdapat coryza. Tahap kedua
ditandai gagal napas, stridor, penurunan kesadaran dan sepsis sampai syok
sering berakhir dengan kematian. Meningitis antraks terjadi pada 50% kasus
antraks paru.
g. Masa Penularan
Tanah dan bahan yang tercemar spora dapat infeksius sampai puluhan tahun.

h. Kerentanan dan Kekebalan


Kekebalan setelah terinfeksi tidak jelas. Infeksi kedua kemungkinan terjadi tetapi tidak
ada gejala.

i. Cara Pencegahan
Pencegahan penyakit antraks dengan :
 Pencegahan pada manusia dengan menjaga kebersihan tangan, memasak daging
yang matang.
 Memberikan vaksinasi kepada kelompok risiko tinggi
 Pemberian antibiotika profilaksis paksa pajanan selama 60 hari tanpa waksin atau
selama 30 hari ditambah 3 kali dosis vaksin, dapat dimulai sampai 24 jam paska
pajanan.
 Pemberian antibiotika jangka panjang diperlukan untuk mengatasi spora yang
menetap lama dijaringan paru dan kelenjar getah bening. Antibiotika yang dipakai
adalah siprofloksasin 500mg dua kali sehari atau doksisiklin 100mg dua kali sehari.
 Kewaspadaan standar terutama terhadap penyebaran melalui inhalasi dengan :
o Peralatan bedah harus segera di sterilkan setelah digunakan
o Petugas kesehatan menggunakan APD, dan segera mandi menggunakan sabun
dan air mengalir yang cukup banyak
o Petugas tidak perlu diberikan vaksinasi dan profilaksis antibiotika
o APD bekas pakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan dibuang kesampah
medis untuk dimasukkan ke incinerator/ dibakar
o Jenazah pasien antraks dibungkus dengan kantong plastik, dimasukkan kedalam
peti mati yang ditutup rapat dan disegel. Bila memungkinkan dibakar.
o Tempat tidur dan alat yang terkontraminasi harus dibersihkan dan disterilkan
dengan autoklaf 120 o c selama 30 menit
o Limbah padat, cair dan limbah laboratorium diolah dengan semestinya.
IV. TUBERKULOSIS
a. Penyebab
Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh kuman atau basil tahan asam (BTA) yakni
mycobacterium tuberculosis. Kuman ini cepat mati bila terkena sinar matahari langsung,
tetapi dapat bertahan hidup beberapa jenis mycobacterium dapat menyebabkan penyakit
pada manusia dan menyerang semua organ tubuh bakteri ini seperti kulit, kelenjar, otak,
ginjal, tulang, dan yang paling sering paru.

b. Epidemiologi
Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik di Indonesia
maupun di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia dalam hal jumlah pasien TB
setelah India dan Cina. Sekitar 9 juta kasus baru terjadi setiap tahun diseluruh dunia.
Sepertiga penduduk dunia terinfeksi TB secara laten. Sekitar 95% pasien TB berada di
negara sedang berkembang, dengan angka kematian mencapai 3 juta orang pertahun. Di
Indonesia diperkirakan terdapat 583.000 kasus baru dengan 140.000 kematian tiap tahun.
Umumnya sekitar 75-85% pasien TB berasal dari kelompok usia produktif.

Faktor risikonya yaitu penderita HIV/AIDS, Diabetes, gizi kurang dan kebiasaan
merokok.

c. Cara Penularan
Penularan penyakit TB paru melalui percikan dahak ( droplet) dari orang keorang, sekali
batuk terdapat 3000 percikan dahak (droplets) yang mengandung kuman TB dan dapat
menulari orang sekitarnya.

d. Masa Inkubasi
Sejak masuknya kuman hingga timbul gejala adanya lesi primer atau reaksi test
tuberkolosis positif memerlukan waktu 2-10 minggu. Risiko menjadi TB paru
(breakdown) dan TB ekstrapulmoner progresif setelah infeksi primer umumnya terjadi
pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten bisa berlangsung seumur hidup. Pada pasien
dengan imun defisiensi seperti HIV, masa inkubasi bisa lebih pendek.
e. Masa Penularan
Pasien TB berpotensi menular selama penyakitnya masih aktif dan dahaknya
mengandung BTA. Penularan berkurang apabila pasien yang tidak diobati atau diobati
tidak adekuat dan pasien dengan ”persistent AFB positive” dapat menjadi sumber
penularan dalam waktu lama. Tingkat penularan tergantung pada jumlah basil yang
dikeluarkan, virulensi kuman, terjadinya aerosolisasi waktu batuk atau bersin dan
tindakan medis berisiko tinggi seperti intubasi, bronhoskopi.

f. Gejala Klinis
Gejala klinis penyakit TB paru yang utama adalah batuk terus menerus disertai dahak
selama 3 minggu atau lebih, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, badan lemah, sering
demam, nafsu makan menurun dan penurunan berat badan.

g. Pengobatan
 Pengobatan spesifik dengan kombinasi anti tuberkulosis (OAT), dengan metode
DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse), pengobatan dengan regimen
jangka pendek dibawah pengawasan langsung Pengawas Minum Obat (PMO).
 Untuk pasien baru TB BTA (+),WHO menganjurkan pemberian 4 macam obat
setiap hari selama 2 bulan terdiri dari Rifampisisn, INH, PZA dan ethambutol
diikuti INH dan rifampisisn 3 kali seminggu selama 4 bulan.

h. Cara Pencegahan
 Penemuan dan pengobatan pasien merupakan salah satu cara pencegahan dengan
menghilangkan sember penularan.
 Imunisasi BCG sedini mungkin
 Perbaikan lingkungan, status gizi dan kondisi sosial ekonomi
 Setiap pasien TB paru BTA positif ditempatkan dalam ruangan bertekanan negatif..
setiap orang yang kontak diharuskan memakai pelindung pernapasan yang dapat
menyaring partikel yang berukuran submikron.
3. MRSA (Methicilin Resistent Stapylococcuc Aereus)

Adalah salah satu tipe bakteri stayloccus yang ditemukan pada kulit dan hidung dan kebal
terhadap antibiotika.jumlah kematian MRSA lebih banyak dibandingkan AIDS
Saat ini ada 2 tipe :
1. Health care asosiated (HA –MRSA)
Biasanya ditemukan difasilitas kesehatan terutama rumah sakit..
2. Community asosiated (CA-MRSA)

Yang baru ini ditemukan ditempat –tempat umum, fitness, loker-loker, sekolah dan perabotan
rumah tangga.

Biasanya menginfeksi orang dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya lemah,jika daya tahan
tubuh baik tidak akan menimbulkan gejala .Bakteri yang dibawa sipasien menyebar dan
berpindah pada orang lain dengan cara kontak kulit dan menyentuh barang yang terkontaminasi.

Stapylococcus menimbulkan gejala seperti infeksi kulit, jerawat, bisul, abses atau gigitan
serangga, ini biasa menyebabkan bengkak,merah dan nyeri. bakteri ini dapat menembus kulit
sampai dengan menimbulkan infeksi ditulang,sendi,aliran darah,jantung dan paru yang bias
mengancam jiwa.

1) Penyebaran MRSA.
1. Menyentuh kulit atau luka terinfeksi dari siapa saja yang MRSA
2. Berbagi objek seperti handuk atau peralatan atletik, peralatan rumah tangga yang
MRSA
3. Kontak fisik dapat juga disebarkan melalui batuk dan bersih
4. Menyentuh hidung dari penderita MRSA

2) Tanda dan gejala :


1. Infeksi luka
2. Bisul
3. Folikel rambut yang terinfeksi
4. Impetigo
5. Kulit yang sakit seperti digigit serangga

3) Diagnosis
Contoh kulit, nanah, darah, urin atau bahan biopsy dikirim ke laborat dan dikultur untuk
S aureus. Juka S aureus yang diisolasi (tumbuh dipiring pantry) bakteri tersebut kemudian
terkena antibiatikyang berbeda termasuk Meticilin dan S aureus tumbuh dengan baik di
Meticilindalam kultur yang disebut MRSA. Prosedur ayng sama juga dilakukan untuk
menentukan apakah seseorang merupakan pembawa MRSA(Screning untuk carrier) tetapi
sample kulit atauselaput lender hanya diswab tidak dibiopsi

4) Pengobatan MRSA
Minor infeksi MRSA kadang kadang dapat mengalami komplikasi serius seperti menyebar
infeksi kejaringan sekitar darah, tulang dan jantung. Karena MRSA yang tahan terhadap
antibiotic akan sulit untuk mengobati namun beberapa antibiotic berhasil mengendalikan
infeksi tapi jarang.

5) Tindakan pencegahan
a. Kebersihan tangansesering mungkin terutama setelah menyentuh hidung anda.
b. Bila batuk terapkan etika batuk
c. Jika anda mengalami infeksi kulit jaga daerah yang terinfeksi dengan ditutup kain
kasa, ganti ferban sesering mungkin terutama jika basah.
d. Bersihkan kamar mandi dengan baik karena penularan juda melalui feces dan urine
e. Isolasikan peralatan mandi dan peralatan makan khusus untuk penderita MRSA.
f. Jangan berbagi handuk, pisau cukur, sikat gigi dan barang pribadi yang lainnya.
g. Isolasikan pasien, dikontaminasi semua peralatan pasien dengansabun dan clorin
0,5%.