Anda di halaman 1dari 11

Kasus Infeksi

Nama Pasien : Muh. Al Faris


No. RM : 02 01 66
Tanggal Lahir : 07 Juli 2013
Suku : Bugis
J. Kelamin : Laki-laki
Anam. Lengkap : Pasien anak laki-laki berusia 5 tahun datang dengan keluhan pembengkakan
pada kelopak mata bagian kanan disertai rasa sakit dan kemerahan yang
dialami sejak satu minggu lalu.
Tanda Vital :
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 106 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,8 oC
Status Gizi : Gizi Cukup
Pemeriksaan Fisis :
1. Mata : -Tampak pembengkakan dan kemerahan pada kelopak mata bagian kanan
-Tidak anemia
-Tidak icterus
-Pupil isokor
2. THT :-
3. Leher : Tidak ada kelainan
4. Thorax : Tidak ada kelainan
5. Abdomen : Tidak ada kelainan
6. Ekstremitas : Hangat dan tidak ada oedem
7. Genitalia : -
8. Kulit : Tidak ada kelainan
9. Pemeriksaan Neurologi : -
Pem. Penunjang : Tidak dilakukan
Diagnosis : Hordeolum Eksterna
Dif. Diagnosis : -
Rencana Terapi :
R/ Cefadroxil tablet 2x1/2
Puyer (Dexamethason, Vit. C, Cetrizin, Paracetamol) 3x1
Kajian Pustaka : Hordeolum
Definisi

Hordeolum merupakan infeksi yang meradang, purulen, dan terlokalisir pada satu atau lebih
kelenjar sebasea (meibomian atau zeisian) kelopak mata. Bakteri Staphylococcus aureus yang
tedapat di kulit 90-95% ditemukan sebagai penyebab hordeolum. Kuman lain yang dapat
menyebabkan hordeolum antara lain Staphylococcus epidermidis, Streptococcus, dan Eschericia
coli . Ketika mengenai kelenjar meibom disebut hordeolum internum. Sedangkan jika
mengenai kelenjar Zeis atau Moll disebut hordeolum eksternum. Hordeolum dapat
diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu:

a. Hordeolum ekstrenum
Hordeolum eksternum merupakan suatu abses akut pada kulit kelopak yang berhubungan
dengan kelenjar Zeis atau Moll, biasanya terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. 10
Hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak dan
nanah dapat keluar dari pangkal rambut.11 Dapat terbentuk lesi yang multipel dan terkadang
abses dapat melibatkan seluruh tepi kelopak mata.10 Hordeolum eksternum juga dapat
berhubungan dengan terjadinya blefaritis.12

Gambar 2.2 Hordeolum Eksternum2


b. Hordeolum internum
Hoerdeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus
sehingga dapat terjadi hambatan pada duktus keluarnya.13Hordeolum internum memberikan
penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal dan bisanya berukuran lebih besar
dibanding hordeolum eksternum.11
Gambar 2.3 Hordeolum Internum13

2.3 Epidemiologi Hordeolum


Kejadian hordeolum di Amerika Serikat (AS) tidak diketahui, namun kejadiannya banyak
ditemukan. Tidak terdapat perbedaan kejadian hordeolum di AS dengan internasional. Insidennya
juga tidak bergantung pada ras dan jenis kelamin. Terjadi sedikit peningkatan kejadian yang
diamati pada dekade ketiga sampai dekade kelima kehidupan.

2.4 Etiologi dan Faktor Resiko Hordeolum


Penyebab tersering hordeolum yaitu adanya infeksi Staphylococcus, terutama
Staphylococcus aureus, mencapai 90-95% kejadiannya. Faktor predisposisi terjadinya hordeolum
diantaranya :
a. Usia. Lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda dan pada pasien dengan
ketegangan bola mata karena ketidakseimbangan otot atau kelainan refraktif.
b. Kebiasaan menggosok-gosok mata menggunakan jari, secara bergantian pada kelopak mada
dan hidung, pada blefaritis kronik, dan diabetes mellitus biasanya megarah terhadap
kejadian berulangnya heordeolum.
c. Faktor metabolik, lemahnya sistem imun, asupan karbohidratyang terlalu banyak dan
alkohol juga berperan dalam faktor predisposisinya.

2.5 Patogenesis Hordeolum


Patogenesis terjadinya hordeolum eksternum diawali dengan pembentukan nanah dalam
lumen kelenjar oleh infeksi Staphylococcus aureus. Biasanya mengenai kelenjar Zeis dan Moll.
Selanjutnya terjadi pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan
mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi pembentukan nanah dalam
lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak gambaran abses, dengan ditemukannya PMN dan
debris nekrotik. Mekanisme terjadinya hordeolum internum dapat terjadi sebagai infeksi primer
dari staphylococcus pada kelenjar Meibom atau karena terjadinya infeksi sekunder pada
kalazion.

2.6 Manifestasi Klinis


Nyeri, merah, dan bengkak pada kelopak mata atas atau bawah adalah gejala utama
hordeolum. Intensitas nyeri mencerminkan hebatnya pembengkakan palpebra.Hordeolum interna
dapat menonjol ke kulit atau ke permukaan konjungtiva. Hordeolum eksterna dapat menonjol ke
arah kulit. Gejala lain yang dapat ditemui pada hordeoum adalah keropeng pada tepi kelopak,
rasa panas, gatal, rasa silau, mata berair, berkedip tidak enak, rasa mengganjal, rasa kelilipan dan
penglihatan terganggu.

2.7. Pemeriksaan Fisik Oftalmologis


Pada pemeriksaan fisik oftalmologis ditemukan kelopak mata bengkak, merah dan nyeri
pada perabaan. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut (hordeolum eksternum). 16Nodul
subkutan eritematosa hadir dekat margin kelopak mata, yang dapat mengalami ruptur spontan.
Jika terdepat edema maka akan sulit untuk meraba nodul diskrit. Nodul ini dapat unilateral atau
bilateral, tunggal atau ganda. Peradangan yang terkait dengan hordeola dapat menyebar ke
jaringan yang berdekatan dan menyebabkan selulitis preseptal sekunder. Pasien mungkin juga
memiliki tanda-tanda meibomitis, blepharitis, atau rosacea okular.

2.7. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum karena
kekhasan dari manifestasi klinis hordeolum.

2.8 Diagnosis
2.8.1 Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan kelopak mata yang bengkak disertasi rasa sakit. Gejala
utama hordeolum adalah kelopak mata yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah
dan nyeri bila ditekan, serta perasaan tidak nyaman dan sensasi rasa terbakar pada kelopak
mata.16
Benjolan di kelopak mata juga dapat menyebabkan astigmatisme kornea dan
menyebabkan pandangan kabur. Kadang ditemukan pseudoptosis atau ptosis yang terjadi akibat
bertambah beratnya kelopak sehingga sukar diangkat.17Pasien sering memiliki riwayat lesi
kelopak mata yang mirip atau memiliki faktor risiko untuk hordeola, seperti disfungsi kelenjar
meibom, blepharitis, atau rosacea.

2.7.2 Pemeriksaan Fisik Oftalmologis


Pada pemeriksaan fisik oftalmologis ditemukan kelopak mata bengkak, merah dan nyeri
pada perabaan. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut (hordeolum eksternum). 16Nodul
subkutan eritematosa hadir dekat margin kelopak mata, yang dapat mengalami ruptur spontan.
Jika terdepat edema maka akan sulit untuk meraba nodul diskrit. Nodul ini dapat unilateral atau
bilateral, tunggal atau ganda. Peradangan yang terkait dengan hordeola dapat menyebar ke
jaringan yang berdekatan dan menyebabkan selulitis preseptal sekunder. Pasien mungkin juga
memiliki tanda-tanda meibomitis, blepharitis, atau rosacea okular.

2.7.3 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum karena
kekhasan dari manifestasi klinis hordeolum.

2.9 Diagnosis Banding


Diagnosis banding dari hordeolum antara lain:
a. Angioedema
Pada angioedema terdapat eritem dan edem pada palpebra, biasanya bilateral
walaupun tidak selalu. Onsetnya mendadak dari beberapa menit sampai beberapa jam
dan tidak ada sisik.
b. Atopik dermatitis
Biasanya tampak sisik, edemanya lebih kecil dibanding kontak dermatitis. Tanda-
tanda dermatitis atopik lain mungkin bisa ditemukan. Biasanya ada riwayat rhinitis
alergi pada keluarganya.
c. Kontakdermatitis
Pruritus pada alergi kontak dermatitis, rasa panas pada kontak dermatitis yang iritan.
d. Blefaritis
Pada blefaritis adanya yellow scalling di margin kelopak mata. Pasien mungkin
memiliki pruritus atau terbakar. Kurang edema daripada dengan selulitis atau
dermatitis kontak; edema lebih menonjol di margin kelopak mata.

e. Kalazion
Pada dasarnya, hordeolum mewakili proses infeksi fokal akut, sementara kalazion
sebuah merupakan reaksi granulomatosa kronis. Dengan demikian, muncul benjolan
pada palpebra tegas dan tidak nyeri saatditekan pada pemeriksaan klinis.
f. Rosacea
Telangiektasis sering tampak, sisiknya minimal. Perubahan kelopak mata sering
dengan papul, pustule pada hidung, pipi, kening dan dagu.

Gambar 2.4 Rosacea


g. Orbital Selulitis
Orbital Selulitis infeksi jaringan lunak dari orbit posterior septum orbital. Orbital
Selulitis dan Preseptal Selulitis adalah infeksi utama dari adneksa okular dan jaringan
orbital. Orbital Selulitis memiliki berbagai penyebab dan mungkin terkait dengan
komplikasi serius. Sebanyak 11% dari kasus selulitis orbita menyebabkan hilangnya
penglihatan.
Gambar 2.5 Orbital Selulitis
h. Preseptal Selulitis
Preseptal Selulitis adalah infeksi umum dari kelopak mata dan jaringan lunak
periorbital yang ditandai dengan eritema kelopak mata akut dan edema. Preseptal
Selulitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau cacing. Infeksi bakteri
dapat terjadi akibat penyebaran lokal dari sinusitis yang berdekatan atau
dakriosistitis, dari infeksi okular eksternal, atau trauma berikut untuk kelopak mata

Gambar 2.6 Preseptal Selulitis

3. Tatalaksana
1. Kompres hangat 3-4 kali sehari selama 10-15 menit. Tindakan dilakukan dengan menutup
mata
2. Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak
menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses penyembuhan.
Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.
3. Insisi dan drainase bahan purulent jika tidak membaik setelah kompres dalam 48 jam.
Pada permukan konjungtiva sebaiknya dilakukan insisi vertikal untuk menghindari
terpotongnya kelenjar meibom. Jika hordeolum menonjol keluar, buat insisi horizontal
pada kulit untuk mengurangi luka parut. Setelah dilakukan insisi sayatan dipencet untuk
mengeluarkan sisa nanah. Jika terdapat nanah yang berhubungan dengan akar bulu mata,
dapat dikeluarkan dengan mencabut bulu mata (epilapsi).
4. Pemberian terapi topikal dengan Oxytetrasiklin salep mata atau kloramfenikol salep mata
setiap 8 jam. Apabila menggunakan kloramfenikol tetes mata sebanyak 1 tetes tiap 2 jam
5. Antibiotik sistemik diindikasikan jika terjadi selulitis
6. Perbaikan higiene untuk cegah rekurensi
2.10 Pencegahan
Penyakit hordeolum dapat berulang sehingga perlu diedukasi pasien dan keluarga
1. Menjaga higiene dan kebersihan lingkungan
2. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang lebih
serius
3. Hindari pemakaian make-up pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyeban
infeksi
4. Jangan memakai kontak lensa dapat menyebabkan infeksi ke kornea

2.11 KOMPLIKASI
1. Selulitis orbita
2. Abses palpebra

2.12 KRITERIA RUJUKAN


1. Bila tidak memberikan respon dengan pengobatan konservatif
2. Hordeolum berulang

2.13 PROGNOSIS
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionam : Bonam
3. Ad sanationam : Bonam

Pembahasan :

DAFTAR PUSTAKA
1. Triwachyuni, Leonita. 2011. Rasionalitas Penggunaan Antibiotika Dalam Penatalaksanaan
Herdeolum Di Bagian Mata RSUP dr. Kariadi Semarang Tahun 2010. FK UNDIP.
2. Subramanian N. Reoconstruction of eyelid defects. Indian Journal of Plastic Surgery. 2010.
43(1): 5-13
3. Ilyas, S. Hifema. Dalam: Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. FKUI, Jakarta, 2005
4. Sutrisna LTA. Rasionalitas penggunaan antibiotika dalam penatalaksanaan hordeolum di
bagian mata RSUP DR. Kariadi Semarang tahun 2010. Artikel Karya Tulis Ilmiah
5. Lindsley K, Nichols JJ, Dickersin K. Interventions for acute internal hordeolum (Review).
The Cochrane Collaboration. 2010.
6. Lindsley K, Nichols JJ, Dickersin K. Interventions for acute internal hordeolum. Cochrane
Database of Systematic Reviews 2010, Issue 9. Art. No.: CD007742. DOI:
10.1002/14651858.CD007742.pub2.
7. Skarf B. Normal and abnormal eyelid function. Clinical Neuroopthlamologi. p 1177-1182.
8. Palermo EC. Anatomy of the periorbital region. Surg Cosmet Dermatol. 2013. 5 (3): 245-
256.
9. Mescher AL. Histologi Dasar Junqueira: Teks dan Atlas. Edisi 12. EGC. 2009. p 414.
10. Vagefi MR, Sullivan JH, Correa ZM, Augsburger JJ. Vaughan & Asbury General
Ophtalmology:Lids & Lacrimal Apparatus. 18th edition. United States: Mc-Graw Hill. 2011.
p 67-82.
11. Bowling B. Kanski’s Clinical Ophtalmology: Bacterial infection. 8th edition. Elsevier. 2016.
p 31.
12. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata: Kelainan kelopak dan kelainan jaringan orbita.
Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2014. Hal 91-106.
13. Field D, Tillotson J, Whittingham E. Eye Emergencies The practitioner’s guide: Non-urgent
eye condition. 2nd edition. London: M&K Publishing. 2015. p 55-57.
14. Khurana AK, Khurana B. Comprehensive Ophtalmology: Disorders of Eyelids. 6th edition.
New Delhi: Jaypee brothers medical publisher. 2015. p 362-87.
15. Michael JB. Hordeolum. 2016. http://emedicine.medscape.com/article/798940-overview#a5
. Diakses pada tanggal 7 Mei 2017.
16. Eva PR. Whitcher JP. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17. Palpebra, Apparatus
Lakrimalis & Air Mata. The McGraw-Hill Companies.2014.pp 78-79
17. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer. Jakarta.2014
18. American Academy of Ophthalmology. Orbit, Eyelids, and Lacrimal System. 2011-2012.
Section 7. Singapore: AAO Publishers. P.135-143.
19. Papier A, Tuttle DJ, Mahar TJ. Differential diagnosis of the swollen red eyelid. American
Family Physician. 2007. 76 (12): 1815-1824.
Kasus Non Infeksi

Nama Pasien : Hamida


No. RM : 01 00 11
Tanggal Lahir : 02 Mei 1960
Suku : Bugis
J. Kelamin : Perempuan
Anam. Lengkap : Seorang pasien perempuan berusia 58 tahun datang ke Puskesmas dengan
keluhan sering
Tanda Vital :
TD : 100/80 mmHg
Nadi : 106 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,8 oC
Status Gizi : Gizi Cukup
Pemeriksaan Fisis :
1. Mata : -Tampak pembengkakan dan kemerahan pada kelopak mata bagian kanan
-Tidak anemia
-Tidak icterus
-Pupil isokor
2. THT :-
3. Leher : Tidak ada kelainan
4. Thorax : Tidak ada kelainan
5. Abdomen : Tidak ada kelainan
6. Ekstremitas : Hangat dan tidak ada oedem
7. Genitalia : -
8. Kulit : Tidak ada kelainan
9. Pemeriksaan Neurologi : -
Pem. Penunjang : Tidak dilakukan
Diagnosis : Diabeter Melitus Tipe 2
Dif. Diagnosis : -
Rencana Terapi :
R/ Cefadroxil tablet 2x1/2
Puyer (Dexamethason, Vit. C, Cetrizin, Paracetamol) 3x1
Kajian Pustaka : Diabetes Melitus

Definisi