Anda di halaman 1dari 2

Sejarah Kuala Lumpur

Sejarah modern Kuala Lumpur dimulai pada tahun 1850-an, ketika Raja
Abdullah[11]membayar buruh Cina untuk membuka tambang timah sing
baru dan lebih besar.[12]Mereka tiba di muara Sungai Gombak dan Sungai
Klang untuk membuka tambang di Ampang.[12]
Tambang-tambang iki berkembang menjadi kawasan perdagangan sing
semakin diterima sebagai kota perbatasan. Banyak kemelut sing dialami
Kuala Lumpur, seperti Perang Saudara Selangor, wabah penyakit,
kebakaran, dan banjir.[12] Sekitar tahun 1870-an, Kapitan Cina Kuala
Lumpur, Yap Ah Loy, menjadi pemimpin sing bertanggungjawab atas
pertahanan dan pertumbuhan kota iki iki. Ia mulai membangun Kuala
Lumpur dari sebuah tempat kecil sing tidak dikenal menjadi kota
pertambangan dengan ekonomi aktif.[13] Pada tahun 1880, ibukota
Selangor dipindah dari Klang ke Kuala Lumpur sing jauh lebih strategis.[14]
Pada tahun 1881, kebakaran dan banjir menghancurkan struktur kayu dan
atap Kuala Lumpur. Residen Inggris di Selangor, Frank Swettenham,
bertindak dengan mewajibkan semua bangunan dibangun dari batu bata
dan ubin saja.[14] Kebanyakan bangunan baru menyerupai rumah toko di
Cina Selatan, dengan ciri "kaki lima". Transportasi ke kota iki dipermudah
dengan pembangunan jalur kereta api. Pembangunan semakin pesat pada
tahun 1890-an, sehingga didirikan sebuah Lembaga Kebersihan (Sanitary
Board). Pada tahun 1896, Kuala Lumpur dipilih sebagai ibukota "Negeri-
Negeri Melayu Bersekutu" sing baru.[15]
[[Berkas:Japanese troops mopping up in Kuala
Lumpur.jpg|left|thumb|Tentara Jepang membersihkan jalanan Kuala
Lumpur selama Perang Dunia II.]] Berbagai komunitas datang menetap di
Kuala Lumpur. Kaum Cina menetap di sekitar pusat perdagangan Medan
Pasardi sebelah timur Sungai Klang. Orang Melayu, Chettiar, dan India
Muslim menetap di sepanjang Java Street (kiki Jalan Tun Perak).
Lapangan sing kiki dikenal sebagai Lapangan Merdeka, merupakan pusat
kantor pemerintahan Inggris.[12]
Pada masa Perang Dunia Kedua, Kuala Lumpur dikuasai oleh
tentara Jepang dari 11 Januari 1942 hinggga 15 Oktober 1945.[16] Pada
tahun 1957, Federasi Malaya berhasil meraih kemerdekaan dari Britania
Raya, dan Kuala Lumpur dipilih menjadi ibukota.[17] Setelah pembentukan
Malaysia pada 16 September 1963, kota iki juga dipilih sebagai ibukota
negara.
Kota iki menjadi saksi dari kerusuhan etnis sing meletus antara
orang Melayu dengan orang Cina pada tanggal 13 Mei 1969.[18]Kerusuhan
iki disebabkan oleh ketidakpuasan orang Melayu terhadap keadaan sosio-
politik mereka saat itu. Kerusuhan 13 Mei menewaskan sekitar 196
jiwa,[18] dan memicu perubahan kebijakan ekonomi negara.
Kuala Lumpur memperoleh status kota pada tahun
1972,[19] menjadikannya pemukiman pertama di Malaysia sing
mendapatkan status tersebut sejak kemerdekaan. Pada 1 Februari 1974,
Kuala Lumpur menjadi Wilayah Persekutuan,[20] sehingga
ibukota Selangor dipindah ke Shah Alam pada tahun 1978.[21]
Pada tahun 1998, sebuah gerakan politik sing dikenal sebagai "Reformasi"
berlangsung di kota iki.[22] Gerakan iki disebabkan oleh pemecatan Wakil
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Pendukung Anwar turun ke
jalan dan meminta reformasi di tubuh pemerintahan.[22]
Putrajaya dinyatakan sebagai Wilayah Persekutuan dan pusat
pemerintahan Malaysia pada tanggal 1 Februari 2001.[23] Fungsi-fungsi
eksekutif dan yudikatif dipindah dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Namun,
Parlemen Malaysia dan kediaman resmi Yang di-Pertuan Agongmasih
berada di Kuala Lumpur.[24][25]

SUMBER: WIKIPEDIA