Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN PERCOBAAN


1. Memahami prinsip hokum termodinamika
2. Memahami aplikasi hukum termodinamika ke-1 dan mengindentifikasi
komponen sistem dan lingkungan pada proses aliran air
3. Mampu menghitung jumlah panas yang hilang pada proses pengisian air di
tangki
1.2 DASAR TEORI
1.2.1 Pengertian Termodinamika
Termodinamika berasal dari bahasa Yunani dimana Thermos yang
artinya panas dan Dynamic yang artinya perubahan. Termodinamika
merupakan ilmu yang menggambarkan usaha untuk mengubah kalor
(perpindahan energi yang disebabkan perbedaan suhu) menjadi energi serta
sifat-sifat pendukungnya. Termodinamika berhubungan erat dengan fisika
energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Termodinamika juga
berhubungan dengan mekanika statik. Cabang ilmu fisika ini mempelajari
pertukaran energi dalam bentuk kalor dan kerja, sistem pembatas dan
lingkungan. Aplikasi dan penerapan termodinamika dapat terjadi pada
tubuh manusia, peristiwa meniup kopi panas, perkakas elektronik,
Refrigerator, mobil, pembangkit listrik dan industri.
A. SistemTermodinamika
Sistem termodinamika adalah bagian dari jagat raya yang
diperhitungkan. Sebuah batasan yang nyata atau imajinasi
memisahkan sistem dengan jagat raya, yang disebut lingkungan.
Klasifikasi sistem termodinamika berdasarkan pada sifat batas
sistem-lingkungan dan perpindahan materi, kalor dan entropi antara
sistem dan lingkungan (Chang, 2004).
Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi
antara sistem dan lingkungan:
1) sistem terisolasi: tak terjadi pertukaran panas, benda atau
kerja dengan lingkungan. Contoh dari sistem terisolasi
adalah wadah terisolasi, seperti tabung gas terisolasi.
2) sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan
kerja) tetapi tidak terjadi pertukaran benda dengan
lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem
tertutup di mana terjadi pertukaran panas tetapi tidak
terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah
suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau
keduanya biasanya dipertimbangkan sebagai
sifatpembatasnya:
 pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran
panas.
 pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja.
3) sistem terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan
kerja) dan benda dengan lingkungannya. Sebuah
pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebut
permeabel. Samudra merupakan contoh dari sistem
terbuka.
Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi
sepenuhnya dari lingkungan, karena pasti ada terjadi sedikit
pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit penarikan
gravitasi. Dalam analisis sistem terisolasi, energi yang masuk ke
sistem sama dengan energi yang keluar dari sistem.
B. Keadaan Termodinamika
Ketika sistem dalam keadaan seimbang dalam kondisi yang
ditentukan, ini disebut dalam keadaan pasti (keadaan sistem). Untuk
keadaan termodinamika tertentu, banyak sifat dari sistem
dispesifikasikan. Properti yang tidak tergantung dengan jalur di
mana sistem itu membentuk keadaan tersebut, disebut fungsi
keadaan dari sistem (Chang, 2004). Bagian selanjutnya dalam seksi
ini hanya mempertimbangkan properti, yang merupakan fungsi
keadaan. Jumlah properti minimal yang harus dispesifikasikan untuk
menjelaskan keadaan dari sistem tertentu ditentukan oleh Hukum
fase Gibbs. Biasanya seseorang berhadapan dengan properti sistem
yang lebih besar, dari jumlah minimal tersebut. Pengembangan
hubungan antara properti dari keadaan yang berlainan
dimungkinkan. Persamaan keadaan adalah contoh dari hubungan
tersebut.
C. Usaha Luar
Usaha luar dilakukan oleh sistem, jika kalor ditambahkan
(dipanaskan) atau kalor dikurangi (didinginkan) terhadap sistem.
Jika kalor diterapkan kepada gas yang menyebabkan perubahan
volume gas, usaha luar akan dilakukan oleh gas tersebut. Usaha yang
dilakukan oleh gas ketika volume berubah dari volume awal V1
menjadi volume akhir V2 pada tekanan p konstan dinyatakan sebagai
hasil kali tekanan dengan perubahan volumenya.
W = p∆V= p(V2 – V1)
Tekanan dan volume dapat diplot dalam grafik p – V. jika perubahan
tekanan dan volume gas dinyatakan dalam bentuk grafik p – V, usaha
yang dilakukan gas merupakan luas daerah di bawah grafik p – V.
hal ini sesuai dengan operasi integral yang ekuivalen dengan luas
daerah di bawah grafik.
Gas dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah
besar (atau mengembang) dan V2 > V1. sebaliknya, gas dikatakan
menerima usaha (atau usaha dilakukan terhadap gas) apabila volume
gas mengecil atau V2 < V1 dan usaha gas bernilai negatif.
D. Energi Dalam
Suatu gas yang berada dalam suhu tertentu dikatakan
memiliki energi dalam. Energi dalam gas berkaitan dengan suhu gas
tersebut dan merupakan sifat mikroskopik gas tersebut. Meskipun
gas tidak melakukan atau menerima usaha, gas tersebut dapat
memiliki energi yang tidak tampak tetapi terkandung dalam gas
tersebut yang hanya dapat ditinjau secara mikroskopik.
1.2.2 Hukum-Hukum Dasar Termodinamika
Menurut Oxtoby (2001) terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku
di dalam sistem termodinamika, yaitu:
a. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan
setimbang dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling
setimbang satu dengan lainnya.
b. Hukum Pertama Termodinamika
Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini
menyatakan perubahan energi dalam dari suatu sistem
termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi
kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan
terhadap sistem.
c. Hukum Kedua Termodinamika
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini
menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem
termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring
dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.
d. Hukum Ketiga Termodinamika
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol
absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem
mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti
dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini
juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal
sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.

1.2.3 Hukum 1 Termodinamika


Energi dalam atau energy (U) adalah jumlah adalah energy total dari suatu
sistem yang tidak dapat dimusnahkan maupun diciptakan dalam suatu massa
yang konstan, tetapi bisa dirubah dengan suatu proses termodinamika.
Reaksi untuk total energi yang ada adalah
∆𝑼 = 𝑼𝟐 − 𝑼𝟏
U2 = keadaan akhir
U1 = keadaan awal
Saat sistem menyerap kalor (Q) dan melakukan kerja (W) pada
lingkungannya maka total energinya adalah ∆𝑼 = 𝑸 − 𝑾.

Q+ W-

Sistem

Q- W+

Hubungan yang ada disini antara kalor (Q) , keja (W) dan (U) adalah
∆𝑼 = 𝑼𝟐 − 𝑼𝟏 = 𝑸 − 𝑾
Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi termodinamika yang terjadi pada
sistem dengan keadaaan awal (U1) dan menjadi keadaan akhir suatu sistem
(U2) dengan dipengaruhi oleh adanya kalor (Q) yang diserap sistem dari
lingkungan dan juga kerja (W) yang dilakukan sistem pada lingkngan.
𝑼𝟐 = 𝑼𝟏 + 𝒅𝑼
Perpindahan kalor terjadi karena adanya perbedaan suhu antara sistem dan
lingkungannya sedangakan kerja adalah pertukaran energy antara sistem
dan lingkngan selain berua panas. Didalam hukum Termodinamika 1 ini
terdapat sebuah konvensi tanda pada variable kalor dan kerja yang di
aplikasikan pada operasi perhitungannya yang di jelaskan pada gambar
sketsa di atas, yaitu :
a. Sistem menerima kalor (Q) : tandanya +
b. Sistem melepas kalor (Q) : tandanya –
c. Sistem melakukan kerja (W) : tandanya +
d. Sistem diberi kerja (W) : tandanya –
1.2.4 Proses dalam Hukum Termodinamika 1
1. Proses Adiabatik
Proses adiabatik adalah proses
termodinamika yang tidak mengalami
perpindahan panas atau kalor (Q) (Q=0),
sehingga energy totalnya menjadi ∆𝑼 = 𝑼𝟐 −
𝑼𝟏 = −𝑾. Sedangkan usaha atau kerja (W)
dapat dihitung dengan:
𝟏
𝑾= (𝒑𝟏 𝒙 𝑽𝟏 − 𝒑𝟐 𝒙 𝑽𝟐)
𝒚−𝟏

2. Proses isokhorik

Proses termodinamika dimana sistem


mengalami adanya transfer panas tetapi
tidak mengalami usaha sama sekali
(W=0) sehingga volumenya konstan

∆𝑼 = 𝑼𝟐 − 𝑼𝟏 = 𝑸

3. Proses isobaric

Proses dimana tekanan (P) sedangkan


kalor (Q), kerja (W) dan ∆𝑈 tidak nol. 𝑊 =
𝑃 (𝑉2 − 𝑉1) = 𝑃 ∆𝑉. Perubahan energi dalam
sama dengan kalor yang diserap gas pada volume
konstan 𝑄𝑣 = ∆𝑈. Usaha gas dapat dinyatakan
sebagai W = Qp − QV. Qp adalah kalor yang
dilakukan oleh tekanan (P) konstan dan Qv adalah
kalor yang dilakukan oleh volume (V) konstan. Ada tiga macam proses
isobaric : a. sistem menerima kalor dan melakukan kerja pada lingkungan
∆𝑈 = 𝑄 − 𝑊, b. sistem menerima kalor dan lingkungan melakukan kerja
pada sistem ∆𝑈 = 𝑄 + 𝑊, c. sistem melepas kalor dan lingkungan
melakukan kerja pada sistem ∆𝑈 = −𝑄 + 𝑊.
4. Proses isothermal
Proses termodinamika tanpa adanya
perubahan suhu atau melepas dan menerima
kalor pada sistem, jadi suhunya tetap. ∆𝑈 =
𝑄 + 𝑊 , Q = W. Proses isothermal untuk gas
3
ideal ∆𝑈 = 2 𝑛𝑅∆𝑇 = 0.

1.2.5 Proses Reversible dan Irreversible


1. Proses Irreversible adalah seluruh proses yang terjadi di alam. Sistem
berada dalam kesetimbangan hanya pada saat tahap awal dan akhir
proses saja.

Pada ekspansi irreversible Pex < P Gas


Pada kompresi irreversible Pex > P Gas

2. Proses Reversible merupakan proses yang terjadi sangat lambat,


keadaan setiap prosesnya dapat dianggap sebagai keadaan setimbang.
Pada ekspansi/kompresi (Reversible)

Pex = PGas

1.2.6 Enthalpi
Jumlah energy yang dimiliki oleh suatu sistem pada keadaan tekanan
teap disebut entalpi (H). Entalpi bisa dirumuskan kedalam jumlah dari total
energy dari suatu sistem (E) dengan kerja (W). Satuan dari entalpi sendiri
adalah J/kg karena dibentuk dari perbandingan energy dan satuan massa.
Satuan entalpi lainnya adalah erg/gram, BTU/lbm, kal/gram, dsb.
𝑯 = 𝑬 + 𝑾 dengan W = P x V.
Nilai yang ada pada energy dan entalpi tidak dapat diukur kecuali
ada perubahan pada energy dan entalpi tersebut (∆𝐸/∆𝐻). Tetapi jika pada
entalpi perbedaan nilai tedapat pada entalpi produk (Hp) dan entalpi
reaktean (Hr).
∆𝑯 = 𝑯𝒑 − 𝑯𝒓
a. Jika harga entalpi produk (Hp) > dari entalpi reaktan (Hr) maka
harga H positif, maka terjadi penyeapan kalor pada lingkungan ke
sistem
b. Jika harga entalpi reaktan > dari harga entalpi produk (Hp) maka
harga H negative, maka terjadi pelepasan kalor oleh sistem ke
lingkungan.

1.2.7 Jenis-jenis perubahan entalpi


Perubahan entalpi yang diukur pada suhu 25 0C dan tekanan 1 atm ( keadaan
standar) disebut perubahan entalpi standar ( dinyatakan dengan
tanda DHo atau DH298 ). Perubahan entalpi yang tidak merujuk pada
kondisi pengukurannya dinyatakan dengan lambang DH saja.
Entalpi molar = perubahan entalpi tiap mol zat ( kJ / mol ).
Perubahan entalpi, meliputi :
a. Perubahan Entalpi Pembentukan Standar ( DHf o ) = kalor
pembentukan
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pembentukan 1 mol
senyawa dari unsur-unsurnya pada suhu dan tekanan standar ( 25 oC, 1
atm ). Entalpinya bisa dilepaskan maupun diserap. Satuannya adalah kJ
/ mol. Bentuk standar dari suatu unsur adalah bentuk yang paling stabil
dari unsur itu pada keadaan standar ( 298 K, 1 atm ). Jika perubahan
entalpi pembentukan tidak diukur pada keadaan standar maka
dinotasikan dengan DHf
Catatan :
DHf unsur bebas = nol
Dalam entalpi pembentukan, jumlah zat yang dihasilkan adalah 1 mol.
Dibentuk dari unsur-unsurnya dalam bentuk standar.
b. Perubahan Entalpi Penguraian Standar ( DHd o )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penguraian 1 mol
senyawamenjadi unsur-unsur penyusunnya pada keadaan standar. Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHd. Satuannya = kJ / mol.
Perubahan entalpi penguraian standar merupakan kebalikan dari
perubahan entalpi pembentukan standar, maka nilainya pun akan
berlawanan tanda.
Menurut Marquis de Laplace, “ jumlah kalor yang dilepaskan pada
pembentukan senyawa dari unsur-unsur penyusunnya = jumlah kalor
yang diperlukan pada penguraian senyawa tersebut menjadi unsur-unsur
penyusunnya. “ Pernyataan ini disebut Hukum Laplace.
Contoh :
Diketahui DHf o H2O(l) = -286 kJ/mol, maka entalpi penguraian
H2O(l) menjadi gas hidrogen dan gas oksigen adalah +286 kJ/mol.
c. Perubahan Entalpi Pembakaran Standar ( DHc o )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pembakaran 1 mol suatu
zat secara sempurna pada keadaan standar. Jika pengukuran tidak
dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHc.
Satuannya = kJ / mol.
d. Perubahan Entalpi Netralisasi Standar ( DHn o )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penetralan 1 mol asam
oleh basa atau 1 mol basa oleh asam pada keadaan standar. Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHn. Satuannya = kJ / mol.
Contoh :
DHn reaksi = -200 kJ
DHn NaOH = -200 kJ / 2 mol = -100 kJ/mol
DHn H2SO4 = -200 kJ / 1 mol = -200 kJ/mol
e. Perubahan Entalpi Penguapan Standar ( DHovap)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penguapan 1 mol zat
dalam fase cair menjadi fase gas pada keadaan standar. Jika pengukuran
tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHvap. Satuannya = kJ / mol.
f. Perubahan Entalpi Peleburan Standar ( DHofus )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pencairan / peleburan 1
mol zat dalam fase padat menjadi zat dalam fase cair pada keadaan
standar. Jika pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka
dinotasikan dengan DHfus. Satuannya = kJ / mol.
g. Perubahan Entalpi Sublimasi Standar ( DHosub )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada sublimasi 1 mol zat
dalam fase padat menjadi zat dalam fase gas pada keadaan standar. Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHsub. Satuannya = kJ / mol.
h. Perubahan Entalpi Pelarutan Standar ( DHosol )
Adalah perubahan entalpi yang terjadi ketika 1 mol zat
melarut dalam suatu pelarut ( umumnya air ) pada keadaan standar. Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHsol. Satuannya = kJ / mol.
 Reaksi endoterm
Reaksi yang terjadi jika sistem menerima kalor dari lingkungan, harga H
adalah positif
 Reaksi eksoterm
Reaksi yang tejadi jika sistem melepas kalor ke lingkungan, harga H adalah
negative
1.2.8 Kalor
Kalor adalah berbentuk energi yang menyebabkan suatu zat
memiliki suhu. Jika zat menerima kalor, maka zat itu akan mengalami suhu
hingga tingkat tertentu sehingga zat tersebut akan mengalami perubahan
wujud, seperti perubahan wujud dari padat menjadi cair. Sebaliknya jika
suatu zat mengalami perubahan wujud dari cair menjadi padat maka zat
tersebut akan melepaskan sejumlah kalor. Dalam Sistem Internasional (SI)
satuan untuk kalor dinyatakan dalam satuan kalori (kal), kilokalori (kkal),
atau joule (J) dan kilojoule (kj).
1 kilokalori= 1000 kalori
1 kilojoule= 1000 joule
1 kalori = 4,18 joule
1 kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan
1 gram air sehingga suhunya naik sebesar 1oC atau 1K. jumlah kalor yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1oC atau 1K dari 1 gram zat disebut kalor
jenis Q=m.c. ΔT, satuan untuk kalor jenis adalah joule pergram perderajat
Celcius (Jg-1oC-1) atau joule pergram per Kelvin (Jg-1oK-1) (Petrucci, 1987).
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada
suatu reaksi kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan
menggunakan hukum Hess, kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan
berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan
secara eksperimen. Proses dalam kalorimetri berlangsung secara adiabatik,
yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter
(Aminah, 1998).
Kalor yag dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar
10oC pada air dengan massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri.
Dalam proses ini berlaku azas Black, yaitu:
Qlepas=Qterima

Qair panas= Qair dingin+ Qkalorimetri

m1 c (Tp-Tc)= m2 c (Tc-Td)+ C (Tc-Td)


Keterangan:

m1 = massa air panas

m2 = massa air dingin

c = kalor jenis air

C = kapasitas kalorimeter

Tp = suhu air panas

Tc = suhu air campuran

Td = suhu air dingin

Sedang hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi


disebut termodinamika. Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang
kimia yang menangani hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain energi dengan
kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan keadaan.

Kalor reaksi dapat diperoleh dari hubungan maka zat (m), kalor jenis
zat (c) dan perubahan suhu (ΔT), yang dinyatakan dengan persamaan
berikut :

q = m.c.ΔT

Keterangan:

q = jumlah kalor (Joule)

m = massa zat (gram)

ΔT = perubahan suhu (takhir-tawal)

C = kalor jenis

1.2.9 Kalorimetri
Kalorimeter adalah jenis zat dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau
perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata
kalormetri berasal dari bahasa latin yaitu calor, yang berarti panas.
Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung panas pada
makhluk hidup yang memproduksi karbon dioksida dan buangan nitrogen
(ammonia, untuk organisme perairan, urea, untuk organisme darat) atau
konsumsi oksigen. Lavoisier (1780) menyatakan bahwa produksi panas
dapat diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan menggunakan regresi
acak. Hal ini membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas oleh
makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan
langsung, di mana makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk
dilakukan pengukuran. Jika benda atau sistem diisolasi dari alam, maka
temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau keluar, temperatur
akan berubah. Energi akan berpindah dari satu tempat ke tempat yang
disebut dengan panas dan kalorimetri mengukur perubahan suatu tersebut.
Bersamaan dengan kapasitas dengan kapasitas panasnya, untuk
menghitung perpindahan panas (Keenan, 1980).
Pengukuran kalorimetri suatu reaksi dilakukan dengan
menggunakan alat yang disebut kalorimeter. Ada beberapa jenis kalorimeter
seperti: kalorimeter termos, kalorimeter bom, kalorimeter thienman, dan
lain-lain. Kalorimeter yang lebih sederhana dapat dibuat dari sebuah bejana
plastik yang ditutup rapat sehingga bejana ini merupakan sistim yang
terisolasi. Cara kerjanya adalah sebelum zat-zat pereaksi direaksikan di
dalam kalorimeter, terlebih dahulu suhunya diukur, dan usahakan agar
masing-masing pereaksi ini memiliki suhu yang sama. Setelah suhunya
diukur kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam kalorimeter sambil
diaduk agar zat-zat bereaksi dengan baik, kemudian suhu akhir diukur.
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara eksoterm maka
kalor yang timbul akan dibebaskan ke dalam larutan itu sehingga suhu
larutan akan naik, dan jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara
endoterm maka reaksi itu akan menyerap kalor dari larutan itu sendiri,
sehingga suhu larutan akan turun. Besarnya kalor yang diserap atau
dibebaskan reaksi itu adalah sebanding dengan perubahan suhu dan massa
larutan jadi :
Qreaksi= mlarutan. Clarutan. ΔT
Kalorimetri yang lebih teliti adalah yang lebih terisolasi serta
memperhitungkan kalor yang diserap oleh perangkat kalorimeter (wadah,
pengaduk, termometer). Jumlah kalor yang diserap/dibebaskan kalorimeter
dapat ditentukan jika kapasiatas kalor dari kalorimeter diketahui. Dalam hal
ini jumlah kalor yang dibebaskan /diserap oleh reaksi sama dengan jumlah
kalor yang diserap/dibebaskan oleh kalorimeter ditambah dengan jumlah
kalor yang diserap/dibebaskan oleh larutan di dalam kalorimeter. Oleh
karena energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan, maka :
Qreaksi= (-Qkalorimeter- Qlarutan)
Pengukuran kalor reaksi, setara kalor reaksi pembakaran dapat
dilakukan dengan menggunakan kalorimeter pada tekanan tetap yaitu
dengan kalorimeter sederhana yang dibuat dan gelas stirofoam. Kalorimeter
ini biasanya dipakai untuk mengukur kalor reaksi yang reaksinya
berlangsung dalam fase larutan (misalnya reaksi netralisasi asam-
basa/netralisasi, pelarutan dan pengendapan) (Syukri, 1999).
1.2.10 Proses dengan Aliran Tunak
Jika suatu fluida dialirkan dengan suatu alat penggerak (misalnya:
pompa, kompresor/blower) maka akan terlibat suatu bentuk kerja yang
disebut dengan kerja shaft (Ws). Jadi, kerja shaft adalah kerja yang
dilakukan fluida/diterima fluida yang mengalir karena adanya bantuan alat
mekanik penggerak.
Kerja pads persamaan hukum I termodinamika:
W= Ws – 𝝆𝞓V
Jika digunakan definisi persamaan pada persamaan hukum I
termodinamika akan dihasilkan bentuk modifikasi persamaan sebagai
berikut:
𝞓H + 𝞓Ep + 𝞓Ek = Q + Ws
Persamaan digunakan jika dalam sistem digunakan turbin,
kompresor, atau pompa.
BAB II

METODOLOGI

2.1 Alat dan bahan


2.1.1. Alat yang digunakan :
1. Rangkaian tangki dengan sistem pompa dan pemanas
2. Termometer
2.1.2. Bahan yang digunakan :
1. Air PDAM

2.2. Prosedur kerja


1. Mengisi storage 1 dengan air sampai dengan tanda batas dan
mengukur volumenya
2. Mengukur temperatur mula-mula air (T1) yang terdapat dalam
storage 1 dan 2
3. Mengkalibrasi laju alir pompa yang mengalir dari storage tank 1 ke
storage tank 2pada kecepatan yang telah ditentukan dengan cara
mengatur bukaan valve pada pompa. Kemudian mematikan pompa
4. Meng-on-kan heater dengan menghubungkan aliran listrik pemanas
dengan sumber listrik selama 30 menit
5. Setelah 30 menit, meng-off-kan heater dengan memutuskan
hubungan listrik pemanas kemudian mengukur temperatur air pada
tangki 1
6. Mengatur pompa pada bukaan 1, membiarkan pompa menyala pada
laju alir yang telah ditentukan
7. Mencatat perubahan temperatur air pada storage tank 1 dan tank 2
setiap 2 menit
8. Mengosongkan air pada tangki 2 dan mengisi kembali tangki 1
sampai tanda batas
9. Mengulangi langkah 1 s.d. 8 untuk laju alir yang ke 2 dan selanjutnya
10. Menghitung jumlah panas yang hilang selama proses berlangsung
pada setiap laju alir yang dilakukan
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
3.1.1 Data Pengamatan
 Tangki 1
- Tinggi air = 13,8 cm
- Panjang = 24,2 cm
- Lebar = 25,9 cm
 Daya pompa = 18 watt
 Effisiensi pompa = 75%
 Daya Heater = 1000 watt
 Temperatur awal:
- Tangki 1 (T1) = 28,4oC
- Tangki 2 (T2) = 26,6oC
 Ketinggian dari dasar tangki ke titik 1 (h1) = 3,5 cm
 Ketinggian dari dasar tangki ke titik 2 (h2) = 77 cm
 Tangki 2
- Panjang = 31 cm
- Lebar = 19 cm
- Tinggi = 1 cm
- Volume = p x l x t
= 31 cm x 19 cm x 1 cm
= 589 cm3 = 0,589 L
Tabel 1. Data Kalibrasi Pompa

Bukaan Waktu Laju Alir


Volume (L) Waktu (s) Laju Alir Rata-rata
Valve (min) (L/min)
88,8 1,48 0,398
0,2 L/min 0,589 90 1,5 0,393 0,395
90 1,5 0,393
74,4 1,24 0,475
0,4 L/min 0,589 71,4 1,19 0,495 0,483
73,8 1,23 479
42,3 0,705 0,835
0,8 L/ min 0,589 43,13 0,719 0,819 0,807
46,17 0,769 0,776

Tabel 2. Data Temperatur

Laju Alir (L/min) Waktu (min) T1(oC) T2(oC)


0 68 65,9
2 67,9 65,6
0,2 4 66,7 65,3
6 65,5 65
8 64,8 63,7
0 70,3 67,8
2 69,1 67,6
0,4 4 67,6 67,1
6 66,3 66
8 64,7 64,4
0 67,8 67,4
2 67,3 67,2
0,8 4 65,8 65,6
6 62,3 60,5
8 60,2 59,4
3.1.2 Pengolahan Data
1. Q Sistem Awal

Laju Alir
(L/min) Waktu (min) m Cp 𝞓T Q(J)
0
2
0,2 4
6
8
0
2
0,4 4
6
8
0
2
0,8 4
6
8

2. Energi Kinetik

Laju Alir (L/min) Waktu (min) m v (m/s) Ek (J)


0
2
0,2 4
6
8
0
2
0,4 4
6
8
0
2
0,8 4
6
8
3. Entalpi

Laju Alir
(L/min) Waktu (min) T2 H2 m 𝞓H (J)
0
2
0,2 4
6
8
0
2
0,4 4
6
8
0
2
0,8 4
6
8

4. Q Sistem Akhir (Q sisa)

Laju Alir
(L/min) Waktu (min) Ek 𝞓H Ws Q sisa
0
2
0,2 4
6
8
0
2
0,4 4
6
8
0
2
0,8 4
6
8
5. Q yang hilang dari Sistem (Q loss)

Laju Alir (L/min) Waktu (min) Q awal Q sisa Q loss


0
2
0,2 4
6
8
0
2
0,4 4
6
8
0
2
0,8 4
6
8

3.2 Pembahasan