Anda di halaman 1dari 12

8

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT Panghegar Mitra Abadi, yaitu suatu

perusahaan yang bergerak di industri penambangan batuan andesit. Perusahaan ini

mempunyai wilayah izin usaha pertambangan seluas 5,2625 Ha yang terletak di

Gunung Gadung, Desa Lagadar, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat,

Provinsi Jawa Barat. Produksi utama dari kegiatan penambangan batuan andesit

adalah batuan split 1-2 cm dan abu batuan. Adapun sistem penambangan yang

diterapkan di lokasi penelitian ini adalah sistem penambangan terbuka (surface

mining) dengan metode quarry.

Secara geografis, lokasi penelitian berada pada koordinat 778886 mE dan

9233493 mN. Untuk menuju lokasi penelitian dapat ditempuh melalui jalur darat

menggunakan kendaraan roda empat ataupun roda dua dengan rute dari Bandung

 Cimahi  Leuwi Gajah  Jalan Raya Nanjung  Desa Lagadar  Gunung

Gadung. Jarak menuju lokasi sekitar 30 km dengan waktu tempuh ± 60 menit

(Gambar 2.1). Batas-batas administratif Kecamatan Batujajar ini sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Cipatat, Kecamatan

Padalarang.

2. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Margaasih, Kecamatan

Cimahi Selatan, dan Kota Cimahi.

3. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Cipatat, dan Kabupaten

Cianjur.

4. Sebelah Selatan : Berbatasan Kecamatan Cililin, Cipongkor, dan Soreang.

8
Gambar 2.1
Peta Lokasi Dan Kesampaian Daerah

9
10

2.2 Iklim dan Curah Hujan

Iklim di daerah penelitian adalah hangat sedang. Suhu udara di wilayah

Kabupaten Bandung Barat berkisar antara 12 oC – 24 oC dengan kelembaban 78%

pada musim hujan, dan 70% pada musim kemarau. Curah hujan rata-rata tahunan

di wilayah ini <1.500-3.500 mm/tahun. Wilayah-wilayah yang mempunyai curah

hujan 1.500-2.000 mm/tahun adalah sebagian Kecamatan Batujajar, Cihampelas,

Ngamprah, Padalarang dan Parongpong. Wilayah-wilayah yang mempunyai curah

hujan 2.000-2.500 mm/tahun adalah sebagian Kecamatan Lembang, Cisarua,

Ngamprah, Cipatat, Cipongkor, Sindangkerta. Sedangkan Wilayah-wilayah yang

mempunyai curah hujan 2.500-3.000 mm/tahun adalah sebagian Kecamatan

Lembang, Parongpong, Cisarua, Cikalong Wetan Cipendeuy, Cipatat, Rongga,

Gununghalu, dan Sindangkerta. Curah hujan tertinggi terjadi di daerah pegunungan

di bagian utara Kabupaten Bandung Barat (3.000-3.500 mm/tahun) terdapat di

sebagian wilayah Kecamatan Cikalong Wetan dan Cipendeuy.

Tabel 2.1
Curah Hujan dan Hari Hujan Kabupaten Bandung Barat
Curah Hujan (mm) Hari Hujan (hari)
Bulan
2013 2014 2013 2014
Januari 352 324,6 23 26
Februari 250,8 150,6 19 16
Maret - 162,4 - 13
April 221,,3 121,8 22 17
Mei 204 119,5 23 20
Juni 99,9 87,9 17 16
Juli 118,3 29,1 16 11
Agustus 22,4 80,3 7 4
September 2 31,8 5 1
Oktober 183,4 33,5 16 4
November 180,9 284,1 17 22
Desember 255,9 283,5 19 18
Sumber : Kabupaten Bandung Barat Dalam Angka, Tahun 2015

10
11

2.3 Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat Tahun 2013 mencapai

1.614.495 orang, penduduk laki-laki berjumlah 820.305 orang sedangkan

perempuan 794.190 orang, sehingga rasio jenis kelaminnya mencapai 1,03.

Dengan rata–rata kepadatan penduduk 1.236 jiwa/Km, dimana Kecamatan

Ngamprah memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi yaitu sebanyak 4.605

jiwa/Km2, sedangkan Kecamatan Gununghalu merupakan kepadatan yang

terendah yaitu sebesar 452 jiwa/Km2 (Kabupaten Bandung Barat Dalam Angka

Tahun 2015)

Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Bandung khususnya untuk

masyarakat sekitar daerah penelitian umumnya bermata pencaharian sebagai

petani, peternak, buruh pabrik, wirausahawan dan juga sebagian masyarakat di

daerah tersebut bekerja sebagai pekerja tambang di beberapa perusahaan tambang

yang berada di daerah Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan data yang diterima

dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pada tahun 2013 jumlah pencari

kerja yang terdaftar sebanyak 8.480 orang.

2.4 Keadaan Topografi

Secara umum wilayah Kabupaten Bandung Barat memiliki memiliki elevasi

dan kemiringan yang variatif dengan dataran terendah pada elevasi 125 mdpl dan

dataran tertinggi pada elevasi 2.150 mdpl. Persentase daerah dengan elevasi 500 –

1.000 mdpl, yaitu seluas 59.614,15 Ha atau sebesar 46,68% dari luas Kabupaten

Bandung Barat, sedangkan daerah dengan elevasi 1.500 – 2.000 mdpl dengan luas

10.480,39 Ha atau sebesar 8,10% dari luas wilayah Kabupaten Bandung Barat.

11
Gambar 2.2
Peta Topografi Daerah Kabupaten Bandung Barat

12
13

2.5 Keadaan Geologi

Secara regional keadaan geologi di sekitar daerah penelitian (Peta Geologi

Lembar Bandung, Tahun 1973, oleh P.H.Silitonga) pada umumnya terdiri dari

endapan sedimen dan vulkanik berumur Kwarter (Plistosen), serta terdapat juga

batuan terobosan. Berikut ini adalah penjelasanya :

1. Endapan danau (Ql, 0-125 m) terdiri dari lempung tufaan, batupasir tufaan,

kerikil tufaan. Membentuk bidang-bidang perlapisan mendatar di beberapa

tempat.

2. Tufa berbatuapung (Qyt), yang terdiri dari pasir tufaan, lapili, bom-bom, lava

berongga dan kepingan-kepingan andesit-basal padat yang bersudut dengan

banyak bongkah-bongkah dan pecahan-pecahan batu apung. Berasal dari G.

Tangkubanparahu (erupsi “A”, Van Bemmelen, 1934) dan G. Tampomas

3. Formasi Cilanang (Mtjl), terdiri dari napal tufaan, dan batu gamping massif.

Tersingkap di tepi sungai Citarum dekat kampung Kapek.

4. Breksi tufaan, Lava batupasir, konglomerat (Pb), terdiri dari breki bersifat

andesit, basa, lava batupasir tufaan dan konglomerat. Membentuk punggung-

punggung tak teratur, kadang-kadang sangat curam.

5. Andesit (a), pada umunya berupa andeit augit hipersten hornblenda dan

andesit leuko. Dalam masa dasar terdapat banyak kaca dan felspar.

6. Basal (b), basal andesit mengandung olivin, dolerit, dan diorit hornblenda

porfir, terdapat di sebelah barat Cimahi.

7. Dasit (d), dasit hornblenda, dasit hipersten hornblenda, dasit augit hornblenda.

Berupa retas dengan tebal antara 100-200 m.

13
Gambar 2.3
Peta Geologi Reginonal Daerah Sekitar Lokasi Penelitian

14
15

2.6 Kegiatan Penambangan

Sistem penambangan di lokasi adalah tambang terbuka dengan menerapkan

metode quarry. Quarry adalah metode penambangan yang dilakukan untuk

menggali endapan bahan galian industri. Berdasarkan letak endapan batuan andesit

di lokasi penelitian, bentuk penambangan yang diterapkan adalah side hill type,

yaitu bentuk yang operasi penambangannya mengarah ke arah atas atau

sebaliknya, karena letak/posisi endapan batuan andesit di lokasi penelitian berada

di perbukitan. Adapun urutan aktivitas penambangan lokasi penelitian terdiri dari

pemberaian material, pemuatan, dan pengangkutan material.

2.6.1 Kegiatan Pemberaian Material

Secara umum kegiatan pemberaian material dapat dilakukan dengan berbagai

macam cara tergantung dari jenis material yang akan diberaikan. Apabila material

yang akan diberaikan mudah untuk digali, maka untuk kegiatan pemberaian material

tersebut cukup menggunakan alat mekanis, seperti ripper, excavator, dan

sebagainya. Sedangkan apabila material yang akan diberaikan sulit untuk digali

maka perlu dilakukan peledakan untuk memberaikan material tersebut.

Material yang akan diberaikan di lokasi penelitian yaitu adalah batuan andesit

yang cukup keras sehingga tidak memungkinkan untuk diberaikan menggunakan

alat mekanis, maka kegiatan pemberaian harus menggunakan peledakan. Sebelum

dilakukan kegiatan peledakan maka terlebih dahulu dilakukan kegiatan pengeboran,

dimana di lokasi penelitian, kegiatan pengeboranya menggunakan 1 alat bor

Crawler Rock Drill (CRD) Furukawa PCR-200 dan 1 unit kompresor Airman,

dengan pola pengeboran yang diterapkan adalah rectangular staggered dengan

arah pemboran tegak agar hasil fragmentasi batuan seragam dan sesuai dengan

hasil yang diinginkan.

15
16

Gambar 2.4
Foto Furukawa PCR-200 dan Kompresor Airman

Tahap selanjutnya jika lubang ledak telah siap maka, langkah berikutnya

adalah mengisi bahan peledak kedalam lubang ledak, dimana bahan peledak utama

yang digunakan diantaranya adalah :

1. Detonator listrik dengan delay.

2. Primer.

3. ANFO (Amonium Nitrat and Fuel Oil) produksi PT Multy Nitrotama Kimia

(MNK).

Lalu jika bahan peledak telah dimuat kedalam lubang ledak maka hal yang

perlu dilakukan adalah merangkai pola peledakanya, dimana pola peledakan yang

diterapkan di lokasi penelitian adalah rectangular staggered dengan sistem

rangkaian seri, dengan Jumlah lubang ledak rata-rata berjumlah 20 lubang dengan

diameter 2.5 inci dengan kedalaman 6 meter. Jarak burden yang digunakan adalah

1,6 meter dengan spasi 1,9 meter.

16
17

2.6.2 Kegiatan Pemuatan dan Pengangkutan Material

Kegiatan pemuatan dan pengangkutan di lokasi penelitian menggunakan alat

muat excavator Komatsu PC 300 tahun 2011 sebanyak 1 unit dengan kapasitas

bucket 2 LCM, dimana alat ini baru digunakan selama 4 tahun di lokasi penelitian,

sedangkan alat angkut yang digunakan adalah dump truck Hino Super Ranger FF

172 MA tahun 2001 sebanyak 3 unit dengan kapasitas bak dump truck sebesar 10

LCM, dimana alat ini telah digunakan untuk produksi selama 14 tahun.

Gambar 2.5
Foto Excavator Komatsu PC 300

Gambar 2.6
Foto Dump Truck Hino Super Ranger FF 172 MA

17
18

Gambar 2.7
Foto Kegiatan Pemuatan Material

2.7 Kegiatan Pengolahan Material Hasil Penambangan

Proses pengolahan batuan andesit yang dilakukan di lokasi penelitian yaitu

menggunakan proses kominusi dan sizing, dengan tujuan untuk memperoleh

ukuran batuan andesit yang sesuai dengan permintaan yang diinginkan oleh

konsumen, dimana proses pengolahanya adalah sebagai berikut :

1. Primary Crushing

Primary crushing merupakan proses peremukan tingkat pertama batuan

andesit. Umpan (feed) berukuran diameter 30 – 40 cm yang berasal dari ROM

(Run Of Mine), kemudian dicurahkan kedalam hopper (tempat penampungan

material). Di bawah hopper sudah terpasang jaw crusher, yaitu alat peremuk

yang dapat meremuk dan mengecilkan ukuran batu andesit hingga berukuran

12–15 cm.

2. Secondary Crushing

Secondary crushing merupakan proses peremukan tingkat kedua batuan

andesit, dimana produk dari jaw crusher yang berukuran 12-15 cm kemudian

18
19

diangkut oleh belt conveyor yang sudah terintegrasi dengan vibrating screen

dan cone crusher, yaitu alat peremuk yang dapat meremuk dan mengecilkan

ukuran batuan andesit hingga berukuran 0,5 mm. Produk akhir dari proses

peremukkan tingkat kedua adalah :

a. Ukuran 0 mm – 5 mm, disebut abu batu digunakan sebagai penghalus

jalan.

b. Ukuran +5 mm – 20 mm, disebut split 1-2 digunakan untuk pembuatan

beton cetak dan tiang beton.

c. Ukuran +20 mm – 30 mm, disebut split 2-3 digunakan untuk fondasi tiang

beton, pengeras jalan dan jembatan.

Gambar 2.8
Foto Fasilitas Pengolahan Batuan Andesit

19