Anda di halaman 1dari 39

8

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Anatomi Fisiologi

1. Anatomi Sistem Reproduksi

Gambar 2.1 Anatomi Payudara

(Ambarwati, 2008, http://www.lusa.web.id/)


9

2. Fisiologi Payudara

a. Pengertian

Payudara (buah dada) atau kelenjar mammae adalah salah satu organ

reproduksi pada wanita yang berfungsi mengeluarkan air susu. Payudara

terdiri dari lobules-lobulus yaitu kelenjar yang menghasilkan ASI, tubulus

atau duktus yang menghantarkan ASI dari kelenjar sampai pada puting

susu (nipple). Kelenjar mammae merupakan ciri pembeda pada semua

mamalia. Payudara manusia berbentuk kerucut tapi sering berukuran tidak

sama. Payudara terletak pada hermithoraks kanan dan kiri dengan batas-

batas yang tampak dari sebagai berikut:

1) Batas Superior : iga II atau III

2) Batas Inferior: iga VI atau VII

3) Batas Medial: pinggir sternum

4) Batas Lateral: garis aksillars anterior

b. Bagian Utama Payudara

1) Korpus

Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari

alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos

dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus,

yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap

payudara. ASI disalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil


10

(duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk

saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).

2) Areola

Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar,

akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam

dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila

berkontraksi dapat memompa ASI keluar.

3) Papilla

Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/datar,

panjang dan terbenam (inverted).

Kulit puting susu banyak mengandung pigmen tetapi tidak berambut.

Papilla dermis banyak mengandung kelenjar sabasea. Sedangkan kulit

pada areola juga banyak mengandung pigmen, tetapi berbeda dengan kulit

puting susu, ia kadang-kadang mengandung folikel rambut. Kelenjar

sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus kecil pada permukaan areola

dan disebut kelenjar Montgomery.

Kelenjar payudara (mammae, susu) terletak di bawah kulit, di atas otot

dada. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya

kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.
11

Payudara dibagi menjadi empat kuadran. Dua garis khayalan ditarik

melalui puting susu, masing-masing saling tegak lurus. Jika payudara

dibayangkan sebgai piringan sebuah jam, satu garis menghubungkan “jam

12 dengan jam 6” dan garis lainnya menghubungkan “ jam 3 dengan jam

9”. Empat kuadran yang dihasilkannya adalah kuadran atas luar (supero

lateral), kuadran atas dalam (supero medial), kuadran bawah luar (infero

lateral), dan kuadran bawah dalam (infro medial).

Ekor payudara merupakan perluasan kuadran atas luar (supero lateral).

Ekor payudara memanjang sampai ke aksilla dan cenderung lebih tebal

ketimbang payudara lainnya. Kuadran luar atas ini mengandung masa

jaringan kelenjar mammae yang lebih banyak atau langsung di belakang

areola dan sering menjadi tempat neoplasia.

Pada kuadran media atas dan lateral bawah, jaringan kelenjarnya lebih

sedikit jumlahnya, dan yang paling minimal adalah yang di kuadran

medial bawah. Jaringan kelenjar payudara tambahan dapat terjadi di

sepanjang garis susu, yang membentang dari lipatan garis aksillaris

anterior, menurun hingga lipatan paha. Payudara normal mengandung

jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong lemak, pembuluh

darah, saraf dan pembuluh limfe (Ambarwati, 2008)


12

c. Jaringan Kelenjar, Duktus dan Jaringan Penyokong

Jaringan kelenjar terdiri dari 15-25 lobus yang tersebar radier mengelilingi

puting. Tiap-tiap segmen mempunyai satu aliran yang akan berdilatasi,

sesampainya di belakang areola. Pada retro areolar ini, duktus yang

berdilatasi itu, menjadi lembut, kecuali saat dan selama ibu menyusui,

duktus ini akan mengalami distensi. Masing-masiang duktus ini tak berisi,

dan mempunyai satu bukan ke arah puting (duktus eksretorius).

Tiap lobus dibagi menjadi 50-57 lobulus, yang bermuara ke dalam suatu

duktus yang mengalirkan isinya ke dalam duktus askretorius lobulus itu.

Setiap lobulus terdiri atas sekelompok alveolus yang bermuara ke dalam

laktiferus (saluran air susu) yang bergabung dengan duktus-duktus

lainnya, untuk membentuk saluran yang lebih besar dan berakhir ke dalam

saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekati puting, saluran-

saluran ini akan membesar, untuk menjadi tempat penampungan air susu

(yang disebut sinus laktiferus), kemudian saluran-saluran tersebut

menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di atas

permukaannya.

Di antara kelenjar susu dan fasia pektrolis, juga di antara kulit dan kelenjar

tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobulus tersebut, ada

jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan

jaringan payudara, yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis


13

yang berfungsi sebagai struktur penyokong dan memberi rangka untuk

payudara (Ambarwati, 2008).

d. Vaskularisasi Payudara

1) Arteri

Payudara mendapat aliran darah dari:

a) Cabang-cabang perforantesa mammaria interna. Cabang-cabang I,

II, III, IV, V dari a. mammaria interna menembus di dinding dada

dekat tepi sternum pada interkostal yang sesuai, menembus m.

pektoralis mayor dan memberi aliran darah pada tepi medial

glandulla mamma.

b) Rami pektoralis a. thorako-akromialis. Arteri ini berjalan turun di

antara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini

merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor, arteri ini akan

memberikan aliran darah ke glandula mammae bagian dalam (deep

surface)

c) A. thorakalis lateralis (a. mammae eksternal). Pembuluh darah ini

berjalan turun menyusuri tepi lateral muskulus (otot = m)

pektoralis mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara.

d) A. thorako-dorsalis. Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a.

subskapularis. Arteri memberikan aliran darah ke m. latissmus

dorsi dan m. serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak

memberikan pendarahan pada glandula mammae, tetapi sangat


14

penting artinya, karena pada tindakan radikal mastektomi,

pendarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol,

sehingga daerah ini dinamakan “ the bloody angel” (Ambarwati,

2008)

2) Vena

Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena:

a) Cabang-cabang perforantes v. mammaria interna

Vena ini merupakan vena yang tersebar pada jaringan payudara

yang mengalirkan darah dari payudara dan bermuara pada v.

Mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. minominata.

b) Cabang-cabang v. aksillaris, yang terdiri dari v. thorako-

akromialis. v. thoraklais lateralis dan v. thorako-dorsalis.

c) Vena-vena kecil bermuara pada v. interkostalis

Vena interkostalis bermuara pada v. Vertebralis, kemudian

bermuara pada. Azygos (melalui vena-vena ini, keganasan pada

payudara akan dapat bermetastase langsung ke paru).

e. Sistem Limfatik Pada Payudara

1) Pembuluh Getah bening

Pembuluh getah bening aksilla: Pembuluh getah bening aksilla ini

mengalirkan getah bening dari daerah-daerah sekitar areola mammae,

kuadaran lateral bawah dan kuadaran lateral atas payudara


15

Pembuluh getah bening mammaria interna: Saluran limfe ini

mengalirkan getah bening dari bagian dalam dan medial payudara.

Pembuluh ini berjalan di atas fasia pektorlais lalu menembus fasia

tersebut sistem pertorntes menembus m. pektrolis mayor. Kemudian

berjalan ke medial bersama-sama dengan sisitem pertorntes menembus

m. interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening mamaria

interna.

Dari kelenjar mammaria interna, getah bening menglilr melalui

trunkus limfatikus mamaria interna. Sebagian akan bermuara pada v.

kava, sebagian akan bermuara ke duktus thorasikus (untuk sisi kiri)

dan duktus limfatikus dekstra (untuk sisi kanan).

Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah

payudara. Pembuluh ini berjalan bersama-sama vasa epigastrika

superior, menembus fasia rektus dan masuk ke dalam kelenjar getah

bening preperikadial anterior yang terletak di tepi atas diafragma, di

atas ligmentum falsiform. Kelenjar getah bening ini juga menampung

getah bening dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian antero

superior hepar. Dari kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus

limfatikus mammaria interna (Ambarwati, 2008)


16

2) Kelenjar-kelenjar Getah Bening

Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksilla:

a) Kelenjar getah bening mammae eksterna. Untaian kelenjar ini

terletak di bawah tepi lateral m. pektoralis mayor, sepanjang tepi

medial aksilla. Grup ini dibagi dalam 2 kelompok:

- Kelompok superior, terletak setinggi ingerkostal II-III

- Kelompok inferior, terletak setinggi interkostal IV-V-VI

b) Kelenjar getah bening scapula. Terletak sepajang v. subskapularis

dan thoralodoralis, mulai dari percabangan v. aksillaris mejadi v.

subskapularis, sampai ke tempat masuknya v. thorako-dorsalis ke

dalam m. latissimus dorsi.

c) Kelenjar getah bening sentral (central nodes). Terletak di dalam

jaringan lemak di pusat aksila. Kadang-kadang beberapa di

antaranya terletak sangat superficial, di bawah kulit dan fasia pada

pusat aksila, kira-kira pada pertengahan lipat aksila depan dan

belakang. Kelenjar getah bening ini adalah kelenjar getah bening

yang paling mudah diraba dan merupakan kelenjar aksilla yang

terbesar dan terbanyak jumlahnya.

d) Kelenjar getah bening interpektoral (rotters nodes). Terletak antara

m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v.

thorako-akromialis. Jumlahnya satu sampai empat buah.


17

e) Kelenjar getah v. aksillaris. Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang

v. aksillaris bagian lateral, mulai dari white tendon m. laitssimus

dorsi sampai ke sedikit medial dari percabangan v. aksillaris-

v.thorako akromialis.

f) Kelenjar getah bening subklavikula. Terletak di sepanjang

v.aksillaris, mulai dari sedikit medial percabangan v.aksillaris-

v.thorako-aktomialis sampai dimana v. aksillaris menghilang di

bawah tendo m.subklavius. kelenjar ini merupakan kelenjar aksilla

yang tertinggi dan termedial letaknya. Semua getah bening yang

berasal dari kelenjar-kelenjar getah bening aksilla masuk ke dalam

kelenjar ini. Seluruh kelenjar getah bening aksilla ini terletak di

bawah fasia kostokorakoid.

g) Kelenjar getah bening prepektoral, Kelenjar getah bening ini

merupakan kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah

kulit atau di dalam jaringan payudara kuadran lateral atas disebut

prepektoral karena terletak di atas fasia pektoralis.

h) Kelenjar getah bening interna, Kelenjar-kelenjar ini terdapat di

sepanjangt trunkus limfatikus mammaria interna, kira-kira 3 cm

dari tepi sternum, terletak di dalam lemak di atas fasia

endothoraiska. Pada sela tiga, diperkiran jumlahnya sekitar 6-8

buah.

(Ambarwati, 2008)
18

f. Susunan saraf

Susunan saraf payudara berasal dari cabang cutaneneous cervical dan saraf

thorako spinal. Cabang saraf ketiga dan keempat cutaneus dari plexus

cervicalis, melewati bagian anterior, berakhir di jajaran tulang tiga yang

kedua. Cabang-cabang ini menyuplai sensor ke bagian payudara atas, saraf

thoracic spinal, T3, T6 membentuk saraf intercostals dan bercabang dari

otot peectoralis major dekat sternum untuk mensuplai sensor ke bagian

lateral payudara. Percabangan T2 memasuki bagian atas tubuh saraf

interkostobrachial dan mensuplai sensor ke aksila. Susunan saraf areola

dan puting susu disuplai oleh saraf parikang thoracic yang bercabang-

cabang dengan bentuk membulat (Ambarwati, 2008).

g. Laktasi

Masing-masing payudara terdiri atas sekitar 20 percabangan duktus yang

terbuka melalui sinus ke atas permukaan putting susu. Terdapat benang-

benang penyangga dari jaringan fibrosa yang melekatkan ke dinding dada,

dan terdapat banyak sel-sel lemak di antara lobulus. Sistem duktus telah

terbentuk dengan baik setelah pubertas, karena keterlibatan estrogen,

tetapi sekretorius asini hanya berkembang pada kehamilan di bawah

pengaruh kadar progesterone yang tinggi. Prolaktin, suatu hormon dari

kelenjar hipofisis, meningkatkan aksi baik pada estrogen maupun

progesterone. Setelah kelahiran anak, penurunan kadar estrogen dan

progesterone menyebabkan peningkatan sekresi prolaktin dan hal ini


19

merangsang sekresi air susu ibu oleh kelenjar asini. Sekresi yang pertama

dihasilkan adalah kolostrum cairan yang kaya akan protein yang

mengandung antibody. Setelah hari ketiga terbentuk laktasi normal.

Penghisapan bayi pada payudara merangsang puting susu menyebabkan

refleks sekresi dari hormon oksitosin dari kelenjar hipofisis anterior.

Oksitosin menyebabkan kontraksi serat-serat otot polos di sekitar asini dan

air susu dengan cepat diejeksikan dari putting susu. Suatu refleks yang

dikenal sebagai “letdown” terbentuk pada beberapa hari pertama

menyusui tetapi dengan jelas dipengaruhi oleh emosi. Pelepasan oksitosin

juga membantu uterus untuk berkontraksi sehingga uterus kembali ke

ukuran normalnya.

Prolaktin, suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitaria interior,

penting untuk produksi air susu ibu, tetapi walaupun kadar hormon ini di

dalam sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan, bekerjanya hormon

ini dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepasnya/keluarnya plasenta

pada akhir proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron

berangsur-angsur turun sampai tinfkat dapat dilepaskannya dan

diaktifkannya prolaktin.

Terjadinya suatu kenaikan pemasokan darah beredar lewat payudara dan

dapat diekstaksi bahan penting untuk pembentukan air susu. Globulin,


20

lemak dan molekul-molekul protein dari darah sel-sel sekretoris akan

membengkakkan acini dan mendorongkannya menuju ke tubuli laktifer.

Kenaikan kadar prolaktin akan menghambat ovulasi dan dengan demikian

juga mempunyai fungsi kontrasepsi, tetapi ibu perlu memberikan air susu

2 sampai 3 kali setiap jam agar pengaruhnya benar-benar efektif. Dua

faktor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke

papilla mamae: tekanan dari belakang dan efek neurohormonal

(Ambarwati, 2008).

B. Konsep Dasar Penyakit Ca Mammae (Kanker Payudara)

1. Pengertian

Ca mammae adalah suatu penyakit selular yang dapat timbul dari jaringan

payudara dengan manifestasi yang mengakibatkan kegagalan untuk

mengontrol proliferasi dan maturasi sel (Wijaya & Putri, 2013: 85).

Kanker payudara adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan

pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan

yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali. Selain itu, kanker payudara

(carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang

ganas yang berasal dari parenchyma (Astana, 2009: 69).


21

2. Etiologi

Wijaya & Putri (2013: 85) menjelaskan bahwa sebab keganasan pada

payudara masih belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang berkaitan erat

dengan munculnya keganasan payudara yaitu virus, faktor lingkungan dan

faktor hormonal dan familial.

Adapun faktor resiko terjadinya kanker payudara menurut Moningkey &

Kodim 2005 dalam (Astana, 2009: 74) adalah sebagai berikut:

a. Faktor reproduksi

Karakteristik reproduksi yang berhubungan dengan resiko terjadinya

kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda,

menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua.

Resiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan,

pada periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan

pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara.

Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan

bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa

sebelum menopause, sehingga diperkirakan awal terjadinya tumir terjadi

jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.

b. Penggunaan hormone

Hormon eksogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara.

Laporan dari Harvard School of Public Helalth menyatakan bahwa terjadi


22

peningkatan kanker payudara yang bermakna pada para pengguna terapi

estrogen replacement. Suatu meta analisis menyatakan bahwa walaupun

tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral,

wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai

risiko tinggi mengalami kanker payudara sebelum menopause.

c. Penyakit fibrokistik

Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada

peningkatan resiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan

papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali lipat. Sedangkan

pada hiperplasia atipik, resiko meningkat hingga 5 kali lipat.

d. Obesitas

Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh

dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi serta

perubahan kekerapan kanker ini terjadi di negara-negara barat dan

bukanBarat, serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan

bahwa terdapat pengaruh diet pada terjadinya keganasan ini.

e. Konsumsi lemak

Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya

kanker payudara. Sebuah studi prospektif selama 8 tahun tentang

konsumsi lemak dan serta dalam hubungannya dengan resiko kanker

payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.


23

f. Radiasi

Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas

meningkatkan terjadinya resiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian

yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker berhubungan secara

liner dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.

g. Riwayat keluarga dan faktor genetik

Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat

penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara.

Terdapat peningkatan risiko keganasan ini pada wanita yang keluarganya

menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker

payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1,

yaitu suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara, probabilitas untuk

terjadinya kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar

85% pada umur 70 tahun.


24

3. Patofisiologi
Gambar 2.2 Patofisiologi Ca Mammae

(Nurarif & Kusuma, 2013: 77)

Bukti yang terus bermunculan menunjukkan bahwa adanya perubahan genetic

berkaitan dengan kanker payudara namun yang menyebabkan genetic masih


25

belum diketahui. Meskipun belum ada penyebab yang spesifik kanker

payudara diketahui namun bisa di identifikasi melalui faktor, daktor ini

penting dalam membantu mengembangkan program pencegahan. Hal yang

selalu diingat adalah bahwa 60% yang didiagnosa kanker payudara tidak

mempunyai faktor resiko yang di identifikasi kecuali lingkungan hormonal

mereka. Dimasa kehidupan, wanita dianggap beresiko untuk mengalami

kanker payudara, namun mengidentifikasi faktor resiko merupakan cara untuk

mengidentifikasi wanita yang mungkin diungkapkan dari kelangsungan hidup

yang harus meningkat dan pengobatan dini (Price, A Sylvia. 2006).

Untuk dapat menegakkan diagnosa kanker dengan baik, terutama untuk

melakukan pengobatan yang tepat, diperlukan pengetahuan tentang proses

terjadi kanker dan perubahan strukturnya. Tumor/neoplasma merupakan

kelompok sel yang berubah dengan ciri: proliverasi yang berlebihan dan tidak

berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliverasi normal

sel kanker akan mengganggu fungsi jaringan normal dengan meninfiltrasi dan

memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang

dijauhi. Didalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimiawi

terutama dalam intinya hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang

mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas

di antara sel normal.


26

4. Manifestasi Klinis

Bustan (2015: 213) menjelaskan bahwa pada tahap awal kanker payudara,

biasanya kita tidak merasakan sakit atau tidak ada tanda-tandanya sama sekali.

Namun, ketika tumor semakin membesar, gejala-gejal dibawah ini mungkin

muncul :

a. Benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit, dan terasa

kearas jika disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau disekitar

ketiak

b. Perubahan ukuran atau bentuk payudara

c. Kerutan pada kulit payudara

d. Keluarnya cairan pada payudara, umumnya berupa darah

e. Pembengkakan atau adanya tarikan pada putting susu.

Sebagai warning sign kanker payudara :

a) Keluhan ada benjolan pada payudara, atau terasa ada lump (benjolan) atau

penebalan (thickening) payudara

b) Perubahan ukuran atau bentuk, ataupun warna kulit payudara

c) Terdapat benjolan baru, tidak ada sebelumnya, terlebih benjolan

pembengkakan yang merah dan panas perih.

d) Bentuk apa saja cairan (discharge) secret dari payudara, khususnya putting

susu

e) Perubahan warna atau rasa kulit payudara, khususnya jika seperti kulit

jeruk

f) Ditemukan pembengkakan (kelenjar ketiak)


27

5. Jenis Kanker Payudara

Melalui pemeriksaan yang disebut dengan mamogram, tipe dari kanker

payudara dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu:

a. Kanker payudara non-invasif

Kanker payudara non-invasif adalah kanker yang terjadi pada kantung

susu (penghubung antara alveolus [kelenjar yang memproduksi air susu]

dan pada puting payudara). Kanker payudara jenis ini dalam istilah

kedokteran disebut dengan ”ductal carcinoma in situ” (DCIS). Jika

penderita masih dalam tahap ini, itu berarti kanker tersebut belum

menyebar ke seluruh bagian tubuh dan ke bagian luar jaringan kantong

susu.

b. Kanker payudara invasif

Kanker payudara invasif adalah suatu kanker yang sudah mulai menyebar

keluar bagian kantung susu dan sudah menyerang ke bagian sekitarnya,

bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) ke bagian tubuh

lainnya, seperti kelenjar limpa dan lainnya melalui peredaran darah

(Suryaningsih & Sukaca, 2009: 109)

6. Stadium Kanker Payudara

a. Stadium I

Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak ada

fiksasi/infiltasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya (otot). Besar tumor


28

1-2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar. Kelenjar getah bening regional

belum teraba. Perawatan yang sangat sistematis diberikan tujuannya

adalah agar sel kanker tidak dapat menyebar dan tidak berlanjut pada

stadium selanjutnya. Pada stadium ini, kemungkinan penyembuhan

penderita adalah 70%.

b. Stadium II

Tumor terbatas dalam payudara, besar tumor 2,5-5 cm, sudah ada satu

atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas dengan

diameter kurang dari 2 cm. untuk mengangkat sel-sel kanker biasanya

dilakukan operasi dan setelah operasi dilakukan penyinaran untuk

memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang tertinggal. Pada stadium ini,

kemungkinan sembuh penderita adalah 30-40%.

c. Stadium III A

Tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5-10 cm, tapi masih

bebas di jaringan sekitarnya kelenjar getah bening aksila masih bebas satu

sama lain.

d. Stadium III B

Tumor melekat pada kulit atau dinding dada kulit merah dan ada edema

(lebih dari sepertiga permukaan kulit payudara), ulserasi, kelenjar getah

bening aksila melekat satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya dengan

diameter 2-5 cm. kanker sudah menyebar ke seluruh bagian payudara,

bahkan mencapai kulit, dinding dada, tulang rusuk dan otot dada.
29

e. Stadium IV

Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III) tetapi sudah disertai

dengan kelenjar getah bening aksila supra klavikula dan metastasis jauh.

Sel-sel kanker sudah merembet menyerang bagian tubuh lainnya, biasanya

tulang, paru-paru, hati, otak, kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam

batang leher. Tindakan yang harus dilakukan adalah pengangkatan

payudara. Tujuan pengobatan pada stadium ini adalah palliative bukan lagi

kuratif (menyembuhkan).

(Setiyaningrum E & Aziz, 2014: 132).

7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Mamografi: Memeprellihatkan struktur internal payudara, dapat untuk

mendeteksi kanker yang tak teraba atau tumor yang terjadi pada tahap

awal.

b. Galaktografi: mamogram dengan kontras dilakukan dengan

menginjeksikan zat kontras kedalam aliran duktus

c. Ultrasound: Dapat membantu dalam membedakan antara massa padat dan

kista dan pada wanita yang jaringan payudaranya keras; hasil komplemen

dari mamografi

d. xeroradigrafi: menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor


30

e. Termografi: mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai ”titil

panas” karena peningkatan suplai darah dari penyusaian suhu kulit yan

lebih tinggi.

f. Diafanografi: mengidentifikasi tumor atau massa dengan membedakan

bahwa jaringan mentransmisikan dan menyebarkan sinar. Prosedur masih

diteliti dan dipertimbangkan kurang akurat dari pada mamografi.

g. Skan CT dan MRI: teknik skan yang dapat mendeteksi penyakit payudara,

khususnya massa yang lebih besar, atau tumor kecil, payudara mengeras

yang sulit diperiksa dengan momografi. Tehnik ini tidak bisa untuk

pemeriksaan rutin dan tidak untuk momografi.

h. Biopsi payudara (Jarum/eksisi): memberikan diagnosa definitif terhadap

massa dan berguna untuk klasifikasi histologi pentahapan, dan seleksi

terapi yang tepat.

i. Asai hormon reseptor: menyatakan apakah sel tumor atau spesimen biopsi

mengandung reseptor hormon (esterogen dan progesteron). Pada sel

malignan, reseptor kompleks esterogen-plus merangsang pertumbuhan

dan pembagian sel. Kurang lebih duapertiga semua wanita dengan kanker

payudara reseptor esterogenya positif dan cenderung berespons baik

terhadap terapi hormon menyertai terapi primer untuk memperluas

periode bebas penyakit dan kehidupan.

j. Foto dada, pemeriksaan fungsi hati, hitung sel darah, dan skan tulang:

dilakukan untuk mengkaji adanya metastase.


31

8. Penatalaksanaan

a. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 3 jenis

mastektomi, yaitu:

a. Modified radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh

payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang

iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

b. Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh

payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.

c. Radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari

payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya

pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara.

Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya

lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya

kurang dari 2 cm dan letaknya dipinggir payudara.

b. Radiasi

Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena

kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan

membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Efek

pengobatan ini adalah tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang,

warna kuit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit

cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.


32

c. Kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan antikanker dalam bentuk

pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel

kanker.

(Astana, 2009: 78-80).

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Aktivitas/Istirahat

Gejala : kerja, aktivitas yang melibatkan banyak gerakan

tangan/pengulangan pola tidur (contoh, tidur terlentang)

Tanda : Kesulitan ambulasi

b. Sirkulasi

Tanda : Kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem limfe).

c. Makanan/Cairan

Gejala : Kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.

d. Integritas Ego

Gejala : Stressor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah. Stres/takut

tentang diagnosa, prognosis, harapan yang akan datang

e. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : - Nyeri pada penyakit yang luas/metastatik (nyeri lokal

jarang terjadi pada keganasan dini).


33

- Beberapa pengalaman ketidaknyamanan atau perasaan

”lucu” pada jaringan payudara.

- Payudara berat, nyeri sebelum menstruasi biasanya

mengidentifikasikan penyakit fibrokistik

f. Keamanan

Tanda : - Massa nodul aksila.

- Edema, eritema pada kulit sekitar.

g. Seksualitas

Gejala : - Adanya benjolan payudara: perubahan pada ukuran dan

kesimetrisan payudara

- Perubahan pada warna kulit payudara atau suhu: rabas

puting yang tak biasanya; gatal, rasa terbakar, atau puting

meregang.

- Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia 12 tahun);

menopuse lambat (setelah 50 tahun) kehamilan pertama

lambat (setelah usia 35 tahun).

- Masalah tentang seksualitas/keintiman.

Tanda : - Perubahan pada kontut/massa payudara, simetris

- Kulit cekung, berkerut; perubahan pada warna/teratur kulit,

pembekakan, kemerahan atau panas pada payudara

- Puting reaksi; rabas dari puting (serosa, serosanglosa,

sengiosa, rabas berair meningkatkan kemungkinan kanker,

khususnya bila disertai benjolan)


34

h. Penyuluhan/Pembelajaran

Gejala : - Riwayat kanker dalam keluarga (ibu, saudara wanita, bibi

dari ibu, atau nenek)

- Kanker unilateral sebelumnya, kanker endometrial atau

ovarium.

i. Pertimbangan DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 4 hari

Rencana:

Membutuhkan bantuan dalam pengobatan/rehabilitasi, keputusan,

aktivitas perawatan diri, pemeliharaan rumah.

(Doenges, 2000: 751)

2. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan kanker payudara

menurut Doenges (2000) adalah:

a. Takut/ansietas (uraikan tingkatan) b.d ancaman kematian, contoh penyakit

luas; ancaman konsep diri: perubahan gambaran diri; jaringan parut;

kehilangan bagian tubuh, seksual tak menarik; perubahan status kesehatan.

Hasil yang diharapkan :

- Mengakui dan mendiskusikan masalah

- Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.

- Melaporkan takut dan ansietas menurun sampai tingkat dapat

ditangani.
35

Tabel 2.1. Takut/ansietas (uraikan tingkatan) b.d ancaman kematian,


contoh penyakit luas; ancaman konsep diri: perubahan
gambaran diri; jaringan parut; kehilangan bagian tubuh,
seksual tak menarik; perubahan status kesehatan

Intervensi Rasional
Mandiri
Yakinkan informasi pasien tentang Memberikan dasar pengetahuan perawatan
diagnosis, harapan intervensi pembedahan, untuk menguatkan kebutuhan informasi dan
dan terapi yang aka datang. Perhatikan membantu untuk mengidentifikasi pasien
adanya penolakan atau ansietas ekstrem. ansietas tinggi, dan kebutuhan akan perhatian
khusus. Catatan: penolakan mungkin
berguna sebagai metode koping selama
waktu tertentu, tetapi ansietas ekstrem
memerlukan tindakan dengan segera.
Mandiri
Jelaskan tujuan dan persiapan untuk Pemahaman jelas akan prosedur dan apa
diagnostik. yang terjadi meningkatkan perasaan kontrol
dan mengurangi ansietas.
Berikan lingkungan perhatian, kebutuhan Waktu dan privasi diperlukan utnuk
dan penerimaan juga privasi untuk memberikan dukungan, diskusi perasaan
pasien/orang terdekat. Anjurkan bahwa tentang antisipasi kehilangan dan masalah
orang terdekat ada kapan pun diinginkan. lain. Komunikasi teraupetik, pertanyaan
terbuka mendengarkan, dan sebagainya,
memerlukan proses ini.
Dorong pertanyaan dan berikan waktu Memberi kesempatan untuk
untuk mengekspresikan takut. Beritahu mengidentifikasi dan memperjelas
pasien bahwa stres sehubungan dengan kesalahan konsep dan menawarkan
kanker pasyudara dapat menetap selama dukungan emosi.
beberapa bulan dan perlu mencari
bantuan/dukungan.
Kaji tersedianya dukungan pada pasien. Menjadi sumber yang membantu bila psien
Berikan informasi tentang sumber siap. Kelompok sebaya yang mengalami
komunitas bila ada. Dorong/berikan pengalaman serupa bertindak sebagai model
kunjungan seorang wanita yang telah peran dan memberikan keyakinan terhadap
sembuh dari mastektomi. pertanyaan, harapan untuk sembuh/masa
depan normal.
Diskusikan/jelaskan peran rehabilitasi Rehabilitasi adalah komponen terapi penting
36

Intervensi Rasional
setelah pembedahan untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial,
emosional dan vokasional sehingga pasien
dapat mencapai tingkat fisik dan fungsi
emosi sebaik mungkin.
(Doenges, 2000: 753).

b. Integritas kulit/jaringan, kerukasn b.d. pengangkatan bedah kulit/jaringan;

perubahan sirkulasi, adanya edema, drainase; perubahan pada elastisitas

kulit; destruksi jaringan (radiasi).

Hasil yang diharapkan :

- Meningkatkan waktu penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau

eriterima.

- Menunjukkan perilaku/teknik untuk meningkatkan penyembuhan/

mencegah komplikasi.

Tabel 2.2. Integritas kulit/jaringan, kerusakan b.d. pengangkatan


bedah kulit/jaringan; perubahan sirkulasi, adanya edema,
drainase; perubahan pada elastisitas kulit; destruksi
jaringan (radiasi).

Intervensi Rasional
Mandiri Penggunaan balutan tergantung luas
Kaji balutan/luka untuk karakteristik pembedahan dan tipe penutupan luka.
drainase. Awasi jumlah edema. Kemerahan, (Balutan penekanan biasanya dipakai pada
dan nyeri pada insisi dan lengan. Awasi awal dan diperkuat, tidak diganti). Drainase
suhu. terjadi karena trauma prosedur dan
manipulasi banyak pembuluh darah dan
limfatik pada area tersebut. Pengenalan dini
terjadinya infeksi dapat memampukan
pengobatan dengan cepat.
Tempatkan pada posisi semi-fowler pada Membantu drainase cairan melalui gravitasi.
punggung atau sisi yang tak sakit dengan
37

Intervensi Rasional
lengan tinggi dan disokong dengan bantal
Jangan melakukan pengukuran TD, Meningkatkan potensial konstriksi, infeksi,
menginjeksikan obat atau memasukan IV dan limfedema pada sisi yang sakit.
pada lengan yang sakit.
Inspeksi donor/sisi tandur (bila dilakukan) Warna dipengaruhi adanya suplai sirkulasi.
terhadap warna, pembentukan lepuh; Pembentukan lepuh memberikan tempat
perhatikan drainas dari sisi donor. pertumbuhan bakteri/ infeksi.
Kosongkan darain luka. Secara periodik Akumulasi cairan drainase (contoh, limfe,
catat jumlah dan karakteristik drainase. darah) meningkatkan penyembuhan dan
menurunkan kerentanan terhadap infeksi.
Alat penghisap ( contoh: Hemovac, Jackson
pratt) sering dimasukkan selama
pembedahan untuk mempertahankamn
tekanan negatif pada luka, selang biasanya
diangkat sekitaer hari ketiga atau bila
drainase
Dorong untuk menggunakan pakaian yang Menurunkan tekanan pada jaringan yang
tidak sempit/ketat. Beritahu pasien untuk terkena.,yang dapat memperbaiki
tidak memakai jam tangan atau perhiasan sirkulasi/penyembuhan.
lain pada tangan yang sakit.
Kolaborasi
Berikan antibiotik sesuai indikasi; Dibreikan secara profilaksis atau untuk
mengobati infeksi khusus dan meningkatkan
penyembuhan.
(Doenges, 2000: 754)

c. Nyeri, (akut) b.d prosedur pembedahan; trauma jaringan, interupsi saraf,

diseksi otot;

Hasil yang diharapkan:

- Mengekspresikan penurunan
38

- Nyeri/ketidaknyamanan.

- Tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat

Tabel 2.3. Nyeri, (akut) b.d prosedur pembedahan; trauma jaringan,


interupsi saraf, diseksi otot;

Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji skala nyeri, perhatikan lokasi, Membantu dalam mengidentifikasi derajat
lamanya, dan intensitas (skala 1-10). ketidaknyamanan dan kebutuhan untuk/
Perhatikan petunjuk verbal dan non-verbal. keefektifan analgetik. Jumlah jaringan, otot,
dan sistem limfasik diangkat dapat
mempengaruhi jumlah nyeri yang dialami.
Kerusakan saraf pada region aksilaris
menyebabkan kebas pada lengan atas dan
region scapula, yang dapat lebih ditoleransi
daripada nyeri pembedahan. Catatan: nyeri
pada dinding dada dapat terjadi dari
tegangan otot, dipengaruhi oleh panas atau
dingin ekstrem, dan berlanjut selama
beberapa bulan.
Diskusikan sensasi masih adanya payudara Memberikan keyakinan bahwa sensasi
normal. bukan imajinasi dan penghilangannya dapat
dilakukan.
Mandiri
Bantu pasien menemukan posisi nyaman Peninggian lengan, ukuran baju, dan adanya
drain mempengaruhi kemampuan pasien
untuk rileks dan tidur/istirahat secara efektif.
Berikan tindakan kenyamanan dasar contoh, Meningkatkan relaksasi, membantu untuk
perubahan posisi pada punggung atau sisi memfokuskan perhatian, dan dapat
yang tak sakit, pijatan punggung dabn meningkatkan kemampuan koping.
aktivitas teraupetik. Dorong ambulsi dini
dan penggunaan teknik relaksasi,
bimbingan imajinasi, sentuhan teraupetik.
Takan/sokong dada saat latihan batuk/nafas Memudahkan pertisipasi pada aktivitas
dalam. tanpa timbul ketidaknyamanan.
39

Intervensi Rasional
Kolaborasi
Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal Memepertahankan tingkat kenyamanan dan
teratur sebelum nyeri berat dan sebelum memungkinkan pasien untuk latihan lengan
aktivitas dijadwalkan. dan untuk ambulasi tanpa nyeri menyertai
upaya tersebut.
Kolaborasi
Berikan narkotik/analgetik sesuai indikasi Memberikan penghilangan ketidaknyamanan/
nyeri dan memfasilitasi tidur, partisipasi
pada terapi pascaoperasi.
(Doenges, 2000: 755)

d. Harga diri/Rendah, gangguan b.d biofisikal: prosedur bedah yang

mengubah gambaran tubuh; Psikososial: masalah tentang ketertarikan

seksual.

Hasil yang diharapkan :

- Menunjukkan gerakan ke arah penerimaan diri dalam situasi

- Pengenalan dam ketidaktepatan perubahan dalam konsep diri tanpa

menegatifkan harga diri.

- Menyusun tujuan yang realistik dan secara aktif berpartisipasi dalam

program terapi.

Tabel 2.4. Harga diri/Rendah , gangguan b.d biofisikal: prosedur


bedah yang mengubah gambaran tubuh; Psikososial:
masalah tentang ketertarikan seksual.

Intervensi Rasional
Mandiri
Dorong pertanyaan tentang situasi saat ini Kehilangan payudara menyebabkan reaksi,
dan harapan yang akan datang. berikan termasuk perasaan perubahan gambaran diri,
dukungan emosional bila balutan bedah takut jaringan pasrut, dan takut reaksi
40

Intervensi Rasional
diangkat. pasangan terhadap perubahan bentuk.
Identifikasi masalah peran sebagai wanita, Dapat menyatakan bagaimana pandangan
istri, ibu, wanita karir, dan sebaginya. diri pasien telah berubah.
Mandiri
Dorong pasien untuk mengekspresikan Kehilangan bagian tubuh, hilangnya bagian
perasaan misal, marah, bremusuhan dan tubuh, dan menerima kehilangan hasrat
berduka. seksual menambah proses kehilangan yang
membutuhkan penerimaan sehingga pasien
dapat membuat rencana untuk masa depan.
Catatan: Duka cita menyertai prosedur
berikutnya yang dilakukan (misal.
Pemasangan prostese, prosedur
rekonstruksi).
Diskusikan tanda/gejala depresi dengan Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan
psien/orang terdekat. kebutuhan ini dikenali dan diukur.
Berikan penguatan positif untuk Mendorong kelanjutan perilaku sehat.
peningkatan/perbaikan dan partisipasi
perawatan diri/program pengobatan.
Kaji ulang kemungkinan untuk bedah Bila mungkin, rekontruksi emberikan sedikit
rekontruksi dan/atau pemakaian prostetik. penampilan tak lengkap/kosmetik
:mendekati normal”. Variasi pada lipatan
kulit dapat dilaukan untuk memudahkan
prose rekontruksi selanjutnya. Catatan:
meskipun rekontruksi biasanya tidak
dilakukan selama 3-6 bulan. Perlambatan
yang memamnjang dapat mengakibatkan
peningkatan tegangan pada hubungan dan
mengganggu penyatuan perubahan kedalam
konsep diri pasien.
Yakinkan perasaan/masalah pasangan Respon negatif yang diarahkan pada pasien
sehubungan dengan aspek seksual, dan dapat secara aktual menyatakan masalah
memberikan informasi dan dukungan. pasangan tentang rasa sedih pasien, takut
kanker/kematian, kesulitan dalam
menghadapi perubahan kepribadian/prilaku
pasien, atau ketidakmampuan untuk melihat
area operasi.
41

Intervensi Rasional
Diskusikan dan rujuk ke kelompok Memberikan tempat untuk pertukaran
pendeukung (bila ada) untuk orang terdekat. masalah dan perasaan dengan orang lain yang
mengalami mengalami pengalaman yang
sama dan mengidentifikasi cara orang terdekat
dapat memudahkan penyembuhan pasien.
Kolaborasi
Berikan prostesis sementara yang halus, bila Prostesis nilon dan dakron dapat dipakai
diindikasikan. pada bra sampai insisi sembuh bila bedah
rekontruksi tidak dilakukan pada waktu
mastektomi. Ini meningkatkan penerimaan
sosial dan memungkinkan pasien untuk
merasa nyaman tentang gambaran tubuh
pada waktu pulang.
(Doenges, 2000: 756)

e. Mobilitas fisik, kerusakan b.d gangguan neuromuskular;

nyeri/ketidaknyamanan; pembentukan edema;

Hasil yang diharapkan :

- Menunjukkan keinginan untuk berpartisipasi dalam terapi.

- Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas

- Peningkatan kekuatan bagian tubuh yang sakit.

Tabel 2.5. Mobilitas fisik, kerusakan b.d gangguan neuromuskular;


nyeri/ketidaknyamanan; pembentukan edema;

Intervensi Rasional
Mandiri
Tinggikan lengan yang sakit sesuai indikasi. Meningkatkan aliran balik vena,
Mulai melakukan rentang gerak psif mengurangi kemungkinan limfedema.
(contoh fleksi/ekstensi jari) sesegera Latihan pascaoperasi dini bisanya mulai
mungkin. pada 24 jam pertama untuk mencegah
kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada
42

Intervensi Rasional
keterbatasan gerakan/mobilitas.
Biarkan pasien menggerakkan jari, Kurang gerakan dapat menunjukkan
perhatikan sensasi dan warna tangan yang masalah saraf brakial interkostal, dan
sakit. perubahan warna dapat mengidentifikasikan
gangguan sirkulasi.
Dorong pasien untuk menggunakan lengan Peningkatan siskulasi, membantu
untuk kebersihan diri. Contoh makan, meminimalkan edema, dan mempertahankan
menyisir rambut, mencuci muka. kekuatan dan fungsi lengan dan tangan.
Aktivitas ini menggunakan lengan tanpa
abduksi, yang dapat menekan jahitan pada
periode pascaoperasi dini.
Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai Menghemat energi pasien; mencegah
keperluan. kelelahan.
Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki Pasien akan merasa tidak seimbang dan
postur. dapat memerlukan bantuan sampai terbiasa
terhadap perubahan. Pertahankan punggung
tegak mencegah bahu bergerak ke depan,
menghindari keterbatasan permanen dalam
gerakan dan postur.
Tingkatkan latihan sesuai indikasi, contoh Mencegah kekakuan sendi, meningkatkan
ekstensi aktif legan dan rotasi bahu saat sirkulasi, dan mempertahankan tonus otot
baring di tempat tidur, mengepakan bahu dan lengan.
pendulum, memutar tali, mengangkat
lengan untuk menyentuh ujung jari di
belakang kepala.
Lanjutkan pada tangan (jari berjalan di Karena kelompok latihan ini dapat
dinding), menjepit tangan di belakang menyebabkan tegangan berlebihan pada
kepala, dan latihan abduksi penuh sesegera insisi, sampai terjadi proses penyembuhan
mungkin pasien dapat melakukan. lebih lanjut, latihan ini ditunda.
Evaluasi adanya/derajat latihan sehubungan Mengawasi kemajuan/perbaikan komplikasi.
dengan nyeri dan perubahan mobilitas Dapat memerlukan penundaan untuk
sendi. Mengukur lengan ats dan lengan meningkatkan latihan dan menunggu sampai
bawah bila terjadi edema. penyembuhan berikutnya terjadi.
Diskusikan tipe latihan yang dilakukan di Program latihan membutuhkan
rumah untuk meningkatkan kekuatan dan kesinambungan untuk meningkatkan fungsi
meningkatkan siskulasi pada lengan yang optimal sisi yang sakit.
sakit.
43

Intervensi Rasional
Koordinasikan program latihan kedalam Pasien bisanya lebih senang untuk
perawatan diri dan aktivitas pekerjaan berpartisipasi atasi menemukan kegiatan
rumah, contoh berpakaian sendiri, mencuci, yang lebih mudah untuk mempertahankan
breenang, membersihkan cebu, mengepel. program latihan yang cocok dalam pola
hidup dan menyelesaikan tugas dengan baik.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi tanda Perubahan berat dan sokongan membuat
dan gejala tegangan bahu, contoh tegangan pada struktur sekitarnya.
ketidakmampuan mempertahankan postur,
rasa terbakar pada region poskapular.
Instruksikan pasien untuk menghindari
duduk atau melipat tangan pada posisi
tergantung dalam waktu lama.
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi, contoh:
- Analgetik Nyeri membutuhkan kontrol untuk latihan
atau pasien tidak dapat brepartisipasi secara
optimal dan kesempatan untuk latihan
mungkin hilang.
- Diuretik Mungkin berguna dalam pengobatan dan
mencegah akumulasi/limfedema.
pertahankan integritas balutan elastic atau Meningkatkan aliran balilk vena dan
pakaian dengan lengan baju elastic yang menurunkan resiko/efek pembentukan
menekan. edema.
(Doenges, 2000: 757)

f. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognisis, dan

kebutuhan pengobatan b.d kurang terpajan/mengingat; salah inteprestasi

informasi.

Hasil yang diharapkan :

- Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.


44

- Melakukan prosedur yang perlu dengan benar dan menjelaskan alasan

tindakan.

- Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi pada program

pengobatan.

Tabel 2.6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,


prognisis, dan kebutuhan pengobatan b.d kurang
terpajan/mengingat; salah inteprestasi informasi.

Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji proses penyakit, prosedur pembedahan, Memebrikan pengetahuan dasar dimana
dan harapan yang akan datang. pasien dapat membuat pilihan berdasarkan
informasi termasuk berpartisipasi dalam
radiasi/program kemoterapi.
Diskusikan perlunya keseimbangan Memberikan nutrisi optimal dan
kesehatan, nutrisi, makan dan pemasukan mempertahankan volume sirkulasi untuk
cairan yang adekuat. meningkatkan regenerasi jaringan/proses
penyembuhan.
Anjurkan pilihan jadwal istirahat sering dan Mencegah/membatasi kelelahan,
periode aktivitas khususnya situasi saat meningkatkan perasaan sehat. Duduk
duduk lama. dengan lengan dan kepala ekstensi menekan
pada struktur yang sakit. Menimbulkan
tegangan otot/kekakuan dan dapat
mempengaruhi penyembuhan.
Anjurkan pasien untuk melindungi tangan Mempengaruhi sistem limfatik sehingga
dan lengan bila berkebun; menggunakan menyebabkan jaringan lebih rentan terhadap
sarung tangan bila menjahit; menggunakan infeksi dam/atau cedera, yang dapat
pengalas bila memegang benda panas; menimbulkan limfedema.
gunakan sarung tangann plastik bila
mencuci piring; dan sebagainya. Jangan
membawa dompet atau menggunakan
perhiasan/jam tangan pada sisi yang sakit.
Waspadai dalam mengambil darah atau Dapat membatasi siskulasi dan
45

Intervensi Rasional
memberikan ciran intrcena/obat atau meningkatkan risiko infeksi bila sistem
pengukuran tekanan darah pada sisi yang limfatik menurun.
sakit.
Mandiri
Anjurkan menggunakan alat waspada medik Mencegah trauma yang tak diinginkan
(contoh, mengukur TD, infeksi) pada lengan
yang sakit
Tunjukkan penggunaan kompres intremiten Alat bantu pneumatic kadang-kadang
sesuai kebutuhan. membantu dalam menangani limfedema
dengan meningkatkan sirkulasi dan aliran
balik vena
Anjurkan pijatan lembut pada insisi yang Merangsang sirkulasi; meningkatkan
sembuh dengan minyak elastisitas kulit; dan menurunkan
ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa
fantom payudara.
Anjurkan menggunakan posisi seksualyang Meningkatkan perasaan kewanitaan dan rasa
menghindari penekanan pada dinding dada. mampu untuk melakukan aktivitas seksual.
Dorong untuk memilih bentuk ekspresi
seksual (membelai, menyentuh) selama
proses penyembuhan awal/saat area operasi
masih nyeri tekan.
Dorong pemeriksaan diri teratur pada Mengidentifikasi perubahan jaringan
payudara yang masih ada. Tentukan jadawal payudara yang mengindikasikan
anjuran terjadinya/berulangnya tumor baru.
Tekankan pentingnya evaluasi medik teratur Pengobatan lain mungkin diperlukan
sebagai terapi tambahan, seperti radiasi
berulangnya keganasan tumor payudara juga
dapat di identifikasi dan ditangani oleh
anologis.
Mengidentifikasi tanda/gejala yang Limfangitis dapat terjadi sebagai akibat
memerlukan evaluasi medik, contoh infeksi, menyebabkan limfadema.
kemerahan payudara atau lengan,
pembengkakan edema, drainase, luka
46

Intervensi Rasional
purulen, demam/menggigil.
(Doenges, 2000: 759)