Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

ASKEB V (PATOLOGI KEBIDANAN)


“KEHAMILAN DENGAN GONOREA”

Oleh Kelompok 27 :

Mutia Elwio Putri (12211237)


Ona Juwita Sari (12211243)

Tingkat II A

Pembimbing:

Devi Syrief S.Si.T,M.Keb

D-III KEBIDANAN

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Tahun Aajaran 2013/201


TINJAUAN TEORI

1. DEFINISI

Gonore adalah IMS yang disebabkan oleh diplokokus intrasel gram-negatif anaerob
Neisseria gonorrhoeae.

Gonorea adalah semua infeksi yang disebabkan oleh neisseria gonorrhea. N. gonorrrhoeae
dibawah mikroskop cahaya tampak sebagai diplokokus berbentuk biji kopi dengan lembar 0,8
µm dan bersifat tahan asam. Kuman ini bersifat gram negative, tampak diluar dan di dalam
leukosit polimorfnuklear, tidak dapat bertahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan
kering, tidak tahanpada suhu di atas 39° C, dan tidak tahan zat desinfektan.

2. ETIOLOGI
A. Organisme gonokokus (gonokokus, GC) adalah bakteri diplokokus berbentuk kacang-
kacang merah, yang bersifat patogen pada epitel. Lokasi infeksi yang umum mencakup :
 Orofaring
 Konjungtiva mata
 Uretra pria
 Salurang reproduksi wanita. GC menetap dalam vagina hingga menstruasi, saat
kanalis serviks terbuka, dan kemudian naik ke uterus serta tuba falopii.
 Rektum

B. Infeksi sebelumnya memberikan antibody, namun bukan imunitas. Baik virulensi bakteri
maupun daya tahan tubuh individu bervariasi.

3. GEJALA KLINIK

Perjalanan penyakit: awitan terjadi 3-7 hari setelah masa menstruasi pertama mengikuti
perjalanan. Gejala mulai mereda 7-10 hari kemudian dan biasanya lenyap setelah 21 hari
tanpa terapi ( lebih cepat mereda dengan terapi ).
Gonorea akut :

Gejala klinis: disuria, uretritis, servisitis, dan kolpitis dengan keputihan banyak seperti
nanah encer, berwarna kuning atau kuning hijau. Bila penakit ini lebih meluas dapat
menyebabkan vovokolpitis dan bartolinitis akut.

Gonorea kronik

Penyakit menjalar keatas: endometritis, endosalpingitis, dan pelveoperitonitis. Apabila


kuman masuk kedalam aliran darah akan timbul arthritis dan endokaditis. ()
Gambaran klinik dan perjalanan penyakit pada perempuan berbeda dari pria.hal ini
disebabkan perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan perempuan. Gonorea pada
perempuan kebanyakan asimptomatik sehingga sulit menentukan masa inkubasinya.
Infeksi gonorea selama kehamilan telah diasosiasikan dengan pelvic inflammatory disease
(PID). Infeksi ini sering ditemukan pada trimester pertama sebelum korion berfusi dengan
desidua dan mengisi kavum uteri. Pada tahap lanjut, neisseria gonorrhoeae diasosiasikan
dengan ruptur membrane yang prematur, kelahiran prematur, koriamnionitis, dan infeksi
pascapersalinan. Konjungtivitis gonokokal (ophthalmia neonatorum), manifestasi tersering
dari infeksi perinatal, umumnya ditransmisikan selama proses persalinan. Jika tidak diterapi,
kondisi ini dapat mengarah pada perforasi kornea dan panof talmitis. Infeksi neonatal lainnya
yang lebih jarang termasuk meningitis sepsis diseminata dengan artritis, serta infeksi genital
dan rectal.

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gonorea dapat dipastikan dengan menemukan N. gonorrhoeae sebagai penyebab, baik


secara mikroskopik maupun kultur (biakan). Sensiyivitas dan spesifisitas dengan pewarnaan
gram dari sediaan serviks hanya berkisar 45 – 65 %, 90 – 99%, sedangkan sensitivitas dan
spesifitas dengan kultur sebesar 85 – 95% , > 99%. Oleh karena itu untuk menegakkan
diagnosis gonorea pada perempuan perlu dilakukan kultur. Secara epidemiologis pengobatan
yang dianjurkan untuk infeksi gonorea tanpa komplikasi adalah pengobatan dosis tunggal.
Pilihan terapi yang direkomendasikan oleh CDC adalah sefiksim 400 mg per oral, seftriakson
250 mg intramuscular, siprofloksasin 500 mg per oral, ofloksasin 400 mg per oral,
levofloksasin 250 mg per oral, atau spektomisin 2 g dosis tunggal intramuscular.
5. DIAGNOSIS BANDING

GONOREA

Diagnosis harus dipertimbangkan dan disingkirkan, tergantung pada sisi yang terinfeksi
gonokokus.

a. Uretra : singkirkan dugaan ISK atau klamidia


b. Serviks, vagina, dan kelenjar bartholin : singkirkan dugaan infeksi nongonokokus,
terutama klamidia.
c. Endometrium atau endosalping : singkirkan dugaan kondisi berikut ini :
1) Nyeri ligamen teres
2) Diverticulitis
3) Apendisitis
4) Kehamilan ektopik
5) Aborsi sepsis
6) Endometriosis panggul
7) Batu ginja

6. PENATALAKSANAAN
A. Diagnosis penyakit dengan memriksa kultur GC serviks atau uretra bila ada tanda dan
gejala uretritis.
B. Lakukan kultur GC serviks bila terdapat kondisi berikut :
1. Bila ada tanda dan gejala gonore
2. Bila pasien didiagnosis sifilitis atau klamidi
3. Bila pasien menunjukkan kekhawatiran bahwa ia mungkin terkena infeksi menular
seksual ( IMS ).
C. Bila uji kultur positif, lakukan prosedur berikut ini :
1. Dapatkan hasil VDRL untuk menyingkirkan dugaan sifilis sebelum pengobatan
diberikan.
2. Pertimbangkan untuk mengobati pasien di klinik. Beritahukan kasus ini ke
departemen kesehatan subbagian infeksi dan pengobatan
3. Ikuti pengobatan standart yang direkomendasikan oleh CDC :
1) Pasien yang tidak hamil
a. Rekomendasikan 125 mg Rocephin ( seftriakson ) IM dalam dosis tunggal
atau 400 mg ofloksasin per oral dalam dosisi tunggal, diikuti dengan 1 g
zithromax ( azitromisin ) per oral dalam dosis tunggal atau 100 mg
doksisiklin per oral, 2 kali/hari selama 7 hari.
b. Regimen pengganti
 Rekomendasikan 2 g spektinomisin IM dalam dosis tungal, diikuti dengan
salah satu pemberian 1 g zithtromax per oral dalam dosis tunggal atau 100
mg doksisiklik per oral, 2 kali per hari selama 7 hari.
 Bila infeksi terjadi pada individu yang tidak terbukti resisten terhadap
penisilin , berikan 3 g amoksilin per oral disertai 1 g probenesid, diikuti
100 mg doksisiklik per oral, 2 kali per hari selama 7 hari.
2) pasien hamil : berikan 125 mg rochepin IM dalam dosis tunggal atau 2 g
spektinomisin IM dalam dosis tunggal, diikuti dengan pemberian 1 g zithromax
per oral dalam dosis tunggal atau 500 mg amoksisilin per oral, 3 kali per hari
selama 7 hari.
4. Setelah pengobatan, tindak lanjut dengan tindakan berikut :
1) kultur ulang serviks setelah terapi dilakukan pada waktu berikut :
a. satu minggu setelah pengobatan selesai
b. diagnosis gonore selama kehamilan
o kultur ulang serviks dalam 1 bulan taksiran partus (TP) untuk membuktkan
kesembuhan atau menyingkirkan dugaan reinfeksi sebelum pelahiran.
o kultur ulang serviks pada kunjungan pascapartum minggu
ke – 6
2) bila hasil positif kapanpun, obati ulang pasien, jelaskan kepada pasien mengenai
diagnosisnya, berikan pendidikan kesehatan mengenai gonokokus, dan tekankan
pentingnya menyelesaikan pengobatan dan tindakan tindak lanjut.
3) hubungi pasangan seksual pasien ( segala usaha harus dilakukan ) dan
konfirmasikan pengobatan pasien atau pasangan kepada departemen kesehatan.
5. Bila gonore didiagnosis selama kehamilan
1) pastikan dokter anak atau perawat praktisi neonates memberitahukan diagnosis
bayi setelah pelahiran.
2) waspadai tanda-tanda PRP GC pada pasien pascapartum dan konsultasikan
dengan dokter bila terjadi.

7. PENGOBATAN
1. Penisilin prokain G: 2,4 juta satuan perhari selama 2-4 hari
2. Eritromisin 4 x 0,5 per hari selama 5-10 hari
3. Suami juga perlu diperiksa kalau perlu diobati juga
4. Obat – obat antibiotika spectrum luas lainnya
5. Profilaksis bayi 1% atau salep garamisin atau penisilin.
KONSEP DASAR MENAJEMEN KEBIDANAN

Langkah I: Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk pengumpulan data, pengelompokan


data dan menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan keadaan klien. Pada langkah
pertama ini dikumpulkan semua data atau informasi yang akurat dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien. Data – data yang di kumpulkan meliputi :

1. Data subjektif
a. Biodata atau identitas klien dan suami
Yang dikaji : nama, umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
Gunanya adalah untuk mengenal klien dan membedakan antara pasien yang satu
dengan pasien yang lainnya.

b. Keluhan utama
Merupakan alasan kenapa ibu berkunjung ke BPS dan apa-apa saja yang dirasakan ibu.
Keluhan yang biasanya dirasakan ibu pada kehamilan dengan gonorea, antara lain :
 Keluarnya cairan hijau kekuningan dari vagina
 Demam
 Muntah-muntah
 Rasa gatal dan sakit pada anus serta sakit ketika buang air besar
 Rasa sakit pada sendi
 Munculnya ruam pada telapak tangan

c. Riwayat perkawinan
Kemungkinan ditemukan status perkawinan, umur waktu kawin, berapa lama kawin
karena ini akan mempengaruhi kehamilan ibu.

d. Riwayat menstruasi
Yang ditanyakan disini adalah kapan HPHT untuk menentukan usia kehamilan dan
tafsiran persalinan, bagaimana siklus haid, berapa lama, berapa banyaknya, kapan
pertama kali haid dan apakah ada merasakan nyeri saat haid.
e. Riwayat obstetric
Ditanyakan tentang :
1) Kehamilan yang lalu
Untuk mengetahui ibu pernah hamil berapa kali,apakah iu mersakan mual
muntah,dll.
2) Persalinan yang lalu
Meliputi jenis persalinan, di tolong siapa, dimana dan bagaimana keadaan bayi
bayi saat lahir (PB/BB), dan apakah ada penyulit.
3) Nifas yang lalu
4) Kemungkinan adanya penyulit selam nifas, dan bagaimana dengan laktasinya.

f. Riwayat kehamilan sekarang


1) Kemungkinan klien merasakan mula muntah dan perdarahan.
2) Kapan klien merasakan pergerakan pertama kali.
3) Apakan pasien ada melakukan pemeriksaan sebelumnya.
4) Dan apakah pasien sudah mendapat imunisasi TT.

g. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan yang lalu
2) Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit jantung,hipertensi,DM,dll.
3) Riwayat kesehatan sekarang
4) Kemungkinan klien mengalami penyakit jantung,hipertensi,DM,dll.

h. Riwayat kesehatan keluarga


Kemungkinan ada anggota keluarga menderita penyakit keturunan,penyakit menular,
riwayat kehamilan kembar,dll.

i. Riwayat kontrasepsi
Kemungkinan klien pernah menggunakan kontrasepsi atau tidak.

j. Riwayat seksualitas
Apakah klien ada mengalami gangguan dengan aktifitas seksualnya.
k. Riwayat social, ekonomi, dan budaya

l. Bagaimana hubungan klien dengan suami, keluarga, dan masyarakat. kemungkinan


ekonomi yang kurang mencukupi, dan adanya kemungkinan kebudayaan yang
mempengaruhi kesehatan klien.

m. Riwayat spiritual
Kemungkinan klien melakukan ibadah agama dan kepercayaan dengan baik.

n. Riwayat psikologis
kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga dengan kehamilan
ini.misalnya:takut,cemas,atau senang.

2. Data objektif
Dikumpulkan dari hasil pemeriksaan.
a. Pemeriksaan umum : untuk mengetahui keadaan ibu secara umum.
b. TTV : meliputi pemeriksaan tekanan darah, suhu, nadi, dan pernafasan.
c. Pemeriksaaan fisik
 Secara inspeksi : yaitu pemeriksaan pandang dari kepala sampai kaki
a) Mata : Oedema atau tidak
Konjungtiva : pucat atau tidak
Sclera : ikhterik atau tidak
b) Mulut dan gigi : lidah bersih atau tidak,gigi ada karies atau tidak
c) Leher : kelenjar tiroid ada pembesaran atau tidak, kelenjar getah
bening ada pembengkakan atau tidak.
d) Payudara : simetris atau tidak, putting susu menonjol atau tidak
e) Abdomen : ada luka bekas operasi atau tidak berapa tinggi TFU dan
apakah sesuai dengan usia kehamilan atau tidak
f) Vulva : bersih atau tidak, ada varies atau tidak, oedema atau tidak
g) Vagina : ada pengeluaran dari vagina atau tidak. Pada ibu yang
kehamilannya dengan gonoroe tampak merah dan keluarnya cairan hijau
kekuningan dari vagina.
h) Anus : ada haemoraid atau tidak
i) Ekstremitas : ada kelainan atau tidak
d. Secara palpasi
 Leopold I : Untuk menentukan TFU, apa kemungkinan yang terdapat di fundus,
misal kepala, bokong atau yang lainnya.
 Leopold II : Untuk menentukan apa yang terdapat pad bagian kiri dan kanan perut
klien, kemungkinan teraba punggung, anggota gerak, bokong atau kepala.
 Leopold III : Untuk menentukan apa yang teraba pada bagian terbawah dari perut
ibu, kemungkinan teraba kepala, bokong atau yang lainnya.
 Leopold IV : Untuk menentukan sejauh mana kepala masuk ke rongga panggul ibu
dan seberapa masuknya dihititung dengan perlimaan.

e. Secara auskultrasi
Kemungkinan terdengar DJJ, berapa frekuensinya, teratur atau tidak, bagaimana
intensitasnya dan dimana punctum maximumnya.

f. Secara perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B
dan penyakit syaraf.

g. Pemeriksaan tafsiran TBBJ


Kemungkinan BB janin normal atau tidak dengan menggunakan rumus:
(TFU dalam Cm – 13 ) x 155, jika kepala belum masuk PAP. Jika kepala sudah masuk
PAP menggunakan rumus (TFU dalam Cm – 11) x 155.

h. Pemeriksaan penunjang (pemeriksaan labor)


 Darah : Hb, hematongkrit, golongan darah, dan kadar sterol.
 Urine : untuk pemeriksaan protein urine, glukosa urine dan aseton
urine.

Pada ibu yang kehamilannya dengan gonorea :

 Pewarnaan gram : hasil positif bila didapatkan gram negative kokus intrasel
dalam eksudat sel polimorfonuklear.
 Kultur : sampel diisolasi di media khusus, contoh media coklat atau
Thayer-Martin.

Langkah II : Interprestasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa
dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benar atas data- data yang telah di
kumpulkan.Data dasar yang sudah dikumpulkan di interprestasikan menjadi masalah atau
diagnosa yang spesifik . rumusan diagnosis dan masalah keduanya digunakan karena masalah
tidak dapat di defenisikan seperti diagnosis tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah
sering berkaitan dengan hal-hal yang dialami pasien yang di identifikasi sesuai dengan hasil
pengkajian. Beberapa masalah tidak dapat di selesaikan seperti diagnosis tetapi sebenarnya
membutuhkan penanganan yang di tuangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.
Dalam inteprestasi data ada 3 komponem penting yang terdapat di dalamnya,yaitu:
a. Diagnosa

Ny” “ umur…. G…P…A…H… usia kehamilan …..minggu dengan kejadian gonorhea

Dasar : HPHT,uterus lebih kecil dari usia kehamilan,dan ibu merasakan nyeri perut
bagian bawah.

Masalah : Kemungkinan masalah yang akan timbul adalah nyeri pada perut.

Dasar : pergerakan anak yang tidak optimal karena kurangnya cairan ketuban.

Kebutuhan : berikan dukungan psikologis kepada ibu dan keluarga.

Dasar : keadaan kehamilan ibu yang bermasalah.

Kebutuhan :

1. Tirah baring atau Istirahat yang cukup.


Dasar : berbaring membuat sirkulasi oksigen ke otak lebih lancar sehingga ibu tidak
mengalami nafas.
2. Hidrasi.
Dasar : kebutuhan cairan yang cendrung meningkat pada ibu hamil.
3. Nutrisi.
Dasar : ibu membutuhkan asupan gizi yang cukup .
4. Pemantauan kesejahteraan janin.
Dasar : cairan amnion yang sedikit membuat janin sukar beraktifitas.

Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa potensial

Pada langkah ini kita lakukan identifikasi masalah atau diagnose potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose yang sudah di identifikasi. Langkah ini
membutuhkan identifikasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil melakukan
pengamatan pada klien,dan bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose atau masalah
potensial ini benar-benar terjadi. Kemungkinan masalah yang akan timbul adalah:

1. Gangguan tumbuh kembang janin.


Dasar : janin tidak dapat melakukan gerakan yang bebas karena cairan amnion
yang kurang.
2. Terjadi cacat bawaan pada janin
Dasar : karena tekanan pada tubuh janin
3. Tidak efektifnya kontraksi rahim pada saat persalinan
Dasar : akibat tekanan di dalam rahim yang tidak seragam ke segala arah.
4. Terjadinya partus prematurusDasar : janin mengalami tekanan dari dinding rahim.
5. Nyeri saat berkemih
Dasar : kemungkinan menderita penyakit gonorea yang disebabkan oleh kuman
Neisseria gonorrhoea.

Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk
dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan
kondisi klien.kemungkinan tindakan segera pada kasus kehamilan dengan oligohidramnion
antara lain :

 Gawat janin
Tindakan yang dilakukan jika terjadi gawat janin :
a. Posisi tidur ibu miring kekiri
b. Pemberian 𝑂2 6 liter per menit
c. Pemberian cairan oral maupun parenteral (infuse dextrose 10 % tetesan cepat )
d. Kolaborasi dengan tim medis untuk rencana asuhan lanjutan.

Langkah V : Merencanakan asuhan yang menyeluruh

Suatu rencana asuhan harus di setujui oleh kedua belah pihak baik dan maupun klien
agar perencanaan dapat dilakukan dengan dengan efektif.Semua keputusan harus bersifat
rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan
tidak dilakukan.

Perencanaan tindakan yang mungkin dilakukan antara lain:

1. Jelaskan pada ibu dan keluarga, keadaan ibu dan janin saat ini
2. Beritahu keluarga bahwa ibu membutuhkan perhatian yang intensif
3. Berikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga
4. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan daerah genetalia.
5. Anjurkan klien untuk memeriksakan diri ke dokter obgyn.
6. Anjurkan ibu untuk tidak berhubungan suami istri sampai penyakit tersebut sembuh.
7. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
8. Anjurkan ibu untuk tidak melakukan perkerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan
sebelum hamil
9. Anjurkan ibu memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan ibu
10. Anjurkan ibu untuk makan makanan yang berserat
11. Waspadai adanya komplikasi dalam kehamilan polihidramnion
12. Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG atau amnioscopi
13. Jadwalkan kunjungan ulang
14. Kolaborasi dengan dokter kandungan
15. Jika terjadi masalah yang serius segera rujuk ibu.
Langkah VI : Melaksanakan perencanaan

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh yang telah diuraikan pada langkah kelima
dilaksanakan secara efisien dan aman.perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
dan sebagian oleh klien,atau anggota tim kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan
sendiri,ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Bila bidan
berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi maka
keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab
terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen
yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
Beberapa tindakan yang mungkin dapat dilakukan antara lain :

1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga, keadaan ibu dan janin saat ini
2. Memberitahu keluarga bahwa ibu membutuhkan perhatian yang intensif
3. Memberikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga
4. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan daerah genetalia.
5. Menganjurkan klien untuk memeriksakan diri ke dokter obgyn.
6. Menganjurkan ibu untuk tidak berhubungan suami istri sampai penyakit tersebut
sembuh.
7. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
8. Menganjurkan ibu untuk tidak melakukan perkerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan
sebelum hamil
9. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan ibu
10. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang berserat
11. Waspadai adanya komplikasi dalam kehamilan polihidramnion
12. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG atau amnioscopi
13. Menjadwalkan kunjungan ulang
14. Kolaborasi dengan dokter kandungan
15. Jika terjadi masalah yang serius segera rujuk ibu.

Langkah VII : Evaluasi

Adalah merupakan hal terakhir yang dilakukan dari proses asuhan kebidanan kehamilan
disertai dengan gonorea. Asuhan menajemen kebidanan dilakukan secara kontiniu sehingga
perlu dievaluasi setiap tindakan yang telah diberikan agar lebih efektif kemungkinan hasil
evaluasi yang ditemukan :

1. Tercapainya seluruh perencanaan tindakan


2. Tercapai sebagian dari perencanaan tindakan sehingga dibutuhkan revis

SOAP

DATA SUBJEKTIF :

1. Ibu mengatakan nyeri perut yang sangat hebat


2. Ia mengatakan bertambahnya cairan yang keluar dari vagina
3. Ibu Merasakan sakit yang luar biasa saat buang air kecil
4. Ibu mengatakan air kencingnya berwarna kuning kehijauan
5. Ibu mengatakan gatal pada vulva dan cairan vagina sangat kental
6. Ibu mengatakan keluar bercak setelah berhubungan
7. Ibu merasakan bengkak pada vulva
8. Ibu mengatakan mata terasa sangat gatal
9. Ibu mengatakan demam tidak teratur
10. Ibu mengatakan siklus haidnya menjadi pendek
11. Ibu mengatakan perdarahan pada saat haid menjadi memanjang
12. Ibu terasa nyeri sekali bila berjalan dan sukar duduk.

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan fisik

Inspeksi :

1. Konjungtivitis dan serviks tampak merah dengan erosi dan discar mukopurulen. Discar
akan lebih banyak bila terjadi servisitis akut.
2. Vulva dan kelenjar di tenggorokan (karena oral seks) tampak membengkak.
3. Terdapat abses pada mukosa atau kulit

Palpasi
Terdapat nyeri tekan perut bagian bawah
Pemeriksaan penunjang

1. Sediaan langsung
Discar diambil dari serviks, uretha, muara kelenjar Barholini, dan rektum. Dengan
pewarnaan Gram, ditemukan diplokokus (biji kopi) Gram (-) intra dan ekstraseluler.
Merupakan gold standar.
2. Kultur
Media yang digunakan:
a. Media transport : media stuart dan media transgrow
b. Media pertumbuhan : agar coklat Mc leod’s, Thayer Martin
 Tes definitif
Tes oksidasi : semua memberikan reaksi positif
Tes fermentasi : hanya meragikan glukosa
 Thomson (menampung urin pagi dalam 2 gelas), untuk mengetahui sampai
dimana penyebaran infeksi.
Pada sarana kesehatan diluar RS (puskesmas, praktek pribadi) pemeriksaan gram
saja sudah cukup memadai.

ASESSMENT

Ibu hamil G..P..A..H Usia Kehamilan .. Janin hidup, tunggal, intrauterin puka/puki,
keadaan jalan lahir normal, Ibu mengalami gonorea Ku bayi baik

PERENCANAAN

1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan


2. Anjurkan ibu minum obat golongan sefalosporin (Seftriakson 250 mg IM sebagai dosis
tunggal). Jika ibu alergi terhadap penisilin atau sefalosporin tidak dapat ditoleransi
sebaiknya diberikan Spektinomisin 2 gr IM sebagai dosis tunggal. Pada wanita hamil
juga dapat diberikan Amoksisilin 2 gr atau 3 gr oral dengan tambahan probenesid 1 gr
oral sebagai dosis tunggal yang diberikan saat isolasi N. gonorrhoea yang sensitive
terhadap penisilin. Amoksisilin direkomendasikan unutk pengobatan jika disertai infeksi
C. trachomatis.
3. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan vulva
4. Anjurkan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual
ANALISA DATA

No Data Problem Etiologi

1. DS : Pasien mengungkapkan nyeri Nyeri akut Proses peradangan/salpingitis


DO :- Skala nyeri (0 – 10)
- Pasien tampak tegang
- Eksprei wajah menahan nyeri
2. DS : Pasien mengungkapkan demam Hipertermia Peningkatan tingkat
metabolisme penyakit
DO :- Suhu tubuh tinggi
- Tampak kemerahan
- Mengigi
3. DS : Pasien mengatakan takut untuk berhubungan seksual Pola seksual tidak
efektif Khawatir terhadap penyakit yang ditularkan secara seksual
DO : Pasien terlihat khawatir dapat menularkan penyakitnya ke orang lain
4. DS : Pasien mengatakan tidak mengerti tentang kondisi penyakitnya Kurang
pengetahuan Kurang informasi tentang penyakit
5. DO : Saat wawancara pasien sering menanyakan prognosis tentang prognosis
penyakit yang diseritanya
6. DS : Pasien mengatakan malu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar
Resiko harga diri rendah situasional Sakit fisik
DO : Pasien terlihat minder dan sering mengurung diri.