Anda di halaman 1dari 32

Desain Pelatihan

Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan


Muda di Era Milenial
Mata Kuliah Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan

Nama Anggota Kelompok:


Intan Maulidah 111611133070
Safira 111611133111
Nadya Sakinah 111611133122
Novida Fitri C 111611133126
Salwa Shabrina 111611133191
Pragiwaka Manggala 111611133201

D-1

Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga
2018
BAB I
Mengapa Pelatihan ini Penting

Keberhasilan suatu bisnis bergantung pada keterampilan kepemimpinan yang


efektif dari manajemen. Entrepreneurial Leadership merupakan salah satu
keterampilan yang efektif dan dapat digunakan. Menurut Pattimukay (2008)
dalam membangun jiwa entrepreneurial leadership perlu adanya peningkatan
kreativitas, inovasi, intuisi, kemampuan memimpin, motivasi, serta keberanian
mengambil resiko (Massudi, 2015). Gupta dkk (2004) juga menyatakan seorang
entrepreneurial leader perlu melakukan dua hal yang saling berhubungan, yaitu
scenario enachment dan cast enactment (Massudi, 2015). Dapat membayangkan
dan membuat skenario untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan
memengaruhi kondisi yang telah direncanakan disebut scenario enachment.
Sedangkan cast enactment, seorang leader perlu membangkitkan kepercayaan
para bawahan dan skateholder mengenai proses transformasi dari transaksi yang
sudah direncanakan dan akan dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang
dimiliki (Massudi, 2015). Entrepreneurial Leadership merupakan konsep yang
muncul dengan memadukan potensi leadership dengan semangat entrepreneurial.
Terdapat beberapa keterampilan yang harus dimiliki seorang entrepreneurial
leadership yang mencakup (Massudi, 2015):

Tabel 1.
Pengukuran Entrepreneurial Leadership
Dimension Roles Attributes

Scenario Enachment Framing the Performance


challenge oriented
(specifying highly
Ambitious
challenging but
Informed
realistic Has extra insight
outcomes for the
cast of actors to
accomplish)

Scenario Enachment Absorbing Visionary


uncertainly Foresight
(taking the
Confidence
burden of
builder
responsibilty for
the future)

Scenario Enachment Path clearing Diplomatic


(negotiating Effective
opposition and
Bergainer
clearing the path
Convincing
for scenario
enachment) Encouraging

Cast Enachment Building Inspirational


commitment Enthusiastic
(building as
Team builder
inspired common
purpose) Improvement-
oriented
Cast Enachment Specifying limits Integrator
(building a Intellectually
common
Simulating
understanding
Positive
and agreement of
what can and Decisive
cannot be done)

Dalam beberapa jurnal disebutkan bahwa entrepreneurial leadership sudah


menjadi kebutuhan global pada abad ke-21. Tidak hanya pada level individu,
entrepreneurial leadership dapat digunakan juga pada level organisasi. Kini
perusahaan secara berkelanjutan mulai mendefinisikan kembali pasar mereka,
merestrukturisasi operasi mereka, belajar keterampilan untuk berfikir dan
bertindak secara kewirausahaan untuk dijadikan sumber keunggulan kompetitif.
Selain itu, entrepreneurial leadership juga mencakup pengetahuan etika dalam
perusahaan. Seorang pemimpin memiliki kesempatan untuk menunjukkan
kejujuran, integritas, dan etika dalam semua keputusan kunci. Perilaku pemimpin
ini berfungsi sebagai model bagi semua karyawan untuk diikuti. Sesuai dengan
pendapat Chau dan Siu (2000) yang menyatakan Entrepreneurial Organizations
dengan alami akan membentuk pengembangan pemikiran moral yang tinggi pada
anggotanya (Kuratko, 2007). Selain itu, pada jurnal lain disebutkan bahwa
entrepreneurial leadership memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
anggotanya. Dengan adanya pemimpin yang meningkatkan ntrepreneurial
leadership maka kinerja anggota juga ikut meningkat.
Saat ini, seorang pengusaha harus terus menerus memperoleh dan
mengembangkan kompetensi baru. Dalam entrepreneurial leadership terdapat 5
dimensi penting, yaitu: kreativitas, pengambilan resiko, proaktif, visioner, dan
inovasi. Kelima dimensi ini menggambarkan bagaimana entrepreneurial
leadership harus bersikap, serta kompetensi apa yang harus dimiliki. Hal ini
merupakan tujuan dari entrepreneurial leadership agar anggota/karyawan dapat
berperilaku dengan pola pikir yang sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa
entrepreneurial leadership merupakan jenis kepemimpinan yang lebih efektif dari
jenis kepemimpinan yang lain. Selain itu, entrepreneurial leadership juga dapat
digunakan untuk menyelaraskan pola pikir antara pemimpin dan anggotanya. Hal
ini menunjukkan pentingnya bagi remaja saat ini untuk memiliki kemampuan
entrepreneurial leadership.
BAB II
Tujuan Pelatihan

Dalam beberapa tahun terakhir pergerakan bisnis makin cepat berubah dan
persaingan global juga semakin ketat. Hal ini menjadi tantangan bagi setiap
perusahaan maupun organisasi agar memiliki pemimpin untuk mengatur dan
mengarahkan tujuan agar dapat terus bersaing dalam dunia bisnis. Tentu saja
perusahaan ataupun organisasi tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin yang
berjiwa kewirausahaan, melainkan pemimpin yang memiliki tata kelola atau Good
Governance yang baik dan terstruktur. Oleh sebab itu diperlukan pemimpin
dengan kompetensi yang susai untuk menghadapi tuntutan perusahaan di era
global seperti saat ini. Adapun maksud dan tujuan pelatihan, serta hasil yang
diharapkan dari pelatihan ini adalah sebagai berikut:

1. Maksud dan Tujuan Pelatihan

Melatih kemampuan kepemimpinan dengan semangat entrepreneurial


berdasarkan dua kompetensi utama, yakni Scenario Enactment dan Cast
Enactment. Adapun pengertian dari Scenario Enactment & Cast Enactment dalam
(Massudi, 2015)

a. Scenario Enactment sendiri merupakan suatu kompetensi yang


memungkinkan individu untuk membayangkan dan membuat skenario
untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masa depan dan
mungkin akan mempengaruhi keadaan yang telah direncanakan saat ini.
b. Cast Enactment merupakan suatu kompetensi dimana individu dapat
membentuk karakter yang dibekali dengan kemampuan yang memadai
untuk melakukan pekerjaan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan.
Sehingga individu tersebut dapat membangkitkan kepercayaan para
bawahannya dan seluruh stakeholder bahwa seluruh proses transformasi
dari transaksi yang telah diatur akan mungkin dilakukan dengan
merangkai semua sumber daya yang dimiliki.
2. Hasil yang Diharapkan

Hasil (output) pelaksanaan pelatihan yang diharapkan diperoleh oleh peserta


setelah mengikuti pelatihan yaitu:

1. Peserta mampu membuat serta merancang skenario untuk


menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masa depan
2. Meningkatnya kemampuan peserta untuk membangun kepercayaan
dengan rekan kerja dan stakeholder

3. Manfaat Pelatihan

Adapun manfaat dari pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk mencetak


jiwa kepemimpinan dalam diri individu dengan semengat entrepreneurial
sehingga dapat menjawab tuntutan kebutuhan akan individu yang handal dan
profesional dalam dunia bisnis namun juga tetap menjadi kepercayaan
bawahan serta stakeholder yang ada.
BAB III
Peserta Pelatihan

Pelatihan yang kami rancang menargetkan mahasiswa aktif seluruh angkatan


di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang tertarik dengan dunia
entrepreneur leadership. Berdasarkan pada premis bahwa keberhasilan suatu
bisnis bergantung pada keterampilan kepemimpinan yang efektif dari manajemen,
mahasiswa merupakan representasi yang tepat untuk diberi peatihan tentang
keterampilan kepemimpinan dalam berwirausaha. Terlebih, dalam beberapa jurnal
penelitian telah disebutkan bahwa Entrepreneurial Leadership sudah menjadi
kebutuhan global, utamanya pada abad ke-21. Saat ini, para pengusaha dituntut
untuk terus menerus memperoleh dan mengembangkan kompetensi baru, agar
mampu bersaing dengan padatnya arus ekonomi global. Tunas-tunas muda yang
berbakat dan memiliki minat lebih terhadap dunia wirausaha seperti mahasiswa
merupakan pihak yang potensial untuk dikembangkan.
BAB IV
Materi Pelatihan

4.1 Tabel Isi Materi

No. Materi Tujuan Isi materi


1. Menentukan Tujuan Usaha Mampu menetapkan Dalam materi ini,
gambaran usaha yang peserta diberikan
ingin dilakukan secara paparan mengenai
umum pentingnya
menentukan
tujuan sebuah
usaha. Kemudian,
peserta diminta
untuk menentukan
usaha yang apa
yang ingin
dilakukan serta
tujuan dari usaha
tersebut.
2. Merencanakan Usaha Mampu merencanakan Peserta diberikan
visi dari usaha yang akan pemahaman
dijalankan megenai visi dan
perencanaan
sebuah usaha.
Kemudian,
peserta diminta
untuk menuliskan
rencana usaha
yang akan
dijalankannya
sesuai dengan visi
yang dibentuk.

3. Menetapkan Rancangan Mampu menetapkan Pada bagian ini,


Pecapaian Tujuan Usaha misi (rencana realisasi) peserta diminta
dari usaha yang akan untuk menetapkan
dijalankan langkah-langkah
secara spesifik
bagaimana usaha
dapat tercapai.
4. Building Commitment Mampu membangun Peserta diberi
kepercayaan dengan materi mengenai
rekan kerja dan pentingnya
stakeholder membangun
kepercayaan
dengan rekan
kerja dan
stakeholder dalam
menjalankan
usaha.
5. Case Studies Mampu membentuk Peserta diarahkan
persepsi yang sama untuk melakukan
mengenai tujuan usaha roleplay terhadap
yang ingin dicapai studi kasus yang
dengan rekan kerja dan akan diberikan.
stakeholder Studi kasus
tersebut
diselesaikan
bersama dengan
tujuan
membentuk
persepsi yang
sama yang ingin
dicapai antar
rekan kerja dan
stakeholder.

4.2 Penjelasan Isi Materi

Materi 1 : Menentukan Tujuan Usaha

Dalam materi ini, peserta diberikan paparan mengenai pentingnya menentukan


tujuan sebuah usaha. Kemudian, peserta diminta untuk menentukan usaha apa
yang ingin dilakukan serta tujuan dari usaha tersebut. Menetapkan tujuan usaha
sangatlah penting dalam setiap tahapan pembangunan dan pengembangan sebuah
usaha, karena langkah tersebut akan menentukan arah berikutnya yang akan
membantu Anda untuk fokus bagaimana mengatur waktu, energi, serta
pengeluaran dan pemasukan.
“Tanpa tujuan dan rencana mencapainya. Anda akan seperti kapal yang
berlayar tanpa arah.”- Fitzhugh Dodson
 Jenis-jenis tujuan:
1) Tujuan jangka panjang. Tujuan yang penting dan utama. Tujuan yang
aspirasional dan standar sukses yang ingin dicapai di masa depan.
2) Tujuan jangka menengah. Tujuan yang perlu dirancang untuk mendukung
tujuan utama, yaitu tujuan yang terukur karena berkenaan dengan apa yang
Anda lakukan sekarang. Bagaimana mengaktualisasikannya, terarah, dan
menghasilkan.
3) Tujuan jangka pendek. Tujuan dalam hitungan jari Anda. Tujuan yang
juga penting dibuat, untuk sekarang dan dalam waktu terbatas. Tujuan
yang Anda desain berjalan dengan apa yang Anda lakukan sekarang.
Ketika menetapkan tujuan-tujuan di atas, harus yakin bahwa tujuan yang
ditetapkan sudah memenuhi kriteria SMART (Specific, Measurable, Attainable,
Realistic, Timely). Adapun pengertian dari tiap aspek, yaitu:
a. Specific (Spesifik)
Hal ini lebih kepada bagaimana mencapai suatu penyampaian tujuan secara
jelas dan spesifik, dan bukan tujuan yang terlalu umum. Untuk membantu
membuat tujuan yang spesifik, kita bisa bertanya kepada diri kita terlebih dahulu.
Siapakah yang terlibat? Apa yang ingin saya capai? Kapan batas waktunya?
Persyaratan atau kendala apa yang harus saya pertimbangkan? Mengapa saya
ingin mencapai tujuan ini?

b. Measurable (Terukur)
Tujuan harus terukur sehingga ada tolak ukur pencapaian. Ketika tujuan Anda
terukur, Anda akan lebih mungkin untuk tetap fokus di jalur yang tepat dan
mencapai tonggak tertentu yang memberikan dorongan kepercayaan diri untuk
terus berusaha mencapainya. Hal ini membuat tujuan Anda dapat terus berhasil
dan akan terus memotivasi Anda dalam mencapai tujuan.

c. Attainable (Dapat dicapai)


Pastikan tujuan yang ingin dicapai tetap dibawah pengawasan Anda. Jika
Anda menetapkan tujuan yang terlalu ambisius, Anda justru akan mendapati diri
Anda gagal untuk mencapainya. Memiliki tujuan yang dapat dicapai adalah juga
untuk mengidentifikasi tujuan yang benar-benar penting bagi Anda serta harus
aspiratif, serta sangat mungkin untuk diraih.

d. Realistic (Realistis)
Pastikan bahwa Anda menetapkan tujuan yang Anda sendiri bersedia dan
mampu untuk mencapainya. Adalah penting bahwa Anda mampu membuat
kemajuan besar dalam mencapai tujuan tersebut. Tujuan harus relevan dengan
arah masa depan hidup yang Anda rencanakan dan perlu untuk dipastikan bahwa
Anda memiliki akses kepada sumber-sumber pendukung yang tepat yang dapat
membantu Anda mencapainya.

e. Timely (Tepat waktu)


Menentukan tujuan memerlukan perencanaan kerangka waktu untuk
mendukungnya. Diperlukan adanya perasaan mendesak untuk mencapainya. Satu
tujuan yang bisa Anda “rasakan, sentuh, hirup, lihat atau dengar” adalah lebih
nyata dan lebih mudah dalam menetapkannya. Hal ini akan membuat tujuan itu
lebih dapat tercapai.

Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan Muda di Era


Milenial
Roadmap Materi 1: Menentukan Tujuan Usaha

No Tujuan jangka Tujuan jangka Tujuan jangka


pendek menengah panjang

1.

2.

3.

4. dst

Materi 2 : Merencanakan Usaha

Pada materi ini, peserta akan diberikan pemaparan mengenai visi dan
perencanaan usaha (business plan) serta manfaat yang diperoleh. Peserta juga
akan diperlihatkan video mengenai visi dan perencanaan bisnis. Kemudian,
peserta diminta untuk menuangkan pemikirannya mengenai visi serta rencana
usaha masing-masing ke dalam tulisan.
1. Visi

Visi merupakan suatu konsep pemikiran secara deskriptif yang dituangkan ke


dalam tulisan dan mengandung pandangan ke depan, cita-cita, impian, serta tujuan
yang ingin dicapai. Visi digunakan sebagai panduan acuan dalam menentukan
arah usaha. Pada umumnya, visi mengandung pernyataan-pernyataan umum yang
singkat, padat, dan jelas. Visi bersifat permanen dan berkaitan dengan kredibilitas
serta konsistensi suatu usaha (Maxmanroe.com, 2017).
Manfaat visi bagi usaha :
a. Sebagai media yang menjembatani usaha saat ini dan di masa depan
b. Meningkatkan standar kerja yang lebih baik
c. Menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi
d. Menumbuhkan dan meningkatkan tanggung jawab dan etos kerja karyawan

2. Rencana Usaha / Business Plan

Seorang wirausahawan harus memiliki perencanaan usaha yang baik agar


usaha berjalan sesuai dengan harapan. Rencana usaha (Business Plan) merupakan
suatu dokumen yang menyatakan keyakinan akan kemampuan suatu usaha dalam
menjual barang atau jasa dengan menghasilkan keuntungan yang memuaskan dan
menarik bagi penyandang dana (Rahmani, 2017).
Terdapat 6 komponen dalam menyusun rencana usaha:
a. Membuat deskripsi bisnis
Deskripsi bisnis mencakup penjelasan singkat mengenai bidang usaha yang
akan dijalankan serta potensi produk dan kemungkinan bertahan atau berkembang
di masa depan. Tujuannya adalah agar orang yang terlibat dalam bisnis dapat
mengetahui potensi dan arah pengembangan bisnis tersebut.

b. Melakukan strategi pemasaran


Strategi pemasaran merupakan hasil dari analisa pasar yang sudah dijalankan.
Analisa pasar adalah kekuatan yang harus digunakan untuk menciptakan target
pembeli, sehingga dapat memanfaatkan kesempatan yang ada. Jenis analisa pasar
yang dapat digunakan adalah analisa SWOT. Dengan analisa SWOT, Anda dapat
mengetahui peluang, keunggulan, kelemahan, dan ancaman suatu produk dengan
tepat tanpa membuang waktu, tenaga dan biaya.
c. Membuat analisa pesaing
Analisa pesaing digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
pesaing dalam suatu pasar yang sama. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat
membantu Anda dalam menyusun strategi pemasaran dengan cara yang berbeda
dari pesaing.
d. Desain pengembangan
Rencana desain dan pengembangan diperlukan untuk menunjukkan tahap
perencanaan produk, grafik pengembangan dalam konteks produksi dan
penjualan. Selain berguna untuk mengetahui rencana usaha kedepan, desain
pengembangan juga akan mempengaruhi perencanaan pembiayaan usaha.
e. Rencana Operasional dan Manajemen
Dalam rencana operasional dan manajemen dijelaskan mengenai bagaimana
usaha berjalan dan berkelanjutan. Rencana operasional berfokus pada kebutuhan
logistik perusahaan. Kebutuhan logistik perusahaan seperti tugas dan tanggung
jawab tim manajemen, prosedur penugasan antar divisi, dan kebutuhan anggaran
dan pengeluaran yang berkaitan dengan operasional perusahaan.
f. Menghitung pembiayaan
Menghitung pembiayaan perusahaan mencakup beberapa hal berikut, dari
mana sumber dana berasal, bagaimana mengatur anggaran agar efisien dan usaha
dapat berjalan lancar.
Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan Muda di Era
Milenial
Roadmap Materi 2: Merencanakan Usaha

Visi

Komponen Rencana Usaha

Membuat Deskripsi
Bisnis

Melakukan Strategi
Pemasaran

Membuat Analisa
Pesaing

Desain Pengembangan

Rencana Operasional
dan Manajemen

Menghitung
Pembiayaan
Materi 3 : Menetapkan Rancangan Pencapaian Tujuan Usaha

Pada materi kali ini, akan menindaklanjuti materi sebelumnya, yaitu


merencanakan usaha, dengan cara membuat timeline dan menganalisis kendala
serta membuat alternatif lain.
Dalam merancang timeline perlu mengatur skala prioritas. Berikut tahap untuk
mengatur skala prioritas :
a. Tentukan skala prioritas yang paling tinggi. Jika ditanya mengenai impian,
bisa dikatakan hampir setiap orang memiliki bermacam-macam keinginan.
Namun, supaya bisa sukses mewujudkan impian tersebut, ada baiknya untuk
memilih salah satu prioritas yang paling diimpikan untuk bisa
mewujudkannya dalam waktu dekat. Contohnya, apabila seorang pebisnis
memimpikan bisnis bisa berhasil mempunyai 1000 orang reseller dalam
setahun, maka mulailah dengan membagi 1000 reseller tersebut dalam waktu
12 bulan dan hitunglah berapa orang yang harus direkrut setia bulannya,
mingguan, dan harian. Dengan begini bisa mengetahui jumlah reseller yang
harus direkrut setiap harinya untuk mewujudkan impian bisnis.
b. Catat dengan baik setiap aktivitas yang harus dikerjakan. Langkah
selanjutnya setelah menentukan skala prioritas yang paling tinggi adalag
mencatat setiap kegiatan yang wajib dijalankan baik dalam kurun waktu
tahunan, bulanan, mingguan, maupun harian. Dengan strategi ini, setidaknya
bisa mengontrol target-target apa saja yang telah diselesaikan, dan tugas apa
lagi yang peru dikerjakan dalam waktu dekat.
c. Konsisten dalam menjalankan setiap rutinitas. Untuk bisa menjadi seorang
pengusaha yang sukses, tentu tak hanya harus menyusun dan mencatat setiap
akivitas, namun juga konsisten dalam nmenjalankan setiap rutinitas usaha. Hal
ini pentingkarena kesuksesan tak bisa diraih dalam waktu satu atau dua hari.
dibutuhkan konsistensi dan tekad yang cukup kuat dari dalam diri sampai
akhirnya kesuksesan berhasil digenggam.
d. Fleksibel dan bisa menyelesaikan setiap prioritas dengan tuntas. Ketika
telah menyusun skala prioritas dari yang paling tinggi sampai ke-skala yang
paling rendah, maka tugas berikutnya adalah membiasakan diri untuk
menyelesaikan setiap pekerjaan dengan tuntas, dan kemudian baru
mengerjakan target lain satu eprsatu hingga selesai. Dalam hal ini bisa
bersikap lebih fleksibel atau tidak harus mengikuti perencanaan yang telah
dituliskan, namun usahakan setiap keputusan yang diambil tidak mengganggu
kelancaran aktivitas, sehingga semuanya bisa berjalan beriringan dan selesai
tepat pada waktunya.
e. Tetap fokus. Godaan terberat para pelaku usaha dalam mencapai
kesuksesannya adalah kurang fokus pada tujuannya dan melalaikan prioritas
awal yang telah mereka tentukan sebelumnya. Untuk itu, belajarlah untuk
menolak hal-hal yang bukan menjadi prioritas, dan pastikan bahwa setiap
aktivitas yang dikerjakan masih berhubungan dengan tujuan bisnis yang
hendak dicapai.

Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan Muda di Era


Milenial
Roadmap Materi 3 : Menetapkan Rancangan Pencapaian Tujuan Usaha

Membuat Timeline

Timeline Agenda
Selanjutnya, pada materi ini peserta dibimbing untuk menganalisis kendala
apa yang dapat muncul saat menjalankan rencana bisnisnya, dan alternatif apa
yang mungkin untuk dilakukan.

Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan Muda di Era Milenial


Roadmap Materi 3 : Menetapkan Rancangan Pencapaian Tujuan Usaha

Menganalisis Rencana Bisnis

Rencana Kendala Alternatif


Materi 4 : Membangun Kepercayaan Rekan Kerja Dan Stakeholder

A. Pentingnya Membangun Kepercayaan

Kepercayaan merupakan modal penting dalam berorganisasi. Bahkan


seseorang tidak akan bisa memiliki pasangan bila tidak membangun kepercayaan
pada calon pasangannya. Hal ini terkadang menjadi suatu permasalahan yang
sering disepelekan oleh kebanyakan orang saat ini. Dalam ringkasan buku The
Speed Of Trust karya (Covey & Merrill, 2006), disebutkan bahwa kepercayaan
adalah percaya diri, dan kebalikan dari kepercayaan yaitu ketidakpercayaan
adalah kecurigaan. Kepercayaan (Trust) dapat membuat seseorang menjadi
percaya diri, terbuka, jujur, bersedia mengambil resiko, dan merasa lebih nyaman
dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Sementara (Distrust) akan
menyebabkan seseorang menjadi bersifat tertutup, tidak percaya diri, enggan
mengambil resiko, dan tidak nyaman dalam menjalin hbungan dengan orang lain.
Dampak yang bisa ditumbulkan dari adanya ketidakpercayaan adalah
produktivitas melemah, peluang-peluang pengembangan dan perbaikan
terlewatkan, serta kinerja merosot. Padahal jika sesorang memiliki elemen
kepercayaan maka akan memicu terjadinya iklim yang positif. Diantaranya adalah
terciptanya kolaborasi dan masuknya jalur informasi, selain itu sifat-sifat inisiatif,
saling menghargai, serta kreativitas akan tumbuh dalam lingkungan pekerjaan.
Melihat pentingnya sifat Trust ini maka penting bagi perusahaan agar dapat
memiliki pemimpin yang memiliki dan mampu menumbuhkan sifat Trust kepada
setiap pegawai ataupun rekan kerjanya.

B. Membangun Kepercayaan Dengan Rekan Kerja

Salah satu komponen penting dalam kehidupan karier seorang entrepreneurial


adalah rekan kerja. Keberhasilan kita sebagai entrepreneurial bukan hanya
prestasi kita sendiri, namun ada peran serta dari rekan kerja. Dengan adanya rekan
kerja maka pekerjaan yang kita lakukan dapat kita kerjakan secara bersama-sama.
Selain itu kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan yang membangun dari
rekan kerja kita. Namun rekan kerja tidak datang secara tiba-tiba. Perlu adanya
proses agar kita dapat membangun hubungan yang baik serta kepercayaan dari
rekan kerja. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membangun hubungan
yang baik serta mendapat kepercayaan dari rekan kerja kita, diantaranya adalah
melalui komitmen. Dengan menunjukkan komitmen yang kita miliki terhadap
pekerjaan atau perusahaan, maka hal itu akan mendorong kita bekerja secara
optimal dan memiliki rasa tanggung jawab. Hal inilah kemudian yang mendorong
ketertarikan dan harapan dari rekan kerja kita dan akhirnya menimbulkan harapan.
Ketika harapan yang mereka miliki dapat terwujud oleh hasil kerja keras dan
komitmen yang telah kita buat maka akan timbul rasa percaya dalam diri rekan
kerja serta konsumen.

C. Membangun Kepercayaan Melalui Komitmen

Dalam ringkasan buku The Speed Of Trust karya (Covey & Merrill, 2006),
dijelaskan bahwa kita dapat merubah kepercayaan dalam hubungan apapun
melalui cara kerja dari dalam keluar. Cara kerja yang dimaksud adalah melalu 5
level kepercayaan, yaitu:
1. Level pertama: Self Trust. Prinsip yang mendasari level ini adalah
kredibilitas
2. Level kedua: Relationship Trust. Prinsip utama dari level ini yaitu
perilaku yang konsisten.
3. Level ketiga: Organizational Trust. Prinsip utama dari level ini
yaitu penyelarasan, membantu pemimpin menciptakan struktur,
sistem dan simbol kepercayaan organisasi.
4. Level keempat: Market Trust. Prinsip yang mendasari level ini
adalah reputasi.
5. Level kelima: Societal Trust. Prinsip yang mendasari level ini
adalah kontribusi.

Dari kelima level tersebut, kepercayaan rekan kerja masuk pada level kedua
yaitu Relationship Trust. Sementara untuk kepercayaan kepada Internal
stakeholder masuk pada level ketiga yaitu Organizational Trust dan kepercayaan
pada eksternal stakeholder masuk pada level keempat dan kelima. Dalam
penjelasan level Relationship Trust diketahui bahwa perilaku yang dapat
memunculkan kepercayaan adalah komitmen (Covey & Merrill, 2006).
Dijelaskan bahwa untuk membangun kepercayaan dalam hubungan apapun
komitmen sangatlah dibutuhkan. Lalu apa sebenarnya komitmen itu? Dalam
kamus besar bahasa indonesia (KBBI), komitmen didefinisikan sebagai perjanjian
(keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Sementara menurut (Halopsikolog, 2016),
komitmen adalah suatu bentuk dedikasi atau kewajiban yang mengikat seseorang
kepada orang lain, hal tertentu, atau tindakan tertentu. Beberapa orang
berkomitmen pada sesuatu karena mereka mencintai apa yang mereka lakukan.
Beberapa orang lain berkomitmen karena merasa takut kehilangan ketika tidak
menjalani komitmen tersebut. Sedangkan sebagian yang lain berkomitmen karena
merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukannya. Pada kenyataannya,
komitmen lebih muda diucapkan ketimbang untuk dilaksanakan. Melaksanakan
komitmen merupakan suatu tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang
lain. Selain itu dengan adanya komitmen, kita akan bekerja secara optimal
sehingga dapat memberikan waktu, perhatian, tenaga, pikiran terbaik kita bagi
pekerjaan sehingga apa yang kita usahakan dapat mencapai target perusahaan.
Melaksanakan komitmen berarti mengemban tanggung jawab dan bekerja secara
optimal, hal inilah yang menjadi sumber kepercayaan orang sekitar terhadap diri
kita. Ketika kita memiliki komitmen maka kita memiliki kepercayaan dari rekan
kerja dan bahkan dari konsumen. Lalu apa saja yang perlu dilakukan untuk
membentuk komitmen?

D. Membangun Kepercayaan Rekan Kerja Melalui Komitmen


Wirausaha

Telah kita ketahui dari paparan yang telah penulis jelaskan diatas bahwa
dalam dunia entrepreneurial kepercayaan merupakan suatu hal yang sangat
penting, maka dari itu diperlukan usaha untuk menumbuhkan kepercayaan itu.
Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk membangun kepercayaan adalah
dengan komitmen. Lalu komitmen seperti apa yang harus di bangun oleh
entrepreneurial yang memiliki jiwa kepemimpinan? Dalam dunia entrepreneurial
perilaku komitmen yang harus dimiliki oleh para wirausahawan menurut
(Muttaqin, 2015) adalah:

1. Menerapkan Perilaku Tepat Waktu


Para wirausahawan yang sukses harus dapat memanfaatkan dan
memandang waktu sebagai:
a) Tepat waktu adalah kekuasan, yang berarti waktu sekarang dapat
menentukan kejadian-kejadian di masa yang akan datang.
b) Tepat waktu adalah organisasi, artinya adalah semua aktivitas
kegiatan bertujuan untuk mencapai suatu cita-cita. Berhasil
tidaknya suatu perjuangan yang hendak diwujudkan oleh
perusahaan maka kesempatan relatif sanga pendek. Maka dari itu
harus memanfaatkan waktu sebaik dan sefektif mungkin.
c) Tepat waktu adalah ukuran, menentukan berapa lama harus bekerja
untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal
d) Tepat waktu adalah nilai uang, waktu yang diberikan oleh
wirausahawan agar dapat menghasilkan suatu tujuan yang dapat
dinilai dengan uang.

2. Menerapkan Perilaku Tepat Janji


Salah satu hal penting lain yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan
yaitu menepati janji-janjinya. Menerapkan perilaku tepat janji dapat
mempengaruhi kepercayaan terhadap konsumen, masyarakat, dan rekan
bisnis. Ciri-ciri kepribadian tepat janji bagi wirausahawan adalah:
a) Bermoral tinggi dalam menepati janji
b) Terampil dalam belajar dan berusaha
c) Bersikap mental tinggi dalam menepati janji

3. Menerapkan Kepedulian Mental Dalam Bentuk Hasil Kerja, Penamilan,


dan Kinerja lainnya.
Wirausahawan harus selalu memperhatikan mutu (kualitas) hasil kerja.
Karena hal ini erat dengan masalah keputusan konsumen. Menerapkan
kepedulian terhadap mutu dalam bentuk hasil kerja dapat diterapkan baik
dilingkungan masyarakat, sekolah dan keluarga yang dapat diwujudkan
dalam salah satu aspek yaitu penampilan.
Salah satu tujuan wirausahawan menampilkan produk yang baik untuk
konsumen adalah sebagai berikut:
a) Menciptakan produk yang sesuai dengan minat dan daya beli
konsumen
b) Menciptakan produk yang mudah cara pemeliharaanya
c) Menciptakan produk sesuai dengan segmen pasar yang dituju

4. Menerapkan Komitmen Tinggi Terhadap Pengendalian Diri


Hal terakhir yang wajib dimiliki oleh wirausahawan dalam berkomitmen
adalah pengendalian diri. Beberapa sifat yang dapat diperhatikan dalam
aspek pengendalian diri adalah sebagai berikut:
a) Ketabahan
Tetap kuat hati dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam
berusaha.
b) Keuletan
Tangguh, kuat dan tidak mudah putus asa.
c) Disiplin
Memiliki ketaatan terhadap aturan.
d) Kerjasama
Memiliki kemampuan dan keinginan untuk saling bekerjasama dan
berkolaborasi dengan orang lain.
Dari penjelasan yang telah penulis jelaskan maka dapat kita ambil kesimpulan
bahwa kepercayaan rekan kerja dapat timbul dari adanya komitmen. Baik
komitmen terhadapap diri orang lain maupun komitmen terhadap perusahaan.
Diperlukan usaha dan perilaku yang tepat untuk bisa menumbuhkan sifat
komitmen dalam diri kita. Namun bilamana kita telah memiliki perilaku-perilaku
ciri dari sifat komitmen tersebut maka harapan akan timbul dan tumbuh menajdi
suatu kepercayaan. Inilah salah satu kunci untuk mendapatkan kepercayaan dari
rekan kerja.

E. Membangun Kepercayaan dengan Stakeholder

1. Menjaga Transparansi dan konsistensi

Terciptanya kondisi lingkungan perusahaan yang terbuka akan


memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi reguler yang konstan.
Sedapat mungkin, setiap pihak harus mampu berbagi informasi secara terbuka
dan teratur, sehingga diharapkan akan dapat saling membantu satu sama lain.
Utamanya dalam membagi informasi yang terkait dengan aspek keuangan,
baik pada karyawan, investor, pemangku kepentingan, maupun konsumen. Hal
tersebut dilakukan guna mendorong perusahaan agar mampu terus bergerak
dinamis dalam mencapai tujuannya.

2. Memberikan Informasi yang Sesungguhnya dan Relevan

Adanya berbagai dinamika seperti kendala, pencapaian, keberhasilan, dan


kegagalan menjadi hal yang penting pula untuk dibagikan. Karena hal tersebut
akan mengungkap pola-pola perilaku yang terjadi di antara karyawan,
investor, pemangku kepentingan, maupun konsumen. Membagikan informasi
mengenai bagaimana setiap kelompok mengatasi situasi sulit akan membantu
kelompok yang lain dalam memahami dan menghargai masing-masing
kelompok.

3. Menghargai Individualitas

Karyawan, investor, pemangku kepentingan, maupun konsumen


cenderung ingin beradaptasi sesedikit mungkin ketika terlibat dalam sesuatu
yang baru. Begitu pula pada setiap anggota kelompok tentu ingin tinggal di
zona nyaman mereka sendiri. Ada baiknya, perlu dilakukan penekanan secara
internal bahwa semua anggota kelompok memiliki kepribadiannya masing-
masing yang harus mampu diterima anggota yang lainnya. Mampu saling
menunjukkan keaslian diri adalah jalan tercepat dan terbaik untuk membangun
komitmen bersama.

4. Membagikan Referensi

Ketidakpastian informasi yang dibagi mampu membuat pihak lain tidak


nyaman, yang kemudian akan mendorong pada ketidakpercayaan. Secara
otomatis seseorang akan cenderung memberikan penilaian yang buruk ketika
ada kesenjangan informasi yang disampaikan. Tidak hanya perlu membagi
informasi yang ada saat ini, tetapi juga perlu memberikan proyeksi yang
sesuai dengan realitas. Cara tersebut akan memberikan jalan bagi kelompok
kerja untuk lebih solid, memberikan respon yang berharga dan
mempersiapkan kelompok untuk menghadapi kemungkinan buruk yang
mungkin akan terjadi di masa mendatang. Ada baiknya pula untuk mengelola
ekspektasi tentang perjalanan usaha, sehingga dapat meminimalkan ketakutan
dari para karyawan, investor, pemangku kepentingan, maupun konsumen.

5. Prioritaskan Otoritas Awal

Komitmen tidak mungkin ada seketika, karena seseorang perlu berusaha


membuktikan diri bahwa mereka memang layak untuk saling
percaya. Kredibilitas yang dibangun dengan bantuan referensi dari orang lain
tentu tetap membutuhkan fakta dari apa yang memang sebetulnya dikerjakan.
Sehingga hal tersebut mampu membuat orang lain untuk percaya. Perlu
diberikan kelonggaran kepada setiap kelompok kerja untuk merancang
produktivitas dan istirahat mereka sendiri. Kapan, di mana, dan berapa lama
istirahat tersebut, untuk mengoptimalkan produktivitas dan gaya hidup
mereka. Perlu pula untuk memberikan otoritas awal, untuk memilih jalan
mencapai tujuan bersama. Setiap kelompok kerja perlu percaya pada diri
mereka sendiri terlebih dahulu, karena dengan begitu akan membuka peluang
mereka mempercayai anggota lainnya sebagai sekutu dalam perjalanan
mereka dalam mencapai tujuan bersama.

Materi 5 : Case Studies

Pada bagian ini, peserta akan diberikan sebuah studi kasus yang kemudian
ditindaklanjuti dengan cara melakukan roleplay oleh peserta. Roleplay ini
dilakukan dengan tujuan membentuk persepsi yang sama yang ingin dicapai antar
rekan kerja dan stakeholder. Berikut akan dijelaskan terlebih dahulu pemahaman
dari membentuk persepsi yang sama antar rekan kerja dan stakeholder.

Setiap fungsi dan peran yang dijalankan individu dalam sebuah tim kerja
harus saling terhubungkan dalam sebuah kolaborasi kerja untuk menghasilkan
tujuan sesuai rencana. Bila ada fungsi dan peran tidak dijalankan untuk saling
berkolaborasi dengan rekan satu tim, maka kehidupan kerja dalam organisasi akan
menjadi tidak efektif (Bayu, 2014).

Setiap orang di dalam organisasi wajib untuk melibatkan upaya bersama untuk
mencapai tujuan bersama. Membiarkan kerja sama mengalir dalam kolaborasi
kerja yang saling membantu, akan memudahkan pencapaian prestasi dan kinerja
terbaik dari setiap unit kerja (Bayu, 2014).

Keuntungan yang paling nyata saat bekerja secara tim dengan rekan kerja
adalah terdistribusinya beban kerja secara sempurna, dan juga setiap orang dengan
cepat dapat mengambil keputusan, serta bisa saling melengkapi, dan pada
akhirnya dapat menghindari kesalahan di tempat kerja. Selain itu, terdapat
beberapa keuntungan lain yang didapatkan dari kerjasama tim dalam lingkungan
kerja yaitu, mendapatkan ide-ide baru, mendapatkan pengalaman belajar,
kemudahan berkomunikasi, dan dukungan jaringan (hendriadi, 2017).

Interaksi kerja sama yang dilengkapi dengan keterampilan kecerdasan


emosional akan membuat setiap orang menjadi unggul secara mental dan fisik.
Dampaknya, perusahaan akan memiliki keunggulan daya saing yang kuat dari
ikatan yang kuat antara satu sama lain. Dalam interaksi kerja sama tersebut,
sesama rekan kerja akan saling membantu satu sama lain, lalu energi empati akan
membuat mereka semua secara emosional merasa terikat dalam satu tanggung
jawab bersama untuk mencapai tujuan bersama, tanpa mengkotak-kotakkan
kepentingan sesuai fungsi dan peran (Bayu, 2014).

Komunikasi adalah kunci sukses dalam pekerjaan tim. Oleh karena itu, setiap
orang harus berani berbicara dan sabar mendengarkan. Keberanian untuk
mengajukan pertanyaan akan membuat semua jawaban tersedia, dan karyawan
tinggal mengerjakan dengan berkualitas (Bayu, 2014).

Setiap orang dalam kerja sama harus memiliki semangat untuk


mengintegrasikan sudut pandang yang berbeda dengan rekan kerja atau
stakeholder. Tidak boleh ada pikiran atau karakter yang ingin memperuncing, atau
terlalu lama memperdebatkan hal-hal yang didasarkan dari sudut pandang yang
berbeda. Bila ada perbedaan sudut pandang, maka segera satukan semua pikiran
dan mengintegrasikan semua perbedaan ke dalam misi yang dikerjakan, lalu
dilengkapi dengan Informasi dan ide-ide yang mendukung integrasi tersebut,
sehingga tidak meninggalkan benih perpecahan dalam tim. Hal inilah yang dapat
membantu seseorang dalam menyatukan tujuan dengan rekan kerja (Bayu, 2014).

Ketika tim berada dalam lingkungan yang tidak pasti, maka setiap orang tidak
boleh mengambil keputusan dengan inisiatif masing-masing. Tapi, harus saling
berkoordinasi dan menggunakan pendekatan langkah demi langkah, serta
mengambil waktu untuk mendiskusikan solusi dan kemajuan. Kemudian,
menyiapkan tata kelola tim yang mampu mengeluarkan tim dari lingkungan yang
tidak pasti, dan membuat tim mampu bermain bebas di hamparan luas kreativitas
dan inovasi (Bayu, 2014).

Keseluruhan pemaparan diatas adalah hal-hal yang dapat diterapkan dalam


upaya membangun kerja sama tim yang baik. Hal-hal tersebut merupakan pondasi
yang baik bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik dengan rekan
kerjanya. Dengan hubungan baik tersebut, tujuan antar rekan kerja dapat menjadi
kesatuan yang baik hingga akhirnya menghasilkan pekerjaan yang baik (Bayu,
2014).

Studi kasus
Studi kasus yang diberikan adalah sebagai berikut:
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melakukan penelitian dengan tujuan
melakukan analisis mengenai konflik yang terjadi dalam suatu lingkungan kerja.
Penelitian ini dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada sampel dari
seluruh populasi. Sampel yang dimaksud adalah karyawan dan kontraktor PT
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Hasil analisis dari kuesioner yang telah diisi
oleh seluruh responden menunjukkan bahwa penyebab konflik yang paling
dominan adalah perbedaan persepsi, yaitu sebesar 79%. Jadi, mereka memiliki
tujuan yang sama untuk kelancaran produksi namun cara untuk menyelesaikannya
yang berbelit-belit dan tidak kunjung selesai (Dirasta, 2017).

Tugas peserta:
Peserta mencari 1 orang sebagai pasangan untuk melakukan roleplay. Dalam
roleplay tersebut, salah satu peserta diminta untuk berperan sebagai karyawan
atau kontraktor dan peserta yang lainnya menjadi rekan kerjanya. Tugas peserta
yang berperan sebagai karyawan atau kontraktor adalah menghadapi dan
menangani rekan kerjanya (pasangannya) yang mana saat itu sedang terjadi
konflik yang disebabkan oleh perbedaan persepsi diantara keduanya. Setelah
selesai melakukan roleplay, peserta yang berperan sebagai rekan kerja dapat
mencatat poin penting dari cara yang digunakan oleh peserta yang berperan
sebagai karyawan atau kontraktor. Setelah itu, kedua peserta berganti peran dan
melakukan tugas yang sama.
BAB V
Jadwal Pelatihan
Entrepreneurial Leadership: Membangun Potensi Wirausahawan Muda
di Era Milenial
Lama Pelatihan: 1 hari/8 jam
Pukul 08.00 – 16.00

Waktu Tujuan Materi Metode


Mampu menetapkan
08.15 – 09.15 gambaran usaha yang Menentukan Ceramah dan Road
(60’) ingin dilakukan secara Tujuan Usaha Map
umum

Mampu merencanakan
09.30 – 10.15 Merencanakan Ceramah dan Road
visi dari usaha yang
(45’) Usaha Map
akan dijalankan

Mampu menetapkan Menetapkan


10.30 – 11.30 misi (rencana realisasi) Rancangan Ceramah dan Road
(60’) dari usaha yang akan Pecapaian Map
dijalankan Tujuan Usaha
Mampu membangun
12.45 – 13.30 kepercayaan dengan Building
Ceramah
(45’) rekan kerja dan Commitment
stakeholder
Mampu membentuk
persepsi yang sama
13.45 – 14.45 mengenai tujuan usaha
Case Studies Roleplay
(60’) yang ingin dicapai
dengan rekan kerja dan
stakeholder
Daftar Pustaka

Covey, S. M., & Merrill, R. (2006). Soundview Executive Book Summaries. THE
SPEED OF TRUST (The One Thing That Changes Everything), Vol. 28, No. 11 (3
parts), Part 1, page 1-8 .
Esmer, Y., & Dayi, F. (2017). Entrepreneurial Leadership: a Theoritical
Framework. Mehmet Akif Ersoy Üniversitesi İktisadi ve İdari Bilimler
Fakültesi Dergisi Vol.4, 112-124.
Halopsikolog. (2016, Nopember 17). Seperti Apa Pengertian Komitmen yang
Sebenarnya? Retrieved from HaloPsikolog:
https://www.halopsikolog.com/seperti-apa-pengertian-komitmen/115/
Kuratko, D. F. (2007). Entrepreneurial Leadership in the 21st Centur. Journal of
Leadership and Organizational Studies Vol. 13, No. 4, 1-11.
Massudi, M. (2015). PENGARUH ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP DAN
GOOD GOVERNANCE. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 1-12.
Massudi, M. (2015). Pengaruh Entrepreneurial Leadership dan Good Governance
Terhadap Operational Performance Melalui Business Process Management
Sebagai Variabel Intervening Pada Usaha Kecil Menengah Sentra Batik
Tulis Surabaya. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 210-221.
Muttaqin. (2015, Desember 1). Membangun Komitmen dalam Wirausaha.
Retrieved from Muttaqin.id:
https://www.muttaqin.id/2015/11/membangun-komitmen-dalam-
wirausaha.html
Safuan. (2017). JURNAL MANAJEMEN INDUSTRI DAN LOGISTIK VOL. 1
NO.2. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA BERJIWA
KEPEMIMPINAN WIRAUSAHA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN
GLOBAL, 89-96.
Sutantyo, W., & Logahan, J. M. (2013). Analisis Pengaruh Entrepreneurial
Leadership dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada
PT.Focus Network Agencies Indonesia .
BisnisUKM, R. (2013, Maret 15). Menyusun Skala Prioritas Untuk Meraih
Kesuksesan Usaha. Retrieved Oktober 12, 2018, from BisnisUKM:
https://bisnisukm.com/menyusun-skala-prioritas-untuk-meraih-
kesuksesan-usaha.html
Maxmanroe.com. (2017, Agustus 30). Visi dan Misi: Pengertian, Perbedaan, dan
Contoh Visi Misi. Retrieved Oktober 11, 2018, from Maxmanroe.com:
https://www.maxmanroe.com/vid/organisasi/pengertian-visi-dan-misi.html
Rahmani, A. (2017, Desember 18). 6 Komponen Perencanaan Bisnis Penting
Untuk Perusahaan. Retrieved Oktober 11, 2018, from JURNAL:
https://www.jurnal.id/id/blog/2017/6-komponen-perencanaan-bisnis-
penting-untuk-perusahaan

Bayu, R. (2014, September 5). Kolaborasi dengan Rekan Kerja. Retrieved from
mebiso.com: https://mebiso.com/kolaborasi-dengan-rekan-kerja/
Dirasta, R. S. (2017, December 18). Studi Kasus Konflik Lingkungan Kerja.
Retrieved from Slideshare:
https://www.slideshare.net/RefridennyDirasta/studi-kasus-konflik-
lingkungan-kerja
hendriadi, v. (2017, May 15). Pentingnya Teamwork dan Kolaborasi. Retrieved
from re.work: https://rework.id/2017/05/15/pentingnya-teamwork-dan-
kolaborasi/