Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang ada pada saat ini

memberi kemudahan bagi para praktisi kesehatan untuk mendiagnosa penyakit

serta menentukan jenis pengobatan bagi pasien. Pada tahun 1946, Felix Bloch

dan Purcell mengemukakan teori, bahwa inti atom bersifat sebagai magnet

kecil, dan inti atom membuat spinning dan precessing. Dari hasil penemuan

kedua orang diatas kemudian lahirlah alat Nuclear Magnetic Resonance

(NMR) Spectrometer, yang penggunaannya terbatas pada kimia saja. Salah

satu bentuk kemajuan tersebut adalah penggunaan alat MRI (Magnetic

Resonance Imaging) untuk melakukan pencitraan diagnosa penyakit pasien.

(RS Mitra Plumbon, 2010).

MRI (Magnetic Resonance Imaging) merupakan suatu alat diagnostik

mutakhir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh anda dengan menggunakan

medan magnet yang besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi,

penggunaan sinar X, ataupun bahan radioaktif. selama pemeriksan MRI akan

memungkinkan molekul-molekul dalam tubuh bergerak dan bergabung untuk

membentuk sinyal-sinyal. Sinyal ini akan ditangkap oleh antena dan

dikirimkan ke komputer untuk diproses dan ditampilkan di layar monitor

menjadi sebuah gambaran yang jelas dari struktur rongga tubuh bagian dalam.

(RS Mitra Plumbon, 2010).

1
Pemeriksaan penunjang Magnetic Resonance Imaging (MRI) bisa

memberikan gambaran yang jelas untuk mengetahui cedera jaringan lunak

(ligamen, tendon dan bantal sendi). MRI memiliki sensitivitas sebesar 95 %

dan spesitivitas sebesar 88 % dalam penegakan diagnosis robekan ACL pada

atlet berusia muda. (RS Mitra Plumbon, 2010).

Cedera pada lutut merupakan salah satu masalah pada sistem

muskuloskelatal yang banyak dilaporkan pada pelayanan kesehatan primer.

Prevalensinya adalah 48 per 1000 pasien tiap tahun. Dari semua kasus cedera

lutut yang terjadi, 9% adalah cedera ligamen dimana Anterior Cruciate

Ligament (ACL) merupakan cedera ligamen yang paling sering (Lungo, 2008).

Hampir setengah dari seluruh cidera ligamen lutut adalah robekan ACL

dan hal tersebut merupakan penyebab terbesar ketidakstabilan lutut, yang dapat

mengakibatkan perubahan fungsi, kerusakan struktur sendi yang lain dan

selanjutnya akan mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan fungsi berjalan.

Beberapa penelitian yang dilakukan pada pasien dengan robekan ACL

menunjukkan adanya gangguan pada fungsi proprioseptif sendi lutut (Telson,

2003).

Ruptur adalah robeknya atau koyaknya jaringan yang di akibatkan

karen trauma (Dorland,2002). Anterior cruciatum ligamen (ACL) adalah salah

satu dari empat ligamentum utama di dalam lutut yang menghubungkan tulang

tibia dan femur. Fungsi utama ligamentum ini adalah untuk mencegah tulang

tibia bergeser ke arah depan dari tulang femur dan untuk mengontrol

gerakan rotasi dari lutut. Oleh karena itu, ruptur ACL dapat mengakibatkan

2
sendi lutut menjadi tidak stabil sehingga tulang tibia dapat bergerak secara

bebas. (Dorland,2002).

Ruptur anterior crusiatum ligamentum (ACL) sering terjadi pada

kegiatan olahraga yang pada dasarnya terdapat gerakan jongkok,

memutar, menghentikan gerakan, dan melompat. Berdasarkan penelitian

Kaiser (Hewet &Timoty, 2007) olahraga seperti football, baseball, basket, dan

sepak boladan ski terdapat 78% cidera ligamen cruciatum anterior

menyertai dalam kegiatan olahraga. Oleh karena itu, bagi pemain bola

yang melakukan kegiatan latihan fisik yang pada dasarnya termasuk high

impact memiliki kecenderungan besar untuk mengalami cedera ruptur anterior

cruciate ligament (ACL). (Hewet &Timoty, 2007)

Berdasarkan latar belakang atas, penulis ingin mengetahui dan

memahami lebih lanjut tentang “Teknik Pemeriksaan Magnetic Resonance

Imaging (MRI) Knee joint Sinistra dengan Klinis Ruptur ACL di Instalasi

Radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan diatas, maka

pembahasan masalah yaitu sebagai berikut :

“Bagaimanakah Teknik Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging

(MRI) Knee joint Sinistra dengan Klinis Ruptur ACL di Instalasi Radiologi

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung?”

1.3 Tujuan Penulisan

3
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui prosedur yang dilakukan pada Pemeriksaan Magnetic

Resonance Imaging (MRI) Knee joint Sinistra dengan Klinis Ruptur

ACL di Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi

Lampung.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui teknik Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging

(MRI) Knee joint Sinistra dengan Klinis Ruptur ACL di Instalasi

Radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung?

2. Untuk mengetahui hasil expertise dokter tentang Pemeriksaan

Magnetic Resonance Imaging (MRI) Knee joint Sinistra dengan

Klinis Ruptur ACL di Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. Abdul

Moeloek Provinsi Lampung ?

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek

Diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan lebih rinci

kepada radiografer mengenai teknik pemeriksaan Knee joint Sinistra

Pada Klinis Ruptur ACL.

4
1.4.2 Bagi Institusi ATRO Patriot Bangsa Lampung

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan ilmu bagi

mahasiswa/i ATRO Patriot Bangsa Lampung.

1.4.3 Bagi Penulis

Diharapkan dapat memperdalam pengetahuan penulis tentang teknik

pemeriksaan Knee joint Sinistra Pada Klinis Ruptur ACL .

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MRI (Magnetic Resonance Imaging)

2.1.1 Pengertian MRI Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI (Magnetic Resonance Imaging) merupakan suatu alat

diagnostik mutakhir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh anda

dengan menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang

frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun bahan

radioaktif.

Dan berdasarkan dari pengertian secara fisik, MRI adalah suatu alat

kedokteran di bidang pemeriksaan diagnostik radiologi, yang

menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh / organ

manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064

– 1,5 Tesla (1 tesla = 10000 Gauss) dan resonance getaran terhadap inti

atom hidrogen. (Kartawiguna, Daniel, 2015)

Dasar dari pencitraan resonansi magnetik (MRI-Magnetic

Resonance Imaging) adalah fenomena resonance magnetik dari inti

benda dimana sebuah inti benda yang dikenai medan magnet kemudian

menghasilkan gambar benda tersebut.

Resonance magnetik itu sendiri merupakan getaran inti atom karena

adanya penyearahan momen magnetik inti dari bahan oleh medan

magnetik luar dan rangsangan gelombang EM yang tepat dengan

frekuensi gerak gasing inti tersebut.

6
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa medan magnet yang digunakan

berkekuatan dari 0,064 – 1,5 tesla. Dari interval tersebut,

MRI dibagi menjadi 3 macam yang ditinjau dari kekuatan medan

magnetnya :

a. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla ) memiliki kekuatan di atas 1

– 1,5 T.

b. MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla) memiliki kekuatan 0,5 –

T.

c. MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki kekuatan di bawah

0,5 T. (Kartawiguna, Daniel, 2015)

MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari :

a. MRI yang memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang

luas

b. MRI yang memiliki kerangka (gantry) biasa yang berlorong sempit.

2.1.2 Perkembangan MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Pada tahun 1946, Felix Bloch dan Purcell mengemukakan teori,

bahwa inti atom bersifat sebagai magnet kecil, dan inti atom membuat

spinning dan precessing. Dari hasil penemuan kedua orang diatas

kemudian lahirlah alat Nuclear Magnetic Resonance (NMR)

Spectrometer, yang penggunaannya terbatas pada kimia saja.

Setelah lebih dari sepuluh tahun Raymond Damadian bekerja

dengan alat NMR Spectometer, maka pada tahun 1971 ia menggunakan

7
alat tersebut untuk pemeriksaan pasien. Pada tahun 1979, The University

of Nottingham Group memproduksi gambaran potongan coronal dan

sagittal (disamping potongan aksial) dengan NMR. Selanjutnya karena

kekaburan istilah yang digunakan untuk alat NMR dan di bagian apa

sebaiknya NMR diletakkan, maka atas saran dari AMERICAN

COLLEGE of RADIO-LOGI (1984), NMR dirubah menjadi Magnetic

Resonance Imaging (MRI) dan diletakkan di bagian Radiologi. (

Admin,2009 )

2.1.3 Instrumen MRI

Secara garis besar instrumen MRI terdiri dari:

Gambar 2.1 Alat MRI

1. Sistem magnet yang berfungsi membentuk medan magnet. Agar

dapat mengoperasikan MRI dengan baik.

2. Sistem frequensi radio berfungsi membangkitkan dan memberikan

radio frequensi serta mendeteksi sinyal.

8
3. Sistem komputer berfungsi untuk membangkitkan sekuens pulsa,

mengontrol semua komponen alat MRI dan menyimpan memori

beberapa citra.

4. Sistem pencetakan citra, berfungsinya untuk mencetak gambar

pada film rongent atau untuk menyimpan citra

5. Sistem pencitraan berfungsi membentuk citra yang terdiri dari tiga

buah kumparan koil, yaitu :

a. Gradien koil X, untuk membuat citra potongan sagittal

b. Gardien koil Y, untuk membuat citra potongan Coronal.

c. Gradien koil Z, untuk membuat citra potongan aksial (Bila

gradien koil X, Y dan Z bekerja secara bersamaan maka akan

terbentuk potongan oblique). (Kartawiguna, Daniel, 2015)

2.1.4 Cara Kerja MRI

Alat MRI berupa suatu tabung berbentuk bulat dari magnet yang

besar. Penderita berbaring di tempat tidur yang dapat digerakkan ke

dalam (medan) magnet. Magnet akan menciptakan medan magnetik

yang kuat lewat penggabungan proton-proton atom hidrogen dan

dipaparkan pada gelombang radio. Ini akan menggerakkan proton-

proton dalam tubuh dan menghasilkan sinyal yang diterima akan

diproses oleh komputer guna menghasilkan gambaran struktur tubuh

yang diperiksa. (Rsmitraplumbon. 2010).

9
Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal

sebagai alat diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang

berkaitan dengan teknik penggambaran MRI, antara lain :

a. Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik,

b. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya,

c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya,

d. Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.

Dengan ini, ciri-ciri anatomi yang jelas dapat dihasilkan. Pada

pengobatan, MRI digunakan untuk membedakan otot patologi seperti

tumor otak dibandingkan otot normal. Prinsip dasar dari cara kerja

suatu MRI adalah Inti atom Hidrogen yang ada pada tubuh manusia

(yang merupakan kandungan inti terbanyak dalam tubuh manusia)

berada pada posisi acak (random), ketika masuk ke dalam daerah

medan magnet yang cukup besar posisi inti atom ini akan menjadi

sejajar dengan medan magnet yang ada. Kemudian inti atom Hidrogen

tadi dapat berpindah dari tingkat energi rendah kepada tingkat energi

tinggi jika mendapatkan energi yang tepat yang disebut sebagai energi

Larmor.

Beberapa faktor kelebihan yang dimiliki oleh MRI adalah

kemampuannya membuat potongan koronal, sagital, aksial tanpa

banyak memanipulasi posisi tubuh pasien sehingga sangat sesuai

untuk diagnostic jaringan lunak. Kualitas gambar MRI dapat

memberikan gambaran detail tubuh manusia dengan perbedaan yang

10
kontras, sehingga anatomi dan patologi jaringan tubuh dapat

dievaluasi secara teliti.

Secara ringkas, proses terbentuknya citra MRI dapat digambarkan

sebagai berikut: Bila tubuh pasien diposisikan dalam medan magnet

yang kuat, inti-inti hidrogen tubuh akan searah dan berotasi

mengelilingi arah/vektor medan magnet. Bila signal frekuensi radio

dipancarkan melalui tubuh, beberapa inti hidrogen akan menyerap

energi dari frekuensi radio tersebut dan mengubah arah, atau dengan

kata lain mengadakan resonansi. Bila signal frekuensi radio

dihentikan pancarannya, inti-inti tersebut akan kembali pada posisi

semula, melepaskan energi yang telah diserap dan menimbulkan

signal yang ditangkap oleh antena dan kemudian diproses computer

dalam bentuk radiografi.

Gambar 2.2 Diagram Blok Proses MRI

11
Dalam perkembangan dunia kedokteran,terutama dalam bidang

instrumentasinya MRI berkembang pesat dengan bertambahnya

kekuatan medan magnet yang dihasilkan, semakin tinggi kekuatan

teslanya semakin tinggi kemampuan yang akan dihasilkan baik dari

sisi pencitraan maupun dari sisi lain khususnya spektroskopi.

(Kartawiguna, Daniel, 2015)

2.1.5 Keunggulan MRI

Kelebihan dari MRI ini dibandingkan dengan modalitas imaging

terdahulu (konvesional, CT, USG) antara lain adalah kemampuan

menampilkan detail anatomi secara jelas dalam berbagai potongan

(multiplanar) tanpa mengubah posisi pasien.Selain itu hasil pencitraan

yang dihasilkan oleh MRI lebih jelas serta dapat dilihat dari berbagai

sisi tanpa melibatkan pengunaan radiasi, memberikan hasil tanpa perlu

mereposisi pasien, tidak menggunakan kontras untuk sebagian besar

pemeriksaan MRI. Fasilitas MRI dilengkapi dengan kemampuan untuk

menilai fungsi organ tertentu secara dinamik (Functional MRI), untuk

menilai distribusi darah baik di otak maupun di jantung (Perfusion

Imaging) serta melihat metabolisme yang ada didalam sebuah tumor

(Spectroscopy Imaging). Berikut merupakan beberapa kelebihan MRI

dibandingkan dengan pemeriksaan CT Scan yaitu :

1. MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada

jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.

2. Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.

12
3. Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan

difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan

CT Scan.

4. Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan

miring tanpa merubah posisi pasien.

5. MRI tidak menggunakan radiasi pengion.Mengingat MRI bersifat

non invasive, sehingga karena hal tersebut dalam pemeriksaan

menggunakan MRI tidak menimbulkan rasa nyeri pada pasien serta

dengan menggunakan MRI memberikan informasi yang baik

keadaan jaringan lunak, hal tersebut disebabkan karena jaringan

lunak yang terdapat dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri

dari air. Dengan prinsip kerja dari MRI adalah inti atom. Hidrogen

yang ada pada tubuh manusia (pasien) berada pada posisi acak

(random), ketika masuk ke dalam daerah medan magnet yang

cukup besar posisi inti atom hidrogen ini akan menjadi sejajar

dengan medan magnet yang ada, sehingga benar adanya bila

dengan menggunakan MRI didapatkan pencitraan jaringan lunak

yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan CT scan.

(Kartawiguna, Daniel, 2015)

13
2.1.6 Aplikasi Tes MRI

Untuk proses pemindaian MRI, daerah tubuh yang akan diperiksa

ditempatkan di dalam sebuah mesin khusus yang mengandung medan

magnet yang kuat.

Hasil gambar dari pemindaian MRI berupa citra digital yang dapat

disimpan dalam komputer untuk proses analisis lebih lanjut. Gambar

ini juga dapat ditinjau dari jarak jauh, misalnya di dalam klinik atau

ruang operasi.

Tes MRI dilakukan karena berbagai alasan, seperti tumor,

pendarahan, cedera, penyakit pembuluh darah, atau infeksi. MRI juga

dilakukan untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang masalah

yang tak dapat terlihat dengan menggunakan sinar-X, USG, ataupun

CT-scan. Secara garis besar, tes MRI dapat digunakan untuk memeriksa

seluruh organ dalam tubuh manusia sebagai berikut:

1. Kepala. MRI dapat mendiagnosis tumor otak, aneurisma,

pendarahan di otak, cedera saraf, dan masalah lainnya seperti

kerusakan yang disebabkan oleh stroke. MRI juga dapat

menemukan masalah dari mata dan saraf optik, telinga, dan saraf

pendengaran.

2. Dada. MRI dapat memindai jantung, katup, dan pembuluh darah

koroner. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat

kerusakan pada organ jantung atau paru-paru. MRI juga dapat

digunakan untuk memeriksa kanker pada payudara dan paru-paru.

14
3. Pembuluh darah. Pengunaan MRI untuk memeriksa pembuluh

darah dan aliran darah disebut dengan magnetic resonance

angiography (MRA). Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan

masalah pada arteri dan vena seperti, aneurisma, penyumbatan

pembuluh darah, sayatan pembuluh darah (diseksi).

4. Perut dan panggul. MRI dapat digunakan untuk memeriksa

masalah tulang dan sendi seperti artritis, masalah dengan sendi

temporomandibular, masalah sumsum tulang, tumor pada tulang

atau tulang rawan, sayatan ligamen atau tendon, dan infeksi. MRI

juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada kerusakan

tulang jika ternyata pemindaian dengan sinar-X tidak

menghasilkan data yang akurat.

5. Tulang belakang. MRI dapat mendignosis cakram dan saraf tulang

belakang untuk kondisi seperti stenosis tulang belakang, tonjolan

disk, dan tumor tulang belakang. Biasanya ahli bedah saraf

menggunakan MRI tidak hanya untuk mendefinisikan anatomi

otak, tetapi dalam mengevaluasi integritas sumsum tulang

belakang setelah trauma.

6. Pemeriksaan musculo-skletel untuk organ lutut,bahu, siku,

pergelangan tangan, kaki, tujuanyanya untuk mendeteksi robekan

tulang rawan tendon, ligament, tumor dan infeksi.

Selain itu, MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi

struktur jantung dan aorta. Hal-hal inilah yang dapat memberikan

15
kita informasi yang sangat berharga mengenai kelenjar dan organ

dalam, dan informasi akurat tentang struktur sendi, jaringan lunak,

dan tulang dari tubuh. Seringkali, operasi dapat ditangguhkan

setelah mengetahui hasil scan dengan MRI. (Fran Kurnia, 2018).

2.2 Anatomi dan Fisiologi Knee joint

2.2.1 Definisi Anatomi Knee joint

Gambar 2.3 Anatomi Knee joint

Knee joint adalah salah satu sendi kompleks dalam tubuh

manusia. Femur, tibia, fibula,dan patella disatukan menjadi satu

kelompok yang kompleks oleh ligament. (Ballinger, 2007)

Sendi merupakan pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari

kerangka. Terdapat tiga jenis utama berdasarkan kemungkinan

gerakannya yaitu sendi fibrus, sendi tulang rawan dan sendi sinovial (C

Evelyn, 1999).

16
Sendi fibrus atau sinartroses adalah sendi yang tidak dapat bergerak

atau merekat ikat, maka tidak mungkin ada gerakan antara tulang –

tulangnya, misalnya: sutura antara tulang pipih tengkorak. Sendi tulang

rawan atau amfiartroses adalah sendi dengan gerakan

sedikit dan permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan dan

mungkin sedikit gerakannya. Misalnya, Simphisis pubis, dimana

sebuah bantalan tulang rawan mempersatukan kedua tulang pubis.

Sendi synovial atau diartroses adalah persendian yang bergerak bebas

dan terdapat banyak ragamnya.

Gambar 2.4 Anatomi Knee joint kanan dari sisi Anterior view
dan Posterior view (Nucleus Medical Art,
1997-2007)

17
Gambar 2.5 Anatomi Knee joint Kanan dari sisi Lateral view dan
Medial view (Nucleus Medical Art, 1997-2007)

Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur,

epiphysis proksimalis, tulang tibia dan tulang patella, serta mempunyai

beberapa sendi yang terbentuk dari tulang yang berhubungan, yaitu antar

tulang femur dan patella disebut articulatio patella femoral, antara tulang

tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan antara

tulang tibia dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio

fibular proxsimal (De Wolf, 1996).

Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa

tulang, ligament beserta otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan

yang disebut dengan sendi lutut atau knee joint. Anatomi sendi lutut

terdiri dari:

18
1. Tulang pembentuk sendi lutut

a. Tulang Femur

Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang

kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan

acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput femoris.

Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju

yang disebut trochantor mayor dan trochantor minor, di bagian

ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan

yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis, di antara

kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang

tempurung lutut (patella) yang disebut dengan fosa condylus

(Syaifuddin, 1997).

b. Tulang Tibia

Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat

pada os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian

dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os

maleolus medialis. (Syaifuddin, 1997).

c. Tulang Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang

membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian

ujungnya. Terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis

atau mata kaki luar. (Syaifuddin, 1997).

19
d. Tulang Patella

Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada

tulang femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan

adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella dengan

femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot

atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi

flexi lutut 90 derajat, kedudukan patella di antara kedua

condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada

permukaan anterior femur (Syaifuddin, 1997).

2. Ligamentum pembentuk sendi lutut

Gambar 2.6 Susunan Ligamen Sendi Lutut Anterior View


(R.Putz, R.Pabst, 2002)

Keterangan Gambar yaitu :


a. Ligamen cruciatum g. Ligament
anterior meniscofemorale
b. Meniscus lateralis posterior
c. Ligament collateral h. Ligament collateral tibia
fibula i. Ligament popliteum
d. Ligament capitis fibula obliqum
posterior j. Ligament cruciatum
e. Caput fibula posterior
f. Femur, condylus medial

20
Gambar 2.7 Susunan Ligamen Sendi Lutut Lateral View
(R.Putz R.Pabst, 2002)

Keterangan Gambar yaitu :


a. Ligamen patella
b. Meniscus medialis
c. Ligament collateral tibia

Stabilitas sendi lutut yang lain adalah ligamentum. Ada beberapa

ligamentum yang terdapat pada sendi lutut antara lain :

a) Ligamentum crusiatum anterior, yang berjalan dari depan eminentia

intercondyloidea tibia, ke permukaan medial condylus lateralis

femur, fungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia

ke depan.

b) Ligamentum crusiatum posterior, berjalan dari facies lateralis

condylus medialis femoris, menuju fossa intercondyloidea tibia,

berfungsi menahan bergesernya tibia, ke arah belakang.

c) Ligamentum collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus

lateralis ke capitulum fibulla, yang berfungsi menahan gerakan varus

atau samping luar.

21
d) Ligamentum collateral mediale tibia (epicondylus medialis

tibia), yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping dalam

dan eksorotasi, dan secara bersamaan ligament

collateral juga berfungsi menahan bergesernya ke depan pada posisi

lutut fleksi 90 derajat.

e) Ligamentum popliteum abligum, berasal dari condylus lateralis

femoris menuju ke insertio musculus semi membranosus melekat

pada fascia musculus popliteum.

f) Ligamentum transversum genu, membentang pada permukaan

anterior meniscus medialis dan lateralis. Semua ligament tersebut

berfungsi sebagai fiksator dan stabilisator sendi lutut. Tranversum

genu di samping ligament ada juga bursa pada sendi lutut. Bursa

merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya

gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membran

synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara

lain : (a) bursa popliteus, (b) bursa supra patellaris, (c) bursa infra

patellaris, (d) bursa subcutan prapatellaris, (e) bursa sub patellaris,

(f) bursa prapatellaris.

3. Etiologi

Beberapa faktor etiologi lutut yang telah diketahui antara

lain :

a. Osteoartritis

Kerusakan sendi lutut bisa disebabkan oleh obesitas, trauma

22
23
b. Bursitis

Peradangan yang disebabkan oleh gangguan lutut yang

berulang-ulang hingga tulang rawan lutut rusak.

c. Kista baker

Penumpukan cairan sinovial cairan yang melumasi sendi

dibelakang lutut

d. Dislokasi

Pindahnya temputung lututakibat trauma

e. Robekan menikus

Ketika salas satu ligament dalam lutut pecah atau robek

f. Osteosarcoma (kanker tulang)

2.2.2 Pengertian Ruptur ACL

1. Ruptur ACL

Ruptur ACL adalah robeknya ligament anterior cruciatum yang

menyebabkan sendi lutut menjadi tidak stabil sehingga tulang tibia

bergeser secara bebas. Ruptur ACL sering terjadi pada olahraga high-

impact, seperti sepak bola, futsal, bola voli, tenis, bulutangkis, bola

basket dan olahraga lain seperti beladiri (McMillan, 2013). Sebagian

besar cedera ACL memerlukan tindakkan operasi. Standar operasi

rekonstruksi ACL yang biasa dipakai adalah teknik arthroskopi

(Edwards, 2010).

Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah salah satu dari 4

ligamen utama yang menstabilisasi sendi lutut. Ligamen ini terdiri

24
dari jaringan fibrosa yang menyerupai tambang yang berkoneksi

dengan tulang di persendian. ACL mencegah tulang bagian bawah

(tibia) dari pergeseran yang berlebihan dan menstabilisasi lutut untuk

melakukan berbagai aktivitas (McMillan, 2013).

2. Etiologi

Penyebab cedera ACL dapat ditimbulkan oleh berbagai aktivitas

(tidak hanya aktivitas olahraga). Penyebab cedera berdasarkan betapa

sering aktivitas tersebut menyebabkan cedera ACL dapat

dikelompokkan sebagai berikut :

a. Gerakan Berputar yang terlalu cepat dan tidak normal (Non-

Contact)

b. Lutut berpilin saat mendarat

c. Kontak atau benturan langsung (Diktat Anatomy, 2012).

3. Patofisiologi

ACL mencegah translasi anterior tibia tehadap femur dan berfungsi

untuk meminimalisasi rotasi tibia. Fungsi sekunder ACL adalah

untuk mencegah posisi valgus dan falrus pada lutut, terutama saat

ekstensi. Cedera ACL menyebabkan perubahan kinematika lutut.

Terkait dengan patologi yang terjadi, penundaan rekontruksi ACL

dapat mengakibatkan terjadinya

a) Osteoarthitis

Sekitar 15% dari kasus ruptur ACL menjalani Total Knee

Replacement (TKR) (Maguireet al., 2012).

25
b) ACL menerima suplai darah dari arteri middle genuelate

sehingga jika terjadi ruptur ACL akan terjadi haemoarthrosis

Namun, meskipun lokasinya intra-artikular, ACL adalah

Ektrasinovial karena tidak memiliki zat-zat penyembuh luka,

maka jika terjadi ruptur ACL akan sulit sembuh dengan

sendirinya (Brukner & Khan, 2011).

4. Tanda dan Gejala

Pasien selalunya merasa atau mendengar bunyi "pop" di lutut

pada saat cedera yang sering terjadi saat mengganti arah,

pemotongan, atau pendaratan dari melompat (biasanya kombinasi

hiperekstensi /poros). Ketidakstabilan mendadak di lutut (lutut

terasa goyah). Hal ini bisa terjadi setelah lompatan atau perubahan

arah atau setelah pukulan langsung ke sisi lutut. Nyeri di bagian luar

dan belakang lutut.

Lutut bengkak dalam beberapa jam pertama dari cedera. Ini

mungkin merupakan tanda perdarahan dalam sendi. Pembengkakan

yang terjadi tiba-tiba biasanya merupakan tanda cedera lutut serius.

Gerakan lutut terbatas karena pembengkakan atau rasa sakit.

5. Klasifikasi Ruptur ACL

Tingkat keparahan cedera ligamen dinilai sebagai :

GRADE 1 : Dengan nyeri ringan dan bengkak tetapi tidak ada

perpanjangan permanen atau kerusakan pada ligamen.

26
GRADE II : Ligamentum tertarik keluar (seperti gula-gula) dan

diperpanjang. Ada rasa sakit umumnya lebih dan

bengkak dan sering memar. Ligament biasanya akan

sembuh tanpa operasi. Ligament akan memiliki

beberapa kelemahan (yaitu membuka) dibandingkan

dengan normal tetapi sendi akan sembuh dan biasanya

dapat berfungsi normal dengan sedikit ketidakstabilan

GRADE III : Ligamentum tertarik jauh sehingga robek menjadi dua.

Sering kali ada rasa sakit yang relatife sedikit. Namun,

sendi sangat tidak stabil, dan menahan seringkali

sangat sulit bahkan dengan tongkat sekalipun. Lutut

akan terlepas atau buckle”. Sering memar disekitar

lutut.

2.3 Alat dan Bahan

2.3.1 Pesawat Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Alat yang digunakan di instalasi radiologi RSUD Dr.Hi. Abdul

Moeloek adalah pesawat MRI 0,36 Tesla Merk Mindray Agense 360.

2.3.2 Coil

1. Coil Gardien

Coil ini digunakan untuk membangkitkan suatu medan magnet yang

mempunyai fraksi-fraksi kecil terhadap medan magnet utama.

Fungsinya berbeda-beda sesuai dengan irisan yang dipilih yaitu

axial, atau coronal.

27
2. Coil Pemancar

Coil ini berfungsi untuk memancarkan gelombang radio pada inti

yang terlokalisir sehingga terjadi eksitansi.

3. Coil Penerima

Coil ini berfungsi untuk menerima sinyal output dari sistem setelah

eksitansi terjadi . (Kartawiguna, Daniel, 2015)

2.3.3 Tombol Emergency (Bell Emergency)

Bell emergency berguna apabila pasien sudah tidak kuat pada saat

dilakukannya pemeriksaan, tekan saja tombol tersebut maka akan

dehentikannya proses pemeriksaan.

2.3.4 Baju Pasien

Baju pasien adalah pakaian yang digunakan pasien saat

dilakukannya pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging.

2.3.5 Computer MRI

Computer yang digunakan di instalasi radiologi RSUD Dr. Hi.

Abdul Moeloek adalah computer merk Lenovo.

2.3.6 Film MRI

Film yang digunakan di instalasi radiologi RSUD Dr.Hi. Abdul

Moeleok adalah film merk AGFA dengan ukuran 35x43 cm.

2.3.7 Printer

Printer digunakan di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Hi. Abdul

Moeloek adalah printer merk AGFA dengan type Drystar 5302.

28
2.4 Standar Operasional Prosedur (SOP) MRI di Instalasi Radiologi RSUD

Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung

2.4.1 Pengoperasian Pesawat MRI Mind Ray

Pengertian pesawat MRI Mind Ray adalah peswat Magnetic

Resonance Imaging 0.36 Tesla yang digunakan untuk pemeriksaan

radiologi imaging, tujuan :

1. Agar pesawat MRI agar tahan lama

2. Menghindari / mencegah kerusakan

3. Pengoprasian peswat MRI Mind Ray 0,36 tesla dilakukan oleh

radiografer.

2.4.2 Prosedur Menghidupkan Pesawat MRI

1. Cek suhu dipanel berkisar (±0.5°C) selisih antara 29-30°C.

2. Tekan tombol ON pada meja control berwarna hijau.

3. Masukan password di layar monitor.

4. Pasang dan atur coil yang akan digunakan untuk QA dimeja

pemeriksaan.

5. Letakkan sentrasi ditengah coil dengan mengunakan lampu

colimator.

6. Matikan lampu colimator kalau sentrasi dan amsukkan meja sampai

angka indikasi menunjukkan sentrasi 0 (nol).

7. Masukan data QA di folder exam lalu lakukan QA sampai

menunjukan indikasi “PASSED”.Jika indikasi “FAILED” periksa

29
kembali semua prosedur lalu lakukan QA ulang sampai indikasi

“PASSED”.

2.4.3 Prosedur Pelaksanaan

1. Pastikan semua benda berupa logam tidak oleh masuk kedalam

ruang pemeriksaan.

2. Pastikan bahwa pasien telah di screening MRI sebelum dilakukan

pemeriksaan.

3. Jika pemeriksaan memerlukan bahan kontras, pastikan pasien

dalam keadaan puasa dan mengisi informed consent

4. Beri penjelasan pada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan

selama Pemeriksaan.

5. Atur posisi pasien di atas meja pemeriksaan.

6. Pasang coil sesuai dengan jenis objek yang akan diperiksa.

7. Atur sentrasi ditengah coil dengan menghidupkan lampu colimasi.

8. Matikan lampu colimasi dan atur meja pemeriksaan sampai

keangka meujukan sentrasi 0 (nol).

9. Masukan data pasien jenis potongan yang akan digunakan.

10. Atur semua program jenis potongan yang akan digunakan.

11. Tunggu sampai proses selesai.

12. Cetak film dengan kebutuhan.

30
2.4.4 Prosedur Mematikan Pesawat

1. Lepaskan dan rapikan kembali semua coil yang masih terpasang

dimeja pemeriksaan dan letakan dilemari yang tersedia.

2. Pastikan posisi coil aman dan sesuai dengan posisinya.

3. Pilih menu exam.

4. Klik pilihan menu “shut down”.

5. Tunggu sampai layar kondisi off.

6. Tekan tombol OFF pad meja control berwarna hijau.

31
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Prosedur Kerja MRI

3.1.1 Prosedur Sebelum Pemeriksaan

MRI Knee joint adalah pemeriksaan pada daerah lutut dengan

menggunakan medan magnet untuk menghasilkan gambaran Radiografi

dengan cara memotong per slice pada organ yang diperiksa. Tujuan:

Untuk melihat kelainan patologis yang ada didaerah knee, melihat

robekan akibat trauma serta adanya cairan didaerah lutut.

1. Sebelum pemeriksaan MRI pasien/keluarga pasien diwajibkan

mengisi biodata dan riwayat kesehatan pasien yang berhubungan

dengan rencana pemeriksaan MRI. Formulir ditandatangani oleh

pasien, keluarga dan petugas MRI. Hal ini untuk memastikan pasien

benar benar aman untuk dilakukan pemeriksaan MRI.

2. Pasien harus mengganti pakaian dengan pakaian khusus yang telah

disediakan di ruang ganti pasien.

3. Semua barang pasien seperti jam tangan, gigi palsu, dompet yang

berisi kartu kredit, perhiasan dan benda benda yang mengundang

unsur logam disimpan di loker / lemari terkunci.

4. Beri penjelasan bahwa sejumlah pemeriksaan akan terdengar suara

suara berisik yang ditimbulkan oleh alat.

5. Selama pemeriksaan pasien harus dalam keadaan diam untuk

mendapatkan hasil yang informatif.

32
3.1.2 Prosedur Pemeriksaan

1. Data Pasien

Nama : Ny. M

Umur : 36 tahun

Berat : 53 kg

Jenis Pemeriksaan : MRI Knee joint Sinistra

Klinis Pemeriksaan : Ruptur ACL

2. Persiapan pasien

Membuat perjanjian 1 hari sebelum pemeriksaan.Mengisi

formulir screening sebelum masuk ruangan pemeriksaan

Menggunakan baju pemeriksaan yang telah disediakan diruang ganti

baju memberikan ear phone memberikan penjelasan kepada pasien

sebelum pemeriksaan dilakukan.

3. Teknik pemeriksaan

1. Masukkan data pasien di RX Manage komputer Atur posisi pasien

di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa dengan

memasang coil khusus knee joint dengan sentrasi dipertengahan

knee.

a. Tekan tombol angka nol dan setting objek di tengah gantri.

b. Tentukan protokol pada window site dan pilih sequence :

1. Scout

2. T1 Sagital

33
3. T2 Sagital tebal irisan 4,5 mm dengan Interslice 0,5 mm.

4. T2 Stir

5. Pd.Fse Sagital

6. T2 Transversal

7. T2 Coronal

8. Lama tindakan kurang dari 45 menit tergantung dari

pemeriksaan dan kondisi pasien.

Gambar 3.1 Meja Control pada saat pemeriksaan

34
3.2 Hasil Gambaran MRI Knee joint

Gambar 3.2 Hasil Gambaran T1-T2 Potongan Sagital

35
Gambar 3.3 Hasil Gambaran T2 Stir dan Fd.Sagital

36
Gambar 3.4 T2 Trans Sagital dan T2 Cor Sagital

3.3 Hasil Expertise Dokter


Berdasarkan expertise dokter radiolog dengan hasil sebagai berikut :
a. Os femur pars distalis serta tibia dan fibula pars proximal serta os patella

yang tervisualisasi intak, posisi, bentuk dan intensitas tak tampak kelainan.

b. Tak tampak lesi maupun diskontinuitas pada ossa genu yang tervisualisasi

37
c. ACL tampak diskontu partial, bentuk tampak amorf, dengan masih tampak

gambaran ACL yang intak. Tampak gambaran fluid collection minimal

disekitarnya.

d. Intensitas sinyal bone marrow masih tampak normal.

e. Cortex memperlihatkan kontur yang rata tanpa disertai perubahan

intensitas sinyal di daerah subkondral.

f. Kartilago yang meliputi patella, kondilus femorlis dan tibial plateau

memiliki ketebalan yang normal dengan permukaan rata serta intensitas

signal yang normal.

g. Ligamentum kolateral medial dan lateral masih memberikan bentuk, kontur

dan intensitas signal yang normal.

h. Ligamentum cruciatum posterior masih memberikan bentuk, kontur dan

intensitas signal yang normal.

i. Ligamentum quadriceps femoris dan Ligamentum patellaris masih

memberikan bentuk, kontur dan intensitas signal yang normal.

j. Tidak tampak intra-articulat foreign body.

k. Jaringan lunak disekitar genu dan struktur vaskuler yang terlihat masih

tampak normal.

Kesan :
- Partial tear ACL dengan fluid collection minimal disekitarnya.

38
3.4 Pembahasan

Masukkan data pasien di RX Manage komputer. Atur posisi pasien di

meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa dengan memasang coil

lutut khusus supine dengan sentrasi pada petengahan lutut. Tekan tombol angka

nol dan setting objek di tengah gantri. Tentukan protokol pada window site dan

pilih sequencenya. Ambil pemotongan Gambar, Potongan coronal diambil dari

localizer sagital, Potongan sagital diambil dari potongan coronal dan axial,

Potongan axial diambil dari potongan sagital, dimana potongan diambil per

slicenya.

Setelah dilakukannya pemeriksaan Magenetic Resonance Imaging pada

knee joint, Penulis mendapatkan hasil ekspertise dari dokter spesialis radiologi

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung yang

menunjukan bahwa os femur,tibia ,fibulla dan os patella yang tervisualisasi,

posisi , bentuk dan intensitas tak tampak kelainan, tidak tampak benda asing di

sela-sela sendi, jaringan lunak disekitar genu dan struktur vaskular yang terlihat

masih tampak normal, serta adanya sobekan Anterior Cruciate Ligament

(ACL) dengan pengumpulan cairan didaerah sekitarnya.

39
BAB VI

PENUTUP

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka penulis

memberikan kesimpulan sebagai berikut :

4.1 Kesimpulan

1. MRI knee joint adalah pemeriksaan pada daerah lutut dengan menggunakan

medan magnet untuk menghasilkan gambaran Radiografi dengan cara

memotong per slice pada organ yang diperiksa. Keluhan yang sering

dirasakan pasien pada daerah lutut dapat didiagnosa lebih akurat dengan

pemeriksaan MRI knee joint. Karena keabnormalan sekecil apapun dapat

lebih jelas terlihat pada gambaran radiografi MRI knee joint. Komponen

MRI terdiri dari : gantry, meja pemeriksaan, coil, operator console.

Protokol pada window site, yaitu T1-T2 Sagital, T2 Stir dan Fd.Sagital, T2

Trans Sagital dan T2 Cor Sagital.

2. Setelah dilakukannya pemeriksaan Magenetic Resonance Imaging (MRI)

pada knee joint, penulis mendapatkan hasil expertise dari dokter spesialis

radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung yang

menunjukan bahwa os femur, tibia, fibulla dan os patella yang

tervisualisasi, posisi, bentuk dan intensitas tak tampak kelainan, tidak

tampak benda asing di sela-sela sendi, jaringan lunak disekitar genu dan

struktur vaskular yang terlihat masih tampak normal,serta adanya sobekan

Anterior Cruciate Ligament (ACL) dengan pengumpulan cairan didaerah

sekitarnya.

40
4.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan, yaitu :

4.2.1 Bagi Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek

Sebaiknya radiografer dalam pemeriksaan MRI Knee Joint, agar

menenangkan pasien sebelum pemeriksaan dimulai, dikarenakan

pasien selalu bergerak secara terus-menerus pada saat pemeriksaan

dilaksanakan.

41
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002


Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC.

Kartawiguna, Daniel, 2015


Tomografi Resonansi Magnetik Inti, Teori Dasar, Pembentukan Gambar
dan Instrumental Perangkat Kerasnya, Yogyakarta : Graha Ilmu

Mardjono M, Sidharta P, 2000


Neurologi Klinis Dasar, Cetakan ke-8, Jakarta : Dian Rakyat.

Pearce C. Evelyn, 2000


Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia.

Fran Kurnia, 2018


http://majalah1000guru.net/2014/04/magnetic-resonance-imaging/
diakses pada tanggal 20 Desember 2018 pkl. 20.30 WIB.

42
LAMPIRAN

Gambar Pesawat MRI

Gambar Coil

43
Gambar Control Panel

Gambar Printer Drystar 5302

Gambar Hasil Expertise Dokter

44