Anda di halaman 1dari 7

KETERBUKAAN KOMUNIKASI DALAM MENCIPTAKAN IKLIM KOMUNIKASI

YANG KONDUSIF DI PERPUSTAKAAN


(Studi Kasus Tentang Keterbukaan Komunikasi Dalam Menciptakan Iklim Komunikasi Yang Kondusif Di Kapusipda
Kabupaten Buleleng, Singaraja-Bali)

Putu Suparna, Tine Silvana R., dan Yunus Winoto


Perpustakaan Undiknas Bali
Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan

ABSTRAK pekerjaan dan menerima saran atau gagasan yang


disampaikan bawahannya dengan cara membuka pintu
Tujuan penelitian untuk : 1) mengetahui keterbukaan lebar-lebar bagi bawahan; 3) implikasi keterbukaan
komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi yang komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi yang
kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng terlihat
komunikasi atasan; 2) mengetahui keterbukaan adanya kepercayaan, kedekatan, dukungan, dan bersedia
komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi yang mendengarkan masalah, serta bersedia menerima
kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek kelebihan dan kekurangan.
komunikasi bawahan ; 3) mengetahui implikasi
keterbukaan komunikasi dalam menciptakan iklim Kata Kunci : Keterbukaan Komunikasi, Iklim
komunikasi yang kondusif di Kapusipda Kabupaten Komunikasi.
Buleleng. Metode penelitian menggunakan metode
kualitatif pendekatan studi kasus. Informan kunci adalah PENDAHULUAN
pengelola Kapusipda Kabupaten Buleleng, sebanyak
sepuluh narasumber. Keterbukaan komunikasi atasan dan bawahan
Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut: 1) atau antara sesama rekan kerja sering memberikan
berdasarkan aspek komunikasi atasan belum sepenuhnya dorongan semangat kerjasama pada masing-masing
dilaksanakan karena masih terdapat beberapa atasan yang individu atau anggota organisasi. Atasan
tidak pernah mengkomunikasikan pada bawahan, memberikan dorongan, kepercayaan dan
misalnya hasil rapat. Seyogyanya atasan yakni kepala penghargaan kepada bawahannya akan dapat
seksi harus menyediakan informasi atau dapat meningkatkan semangat kerjasama pada bawahan
menjembatani antara bawahan dengan pimpinan yang dalam bekerja. Demikian pula komunikasi antara
lebih tinggi lagi kedudukannya dalam organisasi tersebut; sesama rekan kerja yang efektif dan efisien dapat
2) berdasarkan aspek komunikasi bawahan terlihat sudah meningkatkan kerjasama dalam bekerja. Terkadang
berjalan efektif yang berarti adanya hubungan ada hal-hal yang sulit disampaikan dalam suatu
komunikasi antara bawahan dan atasan yang efektif komunikasi yang menyebabkan adanya
sesuai kondisi lingkungan dan seimbang. Adanya kesalahpahaman, kurangnya keterbukaan, dan hal-
kesediaan atasan mendengarkan keluhan atau kesulitan hal penghambat lainnya dalam sebuah hubungan
pekerjaan dan menerima saran atau gagasan yang antar manusia.
disampaikan bawahannya dengan cara membuka pintu Adanya sikap terbuka (open-mindedness)
lebar-lebar bagi bawahan; 3) implikasi keterbukaan merupakan salah satu substansi dalam organisasi
komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi yang yang harus dilaksanakan. Dalam suatu organisasi,
kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng terlihat pimpinan seyogyanya dapat memfasilitasi kondisi
adanya kepercayaan, kedekatan, dukungan, dan bersedia munculnya keterbukaan. Suasana keterbukaan
mendengarkan masalah, serta bersedia menerima terwujud bila pimpinan maupun karyawan dapat
kelebihan dan kekurangan. berinteraksi secara jujur. Maka penting terjadinya
Simpulan penelitian sebagai berikut: 1) berdasarkan komunikasi secara tatap muka untuk mengubah
aspek komunikasi atasan belum sepenuhnya dilaksanakan sikap, pendapat dan perilaku seseorang. Agar
karena masih terdapat beberapa atasan pada tingkatan komunikasi berjalan lancar, seorang pemimpin perlu
kepala seksi yang belum mengkomunikasikan informasi bersikap tanggap terhadap apa yang disampaikan
ke bawahan, misalnya hasil rapat; 2) berdasarkan aspek oleh karyawan karena syarat keterbukaan, seorang
komunikasi bawahan terlihat adanya hubungan pemimpin bersedia dalam menerima masukan dan
komunikasi antara bawahan dan atasan yang efektif kritikan yang disampaikan karyawannya.
sesuai kondisi lingkungan dan seimbang. Adanya Namun, lain halnya individu atau anggota
kesediaan atasan mendengarkan keluhan atau kesulitan organisasi yang mempunyai peran di Kantor
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten komunikator mengungkapkan secara spontan
Buleleng, dirasakan adanya ketidaksesuaian reaksinya (tidak dibuat-buat) kepada komunikan. 3)
keinginan dan tujuan. Adanya konflik yang terjadi, komunikator bertanggung jawab terhadap apa yang
Kepala Kapusipda selaku pimpinan yang diungkapkan. Dengan keterbukaan komunikasi dan
membawahi unit-unit di lingkungan Kantor proses menciptakan suatu organisasi yang kondusif,
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten sangat berpengaruh terhadap kinerja individu atau
Buleleng, seyogyanya melihat konflik yang terjadi anggota organisasi maupun efektivitas organisasi itu
dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. sendiri. Organisasi berjalan efektif apabila iklim
Kurangnya sikap terbuka dan kurang perhatian organisasi tersebut berlangsung dengan kondusif.
pimpinan terhadap bawahan, antara unit satu Suasana kondusif merupakan sebuah keadaan “aman
dengan unit yang lain tidak bisa menunjukkan terkendali” yang bisa dikatakan selaras, nyaman,
kebersamaan, alokasi anggaran dan pengelolaan sesuai kondisi yang tercipta dengan baik.
dana kegiatan masih belum sepenuhnya terbuka Komunikasi atasan dan bawahan maupun
sehingga menimbulkan prasangka-prasangka/ sesama rekan kerja berperan penting dalam
kecurigaan yang berujung pada suatu konflik di memberikan motivasi dan produktivitas kerja
lingkungan internal. seluruh individu atau anggota organisasi. Tujuan
Sebagai salah satu bagian dari satuan keterbukaan komunikasi untuk terjalinnya
perangkat kerja daerah (SKPD), Kapusipda keharmonisan komunikasi atasan dan komunikasi
Kabupaten Buleleng, yang berorientasi pada pusat bawahan, sehingga tercipta iklim komunikasi yang
layanan informasi dan sumber memori di daerah. kondusif. Persoalan-persolan terjadi di Kantor
dituntut untuk dapat meningkatkan kinerjanya sesuai Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten
visi dan misi yang ditetapkan selain memberikan Buleleng, seperti; kurangnya sikap terbuka antara
layanan kepada seluruh lapisan masyarakat. atasaan dan bawahan tentang keluhan dan gagasan
Komunikasi antara atasan dan bawahan atau pendapat, kurangnya penghargaan bagi
maupun antar karyawan yang efektif dapat karyawan yang masa kerjanya sudah cukup lama,
membantu menentukan iklim dan semangat kerja kurang adanya kesepahaman dan keselarasan antar
sehingga diharapkan mampu memberikan anggota atau kurang perhatian atasan yang berujung
pencerahan dan kemudahan dalam mengelola adanya karyawan/bawahan yang masuk dan pulang
sebuah organisasi, yakni keterbukaan komunikasi, kerja sesuai kehendaknya sendiri. Hal ini yang
pemahaman yang sama, saling berbagi dan lain melatarbelakangi ketertarikan peneliti untuk
sebagainya. Sedangkan komunikasi yang kurang menelaah lebih dalam tentang keterbukaan
efektif adanya kepentingan-kepentingan, komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi
komunikasi yang terpendam, prasangka atau curiga yang kondusif di Kantor Perpustakaan dan Arsip
yang menyebabkan pertentangan. Namun demikian Daerah Kabupaten Buleleng.
selain beberapa faktor yang telah dijelaskan Penelitian ini menggunakan pendekatan studi
mengenai komunikasi dalam organisasi ada hal lain kasus dengan judul “Keterbukaan Komunikasi
yang dapat memberikan warna bagi sebuah dalam Menciptakan Iklim Komunikasi yang
organisasi yakni budaya organisasi. Budaya Kondusif di Perpustakaan, Studi Kasus Mengenai
organisasi merupakan sekumpulan nilai dan Keterbukaan Komunikasi dalam Menciptakan Iklim
kebiasaan yang diyakini, diciptakan, dibakukan Komunikasi yang Kondusif di Kapusipda Kabupaten
secara formal maupun informal oleh anggota Buleleng, Singaraja-Bali”.
organisasi, yang berfungsi sebagai pedoman dalam
bertingkah laku dan pengelolaan organisasi untuk Tujuan Penelitian
mencapai apa yang diinginkan sebagai tujuan Penelitian ini bertujuan:
organisasi. 1) Mengetahui keterbukaan komunikasi dalam
Menurut pandangan Joseph A. DeVito menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di
(2011:259), bahwa salah satu karakteristik Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek
komunikasi efektif adalah keterbukaan, kualitas komunikasi atasan.
keterbukaan komunikasi setidaknya menunjukkan 2) Mengetahui keterbukaan komunikasi dalam
tiga aspek, yaitu: 1) saling terbuka dalam menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di
berkomunikasi sehingga terjadi pertukaran Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek
informasi, yakni komunikator bersedia komunikasi bawahan.
menyampaikan secara lengkap informasi yang 3) Mengetahui implikasi keterbukaan komunikasi
seharusnya disampaikan kepada komunikan. 2) dalam menciptakan iklim komunikasi yang
berkomunikasi untuk bereaksi secara jujur, yakni kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng.
1) Kasus yang diteliti memiliki keunikan dan menarik
Fokus Penelitian untuk dikaji, serta peneliti memiliki kesempatan
Adapun fokus penelitian dalam penelitian ini, untuk melakukan penelitian di Kapusipda
yakni dengan merumuskan ”Bagaimana Keterbukaan Kabupaten Buleleng, tentang keterbukaan
Komunikasi dalam Menciptakan Iklim Komunikasi komunikasi dan iklim komunikasi yang kondusif.
yang Kondusif di Kantor Perpustakaan dan Arsip 2) Mempelajari subyek penelitian sehingga
Daerah Kabupaten Buleleng”. informasi yang yang berkaitan dengan subyek
penelitian yang diteliti secara menyeluruh melalui
Pertanyaan Penelitian pengamatan, wawancara mendalam dan studi
Untuk lebih memperjelas fokus penelitian, pustaka.
akan diuraikan secara terperinci : 3) Mengungkapkan segala yang terjadi dalam
1) Bagaimana keterbukaan komunikasi dalam penelitian sehingga dapat dijadikan acuan
menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di maupun referensi metode pembelajaran baru.
Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek
komunikasi atasan? Sumber dan Jenis Data
2) Bagaimana keterbukaan komunikasi dalam Subyek informan terkait dengan keterbukaan
menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi
Kapusipda Kabupaten Buleleng dari aspek yang kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng
komunikasi bawahan? yaitu Kepala Kapusipda, Kasubbag Tata Usaha dan
3) Implikasi keterbukaan komunikasi dalam Staf serta pihak lain yang berhubungan dengan
menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di keterbukaan komunikasi di perpustakaan.
Kapusipda Kabupaten Buleleng? Sedangkan objek penelitiannya yaitu keterbukaan
komunikasi dan iklim komunikasi. Berdasarkan
METODOLOGI sumber data, yaitu data primer berupa kata-kata dan
perilaku individu atau anggota organisasi.
Paradigma Penelitian Sedangkan data sekunder berupa dokumen dan data
Penelitian menggunakan paradigma statistik.
konstruktivisme dengan metode kualitatif, yaitu Penentuan informan kunci yang peneliti
untuk menginterpretasikan dan menjelaskan suatu lakukan dalam penentuan sampel atau pemilihan
fenomena secara holistik dengan menggunakan kata- informan adalah dengan menggunakan metode
kata, tanpa harus bergantung pada sebuah angka. Purposive Sampling. Tujuannya untuk mendapatkan
informasi yang maksimal tentang keterbukaan
Jenis Penelitian komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi
Jenis penelitian yang digunakan dalam kondusif di Kapusipda Kabupaten Buleleng.
penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan Informan kunci dalam penelitian ini sebanyak 10
pendekatan studi kasus. (sepuluh) informan, yakni: Pakar/ahli Bidang Ilmu
Tujuannya adalah memberi pandangan yang Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung; Kepala
lengkap dan mendalam mengenai subjek yang Kapusipda Kabupaten Buleleng; Kasubag Tata Usaha;
diteliti. Kasi Pelayanan dan Referensi; Kasi Akuisisi dan
1) Jenis Kasus Pengolahan; Kasi Pengelola Arsip; Staf Tata Usaha;
Jenis kasus tunggal (single case study), Staf Pelayanan dan Referensi; Staf Akuisisi dan
yaitu suatu penelitian yang arah sasarannya Pengolahan; dan Staf Pengelola Arsip.
terpusat pada satu karakteristik saja.
2) Sifat Kasus 1) Proses Pendekatan (Gaining Access dan Making
Penelitian ini menggunakan sifat kasus Rapport)
mendalam (intrinsic case study). Sifat kasus Dalam penelitian ini, proses pendekatan yang
intrinsik dalam penelitian kualitatif, yaitu untuk disebut “gaining access and making rapport”,
lebih memahami sebuah kasus tertentu. sebagai berikut :
3) Jenis Studi Kasus (1) Gaining Access
Dalam penelitian ini menggunakan jenis studi Adapun tahapan peneliti dalam
kasus eksploratif yang merupakan sebuah kasus memperoleh akses tentang keterbukan
dipakai untuk memperoleh data/ informasi awal komunikasi dalam menciptakan iklim
bagi penelitian sosial yang akan dilakukan. komunikasi yang kondusif dari
Pertimbangan penelitian kualitatif dengan individu/anggota organisasi yang terlibat
pendekatan studi kasus yakni : dalam suatu peristiwa di Kapusipda Kabupaten
Buleleng, melalui pendekatan struktural dan 3) Penyajian Data (data display) yaitu
bersifat formal. mengorganisasi data dan menyusun pola
(2) Making Rapport hubungan sehingga data lebih mudah dipahami.
Sedangkan dalam memperoleh 4) Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (conclusion
kedekatan, peneliti melakukan langkah- drawing/verification) yaitu menarik kesimpulan
langkah kedekatan dengan tiap individu yang dari verifikasi atas pola keteraturan dan
menjadi key informan melalui pendekatan penyimpangan yang ada dalam fenomena yang
personal dan bersifat informal. timbul pada keterbukaan komunikasi dalam
2) Lokasi dan Waktu Penelitian menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di
Lokasi penelitian dilangsungkan di Kantor Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kabupaten Buleleng.
Buleleng, yang terletak di Jalan Werkudara No. 1
Singaraja-Bali. Peneliti melakukan proses pra Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
penelitian terlebih dahulu melalui observasi dan Pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian
wawancara tidak resmi. ini dilakukan dengan menggunakan teknik
Proses penelitian dilakukan dari bulan triangulasi. Teknik triangulasi yang digunakan
Pebruari 2013 sampai dengan Januari 2014. dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber.
Diperkirakan memakan waktu dua belas bulan. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara
Penelitian ini dilakukan mulai dari proses mengecek data yang telah diperoleh melalui
persiapan, penelitian di lapangan, dan beberapa sumber. Obyek yang diteliti dalam
penyusunan. penelitian ini adalah mengenai keterbukaan
komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi
Tahapan Penelitian yang kondusif.
Tahapan penelitian dengan mengacu pada
metode kualitatif, yaitu sebagai berikut : 1) Tahap HASIL DAN PEMBAHASAN
Orientasi, 2) Tahap Eksplorasi, 3) Tahap Hasil Penelitian
Mengecek Data. Hasil penelitian ini menjelaskan mengenai
gambaran umum Kantor Perpustakaan dan Arsip
Teknik Pengumpulan Data Daerah Kabupaten Buleleng mulai dari sejarah
Teknik pengumpulan data yang peneliti singkat, struktur organisasi, bahkan sarana dan
gunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut : prasarananya. Selain itu dibahas profil informan
1) Wawancara Mendalam (In depth interview) dalam penelitian ini sebagai informasi tambahan dan
2) Observasi latar belakang penunjukkan informan tersebut.
3) Studi Pustaka/Dokumentasi Selanjutnya dibahas mengenai konsep keterbukaan
komunikasi dalam menciptakan iklim komunikasi
Teknik Analisis Data yang kondusif di lembaga ini. Peneliti bahas satu
Teknik analisis yang digunakan dalam persatu aspek yang ada dalam keterbukaan
penelitian ini adalah analisis kualitatif mengikuti komunikasi dan iklim komunikasi diantaranya
konsep yang dikembangkan Miles and Huberman adalah aspek komunikasi, aspek komunikasi
(1992), yakni analisis data dengan komponen, yaitu organisasi dan aspek iklim komunikasi.
data reduction, data display, dan conclusion
drawing/verification (Sugiyono, 2012: 246). Proses Keterbukaan Komunikasi
Selanjutnya, langkah-langkah analisis data Untuk mengetahui proses keterbukaan
tersebut secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai komunikasi yang terjalin di Kantor Perpustakaan
berikut. dan Arsip Daerah Kabupaten Buleleng, peneliti
1) Pengumpulan Data (data collection) merupakan melakukan observasi dan wawancara terhadap
kegiatan untuk memperoleh informasi yang peristiwa komunikasi yang terjalin pada organisasi
berupa kalimat-kalimat yang dikumpulkan tersebut. Komunikasi dalam organisasi merupakan
melalui kegiatan observasi, wawancara, dan suatu kompetensi awal bagi para anggota suatu
dokumen. organisasi informasi dalam hal ini pada bidang
2) Reduksi Data (data reduction) merupakan proses perpustakaan dan arsip dalam melaksanakan tugas
merangkum, memilah hal-hal yang pokok, pokok dan fungsinya di tempat ia bekerja dalam
memfokuskan pada hal-hal penting, dan mencari mewujudkan tujuan perpustakaan dan arsip. Dalam
tema serta polanya sehingga dapat memberikan mengelola suatu organisasi dengan komunikasi yang
gambaran yang lebih jelas. baik akan memepermudah menjalankan tugas atau
program kerja suatu organiasi. Dengan kata lain dari atasan pada bawahan terlihat dari bagaimana
kemampuan berkomunikasi secara naluriah dimiliki menyampaikan pesan berhubungan dengan
setiap individu dan merupakan aset yang sangat penugasan kerja atau instruksi kerja, penjelasan
berharga bagi individu tersebut sebagai modal dalam tentang pelaksanaan tugas, dan informasi mengenai
melakukan aktivitas organisasi. peraturan-peraturan.
Proses komunikasi yang terjalin di Kantor Proses keterbukaan komunikasi dari atasan
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Buleleng kepada bawahan di Kapusipda Kabupaten Buleleng
berjalan cukup baik, komunikasi terbuka apa adanya yang dilakukan secara formal. Komunikasi atasan
dimana komunikasi yang dilakukan mengalir begitu yang terjadi berdasarkan struktural melalui kasubag
saja antara atasan dan bawahan ataupun sesama tata usaha, kasi dan koordinator jabatan fungsional
rekan kerja. Hanya saja tidak semua para anggota yang kemudian disampaikan kepada para
organisasi dapat memanfaatkan waktu dan peluang bawahannya. Biasanya penyampaian informasi
untuk saling berkomunikasi, berbagi dan lain seperti pemberian atau penyampaian instruksi kerja
sebagainya dikarenakan kesibukan rutinitas para melalui disposisi, dan disiplin kerja yang
karyawan. disampaikan dalam apel pagi setiap hari senin.
Kemudian keterbukaan komunikasi secara informal
Pembahasan komunikasi atasan kepada bawahan lebih bersifat
Analisis dan interpretasi data yang disajikan kekeluargaan.
adalah hasil observasi dan wawancara peneliti pada Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah
Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten (Kapusipda) Kabupaten Buleleng merupakan
Buleleng, yaitu dengan menggambarkan dan pejabat baru yang lebih kurang setahun memimpin
mengkaji tentang keterbukaan komunikasi yang dan mengelola Kapusipda Kabupaten Buleleng,
terjalin dalam menciptakan iklim komunikasi yang segala sesuatunya diganti termasuk peraturan-
kondusif di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah peraturan yang lama. Karena ada peraturan-
Kabupaten Buleleng. Diawali dengan konsep- peraturan yang berlaku dilingkungan Kapusipda
konsep komunikasi dalam organisasi, keterbukaan Kabupaten Buleleng tidak ada dibuat selain
komunikasi dan iklim komunikasi yang telah mengacu pada peraturan daerah (Perda) yang sudah
dijelaskan pada kajian literatur sebagai acuan dalam ditetapkan, maka para staf yang sudah bekerja sejak
mengumpulkan data lapangan yang nantinya akan di lama Kapusipda Kabupaten Buleleng mengandalkan
analisis dan diinterpretasikan yang dituangkan kemampuan komunikasinya untuk menafsirkan
dalam pembahasan ini. informasi dalam lingkungan barunya, yaitu dengan
cara bertanya pada rekan sekerja dan sebagainya.
Keterbukaan Komunikasi dalam Menciptakan Keterbukaan komunikasi dalam menciptakan
Iklim Komunikasi yang Kondusif di Kantor iklim komunikasi yang kondusif berdasarkan aspek
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten komunikasi dari atasan pada bawahan dapat
Buleleng dari Aspek Komunikasi Atasan disimpulkan bahwa belum sepenuhnya dilaksanakan
Komunikasi atasan merupakan informasi yang karena masih terdapat beberapa atasan yang tidak
berlangsung ketika orang-orang yang berada pada pernah mengkomunikasikan pada bawahan,
tataran manajemen atau atasan mengirimkan pesan misalnya hasil rapat tidak pernah informasinya
kepada bawahannya. Kebanyakan informasi dari sampai pada bawahan. Seharusnya bawahan juga
atasan ke bawahan digunakan untuk menyampaikan harus mengetahui instruksi-instruksi terbaru dari
pesan yang berhubungan dengan pemberian atau hasil rapat dan hasil keputusan bersama pada saat
penyampaian instruksi kerja, penjelasan tentang rapat tersebut. Seyogyanya para atasan di sini yakni
pelaksanaan tugas, penyampaian informasi kepala seksi harus menyediakan informasi atau
mengenai peraturan dan pemberian motivasi. Jenis dapat menjembatani antara bawahan dengan
informasi ini di rancang agar para bawahan pimpinan yang lebih tinggi lagi kedudukannya
memahami bagaimana pekerjaan yang berkaitan dalam organisasi tersebut.
dengan tugas dalam organisasi, serta mengapa
mereka melaksanakan tugas, untuk kemudian dapat Keterbukaan Komunikasi dalam Menciptakan
dihayati bagaimana pekerjaan mereka membantu Iklim Komunikasi yang Kondusif di Kantor
upaya organisasi mencapai sasaran. Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten
Keterbukaan komunikasi dalam menciptakan Buleleng dari Aspek Komunikasi Bawahan
iklim komunikasi yang kondusif di Kantor Komunikasi bawahan atau komunikasi dari
Perpustakaan dan Arsip Daerah (Kapusipda) bawahan kepada atasan merupakan komunikasi yang
Kabupaten Buleleng berdasarkan aspek komunikasi berada dalam jenjang hirarki yang lebih rendah
dalam organisasi. Komunikasi yang efektif keterbukaan komunikasi menurut Rakhmat
memerlukan keterbukaan yang sama, baik (2008:129), yaitu:
komunikasi atasan dirasakan sama dengan 1) percaya (trust),
keterbukaan pada komunikasi bawahan. Komunikasi 2) sikap suportif dan
dari bawahan kepada atasan digunakan untuk 3) sikap terbuka.
menyampaikan informasi tentang pekerjaan yang
telah dilaksanakan, tentang persoalan-persoalan SIMPULAN DAN SARAN
pekerjaan atau tugas yang tidak dapat diselesaikan, Simpulan
saran-saran perbaikan, keluhan tentang diri sendiri Penelitian mengenai keterbukaan komunikasi
maupun tentang pekerjaan. Beberapa fasilitas yang dalam menciptakan iklim komunikasi yang kondusif
dapat dipakai untuk melakukan komunikasi dari di lingkungan Kapusipda Kabupaten Buleleng
bawahan kepada atasan diantaranya melalui terlihat pada pola keterbukaan komunikasi dan
pertemuan kelompok, kotak saran. Komunikasi faktor yang mempengaruhi keterbukaan komunikasi
antara bawahan dan atasan sangat tergantung pada serta nilai-nilai pembentuk iklim komunikasi.
situasi atasan, sedangkan menerka situasi seseorang 1) Keterbukaan komunikasi dalam menciptakan iklim
sangat sulit, apakah atasan pada saat itu lagi baik- komunikasi yang kondusif berdasarkan aspek
baik saja atau apakah atasan saat itu lagi punya komunikasi atasan dapat disimpulkan bahwa belum
masalah, sehingga para bawahan merasa takut, sepenuhnya dilaksanakan karena masih terdapat
apalagi para bawahan yang biasa saja dan hubungan beberapa atasan (kepala seksi) yang tidak pernah
mereka tidak begitu dekat dan bahkan bukan kerabat mengkomunikasikan pada bawahan, misalnya hasil
atau sanak saudara. rapat tidak pernah informasinya sampai pada
Keterbukaan komunikasi dalam menciptakan bawahan. Seharusnya bawahan mengetahui
iklim komunikasi yang kondusif berdasarkan aspek instruksi-instruksi terbaru dari hasil rapat dan hasil
komunikasi bawahan atau komunikasi dari bawahan keputusan bersama pada saat rapat tersebut.
kepada atasan dapat disimpulkan bahwa komunikasi Seyogyanya para atasan di sini yakni kepala seksi
dari bawahan kepada atasan sudah berjalan efektif harus menyediakan informasi atau dapat
yang artinya hubungan komunikasi bawahan dan menjembatani antara bawahan dengan pimpinan
atasan yang sesuai dengan lingkungan yang ada dan yang lebih tinggi lagi kedudukannya dalam
seimbang. Adanya kesediaan atasan dalam organisasi tersebut.
mendengarkan keluhan atau kesulitan dalam 2) Keterbukaan komunikasi dalam menciptakan iklim
pekerjaan dan menerima saran atau gagasan yang komunikasi yang kondusif berdasarkan aspek
disampaikan bawahannya dengan cara membuka komunikasi bawahan dapat disimpulkan bahwa
pintu lebar-lebar bagi bawahan untuk berkomunikasi komunikasi dari bawahan kepada atasan sudah
mengenai pekerjaan kepada atasan. berjalan efektif yang artinya hubungan komunikasi
bawahan dan atasan yang sesuai lingkungan yang
Implikasi Keterbukaan Komunikasi Dalam ada dan seimbang. Adanya kesediaan atasan
Menciptakan Iklim Komunikasi yang Kondusif mendengarkan keluhan/ kesulitan dalam pekerjaan
di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah dan menerima saran/ gagasan yang disampaikan
Kabupaten Buleleng bawahannya dengan cara membuka pintu lebar-
Berdasarkan temuan dari hasil wawancara lebar bagi bawahan berkomunikasi mengenai
mengenai implikasi keterbukaan komunikasi dalam pekerjaan kepada atasan.
menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di 3) Implikasi keterbukaan komunikasi dalam
Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di
Buleleng yaitu : Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Kapusipda)
1) adanya kepercayaan, Kabupaten Buleleng terlihat dengan adanya
2) kedekatan, kepercayaan, kedekatan, dukungan, dan bersedia
3) dukungan, mendengarkan masalah, serta bersedia menerima
4) bersedia mendengarkan masalah, kelebihan dan kekurangan.
5) bersedia menerima kelebihan dan kekurangan.
Menurut Joseph A. Devito, dalam buku Saran
Komunikasi Antar Manusia mengatakan bahwa 1) Masalah keterbukaan pada tingkat koordinator
salah satu ciri atau karakteristik komunikasi dan bawahan mengenai kemudahan memperoleh
antarpribadi yang efektif adalah keterbukaan. informasi dari atasan, cepat diselesaikan hal itu
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi membuat bawahan kesulitan dalam mengetahui
arah tujuan organisasi.
2) Kedekatan yang terjalin sebisa mungkin tercapai Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif
pada tingkat bawah dan tidak hanya sebatas pada Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
tingkat koordinator. Sulistyo Basuki. 1996. Pengantar Kearsipan.
3) Dalam pengambilan keputusan dan kebijakan Jakarta: Universitas Terbuka.
organisasi keterlibatan bawahan harus dapat _______1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan.
dijaga dan dipertahankan, begitu pula dengan Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
pemberian kepercayaan antara atasan dengan Sutarno NS. 2006. Manajemen Perpustakaan: Suatu
bawahan dan rekan sekerja. Pendekatan Praktik. Jakarta: Sagung Seto.
4) Memberikan pemahaman yang baik mengenai Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus: Desain dan
visi dan misi yang dapat mengarahkan staf Metode. Jakarta: Rajawali Pers.
berkinerja tinggi dalam pekerjaan.

Rujukan Lain :
DAFTAR PUSTAKA Artikel Yanti Setianti. Budaya Organisasi dan Iklim
DeVito, A. Joseph. 2011. Komunikasi Komunikasi. diambil dari
Antarmanusia: Kuliah Dasar ed.5. Alih http://komunikasi.unsoed.ac.id/sites/default/fil
Bahasa Agus Maulana. Jakarta: Professional es/pdf. diakses pada tanggal 7 Oktober 2013.
Books. Ariyanto, Dede. 2009. Komunikasi Interpersonal.
Hardjana, Andre. 2007. Iklim Komunikasi diambil dari www.model-komunikasi.html.
Organisasi : Jurnal Ilmu Komunikasi. diakses pada tanggal 12 Oktober 2013.
Yogyakarta : Fisip Universitas Atma Jaya. Freddy. 2012. Teori-teori Organisasi Komunikasi.
Masmuh, Abdullah. 2010. Komunikasi Organisasi: Dibuka melalui situs
Dalam Perspektif Teori dan Praktek. Malang : http://kuliahfreddy.files.wordpress.com/.
UMM Press. Diakses pada tanggal 01 Juli 2013.
Morissan. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. http://perilakuorganisasi.com/karl-e-weick-teori-
Bogor : Ghalia Indonesia. enactment.html Diakses pada tanggal 20
Muhammad, Arni. 2011. Komunikasi Organisasi. September 2013.
Jakarta : Bumi Aksara. http://komunikasi.us/index.php/garbage-can-
Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik impression-management-enactment-a-
Kualitatif. Bandung:Tarsito. sensemaking Diakses pada tanggal 20
Pace, R. Wayne and Don F. Faules. 2010. September 2013.
Komunikasi Organisasi: Strategi
Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Parwito. 2008. Penelitian Komunikasi Kualitatif.
LKiS. Yogyakarta.
Rachmawati, Tine Silvana. 2009. Pengembangan
Organisasi dan Anggota Ikatan Pustakawan
Indonesia. Bandung: Unpad Press.
Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sugiarto, Agus dan Wahyono, Teguh. 2005.
Manajemen Kearsipan Modern. Yogjakarta
: Gava Media.