Anda di halaman 1dari 263

PENDAFTARAN PASIEN

No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT dr. Fitria Ananda


PUSKESMAS
PARIANGAN NIP.19700624 200012 2 001

1. 1. Tujuan Agar pelayanan di Loket Pendaftaran berjalan dengan tepat,


cepat, lancar dan prosedural.
2. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. 3. Definisi Pendaftaran pasien adalah Pelayanan rutin petugas untuk
menertibkan urutan pelayanan dan memudahkan mendapatkan
informasi rekam medis bagi seluruh fasilitas pelayanan yang
tersedia di Puskesmas.
4. 4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien dengan cara memanggil nomor
antrian
2. Petugas mendaftarkan pasien,
3. Untuk pasien baru Petugas membuatkan family folder baru
dengan cara membuatkan nomor indek baru, nama KK dan
alamat pada register nomor indek pada pasien baru,
4. Petugas membuatkan data identitas pasien yang bersangkutan
(nama pasien, umur, jenis kelamin, hubungan kekeluargaan,
pasien umum atau BPJS)
5. Petugas mencatat pada buku register rawat jalan dan
memasukkan kedalam program P-care bagi peserta BPJS
6. Untuk pasien lama Petugas mencarikan data rawat jalan
sesuai nomor index atau nama KK family folder dan untuk
pasien BPJS agar menunjukkan kartu BPJS
7. Petugas mencatat pada buku register rawat jalan dan
memasukkan kedalam program P-care bagi pasien BPJS
8. Petugas mencatat nomor Kartu BPJS dan identitas pasien
yang terdaftar sebagai anggota pada lembar khusus BPJS
9. Petugas meminta tanda tangan peserta BPJS yang dilayani,
10. Petugas menarik retribusi dari pasien umum sesuai dengan
Perda yang berlaku,
11. Petugas menyerahkan family folder ke poli pelayanan yang
diinginkan pasien,
12. Petugas di ruang pelayanan yang dituju menerima pasien dan
melaksanakan pelayanan sesuai dengan protap / standar
pelayanan yang berlaku.

5. 5. Diagram Alir
ALUR PENDAFTARAN PASIEN

PASIEN DATANG

LOKET PENDAFTARAN

Tidak punya family folder Punya family folder

REGISTER NOMOR DATA RAWAT


JALAN DI CARI SESUAI
INDEX NO.INDEX / NAMA KK
No. Index, Nama KK, Umur,
Jenis Kelamin, Alamat

MASUKKAN DATA KUNJUNGAN PASIEN PADA

KOMPUTER P-care (Bagi Pasien BPJS)


CATAT DI BUKU REGISTER

 BAYAR RETRIBUSI SESUAI PERDA


 TANDA TANGAN PESERTA BPJS

RUANG TUNGGU

RUANG PELAYANAN

6. 6. Referensi Azwar, Azrul. 1999. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: PT


Binarupa Aksara
7. 7. Dokumen 1. Instruksi Kerja Membuat Kartu Pendaftaran/Kartu Tanda
Terkait Pengenal Berobat pasien baru
2. Instruksi Kerja Penomoran Rekam Medik.
3. Instruksi Kerja Mencari Rekam Medik.
4. Instruksi Kerja Mengisi Register Pasien.
5. Instruksi Kerja Menata Rekam Medik.

8. 8. Distribusi Unit Pendaftaran dan Rekam medis


MENILAI KEPUASAN PELANGGAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT dr. Fitria Ananda


PUSKESMAS
PARIANGAN NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Membentuk komitmen yang lebih mendalam dan berkesinambungan


antara pemberi pelayanan dengan pelanggan sehingga terjalin hubungan
kerja dan kemitraaan yang harmonis
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan
dan kebutuhan pelanggan terpenuhi.
Pelanggan adalah : Seseorang yang memperoleh dampak pelayanan atau
proses pelayanan, baik itu pelanggan internal maupun eksternal.
Pelanggan internal adalah : orang yang memperoleh dampak pelayanan
dan merupakan anggota organisasi pemberi pelayanan
Pelanggan eksternal : pelanggan yang memperoleh dampak pelayanan
tetapi bukan anggota organisasi pemberi pelayanan
4. Prosedur 1. Tim akreditasi memasang kotak saran dan menginformasikan alamat
pengaduan, kontak person
2. Tim akreditasi membuat buku keluhan pelanggan yang disediakan di
masing-masing unit pelayanan,
3. Tim survai dan atau tim Akreditasi menampung keluhan pelanggan
dan saran,
4. Tim survai dan atau Akreditasi mengidentifikasi keluhan pelanggan
yang berasal dari kotak saran, surat, SMS/kontak person, telpon
maupun dari buku keluhan pelanggan,
5. Tim survai melaporkan hasil rekapan keluhan dan saran pelanggan
kepada MR setiap awal bulan dan atau menjelang rapat puskesmas,
6. MR dan atau Tim survai menyampaikan hasil rekapan keluhan
pelanggan kepada Kepala Puskesmas sebulan sekali,
7. Kepala Puskesmas bersama MR merencanakan pertemuan khusus
dalam membahas keluhan pelanggan, atau melalui rapat kerja
Puskesmas,
8. Seketaris akeiditasi mendokumentasikan hasil pertemuan rapat,
9. Sekretaris mendokumentasikan hasil tindak lanjutnya dengan
menggunakan format tindak lanjut perbaikan dan pencegahan yang
terdokumentasi,
10. Kepala Puskesmas bersama-sama dengan tim akreditasi dan
karyawan menindaklanjuti sesuai perencanaan hasil rapat,

5. Diagram
Alir
Memasang kotak saran Buku keluhan pelanggan
pada masin-masing unit
(berisi alamat pengaduan,
pelayanan,
kontak person

keluhan pelanggan ditampung dan di identifikasi

Hasil rekapan keluhan dan saran pelanggan dilaporkan tiap awal bulan

Hasil rekapan keluhan pelanggan disampaikan kepada Kepala


Puskesmas sebulan sekali

keluhan pelanggan dan saran dibahas melalui rapat kerja Puskesmas

Seketaris akriditasi mendokumentasikan hasil pertemuan rapat,


dan tindak lanjutnya dengan menggunakan format tindak lanjut
perbaikan dan pencegahan yang terdokumentasi,

Kepala Puskesmas bersama-sama dengan tim akriditasi dan


karyawan menindaklanjuti sesuai perencanaan hasil rapat,

6. Referensi  Irawan Handi, 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan, PT. Elex Media


Komputindo, Jakarta, 2002.
 Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat,
Kementrian Pendayaan Aparatur Negara RI, 2004.
7. Dokumen  Prosedur tindakan perbaikan
Terkait
 Daftar keluhan pelanggan
 Survey kepuasan pelanggan
8. Distribusi Koordinator admen

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakuk
an
IDENTIFIKASI PASIEN DI LOKET
PENDAFTARAN
No. Dokumen :7.1.1.73

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit : Januari 2016

Halaman : 1/3

UPT dr. Fitria Ananda


PUSKESMAS
PARIANGAN NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan a. Agar keselamatan pelanggan terjamin di tempat pendaftaran


1. Pelaksanaan pendaftaran dapat menjamin keselamatan / mencegah
terjadinya kesalahan.
2. Kebijakan 2. Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Identifikasi pasien adalah pengumpulan data dan pencatatan segala
keterangan tentang bukti-bukti pasien sehingga kita dapat
menetapkan dan mempersamakan keterangan tersebut dengan pasien,
dengan kata lain bahwa dengan identifikasi kita dapat mengetahui
identitas pasien dan dengan identitas tersebut kita dapat mengenal
pasien yang satu dengan membedakan dari pasien yang lain.
4. Prosedur 1. Jika pasien datang dengan keluhan, maka petugas mengenali
fisik seseorang secara umum,
2. Petugas menilai apakah pasien tersebut termasuk pasien rawat
jalan atau rawat inap,
3. Petugas meminta data pribadi pada pasien terutama untuk pasien
BPJS , Kartu BPJS
4. Petugas menanyakan keluhan pasien,
5. Petugas menentukan ruang pelayanan yang sesuai dengan
keluhan pasien,
6. Petugas menanyakan data pribadi pasien, seperti Nama, Alamat,
Agama, Tempat/Tanggal lahir, Tanda tangan, Nama orang
tua/Suami/Istri , nomor kartu BPJS bagi pasien BPJS
7. Petugas mengisi pada buku rekam medis,
8. Petugas menyerahkan data-data yang sudah di dokumentasi pada
rekam medis ke ruangan yang sesuai dengan keluhan pasien.

5. Diagram
PASIEN DATANG
Alir

RAWAT JALAN

IDENTITAS PRIBADI PASIEN

TANYAKAN KELUHAN PASIEN

CATAT DI LEMBAR REKAM MEDIS

SERAHKAN LEMBAR REKAM MEDIS PADA


RUANGAN YANG SESUAI DENGAN KONDISI
PASIEN

6. Referensi
7. Dokumen
terkait
8. Distribusi

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENYAMPAIAN INFORMASI
No. Dokumen :7.1.2.74

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT dr. Fitria Ananda


PUSKESMAS
PARIANGAN NIP.19700624 200012 2 001

9. 1. Tujuan Agar penyampaian informasi, ketersediaan informasi lain dapat


di akses oleh pelanggan.
10. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional
Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
11. 3. Definisi Penyampaian informasi adalah suatu proses pemberian
informasi tentang sarana pelayanan di puskesmas.
12. 4. Prosedur 1. Petugas memberi salam pada pasien dengan ramah,
2. Petugas menanyakan tentang kebutuhan pasien,
3. Petugas menjawab dengan memberikan informasi kepada
pasien, tentang tarif,
4. Petugas menjelaskan tentang jenis pelayanan rawat jalan,
5. Petugas menjelaskan tentang jadwal pelayanan,
6. Petugas menjelaskan tentang proses rujukan,
7. Petugas menanyakan kembali pada pasien, apakah pasien
sudah paham dengan penjelasan petugas,
8. Petugas menawarkan tenaga medis yang akan memberikan
pelayanan sesuai permintaan pasien,
9. Petugas melanjutkan pelayanan pada pasien tersebut sesuai
dengan kebutuhannya,
13. 5. Diagram Alir
Pasien datang di loket pendaftaran
Petugas menjawab kebutuhan pasien

(tarif,jenis pelayanan rawat jalan, jadwal


pelayanan, proses rujukan)

FEED BACK

14. 6. Referensi Azwar, Azrul. 1999. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta:


PT Binarupa Aksara
15. 7. Dokumen  Jadwal pelayanan loket puskesmas watumalang
Terkait  Informasi pelayanan puskesmas
 Struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan kesehatan
16. 8. Distribusi 1. Unit Pendaftaran dan Rekam medis

9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
PENYAMPAIAN HAK DAN KEWAJIBAN
PASIEN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

17. 1. Tujuan Agar pasien mendapatkan hak’nya dan melaksanakan


kewajibannya sesuai dengan ketentuan

18. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja


Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan

19. 3. Definisi Hak adalah sesuatu yang diperoleh setelah melaksanakan


kewajiban.

Kewaiban adalah sesuatu yang harus dilakukan sebelum menerima


yang seharusnya diperoleh

20. 4. Prosedur 1. Petugas mengorientasikan ruang perawatan pasien,


2. Petugas menjelaskan kewajiban pasien, seperti pasien wajib
mentaati segala peraturan yang berlaku di Puskesmas
Pariangan,
3. Petugas menjelaskan bahwa pasien wajib mematuhi anjuran
dokter / paramedis,
4. Petugas menjelaskan bahwa pasien wajib membayar semua
biaya pelayanan dari tindakan yang diterima kecuali pasien
BPJS
5. Petugas menjelaskan bahwa pasien wajib memenuhi hal-hal
yang telah disepakati dalam inform consent ( surat perjanjian )
yang telah ditanda tangani,
6. Petugas menjelaskan bahwa pasien wajib membawa foto kopi
kartu BPJS bagi BPJS ,
7. Petugas wajib menyampaikan hak pasien, seperti pasien berhak
mendapatkan informasi mengenai peraturan yang berlaku,
8. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak mendapatkan
pelayanan yang baik & bermutu,
9. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak menyetujui /
menolak tindakan yang akan dilakukan setelah mendapatkan
penjelasan yang lengkap dari dokter tentang jenis dan resiko
tindakan.
10. Petugas menjelaskan bahwa pasien yang menyetujui tindakan
yang akan dilakukan,maka pasien menandatangani lembar
persetujuan tindakan,
11. Petugas menjelaskan bahwa pasien yang menolak tindakan
yang akan dilakukan ,maka pasien menandatangani lembar
penolakan tindakan,
12. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak mengajukan usul ,
saran , perbaikan atas pelayanan terhadap dirinya,
13. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak mendapatkan
penjelasan dari dokter Puskesmas yang lain jika kurang puas
terhadap penjelasan dokter pertama yang menangani,
14. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak menolak jika diberi
resep luar oleh dokter / petugas,
15. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak memilih tenaga
medis yang akan memberikan pelayanan terhadap dirinya,
16. Petugas menjelaskan bahwa pasien berhak mendapatkan
pelayanan medis sesuai dengan klasifikasi penyakitnya,
17. Petugas membuat bukti-bukti pelaksanaan penyampaian
informasi Setelah petugas menyampaikan kewajiban dan hak
pasien kepada pasien.
21. 5. Diagram Alir

Pasien memenuhi prosedur


yang ditetapkan Puskesmas

Pasien mendapatkan haknya

22. 6. Referensi Kebijakan Kepala Puskesmas

7. Dokumen
Terkait
8. 8. Distribusi
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


KOORDINASI DAN KOMUNIKASI
ANTARA PENDAFTARAN DENGAN
UNIT-UNIT PENUNJANG TERKAIT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. 1. Tujuan Agar pasien/keluarga pasien memperoleh pelayanan sesuai


dengan mekanisme koordinasi petugas di ruang pendaftaran
dengan unit lain/unit terkait.
Mengkomunikasikan prosedur pendaftaran ke unit lain sehingga
saling memahami prosedur pendaftaran
2. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. 3. Definisi Koordinasi dan komunikasi antara pendaftaran dengan unit-unit
penunjang terkait adalah proses kerjasama dan penyampaian
pesan dari petugas pendaftaran dengan unit – unit pelayanan yang
ada di Puskesmas sesuai dengan kebutuhan pasien.
9. 4. Prosedur 1. Pasien datang ke loket pendaftaran, petugas mempersilahkan
pasien untuk mengambil nomor urut pendaftaran,
2. Petugas mempersilahkan pasien untuk menunggu panggilan
berdasarkan nomor urut,
3. Petugas memanggil pasien untuk mendaftar di loket
berdasarkan nomor urut,
4. Petugas pendaftaran melakukan pendaftaran pasien,
5. Petugas pendaftaran memberikan family folder ke unit – unit
pelayanan,
6. Petugas pada unit pelayanan memanggil dan melaksanakan
pemeriksaan, pemeriksaan penunjang, rujukan bila perlu,
surat keterangan dokter,
7. Petugas pada unit pelayanan memberikan resep,
8. Petugas pada unit pelayanan meminta pasien membawa resep
ke ruang obat,
9. Petugas pada ruang obat menerima resep dari petugas
pemeriksa pasien,
10. Petugas pada ruang obat, menyiapkan obat-obatan sesuai
dengan yang tertulis pada resep,
11. Petugas pada ruang obat memberikan, menjelaskan dosis dan
cara minum obat pada pasien,
12. Petugas mengucapkan salam dan doa kepada pasien,
10. 5. Diagram Alir Pasien datang mengambil
nomor urut pendaftaran

Pasien menunggu panggilan


berdasarkan nomor urut

Pasien mendaftar di loket


berdasarkan nomor urut

Petugas pendaftaran
melakukan pendaftaran

Petugas pendaftaran
memberikan family folder ke
unit - unit pelayanan

Unit pelayanan memanggil


dan melaksanakan
pemeriksaan, pemeriksaan
penunjang, rujukan bila perlu,
surat keterangan dokter dan
memberikan resep

Pasien membawa resep ke


ruang obat

Pasien mendapatkan obat

Pasien pulang

6. Referensi
7. Dokumen
8. Distribusi Petugas pendaftaran dan petugas terkait
Tgl. Mulai
No Yang Dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
ALUR PELAYANAN PASIEN
No. Dokumen :7.1.4.77

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit : Januari 2016

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

11. 1. Tujuan Agar sejak awal pasien/keluarga memperoleh informasi dan


paham terhadap tahapan dan prosedur pelayanan klinis.
12. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
13. 3. Definisi Alur pelayanan pasien adalah proses urutan pelayanan pasien di
UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan sesuai kebutuhan
pasien berdasarkan dengan ketentuan yang berlaku
14. 4. Prosedur 1. Petugas pendaftaran meminta pasien yang datang untuk
mengambil nomor antrian dan meminta pasien untuk
menunggu di ruang tunggu,
2. Petugas pendaftaran memanggil pasien sesuai nomor urut dan
mendaftarkan pasien,
3. Petugas menyerahkan family folder pada unit pelayanan yang
dituju,
4. Petugas pada unit pelayanan memeriksa pasien,
5. Petugas pada unit pelayanan merujuk pasien ke unit terkait
sesuai dengan kebutuhan pasien jika memerlukan
pemeriksaan penunjang,
6. Petugas tersebut menegakkan diagnosa dan membuat resep
untuk pasien rawat jalan, dan memberikan inform consent
untuk pasien rawat inap, setelah petugas dalam unit pelayanan
tersebut menerima hasil pemeriksaan penunjang,
7. Petugas meminta pasien menyerahkan resep pada bagian obat
/ apotik,
8. Petugas pada bagian obat menerima resep dan menyiapkan
obat,
9. Petugas memberikan obat pada pasien dan menjelaskan
prosedur mengkonsumsinya jika pasien merupakan pasien
rawat jalan,
10. Petugas berkoordinasi dengan petugas rawat inap untuk
mempersiapkan perawatan selanjutnya. Jika pasien
merupakan pasien rawat inap,
15. 5. Diagram Alir
ALUR PELAYANAN PASIEN

PASIEN DATANG

LOKET PENDAFTARAN

UNIT PELAYANAN PEMERIKSAAN


PENUNJANG

 Laboratorium
RUANG OBAT / APOTIK  Ruang tindakan

PASIEN

PULANG

16. 6. Referensi
17. 7. Dokumen
18. 8. Distribusi Pasien dan petugas pendaftaran
9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM
(KORBAN HIDUP)
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk memberikan keterangan sesuai permintaan


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas menganamnesa berdasarkan permintaan tertulis visum dari
pihak kepolisian
3. Petugas melapor kepada dokter adanya permintaan visum
4. Bila dokter tidak bisa datang, petugas 24 jam terbatas melakukan
pemeriksaan sesuai dengan instruksi
5. Petugas mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri
6. Petugas memberikan penjelasan kepada pasien mengenai tindakan yang
akan dilakukan
7. Petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan meliputi: identitas,
tinggi badan, berat badan, vital sign
8. Petugas melakukan identifikasi ciri-ciri fisik
9. Petugas mencatat hasil pemeriksaan dengan benar dan lengkap. Jika
ditemukan luka, gambar letak luka beserta ukuran
10. Petugas mendokumentasikan hasil pemeriksaan
11. Petugas meminta korban untuk kembali pada hari berikutnya pada jam
kerja di unit pengobatan umum rawat jalan untuk dilakukan
pemeriksaan ulang oleh dokter

5. Diagram Alir
Petugas mencuci tanagn
Menjaga privasi dan menggunakan alat
pelanggan pelindung diri

Petugas melakukan anamnesa Petugas memberikan


dan pemeriksaan meliputi: penjelasan kepada pasien
identitas, tinggi badan, berat mengenai tindakan yang
badan, vital sign akan dilakukan

Petugas mencatat
Petugas melakukan identifikasi hasil pemeriksaan
ciri-ciri fisik dengan benar dan
lengkap. Jika
ditemukan luka,
Petugas gambar letak luka
mendokumentasikan hasil beserta ukuran
pemeriksaan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
7. Dokumen terkait Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


PENGANGKATAN JAHITAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam mencegah terjadinya infeksi dari benang,
mencegah tertinggalnya benang, evaluasi hasil jahitan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Suatu tindakan pengangkatan atau membuka jahitan pada luka yang dijahit

4. Prosedur 1. Petugas melakukan prosedur pengkajian Unit Gawat Darurat


2. Petugas mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat dengan jelas
3. Petugas membasahi plester dengan alcohol/ was bensin dan luka dengan
pinset
4. Petugas membuka balutan dan membersihkan sekitar luka
5. Petugas menekan kedua tepi luka (sepanjang luka)
6. Petugas membersihkan luka dengan NaCl dan mendesinfeksi luka
7. Petugas menarik simpul jahitan sedikit ke atas secara hati-hati
8. Petugas menggunting benang dan tarik hati-hati, buang ke kassa
9. Petugas menutup plester pada seluruh tepi kass (4 sisi)

5. Diagram Air
Petugas melakukan prosedur pengkajian Unit
Gawat Darurat

Petugas mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat


dengan jelas
Petugas membasahi plester dengan alcohol/ was bensin dan luka
dengan pinset

Petugas membuka balutan dan membersihkan sekitar luka

Petugas menekan kedua tepi luka (sepanjang luka)

Petugas membersihkan luka dengan NaCl dan mendesinfeksi luka

Petugas menarik simpul jahitan sedikit ke atas secara hati-hati

Petugas menggunting benang dan tarik hati-hati, buang ke kassa

Petugas membersihkan bekas luka jahitan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991, Prosedur perawatan Dasar


foundamental of Nursing, keperawatan medical bedah bruner and suddart,
egc.
7. Dokumen Rekam Medik , catatan medic, buku register
terkait
8. Distribusi Unit Gawat Darurat

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
SPO PENGKAJIAN AWAL KLINIS
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menjamin kesinambungan pelayanan terhadap pasien dan


mampu mengetahui riwayat penyakit pasien dengan mudah
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Kajian awal yang memuat informasi yang harus diperoleh selama
proses pengkajian adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi
mengenai masalah kesehatan yang dialami pasien.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor antrian
2. Petugas mempersilahkan pasien untuk duduk
3. Petugas menanyakan ulang identitas pasien disesuaikan
dengan rekam medis pasien
4. Petugas menanyakan keluhan yg dirasakan pasien saat ini
5. Petugas menanyakan berapa lama keluhan dirasakan
6. Petugas menanyakan mengenai riwayat penyakit sebelumnya
7. Petugas menanyakan riwayat makanan dan aktifitas yang
sebelum nya dilakukan
8. Petugas menanyakan adakah riwayat keluarga yang
mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan pasien dalam
satu rumah
9. Petugas melakukan vital sign pada pasien
10. Petugas menanyakan mengenai riwayat alergi obat
11. Petugas mencatat hasil anamnesa dan pemeriksaan vital sign
ke rekam medis
12. Petugas menyerahkan rekam medis ke dokter pemeriksa
13. Dokter pemeriksa menanyakan identitas pasien sesuaikan
dengn rekam medis
14. Dokter menanyakan ulang dari anamnesa yg tertulis d rekam
medis
15. Dokter pemeriksa melakukan pemeriksaan fisik
16. Dokter mencatat hasil pemeriksaan fisik di rekam medis
5. Diagram Alir
Pasien datang

Petugas menanyakan : RPD , RPS , RPK ,


Riwayat alergi obat dan mencatat pada
rekam medis

Petugas memeriksa Vital


Sign

Dokter pemeriksa melakukan


anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
dan mencatat hasilnya pada
rekam medis

6. Referensi
7. Dokumen  Rekam medis
Terkait

8. Distribusi Poli Umum . Poli Gigi , Poli Anak , Poli Ibu , UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
MENGHITUNG TETESAN INFUS
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam menghitung tetesan infus


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Menghitung tetesan infus dalam satu menit sesuai dengan anjuran
dokter
4. Prosedur 1. Petugas menjelaskan tujuan menghitung tetesan infus
2. Petugas mengatur posisi jarum infus memastikan tetesan infus
lancar
3. Petugas menghitung banyaknya jumlah tetesan dalam 1 menit
dengan menggunakan rumus Volume total infus x faktor tetesan /
total waktu infus dalam 1 menit
4. Petugas mengatur tetesan infus sesuai dengan jumlah tetesan per
menit
5. Diagram Air
Petugas menjelaskan tujuan menghitung
tetesan infus kritis

Petugas mengatur posisi jarum infus memastikan tetesan infus lancar


Petugas menghitung banyaknya jumlah tetesan dalam 1 menit dengan
menggunakan rumus Volume total infus x faktor tetesan / total waktu
infus dalam 1 menit

Petugas mengatur tetesan infus sesuai


dengan jumlah tetesan per menit

6. Referensi Buku praktik klinik keperawatan


7. Dokumen Rekam Medik UGD
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN SYOK ANAFILAKTIK
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman bagi petugas Unit Gawat Darurat dalam


penanganan SYOK ANAFILAKTIK
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Adalah suatu kondisi timbulnya reaksi alergi yang berlebihan yang
timbul segera setelah terpajan oleh alergen.
4. Prosedur 1. Petugas menerima pelanggan dengan sigap
2. Petugas melakukan anamnesis :
 Menanyakan keluhan utama, riwayat penyakit,riwayat alergi.
Menggali riwayat terpajan alergen.
 Alergen jenis protein : serum (imunisasi), hormone (KB),
enzim, serangga, makanan.
 Alergen jenis hapten : antibiotic, obat anestesi, obat analgetik,
vitamin atau kombinasi vitamin
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik, ditemukan :
 KU gelisah ada penurunan kesadaran,
 Pelanggan tampak kebiruan / sianosis,
 Akral dingin, keringat berlebihan,
4. Vital sign abnormal (TD tak terukur, nadi meningkat, respirasi
meningkat)
5. Petugas melakukan penanganan syok.
 Membaringkan pelanggan, posisi kaki lebih tinggi dari kepala.
 Membebaskan jalan napas, melakukan pemasangan O2 3-
4|pm.
 Memberikan injeksi adrenalin 0,3-0,5 cc im/sc atau 0,1-0,2 cc
iv.
6. Tindakan dapat diulang jika observasi 5-10 menit nadi belum
mencapai 90x/menit atau TD sistolik belum mencapai 90mmHg
7. Petugas melakukan tindakan berikutnya bila tidak ada perbaikan
 Pemberian IVFD NaCl tetesan cepat
 Pemberian injeksi Aminophilin 5mg/kgBB perlahan selama 5-
10 menit, dilanjutkan dengan dosis maintenance 0,5-
0,9mg/kgBB/jam dalam larutan NaCl 0,9%
 Pemberian Diphenhidramine 10-20mg im/iv
8. Pemberian 1 ampul Dexamethasone iv
9. Petugas malakukan evaluasi tindakan dan melakukan observasi
tanda-tanda vital pelanggan
10. Petugas mencatat kunjungan pelanggan pada buku register UGD,
lembar catatan medik pelanggan
11. Petugas merujuk pelanggan ke Rumah Sakit bila tidak ada
perbaikan selama 1-2 jam
5. Diagram Air
Petugas menerima pelanggan dengan sigap

1. Petugas melakukan anamnesis :


 Menanyakan keluhan utama, riwayat penyakit,riwayat
alergi. Menggali riwayat terpajan alergen.
 Alergen jenis protein : serum (imunisasi), hormone (KB),
enzim, serangga, makanan.
 Alergen jenis hapten : antibiotic, obat anestesi, obat
analgetik, vitamin atau kombinasi vitamin

Petugas melakukan pemeriksaan fisik, ditemukan :

 KU gelisah ada penurunan kesadaran,


 Pelanggan tampak kebiruan / sianosis,
 Akral dingin, keringat berlebihan,
 Vital sign abnormal (TD tak terukur, nadi meningkat,
respirasi meningkat)

Petugas melakukan penanganan syok.

 Membaringkan pelanggan, posisi kaki lebih tinggi dari kepala.


 Membebaskan jalan napas, melakukan pemasangan O2 3-
4|pm.
 Memberikan injeksi adrenalin 0,3-0,5 cc im/sc atau 0,1-0,2 cc
iv.
 Tindakan dapat diulang jika observasi 5-10 menit nadi belum
mencapai 90x/menit atau TD sistolik belum mencapai 90mmHg

Petugas melakukan tindakan berikutnya bila tidak ada perbaikan

 Pemberian IVFD NaCl tetesan cepat


 Pemberian injeksi Aminophilin 5mg/kgBB perlahan selama 5-10
menit, dilanjutkan dengan dosis maintenance 0,5-
0,9mg/kgBB/jam dalam larutan NaCl 0,9%
 Pemberian Diphenhidramine 10-20mg im/iv
 Pemberian 1 ampul Dexamethasone iv
Petugas malakukan evaluasi tindakan dan melakukan observasi tanda-
tanda vital pelanggan

Petugas mencatat kunjungan pelanggan pada buku register UGD,


lembar catatan medic pelanggan

Petugas merujuk pelanggan ke Rumah Sakit


bila tidak ada perbaikan selama 1-2 jam

6. Referensi  PPGD EMS 119.7


 Penatalaksanaan syok emergensi Medikal Service and Training
119. Jakarta
 Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Catatan medik, rekam medik, buku register, buku rujukan
terkait
8. Distribusi Unit Gawat Darurat, Rawat Jalan

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PEMASANGAN OKSIGEN
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada pelanggan


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pemasangan Oksigen adalah Memberikan oksigen pada pelanggan
4. Prosedur 1. Menjaga privasi pelanggan
2. Memastikan tabung masih berisi oksigen
3. Mengisi botol pelembab dengan aqua sesuai batas
4. Menyambungkan selang kanul nasal/binasal (sesuai kebutuhan
pasien) 02 dengan humidifier
5. Mengatur posisi semifowler
6. Membuka Flow meter dengan ukuran yang sesuai dengan
kebutuhan dan memastikan ada aliran udara
7. Memasang kanula pada hidung pelanggan dengan hati-hati
8. Memperhatikan reaksi dan menanyakan respon pelanggan
9. Merapikan pelanggan

5. Diagram Air Menjaga privasi


pelanggan Memastikan tabung
masih berisi oksigen
Menyambungkan selang binasal Mengisi botol pelembab
02 dengan humididier dengan aqua sesuai batas

Membuka Flow meter


Mengatur posisi semifoler dengan ukuran yang sesuai
dengan kebutuhan dan
memastikan ada aliran udara

Memasang kanula pada hidung


pelanggan dengan hati-hati

Memperhatikan reaksi dan


menanyakan respon pelanggan

Merapikan pelanggan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. REKAMAN HISTORI PERUBAHAN


Tgl.mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
diberlakukan
PELAYANAN UGD
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan kerja bagi petugas UGD


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pelayanan Gawat Darurat adalah layanan kesehatan yang harus
diberikan secepatnya untuk mencegah / menanggulangi resiko
kematian atau cacat
4. Prosedur 1. Petugas menyapa pelanggan yang datang ke Unit Gawat Darurat
2. Petugas mempersiapkan pelanggan duduk
3. Petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan vital sign
4. Petugas mempersilakan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut ,
kalau dokter tidak ada konsultasi dilakukan via telpon
5. Pemeriksa melakukan rujukan externa dan rujukan interna jika
diperlukan
6. Pemeriksa menentukan diagnose dan tindak lanjut (dirujuk/ pulang)
7. Petugas melakukan tindakan sesuai advis dokter
8. Petugas menyerahkan resep dan mempersilakan pelanggan menuju
kasir, petugas menyerahkan resep ke ruang obat
9. Petugas kasir menyerahkan resep kepada pelanggan untuk
diserahkan ke ruang obat
10. Petugas mencatat kunjungan pelanggan UGD dibuku register dan
memberi paraf .
5. Diagram Air
Petugas menyapa pelanggan yang dating ke Unit
Gawat Darurat

Petugas mempersiapkan pelanggan duduk

Petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan vital sign

Petugas mempersilakan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut/


via telpon

Pemeriksa melakukan rujukan externa dan rujukan interna jika


diperlukan

Pemeriksa menentukan diagnose dan tindak lanjut (dirujuk/ pulang)

Petugas melakukan tindakan sesuai advis dokter

Petugas menyerahkan resep dan mempersilakan pelanggan menuju


kasir, petugas menyerahkan resep ke ruang obat

Petugas kasir menyerahkan resep kepada pelanggan untuk


diserahkan ke ruang obat

Petugas mencatat kunjungan pelanggan


UGD dibuku register dan memberi paraf
6. Referensi Kesepakatan bersama
7. Dokumen Rekam medis, resep, buku register, blangko rujukan
terkait
8. Distribusi 1. Ruang UGD
2. Ruang Pendaftaran

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN KEJANG DEMAM
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk Memberikan tata laksana yang tepat pada pasien kejang
demam
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penanganan kejang yang berhubungan dengan demam tanpa adanya
infeksi sistem saraf pusat / gangguan elektrolit akut
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas melindungi lidah dengan spatel yang dibalut kasa atau
menggunakan guedel/ mayo
4. Petugas mengatur posisi tidur pasien
5. Petugas mengkaji keadaan pernafasan pasien
6. Petugas melonggarkan pakaian pasien
7. Petugas memberikan obat – obat anti kejang sesuai dengan
instruksi (diazepam rektal 0,5 mg/kgBB atau < 10 kg: 5mg, > 10
kg: 10 kg).
8. Jika dalam waktu 5 menit masih kejang segera rujuk ke rumah
sakit
9. Petugas memberikan Oksigen adekuat 1l/mnt
10. Petugas memberikan cairan intravena (D5, 1/4S; D5, 1/2S atau
RL)
11. Petugas memberikan kompres air hangat untuk menurunkan
demam
12. Petugas mengkolaborasikan pemberian obat antipiretik
paracetamol 10 mg/kg/bb/x tiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10
mg/kgbb/hr tiap 4-6 jam
13. Petugas harus segera merujuk ke rumah sakit jika terdapat
indikasi :
- Hiperpireksia
- Usia < 6 bulan
- Kejang demam pertama
- Dijumpai kelainan neurologist
14. Petugas memperhatikan reaksi dan menanyakan respon pasien
15. Petugas merapikan pasien

5. Diagram Alir
Petugas mencuci tanagn
Petugas menjaga privasi
dan menggunakan alat
pelanggan
pelindung diri

Petugas mengatur posisi tidur Petugas melindungi lidah


pasien dengan spatel yang dibalut
kasa atau menggunakan
guedel/ mayo

Petugas mengkaji keadaan


Petugas memberikan obat – obat
pernafasan pasien
anti kejang sesuai dengan instruksi
(diazepam rektal 0,5 mg/kgBB atau
< 10 kg: 5mg, > 10 kg: 10 kg)

Petugas memberikan Oksigen adekuat


1l/mnt
Jika dalam waktu 5 menit masih
kejang

Petugas memberikan cairan


intravena (D5, 1/4S; D5, 1/2S atau
Rujuk ke Rumah Sakit
RL)
Memperhatikan reaksi dan
menanyakan respon pelanggan

Merapikan pelanggan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
INSISI DAN DRAINASE ABSES
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar cairan pus di dalam abses bisa dikeluarkan.


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Dalam arti umum insisi berarti melakukan irisan pada kulit.
Sedangkan dalam khusus, insisi abses berarti mengiris abses untuk
mengeluarkan pus yang ada didalamnya
Syarat :
- Irisan harus langsung, tidak terputus-putus langsung sampai ke
jaringan subkutis
- Insisi harus sesuai garis Langer
- Irisan yang dekat garis persendian harus sejajar dengan aksis / sumbu
sendi
- Insisi sedapat mungkin disembunyikan, misal pada abses mammae
- Sterilitas harus dijaga
- Arah insisi tidak boleh tegak lurus dengan alat penting yang ada
didaerah itu, missal arteri, vena, syaraf

4. Prosedur 1. Petugas menganamnesa pasien


2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
3. Petugas memberikan informed consent tentang kondisi pasien dan
tindakan yang akan dilakukan
4. Petugas meminta kepada pasien untuk menandatangani form
informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan
5. Petugas mencuci tangan 7 langkah
6. Petugas menggunakan APD
7. Petugas mempersiapkan alat steril yang akan digunakan untuk
insisi dan drainase abses
8. Petugas memberikan anestesi blok pada sekitar abses
9. Petugas melakukan incisi di tempat fluktuasi yang maksimal
sampai fascia
10. Petugas membuka abses dengan memasukkan klem atau sumbu
(secara tumpul) supaya pus bisa keluar
11. Petugas mengeluarkan infiltrat dengan memakai sonde atau
dipencet pada abses yang lunak
12. Petugas mengeluarkan infiltrat atau pus sampai bersih
13. Petugas memasukkan tampon lebar kurang lebih 1 cm yang telah
mengandung betadine ke dalam rongga abses.tampon tidak boleh
terlalu padat,dan disisakan sepanjang 5 cm untuk mempermudah
pengangkatan
14. Petugas memberikan edukasi kepada pasien untuk kontrol
mengganti tampon tiap hari sampai sekret berwarna jernih
15. Petugas memberikan salep untuk merangsang jaringan setelah
tampon dikeluarkan
16. Petugas menutup luka bekas incisi dengan kasa steril yang telah
dibubuhi betadine
17. Petugas memberikan edukasi untuk perawatan luka agar tidak
terjadi infeksi
18. Petugas membereskan peralatan
19. Petugas mencuci tangan 7 langkah
20. Petugas memberikan resep obat antbiotika dan analgesik
21. Petugas mendokumentasikan kegiatan.
5. Diagram Alir Petugas
Petugas memberikan
Petugas melakukan
meanamnesa inform
pemeriksaan fisik
pasien consent

Petugas memint kepada


Petugas Petugas pasien untuk
menggunakan mencuci tangan menandatangani form
APD 7 langkah informed consent

Petugas memberikan
anestesi blok pada
Petugas
sekitar abses
mempersiapkan
alat steril

Petugas melakukan incisi di tempat fluktuasi


yang maksimal sampai fascia
Petugas membuka abses dengan memasukkan klem atau
sumbu (secara tumpul) supaya pus bisa keluar

Petugas mengeluarkan infiltrat dengan memakai


sonde atau dipencet pada abses yang lunak

Petugas mengeluarkan infiltrat atau pus


sampai bersih

Petugas memasukkan tampon lebar kurang lebih 1 cm yang telah mengandung


betadine ke dalam rongga abses.tampon tidak boleh terlalu padat,dan disisakan
sepanjang 5 cm untuk mempermudah pengangkatan

Petugas memberikan edukasi kepada pasien


untuk kontrol mengganti tampon tiap hari
sampai sekret berwarna jernih

Petugas memberikan salep untuk merangsang


jaringan setelah tampon dikeluarkan

Petugas menutup luka bekas incisi dengan kasa


steril yang telah dibubuhi betadine

Petugas membalut luka dengan kasa steril

Petugas memberikan edukasi untuk


perawatan luka agar tidak terjadi infeksi

Petugas membereskan peralatan

Petugas mencuci tangan 7 langkah

Petugas memberikan resep obat pada pasien


Petugas mendokumentasikan kegiatan
pada rekam medis

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014


7. Dokumen 1. Rekam medis
Terkait 2. Inform Consent
8. Distribusi Pendaftaran, poli umum, poli anak, poli gigi, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN FRAKTUR
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Mengklasifikasikan berat ringannya fraktur pada tulang dan


meminimalkan komplikasi
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penangan fraktur adalah suatu usaha mengklasifikasikan berat
ringannya fraktur pada tulangdan meminimalkan komplikasi
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas menghentikan perdarahan jika ada
4. Petugas merawat luka jika ada
5. Petugas melakukan pembidaian di daerah suspect fraktur dengan
prinsip bidai diikat melalui 2 sendi (imobilisasi 2 sendi)
6. Petugas mengobservasi keadaan pasien
7. Petugas menyiapkan pasien untuk dirujuk
8. Petugas mendokumentasikan semua tundakan yang dilakukan
5. Diagram Alir
Petugas menjaga privasi
pelanggan Petugas mencuci tanagn dan
menggunakan alat pelindung
diri

Petugas merawat luka jika


Petugas menghentikan
ada
perdarahan jika ada
Petugas melakukan pembidaian di
Petugas mengobservasi keadaan
daerah suspect fraktur dengan
pasien
prinsip bidai diikat melalui 2 sendi
(imobilisasi 2 sendi)

Petugas menyiapkan pasien


untuk dirujuk

Petugas
mendokumentasikan semua
tindakan yang dilakukan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. REKAMAN HISTORI PERUBAHAN


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
EKSTRAKSI KUKU
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar jaringan kuku yang sudah rusak atau mati karena trauma dapat
terangkat dan mencegah infeksi.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Ekstraksi kuku adalah melakukan tindakan menarik dan mengangkat
kuku,dan dilanjutkan reseksi ringan jaringan granulasi di sekitarnya.
Indikasi :
 unguis inkarnatus : bagian kuku masuk kedalam kulit pinggir kuku
 paronikia : infeksi di sekeliling kuku
 abses sub ungula
 korpus alienum di bawah kulit
 trauma pada kuku
 radang / infeksi lain di dorsal dan proksimal kuku

4. Prosedur 1. Petugas menganamnesa pasien


2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
3. Petugas memberikan informed consent tentang kondisi pasien dan
tindakan yang akan dilakukan
4. Petugas meminta kepada pasien untuk menandatangani form
informed consent untuk tindakan yang akan dilakukan
5. Petugas mencuci tangan 7 langkah
6. Petugas menggunakan APD
7. Petugas mempersiapkan alat steril yang akan digunakan untuk
ekstraksi kuku
8. Petugas memberikan anestesi blok pada basis haluks
9. Petugas memegang haluks pada tangan kiri,tangan kanan
memegang klem lengkung
10. Petugas memasukkan klem dipinggir kuku yang sehat
11. Petugas mencekam pnggir kuku yang sehat dengan klem
12. Petugas mengunci klem
13. Petugas memutar atau menggulung dengan cepat dan pasti kearah
ujung kuku yang lain
14. Setelah kuku terangkat,petugas memotong dan membuang
jaringan granulasi yang ada disekitarnya sampai bersih
15. Petugas tidak perlu menjahit perdarahan yang sifatnya difus cukup
dilakukan penekanan dengan kasa steril
16. Petugas mengkompres luka dengan Nacl
17. Petugas membubuhi betadine pada luka
18. Petugas membalut luka dengan kasa steril
19. Petugas membereskan peralatan
20. Petugas mencuci tangan 7 langkah
21. Petugas memberikan edukasi tentang perawatan luka
22. Petugas memberikan resep obat pada pasien
23. Petugas mendokumentasikan kegiatan pada rekam medis.
5. Diagram Alir
Petugas Petugas
Petugas melakukan
menganamnesa memberikan
pemeriksaan fisik
pasien informed consent

Petugas memint
Petugas Petugas
kepada pasien untuk
menggunakan mencuci tangan
APD 7 langkah menandatangani form
informed consent

Petugas Petugas memberikan


mempersiapkan anestesi blok pada
alat steril basis haluks

Petugas memegang haluks pada tangan


kiri,tangan kanan memegang klem
lengkung

Petugas memasukkan klem dipinggir


kuku yang sehat
Petugas mencekam pnggir kuku yang
sehat dengan klem

Petugas mengunci klem

Petugas memutar atau menggulung dengan


cepat dan pasti kearah ujung kuku yang lain

Setelah kuku terangkat,petugas memotong


dan membuang jaringan granulasi yang ada
disekitarnya sampai bersih

Petugas tidak perlu menjahit perdarahan


yang aifatnya difus cukup dilakukan
penekanan dengan kasa steril

Petugas mengkompres luka dengan Nacl

Petugas membubuhi betadine pada luka

Petugas membalut luka dengan kasa steril

Petugas membereskan peralatan

Petugas mencuci tangan 7 langkah

Petugas memberikan edukasi tentang


perawatan luka

Petugas memberikan resep obat pada pasien

Petugas mendokumentasikan kegiatan


pada rekam medis

6. Referensi Buku Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer


7. Dokumen 1. Rekam medis
Terkait 2. Inform Consent
8. Distribusi Pendaftaran, poli umum, poli anak, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN CIDERA KEPALA
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Mengklasifikasikan berat ringannya cidera kepala dan meminimalkan


komplikasi
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penanganan cedera kepala adalah suatu usaha untuk
mengklasifikasikan berat ringannya cidera kepala dan meminimalkan
komplikasi
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas melakukan anamnesa terhadap beratnya cidera kepala
a. CIDERA KEPALA RINGAN
- Skor skala koma Glasgow / GCS 15
- Tidak ada kehilangan kesadaran
- Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat-obat terlarang
- Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
- Pasien dapat menderita abrasi, laserasi, atau hematom kulit
kepala
- Tidak adanya kriteria cidera kepala sedang – berat
b. CIDERA KEPALA SEDANG
- GCS 7 – 14
- Anamnesa pasca trauma
- Muntah
- Tanda kemungkinan fraktur cranium (mata rabun tanda
battle, hemotimpanum, otoreur/rinorea cairan
serebrospinal)
- Kejang
c. CIDERA KEPALA BERAT
- GCS 3 – 8 (koma)
- Penurunan kesadaran secara progresif
- Cidera kepala penetrasi/terba fraktur depresi cranium
- Tanda Neurologis local
4. Semua pasien dengan cidera kepala dicurigai mengalami patah
tulang leher jadi petugas mempertahankan posisi kepala leher
5. Pasien dengan cidera kepala ringan dapat dipulangkan tanpa perlu
pemeriksaan CT scan
6. Petugas memberikan penjelasan mengenai tanda – tanda
komplikasi cidera kepala dan meminta pasien untuk segera
kembali ke pelayanan kesehatan jika tanda/ gejala komplikasi
muncul
7. Petugas merujuk pasien dengan cidera kepala sedang – berat
8. Petugas memperhatikan reaksi dan menanyakan respon
9. Petugas merapikan pelanggan
5. Diagram Alir
Petugas mencuci tanagn dan
Petugas menjaga privasi
pelanggan menggunakan alat pelindung
diri

Semua pasien dengan cidera kepala Petugas melakukan anamnesa


dicurigai mengalami patah tulang terhadap beratnya cidera
leher jadi petugas kepala
mempertahankan posisi kepala
leher

Cidera kepala sedang - berat


Cidera kepala ringan
Petugas memulangkan
Merujuk ke Rumah Sakit
pasien tanpa pemeriksaan
CT Scan

Petugas memberikan
penjelasan mengenai tanda Petugas memperhatikan reaksi dan
– tanda komplikasi cidera menanyakan respon pelanggan
kepala dan meminta pasien
untuk segera kembali ke
pelayanan kesehatan jika
tanda/ gejala komplikasi
muncul
Petugas merapikan
pelanggan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasyankes Primer
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. REKAMAN HISTORI PERUBAHAN


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/5

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk meminimalisir cidera pada luka bakar


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan
Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Luka bakar adalah cidera pada jaringan tubuh akibat panas,bahan
kimia,maupun arus listrik
Derajat luka bakar :
 Luka bakar derajat 1
Merupakan luka bakar yang paling ringan.kulit yang
terbakar menjadi merah,nyeri sangat sensitif terhadap
sentuhan dan lembab atau membengkak.jika ditekan daerah
yang terbakar akan memutih,belum terbentuk lepuhan
 Luka bakar derajat 2
Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam.kulit
melepuh,dasarnya tampak merah atau keputihan dan terisi
oleh cairan kental yang jernih.jika disentuh warnanya
menjadi putih dan terasa nyeri
 Luka bakar derajat 3
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam.permukaan
berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam,hangus dan
kasar.jika disentuh tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf
pada kulit mengalami kerusakan.jika jaringan mengalami
kerusakan akibat luka bakar,cairan akan merembes dari
pembuluh darah dan menyebabkan
pembengkakan.kehilangan sejumlah cairan karena
perembesan tersebut bisa menyebabkan syok,tekanan darah
sangat rendah,sehingga darah yang mengalir ke otak dan
organ lainnya sangat sedikit.
4. Prosedur 1. Petugas melakukan anamnesa
2. Petugas memeriksa tanda-tanda vital pasien
3. Petugas menggunakan APD
4. Petugas mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan
5. Petugas melepaskan pakaian penderita
6. Petugas mengidentifikasi derajat luka bakar
7. Petugas melakukan penanganan luka bakar
a. luka bakar derajat 1
 petugas segera mencuci luka dengan air
 petugas membersihkan luka dari bahan kimia
dengan cara mengguyur dengan air,
 Petugas membuang semua luka bakar yang
melekat, jika luka sulit dibersihkan daerah luka
bakar diberi obat bius dan digosok dengan sikat,
 Petugas membuang lepuhan yang telah pecah,
 Petugas mengoleskan krim antibiotik pada daerah
luka yang benar – benar bersih,
 Petugas memasang perban untuk melindungi luka
dari kotoran dan mencegah terjadinya infeksi
 Petugas memberikan antibiotik per oral,
b. luka bakar derajat II
 petugas segera mencuci luka dengan air
 petugas membersihkan luka dari bahan kimia
dengan cara mengguyur dengan air,
 Petugas membuang semua luka bakar yang
melekat, jika luka sulit dibersihkan daerah luka
bakar diberi obat bius dan digosok dengan sikat,
 Petugas membuang lepuhan yang telah pecah,
 Petugas mengoleskan krim granulasi pada daerah
luka yang benar – benar bersih,
 Petugas memasang perban untuk melindungi luka
dari kotoran dan mencegah terjadinya infeksi
 Petugas membidai daerah persendian yang
mengalamiluka bakar agar tidak
memperburukkeadaan persendian,
 Petugas memberikan antibiotik per oral
c. luka bakar derajat III
 petugas segera mencuci luka dengan air
 petugas membersihkan luka dari bahan kimia
dengan cara mengguyur dengan air,
 Petugas membuang semua luka bakar yang
melekat, jika luka sulit dibersihkan daerah luka
bakar diberi obat bius dan digosok dengan sikat,
 Petugas membuang lepuhan yang telah pecah,
 Petugas mengoleskan krim antibiotik pada daerah
luka yang benar – benar bersih,
 Petugas memasang perban untuk melindungi luka
dari kotoran dan mencegah terjadinya infeksi
 Petugas membidai daerah persendian,
 Petugas memasang IV line dan memberikan
cairan intravena,
 Petugas merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi.
8. Petugas memberikan pendkes mengenai waktu kontrol,
perawatan luka di rumah dannutrisi
9. Petugas mendokumentasikan kegiatan.
5. Diagram Alir
Petugas melakukan anamnesa

Petugas memeriksa tanda-tanda vital pasien

Petugas menggunakan APD

Petugas mempersiapkan alat-alat yang


akan digunakan

Petugas melepaskan pakaian


penderita

Petugas mengidentifikasi derajat


luka bakar

petugas membersihkan luka bakar dengan


cara mengguyur dengan air,
Petugas membuang semua luka bakar yang melekat,
jika luka sulit dibersihkan daerah luka bakar diberi
obat bius dan digosok dengan sikat,

Petugas membuang lepuhan yang


telah pecah

Petugas mengoleskan vitamin A


atau krim granulasi

Petugas memasang perban untuk melindungi luka


dari kotoran dan mencegah terjadinya infeksi

Klasifkasi derajat luka


bakar

Luka bakar derajat I Luka bakar derajat II Luka bakar derajat


III

Petugas membidai daerah


Petugas membidai daerah persendian
persendian yang
yang mengalamiluka bakar agar tidak
mengalamiluka bakar agar
memperburukkeadaan persendian
tidak
memperburukkeadaan
persendian
Petugas memasang IV line dan
Petugas memberikan
memberikan cairan intravena
antibiotik per oral

Petugas merujuk ke fasilitas


pelayanan kesehatan yang lebih
tinggi

Petugas melakuakn pendkes mengenai waktu


kontrol, perawatan di rumah dan nutrisi

Petugas mendokumentasikan kegiatan


6. Referensi Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pengobatan Dasar di
Puskesmas. Jakarta. 2007
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen  Rekam medis
Terkait

8. Distribusi UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
TINDAKAN NEBULIZER
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan tindakan nebulizer mengencerkan secret


melonggarkan jalan nafas agar mudah dikeluarkan
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Nebulizer adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengencerkan
dahak dan menlonggarkan jalan nafas
Nebulizer suatu tindakan pemberian inhalasi uap dengan obat/ tanpa
obat menggunakan nebulator
4. Prosedur 1. Menjaga privasi pelanggan
2. Mengatur pelanggan dalam posisi duduk
3. Menempatkan meja/troli di depan pelanggan yang berisi set
nebulizer
4. Mengisi nebulizer dengan aquades sesuai ukuran
5. Memastikan alat berfungsi dengan baik
6. Memasukkan obat sesuai dengan dosisi
7. Memasang masker pada pelanggan
8. Menghidupkan nebulizer dan meminta pelanggan nafas dalam
sampai obat habis
9. Bersihkan mulut dan hidung dengan tissue

5. Diagram Air
Menjaga privasi pelanggan

Mengatur pelanggan dalam posisi duduk

Menempatkan meja/troli di depan pelanggan yang berisi set nebulizer

Mengisi nebulizer dengan aquades sesuai ukuran

Memastikan alat berfungsi dengan baik

Memasukkan obat sesuai dengan dosis

Memasang masker pada pelanggan

Menghidupkan nebulizer dan meminta pelanggan nafas dalam


sampai obat habis

Bersihkan mulut dan hidung dengan tissue

6. Referensi Departemen kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991, Prosedur perawatan


dasar foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal Bedah Bruner
and suddarth, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan
terkait Buku register Unit Pelayanan Umum
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN PERDARAHAN
PEMBULUH NADI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menghentikan perdarahan dan meminimalkan komplikasi


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Perdarahan pada pembuluh nadi adalah suatu keadaan dimana terjadi
robekan pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas memastikan perdarahan berasal dari pembuluh nadi
4. Petugas segera menghentikan perdarahan dengan menekan tempat
perdarahan dengan setumpuk kain kassa
5. Petugas mempertahankan tekanan
6. Jika kain kassa sudah basah, petugas menambah dengan
setumpuk kain kassa lagi tanpa mengambil kassa sebelumnya
7. Petugas menutup kain kassa tersebut dengan balutan yang
menekan
8. Petugas dapat juga menghentikan perdarahan dengan menekan
bagian pangkal dari pembuluh darah yang terluka
9. Petugas lain menyiapkan pasien untuk dirujuk
5. Diagram Alir
Petugas menjaga privasi Petugas mencuci tanagn dan
pelanggan menggunakan alat pelindung
diri
Petugas segera menghentikan Petugas memastikan
perdarahan dengan menekan tempat perdarahan berasal dari
perdarahan dengan setumpuk kain pembuluh nadi
kassa

Petugas mempertahankan tekanan Jika kain kassa sudah basah,


petugas menambah dengan
setumpuk kain kassa lagi tanpa
mengambil kassa sebelumnya

Petugas dapat juga menghentikan Petugas menutup kain kassa


perdarahan dengan menekan tersebut dengan balutan yang
bagian pangkal dari pembuluh menekan
darah yang terluka

Petugas lain menyiapkan


pasien untuk dirujuk

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN PERDARAHAN HIDUNG
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menangani pasien yang mengalami perdarahan hidung dan


meminimalkan komplikasi
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Terjadinya perdarahan (pecahnya pembuluh darah) di daerah hidung
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
4. Petugas meminta pasien duduk dengan kepala agak menunduk
5. Petugas memijit hidung pasien
6. Bila perdarahan belum berhenti, Petugas memasukkan kain kassa
yang dibasahi oleh larutan hidrogen peroksida/epinefrine
7. Setelah 20-30 menit, petugas meminta pasien membuka mulut
dan tidak menelan ludah
8. Petugas menganjurkan pasien untuk tidak membuang ingus untuk
beberapa jam
9. Petugas memperhatikan reaksi dan menanyakan respon pasien
10. Merapikan pasien
5. Diagram Alir
Petugas mencuci tangan
Petugas menjaga privasi
pelanggan dan menggunakan alat
pelindung diri

Petugas meminta pasien duduk Petugas menjelaskan


dengan kepala agak menunduk kegiatan yang akan dilakukan

Bila perdarahan belum


Petugas memijit hidung pasien berhenti, Petugas
memasukkan kain kassa yang
dibasahi oleh larutan
hidrogen
peroksida/epinefrine

Petugas memperhatikan reaksi dan


menanyakan respon pelanggan Setelah 20-30 menit,
petugas meminta pasien
membuka mulut dan tidak
menelan ludah
Petugas merapikan
pelanggan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PERAWATAN LUKA
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Mencegah masuknya kumam dan kotoran ke dalam luka


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Membersihkan luka dan menutup luka dengan memperhatikan tehnik
steril
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas memberitahukan kepada pasien bahwa akan dilakukan
tindakan perawatan luka
3. Petugas mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri
4. Petugas mengatur posisi pasien sehingga luka mudah dirawat
5. Petugas mendekatkan alat di dekat pasien
6. Petugas melakukan pengkajian luka
7. Petugas membersihkan daerah luka dengan mengalirkan NaCl
8. Petugas membersihkan luka dengan kassa steril
9. Petugas memberikan obat pada luka (betadine/ daryantule/
sufratulle/ Bioplacenton)
10. Petugas menutup luka dengan kassa steril dan memplesternya
dengan rapat
11. Petugas merapikan pasien dan membereskan alat – alat
12. Petugas mendokumentasikan tindakan yang dilakukan

5. Diagram Alir
Petugas menjaga privasi Petugas memberitahukan
pelanggan kepada pasien bahwa akan
dilakukan tindakan
perawatan luka

Petugas mengatur posisi pasien Petugas mencuci tangan dan


sehingga luka mudah dirawat menggunakan alat pelindung diri

Petugas mendekatkan alat di dekat


Petugas melakukan pengkajian
pasien
luka

Petugas membersihkan
Petugas membersihkan luka
daerah luka dengan
dengan kassa steril
mengalirkan NaCl

Petugas memberikan obat pada


Petugas menutup luka dengan
luka (betadine/ daryantule/
kassa steril dan memplesternya
sufratulle/ Bioplacenton)
dengan rapat

Petugas merapikan pasien


dan membereskan alat –
Merapikan pelanggan alat

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENGAMBILAN BENDA ASING DI
TELINGA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Mampu mengeluarkan benda asing di liang telinga bila pasien


kooperatif dan benda asing terlihat/ mudah terjangkau
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pengambilan benda asing di telinga adalah suatu usaha untuk
mengeluarkan benda yang masuk ke dalam saluran telinga, sehingga
dapat mengurangi timbulnya luka dan infeksi telinga,
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan
4. Petugas melakukan pemeriksaan, jika pasien tidak kooperatif atau
benda asing tidak terlihat atau sulit dijangkau, petugas merujuk
pasien ke rumah sakit
5. Petugas berusaha mengeluarkan benda asing dengan hati – hati
dengan menjepit benda asing tersebut dengan pinset dan ditarik
keluar
6. Bila benda asing adalah serangga yang masih hidup, petugas
harus mematikan serangga tsb lebih dulu dengan meneteskan
minyak atau alkohol baru kemudian dikeluarkan
7. Petugas membersihkan telinga pasien
8. Petugas memperhatikan respon pasien
9. Petugas merapikan pasien

5. Diagram Alir
Petugas mencuci tanagn dan
Petugas menjaga privasi menggunakan alat pelindung
pelanggan diri

Petugas melakukan pemeriksaan, Petugas menjelaskan kepada


petugas pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan

jika pasien tidak kooperatif atau


jika pasien kooperatif atau benda
benda asing tidak terlihat atau
asing terlihat dan
sulit dijangkau,
memungkinkan untuk dijangkau,

Petugas merujuk pasien


Bila benda asing adalah serangga
yang masih hidup, petugas harus
mematikan serangga tsb lebih dulu
dengan meneteskan minyak atau
alkohol baru kemudian dikeluarkan

Petugas berusaha mengeluarkan


Petugas membersihkan telinga benda asing dengan hati – hati
pasien dengan menjepit benda asing
tersebut dengan pinset dan ditarik
keluar

Petugas memperhatikan respon


pasien

Petugas merapikan
pelanggan
6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,
Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENGAMBILAN BENDA ASING DI
HIDUNG
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Mampu mengeluarkan benda asing di lubang hidung bila pasien


kooperatif dan benda asing terlihat/ mudah terjangkau
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
4. Prosedur 1. Petugas menjaga privasi pelanggan
2. Petugas mencuci tanagn dan menggunakan alat pelindung diri
3. Petugas menjelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan
4. Petugas melakukan pemeriksaan, jika pasien tidak kooperatif atau
benda asing tidak terlihat atau sulit dijangkau, petugas merujuk
pasien ke rumah sakit
5. Petugas berusaha mengeluarkan benda asing dengan hati – hati
6. Petugas dapat mengeluarkan benda asing yang permukaannya kasar
dengan menggunakan forcep, sementara benda yang permukaannya
bulat dan licin dapat menggunakan pengait yang ujungnya tumpul
7. Tidak dianjurkan mendorong ke nasofaring dengan tujuan agar
masuk ke mulut karena dapat terus masuk ke laring dan saluran
nafas nafas, sehingga timbul sesak nafas dan kegawatan
8. Jika terdapat infeksi hidung dan sinus, petugas mengkolaborasikan
pemberian antibiotik sistemik selama 5 – 7 hari
9. Petugas membersihkan hidung pasien
10. Petugas memperhatikan respon pasien
11. Petugas merapikan pasien

5. Diagram Alir Petugas mencuci tanagn


Petugas menjaga privasi
pelanggan dan menggunakan alat
pelindung diri

Petugas menjelaskan kepada


Petugas melakukan pemeriksaan,
pasien tentang tindakan yang
petugas
akan dilakukan
jika pasien tidak kooperatif atau jika pasien kooperatif atau benda
benda asing tidak terlihat atau asing terlihat dan
sulit dijangkau, memungkinkan untukdijangkau,

Petugas merujuk pasien Petugas dapat mengeluarkan


benda asing yang permukaannya
kasar dengan menggunakan forcep,
sementara benda yang
permukaannya bulat dan licin
dapat menggunakan pengait yang
ujungnya tumpul

Tidak dianjurkan mendorong ke


nasofaring dengan tujuan agar
masuk ke mulut karena dapat terus Jika terdapat infeksi hidung
masuk ke laring dan saluran nafas dan sinus, petugas
nafas, sehingga timbul sesak nafas mengkolaborasikan
dan kegawatan pemberian antibiotik
sistemik selama 5 – 7 hari

Petugas memperhatikan respon Petugas membersihkan


pasien hidung pasien

Petugas merapikan
pelanggan

6. Referensi Departemen Kesehatan RI, Dirjenyanmed, 1991,


Prosedur Perawatan Dasar
Foundamentals of Nursing, Keperawatan Medikal
Bedah Bruner and suddart, egc.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer 2014
7. Dokumen Buku atau kartu status pelanggan, buku register unit pelayanan umum
terkait
8. Distribusi Ruang UGD
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
DEMAM TIFOID
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis demam tifoid dan


melakukan pengobatan demam tifoid.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien.


2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien
mengeluhkan demam terutama malam hari, nyeri kepala, nyeri otot,
anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare.
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas melakukan pemeriksaan nadi
6. Petugas melakukan pemeriksaan suhu
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik apakah terdapat lidah kotor,
pembesaran hati, pembesaran limpa.
8. Bila diperlukan petugas membuat permintaan pemeriksaan darah
rutin atau Widal ke laboratorium.
9. Petugas menyerahkan surat permintaan kepada pasien untuk
selanjutnya pasien ke laboratorium
10. Petugas menerima hasil laboratorium dari pasien
11. Petugas membaca hasil laboratorium dan menegakan diagnose
berdasarkan hasil lab dan anamnesis, hasil uji Widal tunggal
dengan titer antibodi O 1 : 320 atau titer antibodi H 1 : 640
menyokong diagnosis demam tifoid pada pasien dengan gambaran
klinis khas.
12. Petugas memberikan resep untuk pengobatan demam Tifoid:
12.1 Antibiotik : Kloramfenikol dosis 4 x 250 mg dilanjutkan 4 x
500 mg hari kedua dlanjutkan sampai dua hari bebas demam atau
Amoksisilin dosis 50-150 mg/kgBB selama dua minggu atau
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 2 minggu atau Seftriakson 4
gr/hari selama 3 hari.
12.2 Antipiretik : PCT 3 x 500 mg bila demam
12.3 Anti mual / muntah : Antacid 3 x 1 tablet dan vitamin B
6
13. Petugas mengedukasi pasien untuk istirahat total minimal 7 hari
bebas demam, dan diet makanan halus dimulai dari bubur saring,
bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan. Pasien
juga diminta menghindari makanan yang asam dan pedas serta
rendah serat.
14. Petugas menyerahkan resep kepada pasien.
15. Petugas merujuk pasien ke IGD bila ditemukan tanda-tanda
kegawatan seperti ileus obstruktif atau perforasi usus.
16. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose dan
terapi kedalam rekam medik pasien.
17. Petugas memasukan diagnosa pasien kedalam program P-care bagi
peserta BPJS
18. Petugas menulis diagnose ke buku rgister rawat jalan.

melakukan melakukan pemeriksaan


5. Diagram Alir memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik meliput TD, nadi, suhu
pasien tentang , pem. Abdomen , lidah
demam dan keluhan
lain

Menerima hasil Pasien ke laboratorium membuat rujukan


laboratorium dari untuk pemeriksaan pasien untuk
pasien darah/ widal pemeriksaan widal/
darah

Petugas menegakkan Petugas menyerahkan resep


diagnosa berdasarkan kepada pasien
mengedukasi pasien
anamnesa dan hasil
laboratorium dan menulis resep

menulis diagnose ke
buku rgister rawat
jalan.dan P-care
menulis hasil
pemeriksaan fisik,
laboratorium,diagnose
dan terapi kedalam
rekam medic pasien

6. Referensi 1. Panduan praktik klinis bagi dokter


7. Dokumen Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep, program
Terkait P-care
8. Distribusi Poli umum, poli anak, laboratorium, apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan

\
SCABIES
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang


tepat pada pasien scabies.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan
Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei var. Hominis dan produknya.
Faktor penunjang penyakit ini antara lain sosial ekonomi rendah,
higiene buruk, sering berganti pasangan seksual, dan perkembangan
demografis serta ekologik.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien dengan menanyakan
keluhan khas scabies seperti gatal terutama di malam hari, adakah
orang lain yang mengeluhkan hal yang sama seperti pasien di
dalam satu rumah.
3. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
4. Perugas mengukur nadi pasien
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien, apakah terdapat
terowongan pada tempat-tempat yang gatal, dimana terowongan
berukuran sekitar 1 cm, pada ujung terowongan terdapat papul
atau vesikel. Tempat predileksi biasanya di sela-sela jari tangan,
pergelangan tangan, siku luar, lipat ketiak, lipatan bokong,
kemaluan dan perut bagian bawah.
6. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan.
7. Petugas menuliskan resep untuk mengobati scabies:
7.1 Obat salep:
Sulfur : Salep 2-4, digunakan minimal 3 hari.
Gameksan : digunakan selama 8 jam, tidak boleh untuk anak <
6 tahun dan wanita hamil.
7.2 Untuk mengatasi gatal : CTM 3 x 1 tabet
7.3 Apabila gejala berat dan terdapat infeksi sekunder dapat
diberikan antibiotik Amoksisilin 3 x 250-500 mg/hari.
8. Petugas mengedukasi pasien agar menjaga kebersihan, mencuci
bersih pakaian dengan air panas, menjemur kasur dan agar seluruh
anggota keluarga diobati.
9. Petugas menulis hasil pemeriksaan, diagnose dan terapi pada
rekam medic pasien
10. Petugas menulis hasil diagnose pada buku registerdan
program P-care untuk pasien BPJS

5. Diagram Alir

melakukan melakukan pemeriksaan


memanggil pasien
sesuai nama
anamnesa pada fisik
pasien pasien

menulis resep untuk menegakan diagnose


pengobatan berdasarkan hasil
simptomatis menginstruksikan pemeriksaan
pasien untuk menjaga
kebersihan

menyerahkan resep ke
pasien

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan diagnose menulis diagnose
ke rekam medic pasien ke buku
register.dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis bagi Dokter

7. Dokumen Rekam medic, register, blanko resep, Program P-care


Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
OSTEOARTRITIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang


tepat pada pasien osteoartritis.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan
berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri,
deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi-sendi
tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasies sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien
3. Petugas menanyakan keluhan utama pasien, apakah sering merasa
kaku dan nyeri di persendian lutut, tulang belakang, pergelangan
tangan dan kaki.
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien, apakah pada bagian
yang nyeri berwarna kemerahan, bengkak, teraba panas dan terdapat
krepitasi.
8. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan.
9. Petugas menuliskan resep untuk mengobati gejala untuk
osteoartritis: Natrium diclofenac atau Piroksikam atau Ibuprofen 3 x
1 tablet.
10. Petugas mengedukasi pasien agar menghindari aktivitas
berlebihan pada sendi yang sakit dan diet untuk menurunkan berat
badan.
11. Petugas menulis hasil pemeriksaan, diagnose dan terapi pada
rekam medic pasien
12. Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan
program P-care bagi pasien BPJS
5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik
pasien

menulis resep untuk menegakan diagnose


pengobatan menginstruksikan berdasarkan hasil
simptomatis pasien untuk pemeriksaan
mengindar kerja berat
dan diet

menyerahkan resep ke
pasien

menulis hasil anamnesa, menulis diagnose


pemeriksaan dan diagnose pasien ke buku
ke rekam medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Rekam medic, register, blanko resep , Program P-care


Terkait
8. Distribusi Poli umum, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
KONJUNGTIVITIS BAKTERI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang


tepat pada pasien konjungtivitis bakteri.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva mata yang
disebabkan oleh bakteri sehingga mudah menular.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah
mata merah, berair, dan banyak kotoran mata, mata bengkak, terasa
ada yang mengganjal dan panas.
3. Petugas menanyakan apakah pandangan mata pasien kabur.
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah pasien.
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien, melihat adanya tanda-
tanda infeksi pada mata yang sakit.
6. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
7. Petugas menginstruksikan pasien untuk tidak mengucek-kucek mata
dan rajin mencuci tangan untuk mencegah penularan.
8. Petugas menulis resep untuk pengobatan konjuntivitis dapat
diberikan antibiotik tunggal seperti gentamisin, kloramfenikol, dan
sebagainya seama 3-5 hari. Dapat diberikan tetes mata antibiotik
tiap jam dan salep mata tiap 4-5 jam sekali.
9. Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam
medic pasien
10. Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan
komputer P-care bagi pasien BPJS
5. Diagram Alir
memanggil pasien melakukan
sesuai nama melakukan
anamnesa pada
pemeriksaan fisik
pasien

menulis resep untuk menginstruksikan


pengobatan pasien untuk tidak menegakan diagnose
konjungtivitis mengkucek mata dan berdasarkan hasil
sering cuci tangan pemeriksaan

menulis hasil anamnesa, menyerahkan resep ke


pemeriksaan dan diagnose pasien
ke rekam medic

menulis diagnose
pasien ke buku
register.

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Rekam medic, register, blanko resep , Komputer P-Care


Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
HIPERTENSI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis hipertensi dan melakukan


pengobatan dan penyuluhan untuk pencegahan hipertensi.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik ≥ 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat
antihipertensi.

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien


2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien
mengeluhkan nyeri kepala, mudah emosi, telinga berdengung, rasa
berat di tengkuk, sulit tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.
4. Petugas menanyakan apakah pasien memiliki riwayat penyakit
darah tinggi sebelumnya, apakah sedang megkonsumsi obat
antihipertensi, bila iya jenis obat anthipertensi apa yang sedang
digunakan.
5. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
6. Petugas melakukan pemeriksaan nadi
7. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik, yaitu:
Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal < 130 < 85
Perbatasan 130-139 85-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 160-179 100-109
Hipertensi tingkat 3 ≥ 180 ≥ 110
8. Petugas memberikan .
Obat anti hipertensi dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan
secara bertahap sesuai respons penurunan tekanan darah, dapat
diberikan sampai dosis hampir maksimal. Pemberian oba anti
hipertensi bersamaan dengan pengaturan diit dan latihan jasmani,
bila diperlukan dapat dilakukan pemberian obat tunggal atau
kombinasi. Seperti Catopril 2 x 25mg , Propanolol 2 x 10mg atau
Amlodipin 1 x 5/10 mg dan HCT 1x25 mg
9. Petugas mengedukasi pasien tentang penyakit Hipertensi, perlunya
pengendalian dan pemantauan tekanan darah, penyulit Hipertensi
dan resikonya serta bagaimana mengatasi sementara keadaan
gawat darurat akibat Hipertensi
10. Petugas mengedukasi pasien tentang terapi gizi medis (TGM)
makanan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat
gizi masing-masing individu. Pentingnya keteraturan makan dalam
hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan.
11. Petugas mengedukasi pasien tentan latihan jasmani secara teratur 3
– 4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit.
12. Petugas menulis resep.
13. Petugas menyerahkan resep kepada pasien
14. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose
dan terapi kedalam rekam medic pasien
15. Petugas menandatangani rekam medic
16. Petugas menulis diagnose ke buku register rawat jalan dan
komputer P-care

5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik meliput TD, nadi,
pasien tentang sakit ekstremitas atas dan bawah
kepala , sulit tidur

Petugas menegakkan
diagnosa berdasarkan
anamnesa

menyerahkan resep
kepada pasien
Petugas
mengedukasi pasien
dan menulis resep

menulis hasil pemeriksaan


fisik, diagnose dan terapi menulis diagnose ke
kedalam rekam medic buku rgister rawat
pasien jalan dan P-care
6. Referensi Pedomam Pengobatan Dasar di Puskesmas
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
7. Dokumen Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep ,
Terkait Komputer P-care
8. Distribusi Poli umum, apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
FARINGITIS AKUT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang


tepat pada pasien faringitis akut.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan
Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Faringitis adalah peradangan pada kerongkongan yang disebabkan
oleh bakteri atau virus.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah
ada nyeri pada tenggorokan, sakit waktu menelan, suara serak dan
apakah disertai pilek.
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada nyeri sampai ke
telinga
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas memeriksa jaringan pada dinding belakang faring dengan
menyuruh pasien membuka mulut lebar dan melihat apakah faring
berwarna merah tua dan amandel membesar.
9. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan
10. Petugas menginstruksikan pasien untuk istirahat dan banyak
minum air hangat dan menghindari minuman yang dingin.
11. Petugas menulis resep untuk pengobatan simptomatis berupa
Demam; parasetamol 3 x 500 mg (dosis anak : 10
mg/kgbb/kali)
Ingus yang berlebuhan : efedrin 3 x 10 mg (dosis anak : 0,5
mg/kgbb/kali)
Batuk kering : dextrometorfan 3 x 10-15 mg
Batuk bertdahak : gliseril guakolat 3 x 100mg , Codein 3 x
10mg , OBH
Peradangan hebat : dexamethasone 3 x 0,5 mg
12. Bila ada infeksi sekunder berikan antibiotik
Eritromisin 4 x 250 mg
Amoxycillin 3 x 500 mg
13. Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada
rekam medic pasien
14. Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan
komputer P-care

5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nomor urut anamnesa pada fisik
pasien

menegakan diagnose
berdasarkan hasil
menulis resep untuk menginstruksikan pemeriksaan
pengobatan pasien untuk istirahat
simptomatis berupa dan banyak minum

menyerahkan resep
menulis hasil anamnesa, menulis diagnose
pemeriksaan dan diagnose ke pasien pasien ke buku
ke rekam medic register dan P-
care

6. Referensi Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas


Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Rekam medic, register, blanko resep , Komputer P-care


Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
DIABETES MELLITUS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis diabetes melitus (DM) dan melakukan
pengobatan dan penyuluhan untuk pencegahan diabetes melitus.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik pada mata, saraf, ginjal dan pembuluh darah.

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien


2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien mengeluhkan gejala
klasik DM yang berupa poliuria (sering kencing), polidipsi (sering haus) dan
polifagi (serng lapar).
4. Petugas menanyakan pada pasien apakah terdapat keluhan lain seperti berat
badan turun tanpa penyebab yang jelas, kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi
pada pria, pruritus vulva pada wanita, serta adakah luka yang tidak kunjung
sembuh.
5. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
6. Petugas melakukan pemeriksaan nadi
7. Petugas melakukan pemeriksaan suhu
8. Petugas melakukan pemeriksaan fisik termasuk ekstremitas atas dan bawah
termasuk jari.
9. Bila diperlukan petugas membuat permintaan pemeriksaan gula darah atau urin
ke laboratorium.
10. Petugas menyerahkan surat permintaan kepada pasien untuk selanjutnya pasien
ke laboratorium
11. Petugas menerima hasil laboratorium dari pasien
12. Petugas membaca hasil laboratorium dan menegakan diagnose berdasarkan hasil
lab dan anamnesis, yaitu:
10.1 Gejala klasik DM +Glukosa darah sewatu ≥ 200 mg/dl (darah kapiler)
10.2 Gejala klasik DM +Glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dl (darah kapiler)
10.3 Tanpa gejala kasik DM + kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ulang ≥ 100
mg/dl (darah kapiler)
13. Petugas memberikan penatalaksanaan awal DM berupa terapi gizi medis (TGM)
dan latihan jasmani selama 2 – 4 minggu. Apabila kadar gula darah belum
mencapai sasaran dilakukan intervensi farmakologi dengan obat hipoglikemik
oral (OHO) dan atau suntikan insulin.
13.1 Obat hipoglikemik oral (OHO) dimulai dengan dosis kecil dan
ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat
diberikan sampai dosis hampir maksimal. Pemberian OHO bersamaan dengan
pengaturan diit dan latihan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan pemberian
OHO tunggal atau OHO kombinasi. Terapi OHO kombinasi harus dipilih dua
macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda
13.1.1 Golongan Biguanid: Metformin, dosis awal 500 mg dosis
maksimal 2500 mg diberikan 1-3 kali/hari
13.1.2 Golongan Sulfonilurea: Glibenklamid dosis awal 2.5 mg dosis
maksimal 15 mg/hr diberikan 15 – 30 menit sebelum mkan, 1-2
kali/hari.
14. Petugas mengedukasi pasien tentang penyakit DM, perlunya pengendalian dan
pemantauan gula darah, penyulit DM dan resikonya serta bagaimana mengatasi
sementara keadaan gawat darurat akibat DM (rasa sakit dan hipoglikemia).
15. Petugas mengedukasi pasien tentang terapi gizi medis (TGM) makanan yang
seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah
makanan.
16. Petugas mengedukasi pasien tentan latihan jasmani secara teratur 3 – 4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit.
17. Petugas menulis resep.
18. Petugas menyerahkan resep kepada pasien
19. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose dan terapi
kedalam rekam medic pasien
20. Petugas menandatangani rekam medic
21. Petugas menulis diagnose ke buku rgister rawat jalan dan komputer P-care

5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik meliput TD, nadi,
pasien tentang trias ekstremitas atas dan bawah
klasik DM dan
keluhan lain

Menerima hasil Pasien ke laboratorium membuat rujukan


laboratorium dari untuk pemeriksaan pasien untuk
pasien gula darah pemeriksaan gula
darah

Petugas menegakkan Petugas menyerahkan resep


diagnosa berdasarkan kepada pasien
mengedukasi pasien
anamnesa dan hasil
laboratorium dan menulis resep

menulis diagnose ke menulis hasil


buku rgister rawat pemeriksaan fisik,
jalan dan P-care laboratorium,diagnose
dan terapi kedalam
rekam medic pasien
6. Referensi
Pedomam Pengobatan Dasar di Puskesmas
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
7. Dokumen Terkait
Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep , Komputer P-care
8. Distribusi
Poli umum, laboratorium, apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
DIARE
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien diare.
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT
Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi  Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan dan merupakan gejala
dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lain.
 Diare akut adalah buang air besar lembek/cair konsistensinya encer, lebih sering dari
biasanya disertai berlendir, bau amis, berbusa bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya dan berlangsung kurang dari 7 hari.
 Diare nonspesifik adalah diare yang bukan disebabkan oleh kuman khusus maupun
parasit.
 Cara menentukan derajat dehidrasi

Gejala Derajat Dehidrasi


Minimal (< 3% Ringan sampai Berat (> 9% dari
dari berat sedang (3-9% dari berat badan)
badan) berat badan)
Status mental Baik, sadar penuh Normal, lemas, atau Apatis, letargi, tidak
gelisah, iritabel sadar
Rasa haus Minum normal, Sangat haus, sangat Tidak dapat minum
mungkin menolak ingin minum
minum
Denyut jantung Normal Normal sampai Takikardi, pada kasus
meningkat berat bradikardi
Kualitas denyut Normal Normal sampai Lemah atau tidak
nadi menurun teraba
Pernapasan Normal Normal cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Air mata Ada Menurun Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Pecah-pecah
Turgor kulit Baik < 2 detik > 2 detik
Isian kapiler Normal Memanjang Memanjang, minimal
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin
Output urin Normal sampai Menurun Minimal
menurun
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien
3. Petugas menanyakan keluhan utama pasien, sejak kapan BAB cair, berapa kali BAB
dalam sehari, apakah terdapat lendir, darah atau ampas dalam tinja, adakah orang lain
yang terkena diare dan makanan atau minuman yang dikonsumsi sebelum diare.
4. Petugas menanyakan keluhan penyerta diare, apakah pasien mengeluhkan demam, mual,
muntah, nyeri perut sampai kejang perut.
5. Petugas menanyakan adanya gejala dehidrasi seperti lemas, merasa haus, lidah dan
kerongkongan kering, suara serak, pada bayi ubun-ubun cekung, air mata tidak keluar
dan turgor kulit menurun.
6. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
7. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
8. Perugas mengukur nadi pasien
9. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien, apakah bising usus meningkat, nyeri tekan
pada bagian perut, turgor kulit menurun, selaput lendir mulut dan bibir kering.
10.Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan.
11.Petugas menentukan derajat dehidrasi,
12.Petugas menetukan terapi sesuai dengan penyebab diare, gejala dan derajat dehidrasi,
13. Petugas memberikan pengobatan untuk rehidrasi
1) Pada pasien diare tanpa dehidrasi (Terapi A):
a) Berikan cairan (air tajin, larutan gula garam, oralit) sebanyak yang
diinginkan hingga diare stop, sebagai petunjuk berikan tiap habis BAB:
 Anak <1 thn : 50 – 100 mL
 Anak 1 – 4 thn : 100–200 mL.
 Anak >5 tahun : 200–300 mL
 Dewasa : 300–400 mL
b) Meneruskan pemberian makanan atau ASI bagi bayi.
2) Pada pasien diare dengan dehidrasi ringan–sedang (Terapi B):
a) Oralit diberikan 75 mL/kgBB dalam 3 jam, jangan dengan botol.
b) Jika anak muntah (karena pemberian cairan terlalu cepat), tunggu 5-10
menit lalu ulangi lagi, dengan pemberian lebih lambat (1 sendok tiap 2-3
menit).
14. Petugas merujuk pasien dengan dehidrasi berat ke IGD untuk dilakukan rehidrasi
parental
a) Diberikan Ringer Laktat 100 mL yang terbagi dalam beberapa waktu.
b) Tiap 1-2 jam pasien diperiksa ulang, jika hidrasi tidak membaik tetesan dipercepat.
Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (pasien lebih tua) pasien kembali di periksa
Pemberian Cairan Untuk Bayi Diare Dengan Dehidrasi Berat

Pemberian pertama Pemberian kemudian


Umur
30 mL/kg 70 mL/kg

Bayi <12 bulan dalam 1 jam dalam 5 jam

Bayi/anak > 12 bulan dalam 30 menit 2,5 jam

15. Petugas menetukan terapi farmakologi,


a. Zink selama 10 hari berturut - turut
Bayi 2- 6 bulan dengan dosis 1 x 10 mg
Bayi > 6 bulan – 5 tahun dengan dosis 1 x 20 mg
b. Pengobatan antibiotic maupun antimikroba hanya untuk kasus tersangka kolera,
disentri, atau terbukti giardiasis atau amubiasis
 Kolera : Kotrimoksazol 2 x 3 tab (awal) dilanjutkan 2 x 2 tab / hari atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg
 E. Coli : tidak memerlukan terapi
 Salmonela : Kotrimoksazol 4 x 500 mg
 Shigella : Kloramfenikol 4 x 500 mg
 Amebiasis : Metronidazol 4 x 500 mg atau Tetrasiklin 4 x 500 mg
 Giardiasis : Metronidazol 3 x 250 mg
 Virus : Simtomatik & Suportif
c. Pemberian anti emetik seperti antacid, B6, metoclopramid jika pasien mual
16. Petugas menyarankan agar pasien tetap meneruskan makan dan minum lebih banyak,
untuk bayi tetap meneruskan ASI,
17. Petugas memberikan informasi kesehatan mengenai diare dan prinsip pengobatan,
perawatan selama di rumah (rehidrasi oral di rumah), waktu untuk kontrol ulang dan
upaya supaya diare tidak terulang
18. Petugas menuliskan resep untuk mengobati gejala dan penyebab diare:
19. Petugas menulis hasil pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
20. Petugas menulis hasil pemeriksaan pada buku register.

5. .Diagram
Alir melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik
pasien

menulis resep untuk menegakan diagnose


pengobatan menginstruksikan berdasarkan hasil
simptomatis pasien untuk istirahat pemeriksaan
dan menghindari
pencetus

menyerahkan resep ke
menulis hasil anamnesa, pasien menulis diagnose
pemeriksaan dan diagnose pasien ke buku
ke rekam medic register.

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Rekam medic, register, blanko resep , Komputer P-care


Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
DERMATITIS ALERGIKA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
dermatitis alergika.

2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi
Dermatitis adalah iritasi pada kulit disebabkan oleh bahan kontak ( detergen, asam
alkali, minyak pelumas, serbuk kayu )
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasies sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
4. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan
5. Petugas menyarankan pasien untuk menghentikan kontak dengan bahan
penyebab atau alergen
6. Pada kasus ringan, petugas memberiran resep berupa ¼-1/2 tab CTM 4mg 3x
sehari untuk BB > 10 kg, beri juga hidrocortison krim 1%, unutk pasien anak,
untuk pasien dewasa CTM 3x sehari 1 tablet dan hidrocortison krim
7. Pada kasus akut dan berat petugas memberikan resep berupa ctm dan
prednison, Perawatan ruam kering : krim Hidrokortison 1-2 %
8. Bila terjadi infeksi sekunder (bengkak,merah,nanah). Petugas memberi
tambahan antibiotik seperti Amoksisilin 3x500mg/hari (Anak 3x25-50 mg/kg
BB/hari) selama 5 hari atau Eritromisin 4x500 mg/hari (Anak 4x30-50mg/kg
BB/hari) selama 5 hari
9. petugas menulis hasil anamnesa, pemeriksaan dan diagnose ke rekam medic
10. petugas menulis jenis pengobatan ke rekam medic.
11. petugas menyerahkan resep ke pasien
12. petugas menulis diagnose pasien ke buku register dan komputer P-care
5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik
pasien
Membei resep sesuai
menyarankan pasien menegakan diagnose
dengan derajat
untuk menghentikan berdasarkan hasil
kasusnya
kontak dengan bahan pemeriksaan
penyebab atau alergen

menulis diagnose
menulis hasil anamnesa, menyerahkan resep ke pasien ke buku
pemeriksaan dan diagnose pasien register dan P-care
ke rekam medic

6. Referensi
Pedomam Pengobatan Dasar di Puskesmas
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
7. Dokumen Terkait
Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep , Komputer P-care
8. Distribusi
Poli umum, poli anak, apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
ASMA BRONKHIAL
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
asma.
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Asma merupakan ganguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan berbagai
sel inflamasi sehingga mengakibatkan hiperaktivitas bronkus dalam berbagai
tingkat, penyempitan jalan napas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak).
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasies sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa pada pasien
3. Petugas menanyakan keluhan utama pasien, apakah terdapat bising mengi
(wheezing), bunyi “ngik-ngik”, batuk produktif/berdahak terutama malam hari dan
sesak napas atau dada seperti tertekan.
4. Petugas menanyakan perjalanan penyakit, faktor-faktor yang mencetuskan
keluhan, riwayat penyakit keluarga dan riwayat alergi.
5. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
6. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
7. Perugas mengukur nadi pasien
8. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien, apakah terdapat bunyi wheezing
dengan atau tanpa menggunakan stetoskop.
9. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan.
10.Petugas menginstruksikan pasien untuk istirahat dan faktor-faktor pencetus asma
seperti kelelahan, udara dingin, stress serta menghindari alergen-alergen seperti
debu, asap rokok, makan sea food, dll.
11.Petugas menulis resep untuk pengobatan asma ringan:
11.1 Bronkodilator (melebarkan penyempitan jalan napas)
11.1.1 Agonis β 2 : Salbutamol : dosis dewasa 3-4 x 4 mg/hari; anak 3-4
x 1-2 mg/hari
11.1.2 Aminofilin : dosis dewasa 3 x 100-200 mg/hari maks 500 mg;
anak 5mg/kgBB/kali.
11.2 Antiinflamasi (juga sebagai pencegahan)
Kortikosteroid : Dexamethasone 3 x 0,5 mg/hari
12 Pada asma sedang dan berat petugas menyarankan pasien untuk rawat inap dan
memberikan obat asma per-inhalasi dan injeksi, sebagai berikut:
12.1 Asma Sedang : Agonis β 2 secara nebulisasi/inhalasi/hisap 2,5-5 mg 1-3
kali dalam 1 jam pertama dilanjutkan tiap 1-4 jam kemudian atau Agonis β
2 i.m, teofilin 5mg/kgBB iv pelan, deksametason 5 mg iv, serta oksigen 4
liter/menit
12.2 Asma Berat : Agonis β 2 secara nebulisasi/inhalasi/hisap diulang3 kali
dalam 1 jam pertama diulang 1-4 jam kemudian, teofilin iv, steroid iv
diulang per 8-12 jam, Agonis β 2 iv per 6 jam, serta oksigen 4 liter/menit.
13 Petugas menulis hasil pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
14 Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care bagi
pasien BPJS

5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik
pasien

menulis resep untuk menegakan diagnose


pengobatan menginstruksikan berdasarkan hasil
simptomatis pasien untuk istirahat pemeriksaan
dan menghindari
pencetus

menyerahkan resep ke menulis


menulis hasil anamnesa, pasien diagnose pasien
pemeriksaan dan diagnose ke buku
ke rekam medic register.

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medic, register, blanko resep , komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
ANEMIA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis anemia dan melakukan pengobatan dan
penyuluhan untuk pencegahan anemia.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Anemia adalah penurunan kadar Hb sampai di bawah normal.Pada anak 6 bulan
sampai umur 6 tahun Hb normal adalah 11 gr% atau lebih, anak di atas 6 tahun 12
gr% atau lebih, anak laki-laki dan perempuan sama sampai masa remaja.Pada
wanita dewasa dikatakan anemia bila Hb kurang dari 10 gr%, pria dewasa kurang
dari 12,5 gr%.

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien


2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien
4. Petugas menanyakan pada pasien apakah pasien sering lemah, sakit kepala,
lekas lelah, lesu, jantung sering berdebar, sering terlihat pucat, atau adakah
perdarahan dalam waktu lama.
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik meliputi, pemeriksaan tekanan darah,
kelopak mata, bibir, telapak tangan dan kaki pucat.
6. Bila diperlukan petugas membuat permintaan pemeriksaan Hb ke laboratorium.
7. Petugas menyerahkan surat permintaan kepada pasien untuk selanjutnya pasien
ke laboratorium
8. Petugas menerima hasil laboratorium dari pasien
9. Petugas membaca hasil laboratorium dan menegakan diagnose berdasarkan hasil
lab dan pemeriksaan fisik.
10. Petugas memberikan tablet besi (Fero Sulfat) jika diperlukan dengan dosis 1 x
325 mg.
11. Petugas menulis resep.
12. Petugas menyerahkan resep kepada pasien
13. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose dan terapi
kedalam rekam medic pasien
14. Petugas menandatangani rekam medic
15. Petugas menulis diagnose ke buku rgister rawat jalan dan komputer P-care bagi
pasien BPJS
5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik meliputi, pemeriksaan
pasien tekanan darah, kelopak
mata, bibir,telapak tangan
dan kaki pucat

Menerima hasil Pasien ke laboratorium membuat rujukan


laboratorium untuk pemeriksaan pasien untuk
dari pasien pemeriksaan Hb
Hb

membaca hasil laboratorium menyerahkan resep


menegakan diagnose berdasarkan kepada pasien
hasil lab

menulis hasil
menulis diagnose ke buku
pemeriksaan fisik,
rgister rawat jalan dan P-care
laboratorium,diagnose
dan terapi kedalam
rekam medic pasien

6. Referensi
Pedomam Pengobatan Dasar di Puskesmas
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
7. Dokumen Terkait
Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep , Komputer P-care
8. Distribusi
Poli umum, poli ibu, laboratorium, apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PERSIAPAN PELAYANAN BP
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan : Untuk memastikan pelayanan yang akan diberikan kepada


pelanggan / pasien di BP Umum telah siap
2. Kebijakan : Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi : Persiapan Pelayanan di BP Umum adalah Semua proses untuk
menyiapkan kegiatan pelayanan di klinik seperti alat
medis,tempat pelayanan/ ruangan dan bahan-bahan cetakan
dan bahan-bahan kesehatan
4. Prosedur : 1. Perawat menyiapkan tempat/ruangan agar terasa nyaman
2. Perawat menyiapkan alat-alat medis
3. Perawat menyiapkan buku register dan bahan-bahan
cetakan yang diperlukan untuk tindakan
4. Petugas siap melakukan pelayanan kepada pelanggan
5. Semua kegiatan pelayanan didokumentasikan

5. Diagram Alir :
Perawat menyiapkan
tempat/ruangan agar terasa
nyaman

Perawat menyiapkan alat-alat


medis
Perawat menyiapkan buku register,dan
bahan-bahan cetakan yang diperlukan
untuk tindakan

Petugas siap melakukan


pelayanan kepada pelanggan

Semua kegiatan pelayanan


didokumentasikan

6. Referensi :
7. Dokumen :
Terkait
8. Distribusi : Poli umum

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


PELAYANAN DI BP
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT dr. Fitria Ananda


PUSKESMAS
PARIANGAN NIP.19700624 200012 2
001

4. 1. Tujuan Sebagai acuan bagi petugas dalam memberikan pelayanan kepada


pasien di sub unit BP Umum.
5. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
6. 3. Definisi 1. Pemeriksaan vital sign adalah pemeriksaan tekanan
darah, nadi, suhu, dan berat badan.

2. Anamnesa Penyakit adalah wawancara terhadap pasien


atau keluarganya tentang penyakit / keluhan, lamanya
sakit dan pengobatan yang sudah didapatkan

3. Pemeriksaan Fisik adalah pemeriksaan mencakup :


a. Inspeksi : Keadaan umum pasien secara visual
b. Palpasi : Pemeriksaan raba ( perabaan benjolan,
konsistensi hepar / lien
c. Perkusi : Pemeriksaan ketuk (batas jantung, paru,
hepar, asites)
d. Auskultasi: Periksa dengan menggunakan stetoskop

4. Pemeriksaan Penunjang adalah pemeriksaan yang


diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa
penyakit yaitu Laboratorium, Rontgen, EKG.

5. Penegakkan diagnosa adalah menetapkan jenis penyakit


yang diderita oleh pasien berdasarkan hasil anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dilakukan oleh dokter atau oleh paramedik apabila dokter
tidak ada.

6. Rujukan Internal adalah rujukan yang ditujukan atau


berasal dari sub unit lain dalam lingkungan Puskesmas
meliputi klinik Sanitasi, KIA - KB, Gigi, UGD, Rawat
Inap, Klinik Gizi.

7. Rujukan Eksternal adalah rujukan ke fasilitas kesehatan


di luar Puskesmas.

8. Resep adalah perintah tertulis tentang cara pemberian


obat, dapat berupa resep internal yang hanya dapat
dilayani di sub unit farmasi Puskesmas Pariangan dan
resep luar yang dapat di tebus di apotek atau pelayanan
farmasi di luar sub unit farmasi Puskesmas Pariangan

23. 4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien

2. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan Rekam


Medis, jika ada ketidaksesuaian data petugas
mengkonfirmasikan dengan bagian pendaftaran,

3. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah dan


mengukur berat badan dan dicatat dalam buku Rekam
Medis,

4. Petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik,

5. Bila memerlukan pemeriksaan penunjang pasien dikirim


ke penunjang diagnostik (Laborat, Rontgen),

6. Petugas menegakkan diagnosa, bila perlu tindakan medis


petugas/ dokter melakukan tindakan medis dan menulis
tarif tindakan di kwitansi, bila perlu rujukan membuat
surat rujukan,

7. Bila pasien memerlukan obat, petugas memberikan resep


dan dicatat di Rekam Medik,

8. Petugas melakukan pencatatan di buku register dan


memasukan ke komputer P-care bagi pasien BPJS

9. Petugas menyerahkan resep kepada pasien dan


dipersilahkan ke ruang obat,

10. Pada akhir pelayanan petugas mengembalikan Rekam


Medik ke bagian pendaftaran,
24. 5. Diagram Alir
Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut

Petugas mencocokkan identitas pasien


dengan Rekam Medik, ika ada
ketidaksesuaiain data petugas
mengkonfirmasikan dengan sub unit
pendafataran

Petugas melakukan pemeriksaan tekanan


darah dan mengukur berat badan, dicatat
dalam buku Rekam Medis

Petugas melakukan anamnesa dan


pemeriksaan fisik

Bila memerlukan pemeriksaan penunjang,


pasien dikirim ke penunjang diagnostik
(Laborat, Rontgen, KG )

Petugas menegakkan diagnosa,bila perlu


tindakan medis, petugas/ dokter melakukan
tindakan medis dan menulis tarif tindakan di
kwitansi, bila perlu rujukan membuat surat
rujukan

Bila pasien memerlukan obat, petugas


memberikan resep dan dicatat di Rekam
Medis

Petugas melakukan pencatatan di buku


register

Petugas menyerahkan resep kepada pasien


dan dipersilahkan ke ruang obat

Petugas mengumpulkan data Pengkajian dan


penunjang guna membuat rencana dan
pelaksanaan asuhan

25. 6. Referensi Buku Pedoman Kerja Puskesmas jilid IV


26. 7. Dokumen 1. Rekam Medis
Terkait 2. Resep
3. Blangko Rujukan
4. Blangko surat Keterangan Dokter
5. Register pasien
6. Buku kendali Rujukan
7. Buku kendali Surat Keterangan dokter
8. Rincian tugas Perawat di BP Umum
9. Rincian Tugas Dokter di BP Umum
10. Komputer P-care

11. 8. Distribusi Poli umum

9. Rekaman historis perubahan


Tgl.mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
diberlakukan
MENULIS RESEP
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar obat yang diminta dapat diracik sesuai permintaan


petugas unit klinik umum
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional
Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi 1. Peresepan adalah kegiatan memberi resep
2. Formulir resep adalah formulir untuk resep yang
berlaku untuk ditebus di ruang obat Puskesmas
3. Menulis Resep adalah kegiatan menulis obat yang
akan diberikan kepada pasien, menggunakan
formulir resep untuk ditebus di ruang obat
Puskesmas
4. Untuk resep psikotropika, peresepan dilakukan oleh
dokter.
4. Prosedur 1. Petugas mengambil resep,
2. Petugas menulis nama pasien,
3. Petugas menulis tanggal pemberian obat,
4. Petugas menulis nama obat,
5. Petugas menulis sediaan obat,
6. Petugas menulis jumlah obat dalam angka romawi,
7. Petugas menulis aturan pakai,
8. Petugas menulis keterangan lain bila perlu,
9. Petugas memberi paraf,
10. Petugas memberikan lembar resep pada pasien untuk
diserahkan ke ruang obat / apotik.
5. 5.Diagram Alir

Petugas mengambil resep

Petugas menulis nama pasien

Petugas menulis tanggal


pemberian obat

Petugas menulis nama obat

Petugas menulis sediaan obat

Petugas menulis jumlah obat


dalam angka romawi

Petugas menulis aturan pakai

Petugas menulis keterangan


lain bila perlu

Petugas memberi paraf

6. 6. Referensi Farmakologi dan terapi Universitas Indonesia


Cara Penulisan Resep Yang Benar
7. 7. Dokumen Terkait
8. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak,Poli Gigi dan UGD
9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
MENGUKUR TINGGI BADAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat mengukur tinggi badan pasien dengan


benar dan akurat
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Mengukur tinggi badan adalah suatu tindakan untuk
mengetahui tinggi badan seseorang.
4. Prosedur 1. Petugas memberitahu pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan,
2. Petugas menganjurkan pasien melepas alas kaki,
3. Petugas mempersilahkan pasien berdiri tegak di tempat
pengukuran, menghadap petugas,
4. Petugas menarik alat pengukur tinggi badan tepat pada
kepala pasien,
5. Petugas melihat skala yang ada pada pengukur tinggi
badan,
6. Setelah selesai pengukuran, petugas mempersilahkan
pasien untuk memakai alas kaki kembali,
7. Petugas mencatat hasil pengukuran pada Rekam Medis

5. Diagram Alir
Memberitahu pasien tentang
tindakan yang akan dilakukan

Menganjurkan pasien melepas


alas kaki

Mempersilahkan pasien
berdiri tegak di tempat
pengukuran, menghadap
petugas

Menarik alat pengukur tinggi


badan tepat pada kepala
pasien

Melihat skala yang ada pada


pengukur tinggi badan

Pengukuran selesai, pasien


dipersilahkan memakai alas
kaki kembali

Mencatat hasil pengukuran


pada Rekam Medis

6. Referensi Pedoman Perawatan Ruang

7. Dokumen Terkait 1. Register


2. Rekam Medik

8. Distribusi Poli umum, poli anak, poli ibu


9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
MENGUKUR TEKANAN DARAH
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat mengukur tekanan darah dengan


benar, dan hasilnya akurat.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional
Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Mengukur Tekanan Darah adalah Mengukur tekanan
aorta saat ventrikel kiri berkontraksi (systole) dan
mengukur tekanan minimal yang ditimbulkan terhadap
dinding arteri (diastole)

4. Prosedur 1. Petugas mempersiapkan alat,


2. Petugas mendekatkan alat kesamping klien,
3. Petugas menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
dan tujuanya,
4. Petugas mengatur posisi klien : duduk atau berbaring
yang nyaman dengan lengan tersokong setinggi
jantung dan telapak tangan menghadap ke atas,
5. Petugas membuka pakaian yang menutup lengan atas,
6. Petugas melakukan palpasi artheri brachialis dan
menempatkan manset 2,5 cm diatas sisi denyut arteri
brachialis,
7. Petugas melakukan palpasi arteri brachialis sampai
memompa manset sampai tekanan 30 mmhg diatas
dititik dimana denyut arteri menghilang perlahan
kempiskan manset perhatikan sampai saat denyut
kembali teraba (Sistolik palpasi),
8. Petugas mengempiskan manset sepenuhnya dan
tunggu selama 30 detik,
9. Petugas menempatkan bagian telinga stetoskop ke telinga
pemeriksa,
10. Petugas mencari kembali arteri brachialis dan
tempatkan diagfragma stetoskop diatasnya,
11. Petugas menutup kantong tekanan kearah putaran
jarum jam sampai kencang,
12. Petugas memompa manset sampai 30 mmhg diatas
hasil palpasi sistolik klien,
13. Petugas membuka katup secara perlahan sehingga
memungkinkan air raksa turun rata-rata 2-3 mmHg
perdetik,
14. Petugas memperhatikan titik pada manometer saat bunyi
pertama jelas terdengar,
15. Petugas melanjutkan membuka katup secara perlahan dan
perhatikan titik dimana bunyi menghilang,
16. Petugas mengkempiskan manset dengan cepat dan total,
17. Bila mengulang prosedur, petugas menunggu sampai 30
detik,
18. Petugas membuka manset dan lipat serta simpan dengan
baik,
19. Petugas menutup lengan atas dan bantu klien untuk posisi
yang diinginkan,
20. Petugas menginformasikan hasil pada klien,
21. Petugas mendokumentasikan hasil pengukuran
5. Diagram Alir Mempersiapkan alat

Mendekatkan alat ke samping klien

Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuanya

Mengatur posisi klien : duduk atau berbaring yang nyaman


dengan lengan tersokong setinggi jantung dan telapak
tangan menghadap ke atas

Membuka pakaian yang menutup lengan atas

Palpasi artheri brachialis dan menempatkan manset 2,5 cm


diatas sisi denyut artheri brachialis

Palpasi artheri brachialis sambil memompa manset sampai


tekanan 30 mmHg diatas dititik dimana denyut artheri
menghilang. Perlahan kempiskan manset perhatikan
sampai saat denyut kembali teraba ( sistolik palpasi )

Mengempiskan manset sepenuhnya dan tunggu selama 30


detik

Tempatkan bagian telinga stetoskop ke telinga pemeriksa

Tutup kantong tekanan kearah putaran jarum jam sampai


kencang

Pompa manset sampai 30 mmHg diatas hasil palpasi


sistolik klien

Buka katup secara perlahan sehingga memungkinkan air


raksa turun rata- rata 2-3 mmHg perdetik

Perhatikan titik pada manometer saat bunyi pertama jelas


terdengar

Lanjutkan membuka katup secara perlahan dan perhatikan


titik dimana bunyi menghilang

Kempiskan manset dengan cepat dan total

Bila mengulang prosedur tunggu sampai 30 detik

Buka manset dan lipat serta simpan dengan baik

Tutup lengan atas dan bantu klien untuk posisi yang


diinginkan

Informasikan hasil kepada klien

Mendokumentasikan hasil pengukuran

6. Referensi Modul CBT Perawat Puskesmas


7. Dokumen Terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, Poli Ibu, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
MENGUKUR SUHU AXILLA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk mengetahui panas badan pasien sehingga dapat :


a. Membantu menentukan diagnosa
b. Membantu menerapkan therapi / pengobatan
c. Mengetahui adanya kelainan pada tubuh

2. Kebijakan S Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Mengukur tubuh per axila adalah suatu tindakan untuk mengetahui
derajat panas yang dihasilkan oleh tubuh pasien sebagai
keseimbangan dari adanya pembakaran dalam tubuh dan panas
yang dikeluarkan.
4. Prosedur 1. Petugas menyiapkan alat,
2. Petugas memberitahu pasien,
3. Petugas melonggarkan pakaian pasien agar termometer bisa
diletakkan di ketiak,
4. Petugas mencuci tangan dibawah air mengalir dan keringkan
dengan handuk bersih dan kering,
5. Petugas membawa alat – alat ke dekat pasien,
6. Petugas memeriksa air raksa termometer apakah sudah turun /
belum, jika belum turunkan dengan cara mengibaskan (posisi
ujung termometer di bawah),
7. Petugas meminta Pasien membuka ketiaknya,
8. Petugas memasang termometer tepat resevoirnya pada tengah -
tengah ketiak,
9. Petugas mengatur sikap pasien agar reservoir air raksa benar -
benar terhimpit,
10. Petugas mendiamkan termometer 5 – 10 menit,
11. Petugas mengambil termometer dan catat hasilnya,
12. Petugas membantu merapikan baju pasien,
13. Petugas mencelupkan termometer dengan larutan sabun dan
dilap dengan tissue,
14. Petugas memasukkan termometer dalam larutan desinfektan
kemudian bilas dengan air bersih,
15. Petugas mengeringkan termometer dengan tissue sampai
kering,
16. Petugas menurunkan air raksa sampai batas reservoir,
17. Petugas menyimpan termometer pada tempatnya,
18. Petugas mencuci tangan

5. Diagram Alir

Memberitahu pasien

Melonggarkan pakaian pasien


agar termometer bisa
diletakkan diketiak

Cuci tangan dibawah air


mengalir dan keringkan
dengan handuk bersih dan
kering

Membawa alat- alat kedekat


pasien

Memeriksa air raksa


termometer apakah sudah
turun/ belum, jika belum
turunkan dengan cara
mengibaskan ( posisi ujung
termometer di bawah )

Meminta pasien membuka


ketiaknya

Memasang termometer tepat


resevoirnya pada tengah -
tengah ketiak

Mengatur sikap pasien agar


resevoir air raksa benar - benar
terhimpit

Diamkan termometer 5 - 10
menit

Ambil termometer dan catat


hasilnya

Membantu merapikanbaju pasien

Celupkan termometer dengan


larutan sabun dan dilap dengan
tissue

Masukkan termometer dalam


larutan desinfektan kemudian
bilas dengan air bersih

Keringkan termometer dengan


tissue sampai kering

Turunkan air raksa sampai batas


reervoir

Simpan termometer pada


tempatnya

Cuci tangan
6. Referensi Pengkaijan Fisik Keperawatan
7. Dokumen Terkait Rekam Medis
8. Distribusi Poli Umum, Poli KIA ,UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang diubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


MENGUKUR BERAT BADAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat mengukur berat badan dewasa / anak


dengan benar, dan hasilnya akurat.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan .
3. Definisi Mengukur berat badan dewasa / anak adalah cara untuk
mengetahui berat badan dewasa / anak
4. Prosedur 1. Petugas mempersiapkan alat,
2. Petugas menjelaskan pada pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan,
3. Petugas memastikan jarum penunjuk timbangan
menunjuk pada angka nol,
4. Jika jarum penunjuk tidak pada anka nol, maka petugas
menyetel pemindah jarum ke angka nol,
5. Petugas meminta pasien melepas jaket, alas kaki dan tas,
6. Petugas mempersilahkan pasien untuk berdiri / naik ke
atas timbangan,
7. Petugas melihat jarum penunjuk skala,
8. Petugas menilai berat badan pasien sesuai dengan tempat
berhentinya jarum,
9. Petugas mempersilahkan pasien turun dari timbangan,
10. Petugas mendokumentasikan hasil pengukuran berat
badan.
5. Diagram Alir
Menjelaskan pada
pasien tentang
tindakan yang akan
dilakukan

Memastikan jarum
penunjuk
timbangan
menunjuk pada
angka nol

Memerintahkan
pasien melepas
jaket,alas kaki dan
tas

Mempersilahkan
pasien untuk berdiri
/ naik ke atas
timbangan

Petugas melihat
jarum penunjuk
skala

Mempersilahkan
pasien turun dari
timbangan

Hasil pengukuran
BB
didokumentasikan

6. Referensi Modul CBT, Perawat Puskesmas


7. Dokumen Terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, poli anak

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang Dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


MENGISI REKAM MEDIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat mengisi rekam medis dengan benar dan sesuai
prosedur.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Mengisi rekam medis adalah cara untuk mengisi hasil anamnesa dan
pemeriksaan dengan menggunakan blangko rekam medis.

4. Prosedur 1. Petugas mengisi rekam medis pada tanggal yang sesuai dengan
waktu pemeriksaan,
2. Petugas menulis hasil Anamnesa,
3. Petugas menulis hasil pemeriksaan yang dilakukan,
4. Petugas menulis diagnosa penyakit,
5. Petugas menulis kode diagnosa penyakit,
6. Petugas menulis jenis kunjungan,
7. Petugas menulis terapi yang diberikan,
8. Petugas memberi paraf
5. Diagram Alir
Mengisi rekam medis pada
tanggal yang sesuai dengan
waktu pemeriksaan

Menulis hasil Anamnesa

Menulis hasil pemeriksaan


yang dilakukan

Menulis diagnosa penyakit

Menulis kode diagnosa


penyakit

Menulis jenis kunjungan

Menulis terapi yang diberikan

Memberi paraf

6. Referensi Buku Pedoman Puskesmas


7. Dokumen Terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, Poli Anak, Poli Ibu, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


MENGHITUNG PERNAFASAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menghitung pernafasan dengan benar,


dan hasilnya akurat.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Menghitung pernafasan adalah cara mengetahui jumlah
frekuensi pernafasan dengan menggunakan penunjuk waktu.
4. Prosedur 1. Petugas mempersiapkan alat,
2. Petugas melakukan cuci tangan sebelum tindakan,
3. Petugas memberitahu dan menjelaskan maksud tujuan
dilakukan tindakan tersebut,
4. Petugas membuka baju yang menutupi dada dan perut
pasien,
5. Petugas melihat naik turun dada dan memulai
menghitung dengan menekan tombol start pada alat
waktu penghitung pernafasan,
6. Petugas menghitung pernafasan dengan memegang
pergelangan tangan pasien,
7. Petugas menghitung dengan cermat dan teliti,
8. Petugas menghitung pernafasan selama satu menit,
9. Petugas melakukan cuci tangan setelah tindakan,
10. Petugas mendokumentasikan hasil tindakannya.
5. Diagram Alir
Menghitung pernafasan
dengan melihat naik turun
dada sambil memegang
pergelangan tangan pasien

Menghitung pernafasan
selama satu menit

Mendokumentasikan hasilnya

6. Referensi Pedoman Perawatan Ruang


7. Dokumen Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, poli anak, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang Dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


MENGHITUNG DENYUT NADI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menghitung denyut nadi dengan benar,


dan hasilnya akurat.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Menghitung denyut nadi adalah cara untuk mengetahui
jumlah denyut nadi
4. Prosedur 1. Petugas mempersiapkan alat,
2. Petugas memberitahu pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan,
3. Petugas membawa alat – alat ke dekat pasien,
4. Petugas mencuci tangan,
5. Petugas mempersiapkan pasien berbaring atau duduk
dengan tenang,
6. Petugas memegang tangan pasien dengan pergelangannya
dengan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Disini
akan teraba denyut nadi Artheri Radialis,
7. Petugas memegang alat penghitung nadi / arloji dengan
tangan yang lain,
8. Petugas menghitung denyut nadi selama satu menit,
9. Petugas mendokumentasikan hasilnya,
10. Petugas mencuci tangan.
5. Diagram Alir
Memberitahu pasien tentang
tindakan yang akan dilakukan

Membawa alat - alat ke dekat


pasien

Mencuci tangan

Mempersiapkan pasien berbaring


atau duduk dengan tenang di
tempat tidur

Memegang tangan pasien dengan


pergelangannya dengan jari
telunjuk jari tengah dan jari manis.
Disini akan teraba denyut nadi

Tangan yang lain memegang alat


penghitung nadi / arloji

Menghitung denyut nadi selama


satu menit

Mendokumentasikan hasilnya

Mencuci tangan

6. Referensi Modul CBT Perawat Puskesmas


7. Dokumen Terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, UGD
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


MENCUCI TANGAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan 1. Untuk menghindari penularan penyakit dan kebersihan


petugas terjaga,
2. Untuk menghilangkan mikrooeganisme yang di dapat
dari pasien, pengunjung, atau petugas tenaga kesehatan
lain.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Mencuci tangan adalah usaha untuk membersihkan tangan
dari kotoran yang menempel sekaligus untuk menjaga
kebersihan tangan dari kuman penyakit.
4. Prosedur 1. Petugas membasuh tangan dengan air,
2. Petugas menuangkan sabun secukupnya,
3. Petugas meratakan dengan kedua telapak tangan,
4. Petugas menggosok punggung dan sela-sela jari tangan
kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya,
5. Petugas menggosok kedua telapak dan sela-sela jari,
6. Petugas menggosok jari-jari sisi dalam dari kedua tangan
saling mengunci,
7. Petugas menggosok ibu jari kiri berputar dalam
genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya,
8. Petugas menggosokan dengan memutar ujung jari-jari
tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya,
9. Petugas membilas kedua tangan dengan air,
10. Petugas mengeringkan dengan handuk bersih sampai
benar-benar kering
5. Diagram Alir
Basuh tangan dengan air

Tuangkan sabun secukupnya


Ratakan dengan kedua telapak tangan

Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan


kanan dan sebaiknya

Gosok kedua telapak dan sela-sela jari

Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci

Gosok ibu jari kiri berputar daam genggaman tangan kanan


dan lakukan sebaliknya

Bilas kedua tangan dengan air

Keringkan dengan handuk bersih sampai benar-benar kering

6. Referensi Skills Lab Progran A Semester 1 PSIK F.K. UGM Thn 2006
7. Dokumen Terkait
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, poli anak, poli gigi, laboratorium, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan


MEMBUAT SURAT RUJUKAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat membuat surat rujukan dengan benar dan
sesuai prosedur.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Cara untuk membuat rujukan dengan menggunakan blangko
rujukan

4. Prosedur 1. Petugas mengisi blangko yang sudah disediakan (Askes/


Jamkesmas/ Umum),
2. Petugas mencatat dalam buku kendali rujukan Askes/
Jamkesmas/ Umum,
3. Petugas memberikan nomer Rujukan meliputi No. Urut/
Bulan/ Tahun,
4. Petugas menyerahkan blangko rujukan yang sudah di isi ke
pasien.
5. Diagram Alir
Mengisi blangko yang sudah disediakan
(Askes/Jamkesmas/Umum )

Mencatat dalam buku kendali rujukan


Askes/Jamkesmas/Umum

Memberikan nomer Rujukan meliputi No.


Urut/Bulan/Tahun

Mempersilahkan pasien untuk meminta


stempel Puskesmas di Ruang Kasir

6. Referensi Kesepakatan bersama Puskesmas watumalang


7. Dokumen Terkait Catatan Medik
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, poli anak, poli gigi, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


SURAT KETERANGAN DOKTER
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat membuat surat keterangan dokter sesuai


dengan prosedur.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan.
3. Definisi Membuat surat keterangan dokter adalah cara untuk memberikan
informasi tentang hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dokter
dalam sebuah lembar kertas, sebagai bukti keterangan pemeriksaan
dari dokter.
4. Prosedur 1. Petugas menyiapkan blangko surat keterangan dokter,
2. Petugas mengisi blangko surat keterangan dokter yang
disediakan sesuai dengan hasil anamnesa dan pemeriksaan
fisik,
3. Petugas mencatat dalam buku kendali surat keterangan dokter,
4. Petugas memberikan nomor surat keterangan dokter, yaitu
nomor urut/SKBS/Pusk.Prg/ Tahun
5. Diagram Alir
Petugas menyiapkan
blangko surat
keterangan dokter

Petugas mengisi blangko


sesuai anamnesa dan
pemeriksaan fisik

Petugas mencatat pada


buku kendali
Petugas memberi
nomor sesuai ketentuan

6. Referensi Modul CBT Perawat Puskesmas


7. Dokumen Terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli umum

9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang Dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
ANAMNESA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pelaksanaan anamnesa dapat terlaksana dengan baik,


sehingga semua info medis dari pasien dapat di identifikasi secara
lengkap.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Anamnesa adalah cara mendapatkan informasi dari pasien dengan
cara wawancara
4. Prosedur 1. Pasien datang ke ruang pemeriksaan,
2. Petugas mengucapkan salam,
3. Petugas melakukan anamnesa dengan sikap yang baik,
4. Petugas menanyakan identitas pasien,
5. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan nama dalam
Rekam Medis,
6. Petugas menanyakan keluhan utama pasien,
7. Petugas menayakan riwayat penyakit sekarang,
8. Petugas menanyakan riwayat penyakit terdahulu,
9. Petugas menanyakan hal-hal lain sesuai penyakitnya,
10. Petugas mencatat hasil anamnesis dalam Rekam Medis.
5. Diagram Alir
Pasien datang ke ruang pemeriksaan

Petugas mengucapkan salam


Petugas melakukan anamnesa dengan sikap yang baik,
tentang :

1. identitas pasien
2. mencocokkan identitas pasien dengan nama dalam
Rekam Medis,
3. keluhan utama pasien
4. riwayat penyakit sekarang
5. riwayat penyakit terdahulu
6. hal-hal lain sesuai penyakitnya

Petugas mencatat hasil anamnesis dalam Rekam Medis

6. Referensi Diagnosa Fisik I dan II


7. Dokumen terkait 1. Register
2. Rekam Medik
8. Distribusi Poli umum, poli ibu, poli anak, poli gigi dan UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
INJEKSI INTRAMUSKULER
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat melakukan injeksi intramuskuler dengan


tepat dan benar.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja


Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Injeksi Intramuskuler adalah pemberian obat dengan cara
memasukkan obat kedalam jaringan otot dengan
menggunakan spuit.
4. Prosedur 1. Petugas menyiapkan obat,
2. Petugas mengidentifikasi klien,
3. Petugas memberitahu klien dan menjelaskan prosedur
4. Petugas mengatur klien pada posisi yang nyaman,
5. Petugas memilih area penusukan,
6. Petugas membersihkan area penusukan dengan kapas
alkohol,
7. Petugas memegang kapas alkohol pada jari tangan non
dominan,
8. Petugas membuka tutup jarum,
9. Petugas menarik kulit kebawah kurang lebih 2,5 cm
dibawah area penusukan dengan tangan non dominan,
10. Petugas memasukan ujung jarum secara cepat dengan
sudut 90° dengan tangan dominan, memasukan sampai
jaringan otot
11. Petugas menahan barel dengan tangan non dominan dan
tangan dominan menarik plunger,
12. Petugas mengobservasi adanya darah pada spuit,
13. Petugas memasukan obat pelan – pelan jika tidak ada
darah,
14. Petugas mencabut jarum sesuai sudut memasukkannya
sambil melakukan penekanan dengan menggunakan kapas
alkohol pada area penusukan,
15. Petugas menekan dengan kasa jika terjadi perdarahan, tekan
sampai perdarahan berhenti,
16. Petugas mengembalikan posisi klien,
17. Petugas membuang peralatan yang sudah tidak terpakai
sesuai tempatnya,
18. Petugas mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun,
19. Petugas mendokumentasikan kegiatan,
20. Petugas mengkaji kembali klien setelah di injeksi.

5. Diagram Alir
Menyiapkan obat

Mengidentifikasi klien

Memberitahu klien dan


menjelaskan prosedur

Mengatur klien pada posisi yang


nyaman

Memilih area penususkan

Membersihkan area penusukan


dengan kapas alkohol

Memegang kapas alkohol pada


jari tangan non dominan

Membuka tutup jarum

Menarik kulit kebawah kurang


lebih 2,5 cm dibawah area
penusukan dengan tangan non
dominan

Memasukan ujung jarum secara


cepat dengan sudut 90o dengan
tangan dominan,memasukan
sampai jaringan otot

Menahan barel dengan tangan


non dominan dan tangan
dominan menarik plunger

Mengobservasi adanya darah


pada spuit

Memasukan obat pelan - pelan


jika tidak ada darah

Mencabut jarum sesuai sudut


memasukannya sambil
melakukan penekanan dengan
menggunakan kapas alkohol
pada area penusukan

Menekan dengan kasa jika


terjadi perdarahan sampai
perdarahan terhenti

Mengembalikan posisi klien

Membuang peralatan yang


sudah tidak terpakai

Mencuci tangan

Mendokumentasikan

Mengkaji kembali klien setelah


diinjeksi

6. Referensi Skills Lab Keperawatan


7. Dokumen terkait
8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, UGD, Poli KB, imunisasi
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


INJEKSI INTRADERMAL
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat melakukan injeksi intradermal dengan


tepat dan benar.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja
Pariangan nomor : 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang
Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan
Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Injeksi intradermal adalah Tindakan pemberikan obat dengan
cara memasukan obat kedalam jaringan dermis di bawah
epidermis dengan menggunakan spuit.
4. Prosedur 1. Petugas mempersiapkan alat,
2. Petugas memberitahu pasien dan atur posisi yang
nyaman,
3. Petugas menyiapkan area yang akan di injeksi,
4. Petugas memegang erat lengan pasien dengan tangan kiri
anda dan tangan kanan memegang spuit ke arah lengan
pasien,
5. Petugas memasukan spuit dengan sudut 10 - 15° pada
epidermis kemudian diteruskan sampai dermis lalu
dorong cairan obat. Obat ini akan menimbulkan tonjolan
di bawah permukaan kulit,
6. Petugas mencabut spuit, usap pelan-pelan area
penyuntikan dengan kapas alkohol tanpa memberi
massage,
7. Petugas mengatur posisi pasien yang nyaman,
8. Petugas membereskan peralatan dan mencatat tindakan
secara singkat,
9. Petugas membereskan peralatan dan mencatat tindakan
secara singkat,
10. Petugas mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun

5. Diagram Alir
Memberitahu pasien dan atur posisi
yang nyaman

Menyiapkan yang akan di injeksi

Memegang erat lengan pasien


dengan tangan kiri anda dan tangan
kanan memegang spuit ke arah
lengan pasien

Memasukan spuit dengan sudut


15° pada epidermis kemudian
diteruskan sampai dermis lalu
dorong cairan obat. Obat ini akan
menimbulkan tonjolan di bawah
permukaan kulit

Mencabut spuit, usap pelan-pelan


area penyuntikan dengan kapas
alkohol tanpa memberi massage

Mengatur posisi pasien yang


nyaman

Membereskan peralatan dan


mencatat tindakan secara singkat

Mencuci tangan

6. Referensi Skills Lab Keperawatan


7. Dokumen Terkait
8. Distribusi UGD , poli KB
9. Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


HYPERURICEMIA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis Hyperuricemia dan melakukan


pengobatan dan penyuluhan untuk pencegahan hyperuricemia

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Hyperuricemia adalah kondisi kadar asam urat dalam darah melebih normal yaitu
lebih dari 7,0 mg/dl , terjadi karena meningkatnya produksi ataupun menurunnya
pembuangan asam urat atau kombinasi keduanya.

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien.


2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien mengeluhkan gejala
keluhan bengkak dan nyeri sendi yang mendadak biasanya malam hari ,
bengkak disertai rasa panas dan kemerahan.
4. Petugas menanyakan pada pasien apakah terdapat keluhan lain seperti demam,
nyeri badan
5. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
6. Petugas melakukan pemeriksaan nadi
7. Petugas melakukan pemeriksaan suhu
8. Petugas melakukan pemeriksaan fisik termasuk ekstremitas atas dan bawah
termasuk jari.
9. Bila diperlukan petugas membuat permintaan pemeriksaan asam urat ke
laboratorium.
10. Petugas menyerahkan surat permintaan kepada pasien untuk selanjutnya pasien
ke laboratorium
11. Petugas menerima hasil laboratorium dari pasien
12. Petugas membaca hasil laboratorium dan menegakan diagnose berdasarkan hasil
lab dan anamnesis, yaitu: kadar asam urat > 7,0 mg/dl
13. Petugas memberikan penatalaksanaan awal Hyperuricemia berupa terapi gizi
medis (TGM) dan latihan jasmani selama 2 – 4 minggu. Penatalaksanaan
 Allopurinol 2 x 100 mg
 Kortiko steroid bila diperlukan
 Modifikasi gaya hidup
14. Petugas mengedukasi pasien tentang penyakit Hyperuricemia, perlunya
pengendalian dan pemantauan asam urat, penyulit hyperuricemia dan resikonya
serta bagaimana mengatasi sementara keadaan gawat darurat akibat
hyperuricemia .
15. Petugas mengedukasi pasien tentang terapi gizi medis (TGM) makanan yang
seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah
makanan.
16. Petugas mengedukasi pasien tentan latihan jasmani secara teratur 3 – 4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit.
17. Petugas menulis resep.
18. Petugas menyerahkan resep kepada pasien
19. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose dan terapi
kedalam rekam medic pasien
20. Petugas menandatangani rekam medic
21. Petugas menulis diagnose ke buku rgister rawat jalan komputer P-care bagi
pasien BPJS
5. Diagram Alir
melakukan melakukan pemeriksaan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada fisik meliput TD, nadi,
pasien tentang ekstremitas atas dan bawah
keluhan bengkak
dan nyeri sendi

Menerima hasil Pasien ke laboratorium membuat rujukan pasien


laboratorium dari untuk pemeriksaan untuk pemeriksaan asam
pasien gula darah urat

Petugas menegakkan Petugas menyerahkan resep


diagnosa berdasarkan kepada pasien
mengedukasi pasien
anamnesa dan hasil
laboratorium dan menulis resep

menulis diagnose ke buku menulis hasil


register rawat jalan dan P- pemeriksaan fisik,
care laboratorium,diagnose
dan terapi kedalam
rekam medic pasien

6. Referensi
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
7. Dokumen Terkait
Catatan medik, blanko rujukan, buku register, blanko resep, komputer P-care
8. Distribusi
Poli umum, laboratorium, apotik, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
HEMORROID
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
hemorroid
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Hemorroid adalah pelebaran vena-vena dalam pleksus hemorroidalis
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada perdarahan
waktu defekasi, darah menetes dari anus setelah defekasi, apakah ada massa di
anus
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada keluhan lain yaitu keluarnya lendir
dari anus, gejala anemia (pusing, lemah, pucat, dll)
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas memeriksa tanda anemia, status lokalis yaitu pada daerah anus
9. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
10.Petugas menginstruksikan pasien untuk tidak mengkomsumsi makanan yang
pedas, merangsang dan banyak makan makanan yang berserat, minum air
sebanyak 6-8 gelas sehari
11.Petugas menulis resep untuk pengobatan simptomatis berupa
Pemberian anti hemorroid
Pemberian anti anemia ; sulfas ferossus bila ada anemia
Pemberian pencahar bila terjadi konstipasi
12.Bila ada infeksi sekunder berikan antibiotik
Amoxycillin 3 x 500 mg
13.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
14.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care
5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien
menginstruksikan
menulis resep untuk pasien untuk istirahat
pengobatan menegakan
dan banyak minum
simptomatis berupa diagnose
berdasarkan hasil
pemeriksaan

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medic, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, apotik, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
GASTRITIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
gastritis
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Gastritis adalah proses inflamasi/peradangan pada lapisan mukosa dan submukosa
lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri
atau bahan iritan lainnya
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada rasa nyeri
dan panas seperti terbakar pada perut bagian atas
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada keluhan lain yaitu mual, muntah dan
kembung bila makan
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
9. Petugas menginstruksikan pasien untuk tidak mengkomsumsi makanan yang
pedas, merangsang , tidak minum kopi dan banyak makan makanan yang berserat,
minum air sebanyak 6-8 gelas sehari
10.Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Ranitidin 2x150 mg atau
 Omeprazole 1x20 mg serta
 Antasida 3x500 mg
 Thiamin 2x10 mg atau metoclopramid 2x10 mg bila disertai mual
11.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
12.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care
5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien
menginstruksikan
menulis resep untuk pasien untuktidak
pengobatan menegakan
mengkonsumsi
simptomatis diagnose
makanan yang
berdasarkan hasil
merangsang lambung
pemeriksaan
dan banyak minum

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medic, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, Apotik, UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
DEMAM DENGUE DAN DEMAM
BERDARAH DENGUE
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
demam dengue dan demam berdarah dengue
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Demam Dengue dan demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue
Tanda patognomonik Demam Dengue
 Suhu > 37,5
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed test (+)
Tanda patognomonik Demam Berdarah Dengue
 Suhu > 37,5
 Ptekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa
 Rumple Leed test (+)
 Hepatomegali
 Splenomegali
 Hematemesis atau melena
Kriteria WHO untuk DBD
1) Demam 2-7 hari akut
2) Terdapat 1 manifestasi perdarahan ( Rumple Leed (+), ptekie, ekimosis,
purpura, perdarahan mukosa, hematemesis atau melena)
3) Trobositopenia
4) Terdapat tanda kebocoran plasma yaitu peningkatan hematokrit . 20%,
efusi pleura, asites atau hipoproteinemia
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada rasa nyeri
dan panas seperti terbakar pada perut bagian atas
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada keluhan lain yaitu mual, muntah dan
kembung bila makan
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
9. Petugas menginstruksikan pasien untuk minum air sebanyak 6-8 gelas sehari,
modifikasi gaya hidup, melaksanakan 3M plus
10.Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Parasetamol 3x500 mh
 Thiamin 2x10 mg atau metoclopramid 2x10 mg bila disertai mual
11.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
12.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care
5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien

menginstruksikan
menulis resep untuk pasien banyak minum
pengobatan menegakan
dan modifikasi gaya
simptomatis diagnose
hidup serta
berdasarkan hasil
melaksanakan 3M plus
pemeriksaan

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medic, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, UGD, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PAROTITIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
Parotitis
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Parotitis adalah peradangan yang terjadi pada kelenjar saliva atau yang lebih dikenal
dengan kelenjar parotis .
Parotitis viral paling sering terjadi pada anak-anak.
Keluhan parotitis sebagai berikut :
 Demam
 Pembengkakan pada kelenjar parotis mulai dari depan telinga hingga
rahang bawah
 Nyeri terutama saat mengunyah makanan dan mulut terasa kering
Pemeriksaan fisik pada parotitis :
 Demam
 Pembengkakan kelenjar parotis
 Eritema pada kulit
 Nyeri tekan di kelenjar parotis
 Terdapat air liur purulen

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien


2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada demam,
nyeri saat mengunyah , bengkak di depan telinga
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada keluhan lain yaitu mulut terasa
kering
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah pada dewasa
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
9. Petugas menginstruksikan pasien untuk minum air sebanyak 6-8 gelas sehari,
modifikasi gaya hidup, makan makanan yang lunak
10.Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Parasetamol 3x500 mg untuk dewasa dan untuk anak-anak menyesuaikan
dengan umur dan berat badan
 Amoksisilin 3x500 mg untuk dewasa dan anak-anak menyesuaikan dengan
umur dan berat badan
11.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
12.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care bagi
pasien BPJS
5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien

menginstruksikan
menulis resep untuk pasien banyak minum
pengobatan menegakan
dan modifikasi gaya
simptomatis diagnose
hidup serta makan
berdasarkan hasil
makanan lunak
pemeriksaan

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medik, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
HORDEOLUM
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
Hordeolum
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Hordeolum adalah peradanagn supuratif kelenjar kelopak mata .
Gejala utama hordeolum :
 Kelopak mata bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal , merah dan nyeri
bila ditekan
 Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada bengkak
pada kelopak mata disertai rasa sakit dan mengganjal , merah dan nyeri bila
ditekan
3. Petugas menanyakan pada pasien apakah ada keluhan lain yaitu perasaan tidak
nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata
4. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah pada dewasa
5. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
6. Perugas mengukur nadi pasien
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
8. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
9. Petugas menginstruksikan pasien agar mata dikompres hangat 4-6 kali selam 15
menit dan kelopak mata dibersihkan dengan sabun bayi untuk mempercepat
penyembuhan dan dilakukan dengan mata tertutup , hindari pemakaian make up
pada kelopak mata dan jangan memakai kontak lensa dan selalu menjaga
kebersihan mata.
10.Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Terapi topikal : Oxytetrasiklin salf mata setiap 8 jam atau
 Kloramfenikol salf mata setiap 8 jam
 Ertromisin 2x500 mg untuk dewasa dan anak-anak sesuia dengan berat
badan
11.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
12.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care bagi
pasien BPJS
5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien

menginstruksikan
menulis resep untuk pasien untuk menjaga
pengobatan menegakan
kebersihan mata ,
simptomatis diagnose
mengkompres hangat
berdasarkan hasil
mata dan
pemeriksaan
membersihkan kelopak
mata

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medik, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
KONJUNGTIVITIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
Konjungtivitis
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Konjungtivitis adalah radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh
mikroorganisme, iritasi atau reaksi alergi dan menyerang semua umur.
Gejala utamakonjungtivitis :
 Mata merah, rasa mengganjal, gatal dan berair kadang disertai oleh sekret.
 Tanpa disertai penurunan tajam penglihatan
Pemeriksaan fisik :
 Tajam penglihatan normal
 Infeksi konjungtiva
 Dapat disertai edema kelopak mata, kemosis
 Eksudasi ; eksudat dapat serous, mukopurulen atau purulen tergantung
penyebab
 Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan folikel, papil atau papil raksasa,
flikten, membran atau pseudomembran

4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien


2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada mata merah,
rasa mengganjal, gatal dan berair serta apakah disertai oleh sekret
3. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah pada dewasa
4. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
5. Perugas mengukur nadi pasien
6. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
7. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
8. Petugas menginstruksikan pasien jangan memakai kontak lensa dan selalu
menjaga kebersihan mata serta tidak menyentuh mata yang sehat sesudah
menangani mata yang sakit
9. Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Terapi topikal : Kloramfenikol salf mata setiap 8 jam
 Ertromisin 2x500 mg untuk dewasa dan anak-anak sesuia dengan berat
badan atau Amoksisilin 3x500mg dan anak sesuai dengan berat badan
10.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
11.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care bagi
pasien BPJS

5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien

menginstruksikan
menulis resep untuk pasien untuk menjaga
pengobatan menegakan
kebersihan mata , dan
simptomatis diagnose
tidak memakai kontak
berdasarkan hasil
lensa
pemeriksaan

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medik, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
OTITIS EKSTERNA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan
Agar petugas dapat memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
Otitis eksterna
2. Kebijakan
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi
Otitis Eksterna adalah radang liang telingan akut maupun kronis disebabkan oleh
infeksi bakteri, jamur dan virus.
Gejala utama otitis eksterna :
 Rasa sakit pada telinga dapat berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan
penuh di dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang
hebat serta berdenyut, terutama bila daun telinga disentuh dan waktu
mengunyah
 Tapi pada pasien otomikosis keluhannya rasa gatal yang hebat dan rasa
penuh pada liang telinga
Pemeriksaan fisik :
 Nyeri tekan pada tragus
 Nyeri tarik daun telinga
 KGB regional dapat membesar dan nyeri
 Pada liang telinga
 OE sirkumskripta terdapat furunkel/bisul serta liang telinga sempit
 OE diffusa, liang telinga sempit, kulit liang telinga terlihat
hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas serta sekret sedikit
 Otomikosis terlihat jamur seperti serabut kapas dengan warna
yang bervariasi
 Herpes zoster otikus tampak lesi kulit vesikujler di sekitar liang
telinga
 Pada pemeriksaan penala kadang didapatkan tuli konduktif
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nama pasien
2. Petugas melakukan anamnesa/keluhan utama pada pasien apakah ada rasa sakit
pada telinga bila daun telinga disentuh , rasa penuh di liang telinga
3. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah pada dewasa
4. Petugas mengukur suhu tubuh pasien
5. Perugas mengukur nadi pasien
6. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien.
7. Petugas menegakan diagnose berdasarkan hasil pemeriksa
8. Petugas menginstruksikan pasien jangan memakai kontak lensa dan selalu
menjaga kebersihan mata serta tidak menyentuh mata yang sehat sesudah
menangani mata yang sakit
9. Petugas menulis resep untuk pengobatan berupa
 Terapi topikal : Kloramfenikol salf mata setiap 8 jam
 Ertromisin 2x500 mg untuk dewasa dan anak-anak sesuia dengan berat
badan atau Amoksisilin 3x500mg dan anak sesuai dengan berat badan
10.Petugas menulis hasi pemeriksaan, diagnose dan terapi pada rekam medic pasien
11.Petugas menulis hasil diagnose pada buku register dan komputer P-care bagi
pasien BPJS

5. Diagram Alir
melakukan melakukan
memanggil pasien
sesuai nama anamnesa pada pemeriksaan fisik
pasien

menginstruksikan
menulis resep untuk pasien untuk menjaga
pengobatan menegakan
kebersihan mata , dan
simptomatis diagnose
tidak memakai kontak
berdasarkan hasil
lensa
pemeriksaan

menulis hasil anamnesa,


pemeriksaan dan menulis diagnose
menyerahkan
diagnose ke rekam pasien ke buku
resep ke pasien
medic register dan P-care

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

7. Dokumen Terkait Rekam medik, register, blanko resep, komputer P-care

8. Distribusi Poli umum, poli anak, Apotik

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PERSIAPAN MERUJUK
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

Sebagai pedoman bagi pelanggan untuk mempermudah


1. Tujuan
dan mempercepat proses pelayanan di puskesmas.
Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
2. Kebijakan 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
Adalah persiapan pengiriman pelanggan ke fasiiitas
3. Definisi
yang lebih Iengkap.

1. Dokter memberi penjelasan alasan pelanggan dirujuk pada


pelanggan / keluarga pelanggan
2. Perawat menjelaskan kembali pada pelanggan / keluarga tentang
rencana tersebut ( biaya dan transportasi )
3. Perawat memberikan informasi pilihan rumah sakit tujuan.
4. Perawat memotivasi pelanggan / keluarga segera memberi
keputusan rencana rujukan tersebut.
4. Prosedur 5. Pemeriksa mengisi lembar rujukan / penolakan rujukan.
6. Pemeriksa menanyakan ketersediaan tempat pada Rumah Sakit
tujuan (menerima / menolak ).
7. Pemeriksa memberitahu pelanggan untuk memilih Rumah Sakit
Iain jika Rumah Sakit tujuan penuh.
8. Pemeriksa memberi alternatif Rumah Sakit lain.
9. Pemeriksa mengkoordinasi dengan petugas Ambulance tentang
tempat rujukan pelanggan.

5. Diagram Alir

Perawat memotivasi
Perawat menjelaskan pelanggan /
Dokter memberi penjelasan Perawat memberikan keluarga segera
kembali pada pelanggan /
alasan pelanggan dirujuk informasi pilihan memberi keputusan
keluarga tentang rencana
pada pelanggan / keluarga rumah sakit tujuan. rencana rujukan
tersebut ( biaya dan
pelanggan tersebut.
transportasi )
Pemeriksa memberitahu
Pemeriksa
Pemeriksa memberi pelanggan untuk memilih
menanyakan
alternatif Rumah Sakit Rumah Sakit Iain jika Pemeriksa mengisi
ketersediaan tempat
lain.menolak ). Rumah Sakit tujuan lembar rukan /
pada Rumah Sakit
penuh. penolakan rujukan.
tujuan ( menerima /
menolak ).
menolak ).

Pemeriksa mengkoordinasi dengan


petugas Ambulance tentang tempat
rujukan pelanggan.

6. Refrensi Kesepakatan Bersama


7. Dokumen Terkait 1. Rekam medic
8. Distribusi Semua unit

9. Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tanggal mulai berlaku


TRIASE
No. Dokumen :7.2.3.82

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit : Januari 2016

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan menentukan prioritas tindakan penanganan pasien sesuai


dengan tingkat kegawatan pasien .
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor
: 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi 1. Triase adalah memilah – milah korban sesuai dengan tingkat


kegawatannya untuk menentukan prioritas tindakan.
2. Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya mendadak
mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan /
pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan
cepat. Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka
korban akan mati atau cacat / kehilangan anggota tubuhnya seumur
hidup.
3. Keadaan darurat adalah keadaan yang terjadinya mendadak, sewaktu-
waktu / kapan saja, terjadi dimana saja, dan dapat menyangkut siapa
saja sebagai akibat dari suatu kecelakaan, suatu proses medik atau
perjalanan suatu penyakit.
4. Prosedur 1. Penderita datang diterima petugas / paramedis UGD,
2. Diruang triase dilakukan anamneses,
3. Penderita diperiksa dengan singkat,
4. Penderita diperiksa dengan cepat(selintas) untuk menentukan derajat
kegawatannya. Oleh dokter/paramedis yang terlatih,
5. in form concern (penandatangan persetujuan tindakan) oleh keluarga
pasien.
6. Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan memberi kode
warna :
a. hijau adalah warna untuk penderita tidak gawat dan tidak darurat.
Misalnya : Penderita Common Cold, gastritis, abses
b. Kuning adalah warna untuk penderita yang darurat tidak gawat dan
gawat tidak darurat, Misalnya : luka sayat dangkal
c. Merah adalah warna untuk penderita gawat darurat (pasien dengan
kondisi mengancam). Misalnya : Fraktur terbuka, trauma kepala,
Penderita stroke trombosis, luka bakar, Appendic acuta , CVA,
AMI, asma bronchial dll
d. Hitam adalah warna untuk penderita yang telah meninggal dunia
7. Penderita mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna :
merah, kuning, hijau, hitam
8. Pada waktu jam kerja penderita dengan warna kuning dikirim ke BP /
rawat jalan Unit terkait Poliklinik, Ruang perawatan,
9. Petugas mendokumentasikan identitas pasien,hasil
pemeriksaan,tindakan yang telah dilakukan,evaluasi tindakan,
10. Petugas merencanaan tindakan selanjutnya.
5. Diagram Alir
Penderita datang diterima Diruang dilakukan
petugas UGD anamnesa

Menentukan derajat
kegawatan oleh Penderita diperiksa
petugas dgn singkat

Membedakan kegawan
Inform concent dgn memberi kode
warna

Pada jam kerja penderita Penderita mendapatkan


warna hijau dikirim prioritas dari warna
keBP/poli merah-hijau

Petugas
Petugas mendekumentasikan merencanakan
dan evaluasi tindakan tindakan selanjutnya
6. Referensi

7. Dokumen

8. Distribusi UGD

9. Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tanggal mulai berlaku


RUJUKAN PASIEN EMERGENCY
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pelaksanaan rujukan pasien emergency yang tidak bisa ditangani di
puskesmas dapat segera dirujuk untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Rujukan pasien emergency adalah suatu proses penanganan pasien gawat
dengan mengirimkan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
tinggi karena pasien tidak mampu ditangani di fasilitas kesehatan saat ini
dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku yaitu dengan menstabilkan
pasien terlebih dahulu.
4. Prosedur 1. Petugas IGD menerima pasien
2. Petugas memeriksa kesadaran pasien (GCS)
3. Apabila sadar petugas menganamnesa pasien,apabila tidak sadar
langsung alloanamnesa terhadap keluarga pasen dan cek A (Airway),B
(Breathing),C ( Circulation).
4. Petugas memeriksa vital sign pasien
5. Petugas mengkonsulkan kepada dokter yang jaga
6. Dokter jaga memerksa pasien , melakukan pemeriksaan fisik
7. Dokter menemukan tanda tanda kegawatan
8. Dokter memberian advice kepada petugas IGD untuk menstabilkan
pasien dengan advice pemberian obat obatan emergency dahulu ataupun
alat bantu pernafasan,pemberian cairan infus
9. Dokter menyampaikan informed consent tentang kondisi pasien kepada
keluarga pasien dan menyampaikan kalau pasien perlu dirujuk ke rumah
sakit karena kondisi pasien yang gawat ,perlu penanganan segera.
10. Dokter memberikan form informed consent untuk ditanda tangani
keluarga pasien tentang persetujuan rujuk dan dilakukan tindakan medis
11. Dokter membuatkan surat rujukan
12. Sambil menunggu pasien stabil, petugas IGD memberitahukan kepada
petugas ambulance untuk menyiapkan ambulance
13. Petugas IGD menelepon RS rujukan menanyakan apakah ada tempat
kosong untuk pasien tersebut untuk dikirim ke RS tersebut.
14. Petugas IGD dengan membawa perlengkapan emergency merujuk
pasien dengan ambulance ke rumah sakit rujukan
5. Diagram Alir
Pasien datang Petugas
memeriksa GCS
pasien

Lapoe dokter , dokter


memeriksa pasien dan Petugas cek ABC
temukan tanda kegawatan dan vital sign

Advice dokter untuk


stabilkan pasien pada Dokter
petugas menyampaikan
inform concent

Petugas IGD
Dokter membuat
menelpon RS rujukan
surat rujukan

Pasien dirujuk ke RS
rujukan

6. Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter 2014


7. Dokumen terkait 1. Rekam medis
2. Buku catatan register pasien
3. Form rujukan pasien
4. Form informed consent
8. Distribusi Pendaftaran, IGD
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PEMBENTUKAN TIM INTERPROFESI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar mampu melakukan kajian jika diperlukan penanganan secara tim
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pembentukan tim interprofesi adalah suatu proses dalam pembentukan tim
yang berisi petugas kesehatan yang profesional untuk melakukan kajian bila
diperlukan penanganan secara tim
4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas mengidentifikasi kebutuhan pembentukan tim
interprofesi
2. Kepala Puskesmas merencanakan pertemuan untuk membentuk tim
interprofesi
3. Kepala Puskesmas meminta kepada Ka. TU untuk mengundang masing-
masing koordinator program dalam pertemuan pembentukan tim
interprofesi
4. Koordinator menghadiri pertemuan pembentukan tim interprofesi
5. Kepala Puskesmas dan peserta pertemuan menganalisa kompetensi
masing masing petugas klinis
6. Kepala Puskesmas dan peserta pertemuan menentukan susunan tim
interprofesi
7. Notulis mendokumentasikan hasil pertemuan
8. Kepala Puskesmas meminta kepada Ka. TU untuk membuat undangan
untuk anggota tim interprofesi yang sudah dibentuk
9. Kepala Puskesmas dan tim interprofesi menghadir pertemuan
10. Kepala Puskesmas mensosialisasikan mengenai susunan tim interprofesi
11. Ketua tim memimpin pertemuan untuk membahas tugas dari tim
interprofesi
12. Petugas melakukan kajian jika dibutuhkan secara penanganan secara
team
13. Petugas melakukan inventarisir kasus – kasus yang dibutuhkan
penengennan secara tim
14. Petugas melakukan inventarisir petugas professional yang masuk dalam
team
15. Ketua tim membagi tugas masing-masing anggota
16. Tim mendokumentasikan hasil pertemuan
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen 1. Susunan tim interprofesi
Terkait
2. Notulen rapat pembentukan tim interprofesi
3. Daftar kompetensi petugas

8. Distribusi Pendaftaran, poli umum, poli gigi, poli kia, poli ibu, IGD, apotik dan
laboratorium

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENDELEGASIAN WEWENANG
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar proses pelayanan terhadap pasien tidak terhambat meskipun


petugas yang berwenang tidak bisa melaksanakan tupoksinya dan bisa
dilaksanakan oleh petugas yang diberi wewenang.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor : 28 /SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Pendelegasian
wewenang di UPT Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pendelegasian wewenang adalah suatu proses penyerahan
kewenangan tugas kepada petugas yang kompetensinya tidak sesuai
dengan kewenangan tugas pemberi wewenang
4. Prosedur 1. Dokter mengidentifikasi kebutuhan untuk pendelegasian
wewenang
2. Dokter menganalisa kompetensi petugas yang akan diserahi
wewenang
3. Dokter membuat daftar petugas yang bisa diserahi wewenang
4. Dokter merencanakan jenis kompetensi apa saja yang bisa
didelegasikan kepada petugas
5. Dokter membuat surat pernyataan pendelegasian wewenang yang
didalamnya berisi juga mengenai nama petugas dan jenis
kompetensi yang didelegasikan
6. Dokter menandatangani surat pendelegasian wewenang
7. Dokter menyerahkan surat pernyataan pendelegasian wewenang
kepada kepala puskesmas untuk diketahui Kepala Puskesmas,
8. Dokter mensosialisasikan pendelegasian wewenang kepada
petugas yang diserahi wewenang
9. Petugas yang diserahi wewenang menerima tugas yang diberikan
10. Petugas melaksanakan kompetensi sesuai yang didelegasikan
11. Petugas melaporkan via telepon ataupun lisan kepada dokter
sebagai pemberi wewenang
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen 1. Surat pernyataan pendelegasian wewenang
Terkait 2. Laporan hasil pendelegasian wewenang
3. Daftar kompetensi petugas puskesmas

8. Distribusi Pendaftaran,poli umum,poli gigi,poli kia,IGD,kamar


obat,laboratorium

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PEMELIHARAAN PERALATAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

7. 1. Tujuan 1. Alat selalu dalam keadaan terpelihara


2. Mencegah peralatan cepat rusak
3. Memperpanjang masa pemakaian alat
4. Menyiapkan peralatan alat medik dalam keadaan siap pakai
8. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
9. 3. Definisi 1. Pemeliharaan alat adalah kegiatan melaksanakan pemeliharaan
peralatan medis dengan cara membersihkan, mensterilkan serta
menyimpannya.
2. Peralatan medis dibagi sesuai dengan jenis bahannya:
- Peralatan dari logam
- Peralatan dari karet
3. Pemeliharaan alat dilakukan oleh petugas setiap selesai melakukan
tindakan
27. 4. Prosedur 1. Petugas membereskan alat – alat medis setelah digunakan,
2. Petugas memisahkan alat – alat medis sesuai dengan bahan dan
perlu tidaknya disterilkan,
3. Petugas merendam alat – alat medis di dalam klorin 0,5% selama
15 menit,
4. Petugas mencuci alat – alat medis yang sudah direndam dalam air
mengalir,
5. Petugas mengeringkan alat – alat yang sudah dicuci hingga benar –
baenar kering,
6. Petugas menyimpan alat – alat yang tidak perlu disterilakn pada
tempatnya masing – masing
7. Petugas mensterilkan alat – alat yang harus disterilkan ke dalam
sterilisator selama 60 menit,
8. Petugas mengambil alat – alat yang sudah disterilkan dengan
korentang yang direndam dalam alcohol 70%,
9. Petugas meletakkan alat – alat yang sudah disterilkan dalam bak
instrument (set alat),
10. Petugas menyimpan alat dalam lemari yang sudah disiapkan,
11. Petugas mendokumentasikan kegiatan.
28. 5. Diagram Alir
29. 6. Referensi
30. 7. Dokumen Terkait
1. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Anak, Poli Ibu, Poli Gigi, IGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


STERILISASI ALAT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

31. 1. Tujuan Sebagai pedoman untuk melakukan sterilisasi alat di UPT Puskesmas
Pariangan
32. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan.

33. 3. Definisi Sterilisasi alat adalah Suatu tindakan untuk membunuh kuman patogen dan
apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran.
34. 4. Prosedur 1. Petugas mencuci tangan dan menggunakan handscoon,
2. Petugas mengidentifikasi alat yang akan disterilisasi,
3. Petugas membilas alat – alat yang akan dsterilkan dengan air
mengalir supaya kotoran yang melekat dapat lepas,
4. Petugas menyiapkan air klorin 0,5% di dalam baskom,
5. Petugas merendam alat – alat yang telah dibilas tadi kedalam
baskom yang berisi air klorin 0,5% selama 10 – 15 menit,
6. Petugas mencuci alat – alat yang telah direndam dengan air klorin
0,5% dengan sabun,
7. Petugas membilas alat – alat tersebut dengan air mengalir,
8. Petugas mengeringkan alat – alat dengan handuk kering,
9. Petugas melepas handscoon dan menncuci tangan,
10. Petugas membuka pintu sterilisator,
11. Petugas memasukkan alat – alat yang telah kering ke dalam
sterilisator,
12. Petugas menutup pintu sterilisator,
13. Petugas menyambungkan kabel sterilisator ke stop kontak,
14. Petugas menekan tombol power
15. Petugas menunggu hingga 60 menit
16. Petugas mematikan sterilisator dengan memencet tombol power
17. Petugas menunggu sekitar 10 menit supaya panas di dalam
sterilisator menurun,
18. Petugas membuka pintu sterilisator,
19. Petugas mengambil alat – alat yang ada di dalam sterilisator dengan
korentang yang telah direndam dalam alcohol 70%,
20. Petugas meletakkan alat – alat yang telah steril di dalam bak
instrument yang telah steril,
21. Petugas menutup pintu sterilisator,
22. Petugas menyimpan bak instrument steril yang berisi alat – alat
steril di tempat yang tertutup,
23. Petugas mendokumentasikan kegiatan
35. 5. Diagram Alir

36. 6. Referensi Cara Sterilisasi alat Kedokteran.

37. 7. Dokumen Terkait Buku harian kegiatan

38. 8. Distribusi Poli Umum, Poli KB, Poli Gigi, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


PEMELIHARAAN SARANA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan 1. Agar sarana (gedung) tetap terpelihara dan tidak cepat rusak
2. Untuk menjamin keamanan pasien, petugas dan fasilitas yang ada di
dalam Puskesmas

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Pemeliharaan sarana adalah kegiatan menjaga dan membersihkan gedung


agar aman digunakan untuk pemberian pelayanan klinis kepada pasien.
4. Prosedur 1. Petugas pemelihara sarana membuat perencanaan pemeliharaan gedung,
2. Petugas menyampaikan rencana pemeliharaan gedung yang telah disusun
kepada Kepala Puskesmas,
3. Kepala Puskesmas menyetujui perencanaan yang telah disusun,
4. Petugas pemelihara sarana mensosialisasikan pemeliharaan gedung kepada
semua karyawan Pukesmas,
5. Semua karyawan Puskesmas melaksanakan pemeliharaan gedung sesuai
dengan rencana pemeliharaan,
6. Petugas pemelihara sarana gedung melakukan pemantauan keamanan
gedung setiap 6 bulan sekali,
7. Karyawan Puskesmas melaporkan kepada petugas pemelihara sarana jika
ada kerusakan gedung,
8. Petugas pemelihara sarana mencatat laporan kerusakan gedung yang
disampaikan oleh tiap karyawan,
9. Petugas pemelihara sarana melaporkan kepada Kepala Puskesmas tentang
kerusakan gedung yang terjadi,
10. Kepala Puskesmas menindaklanjuti laporan dari petugas pemeliharaan
sarana,
11. Kepala Puskesmas dan petugas pemelihara sarana mendiskusikan
penanganan terhadap kerusakan yang terjadi.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Daftar inventaris

Terkait

8. Distribusi Semua unit

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN
MEDIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pelayanan medis khususnya pengobatan dan terapi yang akan
dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien sesuai dengan
kebutuhan pasien yang bersangkutan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Penyusunan rencana layanan medis adalah kegiatan menyusun terapi atau
pengobatan yang akan dilakukan untuk pasien sesuai dengan masalah
kesehatan yang dihadapi pasien agar pasien menjapatkan pengobatan yang
tepat dan maksimal.
4. Prosedur 1. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien sesuai nama pada rekam medis masuk ke ruang
periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa,
4. Petugas melakukanpemeriksaan fisik,
5. Petugas merumuskan diagnose pasien,
6. Petugas menyusun rencana asuhan pasien sesuai dengan masalah kesehatan
pasien,
7. Petugas berkolaborasi dengan tim kesehatan lain bila pasien membutuhkan
penanganan tim kesehatan lain,
8. Petugas melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana layanan yang telah
disusun,
9. Petugas mengevaluasi segera (formatif) untuk tindakan yang sudah
dilakukan,
10. Petugas menyusun rencana tindak lanjut bila masalah kesehatan pasien
belum teratasi,
11. Petugas mendokumentasikan kegiatan.

5. Diagram Alir

Rekam medis Petugas memanggil


dari petugas pasien sesuai nama
loket pada rekam medis

Kolaborasi dengan nakes Petugas melakukan


lain bila diperlukan anamnesa, PF, Diagnosa
dan rencana terapi serta
rencana asuhan

Melaksanakan tindakan Evaluasi tindakan dan


sesuai dengan rencana menyusun remcana
layanan tindak lanjut

Dokumentasi kegiatan

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis

Terkait

8. Distribusi BP Umum, Poli Gigi, poli Anak, Poli Ibu, IGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN
TERPADU JIKA DIPERLUKAN
PENANGANAN SECARA TEAM
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar petugas mampu memberikan pelayanan yang tepat dan


berkesinambungan sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi pasien
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penyusunan rencana layanan terpadu jika diperlukan penanganan secara
team adalah suatu proses dalam membuat rencana tindakan pelayanan pasien
dengan melibatkan berbagai unit terkait untuk mencapai hasil maksimal
sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi pasien
4. Prosedur 1. Ka TU menerima surat dari Dinas Kesehatan tentang kebijakan
penyusunan rencana layanan terpadu,
2. Ka TU menyampaikan surat tersebut kepada Kepala Puskesmas,
3. Kepala Puskesmas membaca surat tersebut,
4. Kepala Puskesmas menyerahkan kembali surat tersebut kepada Ka TU,
5. Ka TU membuat disposisi,
6. Kepala Puskesmas menyampaikan isi surat tersebut kepada seluruh tim
kesehatan yang ada di Puskesmas sesuai yang dimaksud dalam surat
tersebut,
7. Kepala Puskesmas memberikan tugas pada masing – masing petugas
bidang pelayanan untuk menyusun rencana pelayanan terpadu secara
team,
8. Kepala Puskesmas melakukan penilaian terhadap rencana layanan
terpadu yang telah dibuat oleh masing – masing petugas pelayanan
klinis, apakah sesuai antara rencana layanan dengan kebijakan dan
prosedur,
9. Kepala Puskesmas bersama petugas layanan klinis melakukan tindak
lanjut bila terjadi ketidaksesuaian antara rencana layanan dengan
kebijakan dan prosedur,
10. Kepala Puskesmas mengevaluasi pelaksanaan dan hasil tindak lanjut
sesuai rencana.
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen Kebijakan Kepala Puskesmas tentang penyusunan rencana layanan terpadu
Terkait jika diperlukan penanganan secara tim.
8. Distribusi Pendaftaran, poli umum, poli gigi, poli anak, poli ibu ,IGD, apotik dan
laboratorium

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
EVALUASI KESESUAIAN LAYANAN
KLINIS DENGAN RENCANA TERAPI/
RENCANA ASUHAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pelayanan klinis dilaksanakan sesuai dengan rencana asuhan atau
terapi yang sudah direncanakan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan rencana terapi/ rencana asuhan adalah
suatu proses penilaian pelaksaan layanan klinis, dibandingkan dengan rencana
terapi atau rencana asuhan yang sudah direncanakan.
4. Prosedur 1. Tim evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan rencana terapi/ rencana
asuhan mendiskusikan metode evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan
rencana terapi/ rencana asuhan,
2. Tim evaluasi membuat form evaluasi yang berisi elemen – elemen penilaian,
3. Tim evaluasi membuat jadwal pelaksanaan,
4. Tim evaluasi melakukan pembagian tugas masing – masing anggota,
5. Tim evaluasi melaksanakan evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan
rencana terapi/ rencana asuhan sesuai dengan rencana yang sudah
ditentukan,
6. Anggota tim mengambil sampel rekam medis pasien poli rawat jalan dan 5
rekam medis pasien rawat inap,
7. Anggota tim melakukan penilaian sesuai dengan form evaluasi,
8. Anggota tim menulis hasil penilaian,
9. Ketua tim menyimpulakn hasil evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan
rencana terapi/ rencana asuhan,
10. ketua tim evaluasi membuat laporan kepada Kepala Puskesmas,
11. Kepala Puskesmas menerima laporan dan meminta tim evaluasi untuk
mensosialisasikan hasil evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan rencana
terapi/ rencana asuhan,
12. Tim evaluasi menyampaikan hasil evaluasi kesesuaian layanan klinis dengan
rencana terapi/ rencana asuhan kepada semua petugas pada saat
minilokakarya Puskesmas.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis

Terkait

8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, UGD, Poli Anak, Poli Ibu

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
MELIBATKAN PASIEN DALAM
PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/3

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

10. 1. Tujuan Menangani masalah kesehatan pasien dengan tepat tanpa


mengabaikan kebutuhan biologis, psikologis, social, spiritual dan
memperhatikan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh pasien.
11. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor
: 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

12. 3. Definisi Melibatkan pasien dalam penyusunan rencana layanan adalah kegiatan
mengikutsertakan pasien dalam menentukan tindakan yang akan
dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi pasien
sesuai dengan kebutuhan pasien tersebut
39. 4. Prosedur 1. Petugas pendaftaran menanyakan identitas pasien
2. Petugas pendaftaran menanyakan pelayanan apa yang dibutuhkan
3. Petugas pendaftaran menginformasikan nama petugas yang
sedang piket
4. Petugas pendaftaran mempersilahkan pasien untuk memilih
petugas kesehatan yang akan memberikan pelayanan
5. Petugas pendaftaran menanyakan kesediaan pasien untuk
diperiksa oleh petugas yang ada,
6. Petugas pendaftaran menyerahkan catatan medis pasien kepada
petugas di unit pelayanan yang dituju
7. Petugas menerima catatan medis pasien dari petugas pendaftaran,
8. Petugas mempersilahkan pasien untuk masuk ke ruang
pemeriksaan,
9. Petugas melakukan anamnesa,
10. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
11. Petugas melakukan pemeriksaan penunjang bila diperlukan,
12. Petugas melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk
melakukan pemeriksaan penunjang,
13. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi pada
pasien,
14. Petugas memberikan informasi tentang alternative pengobatan
atau pemecahan masalah kesehatan yang terjadi paad pasien
beserta resiko terhadap tindakan yang akan diambil,
15. Petugas memberikan kesempatan pada pasien untuk memilih
alternative tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi
pasien tanpa mengabaikan factor biopsikososial spiritual dan nilai
– nilai budaya pasien,
16. Petugas memastikan bahwa pasien yakin dengan alternative
layanan atau tindakan yang telah dipilih,
17. Petugas bersama pasien merencanakan tindakan yang akan
dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing - masing pasien,
18. Petugas mempersilahkan pasien untuk memilih petugas yang akan
melakukan tindakan atau layanan kesehatan sesuai kebutuhan
pasien jika memungkinkan.
19. Petugas mempersilahkan pasien manandatangani inform consent
40. 5. Diagram Alir

41. 6. Referensi
42. 7. Dokumen Terkait Rekam medis
2. 8. Distribusi Pendaftaran,poli umum,poli gigi,poli kia,IGD,kamar obat,laboratorium
3.
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


LAYANAN TERPADU
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

13. 1. Tujuan Agar layanan yang dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan
pasien dilaksanakan secara paripurna untuk mencapai hasil yang
diinginkan oleh tenaga kesehatan dan pasien/keluarga pasien
14. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor
: 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
15. 3. Definisi Layanan terpadu adalah layanan kesehatan yang dilakukan untuk
mengatasi masalah kesehatan pasien dengan melibatkan tim
kesehatan secara komprehensif sehingga tercapai hasil yang
diharapkan
43. 4. Prosedur 1. Petugas menerima catatan medis pasien dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa kepada pasien,
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien (psikis bila
perlu),
5. Petugas mengidentifikasi jenis penyakit atau masalah kesehatan
yang dihadapi pasien,
6. Petugas mengidentifikasi jenis penyakit atau masalah kesehatan
pada pasien yang perlu ditangani team kesehatan lain,
7. Petugas memberikan informasi mengenai tindakan/ pengobatan
yang akan dilakukan beserta resikonya,
8. Petugas mengintegrasikan penanganan pasien pada team
kesehatan lain sesuai dengan masalah kesehatan pasien,
9. Petugas bersama team kesehatan lain yang dimaksud tersebut di
atas merencanakan tindakan dalam penangan masalah kesehatan
pasien dengan mempertimbangkan kemunkinan resiko yang
mungkin terjadi,
10. Petugas mendokumentasikan rencana tindakan dalam rekam
medis pasien,
11. Petugas melakukan tindakan sesuai dengan rencana (baik
tindakan medis maupun pendidikan kesehatan),
12. Petugas melakukan evaluasi formatif terhadap tindakan yang
telah dilakukan,
13. Petugas berpesan kepada pasien untuk dating kembali (control)
bila permasalahan pada pasien belum teratasi.
44. 5. Diagram Alir

45. 6. Referensi
46. 7. Dokumen Terkait Rekam medis
4. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak,Poli Gigi, UGD, Rawat Inap

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


PEMBERIAN INFORMASI TENTANG
EFEK SAMPING DAN RESIKO
PENGOBATAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Pasien memahami mengenai efek samping dan resiko dari pengobatan yang
dilakukan sehingga pasien siap menerima kemungkinan resiko yang akan
terjadi saat pengobatan berlangsung atau setelah selesai pengobatan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar Prosedur
Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Pemberian informasi tentang efek samping dan resiko pengobatan adalah
kegiatan memberikan penjelasan mengenai pengobatan yang akan
dilakukan termasuk didalamnya penjelasan mengenai efek samping dan
resiko dari pengobatan yang akan dilakukan baik pada saat pengobatan
berlangsung atau setelah pengobatan selesai.
4. Prosedur 1. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa,
4. Petugas melakukanpemeriksaan fisik,
5. Petugas merumuskan diagnose pasien dan rencana asuhan pasien,
6. Petugas memberitahukan pada pasien tentang penyakit dan pengobatan yang
akan dilakukan,
7. Petugas menjelaskan mengenai efek samping dan resiko pengobatan yang
akan dilakukan,
8. Petugas member kesempatan untuk bertanya mengenai pengobatan yang
akan dilakukan,
9. Petugas menyiapkan form informed consent,
10. Petugas menjelaskan isi informed consent,
11. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan
mengenai persetujuan terhadap pengobatan yang akan dilakukan,
12. Petugas meminta pasien untuk menandatangani informed consent,
13. Petugas menandatangani informed consent yang telah ditandatangani pasien,
14. Petugas mendokumentasikan kegiatan.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis

Terkait

8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, Poli Ibu, Poli Anak, UGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENDIDIKAN / PENYULUHAN PASIEN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

16. 1. Tujuan Merubah dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan cara


pandang pasien tentang kesehatan
17. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor
: 3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
18. 3. Definisi Pendidikan atau Penyuluhan pasien adalah : Kegiatan untuk
menyampaikan informasi atau pengetahuan secara luas kepada pasien
guna menanamkan sikap dan perilaku sesuai dengan informasi yang
diberikan
47. 4. Prosedur 1. Petugas membuat satuan acara penyuluhan,
2. Petugas mempersiapkan sarana dan prasarana,
3. Petugas memberikan salam dan perkenalan,
4. Petugas menyampaikan maksud dan tujuan penyuluhan,
5. Petugas mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien terhadap materi
penyuluhan,
6. Petugas menyampaikan materi penyuluhan sesuai kebutuhan pasien,
7. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien untuk menanyakan
materi yang kurang dipahami,
8. Petugas mengadakan evaluasi terhadap materi yang diberikan,
9. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan penyuluhan,
10. Petugas membereskan sarana dan prasarana,
48. 5. Diagram Alir

49. 6. Referensi
50. 7. Dokumen Terkait 1. Satuan Acara Penyuluhan
2. Dokumentasi kegiatan
3. 8. Distribusi Poli Umum , Poli Ibu, Poli Anak, Ruang Konsultasi, Apotik , UGD
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


INFORM CONSENT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan 1. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter


yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar
pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya.
2. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu
kegagalan dan bersifat negatif, karena prosedur medik modern bukan
tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan


oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan
terhadap pasien tersebut
4. Prosedur 1. Petugas menyiapkan lembar inform consent,
2. Petugas kesehatan menginformasikan mengenai prosedur tindakan
yang akan dilakukan, tujuan, manfaat, dampak kalau tidak dilakukan
dan resiko dari tindakan tersebut kepada pasien dan keluarga
3. Petugas memastikan tingkat pemahaman pasien dan keluarga
terhadap informasi yang diberikan,
4. Petugas menjelaskan kembali mengenai informasi yang belum
dimengerti pasien dan keluarga,
5. Pasien diberi kesempatan untuk menerima atau menolak tindakan
yang diberikan
6. Petugas kesehatan memberikan form inform consent kepada pasien
atau keluarga,
7. Pelanggan diberi kesempatan untuk membaca isi dari inform consent,
8. Pelanggan menanda tangani form inform consent beserta saksi,
9. Petugas kesehatan menanda tangani form inform concent yang sudah
ditandatangani pasien dan saksi,
10. Petugas menyimpan form inform consent yang telah ditandatangani
pasien atau keluarga di dalam rekam medis pasien,
11. Petugas kesehatan mendokumentasikan kegiatan.
5. Diagram alir

6. Referensi PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal 45


Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008
7. Dokumen 1. Form inform consent
terkait 2. Rekam medis
8. Distribusi Semua program

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


EVALUASI INFORM CONSENT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Menilai efektifitas dari inform consent yang telah diberikan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan
Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Evaluasi Inform consent adalah suatu kegiatan untuk menilai
efektifitas dari inform consent yang diberikan kepada pasien.
4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas dan Koordinator pelayanan klinis menentukan
standar penilaian inform consent,
2. Koordinator pelayanan klinis membuat form penilaian evaluasi
inform consent sesuai standart yang telah ditentukan,
3. Koordinator pelayanan klinis menentukan jadwal pelaksanaan
evaluasi inform consent,
4. Koordinator pelayanan klinis menyampaikan rencana evaluasi inform
consent kepada seluruh petugas kesehatan,
5. Koordinator pelayanan klinis melakukan penilaian/menganalisa
inform consent sesuai dengan form penilaian,
6. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil penilaian inform
consent,
7. Koordinator pelayanan klinis membuat laporan untuk Kepala
Puskesmas,
8. Kepala Puskesmas menerima laporan hasil evaluasi inform consent,
9. Kepala Puskesmas dan koordinator pelayanan medis membuat
rencana tindak lanjut,
10. Koordinator pelayanan klinis beserta petugas kesehatan
melaksanakan tindak lanjut,
11. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil dari tindak lanjut yang
dilakukan.
5. Diagram alir

6. Referensi Kode etik kedokteran

7. Dokumen Form inform consent


terkait Form penilaian evaluasi inform consent
Buku laporan evaluaasi
8. Distribusi Semua program

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


PERSIAPAN MERUJUK PASIEN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

19. 1. Tujuan Agar pasien dirujuk dalam kondisi stabil dan aman selama perjalanan
menuju fasilitas pelayanan yang lebih tinggi
20. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
21. 3. Definisi Persiapan pasien rujukan adalah langkah – langkah yang harus
dilakukan sebelum pasien dikirim ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih tinggi
51. 4. Prosedur 1. Petugas menjelaskan alasan pasien dirujuk,
2. Petugas menyiapkan lembar inform consent,
3. Petugas menjelaskan isi inform consent kepada pasien dan
keluarga,
4. Petugas meyakinkan pasien dan keluarga bahwa setuju untuk
dirujuk,
5. Petugas meminta pasien atau keluarga untuk menandatangani
inform consent,
6. Petugas menandatangani inform consent yang telah
ditandatangani pasien dan keluarga,
7. Petugas menyiapkan surat rujukan,
8. Petugas melengkapi surat rujukan berupa nomor, identitas pasien,
diagnose, tanda tangan petugas dan stempel Puskesmas,
9. Petugas memastikan pasien dalam kondisi stabil,
10. Petugas memastikan alat - alat kesehatan yang terpasang pada
pasien dalam keadaan baik,
11. Petugas menyiapkan alat kesehatan dan obat – obat yang
diperlukan dalam proses rujukan
12. Petugas menyiapkan ambulance,
13. Petugas mengantarkan pasien.
52. 5. Diagram Alir
53. 6. Referensi
54. 7. Dokumen Terkait Inform Consent
Surat rujukan
5. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


PELAYANAN KLINIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

22. 1. Tujuan Agar pelayanan Puskesmas dari pendaftaran sampai pasien pulang
berjalan lancar
23. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
24. 3. Definisi Pelayanan klinis adalah proses pemberian asuhan kepada pasien
sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi pasien
55. 4. Prosedur 1. Petugas menerima rekam medis dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil masuk pasien ke ruang pemeriksaan,
3. Petugas melakukan anamnesa kepada pasien,
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
5. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi
pasien,
6. Petugas menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan
sesuai dengan standar atau evidence base terbaru,
7. Petugas menjelaskan mengenai rencana tindakan yang akan
dilakukan kepada pasien,
8. Petugas memastikan bahwa pasien mengerti tentang
penjelasan yang diberikan petugas,
9. Petugas melengkapi inform consent,
10. Petugas melakukan tindakan kepada pasien sesuai dengan
rencana,
11. Petugas memperhatikan respon klien,
12. Petugas mengevaluasi tindakan yang diberikan,
13. Petugas mendokumentasikan kegiatan.
56. 5. Diagram Alir
57. 6. Referensi
58. 7. Dokumen Terkait 1. Rekam medis
2. Inform consent
6. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

Tgl. Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Diberlakukan
PENANGANAN PASIEN GAWAT
DARURAT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan 1. Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat,


sehingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat
sebagaimana mestinya.
2. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistem rujukan untuk
memperoleh penanganan yang lebih memadai.
3. Menanggulangi korban bencana

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Penanganan pasien gawat darurat adalah suatu pertolongan yang cepat dan
tepat pada pasien untuk mencegah kematian maupun kecacatan
4. Prosedur a. Petugas menerima pasien datang,
b. Petugas mencuci tangan,
c. Petugas menggunakan alat pelindung diri (handscoon, masker,alas kaki)
d. Petugas menempatkan pasien pada tempat yang disediakan,
e. Jika pasien lebih dari satu, petugas mengidentifikasi pasien berdasarkan
prioritas penangan (pasien gawat tidak darurat, pasien darurat tidak gawat,
pasien gawat darurat),
f. Petugas mengidentifikasi masalah kesehatan pasien,
g. Petugas mempersiapkan alat – alat yang dibutuhkan sesuai dengan
kebutuhan pasien,
h. Petugas menilai kesadaran pasien dengan GCS,
i. Petugas mengecek airway dan melakukan tindakan bila terjadi sumbatan
jalan nafas,
j. Petugas memastikan bahwa pernafasan tidak terganggu, apabila terjadi
gangguan, petugas memberikan bantuan pernafasan,
k. Petugas memperbaiki peredaran darah. Jika ada perdarahan, petugas
melakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan,
l. Petugas memasang IV line jika terdapat tanda – tanda kekurangan cairan
pada pasien,
m. Petugas memberikan obat sesuai kebutuhan pasien,
n. Petugas melakukan Resusitasi Jantung Paru jika terjadi henti jantung,
o. Petugas memastikan pasien bahwa pasien dalam kondisi stabil,
p. Petugas melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
mampu apabila diperlukan,
q. Petugas mendekontaminasi alat – alat yang telah digunakan dan bahan habis
pakai,
r. Petugas mencuci alat – alat yang telah digunakan,
s. Petugas mensterilkan alat – alat yang telah digunakan,
t. Petugas bahan habis pakai pada tempat sampah medis,
u. Petugas mencuci tangan,
v. Petugas mendokumentasikan kegiatan di dalam rekam medis pasien.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis


Terkait

8. Distribusi IGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENANGANAN PASIEN RESIKO
TINGGI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan 1. Mencegah kematian, kecacatan ataupun komplikasi


2. Merujuk pasien pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu
untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Penanganan pasien resiko tinggi adalah proses memberikan pelayanan


klinis kepada pasien dengan penyakit yang bisa menimbulkan kematian
ataupun pasien dengan yang bisa menularkan penyakit baik pada petugas
maupun pasien lainnya.
4. Prosedur a. Petugas menerima status pasien dari petugas pendaftaran,
b. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang pemeriksaan,
c. Petugas melakukan anmnesa terhadap masalah yang dihadapi pasien,
d. Petugas melaksanakan pemeriksaan fisik,
e. Petugas mengidentifikasi masalah yang dihadapi pasien (diagnosa),
f. Petugas menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai
kebutuhan pasien,
g. Petugas melakukan tindakan sesuai rencana,
h. Petugas melakukan stabilisasi pada pasien,
i. Petugas memberikan informasi pada pasien dan keluarga mengenai kondisi
kesalahan pasien,
j. Petugas memberikan informasi pada pasien dan keluarga bahwa pasien
harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi,
k. Petugas menyiapkan perlengkapan rujukan,
l. Petugas merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
mampu,
m. Petugas mendokumentasikann kegiatan ke rekam medis.

5. Diagram Alir

6. Referensi
7. Dokumen Rekam medis
Terkait

8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
KEWASPADAAN UNIVERSAL
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk mencegah penularan penyakit infeksi baik dari pasien ke petugas
ataupun dari pasien ke pasien lain melalui cairan tubuh pasien.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas
Pariangan.
3. Definisi Kewaspadaan unversal adalah suatu cara untuk mencegah penularan
penyakit dari cairan tubuh yang keluar dari tubuh pasien/penderita
penyakit baik dari pasien ke petugas kesehatan ataupun dari pasien satu ke
pasien lain
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut pada rekam medis
pasien
2. Petugas mengidentifikasi pasien dengan mencocokkan identitas
pasien dengan yang tertulis d rekam medis
3. Petugas menganamnesa pasien,menanyakan riwayat penyakit nya
4. Petugas mencuci tangan dengan cara 7 langkah mencuci tangan
5. Petugas mengenakan APD (kaca mata,masker,sarung tangan steril)
6. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
7. Petugas melakukan tindakan medis ke pasien dengan
menggunakan alat-alat yang steril.
8. Selesai melakukan pemeriksaan fisik dan tindakan medis,petugas
mendekontaminasikan alat dan bahan habis pakai dengan
menggunakan cairan chlorin 0,5 % selama 10 menit
9. Petugas mencuci alat-alat yang sudah didekontaminasi dengan air
mengalir
10. Petugas mensterilkan alat yang sudah dicuci
11. Petugas membuang alat dan bahan habis pakai pada tempat
sampah medis
12. Petugas mencuci tangan dengan cara 7 langkah mencuci tangan
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen  Rekam medis
Terkait
 Lembar informed consent

8. Distribusi Pendaftaran,poli umum,poli gigi,poli kia,IGD,kamar obat,laboratorium

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
IDENTIFIKASI DAN PENANGANAN
KELUHAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Supaya keluhan dari pasien dapat ditindaklanjuti segera untuk


meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan klinis di Puskesmas

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan.

3. Definisi Identifikasi dan penanganan keluhan adalah proses pengumpulan keluhan


dan cara mengatasi keluhan yang ada dari pasien di Puskesmas Watumalang
4. Prosedur 1. Pelaksana pelayanan klinis dan petugas pendaftaran menerima keluhan
dari pasien, baik secara langsung, melalui sms, melalui kotak saran
ataupun melalui pengisian instrumen,

2. Petugas pelayanan klinis dan petugas pendaftaran mencatat keluhan dari


pelanggan di dalam buku keluhan pelanggan,

3. Petugas pelayanan klinis dan petugas pendaftaran melaporkan keluhan


dari pasien kepada coordinator pelayanan klinis,

4. Koordinator pelayanan klinis menerima laporan dari pelaksana pelayanan


klinis dan dari petugas pendaftaran,

5. Koordinator pelayanan klinis mengidentifikasi keluhan pasien juga dari


kotak saran yang dibuka tiap bulan,

6. Koordinator pelayanan klinis melaporkan semua keluhan yang diperoleh


kepada Kepala Puskesmas,

7. Kepala Puskesmas menerima laporan dari koordinator pelayanan klinis,

8. Kepala Puskesmas memberikan instruksi untuk melakukan pembahasan


terhadap penanganan keluhan yang dilaporkan coordinator layanan klinis,

9. Kepala Puskesmas, koordinator layanan klinis dan semua petugas


membahas mengenai penanganan keluhan pasien
10. Kepala Puskesmas, koordinator pelayanan klinis dan semua petugas
membuat rencana penanganan terhadap keluhan pasien

11. Koordinator pelayanan klinis mencatat hasil pembahasan penanganan


keluhan pelanggan,

12. Koordinator pelayanan klinis dan semua petugas melaksanakan hasil


rencana penangan terhadap keluhan pelanggan,

13. Koordinator pelayanan klinis mengevaluasi pelaksanaaan keluhan pasien


dengan mengidentifikasi keluhan kembali bulan depan.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen 1. Buku keluhan pelanggan


Terkait 2. Laporan keluhan pelanggan
3. Notulen rapat

8. Distribusi Pendaftaran, Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD, Laboratorium,
Apotek

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
MENGHINDARI PENGULANGAN YANG
TIDAK PERLU
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk memberikan asuhan pelayanan klinis yang efektif dan efisien

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan.

3. Definisi Menghindari pengulangan yang tidak perlu adalah mengulangi tindakan


yang sudah dilaksanakan, semua jenis pelayanan yang sudah dilakukan
harus dimasukan dalam dokumen rekam medis supaya tidak terjadi
pengulangan yang tidak perlu. Pelaksana pelayanan dilaksanakan oleh
semua petugas.Dilaksanakan setiap hari kerja didalam gedung.

4. Prosedur 1. Perawat/ Bidan pelayanan klinis menerima rekam medis dari petugas
pendaftaran,
2. Perawat/ bidan memanggil pasien dan mempersilahkan pasien masuk,
3. Perawat/ bidan menganamnesa atau mengkaji keluhan pasien,
4. Perawat/bidan mengukur tanda – tanda vital,
5. Perawat/ bidan menuliskan hasil anamnesa dan tanda – tanda vital
pasien di dalam RM pasien,
6. Perawat/ bidan menyerahkan RM kepada dokter,
7. Perawat/ bidan mempersilahkan pasien untuk duduk di depan meja
dokter,
8. Dokter membaca hasil anamnesa dan tanda – tanda vital pasien yang
sudah tertutis di dalam RM pasien,
9. Dokter melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien,
10. Dokter mengidentifikasi masalah kesehatan pasien,
11. Dokter menentukan rencana tindakan untuk pasien sesuai dengan
masalah yang dialami pasien,
12. Dokter menjelaskan kepada pasien mengenai masalah kesehatan yang
sedang dialami pasien dan menjelaskan mengenai rencana terapi,
13. Dokter/ perawat/ bidan melakukan pendidikan kesehatan jika
diperlukan,
14. Dokter meminta pasien menandatangani informed consent jika ada
tindakan invasive atau pembedahan,
15. Dokter melakukan terapi sesuai dengan yang direncanakan,
16. Dokter mengobservasi respon pasien dan mengevaluasi tindakan yang
dilakukan,
17. Dokter membuatkan surat rujukan ke poli lain jika memerlukan
konsultasi unit lain,
18. Dokter menuliskan resep dan meminta pasien untuk menebus resep di
apotek Puskesmas,
19. Dokter/ perawat/ bidan mencatat semua hasil anamnesa dan tindakan
di RM pasien,
20. Perawat/ bidan menyerahkan RM pasien kepada petugas pendaftaran.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Terkait Rekam medis

8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
LAYANAN KLINIS YANG MENJAMIN
KESINAMBUNGAN LAYANAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pelayanan klinis yang dilakukan untuk menangani masalah


kesehatan pasien dapat dilakukan secara paripurna.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Layanan klinis yang menjamin kesinambungan layanan adalah pelayanan


klinis yang dilakukan untuk pasien mencakup kebutuhan biopsikososial
spiritual dengan melibatkan seluruh tim kesehatan sesuai dengan masalah
kesehatan klien
4. Prosedur 1. Petugas menerima rekam medis pasien dari petugas pendaftaran,
2. Petugas memanggil pasien masuk ke ruang periksa,
3. Petugas melakukan anamnesa,
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik,
5. Petugas merumuskan diagnose pasien,
6. Petugas menyusun rencana asuhan pasien,
7. Petugas berkolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai masalah kesehatan
pasien,
8. Petugas memberitahukan pasien mengenai layanan yang akan diberikan
untuk mengatasi masalah kesehatan pasien,
9. Petugas meyakinkan bahwa pasien memahami penjelasan petugas,
10. Petugas mengidentifikasi persetujuan atau penolakan pasien terhadap
tindakan yang akan dilakukan,
11. Petugas melakukan tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien
sesuai rencana asuhan,
12. Petugas melakukan evaluasi formatif terhadap tindakan yang dilakukan,
13. Petugas menyusun rencana tindak lanjut bila masalah kesehatan pasien
belum teratasi,
14. Petugas memberi pesan pada pasien untuk melakukan kunjungan ulang
(control) sesuai kriteria waktu yang ditentukan,
15. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan di dalam rekam medis pasien.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis


Terkait

8. Distribusi BP Umum, Poli Gigi, IGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
HAK MENOLAK ATAU TIDAK
MELANJUTKAN PENGOBATAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menjamin hak pasien dalam memutuskan pengobatan yang akan
dilakukan terhadap dirinya,

Pasien menerima segala resiko dari pengobatannya sehingga tidak terjadi


penuntutan di kemudian hari.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Hak menolak atau tidak melanjutkan pengobatan adalah kegiatan


menjelaskan kepada pasien mengenai haknya dalam memutuskan
pengobatan yang akan dilakukan terhadap dirinya, pasien berhak
memutuskan menerima atau menolak melakukan pengobatan serta berhak
menghentikan pengobatan saat pengobatan berlangsung.
4. Prosedur 1. Dokter memeriksa pasien,
2. Dokter merumuskan diagnose pasien,
3. Dokter memberikan advise pada petugas,
4. Petugas menerima advise dokter tentang rencana asuhan,
5. Petugas memberitahukan tentang penyakit pasien serta rencana asuhan
yang akan dilaksanakan,
6. Petugas memberitahukan bahwa pasien harus rawat inap bagi pasien yang
bisa ditangani di Puskesmas,
7. Petugas memberitahukan bahwa pasien harus dirujuk bagi pasien yang
tidak bisa ditangani di Puskesmas
8. Petugas memberitahukan pasien atau keluarga tentang hak untuk menolak
atau tidak melanjutkan pengobatan,
9. Petugas menyiapkan lembar persetujuan ataupun penolakan terhadap
tindakan medic yang akan dilakukan (form inform consent),
10. Petugas menjelaskan isi dari informed consent,
11. Petugas meyakinkan bahwa pasien atau keluarga paham dengan penjelasan
tersebut,
12. Petugas memberikan kesempatan pada pasien atau keluarga untuk
mengambil keputusan berkenaan dengan kelanjutan pengobatan pasien,
13. Petugas memberitahukan pasien dan keluarga tentang tanggung jawabnya
berkaitan dengan keputusan tersebut,
14. Petugas menganjurkan pasien untuk menandatangani informed consent,
15. Petugas membubuhkan tanda tangan pada informed consent yang telah
ditandatangani pasien dan saksi,
16. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis

Terkait

8. Distribusi BP Umum, Poli Gigi, IGD

9.Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan


PEMBERIAN ANESTESI LOKAL DI
PUSKESMAS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menghilangkan rasa sakit sementara ketika melakukan tindakan


bedah minor dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit
pada tubuh.
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pemberian anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit atau
nyeri secara lokal tanpa disertai hlangnya kesadaran.
Pemberian anestesi lokal dapat dengan tekhnik:
 Anestesi permukaan adalah pengolesan atau penyemprotan
analgetik lokal diatas selaput mukosa seperti mata,hidung,faring.
 Anestesi infiltrasi adalah penyuntikan larutan analgetik lokal
langsung diarahkan disekitar tempat lesi,luka atau insisi.cara
infiltrasi yang serng digunakan adalah blokade lingkar dan larutan
obat disuntikan intradermal atau subcutan.
 Anestesi blok adalah penyuntikan analgetik lokal langsung ke saraf
utama atau pleksus saraf.
 Anestesi regional intravena adalah penyuntikan larutan analgetik
lokal intravena.
Obat anestesi lokal/regional adalah obat yang menghambat hantaran saraf
bila dikenakan secara lokal.anestesi lokal idealnya adalah yang tidak
mengiritasi atau merusak jaringan secara permanen,batas keamanan
lebar,mula kerja singkat,masa kerja cukup lama,larut dalam air,stabil dalam
larutan,dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan dan efeknya reversibel.
Contoh obat anestesi lokal
 Lidokain (liqnikaon,xylocain) adalah anestesi lokal kuat yang
digunakan secara topikal dan suntikan.Efek anestesi lebih
kuat,cepat,ekstensif dibanding prokain
 Bupivakain adalah anestetik golongan amida dengan mula kerja
lambat dan masa kerja panjang.
4. Prosedur 1. Petugas mengidentifikasi pasien ,mencocokkan identitas pasien dengan
rekam medis.
2. Petugas menganamnesa pasien
3. Petugas mencatat anamnesa pasien ke rekam medis
4. Petugas menidurkan pasien di ruang tindakan,memposisikan luka yang
akan dilakukan anestesi terlihat kasat mata
5. Petugas memberikan informed consent pada pasien dan keluarga tentang
tindakan anestesi yang akan dilakukan
6. Pasien menandatangani lembar informed consent setelah diberi informed
consent oleh petugas
7. Petugas mempersiapkan alat dan bahan steril untuk melakukan tindakan
anestesi
8. Petugas mencuci tangan dengan 7 langkah mencuci tangan
9. Petugas menggunakan sarung tangan steril
10. Petugas mengambil obat anestesi dengan menggunakan spuit dibantu
dengan petugas lain yang membukakan obat anestesi
11. Petugas memberikan informasi kalau akan segera dilakukan penyuntikan
pembiusan untuk menghilangkan rasa sakit
12. Petugas menyuntikkan obat anestesi lokal langsung ke lesi,luka dan
sekitarnya secara blokade lingkar dan obat disuntikan intradermal atau
subcutan
13. Petugas menunggu 1-2 menit sampai obat anestesi bereaksi dan pasien
sudah tdak merasakan sakit pada luka dan sekitarnya
14. Petugas menanyakan pada pasien dengan memberikan rangsangan nyeri
pada sekitar luka apakah masih nyeri atau tidak dan sudah merasa
baal/kesemutan pada kulit sekitar luka.
15. Setelah pasien tidak merasa nyeri petugas membersihkan luka yang
terkena kotoran dengan larutan NaCl 0,9 %
16. Petugas melakukan tindakan bedah minor.
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen  Rekam medis
Terkait
 Lembar informed consent
8. Distribusi Pendaftaran, Poli umum,Poli gigi,UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
MONITORING STATUS FISIOLOGIS
PASIEN SELAMA PEMBERIAN
ANESTESI LOKAL
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar keadaan umum pasien tetap terkontrol selama pemberian anestesi
local dan untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Monitoring status fisiologis pasien selama pemberian anestesi lokal adalah
suatu proses pengawasan kondisi umum pasien selama pemberian anestesi
lokal. Efek samping anestesi local adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP
dan efek kardiodepresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala
penghambatan pernafasan dan sirkulasi darah. Anestesi local dapat pula
mengakibatkan reaksi hipersensitasi, yang seringkali berupa axantema,
urticaria, dan bronchospasme alergis sampai adakalanya shock anafilaksis yang
dapat mematikan
4. Prosedur 1. Petugas menjelaskan fungsi anestesi dan prosedur anestesi local kepada
pasien,
2. Petugas menjelaskan mengenai efek samping anestesi local kepada pasien,
3. memberikan informasi pada pasien bahwa pemberian anestesi akan
dilakukan,
4. Petugas mengidentifikasi bahwa pasien telah siap diberikan anestesi,
5. Petugas memberikan anestesi local sesuai dengan prosedur,
6. Petugas mengamati kondisi umum pasien selama pemberian anestesi local,
7. Petugas menanyakan kepada pasien apakah pasien sesak nafas,
8. Petugas menanyakan kepada pasien apakah pasien jantungnya berdebar,
9. Petugas menanyakan kepada pasien apakah kepala pasien pusing,
10. Petugas menanyakan kepada pasien apakah pandangan bekunang –
kunang,
11. Petugas menanyakan apakah kulit sekitar yang diberikan anestesi local
terasa gatal,
12. Petugas memantau keadaan kulit sekitar daerah anestesi,
13. Petugas melanjutkan tindakan sesuai dengan rencana terapi,
14. Petugas mengakhiri kegiatan dengan pendokumentasian.

5. Diagram Alir

6. Referensi

7. Dokumen Rekam medis


Terkait

8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, UGD

9.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
TINDAKAN PEMBEDAHAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Tindakan pembedahan dilakukan dengan aman baik bagi pasien maupun
bagi petugas

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi 1. Tindakan pembedahan adalah tindakan pengobatan yang dilakukan


dengan cara menyayat untuk membuka atau menampilkan bagian tubuh
yang sakit,
2. Bedah minor adalah pembedahan yang dilakukan secara sederhana, tidak
memiliki resiko terhadap nyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan
asisten untuk melakukannya, contohnya membuka abses superficial,
pembersihan luka, inokuasi, superfisial neuroktomi dan tenotomi,
3. Bedah mayor adalah pembedahan yang relatif lebih sulit daripada
pembedahan minor, membutuhkan waktu, melibatkan resiko terhadap nyawa
pasien, dan memerlukan bantuan asisten, contohnya bedah caesar,
mammektomi, bedah torak, bedah otak,
4. Tindakan pembedahan yang dilakukan di Puskesmas Pariangan adalah
tindakan bedah minor.

4. Prosedur 1. Dokter atau petugas yang diberi kewenangan melakukan tindakan


pembedahan merencanakan tindakan pembedahan sesuai dengan masalah
kesehatan yang dialami pasien,
2. Dokter atau petugas yang berwenang melakukan tindakan pembedahan
menjelaskan kepada pasien dan atau keluarga mengenai rencana tindakan
pembedahan, prosedur tindakan, manfaat, resiko dan komplikasi terhadap
tindakan serta akibat jika tindakan tidak dilakukan,
3. Dokter memastikan pasien atau keluarga paham mengenai tindakan yang
akan dilakukan,
4. Dokter melengkapi inform consent tindakan pembedahan yang
ditandatangani pasien, saksi dan dokter yang bersangkutan,
5. Dokter menyiapkan alat – alat yang dibutuhkan untuk tindakan
pembedahan,
6. Dokter memposisikan pasien sesuai dengan bagian tubuh yang akan
dilakukan pembedahan dengan memperhatikan kenyamanan pasien,
7. Dokter mencuci tangan dan menggunakan handscoone steril,
8. Dokter menjelaskan kepada pasien kalau tindakan akan dimulai,
9. Dokter mendesinfektan daerah yang akan di incisi dengan larutan
betadin,
10. Dokter memasangkan duk steril di daerah yang akan di incisi,
11. Dokter menganestesi bagian yang akan di incise dengan memberikan
injeksi lidokain sesuai kebutuhan,
12. Dokter memastikan bahwa daerah yang dianestesi sudah tidak terasa
sakit,
13. Jika pasien masih terasa sakit, dokter menunggu beberapa saat sampai
daerah tersebut tidak terasa sakit,
14. Dokter mulai menyayat bagian yang sudah ditentukan dengan prinsip
steril,
15. Dokter selalu memperhatikan respon pasien selama tindakan
pembedahan berlangsung,
16. Dokter melakukan pembedahan sesuai kebutuhan pasien,
17. Dokter membersihkan daerah pembedahan dengan kassa steril,
18. Dokter menjahit daerah yang di incisi,
19. Dokter membersihkan daerah yang dijahit dengan cairan NaCl o,9%,
20. Dokter mengoleskan betadin di daerah yang dijahit,
21. Dokter menutup luka dengan kassa steril,
22. Dokter memplester balutan,
23. Dokter menjelaskan kepada pasien bahwa tindakan telah selesai,
24. Dokter membereskan peralatan,
25. Dokter melepas handscoone dan mencuci tangan,
26. Dokter menjelaskan mengenai tindakan perawatan di rumah dan waktu
untuk control,
27. Dokter memberikan resep kepada pasien dan menjelaskan untuk
mengambilnya di apotek,
28. Dokter mencatat kegiatan yang dilakukan, respon klien, terapi dan
rencana control dalam rekam medis pasien.

5. Diagram Alir

6. Referensi http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2080535-
pengertian-bedah-dan-macam-macam/#ixzz204HzqNfI

7. Dokumen Rekam medis


Terkait

8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, UGD


9.Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENDIDIKAN DAN PENYULUHAN PASIEN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

25. 1. Tujuan Merubah dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan cara


pandang pasien tentang kesehatan
26. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
27. 3. Definisi Pendidikan atau Penyuluhan pasien adalah : Kegiatan untuk
menyampaikan informasi atau pengetahuan secara luas kepada pasien
guna menanamkan sikap dan perilaku sesuai dengan informasi yang
diberikan
59. 4. Prosedur 1. Petugas membuat satuan acara penyuluhan,
2. Petugas mempersiapkan sarana dan prasarana,
3. Petugas memberikan salam dan perkenalan,
4. Petugas menyampaikan maksud dan tujuan penyuluhan,
5. Petugas mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien terhadap materi
penyuluhan,
6. Petugas menyampaikan materi penyuluhan sesuai kebutuhan pasien,
7. Petugas memberikan kesempatan kepada pasien untuk menanyakan
materi yang kurang dipahami,
8. Petugas mengadakan evaluasi terhadap materi yang diberikan,
9. Petugas mendokumentasikan hasil kegiatan penyuluhan,
10. Petugas membereskan sarana dan prasarana,
60. 5. Diagram Alir
61. 6. Referensi
62. 7. Dokumen Terkait 1. Satuan Acara Penyuluhan
2. Dokumentasi kegiatan
3. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Gigi, Poli Ibu, Poli Anak, Laboaratorium, Apotik UGD
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


Evaluasi Terhadap Penyampaian Informasi
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan evaluasi terhadap


penyampaian informasi ke pasien pada saat pelayanan klinis

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan

3. Definisi Evaluasi terhadap kejelasan informasi yang disampaikan petugas


pelayanan klinis adalah penilaian terhadap kejelasan informasi
petugas pelayanan klinis yang diterima oleh pasien selama
pelayanan klinis

4. Prosedur 1. Penanggung jawab pelayanan klinis menyiapkan instrumen evaluasi


kejelasan informasi yang disampaikan,
2. Penanggung jawab pelayanan klinis menentukan sasaran kegiatan,
yaitu pasien yang diberikan pendidikan kesehatan,
3. Penanggung jawab pelayanan klinis membagikan instrument evaluasi
kepada petugas di tiap – tiap poli,
4. Petugas memberikan informasi sesuai dengan rencana asuhan,
5. Petugas member kesempatan kepada pasien untuk menanyakan
informasi yang kurang dimengerti,
6. Petugas meminta pasien yang diberi informasi mengulangi informasi
yang diberikan,
7. Petugas mengisi instrument evaluasi terhadap penyampaian informasi,
8. Petugas mengakhiri penjelasan,
9. Petugas mendokumentasikan kegiatan,
10. Petugas menyerahkan instrument yang telah diisi kepada penanggung
jawab pelayanan klinis,
11. Penanggung jawab pelayanan klinis merekap hasil evaluasi,
12. Penanggung jawab layanan klinis melaporkan hasil kepada
Puskesmas,
5. Diagram Alir
6. Referensi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, 2002

7. Dokumen 1. Intrumen evaluasi penyampaian informasi


Terkait 2. Rekapan hasil evaluasi
8. Distribusi Semua unit pelayanan

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENCATATAN DAN PELAPORAN DOKUMEN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan dokumen


yang ada di UPT Puskesmas Pariangan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:1.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Administrasi dan Manajemen Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Pencatatan dan pelaporan dokumen adalah suatu kegiatan administrasi


sehingga dokumen yang ada dipuskesmas bisa tertata dengan baik

4. Prosedur 1. Penanggung jawab SP2TP mengumpulkan semua laporan bulanan


dari semua pemegang program
2. Penanggung jawab SP2TP melakukan verifikasi terhadap semua
laporan yang ada termasuk kebenarannya
3. Penanggung jawab SP2TP memasukan semua laporan ke aplikasi
SP2TP
4. Penanggung jawab SP2TP mengirimkan laporan secara online ke
Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat
5. Penanggung jawab SP2TP mengarsipkan semua laporan yang ada
5. Diagram Alir
6. Referensi Permenkes no.75 tahun 2014

7. Dokumen Terkait 1. Laporan bulanan program


2. Aplikasi SP2TP
8. Distribusi Ka. Tata Usaha
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PEMISAHAN ALAT YANG BERSIH, KOTOR,
YANG PERLU STERILISASI DAN YANG
MEMBUTUHKAN PERAWATAN LEBIH LANJUT
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman dalam pemisahan peralatan klinis yang telah dipakai
untuk pelayanan

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis
Puskesmas Pariangan

3. Definisi Pemisahan alat yang bersih dan alat yang kotor, alat yang membutuhkan
sterilisasi serta alat yang membutuhkan perawatan yang lebih lanjut adalah
suatu langkah kegiatan pemeliharaan peralatan klinis yang dipakai dalam
pelayanan

4. Prosedur 1. Pemisahan Alat


a. Setelah melakukan tindakan, petugas ruangan melakukan
pemisahan terhadap alat-alat klinis yang sudah digunakan
(kotor) dengan yang belum digunakan (bersih).
b. Alat-alat klinis yang sudah digunakan (kotor) dilakukan
pemilahan alat antara alat yang terpapar cairan tubuh dengan
alat yang tidak terpapar cairan tubuh
c. Alat-alat klinis yang sudah digunakan (kotor) dan terpapar
oleh darah, cairan tubuh dan bagian tubuh pasien, harus
dilakukan pembersihan dengan air mengalir dan sabun.
d. Setelah dilakukan pemisahan alat, alat-alat klinis yang sudah
digunakan (kotor) dan tidak terpapar oleh darah, cairan
tubuh dan bagian tubuh pasien, maka dilakukan
pembersihan sesuai dengan persyaratan pada alat tersebut.
2. Alat-Alat yang dilakukan sterilisasi
a. Alat-alat klinis yang dilakukan sterilisasi adalah alat-alat
klinis yang bersifat kritis dan semi kritis dalam suatu
tindakan invasif ke bagian tubuh dan pembedahan.
b. Alat-alat yang dilakukan sterilisasi adalah alat-alat klinis
yang terpapar darah, cairan atau bagian tubuh pasien.
c. Alat-alat klinis yang disterilisasi adalah semua alat-alat
klinis yang telah dikeluarkan dari tempat penyimpanan alat
steril baik yang telah digunakan maupun yang belum
digunakan untuk tindakan.
3. Alat-Alat yang membutuhkan perawatan lebih lanjut
a. Alat-alat yang membutuhkan perawatan lebih lanjut adalah
semua alat klinis yang perawatannya berbeda dari alat yang
lain yaitu tidak boleh dibersihkan dengan air mengalir.
b. Semua alat klinis yang membutuhkan perawatan lebih
lanjut, apabila telah digunakan maka dilakukan perawatan
pembersihan dan perawatan lainnya sesuai dengan ketentuan
yang berlaku pada alat tersebut.

4. Alat-Alat yang membutuhkan persyaratan khusus untuk


peletakannya.
a. Alat-alat yang membutuhkan persyaratan khusus untuk
peletakannya adalat alat-alat yang mempunyai ketentuan
tertentu dalam peletakannya (misal: terhindar dari debu,
tidak boleh terpapar langsung matahari atau sesuai dengan
suhu tertentu).
b. Alat-alat yang membutuhkan persyaratan khusus untuk
peletakannya adalah alat-alat yang apabila salah dalam
peletakannya maka akan mengakibatkan kerusakan baik
pada alat ataupun fungsi alat tersebut.

5. Diagram Alir
6. Referensi

7. Dokumen Terkait SPO Sterilisasi


8. Distribusi Poli umum, poli gigi, UGD, Poli KB, Poli Anak, Poli Ibu, Laboratorium
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
STERILISASI
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

63. 1. Tujuan Sebagai pedoman untuk melakukan sterilisasi alat di UPT


Puskesmas Pariangan
64. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis
Puskesmas Pariangan

65. 3. Definisi Sterilisasi alat adalah Suatu tindakan untuk membunuh kuman patogen
dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran.
66. 4. Prosedur 1. Petugas mencuci tangan dan menggunakan handscoon,
2. Petugas mengidentifikasi alat yang akan disterilisasi,
3. Petugas membilas alat – alat yang akan dsterilkan dengan air
mengalir supaya kotoran yang melekat dapat lepas,
4. Petugas menyiapkan air klorin 0,5% di dalam baskom,
5. Petugas merendam alat – alat yang telah dibilas tadi kedalam
baskom yang berisi air klorin 0,5% selama 10 – 15 menit,
6. Petugas mencuci alat – alat yang telah direndam dengan air
klorin 0,5% dengan sabun,
7. Petugas membilas alat – alat tersebut dengan air mengalir,
8. Petugas mengeringkan alat – alat dengan handuk kering,
9. Petugas melepas handscoon dan menncuci tangan,
10. Petugas membuka pintu sterilisator,
11. Petugas memasukkan alat – alat yang telah kering ke dalam
sterilisator,
12. Petugas menutup pintu sterilisator,
13. Petugas menyambungkan kabel sterilisator ke stop kontak,
14. Petugas menekan tombol power
15. Petugas menunggu hingga 60 menit
16. Petugas mematikan sterilisator dengan memencet tombol
power
17. Petugas menunggu sekitar 10 menit supaya panas di dalam
sterilisator menurun,
18. Petugas membuka pintu sterilisator,
19. Petugas mengambil alat – alat yang ada di dalam sterilisator
dengan korentang yang telah direndam dalam alcohol 70%,
20. Petugas meletakkan alat – alat yang telah steril di dalam bak
instrument yang telah steril,
21. Petugas menutup pintu sterilisator,
22. Petugas menyimpan bak instrument steril yang berisi alat –
alat steril di tempat yang tertutup,
23. Petugas mendokumentasikan kegiatan
67. 5. Diagram Alir

68. 6. Referensi Cara Sterilisasi alat Kedokteran.

69. 7. Dokumen Terkait Buku harian kegiatan

70. 8. Distribusi Poli Umum, Poli KB, Poli Gigi, UGD

9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan


KREDENSIAL
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk melaksanakan kredensial di UPT Puskesmas


Pariangan sehingga pelayanan klinis dilakukan oleh tenaga yang
berkompeten pada bidangnya

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Kredensial adalah suatu langkah untuk melakukan penilaian kompetensi


petugas klinis termasuk persyaratannya.

4. Prosedur 1. Tim kredensial memberitahukan kepada semua petugas klinis


bahwa akan dilaksanakan kredensialing di lingkungan puskesmas
2. Tim kredensial meminta semua petugas klinis agar
mengumpulkan persyaratan sertifikasi dan lisensi yang ada
(STR/SIP/SIK/SIKB)
3. Tim kredensial melakukan kredensialing terhadap petugas klinis
dengan menggunakan daftar penilaian
4. Tim kredensial membuat hasil penilaian dan membuat
rekomendasi hasil penilaian
5. Tim kredensial memberikan rekomendasi kepada Kepala
Puskesmas sebagai bahan untuk meningkatkan kinenrja petugas
klinis
28. Diagram Alir
29. Referensi

30. Dokumen Terkait Daftar Penilaian Kredensial, Persyaratan sertifikasi dan lisensi
31. Distribusi Kepala tata Usaha
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENILAIAN KUALIFIKASI TENAGA DAN
PENETAPAN KEWENANGAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk penilaian kualifikasi tenaga dan penetapan


kewenangan di UPT Puskesmas Pariangan sehingga pelayanan klinis
dilakukan oleh tenaga yang berkompeten pada bidangnya masing-masing

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Penilaian kualifikasi dan penetapan kewenangan adalah suatu langkah untuk
melakukan penilaian kompetensi petugas klinis serta penetapan berdasarkan
kualifikasi yang dimiliki.

4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas memberitahukan kepada semua petugas klinis


bahwa akan dilaksanakan penilaian kualifikasi dana penetapan
kewenangan di lingkungan puskesmas
2. Kepala Puskesmas meminta semua petugas klinis agar
mengumpulkan persyaratan sertifikasi dan lisensi yang ada
(STR/SIP/SIK/SIKB) serta sertifikat pelatihan yang sudah
dimiliki
3. Kepala Puskesmas melakukan penilaain kualifikasi terhadap
petugas klinis dan menetapkan kewenangan terhadap semua
petugas klinis baik untuk pelayanan klinis maupun pelayanan
program dengan menggunakan daftar penilaian
4. Kepala Puskesmas memberitahukan hasil penilaian kualifikasi
dan penetapan kewenangan kepada semua petugas klinis
32. Diagram Alir
33. Referensi

34. Dokumen Terkait Daftar Penilaian Kredensial, Persyaratan sertifikasi dan lisensi , sertifikat
pelatihan
35. Distribusi Kepala tata Usaha
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENILAIAN KINERJA PETUGAS PEMBERI
PELAYANAN KLINIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk penilaian kinerja petugas pemberi pelayanan klinis
di UPT Puskesmas Pariangan sehingga pelayanan klinis dilakukan oleh
tenaga yang berkompeten pada bidangnya masing-masing

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Penilaian kinerja petugas adalah suatu langkah untuk melakukan penilaian
kompetensi petugas klinis serta penetapan berdasarkan kualifikasi yang
dimiliki.

4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas memberitahukan kepada semua petugas klinis


bahwa akan dilaksanakan penilaian kineja petugas pemberi
pelayanan klinis di lingkungan puskesmas
2. Kepala Puskesmas melakukan penilaian kinerjaterhadap petugas
klinis dengan memakai tabel penilaian kinerja petugas pemberi
pelayanan klinis
3. Kepala Puskesmas memberitahukan hasil penilaian kinerja
kepada semua pemberi pelayanan klinis
36. Diagram Alir
37. Referensi

38. Dokumen Terkait Tabel penilaian kinerja


39. Distribusi Kepala tata Usaha
9. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENANGANAN BANTUAN PERALATAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk melakukan penanganan bantuan peralatan yang


diberikan kepada Puskesmas demi kelancaran pelayanan untuk masyarakat

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis Puskesmas
Pariangan

3. Definisi Penanganan bantuan peralatan adalah suatu langkah kegiatan untuk


menangani bantuan peralatan yang diberikan pihak lain kepada puskesmas
untuk kelancatran pelayanan yang .

4. Prosedur 1. Membuat surat pernyataan bersedia menerima hibah Barang


Milik Negara (BMN) dan mencatat barang hibah tersebut dalam
daftar inventaris aset
2. Menyampaikan laporan penerimaan bantuan peralatan yang
dibuktikan dengan berita acara penerimaan bantuan peralatan
3. Mempertanggungjawabkan bantuan dalam bentuk laporan
tahunan tentang pemanfaatan bantuan selam 3 (tiga) tahun
berturut-turut
4. Menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk
operasional peralatan yang dihibahkan
5. Melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap bantuan
peralatan yang telah diterimaserta menggunakan bantuan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
40. 5. Diagram Alir
41. 6. Referensi
42. 7. Dokumen Daftar inventaris
Terkait
43. 8. Distribusi Kepala tata Usaha

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
HASIL MENGIKUTI PENDIDIKAN DAN
LATIHAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk melakukan evaluasi bagi petugas puskesmas


yang telah selesai melaksanakan pendidikan dana tau pelatihan
sehingga ilmu yang didapat bisa tersosialisasi kepada semua petugas
puskesmas

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:3.2/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Manajemen Penunjang Layanan Klinis
Puskesmas Pariangan

3. Definisi Evaluasi pendidikan dan latihan adalah suatu langkah kegiatan untuk
evaluasi terhadap semua petugas yang telah selaesai melakuakn diklat

4. Prosedur 1. Petugas yang telah selesai mengikuti pendidikan dan


latihan melapor kepada Kepala Puskesmas hasil dari
kegiaatn yang telah diikuti dan memberikan rencana
tindak lanjutnya
2. Kepala Puskesmas dan petugas yang telah selesai diklat
membuat jadwal untuk transfer ilmu hasil Diklat kepada
semua petugas dan memberi tahu kepada Ka. Tata Usaha
untuk ditindak lanjuti
3. Petugas yang telah selesai Diklat memberikan transfer
ilmu kepada semua petugas sesuai dengan jadwal yang
telah disepakati
4. Kepala Puskesmas memastikan transfer ilmu telah sampai
kepada semua petugas
44. 5. Diagram Alir
45. 6. Referensi

46. 7. Dokumen Terkait Modul Diklat


47. 8. Distribusi Kepala tata Usaha

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
PENILAIAN KINERJA
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai pedoman untuk penilaian kinerja petugas di UPT Puskesmas


Pariangan sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan oleh
tenaga yang berkompeten pada bidangnya masing-masing

2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan


nomor:1.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Administrasi dan Manajemen Puskesmas Pariangan

3. Definisi Penilaian kinerja adalah suatu langkah untuk melakukan penilaian


kompetensi petugas berdasarkan kualifikasi yang dimiliki.

4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas memberitahukan kepada semua petugas


bahwa akan dilaksanakan penilaian kinerja petugas di
lingkungan puskesmas
2. Kepala Puskesmas melakukan penilaian kinerja terhadap
petugas dengan memakai tabel penilaian kinerja
3. Kepala Puskesmas memberitahukan hasil penilaian kinerja
kepada semua petugas
48. 5.Diagram Alir
49. 6.Referensi

50. 7.Dokumen Tabel penilaian kinerja


Terkait
51. 8.Distribusi Kepala tata Usaha
9.Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
KAJIAN AWAL YANG MEMUAT
INFORMASI YANG HARUS DIPEROLEH
SELAMA PROSES PENGKAJIAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menjamin kesinambungan pelayanan terhadap pasien dan mampu


mengetahui riwayat penyakit pasien dengan mudah
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Kajian awal yang memuat informasi yang harus diperoleh selama proses
pengkajian adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi mengenai
masalah kesehatan yang dialami pasien.
4. Prosedur 1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor antrian
2. Petugas mempersilahkan pasien untuk duduk
3. Petugas menanyakan ulang identitas pasien disesuaikan dengan
rekam medis pasien
4. Dokter melakukan kajian medis terkait penyakit seperti anamnesis
(RPS, RPD,RPK,RPO) dan Pemeriksaan Fisik yang mendukung
penyakit dan dicatat di lembaran status
5. Perawat mencari informasi yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan
6. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang bisa dilakukan seperti
permeriksaan laboratorium

5. Diagram Alir
Pasien datang

Dokter menanyakan : RPD , RPS , RPK , Riwayat


alergi obat dan melakukan pemeriksaan fisik
mencatat pada lembar rekam medis
Perawat mencari informasi
yang berhubungan dengan
asuhan keperawatan

Bila diperlukan pemeriksaan


penunjang , bisa dilakukan
pemeriksaan laboratorium

6. Referensi
7. Dokumen Rekam medis
Terkait

8. Distribusi Poli Umum . Poli Gigi , Poli Anak , Poli Ibu , UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENGGUNAAN DAN PEMBERIAN
OBAT/CAIRAN INTRA VENA
No. Dokumen :7.6.3.102

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk membantu life saving pasien pada kondisi tertentu


2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Penggunaan dan pemberian obat/cairan intra vena adalah tindakan invasif
kepada pasien dengan tujuan life saving
4. Prosedur 1. Petugas mengidentifikasi pasien ,mencocokkan identitas pasien dengan
rekam medis.
2. Petugas menganamnesa pasien
3. Petugas mencatat anamnesa pasien ke rekam medis
4. Petugas menidurkan pasien di ruang tindakan
5. Petugas mempersiapkan alat dan bahan steril untuk melakukan tindakan
pemberian cairan intra vena
6. Petugas mencuci tangan dengan 7 langkah mencuci tangan
7. Petugas menggunakan sarung tangan steril
8. Petugas mengambil obat / cairan intra vena dan petugas lain yang
membukakan obat / cairan intra vena serta menyiapkan infus set
9. Petugas memberikan informasi kalau akan segera dilakukan pemasangan
infus dan pasien disuruh mengepalkan tangan nya
10. Petugas mencari aliran darah vena kemudian memasukan jarum abbocat
dengan elegan
11. Setelah aliran vena dapat kemudian sambungkan dengan infus set yang
sudah tersambung dengan cairan intra vena
12. Petugas merapikan pasien dengan menyuruh membuka kepalan tangan
dan merapikan tempat infus set
13. Petugas mengatur tetesan infus
14. Untuk obat intra vena , petugas memberikan informasi kalau akan
dilakukan pemasukan obat secara intra vena
15. Petugas memasukan obat kedalam spuit yang sesuai dengan dosis obat
16. Petugas melakukan pembersihan daerah yang akan diinjeksikan obat
tersebut
17. Petugas menginjeksikan obat intra vena tersebut dan memonitoring
reaksi obat terhadap pasien
18. Petugas mendokumentasikan kegiatan
5. Diagram Alir
6. Referensi
7. Dokumen  Rekam medis
Terkait
8. Distribusi UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PROSEDUR PENYUSUNAN LAYANAN KLINIS
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

52. 1. Tujuan Agar penyusunan Standar Operasional Prosedur Layanan Klinis


sesuai dengan acuan yang ada.
53. 2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan
nomor:3.3/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan
Standar Prosedur Operasional Peningkatan Mutu Klinis dan
Keselamatan Pasien Puskesmas Pariangan
54. 3. Definisi Prosedura Penyusunan Layanan klinis adalah proses penyusunan
Standar Operasional Prosedur
71. 4. Prosedur 1. Petugas menentukan standar yang akan dibuat
2. Petugas mempedomani acuan yang telah ada
3. Petugas membuat Standar Operasional prosedur sesuai
dengan apa yang dilakukan dan dikerjakan sehari-hari
4. Petugas melakukan verifikasi ulang dengan petugas yang lain
5. Petugas memastikan Standar Operasional Prosedur sudah
sesuai dengan kondisi yang ada
6. Petugas mensosialisasikan Standar Operasional Prosedur
yang telah dibuat
7. Petugas mengaplikasikan Standar Operasional Prosedur yang
telah dibuat
8. Petugas mendokumentasikan Standar Operasinal Prosedur
tersebut.
72. 5. Diagram Alir
73. 6. Referensi Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi Puskesmas
74. 7. Dokumen Terkait
7. 8. Distribusi Poli Umum, Poli Ibu, Poli Anak, Poli Gigi, UGD , Tata Usaha
9. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan


TINDAK LANJUT / PENANGANAN
KELUHAN
No. Dokumen :

No. Revisi :
SPO Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Untuk menjamin kesinambungan pelayanan terhadap pasien dan mampu


mengetahui riwayat penyakit pasien dengan mudah
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.1/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penetapan Pelaksanaan Standar
Prosedur Operasional Pelayanan Klinis Puskesmas Pariangan
3. Definisi Kajian awal yang memuat informasi yang harus diperoleh selama proses
pengkajian adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi mengenai
masalah kesehatan yang dialami pasien.
4. Prosedur 7. Petugas memanggil pasien sesuai nomor antrian
8. Petugas mempersilahkan pasien untuk duduk
9. Petugas menanyakan ulang identitas pasien disesuaikan dengan
rekam medis pasien
10. Dokter melakukan kajian medis terkait penyakit seperti anamnesis
(RPS, RPD,RPK,RPO) dan Pemeriksaan Fisik yang mendukung
penyakit dan dicatat di lembaran status
11. Perawat mencari informasi yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan
12. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang bisa dilakukan seperti
permeriksaan laboratorium

9. Diagram Alir
Pasien datang

Dokter menanyakan : RPD , RPS , RPK , Riwayat


alergi obat dan melakukan pemeriksaan fisik
mencatat pada lembar rekam medis
Perawat mencari informasi
yang berhubungan dengan
asuhan keperawatan

Bila diperlukan pemeriksaan


penunjang , bisa dilakukan
pemeriksaan laboratorium

10. Referensi
11. Dokumen Rekam medis
Terkait

12. Distribusi Poli Umum . Poli Gigi , Poli Anak , Poli Ibu , UGD

9. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENDELEGASIAN WEWENANG
No. Dokumen :2.309.21

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pendelegasian wewenang disesuaikan dengan kompetensi petugas


sehingga pelayanan dapat berjalan dengan baik dan lancar
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
28/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Pendelegasian Wewenang di UPT
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pendelegasian wewenang adalah proses penyerahan sebagian/beberapa tugas
kepada petugas lain yang disesuaikan dengan kompetensi petugas untuk
dilaksanakan karena alasan tertentu
4. Prosedur 1. Penanggungjawab program mendapat tugas yang akan didelegasikan
2. Penanggungjawab program mengidentifikasi tugas yang akan
didelegasikan
3. Penanggungjawab program mengidentifikasi kompetensi petugas
yang akan diserahi tugas pendelegasian
4. Penangungjawab progran berkonsultasi dengan Ka.TU untuk
membuat surat pendelegasian wewenang
5. Ka.TU menyerahkan surat pendelegasian wewenang ke Kepala
Puskesmas untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan
6. Ka.TU menyerahkan surat pendelegasian wewenang kepada petugas
yang berkompeten
7. Ka.TU dan penangungjawab program mendokumentasikan surat
pendelegasian wewenang

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen Kompetensi petugas
Terkait

7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program


8. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
KOORDINASI DAN INTEGRASI DALAM
PELAKSANAAN PROGRAM DAN
PELAYANAN PUSKESMAS
No. Dokumen :1.2.5.3

No. Revisi :
SPO
Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar terlaksananya kegiatan koordiasni dan integrasi dalam pelaksanaan


program dan pelayanan puskesmas secara baik dan berkesinambungan
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.03/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Koordinasi dan Integrasi Dalam
Pelaksanaan Program dan Pelayanan Puskesmas di UPT Puskesmas
Pariangan
3. Definisi Koordinasi dan integrasi dalam pelaksanaan program dan pelayanan
puskesmas adalah suatu proses kegiatan untuk melaksanakan komunikasi
yang efektif diaantara semua pihak yang berkepentingan di dalam
meningkatkan pelayanan di puskesmas, kegiatan ini dapat berupa Lokakarya
Mini, Rapat Tinjauan Manajemen , Rapat Tim Mutu dan Pertemuan lainnya.
4. Prosedur 1. Penanggung jawab kegiatan menentukan topik yang akan dibahas
pada pertemuan
2. H-2 Penanggung jawab kegiatan membuat surat undangan
pertemuan
3. H-1 Penanggung jawab kegiatan menyebarkan undangan kepada
semua pihak yang terkait
4. Pada hari pelaksanaan Penangung jawab kegiatan membuka dan
memimpin kegiatan
5. Penanggung jawab kegiatan memberikan kesempatan kepada
pelaksana kegiatan untuk memaparkan hal yang akan dibahas
6. Penanggung jawab kegiatan memberikan kesempatan kepada
peserta lain untuk memberikan tanggapan dan saran terhadap
pemaparan tersebut
7. Penanggung jawab kegiatan membuat prioritas masalah , alternatif
pemecahan masalah dan rencana tindak lanjut
8. Penanggung jawab kegiatan membuat kesepakatan dengan semua
peserta tentang apa yang telas dibahas dan membuat pembagian
tugas dengan peran , tugas dan kewenangan masing-masing
9. Penanggung jawab kegiatan mendokumentasikan semua kegiaatn
dalam bentuk notulen dan dokumentasi / foto serta absensi dari
perserta yang hadir
10. Penanggung jawab kegiatan membacakan kembali hasil kegiatan
dan mengingatkan kembali tentang rencana tindak lanjut yang harus
dilaksanakan dan pelaksanaan evaluasi dari tindak lanjut yang akan
dilaksanakan
11. Penanggung jawab kegiatan menutup kegiatan

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen
Terkait
7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program dan pelayanan puskesmas

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
KOORDINASI DAN KOMUNIKASI
No. Dokumen :2.3.1.11

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar terlaksananya kegiatan koordinasi dan komunikasi dalam pelaksanaan


program dan pelayanan puskesmas secara baik dan berkesinambungan
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
3.03/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Koordinasi dan Integrasi Dalam
Pelaksanaan Program dan Pelayanan Puskesmas di UPT Puskesmas
Pariangan
3. Definisi Koordinasi dan komunikasi adalah suatu proses kegiatan untuk
melaksanakan komunikasi yang efektif diantara semua pihak yang
berkepentingan di dalam meningkatkan pelayanan di puskesmas, kegiatan
ini dapat berupa Lokakarya Mini , WA Group atau SMS
4. Prosedur 1. Koordinasi dan komunikasi melalui lokakarya mini dilaksanakan
sesuai aturan / SPO yang ada
2. Koordinasi dan komunikasi melalui WA group dengan cara
 Setiap anggota harus mempunyai aplikasi WA
 Komunikasi dan koordinasi dapat dilaksanakan untuk kegiatan apa
saja yang butuh komunikasi dan koordinasi secara cepat
 Kesepakatan yang didapat dapat dilaksanakan dengan segera dan tetap
menjalankan SPO yang ada
 Hasil daripada kegiaatn tetap dilaporkan dengan segera setelah
kegiatan terlaksana
 Apabila ada yang tidak dapat terselesaikan melalui WA group ,
dibicarakan secaar terppadum pada pertemuan di puskesmas
3. Koordinasi dan komunikasi melalui SMS , prosedur yang sama
dengan prosedur pada WA group
5. Referensi Kesepakatan bersama
6. Dokumen
Terkait
7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program dan pelayanan puskesmas , pelaksana
kegiatan
8. Rekaman historis perubahan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
ORIENTASI PEGAWAI BARU
No. Dokumen :

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/2

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Sebagai acuan bagi pegawai baru agar mengenal , mengetahui dan
memahami cara kerja di UPT Puskesmas Pariangan
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
2.6/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Kewajiban mengikuti program
orientasi bagi Kepala Puskesmas , Penanggung jawab program dan
pelaksanakegiatan yang baru di UPT Puskesmas Pariangan
3. Definisi Orientasi pegawai baru adalah suatu tata cara mempersiapkan pegawai baru
di UPT Puskesmas Pariangan
4. Prosedur 1. Sebelum melaksanakan tugas di UPT Puskesmas Pariangan pegawai
baru harus melaksanakan orientasi
2. Orientasi bagi pegawai baru selama 1 bulan dan bagi petugas lama
yang menerima wewenang baru selama 2 minggu
3. Jadwal orientasi pegawai baru
 Pegawai baru mempelajari Visi, Misi, Motto , Tata nilai dan
struktur organisasi Puskesmas, hak dan kewajiban karyawan
dan peraturan kepegawaian selama 1 minggu
 Orientasi di unit pelayanan selama 1 minggu
 Orientasi di UKM selama 1 minggu
4. Selama menjalani orientasi pegawai baru dan pegawai lama yang
menerima wewenang baru mendapatkan uraian tugasnya
5. Jadwal orientasi bagi pegawai lama yang menerima wewenang baru
 Orientasi program yang akan dikelola selama 3 hari
 Orientasi laporan yang harus dikerjakan selama 1 hari
 Orientasi integrasi program selama 3 hari

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen
Terkait
7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program dan pelayanan puskesmas , pelaksana
kegiatan

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENGALIHAN KEWENANGAN
No. Dokumen :8.7.1.207

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/1

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar pengalihan kewenangan disesuaikan dengan kompetensi petugas


sehingga pelayanan dapat berjalan dengan baik dan lancar
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
2.77/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Pengalihan Kewenangan di UPT
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pengalihan kewenangan adalah proses penyerahan sebagian/beberapa tugas
kepada petugas lain yang disesuaikan dengan kompetensi petugas untuk
dilaksanakan karena alasan tertentu
4. Prosedur 1. Kepala Puskesmasmenetukan petugas yang akan diberikan
pengalihan kewenangan
2. Kepala Puskesmas memnita Ka. TU untuk membuat Surat
Keputusan pengalihan kewenangan kepada petugas yang telah
ditentukan
3. Kepala Puskesmas menjabarkan tugas dan fungsi dari pengalihan
kewenangan
4. Kepala Puskesmas meminta kepada Ka.TU untuk
mendokumentasikan dokumen pengalihan kewenangan tersebut

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen Kompetensi petugas
Terkait

7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PEMETAAN KOMPETENSI
No. Dokumen :8.7.1.208

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/1

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar terdapat peta yang jelas tentang kompetensi petugas yang ada
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
02/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penanggung Jawab Program di UPT
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Pemetaan kompetensi adalah proses identifikasi kompetensi setiap petugas
yang ada di puskesmas
4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas meminta kepada semua petugas untuk
mengumpulkan semua bukti pelatihan yang telah diikuti
2. Kepala Puskesmas melakuakn rekapan atas semua sertifikat yang
ada
3. Kepala Puskesmas melakukan analisa dari semua kompetensi yang
ada dari setiap tenaga kesehatan
4. Kepala Puskesmas melakukasn pemetaan terhadap semua petugas
dan meletakkan petugas sesuai dengan pada tempat yang sesuai
dengan kompetensinya

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen Kompetensi petugas
Terkait

7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program , penanggung jawab kegiatan

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan
PENINGKATAN KOMPETENSI
No. Dokumen :8.7.185

No. Revisi :

SPO Tanggal Terbit :Januari 2016

Halaman : 1/1

UPT PUSKESMAS dr. Fitria Ananda


PARIANGAN
NIP.19700624 200012 2 001

1. Tujuan Agar terdapat peta yang jelas tentang kompetensi petugas yang ada
2. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Wilayah Kerja Pariangan nomor :
02/SK/UPT Pusk-Prg/I/2016 tentang Penanggung Jawab Program di UPT
Puskesmas Pariangan
3. Definisi Peningkatan kompetensi adalah proses untuk meningkatkan kompetensi
setiap petugas yang ada di puskesmas sesuai dengan tugas dan fungsinya
4. Prosedur 1. Kepala Puskesmas meminta kepada semua petugas untuk
mengumpulkan semua bukti pelatihan yang telah diikuti
2. Kepala Puskesmas melakuakn rekapan atas semua sertifikat yang
ada
3. Kepala Puskesmas melakukan analisa dari semua kompetensi yang
ada dari setiap tenaga kesehatan
4. Kepala Puskesmas melakukan pemetaan terhadap semua petugas
dan melakukan evaluasi kinerja terhadap kompetensi yang ada
5. Kepala puskesmas melakukan analisa terhadap evaluasi kinerja
petugas dan melakukan penilaian
6. Kepala puskesmas merencanakan peningkatan kompetensi bagi
penilaian yang kurang memadai terhadap kompetensinya

5. Referensi Kesepakatan bersama


6. Dokumen Kompetensi petugas
Terkait

7. Distribusi Ka. TU , penanggungjawab program , penanggung jawab kegiatan

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan