Anda di halaman 1dari 5

Nama : Syam Sugama Putra Tugas : Produksi Bersih 2

NIM : 161411092 Tanggal Pengumpulan : 30 April 2019


Kelas : 3C Dosen : Ir. Mukhtar Gozali, M.Sc

PENGOLAHAN ALUMINIUM OKSIDA DENGAN METODE BAYER

A. Aluminium
Aluminium berasal dari biji aluminium alam, yang dijumpai sebagai tambang bauksit
yang mengandung kandungan utama aluminium oksida (alumina). Bauksit diolah dalam dapur
listrik yang menghasilkan ingot aluminium.

Aluminium tahan karat karena di udara membentuk paduan aluminium oksida hasil reaksi
antara O2 di udara dengan permukaan logam aluminium. Lapisan aluminium ini berisi oksida
yang cukup kedap udara dan tidak dapat terhembus dan ini menghambat terjadinya
pengkaratan. Agar aluminium ini tahan terhadap karat perlu dilakukan finishing lebih lanjut
dengan meggunakan anodisasi/anodixing. Lapisan oksida aluminium terbentuk secara alami
amat tipis ini membuat daya tahan meningkat, lapisan ini dapat dipertebal dengan proses
anodisasi. Dengan cara menempatkan aluminium ke dalam larutan elektrolit yang kemudian
dialiri arus listrik.

Logam Aluminium adalah logam unsur kimia berlimpah yang secara luas digunakan di
seluruh dunia untuk berbagai produk. Banyak konsumen berinteraksi dengan beberapa bentuk
itu setiap hari, terutama jika mereka aktif di dapur. Unsur ini memiliki nomor atom 13, dan
diidentifikasi dengan simbol Al pada tabel periodik unsur. Hal ini diklasifikasikan dalam logam
miskin, berbagi milik kelenturan ekstrim dengan logam seperti timah dan timah. Standar ejaan
internasional adalah aluminium.

B. Alumina

Alumina (Al2O3) merupakan material keramik nonsilikat yang paling penting. Material ini
meleleh pada suhu 2051oC dan mempertahankan kekuatannya bahkan pada suhu 1500 sampai
1700oC. Alumina mempunyai ketahanan listrik yang tinggi dan tahan terhadap kejutan termal
dan korosi. Alumina (Al2O3) diperoleh dari pengolahan biji bauksit yang mengandung 50-60%
Al2O3; 1-20% Fe2O3; 1-10% silika; sedikit sekali titanium, zirkonium dan oksida logam transisi
lain; dan sisanya (20-30%) adalah air. Pengolahan ini dilakukan dengan menggunakan proses
Bayer yang mengambil manfaat dari fakta bahwa oksida alumina amfoter larut dalam basa kuat
tetapi besi (III) oksida tidak. Alumina yang dihasilkan melalui proses Bayer ini, mempunyai
kemurnian yang tinggi dengan konsumsi energi yang relatif rendah.

Satu-satunya oksida aluminium adalah alumina (Al2O3). Meskipun demikian,


kesederhanaan ini diimbangi dengan adanya bahan-bahan polimorf dan terhidrat yang sifatnya
bergantung kepada kondisi pembuatannya. Terdapat dua bentuk anhidrat Al2O3 yaitu α-Al2O3
dan γ-Al2O3. Logam-logam trivalensi lainnya (misalnya Ga, Fe) membentuk oksida-oksida
yang mengkristal dalam kedua struktur yang sama. Keduanya mempunyai tatanan terkemas
rapat ion-ion oksida tetapi berbeda dalam tatanan kation-kationnya.

Secara umum alumina ditemukan dalam tiga fasa, yang dikenal sebagai γ , β dan α alumina.
Ketiga fasa di atas diketahui memiliki sifat-sifat yang berbeda, sehingga memiliki aplikasi yang
khas (unik). Beta alumina (β -Al2O3) memiliki sifat tahan api yang sangat baik sehingga dapat
digunakan dalam berbagai aplikasi keramik seperti pembuatan tungku. Gamma alumina (γ-
Al2O3) banyak digunakan sebagai material katalis, contohnya dalam penyulingan minyak bumi
dan digunakan dalam bidang otomotif. Alfa alumina (α-Al2O3) mempunyai struktur kristal
heksagonal dengan parameter kisi a = 4, 7588 dan c = 12, 9910 nm. Alfa alumina banyak
digunakan sebagai salah satu bahan refraktori dari kelompok oksida, karena bahan tersebut
mempunyai sifat fisik, mekanik dan termal yang sangat baik. Fasa paling stabil dari alumina
adalah fasa Alfa alumina (α-Al2O3), dalam proses perlakuan termal α -Al2O3 diperoleh melalui
transformasi fasa yang diawali dari Boehmite AlO(OH) yaitu: Boehmite γ-alumina δ-alumina
θ-alumina β-alumina α-alumina.

C. Proses Pembuatan Aluminium Oksida dengan Metode Bayer

Berikut ini proses pembuatan aluminium oksida dengan metode Bayer


Sumber : USAID, 1997

(Qomaruddin, A. 2016)

Sekarang proses Bayer mendominasi produksi aluminium oksida karena memiliki biaya
produksi terendah diantara proses lainnya. Proses ini menggunakan sirkulasi larutan kaustik
terkonsentrasi untuk melarutkan aluminium trihidrat(Al2O3.3H2O) yang terkandung dalam
bauksit, memisahkan cairan hasil reaksi dari solid residue, dan kemudian kembali endapan
menjadi aluminium oksida trihidrat(Al2O3.3H2O). dan proses kalsinasi mengubah tri-hidrat
untuk aluminium oksida seluruhnya.

1. Comminution: bauksit masuk dikecilkan ukuran partikelnya untuk mempercepat proses


digester dan pencampurandengan cairan kaustik.
2. Pre-desilication: slurry dikirim ke pre-desilication step (100°C, tekanan 1 bar). Hal ini
membantu untuk pra bereaksi tanah liat apapun ataubauksit yang mengadung silika
sangat reaktif dan mulai terjadinya pembentukan produk desilication (DSP). Pre-
desilication meminimalkan waktu tinggal lumpur pada tahap digestion.
3. Digestion: slurryhasilpre-desilication dikirim ke proses digestion. Kemudian slurry
dipanaskan sampai antara ~ 140 ° C dan 260 ° C (tergantung pada jenis bauksit).
Aluminium oksidadan silika mineral larut dan kemudian silika kembali endapan
sebagai 'produk desilication' (DSP).
4. Flash Down: Slurry hasil digestion didinginkan sampai 105 °C (dan tekanan berkurang
kembali ke tekanan 1 bar) dengan memungkinkan terjadinya penguapan airatau di
flashing pada stage bertingkat. Pembentukan DSP harus selesai pada tahap ini, namun
sebagian besar mineral aluminium oksidatetap terlarut dalam cairan.
5. Pemisahan & klarifikasi: Komponen padat dan cair dari slurrydipisahkan menggunakan
setller bertingkat atau Deep Cone Thickener untuk mendapatkan kembali pregnant
liquor sebanyak mungkin. Lumpur berisi solid yang tinggi dikirim ke disposal area.
Pregnant liquor dan hasil pencucian dikirim ke penyaringan atau polishing untuk
menghilangkan kandungan padatan yang masih terbawa-membantu menghindari
kontaminasi ketidakmurnian produk akhir dan mencegah akumulasi inti untuk proses
presipitasi.
6. Presipitasi: Pregnant liquor secara bertahap didinginkan dari sekitar 80 °C hingga 65
°C di vessel besar bertingkat. Aluminium oksidayang terlarut terpresipitasi sebagai
aluminium oksida trihidrat(Al2O3.3H2O). aluminium oksida yang panas dicuci untuk
menghilangkan oksalat yang juga mengendap di spent liquor.
7. Kalsinasi: aluminium oksida trihidrat (Al2O3.3H2O) yang dikalsinasi pada ~ 1000 °C
untuk menghilangkan air hidrat yang terkandung dalam padatan. Aluminium oksida
biasanya kemurnian > 99,5% Al2O3.
8. Lainnya: Streaming dari spent liquor kini lebih lanjut diperlakukan untuk
menghilangkan kotoran lainnya, dengan cara dievaporasi untuk membuang kelebihan
air, dan digunakan untuk memanaskan slurry sebelum masuk reaktor (untuk
menghemat biaya energi proses). Kaustik tambahan yang ditambahkan untuk make up
kerugian dari cairan yang terikut di lumpur.

Dalam pemurnian proses Bayer bauksit suhu tinggi (biasanya yang bauksit membutuhkan suhu
pencernaan 250 ° C atau lebih), ada varian proses sebagai sweetening. Ini melibatkan
menyuntikkan tambahan ~ 25% dari slurry bauksit suhu rendah (gibbsite) ke dalam flash down
(Stage4). Aluminium oksida dalam slurry bauksit (gibbsite) larut dengan cepat dalam aliran
suhu tinggi, sehingga konsentrasi aluminium oksida yang terlarut dalam cairan secara
signifikan lebih tinggi dari sebenarnya dapat dicapai dengan mengolah bauksit suhu tinggi saja.
Dengan cara ini “sweetening" memungkinkan aluminium oksida ekstra untuk diproduksi dari
pabrik suhu tinggi yang ada hanya sangat kecil modal dan operasi kenaikan biaya (pro rata,
jauh lebih kecil dari aluminium oksidayang dihasilkan).

D. Penerapan Produksi Bersih pada Produksi Aluminium Oksida Metode Bayer


Limbah bauksit atau tailing hasil pencucian/pengolahan bijih bauksit Pulau Bintan
Provinsi Kepulauan Riau, pada umumnya berupa lempung dan pasir kuarsa, merupakan bahan
yang tidak terpakai lagi dan jumlahnya semakin bertambah banyak. Limbah tersebut mampu
diolah untuk pembuatan badan keramik dari pemanfaatan limbah tailing hasil pengolahan bijih
bauksit di Pulau Bintan. Komposisi kimianya adalah 22,07 % Al2O3, 62,52 % SiO2, 1,58 %
Fe2O3 dan sisanya alkali dalam jumlah kecil. Melihat besarnya jumlah limbah yang terbuang
tersebut, maka ada pemikiran untuk memanfaatkannya sebagai bahan alternatif untuk
campuran badan keramik.

Percobaan pembuatan badan keramik dari limbah bauksit ini dilakukan dengan
menyiapkan tiga komposisi badan keramik (I, II & III) yang masing-masing terdiri dari
campuran limbah bauksit, lempung dan kapur dengan perbandingan yang bervariasi, kemudian
dibuat benda uji dan dibakar pada suhu 1150oC dan 1200oC, selanjutnya diuji sifat-sifat
fisiknya antara lain : susut kering, susut bakar, peresapan air, kuat lentur kering dan kuat lentur
bakar. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan persyaratan SNI untuk badan keramik
hard eathenware dan stoneware.

Hasil uji sifat fisik terhadap ketiga komposisi benda uji/badan keramik tersebut, hanya
benda uji dengan komposisi I (40% limbah bauksit, 50% lempung dan 10% kapur), yang
memenuhi syarat untuk pembuatan badan keramik hard earthenware pada suhu pembakaran
1150oC, berdasarkan SNI 15-1147-1989, dengan kehalusan butir lolos saringan 80 mesh, nilai
kuat lentur kering 26,4827 kg/cm2 (> 15,3 kg/cm2), kuat lentur bakar 162,08 kg/cm2 (> 153
kg/cm2), peresapan air 14,88 % (< 15 %). Sedangkan pada suhu pembakaran 1200oC tidak
ada komposisi campuran yang memenuhi persyaratan untuk badan keramik stoneware.

DAFTAR PUSTAKA
Nuryanto & Frank Edwin . 2015. Jurnal Pemanfaatan Limbah Tailing Hasil Pengolahan Bijih
Bauksit Pulau Bintan Untuk Pembuatan Badan Keramik. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri Kementrian Perindustrian Republik Indonesia
Qomaruddin, A. (2016). Prarancangan Pabrik Aluminium Oksida Dari Bauksit Dengan
Proses Bayer Kapasitas 1.000.000 Ton/ Tahun. Surakarta: Fakultas Teknik Universitas
Sebelas Maret.