Anda di halaman 1dari 31

BAB III

LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN

a. PENGKAJIAN
Ruang rawat : Ruang Merak
Tanggal dirawat : 27 Mei 2018

 IDENTITAS
a. Identitas Klien
Nama :Tn.A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 31 tahun
No. RM : 013534
Informan :Klien, Keluarga klien dan Rekam
Medis Klien
Tanggal Pengkajian :27 Mei 2018
Alamat : Jl. Sangkuriang Kp. Baru No.34
RT.06RW.05 Desa. Cipageran
Kec. Cimahi Utara Kota. Cimahi
40511

b. Identitas Penanggung Jawab Klien


Nama : Tn. W
Umur :56 tahun
Pendidikan : SD
Hubungan dengan klien :Ayah Kandung
Alamat :Jl. Sangkuriang Kp. Baru No.34
RT.06RW.05 Desa. Cipageran
Kec. Cimahi Utara Kota. Cimahi
40511
 ALASAN MASUK
Setelah klien pulang dari pendidikannya di pesantren, keluarga
mengatakan klien menunjukan gejala gelisah, tidak mau makan, tidak mau
mandi, berbicara sendiri, tertawa sendiri, pandangan mata tajam, berbicara
keras, berbicara tanpa jeda. Upaya yang dilakukan keluarga sebelum
membawa klien ke Rumah Sakit adalah di bawa ke pengobatan alternatif.
Namun tidak kunjung membaik sehingga akhirnya di bawa ke RSJ Provinsi
Jawa Barat.
Pada saat dikaji tanggal 27 mei 2018 pukul 09.30 WIB. Klien
mengatakan : “Saya mah sering denger suara-suara pa, kaya bisikan gitu lah.
Suara nya teh ga jelas pa, da kaya bisikan gitu kan. Tapi yang jelas nya mah
suka nyuruh jangan sembuh, jangan makan, jangan mandi, jangan minum
obat, datengnya suka malem-malem pa sebelum tidur atau pas saya lagi
sendirian. Terus kalo malem-malem pas lagi ngelamun teh saya juga suka
liat ada bayangan kaya orang yang melotot ke saya pa, bisa 1 hari 1 kali kalo
yang bayangan mah, kadang suka kaya tetangga saya pa tapi yang udah
meninggal, kadang kaya bayangan item aja, kaya yang merhatiin saya.
Perasaannya ya takut atuh pa, tapi ga pernah di anggap, di diemin
aja”.Penampilan klien cukup rapi, cara berpakaian seperti biasanya,
memakai pakaian sesuai dengan ruangan, badan tidak bau, rambut terlihat
cukup rapi.
Masalah keperawatan:
1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
2. Resiko Perilaku Kekerasan

1. FAKTOR PREDISPOSISI
a. Pernah mengalami gangguan jiwa masa lalu :
Klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu. Klien pernah di
rawat di RSJ Provinsi Jawa Barat sebanyak 4 kali mulai dari tahun 2001,
2005, 2006 dan dirawat kembali di RSJ Provinsi Jawa Barat pada tahun
2015 karena minum obat tidak teratur.
b. Pengobatan sebelumnya :
Pengobatan sebelumnya tidak berhasil karena klien pernah jadwal
kontrolnya terlewat dan minum obat secara tidak teratur.
Masalah keperawatan : Regiment therapetik Inefektif

c. Pengalaman Traumatis :
Trauma Pelaku Usia Korban Usia
Aniaya Fisik 15 tahun
17 tahun
Aniaya Seksual
Penolakan 15 tahun
Kekerasan dalam keluarga
Tindakan Kriminal
Tabel. 3.1 Pengalaman Traumatis
Jelaskan :
Pasien mengatakan pernah mengalami aniaya fisik sebagai korban
pada usia 15 tahun yaitu dipukuli oleh teman-temannya pada saat SMP,
sekitar tahun 2003 dan pernah mengalami penolakan dari lingkungan
teman-temannya dan sering diejek ketika bertingkah laku aneh, sehingga
pasien merasa malu. Pasien mengatakan : “Dulu malu juga sama temen-
temen, suka diejek. Jadi sering marah-marah, kesel karena suaranya ga
ilang-ilang, tapi kalo sekarang udah jarang marah-marahnya pa”.
Selain itu pada usia 17 tahun pasien pernah mengalami aniaya fisik
sebagai korban ketika sedang belajar di pesantren. Keluarga pasien
mengatakan : “Anak saya dulu pernah dipukulin sama orang, sewaktu
dipesantren, sampai pernah dipukul sama kepala kampak di bagian kaki
yang kanan”. Sejak kejadian tersebut, keluarga pasien mengatakan pasien
menjadi lebih sering datang halusinasinya terutama halusinasi
pendengarannya, yang ditandai dengan sering adanya suara-suara yang
tidak memiliki wujud yang membuat pasien menjadi takut.
Masalah Keperawatan :
- Resiko Perilaku Kekerasan
- Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan

d. Anggota keluarga yang gangguan jiwa :


Klien mengatakan nenek klien dari pihak Ayah juga pernah mengalami
gangguan jiwa, dengan gejala sering menangis sendiri, meracau, sering
mengurung diri dikamar dan pernah di rawat di RSJ Provinsi Jawa Barat
namun sekarang sudah meninggal.

e. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan :


Klien mengatakan sering dibully teman-temannya dan pernah dipukuli
oleh teman-temannya pada saat SMP. Pada saat dibully oleh teman-
temannya klien merasa malu. Selain itu, klien juga pernah mengalami
aniaya fisik pada saat belajar dipesantren.

2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda Vital : TD : 110/80 mmHg N: 88x/menit
Suhu: 36.5oC P: 18x/menit
b. Ukur : BB: 55 kg TB : 165 cm
c. Keluhan Fisik : Pada saat dikaji klien mengatakan tidak memiliki
keluhan fisik pada dirinya.
3. PSIKOSOSIAL
a. Genogram Gambar 3.1 Genogram

31
Keterangan :
= Laki-laki = Garis hubungan perkawinan 31 = Klien

= Perempuan = Tinggal serumah dengan klien

= Meninggal = Orang terdekat dengan klien

= Anggota keluarga dengan penyakit yang sama

- Pola asuh:
Pasien mengatakan sejak kecil pasien diasuh oleh kedua orang tuanya
dan orang tua pasien menerapkan sitim demokrasi kepada anak -
anaknya.
- Pola komunikasi:
Pola komunikasi didalam keluarga yaitu pola komunikasi terbuka dan
pasien mengatakan sering ikut mengutarakan pendapatnya.
- Pola pengambilan keputusan:
Dalam pengambilan keputusan keluarga biasanya berunding atau
bermusyawarah dan pasien sering diikut sertakan dalam pengambilan
keputusan.
- Herediter:
Pasien mengatakan nenek pasien dari pihak Ayah juga pernah
mengalami gangguan jiwa, dengan gejala sering menangis sendiri,
meracau, sering mengurung diri di kamar dan pernah di rawat di RSJ
Provinsi Jawa Barat namun sekarang sudah meninggal.
- Orang yang tinggal serumah:
Pasien saat ini tinggal serumah dengan kedua orang tuanya dan adik-
adiknya.
b. Konsep Diri
- Gambaran diri:
Pasien mengatakan ia menyukai seluruh bagian tubuhnya, karena
pasien menyadari bahwa seluruh anggota tubuhnya ini telah
diciptakan Allah SWT sesempurna mungkin, sehingga ia selalu
bersyukur dengan yang diberikan Allah SWT.
- Identitas diri :
Pasien dapat menyebutkan namanya dengan benar, pasien
mengatakan bahwa pasien adalah seorang laki-laki, penampilan pasien
sesuai dengan identitasnya sebagai seorang laki-laki dan pasien
mengatakan senang menjadi seorang laki-laki karena ini merupakan
takdir Tuhan.
- Peran diri:
Pasien merupakan seorang anak pertama bagi kedua orang tuanya dan
kakak bagi adik-adiknya. Di Rumah Sakit pasien berperan sebagai
pasien yang mentaati peraturan Rumah Sakit.
- Ideal diri :
Pasien berharap ingin cepat sembuh, cepat pulang ke rumah agar bisa
bertemu dengan keluarganya dan dapat membantu keluarganya lagi.
- Harga diri :
Pasien mengatakan saat ini tidak memiliki masalah dengan harga
dirinya dan merasa bersyukur atas kehidupannya.

c. Hubungan Sosial:
- Orang yang berarti/ terdekat :
Pasien mengatakan orang yang terdekat dengan dirinya adalah
ayahnya, namun pasien mengatakan ia tetap menyayangi semua
anggota keluarganya.
- Peran serta dalam kegiatan kelompok /masyarakat :
Pasien mengatakan tidak ikut serta dalam kegiatan dimasyarakat,
pasien mengatakan merasa tidak terpakai dan lebih sering
menghabiskan waktu dirumah.
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain :
Pasien mengatakan tidak memiliki hambatan dalam berhubungan
dengan orang lain, hanya saja pasien lebih senang melakukan aktivitas
didalam rumah.
 Nilai dan keyakinan:
Pasien mengatakan beragama Islam dan percaya kepada Allah SWT.
Menurut pasien, penyakitnya ini merupakan cobaan dari Allah SWT.
 Kegiatan Ibadah:
Pasien mengatakan jarang shalat 5 waktu dan sering bolong-bolong
karena malas.

4. STATUS MENTAL
a. Penampilan
Penampilan pasien cukup rapi, cara berpakaian seperti biasanya,
memakai pakaian sesuai dengan ruangan, badan tidak bau, rambut
terlihat cukup rapi.
b. Pembicaraan
Pembicaraan pasien sesuai namun cenderung cepat dengan intonasi
keras, pasien sering mengulang pertanyaan yang telah diajukan
sebelumnya, kadang tiba-tiba kesal, raut muka tegang dan komat kamit.
Masalah keperawatan :
1. Resiko Perilaku Kekerasan
c. Aktivitas motorik
Saat dikaji pasien tampak lesu, lebih banyak diam dan bermalas-malasan.
d. Alam Perasaan
Pada saat dikaji pasien mengatakan curiga kepada orang lain, pasien
merasa orang lain membicarakan dirinya. Pasien mengatakan : “takut
orang itu ngomongin saya”.
e. Afek
Afek pasien tampak sesuai, terlihat saat perawat bercerita hal yang lucu
pasien tampak tertawa dan saat menceritakan hal-hal yang tidak
menyenangkan, pasien tampah sedih.
f. Interaksi selama wawancara
Pada saat dikaji pasien mudah teralihkan oleh lingkungan sekitarnya,
pandangan mata tajam.
g. Persepsi
Pasien mengalami Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan.
pasien mengatakan melihat orang yang menyerupai tetangganya yang
telah meninggal, kadang pasien merasa seperti ada orang yang
memperhatikan dirinya, halusinasinya ini menurut pasien dapat
berlangsung selama 1 hingga 2 jam namun tidak teratur, terjadi setiap
hari terutama pada malam hari pada saat pasien sendiri atau melamun
sebelum tidur, pasien merasa takut saat melihat bayangan tersebut. Pasien
mengatakan mendengar bisikan - bisikan yang menyuruhnya agar jangan
sembuh, jangan makan, jangan minum obat. Pasien mengatakan suara
tersebut sering terdengar sebelum tidur atau pada saat pasien menyendiri
pada malam hari, bisikan-bisikan tersebut dapat berlangsung selama 2
jam bahkan lebih hingga kadang membuat pasien tidak bisa tidur, pasien
merasa takut namun mencoba tidak menghiraukan suara tersebut.
h. Proses pikir
Pada saat dikaji proses fikir pasien perseverasi, ditandai dengan pasien
sering mengajukan pertanyaan yang berulang-ulang.
i. Isi pikir
Pada saat diwawancara, tidak ditemukan gangguan isi pikir maupun
waham.
j. Tingkat kesadaran
Orientasi waktu : Pasien mampu menyebutkan hari dan jam dengan benar
Orientasi tempat: Pasien mampu mengenal tempat, terbukti saat ditanya
saat ini sedang dimana, pasien menjawab sedang di ruang Merak RSJ
Provinsi Jawa Barat.
Orientasi orang : Pasien ingat nama Perawat W yang sedang
mengajaknya berbincang.
k. Memori
Pada saat dikaji pasien mengalami gangguan memori.
Memori jangka panjang : Pasien memiliki gangguan memori jangka
panjang, dibuktikan dengan pasien tidak mengingat nama Iwan
saudaranya sewaktu ditanya berulang kali oleh perawat.
Memori jangka pendek : Pasien ingat apa menu sarapan pagi nya, tadi
pagi saya sarapan nasi goreng lauknya telor asin.
l. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Pada saat ditanya kemampuan konsentrasi berkurang, karena saat
dilakukan interaksi pasien mudah teralihkan perhatiannya oleh
lingkungan disekitarnya terbukti ketika mendengar suara musik, pasien
menengok kearah suara musik terdengar, pasien mampu berhitung
perhitungan sederhana, terbukti pada saat ditanya hitungan 4 + 4 bisa
menjawabnya.
m. Kemampuan penilaian
Pasien mampu memutuskan atau mengambil keputusan secara sederhana,
yaitu pada saat akan makan, pasien cuci tangan dulu baru makan.
n. Daya tilik diri
Pasien tidak mengingkari penyakit yang dideritanya, pasien menyadari
bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa, terbukti saat ditanya Perawat,
pasien mengatakan bahwa bayangan dan suara yang muncul itu adalah
halusinasi yang menyuruh untuk berbuat negatif.
1. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
- Makan
Pasien makan 3x sehari secara mandiri tanpa bantuan, 1 porsi habis
dengan menu yang disesuaikan dari Rumah Sakit.
- BAB/BAK
Pasien mampu pergi ke toilet sendiri dan dapat membersihkannya
sendiri, BAB 1x sehari, BAK 4x sehari.
- Mandi
Pasien mandi 2x sehari menggunakan sabun namun pasien mengatakan
tidak pernah menyikat gigi selama di Rumah Sakit.
- Berpakaian/berhias
Pada saat dikaji, pasien memakai pakaian seragam Rumah Sakit dan
dapat menggunakan pakaian secara mandiri.
- Istirahat dan tidur
Tidur siang : ± 2 jam dari jam 13.00 s.d 15.00.
Tidur malam : ± 7 jam dari jam 22.00 s.d 05.00.
Kegiatan setelah tidur : shalat, berdo’a, beres-beres.
- Penggunaan obat
Pasien biasanya minum obat setelah makan, yang diberikan oleh perawat
dan pasien mau untuk minum obat.
- Pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan akan berobat ke RSJ Provinsi Jawa Barat dan akan
ditemani keluarganya.
- Kegiatan didalam rumah
Pasien mampu menyapu dan mengepel rumah, namun belum bisa
mencuci pakaian sendiri, yang mempersiapkan makan dan yang
mengatur keuangan adalah Ibu pasien.
- Kegiatan diluar rumah
Pasien biasa berbelanja kepasar bersama ibunya dengan menggunakan
kendaraan umum atau membantu ayahnya menanam touge disekitar
halaman rumah.

2. MEKANISME KOPING
Adaptif Maladaftif
V Berbicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah V Menyendiri
Teknik relaksasi V Marah-marah
V Beristighfar Menghindar
V Tarik nafas dalam Mencederai diri

Pasien mengatakan bahwa apabila ia memiliki masalah, pasien biasanya


akan berbicara pada ayahnya, beristighfar dan menarik nafas hingga tenang
(adaptif), namun pasien kadang menyendiri dan marah-marah (maladaptif).
Masalah Keperawatan : Kurang pengetahuan tentang mekanisme koping
yang efektif

3. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


- Masalah dengan dukungan kelompok
Pasien mengatakan tidak memiliki masalah dengan kelompok, pasien
mengatakan sangat didukung keluarganya agar cepat sembuh.
- Masalah berhubungan dengan lingkungan
Pasien mengatakan tidak memiliki masalah dengan lingkungan, pasien
mengatakan : ”suka ngobrol sama tetangga kalo di rumah, da rumah nya
pada deket”.
- Masalah dengan pendidikan
Pasien dapat menyelesaikan pendidikannya hingga tamat SMP.
- Masalah dengan pekerjaan
Pasien mengatakan tidak memiliki perkerjaan apapun.
- Masalah dengan perumahan
Pasien mengatakan tinggal bersama kedua orang tua dan adik-adiknya.
- Masalah ekonomi
Pasien mengatakan tidak mempunyai penghasilan dan bergantung pada
orang tua.
- Masalah dengan pelayanan kesehatan
Bila sakit pasien berobat ke Puskesmas Cipageran dan apabila kontrol
langsung datang ke RSJ Provinsi Jawa Barat.

4. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Penyakit jiwa Sistem pendukung
Faktor presipitasi Penyakit fisik
V Koping yang efektif V Obat-obatan bagi gangguan jiwa

Saat dilakukan pengkajian, pasien menyadari bahwa dirinya mengalami


gangguan jiwa, terbukti saat ditanya perawat, pasien mengatakan bahwa
bayangan dan suara yang muncul itu adalah halusinasi yang menyuruh
untuk berbuat negatif. Pasien mengatakan sangat didukung keluarganya
untuk sembuh. Kemudian pasien mengetahui bahwa halusinasinya bisa
muncul ketika klien sering mengurung diri dikamar. Pasien mengatakan saat
ini tidak memiliki keluhan penyakit fisik. Namun pasien tidak mengetahui
mekanisme koping yang efektif bagi dirinya dan pasien tidak mengetahui
kegunaan obat-obatan yang diminumnya.

5. ASPEK MEDIK
Diagnosa Medik :SchizophreniaParanoid Mulai dari 23 Mei 2018

No Nama Obat Sediaan Dosis Rute

1. Haloperidol 5 mg 3x1 P.o


2. Trihexiphenidil 2 mg 3x1 P.o
3. Chlorpomazine 100 mg 0-0-1 P.o

Tabel 3.2 Terapi Medik


ANALISA DATA
Inisial Klien : Tn.A Ruang : MerakNo.RM : 013534
Tabel 3.4 Analisa Data

DATA MENYIMPANG MASALAH KEPERAWATAN

Data Subjektif : Gangguan Persepsi Sensori :


1) Pada saat dikaji tanggal 27 mei 2018 Halusinasi Pendengaran dan
pukul 09.30 WIB. Pasien mengatakan Penglihatan
melihat orang yang menyerupai
tetangganya yang telah meninggal,
kadang pasien merasa seperti ada orang
yang memperhatikan dirinya,
halusinasinya ini menurut pasien dapat
berlangsung selama 1 hingga 2 jam
namun tidak teratur, terjadi setiap hari
terutama pada malam hari pada saat
pasien sendiri atau melamun sebelum
tidur, pasien merasa takut saat melihat
bayangan tersebut.
2) Pasien mengatakan mendengar bisikan -
bisikan yang menyuruhnya agar jangan
sembuh, jangan makan, jangan minum
obat. Pasien mengatakan suara tersebut
sering terdengar sebelum tidur atau pada
saat pasien menyendiri pada malam hari,
bisikan - bisikan tersebut dapat
berlangsung selama 2 jam bahkan lebih
hingga kadang membuat pasien tidak
bisa tidur, pasien merasa takut namun
mencoba menghiraukan suara tersebut.
Data Objektif :
3) Interaksi pasien selama wawancara
mudah teralihkan oleh lingkungan
sekitarnya.
4) Kemampuan konsentrasi berkurang,
terbukti saat dilakukan interaksi pasien
mudah teralihkan perhatiannya oleh
lingkungan disekitarnya.
Data Subjektif : Resiko Perilaku Kekerasan
5) Kurang lebih 1 minggu sebelum masuk
Rumah Sakit, keluarga mengatakan
pasien menunjukan gejala gelisah,
pandangan mata tajam, berbicara keras,
mengamuk hingga menendang kaca
jendela di depan rumahnya.
6) Pasien mengatakan pernah mengalami
aniaya fisik sebagai korban pada usia 15
tahun yaitu dipukuli oleh teman-
temannya pada saat SMP.
7) Keluarga pasien mengatakan : “Asep
dulu pernah dipukulin sama orang,
sewaktu dipesantren, sampai pernah
dipukul sama kepala kampak di bagian
kaki yang kanan”.
Data Objektif :
- Pembicaraan pasien sesuai namun
cenderung cepat dengan intonasi keras
- Pandangan mata tajam

b. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS


a. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
b. Resiko Perilaku Kekerasan

c. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Tabel 3.5
Rencana Tindakan Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional

Pasien mampu : Setelah 3 x SP 1


1. Mengenali pertemuan, pasien 1. Bantu pasien o Dengan mengenal
halusinasi dapat menyebutkan : mengenal halusinasi halusinasinya
yang 4. Isi, waktu, (isi, waktu terjadinya, perawat dapat
dialaminya frekuensi, situasi frekuensi, situasi mengidentifikasi
2. Mengontrol pencetus, pencetus, perasaan masalah pasien
halusinasinya perasaan saat terjadi halusinasi) sehingga bisa
3. Mengikuti 5. Mampu 2. Latih mengontrol menentukan cara
program memperagakan halusinasi dengan dalam proses
pengobatan cara dalam cara menghardik penyembuhan
mengontrol Tahapan tindakannya o Dengan
halusinasi meliputi : mengajarkan cara
6. Jelaskan cara mengontrol
menghardik halusinasi, pasien
halusinasi mampu mengatasi
7. Peragakan cara saat halusinasinya
menghardik muncul
8. Minta pasien o Memudahkan
memperagakan pasien dalam
ulang mengingat
9. Pantau penerapan aktivitas yang
cara ini, beri dilakukan
penguatan perilaku
pasien
3. Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien
Setelah 3 x SP 2
pertemuan, pasien  Evaluasi kegiatan 1) Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1) perkembangan
A. Menyebutkan  Latih berbicara / pasien dan data
kegiatan yang bercakap dengan dasar untuk
sudah dilakukan orang lain saat intervensi
B. Memperagakan halusinasi muncul selanjutnya
cara bercakap-  Masukkan dalam 2) Dengan melatih
cakap dengan jadwal kegiatan pasien
orang lain pasien mengendalikan
halusinasi
dengan cara
bercakap-cakap
diharapkan klien
dapat terdistraksi
ketika
halusinasinya
muncul
3) Memudahkan
pasien dalam
mengingat
aktivitas yang
dilakukan
Setelah 3 x SP 3
pertemuan pasien a. Evaluasi kegiatan 2. Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1 dan 2) perkembangan
1. Menyebutkan b. Latih kegiatan agar pasien dan data
kegiatan yang halusinasi tidak dasar untuk
sudah dilakukan muncul intervensi
2. Membuat jadwal Tahapannya : selanjutnya
kegiatan sehari- a. Jelaskan 3. Melakukan
hari dan mampu pentingnya aktivitas
memperagakannya aktivitas yang merupakan salah
. teratur untuk satu cara
mengatasi mengontrol
halusinasi halusinasi.
b. Diskusikan Dengan
aktivitas yang melibatkan
biasa dilakukan pasien untuk
oleh pasien melakukan
c. Latih pasien aktivitas akan
melakukan membantu
aktivitas pasien
c. Susun jadwal aktivitas mengalihakan
sehari-hari sesuai perhatian dan
dengan aktivitas yang menghadirkan
telah dilatih (dari kembali pada
bangun pagi sampai dunia realita
tidur malam) dan 4. Memudahkan
pantau pelaksanaan pasien dalam
jadwal kegiatan, mengingat
berikan penguatan aktivitas yang
terhadap perilaku dilakukan
pasien yang positif
Setelah 3 x SP 4
pertemuan, pasien a. Evaluasi kegiatan 1) Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1,2&3) perkembangan
 Menyebutkan b. Tanyakan program pasien dan data
manfaat dari pengobatan dasar untuk
program  Jelaskan intervensi
pengobatan pentingnya selanjutnya
penggunaan obat 2) Dengan
pada gangguan memberikan
jiwa pendidikan
 Jelaskan akibat kesehatan agar
bila tidak memandirikan
digunakan sesuai pasien dan
program mempercepat
 Jelaskan akibat proses
bila putus obat penyembuhan

 Jelaskan cara 3) Dengan

mendapatkan obat/ menganjurkan

berobat pasien

 Jelaskan memasukan

pengobatan (5B) dalam jadwal

 Latih klien minum kegiatan sehari-

obat hari agar

c. Masukkan dalam mempercepat

jadwal harian pasien proses


penyembuhan
Keluarga mampu: Setelah 1 x SP 1
Merawat pasien pertemuan keluarga 1. Identifikasi masalah 1. Dengan perawat
di rumah dan mampu menjelaskan keluarga dalam mengidentifikasi
menjadi sistem tentang halusinasi merawat pasien masalah keluarga,
pendukung yang 2. Jelaskan tentang agar perawat dapat
efektif untuk halusinasi : menentukan
pasien 1. Pengertian pemecahan masalah
halusinasi antara keluarga
2. Jenis halusinasi yang berhubungan
yang dialami dengan
pasien penyembuhan
3. Tanda dan gejala pasien.
halusinasi 2. Peningkatan
4. Cara merawat pengetahuan pada
klien halusinasi keluarga dapat
(cara meningkatkan
berkomunikasi, kemampuan
pemberian obat & keluarga dalam
pemberian merawat pasien
aktivitas kepada ketika kembali ke
pasien) rumah dan
5. Sumber-sumber dimasyarakat.
pelayanan 3. Kehadiran keluarga
kesehatan yang diharapkan dapat
bisa dijangkau menjadi sumber
6. Bermain peran motivasi untuk
cara merawat pasien agar cepat
3. Rencana tindak lanjut pulih dan kembali
keluarga, jadwal ke kehidupan
keluarga untuk dengan optimal
merawat pasien
Setelah 1 x SP 2
pertemuan keluarga A. Evaluasi kemampuan 1. Mengetahui
mampu : keluarga (SP 1) perkembangan
1. Menyelesaikan B. Latih keluarga keluarga dalam
kegiatan yang merawat klien kemampuan
sudah dilakukan C. RTL keluarga / merawat pasien
2. Memperagakan jadwal keluarga untuk 2. Peningkatan
cara merawat merawat pasien keterampilan
pasien keluarga dalam
merawat pasien
membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal
Setelah 1 x SP 3
pertemuan keluarga  Evaluasi kemampuan 1. Mengetahui
mampu : keluarga (SP 2) perkembangan
1. Menyebutkan  Latih keluarga keluarga dalam
kegiatan yang merawat pasien kemampuan
sudah dilakukan  RTL keluarga / merawat pasien
2. Memperagakan jadwal keluarga untuk 2. Peningkatan
cara merawat merawat pasien keterampilan
pasien serta keluarga dalam
mampu membuat merawat pasien
RTL membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien.
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal
Setelah 1 x SP 4
pertemuan keluarga 1. Evaluasi kemampuan 1. Mengetahui
mampu : keluarga perkembangan
a. Melaksanakan 2. Evaluasi kemampuan keluarga dalam
Follow Up pasien kemampuan
rujukan 3. RTL Keluarga : merawat pasien
1. Follow Up 2. Peningkatan
2. Rujukan keterampilan
keluarga dalam
merawat pasien
membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal

Tabel 3.6
Rencana Tindakan KeperawatanResiko Perilaku Kekerasan

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional

Pasien mampu : Setelah 3 x SP 1 1. Mengetahui


 Mengidentifik pertemuan, pasien 1) Identifikasi penyebab, penyebab dan tanda
asi penyebab mampu : tanda dan gejala serta dari perilaku
dan tanda 1.Menyebutkan akibat perilaku kekerasan
perilaku penyebab, tanda, kekerasan 2. Tarik nafas dalam
kekerasan gejala dan akibat 2) Latih cara fisik 1 : dapat merilekskan
 Menyebutkan perilaku kekerasan Tarik nafas dalam otot-otot yang kaku,
jenis perilaku 2.Memperagakan 3) Masukkan dalam merilekskan syaraf-
kekerasan cara fisik 1 untuk jadwal harian pasien syaraf yang tegang
yang pernah mengontrol perilaku dan menenangkan
dilakukan kekerasan fikiran
 Menyebutkan 3. Agar pasien terbiasa
akibat dari melakukan latihan
perilaku tarik nafas dalam
kekerasan
yang
dilakukan
 Menyebutkan
cara
mengontrol
perilaku
kekerasan
 Mengontrol
perilaku
kekerasannya
dengan cara :
 Fisik
 Sosial /
verbal
 Spiritual
 Terapi
psikofarmaka
(patuh minum
obat)
Setelah 3 x SP 2
pertemuan, pasien 3. Evaluasi kegiatan 1. Mengevaluasi
mampu : yang lalu (SP1) keberhasilan SP 1
1.Menyebutkan 4. Latih cara fisik 2 : 2. Memukul bantal /
kegiatan yang sudah Pukul kasur / bantal kasur mengurangi
dilakukan 5. Masukkan dalam kerusakan akibat
2.Memperagakan jadwal harian pasien perilaku kekerasan,
cara fisik untuk Pasien terbiasa
mengontrol perilaku dalam
kekerasan melampiaskan
amarah pada objek
yang lunak dan
menghindari
mencederai diri
3. Untuk
mengingatkan atau
memudahkan pasien
dalam melakukan
kegiatan yang telah
dilatih
Setelah 3 x SP 3
pertemuan pasien 7. Evaluasi kegiatan - Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1 dan 2) perkambangan
1.Menyebutkan 8. Latih secara sosial / pasien dan data
kegiatan yang sudah verbal dasar untuk
dilakukan 7. Menolak intervensi
2.Memperagakan dengan selanjutnya
cara sosial / verbal baik - Pasien mampu
untuk mengontrol 8. Meminta mengontrol emosi
perilaku kekerasan dengan dengan cara
baik berbicara dengan
9. Mengungk baik dan suara yang
apkan pelan
dengan - Untuk
baik mengingatkan atau
9. Masukkan dalam memudahkan pasien
jadwal harian pasien dalam melakukan
kegiatan yang telah
dilatih
Setelah 3 x SP 4
pertemuan, pasien 1. Evaluasi kegiatan - Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1,2&3) perkembangan
1.Menyebutkan 2. Latih secara spiritual: pasien dan data
kegiatan yang sudah 1. Berdoa untuk intervensi
dilakukan 2. Sholat selanjutnya
2.Memperagakan 3. Masukkan dalam - Pasien mampu
cara spiritual jadwal harian pasien mengontrol emosi
dengan cara
melakukan aktivitas
seperti berdo’a dan
shalat
- Untuk
mengingatkan atau
memudahkan pasien
dalam melakukan
kegiatan yang telah
dilatih
Setelah 3 x SP 5
pertemuan pasien 1. Evaluasi kegiatan 1. Mengetahui
mampu : yang lalu (SP1,2,3&4) perkembangan
1.Menyebutkan 2. Latih patuh obat : pasien dan data
kegiatan yang sudah 1. Minum obat dasar untuk
dilakukan secara teratur intervensi
2.Memperagakan dengan prinsip 5 selanjutnya
cara patuh obat B 2. Menambah
2. Susun jadwal pengetahuan dan
minum obat memotivasi pasien
secara teratur untuk menggunakan
3. Masukkan dalam obat secara teratur
jadwal harian pasien 3. Untuk
mengingatkan atau
memudahkan pasien
dalam melakukan
kegiatan yang telah
dilatih
Keluarga mampu: Setelah 1 x SP 1
Merawat pasien pertemuan, keluarga 1. Identifikasi masalah 1. Dengan perawat
di rumah mampu menjelaskan yang dirasakan mengidentifikasi
penyebab, tanda dan keluarga dalam masalah keluarga,
gejala, akibat serta merawat pasien agar perawat dapat
mampu 2. Jelaskan tentang menentukan
memperagakan cara Perilaku Kekerasan : pemecahan masalah
merawat pasien. 1. Penyebab antara keluarga
2. Akibat yang berhubungan
3. Cara merawat dengan
4. Latih 2 cara penyembuhan
merawat pasien.
3. RTL keluarga / 2. Peningkatan
jadwal untuk merawat pengetahuan pada
pasien keluarga dapat
meningkatkan
kemampuan
keluarga dalam
merawat pasien
ketika kembali ke
rumah dan
dimasyarakat.
3. Kehadiran keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan kembali
ke kehidupan
dengan optimal
Setelah 1 x SP 2
pertemuan, keluarga 1. Evaluasi SP 1 1. Mengetahui
mampu 2. Latih (simulasi) 2 perkembangan
menyebutkan cara lain untuk keluarga dalam
kegiatan yang sudah merawat pasien dan kemampuan
dilakukan dan latih langsung ke merawat pasien
mampu merawat pasien 2. Peningkatan
serta dapat membuat 3. RTL keluarga / keterampilan
RTL jadwal keluarga untuk keluarga dalam
merawat pasien merawat pasien
membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
klien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal
Setelah 1 x SP 3
pertemuan keluarga 1. Evaluasi SP 1 dan 2 1. Mengetahui
mampu 2. Latih langsung ke perkembangan
menyebutkan pasien keluarga dalam
kegiatan yang sudah 3. RTL keluarga / kemampuan
dilakukan dan jadwal keluarga untuk merawat pasien
mampu merawat merawat pasien 2. Peningkatan
serta dapat membuat keterampilan
RTL keluarga dalam
merawat pasien
membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal
Setelah 1 x SP 4
pertemuan keluarga 1. Evaluasi SP 1,2 &3 1. Mengetahui
mampu 2. Latih langsung ke perkembangan
melaksanakan pasien keluarga dalam
Follow Up dan 3. RTL Keluarga : kemampuan
rujukan serta mampu 1. Follow Up merawat pasien
menyebutkan 2. Rujukan 2. Peningkatan
kegiatan yang sudah keterampilan
dilakukan keluarga dalam
merawat pasien
membantu
memandirikan
keluarga dalam
hal perawatan
dan diharapkan
mempercepat
penyembuhan
pasien
3. Kehadiran
keluarga
diharapkan dapat
menjadi sumber
motivasi untuk
pasien agar cepat
pulih dan
kembali ke
kehidupan
dengan optimal

Sumber : RSJ Provinsi Jawa Barat (2007), Standar Asuhan Keperawatan Jiwa