Anda di halaman 1dari 16

PENERAPAN METODE YANG AKAN MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS

BELAJAR MAHASISWA AKUNTANSI

Disusun Oleh:

Nama : ISTIKOMAH

NPM: 02271511150

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
membuat proposal mengenai penerapan metode yang akan mempengaruhi efektifitas
belajar mahasiswa akuntansi

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah metode penelitian. Tugas ini
diharapkan dapat menambah wawasan bersama.Saya tahu bahwa tugas yang saya buat
ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, setiap kritik dan saran dari pembaca
sangat kami harapkan guna perbaikan makalah ini.Kritik dan saran dari semua pihak
yang sifatnya membangun untuk penyempurnaan makalah ini, selalu kami
nantikan.akhirnya semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Ternate,10 November 2017

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1 Lingkup Penelitian ...................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 3

1.3 Tujuan penelitian ......................................................................... 3

1.4 Manfaat penelitian ....................................................................... 3

BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... 4

2.1 Alasan Penentuan Metode Dalam Pembelajaran ....................... 4

2.2 Proses Pembelajaran Mahasiswa ...................................................

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 10

3.3 Lokasi Penelitian dan Objek Penelitian ..................................... 10

A. Metode Penelitian ............................................................... . 10

B. Metode Pengumpulan Data ................................................... 10

DAFTAR PUSAKA ........................................................................................ iii

3
BAB 1
PENDAHULUAN
1. LINGKUP PENELTIAN
Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus
tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa
begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah
Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi
bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan
dunia.. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai
mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi
mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari
sekedar masalah administratif itu sendiri. Mahasiswa mempunayi peran dan fungsi
sebagai peranan moral, peranan sosial, dan peranan intelektual.

Dalam proses pembelajaran di perguruan tinngi, mahasiswa masih


diperkenalkan dengan suatu konsep bahwa keberhasilan lebih merujuk kepada
kompetisi daripada koperasi. Covey (1989) telah memperkenalkan bahwa dalam
paradigma manajemen modern dan kehidupan modern, keberhasilan seseorang justru
dipengaruhi yang paling tinggi oleh interpendensi. Proses pembelajaran menekankan
pentingnya kooperasi daripada kompetisi serta saling ketergantungan daripada
kemandirian, maka hal ini ada kecenderungan dapat mengarahkan mahasiswa pada
pikiran dan perasaan tidak segan dan dapat menyerang orang lain.

Kita dapat meyimpulkan bahwa sebagai seorang mahasiswa kita mempunyai


tanggung jawab yang besar terhadap bangsa kita sendiri karna kita adalah calon calon
penerus bangsa yang akan merubah bangsa kita sendiri, jikalo kita berbuat kegiatan
yang positif. tidak semua mahasiswa mampu menanggung beban tersebut karna setiap
mahasiswa mempunyai problemnya masing masing. yang jadi pertanyaan apakah
mahasiswa mempunya metode atau strategi pembelajaran yang efektif dalam menerima
ilmu yang diberikan oleh dosen atau mencari pengetahuan sendiri untuk digunakan ke
hal hal yang bermanfaaf. Karna pada jaman sekarang ini kebanayakan mahasiswa hanya

4
mengejar nilai semata dan metode metode yang dilakukan dalam pembelajaran itu tidak
jelas sama sekali,

Di universitas khairun yang bertempat di ternate, fakultas ekonomi prodi


akuntansi. Kebanyakan mahasiswanya tidak mempunyai metode metode yang jelas
dalam proses pembelajaran, itu bisa dilihat bahwa kebanyakan mahasiswanya tidak
memahami bagimana penyususan laporan keuangan,contoh sampel mahasiswa semester
5 (v). kebanyakan mahasiswa yang sudah semester 5 tersebut yang saya lihat, mereka
hanya datang di kampus menerima apa yang disampaikan oleh dosen kemudian pulang,
dan ilmunya yang disampaikan pun sudah hilang. Kita sering mengenal istilah ;

Masuk telingah kiri keluar telingah kanan

Maksud perkataan di atas adalah kita harus mempunyai metode metode pembelajaran
yang jelas dalam pembelajaran agar ilmu yang kita dapat sebaian atau seluruhnya kita
dapat pahami dan dapat kita implementasikan.

Proses pembelajaran yang banyak dipraktikkan sekarang ini sebagian besar


berbentuk ceramah (lecturing). Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah,
mahasiswa akuntansi hanya sebatas memahami sambil membuat catatan. Dosen
menjadi pusat peran dalam pencapaian hasil pembelajaran dan seakan-akan menjadi
satu-satunya sumber ilmu. Pola pembelajaran dosen aktif dengan mahasiswa akuntansi
pasif ini mempunyai efektivitas pembelajaran yang rendah. Efektivitas pembelajaran
mahasiswa akuntansi umumnya terbatas, terjadi pada saat-saat akhir mendekati ujian..
Pembelajaran yang diterapkan saat ini berfokus pada pemahaman materi saja. Dari
metode yang diterapkan itu, mahasiswa tidak memiliki gambaran penerapan materi pada
dunia bisnis. Karena itu metode pembelajaran saat ini belum dapat mengasah
kemampuan analisis mahasiswa, kepekaan terhadap permasalahan, melatih pemecahan
masalah serta kemampuan mengevaluasi permasalahan

Berkaitan dengan perubahan sistem pengajaran, Ravenscroft (1995) menyatakan


bahwa Accounting Education Change Commission (AECC 1990) maupun Kantor
Akuntan Publik yang tergabung dalam The Big 8 (sekarang The Big 4, pen.) sangat

5
mendukung sistem yang mendorong teamwork, kemampuan interpersonal dan
komunikasi, dan pembelajaran untuk belajar (learning to learn). Sistem pembelajaran
cooperative learning yang diperkenalkan pertama kali oleh Robert Slavin pada tahun
1987, merupakan metode yang telah sukses diterapkan dan konsisten dengan
rekomendasi AECC. Pada pertemuan tahunan American Accounting Association tahun
1998, metode cooperative learning diperkenalkan secara luas sebagai alternatif
pendekatan pengajaran akuntansi pada perguruan tinggi (Ravenscroft, 1999).
Cooperative learning secara umum diartikan sebagai suatu kelompok kecil yang terdiri
dari mahasiswa yang heterogen, yang bekerja sama untuk saling membantu satu sama
lain dalam belajar. Metode pembelajaran ini merupakan alternatif yang ditawarkan
untuk mengatasi kelemahan yang terdapat pada model pembelajaran tradisional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa selain dapat meningkatkan prestasi belajar
mahasiswa, cooperative learning juga dapat meningkatkan kemampuan noncognitive
seperti self-esteem, perilaku, toleransi dan dukungan bagi mahasiswa lain.

2. Rumusan Masalah

bagaimanakah pengaruh penerapan metode belajar yang baik bagi mahasisa


akuntansi.

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dalam penelitian ini ditujukan


untuk mengetahui pentingnya metode metode yang harus digunakan dalam proses
belajar

4. Manfaat Penelitian

Sebagai mahasiswa akuntansi kita kita dapat menggunakan metode metode tersebut
untuk belajar agar mendapatkan hasil yang efektif supaya ilmu yang di dapat bisa
digunakan deengan baik

6
BAB II

KERANGKA TEORITIK

1. Alasan Penentuan Metode Dalam Pembelajaran

Metode belajar-mengajar adalah bagian utuh (terpadu, integral) dari proses


pendidikan pengajaran metode ialah cara guru/dosen menjekaskan suatu suatu pokok
bahasan (thema, pokok masalah) sebagai bagian kurikulum (isi, materi pengajaran),
dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan pengajaran (tujuan institusional, tujuan
pembelajaran umum dan khusus).Proses pembelajaran, atau PBM sebagai kerjasama
guru-siswa, secara psiko-pedalogis mengutamakan aktivitas siswa ( kemandirian, KBS )
sebagai bekal pendewasaan diri mengembangkan kemampuan dan penguasaan bidang
dan penguasaan bidang pengetahuan (bidang studi, mata pembelajaran). artinya, dalam
PBM peran guru/ dosen lebih bersifat tut-wuri handayani, berjalan bersama ( bekerja
sama, komonikasi, dialog dan hubungan akrab ) dosei-mahasiswa, ialah suasana
pembelajaran di dalam dan luar klas

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


pasal 1 penyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Metode pembelajaran
adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh
pendidik pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara
kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seseorang
pendidik harus mengetahui berbagai metode pengajaran. Dengan memiliki pengetahuan
mengenai sifat berbagai metode, maka seorang pendidik akan lebih mudah menetapkan
metode yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan metode mengajar
sangat bergantung pada tujuan pembelajaran (Sutikno, S 2007dalam Rohman 2011.)

Metode yang efektif yang harus dilakukan mahasiswa akuntansi dalam proses
pembelajaran

7
A. Metode Diskusi
Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah
dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti
tentang sesuatu, atau untuk merampungkan keputusan bersama. Dalam diskusi tiap
orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali
dengan pemahaman yang sama dalam suatu keputusan atau kesimpulan.( merlyn
meriana )

Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/


pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran
(gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat
saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran
inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya,
seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan
lain-lain. ( widya wati, 2010).Tujuan penggunaan metode diskusi adalah agar
mahasiswa akuntansi aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan cara membahas
dan memecahkan masalah tertentu

B. Metode Curah Pendapat

Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun
gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta.
Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi
(didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada
penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi.
Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat,
informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian
dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk
menjadi pembelajaran bersama.

8
C. Metode Latihan praktis
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara yang
baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaant tertentu. Juga sebagai sarana untuk
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain tu, metode ini dapat juga
digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan
keterampilan.( merlyn meriana ) Sebagai seorang mahasiswa akuntansi kita harus
mempraktekan apa yang kita dapat sehingga kita akan mudah memahami apa yang
telah di dapat sebelumnya

2. Proses Pembelajaran mahasiswa

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran dapat diartikan juga sebagai
kegiatan yang terprogram dalam desain facilitating, empowering, enabling, untuk
membuat mahasiswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar. Pada
tahap awal, pembelajaran bermanfaat sebagai pembuka pintu gerbang kemungkinan
untuk menjadi manusia dewasa dan mandiri, berikutnya pembelajaran memungkinkan
seorang manusia akan berubah dari “tidak mampu” menjadi “mampu” atau dari “tidak
berdaya” menjadi “sumber daya.”

Sebagai salah satu wujud tanggung jawab atas kewajibannya, mahasiswa dituntut
memilih metode pembelajaran yang paling akomodatif dan kondusif untuk mencapai
sasaran dan filosofi pendidikan. Beberapa contoh sasaran pembelajaran adalah
mendapatkan pengetahuan; mengembangkan konsep; memahami teknik analisis;
mendapatkan skill dalam menggunakan konsep dan teknik; mendapatkan skill dalam
memahami dan menganalisis masalah; mendapatkan skill dalam mensintesis rencana
kegiatan dan implementasi; mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi;
mengembangkan kemampuan untuk menjalin hubungan saling percaya;
mengembangkan sikap tertentu; mengembangkan kualitas pola pikir; mengembangkan
judgment dan wisdom (Dooley & Skinner, 1977 dalam Handoko, 2005).

A. Pembelajaran Berbasiskan Kasus (Case-Based Learning)

9
Kasus merupakan problem yang kompleks berbasiskan kondisi senyatanya
untuk merangsang diskusi kelas dan analisis kolaboratif. Pembelajaran kasus
melibatkan kondisi interaktif, eksplorasi mahasiswa terhadap situasi realistik dan
spesifik. Ketika mahasiswa mempertimbangkan adanya suatu permasalahan
berdasarkan analisis perspektifnya, mereka diarahkan untuk memecahkan
pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Gragg (1940) seperti yang dikutip Handoko (2005) mendefinisikan kasus sebagai ...

A case is typically a record of a business issue which actually has been faced

by business executives, together with surrounding facts, opinions, and

prejudieces upon which executive dicisions had to depend. These real and

particularized cases are presented to students for considered analysis, open

discussion, and final decision as to the type of action should be taken.

Suatu kasus disebut sebagai kasus baik bila memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Berorientasi keputusan: kasus menggambarkan situasi manajerial yang mana


suatu keputusan harus dibuat (segera), tetapi tidak mengungkap hasilnya

2) Partisipasi: kasus ditulis dengan cara yang dapat mendorong partisipasi aktif
mahasiswa dalam menganalisis situasi. Ini berbeda dengan cerita (stories) pasif
yang hanya melaporkan berbagai peristiwa atau kejadian seperti apa adanya,
tetapi tidak mendorong partisipasi

3) Pengembangan diskusi: material kasus ditulis untuk memunculkan beragam


pandangan dan analisis yang dikembangkan oleh para mahasiswa

4) Substantif: kasus terdiri atas bagian utama yang membahas isu dan informasi
lain

5) Pertanyaan: kasus biasanya tidak memberikan pertanyaan, karena pemahaman


atas apa yang seharusnya ditanya merupakan bagian penting analisis kasus
(Handoko, 2005)

Manfaat kasus dan metode kasus diterapkan sebagai metode pembelajaran adalah:

10
1. Kasus memberi kesempatan kepada mahasiswa pengalaman firsthand dalam
menghadapi berbagai masalah akuntansi di organisasi

2. Kasus menyajikan berbagai isu nyata desain dan operasi sistem akuntansi
relevan yang dihadapi para manajer

3. Realisme kasus memberikan insentif bagi mahasiswa untuk lebih terlibat dan
termotivasi dalam mempelajari material pembelajaran

4. Kasus mengembangkan kapabilitas mahasiswa untuk mengintegrasikan


berbagai konsep material pembelajaran, karena setiap kasus mensyaratkan
aplikasi beragam konsep dan teknik secara integratif untuk memecahkan suatu
masalah

5. Kasus menyajikan ilustrasi teori dan materi kuliah akutansi keperilakuan

6. Metode kasus memberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas dan


mendapatkan pengalaman dalam mempresentasikan gagasan kepada orang lain

7. Kasus memfasilitasi pengembangan sense of judgment, bukan hanya menerima


secara tidak kritis apa saja yang diajarkan dosen atau kunci jawaban yang
tersedia di halaman belakang buku teks

8. Kasus memberikan pengalaman yang dapat diterapkan pada situasi pekerjaan.

B. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Ada tiga cara dasar bagaimana mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain,
yaitu kompetitif, individualistis dan kooperatif. Mahasiswa dapat berkompetisi
untuk melihat siapa yang terbaik, mereka dapat bekerja individualistis untuk
mencapai tujuan tanpa memberi perhatian kepada mahasiswa lain, atau mereka
dapat bekerjasama dan saling memberi perhatian.

Smith dan MacGregor (1992) mendefinisikan cooperative learning sebagai


“the most carefully structured end of the collaborative learning contiunuum”
(Ravenscroft, 1995). Johnson, Johnson dan Holubec (1994) mendefinisikan

11
cooperative learning sebagai “the instructional use of small groups so that students
work together to maximize their own and each other’s learning” (Phipps et al.,
2001).

Berbagai riset tentang cooperative learning menunjukkan hasil yang konsisten


bahwa cooperative learning akan meningkatkan prestasi, hubungan interpersonal
yang lebih positif dan self-esteem yang lebih tinggi dibanding upaya kompetitif atau
individualistis (Phipps et al., 2001). Phipps et al. (2001) mencatat keberhasilan
metode ini antara lain dari hasil riset Felder dan Brent (1996) yang menyatakan
bahwa pendekatan ini meningkatkan motivasi untuk belajar, memori pengetahuan,
kedalaman pemahaman dan apresiasi subyek yang diajar. Riset juga menunjukkan
bahwa praktik cooperative learning mengarahkan mahasiswa pada pencapaian
prestasi yang lebih tinggi, lebih efisien dan efektifnya proses dan pertukaran
informasi, meningkatkan produktivitas, hubungan yang positif di antara mahasiswa,
dan membentuk saling percaya antar teman, dibandingkan dengan pengalaman
pembelajaran kompetitif dan/atau individualistis (Potthast, 1999).

Upaya kooperatif diharapkan menjadi lebih produktif dibanding upaya kompetitif


ataupun individualistis, bila upaya kooperatif tersebut berada di dalam kondisi
tertentu. Kondisi ini kemudian merupakan elemen dasar terbentuknya cooperative
learning.Kelima elemen dasar cooperative learning mencakup perlunya
interdependensi positif; adanya interaksi tatap muka (face-to-face interaction),
dimilikinya individual accountability, digunakannya collaborative skills dan adanya
group processing.

12
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi penelitian dan objek penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di kampus universitas khairun ternate, bertempat di


prodi akuntansi. Dan objek yang di teliti adalah mahasiswa akuntansi.

A. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena penelitian ini


bertujuan mengetahui metode pembelajaran yang baik bagi mahasiswa
akuntansi. Menurut Lexi J. Moleong mengatakan ”penelitian kualitatif yaitu
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subyek penelitian. misalnya prilaku, persepsi, motivasi,tindakan
dan lain-lain secara holistik serta dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata
dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah”.

Penelitian kualitatif yang dilakukan peneliti menggunakan metode


fenomenologi. Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau
pengalaman fenomenologi atau suatu studi tentang kesadaran dari suatu
prespektif dari seseorang (moleong,2005).

B. Metode Pengumpulan Data


Kualitas pengumpulan data berkenaan dengan cara-cara yang
digunakan untuk mengumpulkan data.Dengan perkataan lain, untuk
menjaring data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa metode dalam mengumpulkan data, yaitu:

1. Observasi
Observasi digunakan karena beberapa alasan seperti yang
dikemukakan oleh Guba dan Linclon dalam Lexy J. Moleong antara
lain; teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara
lansung, karena pengalaman langsung merupakan alat yang tepat

13
untuk mengetes kebenaran, dan dapat mencatat prilaku dan
kejadian yang sebenarnya

2. Wawancara
Teknik wawancara diawali dengan melakukan persiapan -
persiapan pertanyaan yang sesuai dengan rumusan masalah yang
diteliti. Mekanisme wawancara dilakukan dengan cara wawancara
mendalam (depth interview) yang dilakukan secara individual dan
diskusi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Covey, S. R. 1989. The Seven Habits Of Highly Effective people. New Yor: A Fireside
Book

Dikinwear ,Alisa, 2012.metode-pembelajaran. Diakses

http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran

/ tanggal 12

Mariana Merlyn, kajian metode pembelajaran bagi mahasiswastpp medan. Medan.

https://alisadikinwear.wordpress.com/2012/07/20//

Moleong, Lexi J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. XXVII; Bandung: Remaja


Rosdakarya, 2010.

Phipps, Maurice et al. 2001. University Students’ Perception of Cooperative Learning:


Implications for Administrators and Instructors. The Journal of Experiential
Education. Spring, Vol. 24 No. 1, p.14-21.

Potthast, Margaret J., 1999. Outcomes of Using Small-Group Cooperative Learning


Experiences in Introductory Statistics Courses. College Student Journal. March
Vol. 22, Issue 1.

Ravenscroft, Susan P., Frank A. Buckless and Trevor Hassal. 1999. Cooperative
Learning-a Literature Guide. Accounting Education 8 (2), p. 163-176.

______. 1997. In Support of Cooperative Learning. Issues in Accounting Education.


Spring Vol. 12, No. 1, p. 187-190.

______.1995. Incentives in Student Team Learning: An Experiment in Cooperative


Group Learning. Issues in Accounting Education. Sarasota: Spring. Vol. 10. Iss. 1,
p. 97.

Roger T. and David W. Johnson. 1994. An Overview of Cooperative Learning in


Creativity and Collaborative Learning, Brookes Press, Baltimore.

15
Sutikno, Sobry, 2007. Menggagas Pembelajaran Efektif dan Bermakna. Melalui
Rohman di http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-definisimetode-
pembelajaran.html Tanggal akses 28 April 2013

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wati Widya ,2010. Makalah Strategi Pembelajaran Metode Pembelajaran,Padang.

16