Anda di halaman 1dari 13

Pengaruh Augmentative and Alternative Communication terhadap

Komunikasi dan Depresi Pasien Afasia Motorik

Amila1, Ratna Sitorus2, Tuti Herawati2


1
Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia, 2Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia
E-mail: mila_difa@yahoo.co.id

Abstrak

Salah satu dampak terjadinya strok adalah afasia. Selama ini penanganan pasien strok yang mengalami afasia
hanya pada aspek fisiknya. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pengaruh komunikasi dengan metode
Augmentative and Alternative Communication (AAC) terhadap kemampuan fungsional komunikasi dan
depresi pasien strok dengan afasia motorik. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen dengan pendekatan
post test non equivalent control group pada 21 responden yang terbagi menjadi 11 orang kelompok kontrol
dan 10 orang kelompok intervensi yang didapatkan melalui concecutive sampling. Instrumen penelitian untuk
menilai kemampuan fungsional komunikasi dan depresi adalah kuesioner dan lembar observasi yang baku yaitu
Derby Functional Communication Scale dan Aphasic Depression Rating Scale. AAC merupakan alternatif
komunikasi pada pasien dengan keterbatasan komunikasi verbal. Media yang digunakan dalam komunikasi
ini adalah buku komunikasi yang berisi kegiatan sehari-hari, koran/ majalah, foto keluarga, kartu bergambar,
alat tulis dan lagu/ musik. Metode AAC berorientasi pada tugas menunjuk gambar, penamaan, mengulang,
menulis, membaca dan mengeja huruf. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna
rata-rata kemampuan fungsional komunikasi antara kelompok kontrol dengan intervensi dengan nilai p=0.542,
tetapi terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata depresi antara kelompok kontrol dan intervensi dengan
nilai p=0.022. Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada perawat untuk menerapkan metode AAC
dalam memfasilitasi komunikasi, sehingga dapat menurunkan depresi pasien strok dengan afasia motorik.

Kata kunci: Augmentative and alternative communication, afasia broca, afasia motorik, depresi, strok.

The Influence of ‘Augmentative and Alternative Communication’ to The


Communication Ability and Depression Rates of Patient with The Aphasia
Motoric Problem

Abstract

Aphasia is one of the stroke impacts. Currently, the focus of the aphasia intervention in the hospital is physical
aspects. The aim of this study was to evaluate the influence of Augmentative and Alternative Communication
(AAC) to patients’ communication ability and depression rates in Aphasia Motoric cases. The research design was
quasi experiment with the post-test non-equivalent control group approach. The samples were 21 respondents who
divided into two groups: 11 respondents in the control group and 10 respondents in the intervention group. Samples
were chosen using the consecutive sampling method. This study used the Derby Functional Communication Scale
and the Aphasic Depression Rating Scale to evaluate the communication ability and the depression rate of patients.
AAC is an alternative way to communicate with patients who have disability verbal. This process used some
media such as, a communication book, magazines, newspapers, family photos, cards, stationaries, and music.
The AAC method has several activities such as pointing to particular pictures, naming, reviewing, writing, and
reading. The study found that there were no significant differences of the communication ability between two
groups of samples (p=0.542). In addition, there were significant rates of the depression between two groups of
samples (p=0.022). This study suggests that nurses should apply the AAC method in the communication process
especially to patients with stoke to facilitate the communication process and to reduce the patient’s depression.

Key words: Augmentative and alternative communication, aphasia broca, aphasia motoric, depression, stroke.

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 131


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

Pendahuluan wernicke, dan jalur yang menghubungkan


antara keduanya.
Penyakit strok merupakan salah satu penyakit Kedua area ini biasanya terletak di
yang banyak menimbulkan kecacatan dan hemisfer kiri otak dan pada umumnya bagian
kematian di dunia. Strok juga merupakan hemisfer kiri merupakan tempat kemampuan
penyebab kematian tertinggi ketiga setelah berbahasa (Kirshner, 2009; Price & Wilson,
penyakit jantung dan kanker, serta menjadi 2006). Diperkirakan sekitar 21−38% pasien
penyebab kecacatan utama pada orang dewasa strok akut dapat mengalami afasia (Salter,
di negara maju (Ignatavicius & Linda, 2002). Jutai, Foley, Hellings, & Teasell, 2006).
Setiap tahun di Indonesia diperkirakan sekitar Beberapa bentuk afasia mayor menurut
500.000 penduduk terkena serangan strok dan Lumbantobing (2011) adalah afasia sensoris
sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal (wernicke) motorik (broca) dan global. Afasia
dunia dan sisanya mengalami cacat ringan motorik terjadi akibat lesi pada area broca
sampai berat (Yastroki, 2011). pada lobus frontal yang ditandai dengan
Menurut Riset Kesehatan Dasar (2008), kesulitan dalam mengoordinasikan pikiran,
prevalensi strok di Indonesia pada tahun 2007 perasaan dan kemauan menjadi simbol
sebesar 8,3 per 1000 penduduk dan pada bermakna dan dimengerti oleh orang lain
tahun 2011 strok menjadi peringkat penyebab dalam bentuk ekspresi verbal dan tulisan.
kematian pertama di Indonesia. Data tersebut Jumlah penderita strok yang mengalami
menunjukan bahwa Jawa Barat memiliki afasia tidak dapat diketahui dengan pasti
prevalensi strok yaitu 9,3 per 1000 penduduk. melalui rekam medik, jurnal, dan situs.
Berdasarkan data rekam medis, jumlah pasien Walaupun demikian, afasia memiliki dampak
strok dalam enam bulan terakhir (Maret− negatif terhadap pasien dan orang di sekitar
Agustus) tahun 2011 di Rumah Sakit Umum pasien.
Daerah (RSUD) Kota Tasikmalaya sebanyak Pasien strok dengan afasia mengalami
425 orang, RSUD Kota Banjar berjumlah hambatan dalam melaksanakan aktivitas
405 orang, dan di RSUD Kabupaten Garut hidup sehari-hari karena ketidakmampuan
sebanyak 533 orang. Jumlah pasien strok pasien mengungkapkan apa yang diinginkan,
tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat tidak mampu menjawab pertanyaan atau
dan menempati urutan pertama dari seluruh berpartisipasi dalam percakapan yang membuat
kasus sistem persarafan. pasien menjadi frustasi, marah, kehilangan
Masalah kesehatan yang timbul akibat harga diri, dan emosi pasien menjadi labil.
strok sangat bervariasi bergantung pada Keadaan ini akhirnya menyebabkan pasien
luasnya daerah otak yang mengalami infark depresi. Komunikasi dapat membantu
dan lokasi yang terkena. Masalah kesehatan seseorang dalam mengekspresikan perasaan
tersebut sejalan dengan pendapat Silbernagl dan integritas diri (Sundin & Jonson (2003).
dan Lang (2007) bahwa manifestasi klinis Komunikasi juga membantu perkembangan
strok ditentukan berdasarkan tempat perfusi intelektual dan sosial, identitas diri, membantu
yang terganggu. Arteri yang paling sering memahami kenyataan yang ada di sekeliling
terkena adalah arteri serebri media. Bila strok kita dan sarana pembentuk kesehatan mental
mengenai arteri serebri media, maka pasien (Arwani, 2003). Afasia juga berdampak
dapat mengalami afasia. negatif terhadap kemandirian, kemampuan
Afasia merupakan kesulitan dalam fungsional, partisipasi sosial, kualitas hidup
memahami dan/ atau memproduksi bahasa dan mortalitas yang tinggi karena komunikasi
yang disebabkan oleh gangguan (kelainan, yang tidak adekuat (Kirshner, 2009).
penyakit) yang melibatkan hemisfer otak dan Depresi Pasca Strok (DPS) merupakan
terdiri dari afasia sensoris (wernicke) motorik depresi dengan gangguan emosional yang
(broca) dan global. Afasia terjadi akibat paling sering dihubungkan dengan penyakit
cedera otak atau proses patologis strok dan serebrovaskuler. Menurut Andri dan Susanto
perdarahan otak serta dapat muncul perlahan (2008), sekitar 25−50% pasien mengalami
seperti pada kasus tumor otak pada lobus depresi setelah serangan strok. DPS dapat
frontal, temporal atau parietal yang mengatur terjadi setiap waktu pada fase akut atau
kemampuan berbahasa yaitu area broca, area satu tahun pasca strok dengan puncaknya

132 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

terjadi pada bulan pertama (Dahlin, Laska, dilakukan (Mulyatsih, 2010). Selain itu, perawat
Larson, Wredling, Billing & Murray, 2007). dapat berperan menjadi role model untuk
Menurut Amir (2005), frekuensi depresi berkomunikasi dengan pasien yang mengalami
lebih tinggi pada pasien afasia motorik afasia (Lewis, Heitkemper, Dirkesen, O’Brien,
daripada afasia global (71%:44%). Tingginya & Bucher, 2007).
frekuensi depresi pada pasien afasia motorik Keterbatasan fisik yang dialami oleh pasien
disebabkan oleh tingginya kesadaran pasien strok membutuhkan bantuan dari perawat
akan ketidakmampuan yang dialaminya. dan peran serta keluarga dalam memberikan
Ketidakmampuan fisik dan keterbatasan perawatan selama proses pengobatan dan
komunikasi dapat menyebabkan munculnya rehabilitasi, sehingga pemenuhan kebutuhan
gejala-gejala depresi, seperti rasa sedih pasien baik di rumah sakit maupun di rumah
atau gangguan afek, sulit berkonsentrasi, dapat terpenuhi. Pendapat ini sejalan dengan
perasaan negatif tentang dirinya, lekas marah, Bullain, Chiki, dan Stern (2007), bahwa
menghindari kontak mata dengan orang lain keterlibatan anggota keluarga dan teman
dan gangguan tidur. Pasien akan menarik dalam latihan dapat meningkatkan efektifitas
diri dari kegiatan sosial, menjadi rendah diri, rehabilitasi. Wills dan Fegan (dalam Sarafino,
kemampuan fungsional yang rendah dan 2006) menyatakan bahwa dukungan keluarga
rehabilitasi yang tidak optimal. mengacu pada bantuan yang diterima individu
Depresi menyebabkan lama rawat dan dari orang lain atau kelompok sekitar yang
kualitas hidup yang rendah (Meifi & Agus, membuat penerima merasa nyaman, dicintai
2009) serta meningkatkan kematian yang dan dihargai serta dapat menimbulkan efek
lebih tinggi (Salter, dkk., 2005). Selain itu positif bagi dirinya. Peningkatan dukungan
depresi dapat berdampak pada orang yang keluarga dapat menjadi strategi penting
merawat pasien dan menghambat komunikasi dalam mengurangi atau mencegah tekanan
diantara perawat dan pasien (Meifi & jiwa dan depresi pasca strok (Salter, Foley, &
Agus, 2009; Finke, Light, & Kitko, 2008). Teasell, 2010).
Komunikasi merupakan proses pertukaran Latihan komunikasi perlu dilakukan setelah
informasi diantara dua orang atau lebih atau pengkajian atau melakukan deteksi afasia
terjadi pertukaran ide-ide atau pemikiran untuk menegakkan masalah keperawatan
(Berman, Snyder, Kozier & Erb, 2008). dan intervensi keperawatan pada afasia.
Peran perawat sebagai bagian dari tim Deteksi dini dan latihan wicara pada pasien
pelayanan kesehatan diharapkan mampu afasia tidak hanya dapat memengaruhi
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien pola penyembuhan otak, tetapi juga dapat
stroke secara komprehensif dan terorganisasi meningkatkan keterampilan berkomunikasi,
sejak fase hiperakut hingga fase pemulihan, sehingga dapat mengurangi isolasi pada
sehingga dapat memengaruhi outcome pasien pasien dan meningkatkan partisipasi dalam
pasca strok. Pendapat ini sejalan dengan rehabilitasi (Salter, dkk., 2006).
Powlawsky, Schuurmans, Lindeman dan Berbagai cara digunakan untuk dapat
Hafstensdottir (2010) yang menjelaskan memfasilitasi komunikasi pasien afasia dengan
tentang kontribusi perawat dalam latihan perawat dan keluarga, serta mendorong pasien
wicara secara intensif yang dimulai pada berkomunikasi untuk mengurangi frustasi,
fase akut menunjukkan hasil rehabilitasi depresi, dan isolasi sosial. Hal demikian
yang terbaik terhadap fungsi berbahasa sejalan dengan penelitian yang dilakukan
pasien afasia, sehingga perawat mempunyai oleh Happ, Roesch dan Kagan (dalam Ackley
implikasi klinis untuk melakukan latihan ini. & Ladwig, 2011), bahwa penggunaan alat
Peranan perawat pada pasien strok bantu komunikasi diperlukan ketika pasien
setelah melewati fase akut adalah memenuhi tidak mampu berkomunikasi secara verbal.
kebutuhan sehari-hari, mengkaji fungsi Beberapa alat bantu komunikasi yang
bicara dan berbahasa, serta menyesuaikan dapat dilakukan pada pasien afasia menurut
teknik berkomunikasi dengan kemampuan Nursing Intervention Classification (NIC)
pasien: bicara pelan dengan suara yang adalah penggunaan perangkat elektronik,
normal, menjadi pendengar yang baik, dan papan alfabet, papan gambar/ flash card yang
menjelaskan setiap prosedur yang akan berisi gambar kebutuhan dasar, stimulus

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 133


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

visual, alat tulis, kata-kata yang sederhana, komputer dan pemahaman terhadap menu-
bahan yang berisi tulisan atau gambar yang menu/ tugas yang ada dalam komputer dan
dapat ditunjuk oleh pasien (Ackley dan kemampuan ekonomi untuk memperoleh
Ladwig (2011); Dochterman dan Bulecheck AAC high technology yang lebih mahal.
(2004); Smeltzer, Bare, Hinkle dan Cheever Kemampuan dan kondisi pasien merupakan
(2010)). Bila dilihat intervensi keperawatan komponen utama efektifnya dilakukan
masalah komunikasi di atas, intervensi latihan wicara (Greener dan Grant dalam
tersebut merupakan bagian dari AAC. Powlasky, dkk., 2010). Kemampuan perawat
AAC yang menggunakan low technology untuk mengakses dan menggunakan menu-
(tanpa menggunakan elektronik), seperti menu yang ada di komputer juga perlu
papan komunikasi yang berisi gambar/ dipertimbangkan.
simbol dan tulisan berisi gambar, kertas, kartu Penggunaan AAC dapat membantu pasien
gambar, dan simbol yang dapat ditunjuk oleh afasia untuk berkomunikasi dengan perawat dan
pasien. Sedangkan AAC yang menggunakan keluarga untuk mengekspresikan kebutuhannya,
elektronik adalah high technology, seperti sehingga AAC dapat menjadi pengganti
komputer/ elektronik dengan kemampuan komunikasi verbal seseorang. AAC banyak
multimedia. memberikan keuntungan, seperti meningkatkan
Walaupun keduanya efektif digunakan kemampuan bahasa dan berkomunikasi, serta
dalam memfasilitasi komunikasi verbal, meningkatkan kemandirian dan perkembangan
namun aplikasinya selama ini di beberapa hubungan sosial dan membantu perawat
rumah sakit Indonesia penggunaan AAC low berkomunikasi pada pasien yang mengalami
technology lebih sering digunakan karena keterbatasan komunikasi verbal (Van de Standt–
lebih familiar, murah, mudah didapat dan Koenderman, 2004, Johston, dkk. (dalam
dilakukan untuk memfasilitasi komunikasi. Clarkson, 2010). Selain itu komunikasi
Pendapat ini sejalan dengan penelitian dengan AAC juga dapat membantu perawat
Fried–Oken, dkk. (dalam Finke, dkk., 2008) berkomunikasi pada pasien yang mengalami
bahwa AAC low technology tanpa perangkat/ keterbatasan komunikasi verbal (Finke, dkk.,
menggunakan perangkat merupakan AAC 2008). Hasil yang dicapai pada pemberian
yang paling sering digunakan di rumah sakit AAC adalah kualitas hidup. Keadaan ini dapat
pada pasien dengan masalah komunikasi. terjadi karena pasien yang menggunakan
Penggunaan AAC high technology perlu AAC pada umumnya memiliki kepuasan
mempertimbangkan kemampuan pasien, dalam hubungan dengan keluarga, teman, dan
seperti kemampuan kognitif/ intelektual, aktivitas hidup yang menyenangkan.
kemampuan motorik untuk menggunakan Beberapa penelitian tentang manfaat

Gambar 1 Low Technology dan High Technology

134 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

pemberian latihan komunikasi terhadap dalam berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan


kemampuan fungsional komunikasi di atas mengetahui pengaruh pemberian AAC
telah banyak dikembangkan oleh beberapa terhadap kemampuan fungsional komunikasi
peneliti. Hasil penelitian oleh Bhogal, dan depresi pasien strok dengan afasia motorik
Teasell, Foley dan Speechley (2004) yang di tiga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
menggunakan kartu gambar dalam latihan Jawa Barat.
wicara pada afasia selama 30 jam yang
dilakukan selama 10 hari menunjukkan
peningkatan dalam kemampuan berbahasa, Metode Penelitian
penamaan, dan pemahaman berbahasa yang
dievaluasi dengan tes wicara (Token Test). Penelitian ini menggunakan desain penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan oleh kuasi eksperimen dengan pendekatan post test
Bakheit, dkk. (2007) dengan menggunakan non equivalent control group, dengan jumlah
media gambar (orientasi tugas menyeleksi sampel 11 orang kelompok kontrol dan 10
gambar, penamaan objek, menjelaskan dan orang kelompok intervensi yang ditetapkan
mengenalkan hubungan antara kedua item) dengan teknik consecutive sampling. Kriteria
pada dua kelompok dengan durasi yang inklusi sampel penelitian antara lain: pasien
berbeda (5 jam dan 2 jam) selama 12 minggu, yang didiagnosa strok hemoragik dan non
menunjukkan perbedaan yang signifikan hemoragik yang mengalami afasia motorik.
terhadap kemampuan berbahasa pada Afasia motorik ditentukan berdasarkan
kelompok standar dengan waktu 2 jam (p format Frenchay Aphasia Screening Test
= 0.002 dibandingkan dengan kelompok (FAST), kesadaran komposmentis, pasien
intensif dengan waktu 5 jam (p > 0.05). yang ditunggu oleh keluarganya dan
Hasil dari kedua penelitian terdapat terlibat dalam latihan komunikasi, pasien
berbagai variasi intensitas dan durasi latihan dan keluarga bersedia menjadi responden.
komunikasi, tetapi yang terpenting latihan Sedangkan kriteria ekslusif meliputi pasien
harus dimulai sedini mungkin setelah melewati dengan disartria, mempunyai riwayat depresi
fase akut dan dalam kondisi stabil. Berdasarkan sebelum strok, pasien yang mendapat terapi
hasil penelitian Robey dalam Clarkson (2010), antidepresan dan mengalami peningkatan
latihan dapat meningkatkan hasil positif kira- tekanan intrakranial (adanya muntah proyektil,
kira 1.83 kali pada individu yang menerima pusing, tekanan darah tidak stabil, dan
intervensi daripada yang tidak menerima penurunan kesadaran).
intervensi. Pendapat ini didukung oleh Instrumen yang digunakan untuk menilai
Bakheit, dkk. (2007), yang menyatakan bahwa kemampuan fungsional komunikasi adalah
latihan secara intensif dapat meningkatkan lembar kuesioner yang sudah valid dan
neuroplastisitas, reorganisasi peta kortikal dan reliabel yaitu Derby Functional Communication
meningkatkan fungsi motorik. Scale (DFCS). DFCS tersebut menunjukkan
Berdasarkan hasil wawancara dengan hubungan yang signifikan dengan alat
perawat ruangan, selama ini penanganan ukur komunikasi lainnya, seperti FAST,
pasien strok yang mengalami afasia hanya Speech Questionnaire (SQ) dan Edinburgh
berfokus pada penanganan fisik. Pemberian Functional Communication Profile (EFCP)
alat bantu komunikasi pada pasien afasia (rs=0.79–0.9, p<0.01). DFCS terdiri dari tiga
hanya diberikan lewat isyarat atau alat skala yaitu Ekspresi (E), Pemahaman (U), dan
tulis tanpa diberikan stimulasi latihan, Interaksi (I). Setiap skala terdiri dari delapan
sehingga tidak sepenuhnya memfasilitasi pertanyaan dengan rentang terendah nol dan
komunikasi dan meningkatkan komunikasi tertinggi delapan. Simpulan yang diperoleh,
pasien selama di rumah sakit. Perawat semakin tinggi nilai yang diperoleh, maka
juga tidak mengetahui bahwa pasien akan menunjukkan kemampuan fungsional
mengalami afasia, karena tidak mendeteksi komunikasi yang lebih baik pada skala E,
adanya afasia, sehingga latihan komunikasi U dan I. Skor dari ketiga penilaian ekspresi,
terlambat/ tidak dilakukan. Keadaan ini akan pemahaman, dan interaksi adalah 0−24
memperlambat pola penyembuhan dan pasien Instrumen untuk menilai depresi/ mood
akan mengalami depresi karena tidak mampu pasien pada kelompok kontrol dan kelompok

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 135


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

intervensi menggunakan lembar observasi pasien, observasi pelaksanaan, dan melakukan


Aphasic Depression Rating Scale (ADRS). latihan komunikasi dengan pasien afasia.
yang berisi daftar penilaian atau ceklist. Kelompok intervensi diberikan AAC
ADRS telah diuji validitas dan reliabilitasnya. selama 10 hari. Media yang digunakan dalam
Pengujian validitas secara concurrent dengan komunikasi ini adalah buku komunikasi yang
menggunakan nilai Wilks, maka didapatkan berisi kegiatan sehari-hari, koran/ majalah,
nilai untuk delapan item=0.116, sedangkan foto keluarga, kartu bergambar, alat tulis,
pengujian convergent validity (construct) papan alfabet dan lagu/ musik. Pemberian
ditemukan korelasi ADRS dengan Hamilton AAC dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada
Depression Rating Scale (HDRS) sangat pagi hari pukul 09.00 WIB, siang hari pukul
baik (r=0.60 dan 0.77) dan validitas kriteria 13.00 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB
(predictive validity) memiliki sensitivitas 0.89 dengan frekuensi waktu 30 menit. Latihan
dan spesifisitasnya adalah 0.71. Pada pengujian komunikasi juga melibatkan keluarga dengan
reliabilitas dengan test retest, diantara item- menggunakan pedoman kebutuhan aktivitas
item dengan uji Kappa, ditemukan sembilan sehari-hari yang disusun oleh peneliti dengan
item memiliki Kappa yang cukup (0.58) tugas menyebutkan/ penamaan, pengulangan,
(rentang Kappa 0.33–1,00). Korelasi item- membaca, mengeja dan menulis dilakukan
item ADRS umumnya sangat baik (r=0.89). selama 90 menit.
Pada pengujian interrater reliability dengan Latihan komunikasi yang dilakukan oleh
uji statistik Kappa menunjukkan sembilan keluarga kepada pasien adalah kegiatan
item sangat baik (r=0.69), skor ADRS secara pasien sehari-hari yang selalu dilakukan,
umum memiliki (r=0.89). Skor diberikan seperti setiap pasien mau makan, minum,
dengan menambahkan setiap item yang mandi, menggosok gigi, menyisir rambut,
berbeda pada setiap item, dengan jumlah total berpakaian, BAB, BAK, penggunaan toilet,
skor yang diperoleh 32. Menurut Benaim, istirahat dan tidur, miring kanan/ kiri,
Cailly, Perennou dan Pelissier (2004), dalam duduk bersandar, minum obat, mobilisasi
instrumen depresi (ADRS), dikatakan depresi dan lain- lain merupakan suatu latihan dan
bila skor pasien ≥ 9. komunikasi dengan waktu lima menit x 20
Metoda yang digunakan untuk mengganti kegiatan sehari-hari (total latihan setiap
kemampuan komunikasi verbal pasien hari = 100 menit). Total latihan ini 30 jam
afasia motorik adalah AAC. Metode AAC selama 10 hari. Waktu 30 jam selama 10 hari
menggunakan buku komunikasi bergambar merupakan waktu yang pernah digunakan
yang berisi kegiatan sehari-hari, koran/ oleh Bhogal, dkk. (2003) yang menggunakan
majalah, foto keluarga, kartu bergambar, alat constraint induced therapy (menggunakan
tulis dan lagu/ musik. Metode ini berorientasi kartu bergambar) dalam latihan wicara.
pada tugas menunjuk gambar, penamaan, Kelompok kontrol pada hari kesatu sampai
mengulang, menulis, membaca, dan mengeja sembilan diberikan alat tulis/ isyarat untuk
huruf. memfasilitasi komunikasi pasien strok dengan
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan setelah afasia motorik. Pada hari ke-11, peneliti
mendapat izin penelitian tertulis dari komite melakukan penilaian kemampuan fungsional
etik Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas komunikasi dan depresi antara kelompok
Indonesia (FIK UI), Kepala bidang diklat kontrol dan kelompok intervensi, selanjutnya
RSUD kota Tasikmalaya, RSUD Kota Banjar didokumentasikan pada lembar hasil
dan RSUD Kabupaten Garut. Penelitian pengukuran. Memastikan bahwa program
dilakukan dengan menekankan masalah latihan dilaksanakan oleh peneliti dengan
etika dengan memerhatikan aspek–aspek baik dan teratur, dikontrol menggunakan
self determination, privacy and anonymity, lembar checklist pemberian komunikasi.
benefience, maleficience, dan justice. Program latihan mandiri yang dilaksanakan
Responden yang mengikuti penelitian dibagi keluarga dengan baik dan teratur, dikontrol
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok menggunakan lembar observasi dalam bentuk
kontrol dan kelompok intervensi. Perawat raport.
melibatkan keluarga untuk mendampingi Hasil Penelitian

136 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

Hasil analisis tabel 1 didapatkan data bahwa rata- orang (52,38%).


rata umur responden adalah 62 tahun, dengan Hasil analisis tabel 3 setelah menggunakan
umur termuda 42 tahun dan tertua 76 tahun. uji t test independent, maka didapatkan bahwa
Rata-rata ketidakmampuan fisik responden rata-rata kemampuan fungsional komunikasi
adalah 25,48 dengan ketidakmampuan fisik responden kelompok kontrol (10,64 + 1,75),
terendah 10 dan tertinggi 40. Rata-rata lebih rendah dibanding dengan kemampuan
dukungan keluarga responden adalah 46,48 fungsional komunikasi responden pada
dengan dukungan keluarga terendah 39 dan kelompok intervensi (11,10 + 1,66). Tidak
tertinggi 53. Rata-rata kemampuan fungsional terdapat perbedaan yang bermakna di antara
komunikasi responden adalah 10,86 dengan keduanya (p = 0.542).
kemampuan fungsional komunikasi terendah Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata
delapan dan tertinggi 14. Rata-rata depresi skor depresi pada kelompok kontrol (9,64
responden adalah sembilan dengan depresi +1,1) secara bermakna (p value = 0.022).
terendah tujuh dan tertinggi 13. lebih tinggi dibanding kelompok intervensi
Hasil analisis tabel 2 didapatkan data (8,30 + 1,16).
bahwa sebagian besar responden memiliki
jenis kelamin laki-laki yaitu 13 orang
(61,90%). Distribusi karekteristik responden Pembahasan
berdasarkan banyaknya jumlah serangan
strok menunjukkan bahwa dari 21 orang Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh
responden, sebagian besar responden memiliki yang tidak signifikan terhadap kemampuan
jumlah serangan strok satu kali sebanyak 11 fungsional dapat disebabkan karena latihan

Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Ketidakmampuan Fisik, Dukungan


Keluarga Kemampuan Fungsional Komunikasi dan Depresi pada Pasien Afasia
Motorik di Tiga RSUD Jawa Barat
Variabel N Mean SD Min. – Mak. 95% CI
Umur
Kontrol 11 61.55 5.98 53–70 57.52 – 65.57
Intervensi 10 62.70 11.89 42–76 54.19 – 71.21
Gabungan 21 62.10 9.055 42–76 57.97 – 66.22
Ketidakmampuan Fisik
Kontrol 11 25.00 8.062 10–40 19.58 – 30.42
Intervensi 10 26.00 6.58 15–40 21.29 – 30.71
Gabungan 21 25.48 7.229 10–40 22.19 – 28.77
Dukungan Keluarga
Kontrol 11 45.73 3.524 39–53 43.36 – 48.09
Intervensi 10 47.30 2.31 44–50 45.65 – 48.9
Gabungan 21 46.8 3.043 39–53 45.09 – 47.86
Kemampuan Komunikasi
Kontrol 11 10.64 1.74 8–14 9.46 – 11.81
Intervensi 10 11.10 1.66 8–13 9.91 – 12.29
Gabungan 21 10.86 1.682 8–14 10.09 – 11.62
Depresi
Kontrol 11 9.64 1.28 8–13 8.77 – 10.50
Intervensi 10 8.30 1.16 7–10 7.47 – 9.13
Gabungan 21 9.00 1.378 7–13 8.37 – 9.63

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 137


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Frekuensi Serangan Strok pada
Pasien Afasia Motorik di Tiga RSUD Jawa Barat
Kontrol Intervensi Total
Variabel
(n=16) (n=16)
∑ % ∑ % ∑ %
Jenis kelamin 61.90
Laki – laki 7 63.6 6 60.00 13 61.90
Perempuan 4 36.4 4 40.00 8 38.10
Frekuensi serangan
strok
1 kali 6 54.5 5 50.00 11 52.38
> 1 kali 5 45.5 5 50.00 10 47.62

komunikasi yang terlalu singkat hanya 10 Powlawsky, dkk. (2010), bahwa sekitar 40%
hari. Hasil penelitian Bakheit, dkk. (2007) penyembuhan komplit afasia atau hampir
menunjukkan bahwa latihan wicara dengan komplit terjadi dalam satu tahun setelah strok
durasi yang berbeda (kelompok intensif = tetapi sekitar 60% penyembuhan yang terjadi
lima jam dan kelompok NHS = dua jam) tidak lengkap (Salter, dkk., 2005).
selama 12 minggu, menunjukkan perbedaan Selain durasi intervensi, hasil yang tidak
yang signifikan terhadap kemampuan maksimal dapat juga dipengaruhi oleh frekuensi
berbahasa pada kelompok NHS (p = 0.002) strok, berat strok, gangguan visual, gangguan
dibandingkan dengan kelompok intensif motorik, dan usia tua. Pendapat ini didukung
(p > 0.05). Penelitian Rappaport, dkk. oleh Kusumoputro (1992) yang menjelaskan
(1999) dalam Powlasky, dkk. (2010) yang bahwa faktor-faktor yang memengaruhi
memberikan intervensi setiap hari selama pemulihan wicara-bahasa terhadap kemampuan
lima tahun dengan lama terapi bervariasi, fungsional komunikasi pada afasia adalah
sebagian menunjukkan kemampuan berbahasa, luas cedera yang berhubungan erat dengan
sedangkan sebagian lagi menunjukkan sedikit kemungkinan adanya gangguan tambahan,
atau tidak ada perbaikan. seperti gangguan visual, motorik (terutama
Menurut Bathier (2005), penyembuhan bila berkaitan dengan proses berbicara),
spontan menunjukkan pemulihan bicara gangguan auditif, gangguan daya ingat dan
tercepat selama dua atau tiga bulan dan gangguan emosional akibat kerusakan otak
puncaknya terjadi setelah satu tahun. Hasil dapat menghambat pemulihan. Keparahan
penelitian ini didukung oleh penelitian afasia, umur dan lateralisasi juga menjadi
Laska (2007) penyembuhan bicara tercepat faktor-faktor prognosis dalam pemulihan
terjadi dalam bulan pertama setelah pasca wicara afasia
strok. Hasil penelitian ini sejalan dengan Selain itu, intervensi yang diberikan oleh
Tabel 3 Hasil Analisis Perbedaan Rata-Rata Kemampuan Fungsional Komunikasi Sesudah
diberikan Komunikasi dengan AAC antara Kelompok Kontrol dan Intervensi pada
Pasien Afasia Motorik
Variabel N Mean SD SE T Mean Diff p value
95%
Kemampuan Komunikasi Verbal
Kontrol 11 10.64 1.748 0.527 -0.464
-0.621 -2.026 – 1.099 0.542
Intervensi 10 11.10 1.663 0.526

138 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

Tabel 4 Hasil Analisis Perbedaan Depresi sesudah Diberikan Komunikasi dengan AAC antara
Kelompok Kontrol dan Intervensi pada Pasien Afasia Motorik
Variabel N Mean SD SE T Mean Diff p value
95%
Depresi
Kontrol 11 9,64 1,1 0,388 1,336
Intervensi 10 8,30 1,160 0,367 2,491 0,213 – 2,459 *0,022

peneliti semua diberikan sama kepada kedua berbicara dalam kalimat panjang, hanya kata-
kelompok tanpa menilai keparahan afasia kata benda, makan, dan mandi. Aspek penilaian
dan berdasarkan tingkat gangguan, apakah pemahaman sebagian besar pasien mengalami
gangguan pada kata, kalimat atau simbol, kesulitan dalam memahami kalimat yang
sehingga dapat memengaruhi kemampuan rumit.
fungsional komunikasi pasien afasia. Faktor Hasil penelitian menunjukkan bahwa
lain seperti kemampuan kognitif, usia lanjut, pengaruh yang signifikan terhadap depresi
dan kehadiran beberapa anggota keluarga dapat disebabkan oleh karena adanya sarana
yang mendampingi pasien berganti-ganti yang komunikasi pasien untuk mengekspresikan
ditemukan pada hari kedelapan dan sembilan kebutuhannya kepada perawat dan keluarga.
(terdapat dua keluarga) yang bergantian Berdasarkan hasil pengamatan, pasien
menunggu pasien, sehingga peneliti harus mampu mengomunikasikan kebutuhannya
memberikan latihan dan penjelasan yang melalui pemberian buku komunikasi dan
berulang-ulang kepada keluarga. Semua media yang ada di sekitar ruangan dengan
faktor ini tentunya dapat memengaruhi menunjukkan gambar, sehingga pasien dapat
kemampuan fungsional komunikasi pasien. berinteraksi dengan keluarga dan petugas
Meskipun tidak ada pengaruh yang kesehatan. Selama penelitian, beberapa alat
signifikan terhadap kemampuan fungsional bantu komunikasi nonverbal digunakan untuk
komunikasi setelah pemberian komunikasi memfasilitasi pasien afasia, seperti foto,
dengan AAC, terdapat perkembangan pada musik, gambar, papan alfabet dan alat tulis.
kelompok intervensi. Perkembangan yang Pasien juga dibantu dengan menyediakan
ditemukan dalam penelitian ini terlihat dua papan komunikasi. Papan komunikasi ini
orang responden pada kelompok intervensi berisi gambar, kata-kata, huruf atau simbol
menunjukkan peningkatan produksi suara, aktivitas kegiatan harian pasien sesuai dengan
walaupun tidak terdapat peningkatan kegiatan yang diminta atau diungkapkan.
kemampuan berkomunikasi, responden Pasien diajak bercakap-cakap setiap hari
tersebut menggunakan komunikasi nonverbal untuk mengungkapkan kebutuhannya dan
dengan isyarat dan menunjuk yang ada menggunakan papan tulis bila tidak mampu
pada buku komunikasi atau benda yang mengekspresikan kebutuhan. Menurut
ada di sekitarnya untuk mengomunikasikan Kusumoputro (1992), mengajak pasien
kebutuhan dasarnya. Kedua pasien tersebut bercakap-cakap merupakan suatu pendekatan
dapat merespon salam yang disampaikan strategi komunikasi untuk mengembangkan
melalui ekspresi wajah dan dapat berinteraksi kemampuan komunikasi.
dengan peneliti walau sebentar. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyatsih
Secara keseluruhan pasien mampu dan Ahmad (2010), bahwa berbagai cara
menunjukkan gambar yang ada di buku digunakan untuk memfasilitasi komunikasi
komunikasi dan benda-benda yang ada di pada pasien afasia serta mendorong pasien
ruangan sebagai sarana mengomunikasikan berkomunikasi, bahkan yang kecil sekalipun
kebutuhannya. Terdapat tiga orang pasien yang untuk mengurangi frustasi, depresi dan
berada pada nilai tiga dari penilaian ekspresi yang isolasi sosial. Menurut hasil penelitian
ditunjukkan dengan kemampuan memberikan Finke, Light, dan Kitko (2008), komunikasi
respon ya/ tidak dan mengekspresikan kata- dengan AAC dapat membantu perawat
kata sederhana, seperti makan, minum, dan berkomunikasi pada pasien yang mengalami
tidur tetapi mengalami kesulitan ketika keterbatasan komunikasi verbal. Penelitian

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 139


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

ini diperkuat oleh hasil penelitian Johston, jam dan menanyakan nama benda tersebut.
dkk. dalam Clarkson (2010), bahwa AAC Penggunaan alat bantu visual seperti gambar,
dapat meningkatkan kemampuan komunikasi tulisan dengan beberapa kata kunci, alat tulis
pasien, memperbaiki kehidupan seseorang dapat memfasilitasi pemahaman dan ekspresi
dengan meningkatkan kemandirian dan pasien afasia (Clarkson, 2010). Hal ini sejalan
perkembangan hubungan sosial, sehingga dengan pendapat Kusumoputro (1992) bahwa
akan memengaruhi kualitas hidup. Hal ini efektifitas terapi afasia akan meningkat jika
dapat terjadi karena pasien yang menggunakan latihan menggunakan bentuk stimulus audio
AAC pada umumnya memiliki kepuasan dalam bentuk musik dan stimulus visual dalam
dalam hubungan dengan keluarga, teman, bentuk gambar-gambar serta lukisan.
dan aktivitas hidup yang menyenangkan Keterbatasan dalam penelitian ini adalah
Pasien didengarkan musik atau lagu subjek penelitian terlalu sedikit, karena tidak
kesenangan pasien (mengingatkan memori banyak terdapat kasus seperti ini dan beberapa
pasien tentang kata-kata dalam lagu dan responden mengalami drop out. Penelitian
mendorong pasien untuk menyenandungkan ini tidak dilakukan pre test sehingga tidak
lagu tersebut) dan pasien diajak untuk bisa membandingkan kondisi awal dengan
mengulangi kata-kata tersebut. Terapi intonasi kondisi setelah melakukan intervensi. Waktu
lagu dapat digunakan pada pasien afasia latihan selama 10 hari tergolong singkat,
dengan kemampuan ekspresi verbal minim sehingga tidak maksimal untuk memperbaiki
(Kusumoputro, 1992). Pemberian stimulasi kemampuan komunikasi karena responden
melalui lagu, menyanyikan, dan menyuarakan memiliki berat strok dan derajat keparahan
lagu sebelum pasien sakit akan lebih bermanfaat afasia yang bervariasi dalam hal waktu
dengan memfungsikan hemisfer kanan karena pemulihan bicara. Selain itu instrumen
hemisfer kiri (dominan) mengalami kerusakan. yang digunakan untuk menilai kemampuan
Selain itu musik juga dapat digunakan pasien fungsional komunikasi dan depresi ini
depresi untuk mengekspresikan emosinya, walaupun sudah dilakukan interrater, tetapi
sehingga dapat mengurangi depresi paska strok pada instrumen kemampuan fungsional
(American Music Association, 2005). komunikasi masih membutuhkan acuan/
Pasien diajarkan setiap simbol/ gambar alat yang membuat penilaian menjadi
yang ada pada buku komunikasi. Bantu pasien lebih objektif diantara peneliti dan asisten
untuk menunjukkan setiap bagian/ label, peneliti. Untuk instrumen penilaian depresi,
misalnya bila pasien nyeri/ tidak nyaman. tidak semuanya dilakukan observasi dan
Jika pasien tidak mampu mengidentifikasi ada beberapa item observasi yang perlu
simbol-simbol gambar tersebut, ganti simbol dikembangkan agar penilaian observasi lebih
gambar menjadi yang lebih familiar, jelaskan objektif.
hubungan antara simbol dengan artinya dalam Pemberian komunikasi dengan AAC pada
bentuk kalimat dan instruksikan pasien untuk pasien strok dengan afasia motorik mempunyai
mengulangnya dalam bentuk simbol lain. implikasi klinis dalam pelayanan keperawatan,
Misalnya simbol piring dan sendok yang yaitu pasien mampu mengomunikasikan
dapat mengidentifikasi saya ingin makan. Bila kebutuhannya melalui pemberian buku
pasien tidak dapat mengidentifikasi, peneliti komunikasi, majalah, foto, musik/ lagu, dan
dapat membantu dengan menunjukkan gambar, alat tulis, sehingga dapat menurunkan depresi
kemudian peneliti menanyakan gambar pada pasien afasia motorik. Dari uraian di
apakah ini? Berikan stimulus lain, seperti atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi
saya mau sikat gigi perintahkan pasien untuk merupakan salah satu kebutuhan dasar
menunjukkan pada gambar ‘sikat gigi’ sebagai untuk mengekspresikan pikiran, pendapat,
simbol ingin sikat gigi. Menunjukkan foto- dan perasaan.
foto anggota keluarga pasien, kemudian pasien Intervensi augmentative and alternative
diminta menunjukkan dan menyebutkan nama comunication akan mengurangi jumlah
anggota keluarganya, mengulanginya kembali. biaya yang harus dikeluarkan dan lamanya
Pasien juga ditunjukkan benda-benda yang pengobatan di rumah sakit. Hal tersebut
mudah dikenal, seperti pulpen, kunci atau dikarenakan AAC dapat memfasilitasi

140 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

komunikasi pasien afasia dikarenakan Hasil penelitian dengan AAC ini dapat
keterbatasannya dalam berkomunikasi verbal, direkomendasikan kepada perawat sebagai
meningkatkan interaksi antara pasien dengan salah satu intervensi keperawatan untuk
keluarga, petugas kesehatan dan membantu memfasilitasi komunikasi pasien afasia
perkembangan hubungan sosial sehingga motorik, seperti papan gambar/ buku
akan memengaruhi kualitas hidup pasien komunikasi, Perawat dapat membuat Standar
afasia. Pemberian AAC juga meningkatkan Operasional Prosedur (SOP) terkait pemberian
waktu sentuhan perawat kepada pasien, AAC pada pasien strok dengan afasia motorik.
sehingga perawat dapat menjadi teman dalam Penggunaan terapi modalitas, seperti AAC
mengekspresikan emosi. Sikap caring yang dalam asuhan keperawatan pada pasien
ditunjukkan perawat kepada pasien akan strok dengan gangguan komunikasi perlu
menimbulkan efek positif untuk mengurangi diperkenalkan kepada mahasiswa selama
kejadian depresi. pendidikan. Perlu melakukan penelitian
Sesuai dengan peran perawat dalam lebih lanjut mengenai pemberian komunikasi
rehabilitasi strok, perawat dapat berperan dengan AAC pada pasien strok dengan afasia
sebagai caregiver, sebagai educator dengan motorik menggunakan sampel yang lebih
memberikan informasi tentang pentingnya besar,
keterlibatan keluarga dalam pelaksanaan latihan
komunikasi, dan sebagai fasilitator dalam
penyembuhan pasien dan manajer perawatan. Daftar Pustaka
Perawat juga sebaiknya menerapkan caring
dalam memberikan asuhan keperawatan, Ackley, B.J., & Ladwig, G.B. (2011). Nursing
memberikan motivasi agar pasien tidak diagnosis handbook: An evidence based
mengalami depresi. Selain perawat, keterlibatan guide to planning care (9th ed.). USA: Mosby
keluarga juga merupakan salah satu bentuk Elseiver.
dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan
latihan komunikasi, baik selama di rumah sakit American Music Association, (2005).
ataupun di rumah. Music therapy. Diakses dari http://www.
Meskipun usaha dalam meningkatkan musictherapy.org.
kemampuan komunikasi selama 10 hari
tidak ada hubungan yang bermakna, tetapi Amir, N. (2005). Depresi : Aspek neurobiologi
adanya pemberian AAC pada hari pertama diagnosis dan tatalaksana. Jakarta: Balai
sampai hari kesepuluh dapat meningkatkan Penerbit FKUI.
neuroplastisitas, reorganisasi peta kortikal,
dan meningkatkan fungsi motorik pada hari Andri & Susanto. (2008). Tatalaksana depresi
selanjutnya sehingga pada tiga sampai enam paska-strok. Majalah kedokteran Indonesia
bulan selanjutnya pemulihan wicara bahasa 58(3), 81–85.
menjadi optimal. Proses deteksi yang dini dan
memberikan intervensi keperawatan yang Arwani. (2003). Komunikasi dalam keperawatan.
tepat dan dimulai sejak dini terkait dengan Jakarta: EGC.
afasia dan depresi dapat meningkatkan
proses pemulihan pasca strok dengan afasia Bakheit, Shaw, S., Barret, L., Wood, J.,
motorik. Carrington, S., Griffith, S., Searle, K., &
Koutsi, F. (2007). A prospective, randomized,
parallel group, controlled study of the effect
Simpulan of intensity of speech and language therapy
on early recovery from post strok aphasia.
Penelitian ini membuktikan bahwa AAC Journal of Clinical Rehabilitation.
berpengaruh secara bermakna terhadap depresi
pada pasien strok dengan afasia motorik, namun Benaim, Cailly, Perennou, & Pelissier, J.
tidak berpengaruh secara bermakna terhadap (2004). Validation of the aphasic depression
kemampuan fungsional komunikasi. rating scale. Stroke, 35(7), 1692–6. Diakses

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 141


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov. Kusumoputro, S, (1992). Afasia : Gangguan


berbahasa. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Berman, A., T., & Snyder, S. (2008). Kozier
and Erb’s fundamentals of nursing (9th ed). Laska, A., C., Bartfai, A., Hellblom, A.,
New Jersey : Pearson International Edition. Murray, V., & Kahan, T. (2007). Clinical
and prognostic properties of standardized
Berthier, M. L. (2005). Poststroke aphasia: and functional aphasia assesment. Journal
Epidemiology, pathophysiology and treatment. of rehabilitation medicine, 39(5), 387–392.
Drugs Aging, 22(2), 163–82. Diakses dari : Diakses dari: www.ingentaconnect.com.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov.
Lewis, O’Brien, Heitkemper, Dirksen, &
Bhogal, S.K., Teasel., Foley., & Speechley. Bucher. (2007). Medical surgical nursing
(2004). Lesion location and poststrok : assesment and management clinical
depression: systematic review of the problems, study guide, (7th ed). Missouri:
methodological limitations in the literature. Mosby Elsevier.
Diakses dari http://strok.ahajournals.org.
Lumbantobing, S.M. (2011). Neurologi klinik
Bulecheck, G.M., & McCloskey, J.C, (1999). pemeriksaan fisik dan mental (Cetakan ke-
Nursing interventions: effective nursing 14). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
treatment (3rd ed.). Philadelphia: W.B.
Saunders Company. Meifi & Agus, D. (2009). Strok dan depresi
paska strok. Majalah Kedokteran Damianus,
Clarkson, K, (2010). Aphasia after strok 8(1).
enabling communication through speech
and language therapy. British Journal of Mulyatsih, E. & Ahmad, A.A. (2010). Strok:
Neuroscience Nursing, 6, 227–231. Petunjuk perawatan pasien pasca strok di
rumah (Cetakan ke-2). Jakarta: Balai Penerbit
Dahlin, A.F., Laska, A.C., Larson, J., FKUI.
Wredling., Billing, E., & Murray, F. (2007).
Predictors of life situation among significant Poslawsky, I. E., Schuurmans, M. J.,
others of depresses or aphasia strok patients. Lindeman, E., & Hafsteinsdothr, T. B.
Journal of Clinical Nursing, 17, 1574 – 1580. (2010). A systematic review of nursing
rehabilitastion of stroke patient with aphasia.
Dochterman & Bulecheck. (2004). Nursing Journal of clinical nursing, 19(1-2), 17–32.
intervention classification (NIC). St. Louis: Diakses dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov.
Mosby.
Price, S.A. & Wilson, L.M. (2006).
Finke, E.H., Light, J., & Kitko, L. (2008), Pathophysiology clinical concepts of disease
A systematic review of the effectiveness of process, patofisiologi: Konsep klinis proses-
nurse communication with patients with proses penyakit (Edisi keenam). Jakarta: EGC.
complex communication needs with a focus
on the use of augmentative and alternative Rasyid, A. & Soertidewi, L. (2007). Unit
communication. Journal of Clinical Nursing, strok: Manajemen strok secara komprehensif.
17, 2102–2115. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ignatavicius, D. & Linda, W. (2002). Riset Kesehatan Dasar. (2008). Laporan


Medical surgical nursing, critical thinking nasional 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan
for collaborative care (4th ed). New York: RI.
WB,Saunders Company.
Salter, K., Jutai, J., Foley, N., Hellings, C., &
Kirshner, H.S. (2009). Aphasia. Diakses dari Teasell, R. (2006). Identification of aphasia
http://emedicine.medscape.com. poststrok: a review screening assesment
tools. Brain Injury, 20, 559–568.

142 Volume 1 Nomor 3 Desember 2013


Amila : Pengaruh Augmentative and Alternative Communication

Saravino, E. P. (2006) Health psychology : Sundin, K., & Jansson, L. (2003) “Understanding
biopsychosocial interaction (5th ed). United and being understood” as, a creative caring
State of America: John Willey & Sons, Inc. phenomenon-in care of patients with stroke
and aphasia. Journal of critical nursing, 12(1),
Silbernagl, S. & Lang, F. (2007). Teks dan 107–16. Diakses dari : www.ncbi.nlm.nih.gov.
atlas berwarna patofisiologi. Alih Bahasa
Iwan Setiawan dan Iqbal Mochtar (Cetakan Van de Sandt-Koenderman, W., M., E. (2004).
ke-1). Jakarta: EGC. High-tech AAC and aphasia: Widening
horizons?. Aphasiology, 18,2245–263.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., &
Cheever, K.H. (2010). Brunner and Suddarth’s Yastroki. (2011). Strok penyebab kematian
textbook of medical surgical nursing (12th ed.). urutan pertama di rumah sakit di Indonesia.
Philadelphia: Lippincott Williams dan Wilkins. Diakses dari http://www.yastroki.or.id.

Volume 1 Nomor 3 Desember 2013 143