Anda di halaman 1dari 27

ANGGARAN DAN PENGANGGARAN DI SEKTOR PUBLIK

Makalah
Akuntansi Sektor Publik

Dosen Pengampu :
Nur Laila Yuliani, S.E., M.Sc.

Disusun oleh :

15 C Akuntansi
Zulfa Lakhsita P N 15.0102.0149

Era Anida Rizqi 15.0102.0156

Febriana Dewi S 15.0102.0172

Ahmad Fakhrurozy 15.0102.0185

Dhevin Melinda 15.0102.0198

Titin Anggraeni 15.0102.0215

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

TAHUN 2017/2018
1. PENGERTIAN ANGGARAN NEGARA
Anggaran publik berisi rencana kegiatan yang dipresentasikan dalam bentuk
rencana perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Dalam bentuk yang
paling sederhana, anggaran publik merupakan suatu dokumen yang menggambarkan
kondisi keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi mengenai pendapatan,
belanja, dan aktivitas. Anggaran berisi estimasi mengenai apa yang akan dilakukan
organisasi di masa yang akan datang. Setiap anggaran memberikan informasi mengenai
apa yang hendak dilakukan dalam beberapa periode yang akan datang.
Anggaran negara menurut John F. Due (1975) adalah: “suatu pernyataan
tentang perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam
suatu periode di masa depan, serta data dan pengeluaran dan penerimaan yang
sungguh-sungguh terjadi di masa yang lalu.”
a. Anggaran negara adalah gambaran dari kebijakan pemerintah yang dinyatakan
dalam ukuran uang, yang meliputi baik kebijaksanaan pengeluaran pemerintah suatu
periode di masa depan maupun kebijaksanaan penerimaan pemerintah untuk
menutup pengeluaran tersebut;
b. Di samping mengungkapkan kebijaksanaan pemerintah untuk suatu periode di masa
depan, dari anggaran negara dapat diketahui pula realisasi pelaksanaan
kebijaksanaan pemerintah di masa yang lalu;
c. Sehingga melalui anggaran negara dapat diketahui tercapai atau tidaknya
kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah di masa yang lalu, serta maju atau
mundurnya kebijaksanaan yang hendak dicapai pemerintah di masa yang akan
datang.
Lingkungan anggaran adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan
anggaran. Dalam pendekatan sistem, maka lingkungan anggaran negara terdiri dari
beberapa unsur antara lain:
1. Kebutuhan dan kepentingan rakyat banyak
Ini merupakan fungsi ekonomi makro anggaran.
2. Sistem pemerintahan negara dengan sistem pemerintahan kabinet presidensial
a. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
b. Presiden
c. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
d. Kabinet/Menteri Negara
e. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
3. Sistem administrasi negara
Sistem ini sangat erat kaitannya dengan sistem pemerintah negara, yang
ditandai dengan proses penjabaran tujuan sesuai dengan pembukaan UUD 1945
alinea keempat, dalam hal ini dapat kita lihat:
a. MPR menentukan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan
pedoman utama dalam pelaksanaan pembangunan nasional.
b. Presiden sebagai Mandataris MPR, menyusun perencanaan lima tahunan,
selanjutnya dengan pedoman perencanaan tersebut diwujudkan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun.
c. DPR menerima rancangan APBN sesuatu tahun anggaran pada kurang lebih 11
minggu sebelum tahun anggaran baru dimulai, kemudian dibahas dan disahkan.
d. Menteri Negara sebagai Pembantu Presiden menerima alokasi anggaran
berdasarkan Keputusan Presiden.
e. BPK memeriksa pelaksanaan APBN oleh Pemerintah

Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan


masyarakat, seperti listrik, air bersih, kualitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya
agar terjamin secara layak. Tingkat kesejahteraan masyarakat dipengaruhi oleh
keputusan yang diambil oleh pemerintah melalui anggaran yang mereka buat.
Dalam sebuah negara demokrasi, pemerintah mewakili kepentingan rakyat, uang
yang dimiliki pemerintah adalah uang rakyat dan anggaran menunjukkan rencana
pemerintah untuk membelanjakan uang rakyat tersebut. Anggaran merupakan blue print
keberadaan sebuah negara dan merupakan arahan di masa yang akan datang.
Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi
keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai
tujuan tertentu. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Anggaran merupakan alat
ekonomi terpenting yang dimiliki pemerintah untuk mengarahkan perkembangan sosial
dan ekonomi, menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Anggaran sektor publik harus dapat memenuhi kriteria berikut:
1. Merefleksikan perubahan prioritas kebutuhan dan keinginan masyarakat.
2. Menentukan penerimaan dan pengeluaran departemen-departemen pemerintah,
pemerintah propinsi atau Pemerintah Daerah.
Aliran uang yang terkait dengan aktivitas pemerintah akan mempengaruhi harga,
lapangan kerja, distribusi pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan beban pajak yang
harus dibayar atas pelayanan yang diberikan pemerintah.
a. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial-
ekonomi, menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tak
terbatas dan terus berkembang.
c. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggungjawab
terhadap rakyat.

Adapun fungsi Anggaran Sektor Publik adalah sebagai berikut :


a. Anggaran negara berfungsi sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola
negara untuk suatu periode di masa mendatang.
b. Anggaran juga berfungsi sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap
kebijaksanaan yang telah dipilih pemerintah karena sebelum anggaran negara
dijalankan harus mendapat persetujuan DPR lebih dahulu.
c. Anggaran mempunyai fungsi sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap
kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan yang telah dipilihnya
karena pada akhirnya anggaran harus dipertanggungjawabkan pelaksanaannya oleh
pemerintah kepada MPR.

Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan dengan


berpedoman pada visi bangsa Indonesia masa depan, misi dan arah kebijakan di
berbagai bidang sesuai dengan GBHN. Prinsip pengelolaan anggaran negara secara hati-
hati, transparan, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas publik harus selalu
dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh seluruh penyelenggara negara di
segala lapisan.
1. Melakukan upaya mobilitas dana sebesar-besarnya untuk kegiatan yang bersifat
investasi dengan mengutamakan sumber dana dari dalam negeri secara
berkesinambungan serta mengurangi ketergantungan terhadap dana dari luar negeri;
2. Menggunakan anggaran seefektif dan seefisien mungkin sehingga memperoleh hasil
yang optimal melalui alokasi dana yang tepat arah dan tepat sasaran sesuai skala
prioritas yang ditetapkan dalam program pembangunan nasional;
3. Memfungsikan anggaran negara sebagai sarana perekat bangsa dengan alokasi dana
yang mendukung tumbuhnya demokrasi ekonomi melalui perimbangan keuangan
pusat dan daerah.
Untuk keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut dengan baik diperlukan adanya
faktor pendukung yaitu rasa tanggung jawab dan sikap compliance (taat asas dalam
pengelolaan anggaran) atau dikenal dengan sebutan disiplin anggaran dari seluruh
aparat pemerintah yang terkait dengan penerimaan maupun pengeluaran negara, di
samping faktor stabilitas politik dan keamanan.
Mardiasmo (2002) merinci secara lebih luas tentang fungsi utama Anggaran, sektor
publik, yaitu: (1) sebagai alat perencanaan, (2) alat pengendalian, (3) alat kebijaksanaan
fiskal, (4) alat politik, (5) alat koordinasi dan komunikasi, (6) alat penilaian kinerja, (7)
alat motivasi, (8) alat menciptakan ruang publik.

Anggaran Sebagai Alat Perencanaan (Planning Tool)


Anggaran merupakan alat perencanaan untuk mencapai tujuan organisasi. Anggaran
sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh
pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja
pemerintah tersebut. Anggaran sebagai alat perencanaan digunakan untuk :
a. Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan yang
ditetapkan,

b. Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi


serta merencanakan alternatif sumber pembiayaannya,

c. Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah disusun,
dan

d. Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi.

Anggaran Sebagai Alat Pengendali (Control Tool)


Anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan pengeluaran
pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada
publik. Tanpa anggaran, pemerintah tidak dapat mengendalikan pemborosan-
pemborosan pengeluaran. Anggaran sektor publik dapat digunakan untuk
mengendalikan (membatasi kekuasaan) eksekutif seperti presiden, menteri, gubernur,
bupati, dan manajer publik lainnya.
Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari adanya
over spending, under spending, dan salah sasaran (misapproppriation) dalam
pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan merupakan prioritas. Anggaran
merupakan alat untuk memonitor kondisi keuangan dan pelaksanaan operasional
program atau kegiatan pemerintah. Pengendalian anggaran publik dapat dilakukan
melalui empat cara, yaitu :
a. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan,

b. Menghitung selisih anggaran (favourable dan unfavourable variences),

c. Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan (controllable) dan tidak dapat


dikendalikan (uncontrollable) atas suatau varian,

d. Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun berikutnya.

Anggaran Sebagai Alat Kebijaksanaan Fiskal (Fiscal Tool)


Anggaran dapat digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong
pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran publik tersebut dapat diketahui arah kebijakan
fiskal pemerintah sehingga dapat dilakukan prediksi-prediksi dan estimasi ekonomi.
Anggaran dapat digunakan untuk mendorong, memfasilitasi, dan mengkoordinasikan
kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Anggaran Sebagai Alat Politik (Political Tool)


Anggaran digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan
keuangan terhadap prioritas tersebut. Pada sekor publik, anggaran merupakan dokumen
politik sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan
dana publik untukkepentingan tertentu. Anggaran bukan sekedar masalah teknis akan
tetapi lebih merupakan alat politik. Dengan demikian pembuatan anggaran publik
membutuhkan political skill, coalition building, keahlian bernegosiasi, dan pemahaman
tentang prinsip manajemen keuangan sektor publik oleh para manajer publik.

Anggaran Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi (Coordination And


Communication Tool)
Setiap unit kerja pemerintah terlibat dalam proses penyusunan anggaran.
Anggaran publik yang disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya
inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan organisasi. Anggaran publik juga
berfunsi sebagai alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif. Anggaran
harus dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.

Anggaran Sebagai Alat Penilaian Kinerja (Performance Measurement Tool)


Anggaran merupakan wujud komitmen dari bugdet holder kepada pemberi
wewenang. Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan
efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai berdasarkkan berapa
yang berhasil ia capai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan. Anggaran
merupakan alat efektif untuk pengendalian dan penilaian kinerja.

Anggaran Sebagai Alat Motivasi (Motivation Tool)


Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan staffnya
agar berkerja secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam pencapaian terget dan tujuan
organisasi yang telah ditetapkan. Anggaran dapat memotivasi pegawai, anggaran
hendaknya bersifat challenging but attainable atau demanding but achieveable.
Maksudnya dalah target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat
dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai.

Anggaran Sebagai Alat Untuk Menciptakan Ruang Publik (Publik Sphere)


Anggaran publik tidak boleh diabaikan oleh kabinet, birokrat, dan DPR/DPRD>
masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi, dan berbagai organisasi kemasyarakatan harus
terlibat dalam proses penganggaran publik. Kkelompok masyarakat yang terorganisir
akan mencoba mempengaruhi agar anggaran pemerintah untuk kepentingan mereka.
Kelomok lain dari masyarakat yang kurang terorganisir akan mempercayakan
aspirasinya melalui proses politik yang ada. Sehingga pengangguran, tunawisma, dan
kelompok lain yang tidak terorganisir akan dengan mudah menyampaikan suara
sehingga tidak mengambil tindakan dengan jalan lain seperti tindakan massa,
melakukan boikot, vandalisme, dan sebagainya.

2. PRINSIP - PRINSIP ANGGARAN SEKTOR PUBLIK


Prinsip – prinsip anggaran sektor publik meliputi :
a. Otorisasi oleh legislatif
Anggaran publik harus mendapatkan otorisasi dari legislatif terlebih dahulu
sebelum eksekutif dapat membelanjakan anggaran tersebut.
b. Komprehensif
Anggaran harus menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Oleh karena itu, adanya non-budgetair pada dasarnya menyalahi prinsip anggaran
yang bersifat komprehensif.
c. Keutuhan anggaran
Semua penerimaan dan belanja pemerintah harus terhimpun dalam dana umu
(general fund)
d. Nondiscretionary Appropriation
Jumlah yang disetujiu oleh dewan legislatif harus termanfaatkan secara
ekonomis, efisiensi, dan efektif
e. Periodik
Anggaran merupakan suatu proses yang periodik dapat bersifat tahun maupun
multi tahunan
f. Akurat
Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi
yang dapat dijadikan sebagai kantong pemborosan dan inefisiendi anggaran serta
dapat mengakibatkan munculnya underestimate pendapatan dan overestimate
pengeluaran.
g. Jelas
Anggaran hendaknya sederhana, dapat dipahami masyarakat, dan tidak
membingungkan.
h. Diketahui piblik
Anggaran harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

3. PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN SEKTOR PUBLIK


Anggaran pendapatan dan belanja negara yang dipresentasikan setiap tahun oleh
eksekutif, memberi informasi rinci kepada DPR/DPRD dan masyarakat tentang
program-program apa yang direncanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas
kehidupan rakyat dan bagaimana realisasi program tersebut. Penyusunan dan
pelaksanaan anggaran tahunan merupakan rangkaian proses anggaran. Proses
penyusunan anggaran mempunyai 4 tujuan, yaitu :
1. Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasi
antar bagian dalam lingkungan pemerintah.

2. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan


jasa publik melalui proses pemrioritasan.

3. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja.

4. Meningkatkan transparansi dan pertanggung jawaban pemerintah kepada


DPR/DPRD dan masyarakat luas.

Faktor dominan yang terdapat dalam proses penganggaran adalah :


a. Tujuan dan target yang hendak dicapai

b. Ketersediaan sumber daya ( faktor- faktor produksi yang dimiliki pemerintah )

c. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan terget

d. Faktor- faktor lain yang memepengaruhi anggaran seperti : munculnya peraturan


pemerintah yang baru, fluktuasi pasar, perubahan sosial dan politik, bencana
alam, dan sebagainya.

4. PRINSIP POKOK DALAM SIKLUS ANGGARAN

Menurut Richard Musgrave seperti yang dikutip Coe (1989) dan dikutip oleh
Mardiasmo (002) mengidentifikasi tiga pertimbangan ekonomis mengapa pemerintah
perlu terlibat dalam bisnis pengadaan barang dan jasa bagi maysrakat. Ketiga
pertimbangan tersebut meliputi stabilitas ekonomi, redistribusi, pendapatan, dan alokasi
sumber daya.
Pertimbangan pertama dan kedua umumnya digunakan oleh Pemerintah Pusat,
sedangkan pertimbangan ketiga dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Atas ketiga
prtimbangan itulah anggaran diperlukan untuk perencanaan dan pengendalian atas
penerimaan dan pengeluaran dana dalam rangka pencapaian tujuan akhir pemerintah.
Siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas :
1. Tahap persiapan anggaran ( Preparation )

2. Tahap ratifikasi ( Approval/ Ratification )

3. Tahap implementasi ( Implementation)

4. Tahap pelaporan dan evaluasi ( Reporting and Evaluation )

Tahap Persiapan Anggaran (budget preparation)


Pada tahap persiapan anggaran dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar taksiran
pendapatan yang tersedia. Dalam personal etsimasi, yang perlu mendapat perhatian
adalah terdapatnya faktor “uncertainty” yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, manajer
keuangan publik harus memahami betul dalam menentukan besarnya suatu mata
anggaran. Besarnya suatu mata anggaran sangat tergantung pada sistem anggaran yang
digunakan. Besarnya mata anggaran pada suatu anggaran yang menggunakan “line-
item budgeting” akan berbeda pada “input-output budgeting”, program budgeting, atau
“zero based budgeting”.
Di indonesia, proses perencanaan APBD dengan paradigma baru menekankan
pada pendekatan bittom-up planning dengan tetap mengacu pembangunan pemerintahan
pusat terutang dalam dokumen perencanaan berupa GBHN, program pembangunan
pemerintahan pusat. Arahan kebijakan berupha GBHN, program pembangunan nasional
(PROPENAS), rencana strategis (RENSTRA) dan rencana pembangunan tahunan
(REPETA).
Sinkonisasi perencanaan pembangunan yang digariskan oleh pemerintah pusat
dengan perencanan pembangunan daerah secara spesifik diatur dalam peraturan
pemerintah No 105 dan 108 Tahun 2000. Sementara pada tingkat dearah (provinsi atau
kabupaten) berdasarkan ketentuan peraturan pemerintah No. 108 tahun 2000 Pemerintah
Daerah disyaratkan untuk membuat dokumen perencanaan daerah yang terdiri atas
PROPEDA (RENSTRADA). Dokumen perencanaan daerah tersebut diupayakan tidak
menyimpang dari PROPENAS dan RENSTRA yang dibuat Pemerintah Pusat.
Berdasarkan RENSTRADA yang telah dibuat secara finansial dan ekonomi
daerah, menurut ketentuan PP No.105 Tahun 2000 Pemerintah Daerah bersama dengan
DPRD menetapkan stategi dan prioritas APBD. REPETADA memuat program
pembangunan daerah secara menyeluruh dalam satu tahun. REPETADA juga memuat
indikator kinerja yang terukur untuk jangka waktu satu tahun. Pendekatan ini
diharapkan akan lebioh memperjelas program kerja tahunan Pemerintah Daerah.
Penjabaran rencana jangka panjang dalam REPETADA dilengkapi dengan:
1. Pertimbangan-pertimbangan yang berasal dari hasil evaluasi kinerja Pemerintah
Daerah pada periode sebelumnya.

2. Masukan-maskan dan aspirasi masyarakat

3. Pengkajian kondisi yang saat ini terjadi, sehingga bisa diketahui kekuatan,
kelemahan, peluang dan tantangan yang sedang dan akan dihadapi.

Tahap Ratifikasi Anggaran (budget ratification)


Tahap ini merupakan tahap yang melibatkan proses politik yang cukup rumit dan
cukup berat. Pimpinan eksekutif dituntut tidak hanya memiliki managerial skill namun,
juga harus mempunyai political skills, salssmanship dan coalition biulding yang
memadai.

Tahap Pelaksanaan Anggaran (budget implementasion)


Setelah anggaran disetujuioleh legislatif, tahap berikutnya adalah pelaksanaan
anggaran. Dalam hal ini yang harus diperhatikan manager keuangan publik adalah
dimilikinya sistem akuntansi dan sistem pengendalian manajemen. Manajer keuangan
publik dalam hal ini bertanggung jawab untuk menciptakan sistem akuntansi yang
memadai dn handal untuk perencanaan dan pengendalian anggaraan yang telah
disepakati dan bahka sistem akuntansi yang baik meliputi pula dibuatnyasistem
pengendalian intern yang memadai.

Tahap Pelaporan dan Evaluasi Anggaran (budget repoerting dan evaluation)


Tahap akhir dari siklus penggaran adalah siklus pelaporan dan evaluasi anggaran.
Tahao persiapan rafikasi, dan implementasi anggaran terkkait dengan aspek operasional
anggaran, sedangkan tahap pelaporan dan evaluasi terkait dengan aspek akuntabilitas.
Jika tahap ini implementasi telah didukung dengan sistem yang akuntansi dan
manajemen maka diharapkantahap budget reporting dan evaluasi tidak akan menenumi
banyak masalah.

5. JENIS ANGGARAN SEKTOR PUBLIK


Perkembangan Anggaran Sektor Publik
Sistem anggaran sektor publik dalam perkembangannya telah menjadi instrumen
kebijakan multifungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi.
Hal tersebut terutama tercermin pada komposisi dan besarnya anggaran yang secara
langsung merefleksikan arah dan tujuan pelayanan masyrakat yang diharapkan.
Sebagai sebuah sistem perencanaan anggaran sektor publik telah mengalami
banyak perkembangan. Sistem perencanaan anggaran manajemen sektor publik dan
perkembangan tuntutan yang muncul di masyarakat. Terdapat berbagai jenis pendekatan
dalam perencanaan sektor publik. Pendekatan tersebut adalah (a) anggaran tradisonal
atau anggaran konvensional dan (b) pendekata baru yang sering dikenal dengan
pendekatan new public management.
A. Anggaran Tradisional
Anggaran tradisonal merupakan pendekatan yang banyak digunakan dinegara
berkembembang dewasa ini. Terdapat dua ciri utama dalam pendekatan ini yaitu (a)
cara penyusunan anggaran yang didasarkan atas pendekatan incrementalism dan (b)
struktur dan susunan anggaran yangbersifat line-time.
Ciri lain yang melekat pada pendekatan anggaran tradisonal adalah (c) cenderung
sensitif, (d) bersifat spesifikasi, (e) tahunan, (f) menggunakan prinsip anggaran bruto.
Kegiatan anggaran tradisonal yang dikeluarkan untuk setiap kegiatan dan bahkan
anggaran tradisonal gagal dalam memberikan infrmasi, maka satu-satunya tolok ukur
yang dapat digunakan tujuan pengawasan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan
anggaran.
Incrementalism
Penekanan dan tujuan utama pendekatan tradisonal adalah pengawasan dan
pertanggungjawaban yang terpusat. Anggaran tradisonal bersifat incrementalism. Yaitu
hanyamenambahi atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang
sudah ada sebelumnnya dengan menggunakan data tahunan sebelumnya sebagai dasar
untuk menyesuaikan besarnya penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian
yang mendalam.
Anggaran tradisional yang bersifat “incrementalism” cenderung menerima konsep
harga pokok pelayanan histori (historic coost of service) tanpa memperhatikan
pernytaan seperti:
1. Apakah pelayanan tertentu yang dibiayai dengan pengeluran pemerintah masih
dibutuhkan atau masih menjadi prioritas.

2. Apakah pelayanan yang diberikan telah terdistribusi secara adil dan merata
diantara kelompok masyarakat?

3. Apakah pelayanan diberikan secara ekonomis dan efisiensi?

4. Apakah pelayanan yang diberikan mempengaruhi pola kebutuhan publik.

Akibat digunakan harga pokok pelayanan historis tersebut ada item, program, atau
kegiatan akan mucul lagi dalam anggaran tahun berikutnya meskipun sebenarnya item
tersebut sudah tidak dibutuhkan perubahan anggaran hany menyentuh jumlah nominal
rupiah yang disesuaikan dengan tingkat inflasi, jumlah penduduk dan penyesuaian
lainnya.
Line-item
Ciri anggaran tradisonal adalah struktur anggaran bersifat line-item yang
berdasarkan atas sifat natural dari penerima dan pengeluaran. Metode line-item tidak
memungkinkan untuk menghilangkan item-item penerimaan dan pengeluaraan yang
telah ada dalam struktur anggaran, walaupun sebenernya secara riil item tertentu
sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada periode sekarang. Karena sifatnya
demikian, penggunaan anggaran tradisional tidak memungkinkan untuk dilakukan
penilaian inerja secara akurat, karena satu-satunya tolak ukur yang dpat digunakan
semata-mata pada ketaantan dalam menggunakan dana yang diusulkan.

Kelemahan Anggaran Tradisional


Dilihat dari berbagai sudut pandang, metode penganggaran tradisional memiliki
beberapa kelemahan, antara lain:
1. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana
pembangunan jangka panjang.
2. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak diteliti
secara menyeluruh efektivitasnya.
3. Lebih berorientasi pada input dari pada output. Hal tersebut untuk membuat
kebijakan dan pilihan sumber daya, atau memonitor kinerja. Kinerja dievaluasi
dalam bentuk apakah dana telah habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.
4. Sekat-sekat antar departemen yang kaku mmbuat tujuan nasional secara keseluruhan
sulit dicapai. Keadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, overlapping,
kesenjangan, dan persaingan antar departemen.
5. Proses anggaran teripisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/invesasi.
6. Anggaran tradisionl besifat tahunan. Anggaran tahunan tersebut sebenarnya terlalu
pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut dapat mendorong praktik-
praktik yang tidak diinginkan (korupsi dan kolusi)
7. Sentralisasi penyiapan anggaran ditambah dengan informasi yang tidak memadai
menyebabkan lemahnya perencaaan anggaran. Sebagai akibatnya adalah munculnya
bugget padding atau budgetary slack.
8. Persetujuan naggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme
pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi
anggaran dan “manipulasi anggaran”.
9. Aliran informasi (sistem informasi finansial)yang tidak memadai yang menjadi
dasar mekanisme pengendalian rutin mengidentifikasi masalah dan tindakan.

B. Pendekatan NPM
Era New Public Management
Sejak pertengahan tahun 1980-an telah terjadi perubahan manajemen sektor publik
yang drastis dari sistem manajemen tradisional yang terkesan kaku, birokratis, dan
hierarkis menjadi model manajemen sektor publik yang fleksibel dan lebih
mengakomodasi pasar. Perubahan tersebut bukan sekedar perubahan kecil dan
sederhana. Perubahantersebut tlah mengubah peran pemerintah terutama dalam hal
hubungan antara pemerintah dengan masyarakat. paradigma baru yang muncul dalam
manajemen sektor publik tersebut adalah New Public Management.
Model New Public Management mulai dikenal tahun 1980-an dan kembali populer
tahun 1990-an yang mengalami beberapa bentuk inkarnasi, misalnya munculnya konsep
“managerialism” (polit,1993); “Market based public administration” (lan, Zhiyong,
and Rosenbloom, 1992). New Public Management berfokus paa manajemen sektor
publik yang berorientasi pada kinerja, bukan berorientasi kebijakan. Penggunaan
paradigma New Public Management tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi bagi
pemerintah di antaranya adalah tuntutan untuk melakukan efisiensi, penangkasan biaya
(cost cutting), dan kompetisi tender.
Salah satu model pemerintah di era New Public Management adalah model
pemerintahan yang diajukan oleh osborne dan Gaebler (1992) yang tertuang dalam
pandangannya yang dikenal dengan konsep “Reinventing Government”. Prespektif baru
pemerintah menurut Osborne dan Gaebler tersebut adalah :
1. Pemerintah katalis : fokus pada pemberian pengarahan bukan produksi
pelayanan publik.
Pemerintah harus meyediakan beragam pelayanan publik, tetapi tidak harus
terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). Sebaiknya
pemerintah memfokuskan diri pada pemberian arahan, sedangkan produksi pelyanan
publik diserahkan padapihak swasta dan atau sektor ketiga (lembaga swadaya
masyarakat dan nonprofit lainnya). Produksi pelayanan publik oleh pemerintah
harus dijadikan sebagai pengecualian, dan bukan keharusan: pemerintah hanya
memproduksi pelayanan publik yang belum dapat dilakukan oleh pihak non-
pemerintah. Pada saat ini, banyak pelayanan publik yang dapat diproduksi oleh
sektor swasta dan sektor ketiga (LSM). Bahkan, pada beberapa negara, penagihan
pajak dan retribusi sudah dikelola oleh pihak non pemerintah.
2. Pemerintah milik masyarakat: memberdayakan masyarakat daripada melayani
Pemerintah sebaiknya memberikan wewenang kepada masyarakat sehingga
mereka mampu menjadi masyarakat yang dapat menolong dirinya sendiri (self-help
community ). Sebagai misal, masalah keselamatan umum dalah juga merupakan
tanggung jawab masyarakat, tidak hanya kepolisian. Karenannya, kepolisian
semestinya tidak hanya memperbanyak polisi untuk menanggapi peristiwa kriminal,
tetapi juga membantu warga untuk memecahkan masalah yang menebabkan
timbulnya tindak kriminal. Contoh lain: untuk dapat lebih mengembangkan usaha
kecil,berikanlah wewenang yang optimal pada asosiasi pengusaha kecil untuk
memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
3. Pemerintah yang kompetitif:menyuntikkan semangat kompetisi dalam pemberian
pelayanan publik
Kompetisi adalah satu-satunya cara untuk menghemat biaya sekaligus
meningkatkan kulitas pelayanan publikyang dapat ditinggalkan kualitasnya tanpa
harus memperbesar iaya. Misalnya pada pelayanan pos negara, akibat kompetisi
yang semakin keras, pelayanan titipan kilat yang disediakan menjadi relatif semakin
cepat dari pada kualitasnya di masa lalu.
4. Pemerintah yang digerakkan oleh misi: mengubah organisasi yang digerakkan
leh peraturan menjadi organisasi yang digerakkan oleh misi
Apa yang dapat dan tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah diatur dalam
mandatnya. Namun tujuan pemerintah bukanlah mandatnya tetapi misinya.
5. Pemerintah yang berorientasi hasil: membiayai hasil bukan masukkan
Pada pemerintah tradisional, besarnya alokasi anggaran pada suatu unit kerja
ditentukan oleh kompleksitas masalah yang dihadapi. Semakin kompleks masalah
yang dihadapi, semakin besar pula dana yang dialokasikan. Kebijakan seperti ini
kelihatannya logis dan adil tapi yang terjadi adalah, unit kerja tidak punya intensif
untuk memperbaiki kinerjanya justru mereka memiliki peluang baru: semakin lama
permasalahan dapat dipecahkan semakin banyak dana yang dapat diperoleh.
Pemerintah wirausaha berusaha mengubah bentuk penghargaan dan insentif itu,
yaitu membiayai hasil dan bukan masukkan. Pemerintah Daerah wirausaha akan
mengembangkan suatu standar kinerja yang mengukur seberapa baik suatu unit
kerja mampu memecahkan permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya.
Semakin baik kinerjanya, semakin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk
mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut.
6. Pemerintah berorientasipada pelanggan : memenuhi pelanggan kebutuhan
pelanggan, bukan birokrasi
Pemerintah tradisional seringkali salah dalam mengidentifikasikan
pelanggannya. Penerimaan pajak memang dari masyarakat dan dunia usaha, tetapi
pemanfaatannya harus disetujui oleh DPR/DPRD. Akibatnya, pemerintah seringkali
mengganggap bahwa DPR/DPRD dan semua pejabat yang ikut dalam pembahasan
anggaran adalah pelanggannya. Bila DPR/DPRD dan para pejabat eksekutif tidak
menyebabkan masalah. Tetapi bila mereka menomersatukan kepentingan
kelompoknya, maka pelanggan yang sebenarnya, yaitu masyarakat, akan cenderung
dilupakan. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah tradisional akan memenuhi semua
kebutuhan dan keinginan birokrasi, sedangkan kepada masyarakat mereka sering
kali menjadi arogan.
7. Pemerintah wirausaha: mampu menciptakan pendapatan dan tidak sekedar
membelanjakan
Pemerintah tradisional cenderung tidak berbicara tentang upaya untuk
menghasilkan pendpatan dari aktivitasnya. Padahal, banyak yang bisa dilakukan
untuk menghasilkan pendapatan dari porses penyediaan pelayanan publik.
Pemerintah Daerah wirausaha dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan,
misalnya: BPS dan Bappeda, yang dapat menjual informasi tentang aerahnya kepada
pusat-pusat penelitian; BUMN/BUMD; pemberian hak guna usaha yang menarik
kepaa para pengusaha dan masyrakat; penyertaan modal; dan lain-lain.
8. Pemerintah antisipatif: berupaya mencegah daripada mengobati
Pemerintah tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi
pelayanan publik untuk mencegah masalah publik. Pemerintah birokratis cenderung
bersifat reaktif: seperti suatu satuan pemadam kebakaran, apabila tidak ada
kebakaran maka tidak akan ada upaya pencegahan. Pemerintah wirausaha tidak
reaktif tetapi proaktif. Ia tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah, tetapi
berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. Ia menggunakan perencanaan
strategis untuk menciptakan visi.
9. Pemerintah desentralisasi: dari hierarkhi menuju partisipasif dan tim kerja
Lima puluh tahun yang lalu, pemerintah yang sentralistis dan hierarkhis sangat
diperlukan. Pengambilan keputusan harus berasal dari pusat, mengikuti rantai
komandonya hingga sampai pada staf yang paling berhubungan dengan masyarakat
dan bisnis. Pada saat itu, sistem tersebut sangat cocok karena teknologi informasi
masih sangat primitif, komunikasi antara berbagai lokasi masih lamban, dan
aparatur pemerintah masih relatif belum terdidik (masih dilaksanakan). Tetapi pada
saat sekarang, keadaan sudah berubah, perkembangan teknologi sudah sangat maju,
kebutuhan/keinginan masyarakat dan bisnis sudah semakin kompleks, dan staf
pemerintah sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Sekarang ini, pengambilan
keputusan harus digeser ke tangan masyarakat, asosiasi-asosiasi, planggan, dan
lembga swadaya masyarakat.
10. Pemerintah berorientasi pada (mekanisme) pasar: mengadakan perubahan
administratif (sistem prosedur dan pemaksaan)
Ada dua cara alokasi sumber daya, yaitu mekanisme pasar dan mekanisme
administratif. Dari keduanya, mekanisme pasar terbukti sebagai yang terbaik dalam
mengalokasi sumber daya. Pemerintah tradisional menggunakan mekanisme pasar.
Dalam mekanisme administratif, pemerintah tradisional menggunakan perintah dan
pengendalian, mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian
memerintahkan orang untuk melaksanakannya (sesuai dengan prosedur tersebut).
Dalam mekanisme pasar, pemerintah wirausaha tidak memerintahkan dan
mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang
tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat.
Munculnya konsep New Public Management berpengaruh langsung terhadap
konsep anggaran publk. Salah satu pengaruhnya adalah terjadiny perubahan sistem
anggaran dari model anggaran tradisional menjadi anggaran yang lebih berorientasi
pada kinerja.

Perubahan Pendekatan Anggaran


Reformasi sektor publik yang salah satunya ditandai dengan munculnya era New
Public Management telah mendorong usaha untuk mengembangkan pendekatan yang
lebih sistematis dalam perencanaan anggaran sektor publik.seiring dengan
perkembangan tersebut, munculnya beberapa teknik penganggaran sektor punlik,
misalnya adalah teknik anggaran kinerja (performance budgeting), Zero Based
Budgeting (ZBB), dan planning, Programming, and Budgeting System (PPBS).
Pendekatan baru dalam sistem anggaran publik tersebut cenderung memiliki
karakteristik umum sebagai berikut :
1. komprehensif/komparatif
2. Terintegrasi dan lintas departemen
3. Proses pengambilan keputusan yang rasional
4. Berjangka panjang
5. Spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas
6. Analisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost)
7. Berorientasi input, output, dan outcome, bukan sekedar input
8. Adanya pengawasan kinerja
6. ANGGARAN KINERJA
Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat
dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang terdapat dalam anggaran
tradisional, khususnya kelemahan yang disebabkan oleh tidak adanya tolok ukur yang
dapat digunakan untuk mengukur kinerja sangat menekankan pada konsep value for
money dan pengawasan atas kinerja output. Pendekatan ini juga mengutamakan
mekanisme penentuan dan pembuatan peioritas tujuan serta pendekatan yang sistematis
dan rasional dalam proses pengambilan keputusan
Anggaran kinerja didasarkan pada tujuan dan sasaran kinerja.oleh karena itu,
anggaran digunakan untuk mencapai tujuan. Penilaian kinerja didasarkan atas
pelaksanaan value for money dan efektivitas anggaran. Sistem anggaran kinerja pada
dasarnya merupakan sistem yang mencangkup kegiatan penyususnan program dan tolok
ukur kinerja sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dan sasaran program. Penerapan
sistem anggaran kinerja dimulai dengan perumusan program dan penyususnan struktur
organisasi pemerintah yang sesuai dengan program tersebut. Kegiatan tersebut
mencangkup pula penentuan unit kerja yang bertanggungjawab atas pelaksanaan
program, serta penerapan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam
mencapai tujuan program yang telah ditetapkan.

Penerapan Anggaran Kinerja Di Indonesia


Pemerintah Daerah di Indonesia menerapkan pendekatan tradisional pada anggaran
yang meneparkan penekanan utama pada apa saja yang akan diterima dan dibelanjakan,
bukan pada tujuan dari penegluaran yang bersangkutan. Fungsi anggaran bukanlah
bagian yang integral dari proses perencanaan, tapi lebih merupakan proses terpisah yang
diikuti oleh setiap bagian dalam usaha dalam mencapai alokasi anggaran terbesarv yang
masih dimungkinkan.

Alokasi Anggaran Belanja


Alokasi anggaran untuk kegiatan-kegiatan rutin dan pembangunan ditentukan oleh
pendekatan yang sederhana. Pertama, memperkirakan pendapatan yang diterima dari
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dari pemerintahan pusat. Kedua, mengalokasikan
dana yang dibutuhkan untuk mencungkupi kegiatan-kegiatan yang tercangkup dalam
anggaran rutin. Ketiga, menghitung selisih antara anggaran rutin dari pendapatan serta
mengalokasikannya pada anggaran pembangunan.
Alokasi-alokasi ini biasanya diperhitungkan secara incremental dan ada
kecenderungan untuk mempertahankan pola alokasi yang spesifik untuk anggaran rutin
dan pembangunan. Pada anggaran yang lama tidak mengenal kebutuhan yang sekarang
ada dari suatu komunitas dan kinerja dari suatu dinas.
Anggaran Kinerja
PP105/2000 telah mewajibkan Pemerintah Daerah untuk menyususn APBD nya
dalam bentuk anggaran kinerja. Sistem anggaran kinerja memerlukan adanya indikator
kinerja, standar kinerja, standar biaya dan benchmark dari setiap jenis pelayanan.
Anggaran harus di dasarkan atas sasaran yang hendak dicapai pada tahun anggaran
tersebut, adanya standar pelayanan dan adanya ukuran biaya satuan.
Anggaran pengeluaran pada sistem anggaran kinerja terbagai atas anggaran
operasional dan anggaran belanja modal. Anggaran operasional merupakan anggaran
belanja minimal dibutuhkan oleh setiap unit kerja untuk bisa menjalankan tugas pokok
dan fungsinya untuk menjalankan pelayanan pada masyarakat.sedangkan anggaran
belanja modal adalah anggaran belanja yang tidak dilakukan berulang-ulang setiap
tahun dan akan menambah atau akan menjadi asset daerah dengan batasan nilai rupiah
tertentu.jadi dengan anggaran kinerja, jumlah anggaran yang disediakan untuk suatu
unit kerja akan setara dengan jumlah pelayanan yang bisa dilakukan unit tersebut
kepada masyarakat(output).
Persyaratan Perencanaan
Berdasarkan PP 108/2000 Pemerintah Derah diwajibkan untuk membuat dokumen
perencanaan daerah yang berupa Program Pembangunan Daerah (Propeda) dan Rencana
Strategi Daerah (Renstrada). Kedua dokumen tersebut untuk lima tahun kemudian yang
dijabarkan pelaksanaannya dalam kerangka tahunan. Rincian Renstrada untuk untuk
setiap tahunnya akan digunakan sebagai masukan dalam penyusunan Reperada dan
APBD. Peraturan Pemerintahan No. 105/2000 menetapkan bahwa Pemerintah Daerah
harus bekerja sama dengan dewan legislative untuk menentukan arah dan kebijakan dari
APBD. Penentuan ini didasarkan atas Renstrada, yang mencangkup juga analisa fiscal
dan analisa Strenght Weakness Opportunity Threat (SWOT). Repetada memuat program
pembangunan daerah secara menyeluruh dalam satu tahun. Repetada juga memuat
indicator kinerja yang terukur untuk jangka waktu satu tahun. Pendekatan ini
diharapkan akan lebih memperjelas program kerja tahunan Pemda, termasuk sasaran
yang ingin dicapai dan kebijakan akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
Status Sekarang
Berdasarkan dokumen-dokumen perencanaan diatas, Pemerintah Daerah dituntut
untuk mempersiapkan pertanyaan visi,misi,dan tujuannya. Kemudian, masing-masing
dinas perlu mendefinisikan tugas pokok dan fungsi, tujuan program, sasaran dan
kegiatan. Kemudian setiap program akan menentukan indicator-indikator kinerjanya.
Terdapat empat langkah utama, yang perlu diambil untuk melakukan konversi anggaran
kinerja.
1. Langkah 1
Konversi anggaran rutin anggaran operasional, dengan menentukan kegiatan-
kegiatan apa saja yang harus dilakukan oleh setiap unit kerja,. Artinya, semua belanja
yang tadinya ada dalam belanja rutin akan masuk seluruhnya ke dalam anggaran
operasional dalam bentuk kegiatan-kegiatan operasional setiap unit.
2. Langkah 2
Konversi masing-masing proyek yang terdapat pada anggaran pembangunan
menjadi kegiatan-kegiatan yang bisa diukur. Artinya, masing-masing proyek harus
dirubah menjadi kegiatan yang bisa diukur dan mempunyai indicator kinerja input,
output, dan outcome.
3. Langkah 3
Pisahkan proyek-proyek yang terdapat pada belanja pembangunan ke dalam
belanja operasional dan belanja modal. Proyek-proyek yang bersifat recurring
dimasukkan ke dalam kegiatan pada belanja operasional. Sedangkan proyek yang
bersifat nonreccuring masuk pada kegiatan proyek pada belanja modal. Yang bisa
digolongkan pada belanja modal hanya kegiatan yang berbentuk konstruksi,
merupakan bentuk investasi atau asset yang nilai rupiahnya sudah mencapai angka
tertentu.
4. Langkah 4
Langkah berikutnya adalah mempersiapkan anggaran dalam bentuk anggaran
kinerja.
7. ZERO BASED BUDGETING (ZBB)
Konsep Zero Based Budgeting dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang ada
pada system anggaran tradisional. Penyususnan anggaran dengan menggunakan konsep
Zero Based Budgeting dapat menghilangkan incrementalism dan line-item karena
anggaran diasumsikan mulai dari nol (zero-based). Penyusunan anggaran yang bersifat
incremental mendasarkan besarnya realisasi anggaran tahun ini untuk menetapkan
anggaran tahun depan, yaitu dengan menyesuaikannya dengan tingkat inflasi atau
jumlah penduduk. ZBB tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu untuk menyusun
tahun ini. Dengan ZBB seolah-olah proses anggaran dimulai dari hal yang baru sama
sekali. item anggaran yang sudah tidak relevan dan tidak mendukung pencapaian tujuan
organisasi dapat hilang dari struktur organisasi anggaran, atau mungkin juga muncul
item baru.
Proses implementasi ZBB
Proses implementasi ZBB terdiri dari tiga tahap, yaitu
1. Identifikasi unit-unit keputusan
Struktur organisasi pada dasarnya terdiri dari pusat-pusat pertanggungjawaban
(responsibility center). Setiap pusat pertanggungjawaban merupakan unit pembuat
keputusan yang salah satu fungsinya adalah untuk menyiapkan anggaran. Zero Based
Budgeting merupakan sistem anggaran yang berbasis pusat pertanggungjawaban
sebagai dasar perencanaan dan pengendalian anggaran. Setelah dilakukan identifikasi
unit-unit keputusan secara tepat, tahap berikutnya adalah menyiapkan dokumen yang
berisi tujuan unit keputusan dan tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai
tujuan tersebut. Dokumen tersebut disebut paket-paket keputusan (decision
packages).

2. Penentuan paket-paket keputusan


Paket keputusan merupakan gambaran komprehensif mengenai bagian dari
aktivitas organisasi atau fungsi yang dapat dievaluasi secara individu. Paket
keputusan dibuat oleh manajer pusat pertanggungjawaban dan harus menunjukkan
secara detail estimasi biaya dan pendapatan yang dinyatakan dalam bentuk
pencapaian tugas dan perolehan manfaat. Terdapat dua jenis paket keputusan.
a. Paket keputusan mutually-exclusive
Paket-paket keputusan yang memiliki atau program, maka konsekuensinya
adalah menolak semua alternative yang lain.
b. Paket keputusan incremental
Menfleksikan tingkat usaha yang berbeda (dikaitkan dengan biaya) dalam
melaksanakan aktivitas tertentu.
3. Merangking dan mengevaluasi paket keputusan
Jika paket keputusan telah disiapkan, tahap berikutnya adalah merangking
semua paket berdasarkan manfaatnya terhadap organisasi. Tahap ini merupakan
jembatan untuk menunju proses alokasi sumber daya di antara berbagai kegiatan
yang beberapa diantaranya sudah ada dan lainnya baru sama sekali.

Keunggulan ZZB
1. Jika ZZB dilaksanakan dengan baik maka dapat menghasilkan alokasi sumber
daya secara efisien.
2. ZZB berfokus pada value for money.
3. Memudahkan untuk mengidentifikasi terjadinya inefisiensi dan inefektivitas
biaya.
4. Meningkatkan pengetahuan dan motivasi staf dan manajer.
5. Meningkatkan partisipasi manajemen level bawah dalam proses penyusunan
anggaran.
6. Merupakan cara yang sistematik untuk menggeser status quo dan mendorong
organisasi untuk selalu menguji alternatif aktivitas dan pola perilaku biaya serta
tingkat pengeluaran.

Kelemahan ZZB
1. Prosesnya memakan waktu lama (time consuming), terlalu teoritis dan tidak
praktis, membutuhkan biaya yang besar, serta menghasilkan kertas kerja yang
menumpuk karena pembuatan paket keputusan.
2. ZZB cenderung menekankan manfaat jangka pendek.
3. Implementasi ZZB membutuhkan teknologi yang maju.
4. Masalah besar yang dihadapi ZZB adalah prose merangking dan mereview paket
keputusan.
5. Untuk melakukan perangkaian paket keputusan dibutuhkan staf yang memiliki
keahlian yang mungkin tidak dimiliki organisasi.
6. Memungkinkan munculnya kesan yang keliru bahwa semua paket keputusan
harus masuk dalam anggaran.
7. Implementasi ZZB menimbulkan masalah keperilakuan dalam organisasi.

8. PLANNING, PROGRAMMING, AND BUDGETING SYSTEM (PPBS)

PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori sistem yang
berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumber
daya berdasarkan analisis ekonomi. PPBS adalah salah satu model penganggaran yang
ditujukan untuk membantu manajemen pemerintah dalam membuat keputusan alokasi
sumber daya secara lebih baik.

Proses Implementasi PPBS


Langkah-langkah implementasi PPBS meliputi:
1. Menentukan tujuan umum organisasi dan tujuan unit organisasi dengan jelas.
2. Mengidentifikasi program-program dan kegiatan untuk mencapai tujuan
yangtelah ditetapkan.
3. Mengevaluasi berbagai alternatif program dengan menghitung cost benefit dari
masing-masing program.
4. Pemilihan program yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil.
5. Alokasi sumber daya ke masing-masing program yang disetujui.

PPBS mensyaratkan organisasi menyusun rencana jangka panjang untuk


mewujudkan tujuan organisasi melalui program-program. Kuncinya adalah bahwa
program-program yang disusun harus terkait dengan tujuan organisasi dan tersebar ke
seluruh bagian organisasi. Struktur program merupakan rerangka untuk
mengidentifikasi keterkaitan sumber daya yang dimiliki dengan aktivitas yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Analisis program terkait dengan kegiatan
menganalisis biaya dan manfaat dari masing-masing program sehingga dapat dilakukan
pilihan. Sistem PPBS harus mampu melaporkan hasil (manfaat) program, bukan sekedar
jumlah pengeluaran yang telah dilakukan.

Karakteristik PPBS:
1. Berfokus pada tujuan dan aktivitas (program) untuk mencapai tujuan.
2. Secara eksplisit menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang akan
datang karena PPBS berorientasi pada masa depan.
3. Mempertimbangkan semua biaya yang terjadi.
4. Dilakukan analisis secara sistematik atas berbagai alternatif program, yang
meliputi: (a) identifikasi tujuan, (b) identifikasi secara sistematik alternatif
program untuk mencapai tujuan, (c) estimasi manfaat (hasil) yang ingin
diperoleh dari masing-masing alternatif program.

Kelebihan PPBS:
1. Memudahkan dalam pendelegasian tanggungjawab dari manajemen puncak ke
menajemen menengah.
2. Dalam jangka panjang dapat mengurangi beban kerja.
3. Memperbaiki kualitas layanan melalui pendekatan sadar biaya (cost-
consciousness/cost awarnes) dalam perencanaan program.
4. Lintas departemen sehingga dapat meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan
kerja sama antar departemen.
5. Menghilangkan program yang overlapping atau bertentangan dengan pencapaian
tujuan organisasi.
6. PPBS menggunakan teori marginal utility, sehingga mendorong alokasi sumber
daya secara optimal.

Kelemahan PPBS:
1. PPBS membutuhkan sistem informasi yang canggih, ketersediaan data, adanya
sistem pengukuran, dan staf yang memiliki kapabilitas tinggi.
2. Implementasi PPBS membutuhkan biaya yang besar karena PPBS
membutuhkan teknologi yang canggih.
3. PPBS bagus secara teori, namun sulit untuk diimplementasikan.
4. PPBS mengabaikan realitas politik dan realitas organisasi sebagai kumpulan
manusia yang kompleks.
5. PPBS merupakan teknik anggaran yang statistically oriented. Penggunaan
statistik terkadang kurang tajam untuk mengukur efektivitas program. Statistik
hanya tepat untuk mengukur beberapa program tertentu saja.
6. Pengaplikasian PPBS menghadapi masalah teknis. Hal ini terkait dengan sifat
program atau kegiatan yang lintas departemen sehingga menyulirkan dalam
melakukan alokasi biaya.

Masalah Utama Penggunaan ZBB dan PPBS


1. Bounded rationally, keterbatasan dalam menganalisis semua alternatif untuk
melakukan aktivitas.
2. Kurangnya data untuk membandingkan semua alternatif, terutama untuk
mengukur output.
3. Masalah ketidakpastian sumber daya, pola kebutuhan di masa depan, perubahan
politik, dan ekonomi.
4. Pelaksanaan teknik tersebut menimbulkan beban pekerjaan yang sangat berat.
5. Kesulitan dalam menentukan tujuan dan perangkingan program terutama ketika
terdapat pertentangan kepentingan (conflict of interest).
6. Seringkali tidak memungkinkan untuk melakukan perubahan program secara
cepat dan tepat.
7. Terdapat hambatan birokrasi dan perlawanan politik yang besar untuk berubah
(resistence to change).
8. Pelaksanaan teknik tersebut sering tidak sesuai dengan proses pengambilan
keputusan politik. Politik berusaha membuat pelaksanaan lebih “technocratic”
yang hal tersebut biasa mempengaruhi proses anggaran.
9. Pada akhirnya, pemerintah beroperasi dalam dunia yang tidak rasional.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ulum, Ihyaul dan Hafiez Sofyani. 2016. Akuntansi Sektor Publik. Aditya
Media. Yogyakarta.
2. Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Andi Offset. Yogyakarta.
3. Halim, Abdul dan Muhammad Syam Kusufi. 2013. Akuntansi Sektor Publik.
Salemba Empat. Jakarta.
4. Nordiawan, Deddi. Akuntansi Sektor Publik. Salemba Empat. Jakarta.