Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan


tindakan yang sering dilakukan di rumah sakit. Namun, hal ini tinggi resiko
terjadinya infeksi yang akan menambah tingginya biaya perawatan dan waktu
perawatan. Tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila dalam
pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan, sehingga
kejadian infeksi atau berbagai permasalahan akibat pemasangan infus dapat
dikurangi, bahkan tidak terjadi (Priharjo, 2008).

Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian


sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh
vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh.(Yuda, 2010)

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi cairan infus ?
2. Apa saja jenis-jenis cairan infus ?
3. Apakah pengertian pemasangan infus ?
4. Apa saja tujuan pemasangan infus ?
5. Apa saja kriteria pemasangan infus ?
6. Apa saja indikasi dan kontraindikasi untuk pemasangan infus ?
7. Dimana saja dapat dilakukan pemasangan infus ?
8. Apa saja persiapan pemasangan infus ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi cairan infus.

1
2. Untuk mengetahui jenis-jenis cairan infus.
3. Untuk mengetahui pengertian pemasangan infus.
4. Untuk mengetahui tujuan pemasangan infus.
5. Untuk mengetahui kriteria pemasangan infus.
6. Untuk mengetahui .indikasi dan kontraindikasi pemasangan infus.
7. Untuk mengetahui dimana saja dilakukan pemasangan infus.
8. Untuk mengetahui persiapan pemasangan infus.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Cairan Infus


Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah
plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh
karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus
intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh
pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat- zat
seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.
B. Jenis-Jenis Cairan Infus
a. Cairan Hipotonik
Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ino Na+
lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan
menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam
pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai
akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel ”
mengalami” dehidrasi. Contoh cairan hipotonik adalah NaCl 45 % dan
Dekstrosa 2,5 %.
b. Cairan isotonik
Osmolaritas cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen
darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat
pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh,
sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya
overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung
kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL),
dan Normal saline/ larutan garam fisiologis (NaCl 0,9 %).

3
c. Cairan hipertonik
Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik”
cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urine dan
mengurangi edema. Misalnya Dextrose 5 %, Dextrose 5 % + RL,
Dextrose 5 % + NaCl 0,9 %.
C. Pengertian Pemasangan Infus.
Pemasangan infus adalah memasukkan cairan ke dalam tubuh melalui vena
dalam jumlah besar secara menetes.
D. Tujuan Pemasangan Infus.
1. Sebagai terapi, misalnya shock.
2. Menambah makanan, menambah cairan, misalnya pada dehidrasi,
melarutkan racun di dalam tubuh.
3. Sebagai media untuk pemberian obat-obatan injeksi via intravena
E. Kriteria Pemasangan Infus
1. Kelengkapan alat-alat dan infus set sesuai dengan umur dan kondisi klien
2. Memeriksa ulang jenis cairan infus yang akan diberikan
3. Mengatur posisi
4. Mendesinfeksi kulit pada lokasi/tempat pemasangan infus
5. Membebaskan slang infus dari udara
6. Memeriksa ketepatan masuknya jarum dalam vena dan difiksasi
7. Mengatur tetesan cairan sesuai dengan program pengobatan
8. Observasi tanda-tanda vital dan respon klien
9. Mencatat asupan cairan infus yang diberikan
F. Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan Infus
a. Indikasi
1. Keadaan emergency (misal pada tindakan RJP), yang memungkinkan
pemberian obat langsung ke dalam intra vena

4
2. Untuk memberikan respon yang cepat terhadap pemberian obat
(seperti furosemid, digoxin).
3. Pasien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-
menerus melalui intra vena.
4. Pasien yang membutuhkan pencegahan gangguan cairan dan elektrolit.
5. Pasien yang mendapatkan transfusi darah.
6. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya
pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus
intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan
pemberian obat).
7. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko
dehidrasi dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah
kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.
8. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi
kebutuhan dengan injeksi intramuskuler.
b. Kontraindikasi
1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan
infus.
2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan
digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada
tindakan hemodialisis (cuci darah).
3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang
aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
G. Lokasi Pemasangan Infus
Pemberian cairan melalui infus dengan memasukkan ke dalam vena
diantaranya vena lengan (vena safalika basilica dan mediana kubiti), pada
tungkai (vena safena), atau pada vena yang ada di kepala, seperti vena
temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak). Pemasangan infus tidak
dianjurkan pada daerah yang mengalami luka bakar, lengan pada sisi yang

5
mengalami mastektomi (aliran baik vena terganggu), lengan yang mengalami
edema, infeksi, bekuan darah atau kerusakan kulit.
Pemilihan lokasi vena untuk pemasangan :
1. Gunakan vena distal terlebih dahulu.
2. Gunakan lengan pasien yang tidak dominan jika mungkin.
3. Pilih vena di atas area fleksi.
4. Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang
adekuat ke dalam kateter.
5. Palpasi vena untuk menentukan kondisinya. Selalu pilih vena yang lunak,
penuh.
6. Pastikan lokasi yang dipilih tidak menganggu aktivitas pasien.
7. Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur yang
direncanakan.

Hindari keadaan vena pada keadaan berikut :

1. Vena yang telah digunakan sebelumnya.


2. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau flebitis.
3. Vena yang keras dan sklerotik.
4. Vena kaki, karena sirkulasi lambat dan komplikasi sering terjadi.
5. Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke.
6. Vena yang dekat area terinfeksi
7. Vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium

Prinsip-prinsip dalam pemasangan infus

a. Prinsip pemasangan infus pada pediatric (anak)


1. Karena vena klien sangat rapuh, hindari tempat-tempat yang mudah
digerakkan atau digeser dan gunakan alat pelindung sesuai kebutuhan
(pasang spalk kalau perlu).

6
2. Vena-vena kulit kepala sangat mudah peah dan memerlukan perlindungan
agar tidak mudah mengalami infiltrasi (biasanya digunakan untuk
neonatus dan bayi).
3. Setelah memilih tempat penusukan yang akan menimbulkan pebatasan
yang minimal

b. Prinsip pemasangan infus paada lansia


1. Pada klien lansia, sedapat mungkin gunakan kateter/jarum dengan ukuran
paling kecil (24-26). Ukuran kecil mengurangi trauma pada vena dan
memungkinkan aliran darah lebih lancar sehingga hemodulusi cairan
intravena atau obat-obatan akan meningkat.
2. Kestabilan vena menjadi hilang dan vena akan bergeser dari jarum
(jaringan subkutan lansia hilang). Untuk menstabilkan vena, pasang traksi
pada kulit di bawah tempat insersi.
3. Penggunaan sudut 5-15 derajat saat masukkan jarum akan sangat beranfaat
karena vena lansia lebih superficial.
4. Pada lansia yang memiliki kulit yang rapuh, cegah terjadinya perobekan
kulit dengan meminimalkan jumlah pemakaian plester.
H. Persiapan Pemasangan Infus
a. Lingkungan
- Keluarga/pengunjung diminta keluar dari kamar.
- Bila perlu pasang skerem.
b. Klien
- Menjelaskan maksud dan tujuan terhadap prosedur yang akan
dilakukan.
- Atur posisi sesuai area yang akan dipasang infus.
- Apabila akan dilakukan dilengan, pakaian atas dibuka dan apabila di
kaki pakaian bawah dibuka.

7
c. Alat-alat
1. Baki yang telah dialasi.
2. Perlak dan pengalasnya.
3. Papan tangan k/p
4. Bengkok.
5. Tiang infus.
6. Sarung tanganbersih dan steril 1 pasang.
7. Tourniquet.
8. Kapas alkohol.
9. Cairan infus (sesuai kebutuhan)
10. Infus set makrodip untuk dewasa dan mikrodrip untuk anak-anak.
11. Abbocath (IV cath)
- Umur 0-1 bulan : F 24
- Umur < 1 bulan- 5 tahun. : F 22
- Umur % tahun – 14 tahun : F 20
- Umur > 15 tahun : F 18-16
12. Plester.
13. Kassa steril.
14. Gunting plester.
15. Jam tangan.
16. Lembar catatan

Pelaksanaan

a. Fase orientasi
- Salam terapeutik
- Evaluasi/validasi
- Kontrak

8
b. Fase kerja
1. Memberi tahu tindakan yang akan dilakukan kepada klien
2. Menyiapkan alat alat dan mendekatkan kepada klien
3. Memasang sampiran
4. Mencuci tangan
5. Memasang perlak dan pengalasnya dibawah daerah yang akan
dipasang
6. Memotong plester sesuai kebutuhan
7. Menggantungkan flabot pada tiang infus
8. Membuka kemasan infus set
9. Mengatur klem rol sekitar 2-4 cm dibawah bilik drip dan
menutup klem yang ada pada sluran infus
10. Menusukkan pipa saluran infus kedalam botol cairan dan
mengisi tabung tetesan dengan cara memencet tabung tetesan
infus hingga setengahnya
11. Membuka klem dan mengalirkan cairan keluar sehingga tidak
ada udara pada selang infus lalu tutup kembali klem.
12. Membuka kemasan aboket dan meletakkan aboket kedalam
bak steril
13. Memilih vena yang akan dipasang infus, bila banyak banyak
rambut guntinglah.
14. Meletakkan torniket 10 -12 cm diatas tempat yang akan
ditusuk, menganjurkan pasien menggenggam tangannya.
15. Melakukan desinfeksi daerah penusukkan dengan kapas
alkohol secara serkuler dengan diameter +5 cm
16. Menusukkan jarum aboket ke vena dengan lubang jarum
menghadap keatas, dengan menggunakan tangan yang
dominan
17. Melihat apakah darah terlihat pada pipa aboket

9
18. Masukkan aboket secara perlahan lahan serta menarik secara
perlahan lahan yang ada pada aboket, hinggan plastik aboket
masuk semua dalam vena dan jarum keluar semua.
19. Tahan kateter dengan stu tangan, minta pasien untuk
melepaskan genggamannya. Lepaskan torniket dan dengan
cepat hubungkan adapter dengan perangkat pemberian, jangan
menyentuh adapter
20. Lepaskan klem roll untuk mulai infus pada kecepatan untuk
mempertahankan patensi aliran IV
21. Amankan selang IV atau selang kateter:
a) Pasang plester kecil dibawah kateter dengan sisi lengket
menghadap keatas silangkan plester
b) Oleskan poviden iodine ditempat penusukkan dan tutup
dengan kasa steril
c) Pasangkan plester kedua menyilang pada hubungan
kateter
d) Amankan alat dan rapikan klien
e) Letakkan loop selang infus pada balutan selang plester
22. Atur kecepatan aliran infus
23. Tuliskakan tanggal waktu pemasangan
24. Bereskan alat dan rapikan pasien
25. Melepas sarung tangan
26. Mencuci tangan
c. Fase terminasi
1.Evaluasikan terhadap tindakkan yang telah dilakukan
2.Rencana tindak lanjut
3.Kontrak yang akan datang
Dokumentasikan
1.Tanggal dan waktu selang infus, tuliskan semua selang tambahan

10
2.Tanggal waktu dan isi caira infus
3.Kecepatan aliran infus, termasuk perubahan kecepatan berikutnya
4.Peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur aliran
5.Pengkajian tempat penusukkan infus secara teratur
6.Komplikasi dan tindakkan yang dilakukan untuk memperbaiki
masalah
7.Waktu saat terapi infus dihentikan dan apakah kateter utuh saat
dilepas
8.Observasi kondisi kateter 2x tiap shift (untuk dewasa) dan setiap
jam untuk anak anak.

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah
plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain.
Cairan infus intravena biasanya mengandung zat- zat seperti asam amino,
dekstrosa, elektrolit dan vitamin.
2. Cairan infus memiliki jenis jenis berbeda seperti cairan hipotonik, isotonik
dan hipertonik.
3. Pemasangan infus memiliki indikasi dan kontraindikasi untu menghindari
terjadinya komplikasi.
4. Pada umumnya pemasangan infus bertujuan untuk memperbaiki atau
mengoptimalkan cairan maupun nutrisi.
5. Pemasangan infus tidak dianjurkan di tempat yang sudah di tusuk karena
akan menyebabkan komplikasi seperti pecahnya pembuluh darah.

12