Anda di halaman 1dari 12

A.

PENGERTIAN
ADHD (Attention Hyperactivity Disorder adalah suatu kondisi
medis yang ditandai oleh ketidakmampuan memusatkan perhatian,
hiperaktivitas dan impulsivitas, yang terjadi pada lebih dari satu situasi
dengan frekuensi lebih sering dan intensitas lebih berat dibandingkan
dengan anak-anak seusianya (Kementrian Kesehatan RI, 2011).
ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity
Disorder, suatu kondisi yang pernah dikenal sebagai Attention Deficit
Disorder (sulit memusatkan perhatian), Minimal Brain Disorder
(ketidakberesan kecil di otak), Minimal Brain Damage (kerusakan kecil
pada otak), Hyperkinesis (terlalu banyak bergerak / aktif), dan Hyperactive
(hiperaktif). Ada kira-kira 3-5 % anak usia sekolah menderita ADHD
(Permadi, 2009).
ADHD adalah gangguan neurobiologis yang ciri-cirinya sudah
tampak pada anak sejak kecil. Anak ADHD mulai menunjukkan banyak
masalah ketika SD karena dituntut untuk memperhatikan pelajaran dengan
tenang, belajar berbagai ketrampilan akademik, dan bergaul dengan teman
sebaya sesuai aturan (Ginanjar, 2009).

B. ETIOLOGI
Menurut Ridwan, 2013 menyatakan bahwa banyak penelitian yang masih
belum dapat menjelaskan secara tepat penyebab dari terjadinya ADHD
secara pasti. Namun ada 3 hal yang pasti yang dapat dikategorikan sebagai
penyebab dari timbulnya masalah gangguan psikologi ADHD yaitu
diturunkan (hereditary) dengan gangguan dari perbedaan irama otak.
Berikut penjabaran terkait dengan penyebab dari gangguan ADHD pada
anak :
1. Kondisi Diturunkan (hereditary)
Pada umumnya orang tua yang mengalami gangguan psikologi ADHD
cenderung akan menurunkan sifat genetiknya kepada anaknya, dimana
anak dengan orang tua ADHD akan lebih berisiko mengalami
gangguan ADHD.
2. Kesulitan menemukan irama yang tepat pada otak
Pada penyebab kesulitan menemukan irama pada otak dengan tepat
dapat dibagi atau disebabkan oleh 3 faktor yaitu :
a. Neuropsikologi
Impulsifitas yang dialami sebagai tanda dan geja anak dengan
gangguan ADHD menunjukkan adanya disfungsi paada otak area
lobus frontal. Anak-anak denagan ADHD ini akan mengalami
kesulitan dalam memberikan atensi atau perhatian suatu kondisi
atau keadaan sehingga impulsivitas akan terjadi dan dilakukan oleh
anak tersebut.
b. Pengukuran aktivitas
Seperti yang dketahui bersama, bahwa anak dengan ADHD dari
segi aktivitasnya dia sangat over aktif. Dimana kondisi yang
seharusnya diam mereka justru sangat aktif dan tidak bisa diam.
Kondisi ini terjadi bukan karena mereka over aktivitas dalam
kesehariannya, tetapi mereka tidak mampu melakukan self
monitoring atau mengendalikan diri mereka untuk bbergerak dan
beraktivitas.
c. Ketidakseimbangan kimia otak
Penyebab ini lebih pada masalah gangguan pada system anatomis
dan kimiawi dari system saraf pusat yaitu otak. Dimana
keseimbangan hormone dan zat kimia lainnya seperti contoh
hormone adrenalin dan dopamine yang tidak seimbang membuat
mereka selalu terstimulus untuk melakukan suatu bentuk aktivitas.
3. Faktor perinatal dan prenatal
Anak lahir dengan riwayat BBLR kemungkinan terjadi pelambatan
pertumbuhan dan kematangan fungsi otak juga sangat besar sehingga
kemungkinan untuk terjadi ADHD sangat besar.
4. Lingkungan
Keracunan zat-zat kimia yang berasal dari lingkungan yang
mengkontaminasi anak juga berpotensi besar merusak sel system saraf
pusat sehingga organ saraf mengalami gangguan yang berdampak pada
ketidakseimbangan fungsi secara normal.
5. Dinamika keluarga
Teori ini menujukkan bahwa perilaku yang merusak ini dipelajari anak
sebagai cara untuk mendapatkan perhatian orang dewasa.
Kemungkinan iritabilitas impulsive ditemukan atau tidak terlihat pada
individu ADHD dari saat lahir reaksi orang tua cenderung menguat
dan karenanya memepertahankan atau meningkatkan intensitas
gangguan. Ansietas berasal dari disfungsi system keluarga maslah
perkawinan dan lain sebagainya, dapat juga member kontribusi pada
gejala gangguan ini orang tua frustasi terhadap buruk anak terhadap
keadaan tertentu, orang tua mungkin menjadi terlalu sensitif atau
menjadi putus asa dan tidak member struktur ekternal.
C. PATHWAYS

genetik Gangguan Faktor perinatal Lingkungan Dinamika


irama otak keluarga

Kerusakan Gangguan BBLR dan Keracunan Mencari


system saraf penghantar impul disfungsi system zat-zat kimia perhatian
saraf pusat pencerna keluarga dan
orang

ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder)

Gangguan proses berfikir Impulsive, overaktif/hiperaktivita dan inatensi

Ketidakmampuan atensi terhadap


lingkungan sekitar Ketidakmampuan Tidak bisa diam
keluarga
mengendalikn
Hambatan interaksi soial perilaku Tidak mampu
mendeteksi bahaya

Mengendalikan secara paksa

Resiko cidera

Menghindarkan anak
Penganiayaan
drai lingkungan social

Ketidakefektifan Malu dan penolakan


Harga diri rendah
koping kondisi anak
D. MANIFEKTASI KLINIK
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada anak dengan ADHD antara
lain :
a. Sering kali tangan atau kaki tidak dapat diam atau duduknya
mengeliatgeliat
b. Mengalami kesulitan untuk tetap duduk apabila diperlukan
c. Mudah bingung oleh dorongan-dorongan asing
d. Mempunyai kesulitan untuk menunggu giliran daalam suatu permainan
atau keadaan didalam suatu kelompok
e. Seringkali menjawab dengan kata-kata yang tidak dipikirkan terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai disampaikan
f. Mengalami kesulitan untuk mengikuti instruksi-instruksi dari orang
lain
g. Mengalami kesulitan untuk tetap bertahan memeperhatikan tugas-tugas
atau aktivitas-aktivitas bermain
h. Sering berpindah-pindah dari satu kegiatan yang belum selesai
kegiatan lainnya
i. Mengalami kesulitan untuk bermain dengan tenang
j. Sering berbicara secara berlebihan
k. Sering menyela atau mengganggu orang lain
l. Sering tampaknya tidak mendengarkan terhadap apa yang sedang
dikatakan kepadanya
m. Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas
atau kegiatan-kegiatan yang berbahaya secara fisik tanpa
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan akibatnya (missal
berlari-lari dijalan raya tanpa melihat-lihat).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan tiroid : dapat menunjukkan gangguan hipertiroid atau
hipotiroid yang memperberat masalah.
2. Tes neurologist (misalnya EEG,CT Scan) menentukan adanya
gangguan otak organik.
3. Test psikologis sesuai indikasi : menyingkirkan adanya ansietas,
mengidentifikasi bawaan, retardasi borderline atau anak tidak mampu
belajar dan mengkaji responsifitas sosial dan perkembangan bahasa
4. Pemeriksaan diagnostik individual tergantung pada adanya gejala fisik
(misalnya ruam, penyakit saluran pernafasan atas atau gejala alergi
lain, infeksi SSP )

TINJAUAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN FOKUS
1. Identitas Klien
ADHD terjadi pada anak usia 3 tahun, laki-laki cenderung memiliki
kemungkinan 4x lebih besar dari perempuan untuk menderita ADHD.
2. Keluhan Utama
Keluarga mengatakan anaknya tidak bisa diam, kaki/tangannya bergerak terus.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Orang tua atau pengasuh melihat tanda-tanda awal dari ADHD :
a. Anak tidak bisa duduk tenang
b. Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
c. Perubahan suasana hati yang mendadak atau impulsive
4. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Tanyakan kepada keluarga apakah anak dulu pernah mengalami cidera otak
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan kepada keluarga apakah ada faktor genetik yang diduga sebagai
penyebab dari gangguan hiperaktivitas pada anak
6. Riwayat Psiko, Sosio, dan Spiritual
Anak mengalami hambatan dalam bermaian dengan teman dan membina
hubungan dengan teman sebayanya karena hiperaktivitas dan impulsivitas.
7. Riwayat Tumbuh Kembang :
a. Prenatal : ditanyakan apakah ibu ada masalah asupan alkohol atau obat-obatan
selama kehamilan.
b. Natal : ditanyakan kepada ibu apakah ada penyulit selama persalian lahir
premature, berat badan bayi rendah (BBLR).
c. Postnatal : ditanyakan apakah setelah lahir langsung diberikan imunisasi atau
tidak
8. Riwayat Imunisasi
Tanyakan kepada keluarga apakah anak mendapatkan imunisasi lengkap.
Usia < 7 hari anak mendapat imunisasi hepatitis B
Usia 1 bulan anak mendapat imunisasi BCG dan polio 1
Usia 2 bulan anak mendapat imunisasi DPT / HB 1 dan polio 2
Usia 3 bulan anak mendapat imunisasi DPT / HB 2 dan polio 3
Usia 4 bulan anak mendapat imunisasi DPT / HB 3 dan polio 4
Usia 9 bulan anak mendapat imunisasi campak
9. Pemeriksaan Fisik
Dalam batas normal
10. Activity Daily Living (ADL) :
a. Nutrisi : anak nafsu makannya berkurang (anoreksia)
b. Aktivitas : anak sulit diam dan terus bergerak tanpa tujuan
c. Eliminasi : anak tidak mengalami gangguan dalam eliminasi
d. Istirahat tidur : anak mengalami gangguan tidur
e. Personal Hygine : anak kurang memperhatikan kebersihan dirinya sendiri dan
sulit diatur

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hambatan interaksi hubungan sosial berhubungan dengan perubahan proses
berfikir
2. Resiko cidera berhubungan dengan impulsivitas dan ketidakmampuan
mendeteksi bahaya
3. ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan penganiayaan dan
penelantaran anak
4. Harga diri rendah berhubungan dengan disfungsi sistem keluarga dalam
menghadapi masalah anak.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa keperawatan NOC NIC Rasional
1. Hambatan interaksi Setelah dilakukan 1. Dukung 1. Mendukung
hubungan sosial tindakan harapan yang anak untuk
berhubungan dengan keperawatan realistis berfikir secara
perubahan proses selama 3x24 jam nyata
berfikir diharapkan 2. Tingkatkan 2. Meningkatkan
masalah hubungan saling hubungan saling
hambatan percaya dengan percaya antar
interaksi keluarga anak dengan
hubungan seosial keluarga
dapat teratasi 3. Beritahukan 3. Memberitahu
dengan kriteria rencana kepada anak
hasil : keperawatan dan tindakan tindakan
Dengan indikator medis yang akan medis yang akan
: dilakukan dilakukan
- Ketrampilan 4. Gunakan 4. Selalu
interaksi sosial pendekatan yang menemani anak
- Keterlibatan tenang dan sesuai dalam melakukan
sosial fakta hal apapun
- Tingkat 5. Ajarkan 5. Mengajarkan
hiperaktif keterampilan anak untuk
aktivitas sosial yang tepat bersosialisasi
- Penampilan 6. Pertimbangkan dengan teman
peran perilaku dan yang baik
- Pergerakan konsekuensi yang 6. Mengajarkan
- Kontrol dri diharapkan anak untuk
terhadap mampu melakukan
distorsi mengontrol diri sesuatu sesuai
terhadap dengan
pemikira kemampuan dan
- Dukungan perkembangannya
keluarga
selama
perawatan.
2. Resiko cidera Setelah dilakukan 1. Amati perilaku 1. Anak-anak
berhubungan dengan tindakan anak secara sering memerlukan
impulsivitas dan keperawatan 2. Amati terhadap pengamatan yang
ketidakmampuan selama 3x24 jam perilaku-perilaku seksama untuk
mendeteksi bahaya diharapkan resiko yang mengarah mencegah
cidera dapat pada tindakan tindakan yang
teratasi dengan bunuh diri membahayakan
kriteria hasil : 3. Dapatkan bagi diri sendiri
- Anak kontrak verbal atau orang lain
mengetahui, ataupun tertulis 2. kebanyakan
mengungkapk dari anak yang anak yang
an dan menyatakan mecoba untuk
menerima persetujuan untuk bunuh diri telah
kemungkinan tidak menyampaikan
kosekuensi mencelakakan diri maksudnya, baik
perilaku sendiri secara verbal atau
maladptif diri danmenyetujui nonverbal
sendiri untuk mencari 3. Menyetujui
- Anak mau staf pada keadaan untuk mencari
mendiskusikan dimana pemikiran staf pada keadaan
perasaan kearah tersebut dimana pemikiran
sebenarnya timbul kearah tersebut
- Anak 4. Singkirkan timbul
memprlihatka benda-benda yang 4. Singkirkan
n tingkah laku berbahaya dari benda-benda yang
yang hati-hati lingkungan anak berbahaya dari
- Anak mampu 5. Usahakan agar lingkungan anak
duduk dengan tetap bersama 5. Hadirnya
tenang dan anak jika tingkat seseorang yang
bisa untuk kegelisahan dan dapat dipercaya
menunggu tegangan mulai memberikan rasa
giliran meningkat aman.
3. Ketidakefektifan koping Setelah dilakukan 1. Pastikan bahwa 1. Penting bagi
keluarga berhubungan keperawatan sasaran- anak untuk
dengan penganiayaan selama 3x24 jam sasarannya adalah mencapai sesuatu,
dan penelantaran anak diharapkan realitis. maka rencana
masalah 2. Sampaikan untuk aktivitas-
ketidakefektifan perhatian tanpa ativitas dimana
koping keluarga syarat pada anak. kemungkinan
berhubungan 3. Sediakan waktu untuk sukses
dengan bersama anak, adalah mungkin.
penganiayaan dan keduanya pada 2. Komunikasi
penelantaran satu kesatu basis dari pada
anak dengan dan pada penerimaan
kriteria hasil : aktivitas-aktivitas orangtua
- Anak kelompok terhadapnya
mengetahui 4. Menemani sebagai makhluk
kelebihan anak dalam hidup yang
yang mengidentivikasi berguna dapat
dimilikinya aspek positif meningkatkan
- Anak mampu dalam harga diri.
menundakan mengembangkan 3. Hal ini untuk
pemuasan rencana untuk menyampaikan
terhadap mengubah pada anak bahwa
keinginannya, karakteristik yang anda merasa
tanpa terpaksa dilihatnya sebagai bahwa dia
untuk negatif berharga bagi
manipuslasi 5. bantu anak waktu anda
orang lain mengurangi 4. identivikasi
- Anak mampu penggunaan aspek-aspek
mengekpresik penyangkalan positif anak dapat
an kemarahan sebagai suatu membantu
dengan cara mekanisme sikap mengembangkan
yang dapat denensif. aspek positif
diterima Membrikan sehingga
secara sosial bantuan yang mempunyai
posistif bagi koping individu
identifikasi yang efektif
masalah dan 5. Penguatan
pengmbangan positif membantu
dari perilaku- meningkatkan
perilaku koping harga diri dan
yang lebih meningkatkan
adaptive. penggunaan
6. memberi perilaku-perilaku
dorongan dan yang dapat di
dukungan kepada terima oleh anak
anak dalam 6. Pengakuan dan
menghadapi rasa penguatan positif
takut terhadap meningkatakna
rasa takut harga diri anak
terhadap
kegagalan dengan
mengikuti
aktivitas-aktivitas
terapai dan
melaksanakan
tugas-tugas baru
4. Harga diri rendah Setelah dilakukan 1. Bantu klien 1. meningkatkan
berhubungan dengan tindakan untuk mengatasi harga diri anak
disfungsi sistem keperawatan buliying untuk dalam menjalani
keluarga dalam selama 3x24 jam mengatasi ejekan kehidupannya
menghadapi masalah diharapkan 2. Dukung klien 2. Mengetahui
anak. masalah harga untuk kesalah yang
diri rendah dapat mengevaluasi telah diperbuat
teratasi dengan perilakunya oleh anak untuk
kriteria hasil : 3. Fasilitasi meningkatkan
- Harga diri lingkungan dan harga diri pada
- Keterlibatan aktivitas-aktivitas anak
sosial yang akan 3. melakukan
- Normalisasi meningkatkan aktivitas yang
keluarga harga diri positif yang
- Ketrampilan 4. Instruksikan mampu
interaksi sosial orang tua dan menigkatkan
- Motivasi keluarga untuk harga diri anak.
- Kontrol diri mengetahui 4. mengetahui
terhadap pencapaian anak perkembangan
distorsi 5. Monitor tingkat dari anak
pemikiran harga diri 5. mengetahui
keluarga dari tingkat harga diri
waktu kewaktu. keluarga
kedepannya.