Anda di halaman 1dari 25

A.

Pengertian
Hipertensi dapat didefenisikan sebagai meningkatnua tekanan darah baik secara systole
maupun diastole secara hilang timbul atau menetap (diatas 140 mmHg dan diatas 90 )
B. Klasifikasi
Seventh Report Joint National Committee untuk pencegahan, deteksi dan
penatalaksanaan tekanan darah tinggi merekomendasikan bahwa faktor teriko pesien
perlu dipertimbangkan dalam menentukan tata laksana hipertensi.
Pasien dengan faktor resiko yang lebih banyak harus ditangani dengan lebih agresif

No Kategori TD Sistol TD Diastole

1 Normal < 120 <80


2 Prahipertensi 120-139 80-89
3 Hipertensi tingkat 1 140-159` 90-99
4 Hipertensi tingkat 2 ≥ 160 ≥100

Jika penderita mempunyai tekanan darah yang tidak termasuk dalam satu kriteria maka
ia termasuk dalam kriteria yang lebih tinggi. Misalnya 180/120 mmHg maka penderita
digolongkan sebagai hipetensi tingkat berat. Apabila penderita memiliki kerusakan atau
resiko hipertensi makan harus disebutkan. Misalnya hipertensi tingkat 2 dengan DM.

C. Jenis Hipertensi
1. Hipertensi Primer
Merupakan hipertensi yang belum diketahui penyebabnya. Penderitanya sekitar 95%
orang.
Faktor resiko:
 Faktor Keturunan
Seseorang dengan keturunan hepertensi berkemungkinan besar untuk terkena
hipertensi
 Usia
Jika umur bertambah maka semakin meningkatnya TD seseorang
 Jenis kelamin
Perempuan mempunyai tekanan darah yang lebih rendah daripada Laki-laki
 Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan hipertensi adalah
- Konsumsi garam yang tinggi >30%
- Kegemokan/ obesitas
- Stress
- Merokok
- Minuman beralkohol
- Obat-obatan (efedrin, prednisone, epinefrin)
2. Hipertensi Sekunder
Merupakan hipertensi yang terjadi karena adanya penyebab yang jelas.
Misalnya :
- Tumor otaki
- Kokain, epoetin alfa, terapi pengganti estrogen, obat-obatan anti
imflamasi, kontrasespi oral, stimulant saraf simpatik
- Sindrom Cushing
- Penyakit parenkim dan stenosis arteri renalis
stenosis arteri renalis : menunnya aliran darah ke ginjal sehingga terjadi
pengaktifan baroreseptor giljal yang merangsang lepasnya rennin dan
angiotensin II yang dapat meningkatkan tekanan darah naik
- Kehamilan
Merupakan peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg yang terjadi
setelah kandungan berusia 20 minggu pada wanita non-hipertensi dan
membalik pada 12 minggu pascapartum.

D. Etiologi
1. Genetik
2. Obesitas : Karena tingginya insulin yang menyabakan TD meningkat
3. Stress karena lingkungan
4. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua sarta terjadinya
pelebaran pembuluh darah
Pada orang tua hipertemsi terjadi karena terjadinya perubahan elastisitas pada dinding
aorta, katub jantung yang menebal dan menjadi kaku, ketidakelastisannya pembuluh
darah.
E. Patofisologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor yang terletak diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jajras saraf
simpatik , yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolummna medulla
spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Ransangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui sistim syaraf simpatis
ke ganglia simpatis. Pada titik ini neuron pre-ganglion melepaskan setilkolin yang akan
merangsang serabut syaraf pasca panglion ke pembuluh darah dimana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstraksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap
ransangan vasokonstiktor. Orang dengan hipertensi sangat sensitive dengan norepinefrin,
meskipun tidak diketahui mengapa hal tersebut tidak diketahui.
Pada saat bersamaan sistim syaraf simpatiff meransang pembuluh darah dengan
ransangan yang emosi, kelenjar adrenal juga meransang juga memgakibatkan tambahan
aktifitas vasokonstriksi. Medulla adrenal menyekresi epinefrin yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal menyekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan pelepasan rennin.
Rennin yang dilepaskan meransang terbentuknya angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat, yang pada akhirnya meransang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan
air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan intravascular. Hal ini cenderung
merupakan faktor pencetus hipertensi.
Faktor Predisposisi

Meransang Pusat
Vasomotor

Meransang neuron pre-


ganglion untuk
melepaskan asetilkolin

Meransang sarabut pasca-ganglion ke


pembuluh darah untuk melepaskan
norepinefrin

kortisol dan steroid lainnya disekresikan kelenjar medula adrenal juga terasang untuk menyekresikan
oleh kelenjar korteks adrenal epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi

mempertukat vasokonstriksi pembuluh


darah

Akibatnya terjadi penurunan aliran


darah ke ginjalsehingga ginjal
melepaskan renin

renin lepas sehingga meransnag


terbentuknya angiotensin I dan II

sehingga meransang sekresi aldosteron


oleh korteks adrenal

hormon ini mengakibatkan retensi natrium dan air


di tubulus sehingga terjadinya peningkatan volume
intravaskular

terjadinya hipertensi
F. Tanda dan gejala
Gejala umum yang timbul akibat menderita hipertensi tidak sama setiap orang, bahkan
terkadang timbul tanpa adanya gejala. Secara umum gejala yag dikeluhkan orang ya
ng terkena hipertensi sebagai berikut:
1. Sakit kepala
2. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
3. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa ingin jatuh
4. Berdebar atau detak jantung terasa cepat
5. Telinga berdenging

Crowin (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah
mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa:
1. Nyeri kepala saat terjaga,terkadang disertai mual dan muntah,akibat peningkatan
tekanan darah intrakranal
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi
3. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
4. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Gejala lain yg u mumnya terjadi pada penderita hipertensi,yaitu pusing,muka merah,sakit


kepala,keluar darah dari hidung secara tiba-tiba,tengkuk terasa pegal dan lain-lain
(Novianty,2006).

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a. Albuminuria pada hepertensi karena kelainan parenkim ginjal
b. Kreatinin serum dan BUN meningkat pada hipertensi karena parenkim ginjal
dengan gagal ginjal akut
c. Darah perifer lengkap
d. Kimi darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa)
2. EKG
a. Hipertrofi ventrikel dekster
b. Iskemia atau infark miokard
c. Peninggian gelombang P
d. Gangguan konduksi
3. Foto Rontgen
a. Bentu dan besar jantung Noothing dari iga pada koarktasi aorta
b. Pembendungan, lebarnya paru
c. Hipertrofi perenkim ginjal
d. Hipertrofi vaskulas ginjal
H. Penatalaksanaan
Tujuan dekesi dan penatalaksanan adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskular
dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan
mempertahankan terkanan darah dan mengontrol faktor resiko.
1. Pengobatan non-farmakologis
a. Pengaturan diet
Diet dan pola hidup sehat dapat menurunkan gejala jantung. Dietnya adalah:
 Diae garam
Diet rendah garam dapat menimbulkan tekanan darah pada klien hipertensi.
Dengan pengurangan mengkonsumsi garam dapat mengurangi stimulasi
sistim rennin-angiotensin sehingga berpotensi sebagai anti hipertensi.
 Diet tinggi kalium
Dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanismenya belum jelas.
Pemberian kalium intravena dapat menyebabkan vasodilatasi, yang dipercaya
dimediasi oleh oksidanitrat pada dinding vascular
 Diet kaya buah dan sayur
 Diet rendah kolesterol sebagai pencegahan terjadinya jantung koroner
b. Penurunan berat badan
Mengatasi obesitas, dengan cara menurunkan berat badan dapat mengurangi
tekanan darah, kemungkinan dapat mengurangi kerja jantung.
c. Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang jugadapat menurunkan tekanan
darah dan memperbaiki kerja jantung. Olahraga meningkatkan kadak HDL yang
dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis akibat hipertensi
d. Perbaiki gaya hidup
Berhenti merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Merokok dapat menurunkan
aliranb darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung
2. Penatalaksaan Medis
a. Terapi Oksigen
b. Pemantauan Hemodinamik
c. Pemantauan jantung
d. Obat-obatan
 Diuretik: chlorthalidone, Hydromox, Lasix, Aldactone, Dyrenium
Diuretik bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah
jantung dengan mendorong ginjal meningkatkan akskresi garam dan airnya.
 Penyekat saluran kalsium menurunkan kontraksi otot polos jantung atau arteri
denga mengintervensi influks yang dibutuhkan untuk kontraksi. Dengan
demikian penyekat karlsium memiliki kemampuan untuk menurunkan
kecepatan denyut jantung.
 Pengambat enzim pengubah angiotensin I dan II atau inhibitor ACE
 Antagonis (penyekat) reseptor beta, terutama penyekat selektif, bekerja pada
reseptor beta di jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah
jantung
 Antagonis reseptot alfa, menghambat reseptor alfa di otot polos vascular yang
bekerja normal berespon terhadap ransangan saraf simpatik dengan
vasokontriksi. Hal ini akan menurukan tekanan TPR (tekanan prefer resisten/
keadaan pembuluh darah)
 Vasodilator arteriol langsung dapat digunakan untuk menurunkan TPR.
Misalnya: Natrium, Nitroprusida, Hidralazin, Nitrogliserin, dll
I. Komplikasi
1. Stroke dapat terjadi akibat hemoragi akibat tekanan darah tinggi di otak, atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh lain selain otak yang terpajan tekanan tinggi.
Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak
mengalami hipertrofi dan penebalan sehingga aliran darah ke otak menjadi berkurang.
2. Infark miokard dapat terjdi apabila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau terbentuknya thrombus yang
menghambat aliran darah.
3. Gagal ginjal dapat terjadi akibat tekanan tinggi pada kapiler glomerolus ginjal.
Gengan rusaknya glomerolus maka aliran darah ke nefron akan terganggu dan dapat
berlanjut hipoksik dan kematian. Dengan rusaknta glomerolus maka protein akan
keluar melalui urine sehingga terkanan osmotic koloid plasma berkurang san
menyebabkan edeme, yang sering dijumpai pada hipertensi kronik.
4. Ensefalopati (kerusakan otak)

J. Penggolongan Obat
1. Diuretik
Bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dan
menyebabkan ginjal meningkatkan ekskresi garam dan air.
Khasiat antihipertensi diuretik adalah berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi
natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel.
TD turun akibat berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak
berubah pada awal terapi. Pada pemberian kronik, volume plasma kembali tetapi
masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan. Curah jantung kembali
mendekati normal.TD tetap turun karena sekarang resistensi perifer menurun.
Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian tampaknya bukan efek langsung tiazid
tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap pengurangan
volume plasma yang terus-menerus. Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume
cairan interstisial berakibat berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan
bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular.
a. Diuretik tiazid
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens ansa henle tebal,
yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena
efeknya yang boros kalium.
 Tablet hydroclorothiazide ( HTC )
Golongan obat antihipertnsi ini merupakan obat antihipertensi yang prosesnya
melalui pengeluaran cairan tubuh via urin. Golongan antihipertensi ini cukup
cepat menurunkan tekanan darah namun dengan prosesnya yang melalui
pengeluaran cairan, ada kemungkinan besar potassium ( kalium ) terbuang.
 Sediaan obat : Tablet
 Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga
volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun. Dan
menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal
dan awal tubulus distal. Hilangnya K+, Na+, dan Cl- menyebabkan peningkatan
pengeluaran urin 3x. Hilangnya natrium menyebabkan turunnya GFR.
 Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Didistribusi
keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.
 Indikasi : digunakan untuk mengurangi udema akibat gagal jantung, cirrhosis hati,
gagal ginjal kronis, hipertensi, Obat awal yang ideal untuk hipertensi, edema
kronik, hiperkalsuria idiopatik. Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin
pada diabetes inspidus (GFR rendah menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam
nefron proksimal, hanya berefek pada diet rendah garam)
 Kontraindikasi : hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi pada
kehamilan, hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria, anuria, kelemahan, penurunan
aliran plasenta, alergi sulfonamide, gangguan saluran cerna.
 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
 Dosis : Dewasa 25 – 50 mg/hr, Anak 0,5 – 1,0 mg/kgBB/ 12 – 24 jam

b. Loop Diuretic
Lebih potensial dibandingkan tiazid dan harus digunakan dengan hati-hati untuk
menghindari dehidrasi. Obat-obat ini dapat mengakibatkan hipokalemia, sehingga
kadar kalium harus dipantau ketat. (Furosemid/Lasix)
 Furosemide
 Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix, uresix.
 Sediaan obat : Tablet, capsul, injeksi.
 Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke
dalam intersitium pada ascending limb of henle dan menghambat reabsorpsi
klorida dalam pars asendens ansa henle tebal. K+ banyak hilang ke dalam urin.
 Indikasi : Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan
hipertensi. Juga edema, edema paru dan untuk mengeluarkan banyak cairan.
Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar kalium serum.Edema paru akut,
edema yang disebabkan penyakit jantung kongesti, sirosis hepatis, nefrotik
sindrom, hipertensi.
 Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui
 Efek samping : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare. Hiponatremia,
hipokalemia, dehidrasi, hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas,
alergi sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis hipokloremik, hipovolemia.
 Interaksi obat : indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit
meningkat bila diberikan bersama aminoglikosid. Tidak boleh diberikan bersama
asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan bersamaan.
 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
 Dosis : Dewasa 40 mg/hr, Anak 2 – 6 mg/kgBB/hr

c. DIURETIK HEMAT KALIUM


Meningkatkan ekskresi natrium dan air sambil menahan kalium. Obat-obat ini
dipasarkan dalam gabungan dengan diuretic boros kalium untuk memperkecil
ketidakseimbangan kalium. (Spirinolactone)
 AMILORID (MIDAMOR)
 Mekanisme Kerja : secara langsung meningkatkan ekskresi Na+ menurunkan
sekresi K+ dalam tubulus kontortus distal.
 Indikasi : Digunakan bersama diuretik lain karena efek hemat K+ mengurangi
efek hipokalemik. Dapat mengoreksi alkalosis metabolik.
 Efek tak diinginkan : Hiperkalemia, kekurangan natrium atau air. Pasien dengan
diabetes militus dapat mengalami intoleransi glukosa.
 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
 SPIRONOLAKTON (ALDACTONE)
 Mekanisme Kerja : antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+).
Juga memiliki jerja serupa dengan amilorid.
 Indikasi : digunakan dengan tiazid untuk edema (pada gagal jantung kongestif),
sirosis, dan sindrom nefrotik. Juga untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldo-
steronisme. Efek tak diinginkan : seperti amilorid. Juga menyebabkan
ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit berminyak, hirsutisme, ginekomastia).
 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
 TRIAMTERIN (DYRENIUM)
 Mekanisme Kerja : secara langsung menghambat reabsorpsi Na+ serta sekresi K+
dan H+ dalam tubulus koligentes.
 Indikasi : tidak digunakan untuk hiperaldosteronisme. Lain-lain seperti
Spironolakton.
 Efek tak diinginkan : dapat menyebabkan urin menjadi biru dan menurunkan
aliran darah ginjal. Lain-lain seperti amilorid.

d. Diuretik Osmotik
Menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorpsi ion dalam ginjal.
(Manitol/Resectisol)
 MANITOL (MIS. RESECTISOL)
 Mekanisme kerja : secara osmotic menghambat reabsorpsi natrium dan air.
Awalnya menaikkan volume plasma dan tekanan darah.
 Indikasi : gagal ginjal akut, glaucoma, sudut tertutup akut, edema otak, untuk
menghilangkan kelebihan dosis beberapa obat.
 Efek tak diinginkan : sakit kepala, mual, muntah, menggigil, pusing, polidipsia,
letargi, kebingungan, dan nyeri dada.
 Tingkat Keamanan Menurut FDA : Katagori C
2. Anti Adrenergik
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor
ß1) dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien
hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis
adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergik.
a. Penghambat pelepasan adrenergik prasinaptik;
Dibagi menjadi antiadrenergik “sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral
mencegah aliran keluar simpatis (adrenergic) dari otak dengan mengaktifkan reseptor
α2 penghambat. Antiadrenergik perifer mencegah pelepasan norepinefrin dari
terminal saraf perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat ini mengosongkan
simpanan norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.
b. Blocker alfa dan beta
Bersaing dengan agonis endogen memperebutkan reseptor adrenergik. Penempatan
reseptor α1 oleh antagonis menghambat vasokontriksi dan penempatan reseptor ß1
mencegah perangsangan adrenergik pada jantung.

A. ANTAGONIS RESEPTOR BETA


Bekerja pada reseptor Beta jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung.
1) ASEBUTOL (BETA BLOKER)
Nama Paten : sacral, corbutol,sectrazide.
Sediaan obat : tablet, kapsul.
Mekanisme kerja : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas renin, menurunka
outflow simpatetik perifer.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia,feokromositoma, kardiomiopati obtruktif
hipertropi, tirotoksitosis.
Kontraindikasi : gagal jantung, syok kardiogenik, asma, diabetes mellitus, bradikardia,
depresi.
Efek samping : mual, kaki tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, lesu
Interaksi obat : memperpanjang keadaan hipoglikemia bila diberi bersama insulin. Diuretic
tiazid meningkatkan kadar trigleserid dan asam urat bila diberi bersaa alkaloid ergot. Depresi
nodus AV dan SA meningkat bila diberikan bersama dengan penghambat kalsium
Dosis : 2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr).
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2) ATENOLOL (BETA BLOKER)
Golongan ini merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah bekerja
dengan melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar pembuluh darah.
Nama paten : Betablok, Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol.
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer, efek pada
reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia
Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung tersembunyi, bradikardia, syok
kardiogenik, anuria, asma, diabetes.
Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit kemerahan,
impotensi.
Interaksi obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin. Diuretik
tiazid meningkatkan kadar trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer berat bila diberi bersama
alkaloid ergot.
Dosis : 2 x 40 – 80 mg/hr
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

3) METOPROLOL (BETA BLOKER)


Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : pengurangan curah jantung yang diikuti vasodilatasi perifer, efek pada
reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di
ginjal.
Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan
dapat diberikan beberapa kali sehari.
Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan simpatik,
sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus
barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pektoris
Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik, gagal
jantung tersembunyi
Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare
Interaksi obat : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya
Dosis : 50 – 100 mg/kg
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
4) PROPRANOLOL (BETA BLOKER)
Nama paten : Blokard, Inderal, Prestoral
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah jantung,
menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus simpatetik di pusat vasomotor otak.
Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan
dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah berikatan dengan protein dan akan bersaing
dengan obat – obat lain yang juga sangat mudah berikatan dengan protein.
Farmakodinamik : penghambat adrenergic beta menghambat perangsangan simpatik,
sehingga menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus
barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren, stenosis subaortik hepertrofi,
miokard infark, feokromositoma
Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan blok jantung tingkat II
dan III, gagal jantung kongestif. Hati – hati pemberian pada penderita biabetes mellitus, wanita
haminl dan menyusui.
Efek samping : bradikardia, insomnia, mual, muntah, bronkospasme, agranulositosis,
depresi.
Interaksi obat : hati – hati bila diberikan bersama dengan reserpine karena menambah berat
hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan penekanan kontraktilitas miokard. Henti
jantung dapat terjadi bila diberikan bersama haloperidol. Fenitoin, fenobarbital, rifampin
meningkatkan kebersihan obat ini. Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol
menurukan absorbsinya.
Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan.
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

B. ANTAGONIS RESEPTOR-ALFA
Menghambat reseptor alfa diotot polos vaskuler yang secara normal berespon terhadap
rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi.
OBAT ANTI ADREGERNIK SENTRAL.
1) METILDOPA
Nama Dagang: Dopamet (Alpharma), Medopa (Armoxindo), Tensipas (Kalbe Farma),
Hyperpax (Soho)
Indikasi: Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek
segera.
Kontraindikasi: depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma, porfiria, dan hipersensitifitas
Efek samping: mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare, retensi cairan, kerusakan
hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus eritematosus, parkinsonismus, ruam kulit, dan
hidung tersumbat
Peringatan: mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis awal pada gagal ginjal,
disarqankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji fungsi hati, riwayat depresi
Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : Metildopa memiliki faktor resiko B pada
kehamilan
Dosis dan aturan pakai: oral 250mg 2 kali sehari setelah makan, dosis maksimal 4g/hari,
infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika diperlukan.
OBAT ANTIADRENERGIK PERIFER
1) RESERPIN (MIS. SERPASIL)
Mekanisme kerja : sebagian mengosongkan simpanan katekolamin pada system saraf perifer
dan mungkin pada SSP. Menurunkan resistensi perifel total, frekuensi jantung, dan curah
jantung.
Indikasi : jarang digunakan untuk hipertensi ringan sampai sedang. Tidak dianjurkan pada
kelainan psikiatri.
Efek tak diinginkan : “dominan parasimpatik” (brakikardi, diare, bronkokonstriksi, peningkatan
sekresi), penurunan kontraktilitas dan curah jantung, hipotensi postural (mengosongkan
norepinefrin sehingga menghambat vasokonstriksi), ulkus peptikum, sedasi, dan depresi bunuh
diri, gangguan ejakulasi, ginekomastia. Risiko hipertensi balik rendah karena durasi kerja lama.
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2) GUANETIDIN (MIS. ESIMEL)
Mekanisme kerja : ditempatkan ke dalam ujung saraf adrenergic. Awalnya melepaskan
norepinefrin (meningkatkan tekanan darah dan frekuensi jantung). Lalu mengosongkan
norepinefrin dari terminal dan mengganggu pelepasannya. Kemudian tidak terjadi refleks
takikardi karena kosongnya norepinefrin.
Indikasi : hipertensi berat jika obat lain gagal. Jarang digunakan.
Efek tak diinginkan : peningkatan awal frekuensi jantung dan tekanan darah (disebabkan
pelepasan norepinefrin). Hipotensi ortostatik dan saat istirahat. Brakikardi, menurunnya curah
jantung, dispnea pada pasien PPOM, kongesti hidung berat.
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3) GUANEDREL (HYLOREL)
Mekanisme kerja : seperti guanetidin, tapi bekerja lebih cepat, melepaskan norepinefrin pada
awalnya (peningkatan sementara tekanan darah), dan mempunyai aktivitas sedikit.
Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang.
Efek tak diinginkan ; seperti guanetidin tapi kurang berat.
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
4). PARGILIN (EUTONYL)
Mekanisme kerja : menghambat monoamine oksidase dalam saraf adrenergik. Menghambat
pelepasan norepinefrin.
Indikasi : karena efek berbahaya, obat ini merupakan obat antihipertensi pilihan terakhir.
Efek tak diinginkan : efek yang mengancam jiwa (stroke, krisis hipertensi, infark miokardial,
aritmia) dapat terjadi bila diminum bersama makanan (produk fermentasi, keju) dan obat-obat
(pil diet, obat-obat flu) yang mengandung simpatomimetik. ]
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
C. ANTAGONIS KALSIUM
Menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks
kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Penghambat kalsium memiliki kemampuan yang
berbeda-beda dalam menurunkan denyut jantung. Volume sekuncup dan resistensi perifer.
1) DILTIAZEM (KALSIUM ANTAGONIS)
Nama paten : Farmabes, Herbeser, Diltikor.
Sediaan obat : Tablet, kapsul
Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel
calcium.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vaskuler perifer.
Kontraindikasi : wanita hamil dan menyusui, gagal jantung.
Efek samping : bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna.
Interaksi obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta bloker. Efek
terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama amiodaron dan digoksin.
Simotidin meningkatkan efeknya.
Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

2) NIFEDIPIN (ANTAGONIS KALSIUM)


Nama paten : Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard, Vasdalat.
Sediaan obat : Tablet, kaplet
Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan spasme arteri
coroner.
Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.
Kontraindikasi : gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan menyusui.
Efek samping : sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki.
Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi berat atau
eksaserbasi angina. Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan waktu protombin bila
diberikan bersama antikoagulan. Simetidin meningkatkan kadarnya dalam plasma.
DOSIS : 3 X 10 MG/HR
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3) VERAPAMIL (ANTAGONIS KALSIUM)
Nama paten : Isoptil
Sediaan obat : Tablet, injeksi
Mekanisme kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung dan vaskuler
sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri coroner, dan menurunkan resistensi perifer
sehingga menurunkan penggunaan oksigen.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migren.
Kontraindikasi : gangguan ventrikel berat, syok kardiogenik, fibrilasi, blok jantung tingkat
II dan III, hipersensivitas.
Efek samping : konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema, lesu, dipsnea, bradikardia,
kulit kemerahan.
Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek negative pada
denyut, kondiksi dan kontraktilitas jantung. Meningkatkan kadar digoksin dalam darah.
Pemberian bersama antihipertensi lain menimbulkan efek hipotensi berat. Meningkatkan kadar
karbamazepin, litium, siklosporin. Rifampin menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas
jantung bila diberi bersama flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate bila diberi
bersama kuinidin. Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini.
Dosis : 3 x 80 mg/hr
]Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
3. VASODILATOR
Contoh vasodilator antara lain:
a. Penghambat angiotensin converting enzyme (ACE)
Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor poten. Selain itu, penghambat ACE dapat
menginduksi pembentukan vasodilator dalam tubuh.
A. ACE INHIBITOR
Berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk
mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini menurunkan tekanan darah baik secara
langsung menurunkan resisitensi perifer. Dan angiotensin II diperlukan untuk sintesis aldosteron,
maupun dengan meningkatkan pengeluaran netrium melalui urine sehingga volume plasma dan
curah jantung menurun.
1) KAPTOPRIL
Nama paten : Capoten, Zestril
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan
angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan aldosterone.dan menghambat
ACE pada paru-paru, yang mengurangi sintesis vasokonstriktor, angiotensin II. Menekan
aldosteron, mengakibatkan natriuesis. Dapat merangsang produksi vasodilator (bradikinin,
prostaglandin).
Indikasi : hipertensi, gagal jantung. hipertensi, terutama berguna untuk hipertensi dengan
rennin tinggi. Obat yang disukai untuk pasien hipertensi dengan nefropatidiabetik karena kadar
glukosa tidak dipengaruhi.
Kontraindikasi : hipersensivitas, hati – hati pada penderita dengan riwayat angioedema
dan wanita menyusui. Dan semua penghambat ACE : dosis pertama hipotensi, pusing,
proteinuria, ruam, takikardi, sakit kepala. Kaptopril jarang menyebabkan agrunolositosis atau
neutropenia.
Dosis : 2 – 3 x 25 mg/hr.
Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : Meskipun ACE Inhibitor dan ARBs
memiliki factor resiko kategori C pada kehamilan trimester satu, dan kategori D pada trimester
dua dan tiga
Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia, pandangan
kabur, myalgia.
Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Tidak boleh
diberikan bersama dengan vasodilator seperti nitrogliserin atau preparat nitrat lain. Indometasin
dan AINS lainnya menurunkan efek obat ini. Meningkatkan toksisitas litium.
2) RAMIPRIL
Nama paten : Triatec
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan menurunnya aktivitas
vasopressor dan sekresi aldosterone.
Indikasi : hipertensi
Kontraindikasi : penderita dengan riwayat angioedema, hipersensivitas. Hati – hati
pemberian pada wanita hamil dan menyusui.
Dosis : awal 2,5 mg/hr
Tingkat keamanan obat menurut (FDA) : kategori C pada kehamilan trimester satu,
dan kategori D pada trimester dua dan tiga .namun obat tersebut berpotensi menyebabkan
tetatogenik.
Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung, susah tidur.
Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Indometasin
menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm meningkat.
BLOCKER PINTU MASUK KALIUM
Mencegah influks kalsium ke dalam sel-sel otot dinding pembuluh darah. Otot polos
membutuhkan influks kalsium ekstrasel untuk kontraksinya. Blockade influks kalsium mencegah
kontraksi, yang menyebabkan vasodilatasi.
C. VASODILATOR LANGSUNG
Merelaksasi sel-sel otot polos yang mengelilingi pembuluh darah dengan mekanisme yang belum
jelas, tetapi mungkin melibatkan pembentukan nitrik oksida oleh endote vascular.
1) Hidralazin
Nama paten : Aproseline
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun,
meningkatkan denyut jantung.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : gagal ginjal, penyakit reumatik jantung.
Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 – 3 dosis.
Tingkat keamanan obat menurut (FDA) :
Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, kulit
kemerahan.
Interaksi obat : hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid.
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C
2) DIAZOKSID (HYPERSTAT)
Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vascular perifer, mungkin dengan mengantagonis
kalsium. Juga meningkatkan kadar glukosa serum dengan menekan pelepasan insulin dan
meningkatkan pelepasan glukosa hati.
Indikasi : kontrol jangka pendek hipertensi berat di rumah sakit. Hipoglikemia akibat
hiperinsulinisme yang refrakter terhadap bentuk pengobatan lain.
Efek tak diinginkan : retensi air dan natrium dan efek kardiovaskular yang disebabkannya.
Hiperglikemia, gangguan saluran cerna, hirsurisme, efek samping skstrapiramidal.
Tingkat Keamanan Menurut FDA : Kategori C

5 NAMA OBAT ANTI HIPERTENSI YANG BEREDAR DI PASARAN


Tabel (Deuritik)

GolonganOb Merek Efek tak


Indikasi Kontraindikasi
at dagang diharapkan

Hipokalemia,
Ideal untuk
Hiperglikemi,Oligur
Tiazid Hydrodiuril hipertensi, dan Ibu hamil, anuria
ia, anuria,
edema-kronik
hiperkalsemia
Untuk darurat Dehidrasi,
Lasik hipertensi, Kekurangan hipokalemia,
Loop diuretic
(furosemid) edema, dan elektrolit, anuria hiperglikemi,
edema paru hipovolemia

Dapat Hiperkalemia
Antagonis Hiperkalemia,
Midamor mengoreksi berat dengan
reseptor kekurangan natrium
(amilorid) alkalosis suplemen
aldosteron atau air
metabolik kalsium

Tabel (Simpatolitik)

Golongan Efek tak


Merek dagang indikasi kontraindikasi
Obat diharapkan

Mulut kering,
Klonidin Baik untuk Bradikardi,hipotensi, hipotensi,
α – blocker
(Catapresan) hipertensi sindrom simpul sinus bradikardi,
sedasi
Baik untuk
Diabetes berat, Depresi dan
Atenolol hipertensi
β – blocker bradikardi, gagal sedasi susunan
(Tenormin) ringan dan
jantung, asma saraf pusat
sedang

Tabel (Penghambat Angiotensin)

Merek Efek tak


GolonganObat indikasi kontraindikasi
Dagang diharapkan

Hipertensi Hipotensi,
Kaptopril
ACE inhibitor dengan renin pusing, ruam,
(Capoten)
tinggi, takikardi

Gangguan
Vertigo, ruam
fungsiginjal,
Losartan Hipertensi kulit,
ARB anak-anak,
(Lozaar) esensial gangguan
kehamilan, masa
ortostatik
menyusui

Tabel (Vasodilatator)

Golongan Merek Efek tak


indikasi kontraindikasi
Obat dagang diharapkan

Retensi cairan,
Penyakit jantung
Hidralazin Apresoline Hipertensi sedang palpitasi, refleks
iskemik
takikardi
Lesi otot
Hipertensi yang Penyakit jantung jantung,
Monoksidil Loniten
belum terkontrol iskemik hidralazin,
hirsutisme,

Hipotensi berat,
Nitroprusid Nipride Krisis hipertensi
hepatotoksisitas

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan
tekanan diastolik > 90 mmHg (Kee & Hayes). Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan
untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.
Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih tempat kontrol anatomis dan efek
tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme normal regulasi TD.

Pengobatan Farmakologis
1. Diuretik
2. Antagonis Reseptor- Beta
3. Antagonis Reseptor-Alfa
4. Kalsium Antagonis
5. ACE inhibitor
6. Vasodilator

B. Saran
Agar kiranya makalah ini digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu, terutama tentang
obat antihipertensi.

http://mandasweety.blogspot.co.id/2012/11/tugas-makalah-farmakologi-obat-anti.html