Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam suatu industri, sanitasi merupakan hal yang penting. Kemajuansuatu industri harus
dibarengi dengan sanitasi yang baik. Sanitasi merupakanupaya pencegahan terhadap
kemungkinan bertumbuhdan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam
makanan,minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan danmembahayakan
manusia (UU No. 7Tahun 1996). Sanitasi juga dapat di jabarkan sebagai cara untuk pencegahan
pencemaran terhadap makanan selama kegiatanpenanganan, pengolahan, penyimpanan dan
distribusi. Sanitasi dilakukan dengantujuan melindungikesehatan masyarakat melalui
pengurangan atau penghilangancemaran dalam bahan makanan (Hariadi dan Dewanti, 2009).
Sanitasi dan higiene pekerja juga perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan karena pekerja
merupakan sumber potensial dalam perpindahancemaran. Jadiprogram sanitasi dan higiene
pekerja adalah hal yang mutlak.Sanitasi pekerja meliputi kesehatan pekerja, kebersihan tubuh
pekerja sampaikebersihan semuaperlengkapan yang digunakan oleh pekerja (Hariadi danDewanti,
2009). Sanitasipekerja juga ditetapkan oleh UU no 7, Tahun 1996 yangmenyatakan bahwa
orangperseorangan yang menangani secara langsung dan atausecara langsung berada
dilingkungan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan dan atau peredaran
pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian hyigiene dan sanitasi makanan?
2. Apa pengertian sanitasi makanan dan home industry makanan ?
3. Bagaimana cara pengolahan home industri makanan yang baik?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian higiene daan sanitaasi makanan
2. Untuk mengetahui pengertian sanitasi makanan dan home industry makanan
3. Untuk mengetahui pengolahan home indutry makanan dengan prinsip hygiene daan
sanitasi yang baik.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hygiene dan Sanitasi Makanan


Ditinjau dari ilmu kesehatan lingkungan, istilah hygiene dan sanitasi
mempunyai tujuan yang sama erat kaitannya antara satu dengan yang lainnya yaitu
melindungi, memelihara, dan mempertinggi derajat kesehatan manusia (individu
maupun masyarakat). Tetapi dalam penerapannya, istilah hygiene dan sanitasi
memiliki perbedaan yaitu hygiene lebih mengarahkan aktivitasnya kepada manusia
(individu maupun masyarakat), sedangkan sanitasi lebih menitikberatkan pada faktor-
faktor lingkungan hidup (Azwar, 1990).
2.1.1 Pengertian Hygiene
Hygiene menurut Depkes (2004), adalah upaya kesehatan dengan cara
memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya. Misalnya mencuci
tangan untuk melindungi kebersihan tangan, mencuci piring untuk melindungi
kebersihan piring. Membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi
keutuhan makanan secara keseluruhan. Untuk mencegah kontaminasi makanan
dengan zat-zat yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan diperlukan
penerapan sanitasi lingkungan. Menurut Azwar (1990), Hygiene adalah usaha
kesehatan masyarakat yang mempelajari kondisi lingkungan terhadap manusia,
upaya mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan
tersebut, serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin
pemeliharaan kesehatan. Misalnya, minum air yang direbus, mencuci tangan
sebelum memegang makanan, dan pengawasan kesegaran makanan.
2.1.2 Pengertian Sanitasi
Kata sanitasi diambil dari bahasa latin sanitas, yang artinya
“kesehatan”. Kata ini digunakan lebih jauh untuk industri makanan, sanitasi
adalah sebuah ciptaan dan pemeliharaan untuk kebersihan dan kondisi yang
sehat. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya pencemaran makanan dan
racun yang disebabkan oleh zat aditif. Pelaksanaan sanitasi ini sangat penting
untuk menjaga keamanan makanan. Pengawasan hygiene yang kurang
berkontribusi terhadap timbulnya ledakan penyakit akibat keracunan makanan
(Marriot dan Norman, 1985).
Depkes (2004), menyatakan bahwa sanitasi adalah upaya kesehatan
dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subyeknya.
Misalnya menyediakan air bersih untuk keperluan mencuci tangan,
menyediakan tempat sampah untuk mewadahi sampah agar sampah tidak
dibuang sembarangan. Sanitasi makanan merupakan upaya-upaya yang
ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan
bahaya keracunan dan penyakit pada manusia (Chandra, 2006). Sedangkan
menurut Oginawati (2008), sanitasi makanan adalah upaya pencegahan terhadap
kemungkinan bertumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusukan dan
patogen dalam makanan yang dapat merusak makanan dan membahayakan
kesehatan manusia.
2.1.3 Pengertian Makanan
Menurut WHO, makanan adalah semua substansi yang dibutuhkan
oleh tubuh tidak termasuk air, obat-obatan, dan substansi-substansi lain yang
digunakan untuk pengobatan. (Chandra, 2006). Makanan merupakan kebutuhan
pokok yang sangat penting bagi manusia yang terdiri dari karbohidrat, protein,
lemak, vitamin, mineral dan air, dan bukan dipakai sebagai obat. Makanan
berguna untuk tubuh karena dapat menghasilkan energi, mengembangkan, dan
memperbaiki jaringan tubuh, untuk mengatur reaksi kimia dalam tubuh serta
untuk mempertahankan kondisi internal agar reaksi-reaksi tersebut tetap
berjalan (Winarno, 1997). Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok
bagi kehidupan manusia.
Menurut Notoatmodjo (2000), ada empat fungsi pokok bagi kehidupan
manusia, yaitu:
1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta
mengganti jaringan tubuh yang rusak.
2. Memperoleh energi guna melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral
dan cairan tubuh yang lain.
4. Berperan di dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit.
2.1.4 Pengertian Sanitasi Makanan
Sanitasi makanan adalah merupakan salah satu usaha pencegahan yang
menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan
makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu kesehatan,
mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan,
penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman
tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Dimana
sanitasi ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan,
mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan
merugikan pembeli, mengurangi kerusakan atau pemborosan makanan
(Sumantri, 2010). Menurut Sumantri (2010), Sanitasi makanan yang buruk bisa
menyebabkan faktor kimia karena adanya zat-zat kimia yang digunakan untuk
mempertahankan kesegaran bahan makanan, obat-obat penyemprot hama,
penggunaan wadah bekas obat-obatan pertanian untuk kemasan makanan dan
lain-lain. Sanitasi makanan yang buruk disebabkan oleh faktor mikrobiologi
karena adanya kontaminasi oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit. Akibat
buruknya sanitasi makanan dapat timbul gangguan kesehatan pada orang yang
mengkonsumsi makanan tersebut.
2.2 Prinsip Hygiene Sanitasi Makanan
Prinsip hygiene sanitasi makanan adalah pengendalian terhadap empat faktor
yaitu tempat, bangunan, peralatan, orang, dan bahan makanan. Ke empat faktor
tersebut dikendalikan memlalui enam ( 6 ) prinsip hygiene sanitasi makanan yaitu
(Depkes RI, 2003) :
1. Prinsip I : Pemilihan Bahan Makanan
Pemilihan bahan baku haruslah bahan baku yang masih segar, masih utuh, tidak
retak atau pecah. Untuk makanan yang cepat membusuk tidak boleh terdapat kotoran
dan tidak berulat. Semua jenis bahan makanan perlu mendapat perhatian secara fisik
serta kesegarannya terjamin, terutama bahan – bahan makanan yang sudah membusuk
atau rusak. Salah satu upaya untuk mendapatkan bahan makanan yang baik adalah
menghindari penggunaan bahan makanan yang berasal dari sumber tidak jelas karena
kurang dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya. Sanitasi makanan yang buruk bisa
disebabkan oleh faktor mikrobiologi karena adanya kontaminasi oleh bakteri,
misalnya virus, jamur, dan parasit (Sumantri, 2010).
Pemilihan bahan makanan adalah semua bahan baik terolah maupun tidak
termasuk bahan tambahan makanan dan bahan penolong (Kepmenkes RI
No.1908/Menkes/SK/VII/2003). Bahan tambahan disebut aman bila memenuhi empat
kriteria, yaitu:
a. Tingkat kematangan sesuai dengan yang diinginkan.
b. Bebas dari pencemaran pada tahapan proses berikutnya.
c. Bebas dari adanya perubahan secara fisik/kimia akibat faktor-faktor luar.
d. Bebas dari mikroorganisme dan parasit penyebab penyakit.

Sumber Bahan Makanan Yang Baik Untuk mendapatkan bahan makanan yang
baik, perlu diketahui sumber-sumber bahan makanan yang baik pula. Sumber bahan
makanan yang baik sering kali tidak mudah kita temukan karena jaringan perjalanan
makanan yang begitu panjang dan melalui jaringan perdagangan pangan yang begitu
luas. Sumber bahan makanan yang baik adalah (Depkes RI, 2004) :

a. Pusat penjualan bahan makanan dengan sistem pengaturan suhu yang


dikendalikan dengan baik misalnya swalayan.
b. Tempat-tempat penjualan bahan makanan yang diawasi oleh pemerintah daerah
dengan baik.
2. Prinsip II : Penyimpanan Bahan Makanan
Tidak semua bahan makanan yang tersedia langsung dikonsumsi oleh
masyarakat. Mengingat sifat bahan makanan yang berbeda – beda dan dapat
membusuk, sehingga kualitasnya dapat terjaga. Tempat penyimpanan bahan
makanan harus dalam keadaan bersih, tertutup, dan tidak menjadi tempat bersarang
serangga dan tikus (Depkes, 2003). Tujuan penyimpanan bahan makanan adalah
agar bahan makanan tidak mudah rusak dan kehilangan nilai gizinya. Semua bahan
makanan dibersihkan terlebih dahulu sebelum disimpan, yang dapat dilakukan
dengan cara mencuci. Setelah dikeringkan kemudian dibungkus dengan
pembungkus yang bersih dan disimpan dalam ruangan yang bersuhu rendah
(kusmayadi, 2008). Syarat-syarat penyimpanan bahan makanan menurut
Kepmenkes RI No. 1098/Menkes/SK/VII/2003 adalah:
1. Tempat penyimpanan bahan makanan selalu terpelihara dan dalam keadaan
bersih.
2. Penempatannya terpisah dengan makanan jadi.
3. Penyimpanan bahan makanan diperlukan untuk setiap jenis bahan makanan
yaitu:
a. Dalam suhu yang sesuai.
b. Ketebalan bahan makanan padat tidak lebih dari 10 cm.
c. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80-90%.
4. Bila bahan makanan disimpan di gudang, cara penyimpanannya tidak menempel
pada langit-langit, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jarak makanan dengan lantai 15 cm.
b. Jarak makanan dengan dinding 5 cm.
c. Jarak makanan dengan langit-langit 60 cm.
5. Bahan makanan disimpan dalam aturan sejenis, disusun dalam rak-rak
sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan rusaknya bahan makanan.
Bahan makanan yang disimpan lebih dahulu digunakan dahulu (antri),
sedangkan bahan makanan yang masuk belakangan terakhir dikeluarkan.
Pengambilan dengan cara seperti ini disebut cara First In First Out (FIFO). Ada
empat ( 4 ) cara penyimpanan makanan yang sesuai dengan suhunya menurut
Depkes RI, 2004:
1. Penyimpanan sejuk (cooling), yaitu suhu penyimpanan 10o -15o C untuk
jenis minuman buah, es krim dan sayur.
2. Penyimpanan dingin (chilling), yaitu suhu penyimpanan 4o -10o C untuk
bahan makanan yang berprotein yang akan segera diolah kembali. Untuk
bahan berprotein yang mudah rusak untuk jangka waktu sampai 24 jam.
3. Penyimpanan dingin sekali (freezing), yaitu suhu penyimpanan 0o -4o C
Penyimpanan beku (frozen), yaitu suhu penyimpanan < 0 o C untuk bahan
makanan protein yang mudah rusak untuk jangka waktu > 24 jam.
4. Penyimpanan beku (frozen), yaitu suhu penyimpanan < 0 o C untuk bahan
makanan protein yang mudah rusak untuk jangka waktu > 24 jam.
3. Prinsip III : Pengolahan Makanan
Pengolahan makanan adalah proses pengubahan bentuk dari bahan mentah
menjadi makanan siap santap. Pengolahan makanan yang baik adalah yang
mengikuti kaidah dari prinsip-prinsip hygiene dan sanitasi. Semua kegiatan
pengolahan makanan harus dilakukan dengan cara terlindung dari kontak langsung
dengan tubuh. Perlindungan kontak langsung dengan makanan dilakukan dengan
menggunakan sarung tangan plastik dan penjepit makanan (Arisman, 2009).
Tujuan pengolahan makanan adalah agar tercipta makanan yang memenuhi syarat
kesehatan, mempunyai cita rasa yang sesuai, serta mempunyai bentuk yang
mengundang selera (Azwar, 1990). Dalam pengolahan makanan, ada empat aspek
yang harus diperhatikan yaitu penjamah makanan, cara pengolahan, tempat
pengolahan makanan, dan peralatan pengolahan makanan (Kusmayadi, 2008).
1. Penjamah Makanan Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung
berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan,
pembersihan, pengolahan, pengangkutan, sampai dengan tahap penyajian. Agar
bahan makanan tidak sampai tercemar, maka penjamah makanan harus
terpelihara hygiene dan sanitasinya. Syarat yang ditetapkan pada penjamah
makanan menurut Depkes RI (2003) antara lain :
a. Memiliki temperamen yang baik
b. Memiliki pengetahuan dan hygiene perorangan yang baik seperti menjaga
kebersihan panca indera (mulut, hidung, tenggorokan, telinga), kebersihan
kulit, kebersihan tangan (potong kuku dan mencuci tangan), kebersihan
rambut (pakai tutup kepala), dan kebersihan pakaian kerja.
c. Berdasarkan sehat dengan surat keterangan sehat yang menyatakan: - Bebas
penyakit kulit - Bebas penyakit menular seperti influenza, dan diare -
Bukan carrier dari suatu penyakit infeksi - Bebas TBC, pertusis, dan
penyakit pernapasan berbahaya lainnya - Sudah mendapatkan imunisasi
Chotypa (cholera, Thypus, dan Parathypus) Semua penjamah makanan
harus selalu memelihara kebersihan pribadinya dan harus sealalu
berperilaku sehat ketika bekerja. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
kebersihan pribadi (personal hygiene) penjamah makanan adalah sebagai
berikut :
1. Mencuci tangan, kebersihan tangan penjamah makanan yang bekerja
mengolah dan memproduksi pangan sangat penting sehingga perlu
mendapatkan perhatian khusus. Penjamah harus selalu mencuci tangan
sebelum bekerja dan keluar dari kamar mandi. Selain itu, kuku juga
harus dirawat dan dibersihkan serta dianjurkan supaya tidak memakai
perhiasan seperti cincin sewaktu bekerja.
2. Pakaian, hendaknya penjamah makanan memakai pakaian khusus
dengan ukuran yang pas dan bersih, umumnya pakaian berwarna terang
(putih) dan penggunaannya khusus waktu bekerja saja.
3. Topi / penutup kepala, semua penjamah makanan hendaknya memakai
topi atau penutup kepala untuk mencegah jatuhnya rambut kedalam
makanan atau kebiasaan menggaruk kepala.
4. Sarung tangan / celemek, hendaknya penjamah makanan memakai
sarung tangan dan celemek (apron) selama mengolah makanan dan
sarung tangan ini harus dalam keadaan baik dan bersih.
5. Tidak merokok, penjamah makanan sama sekali tidak di izinkan
merokok selama pengolahan makanan.
2. Cara Pengolahan Makanan
Cara pengolahan makanan harus baik seperti menggunakan air yang
bersih dalam setiap pengolahan, penjamah makanan mencuci tangan setiap kali
hendak menjamah makanan, serta penjamah makanan tidak bersentuhan
langsung dengan makanan tetapi menggunakan peralatan seperti penjepit
makanan. Dalam proses pengolahan makanan perlu diperhatikan :
 Cara menjamah makanan
 Nilai gizi makanan
 Teknik memasak makanan
 Cara pengolahan yang bersih
 Hygiene penjamah makanan
 Hygiene dan sanitasi makanan
 Kesehatan penjamah makanan
3. Tempat Pengolahan Makanan
Tempat pengolahan makanan dimana makanan diolah sehingga
menjadi makanan yang terolah ataupun makanan jadi, biasanya disebut dapur.
Dapur merupakan tempat pengolahan makanan yang harus memenuhi syarat
hygiene dan sanitasi, diantaranya kontruksi dan perlengkapan yang ada
(Cahyadi, 2008).
4. Peralatan Pengolahan Makanan
Peralatan pengolahan makanan harus memenuhi persyaratan kesehatan
sebagai berikut (Depkes RI, 2011) :
1. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan
zat beracun yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan
kesehatan.
2. Peralatan pengolahan makanan tidak boleh rusak, gompel, retak, dan tidak
menimbulkan pencemaran terhadap makanan.
3. Permukaan peralatan yang kontak langsung dengan makanan harus conus
atau ada sudut mati, rata, halus, dan mudah dibersihkan.
4. Peralatan pengolahan makanan harus dalam keadaan bersih sebelum
digunakan.
5. Cara pencucian peralatan harus memenuhi ketentuan yaitu pencucian
peralatan harus menggunakan sabun.
6. Peralatan yang sudah didesinfeksi harus ditiriskan pada rak-rak anti karat
sampai kering sendiri dengan bantuan sinar matahari atau mesin pengering
dan tidak boleh dilap dengan kain.
4. Prinsip IV : Penyimpanan Makanan
Jadi Penyimpanan makanan jadi bertujuan untuk mencegah
pertumbuhan dan perkembangan bakteri pada makanan, mengawetkan makanan
dan mencegah pembusukan makanan, dan mencegah timbulnya sarang hama dalam
makanan. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan makanan menurut
Depkes RI 2004 adalah :
a. Makanan yang disimpan harus diberi tutup.
b. Tersedia tempat khusus untuk menyimpan makanan.
c. Makanan tidak boleh disimpan dekat dengan saluran air.
d. Apabila disimpan diruangan terbuka hendaknya tidak lebih dari 6 jam dan
ditutup agar terhindar dari serangga dan binatang lainnya.
e. Lemari penyimpanan sebaiknya tertutup.
5. Prinsip V : Pengangkutan Makanan
Pengangkutan makanan yang sehat akan sangat berperan di dalam mencegah
terjadinya pencemaran makanan. Dalam proses pengangkutan makanan banyak
pihak yang terkait mulai dari persiapan, pewadahan, orang, suhu, dan kendaraan
pengangkut itu sendiri. Cara mengangkut makanan harus memenuhi persyaratan
sanitasi, misalnya apakah sarana pengangkutan memiliki alat pendingin dan tertutup.
Pengangkutan tersebut dilakukan baik dari sumber ke pasar maupun dari sumber ke
tempat penyimpanan, agar bahan makanan tidak tercemar oleh kontaminan
(Chandra, 2006). Makanan yang telah diolah dan disimpan dengan cara hygiene
akan menjadi tercemar kalau cara pengangkutannya tidak baik. Makanan perlu
diperhatikan dalam cara pengangkutannya (Depkes RI, 2000), yaitu sebagai berikut:
a. Makanan jadi tidak diangkut bersama dengan bahan makanan mentah.
b. Makanan diangkut dalam wadah tertutup sendiri-sendiri.
c. Pengisisan wadah tidak sampai penuh agar tersedia udara untuk ruang gerak.
d. Penempatan wadah dalam kendaraan tidak saling mencemari atau menumpahi.
e. Alat pengangkut yang tertutup khusus dan permukaan dalamnya mudah
dibersihkan.
6. Prinsip VI : Penyajian dan Pengemasan Makanan
Proses terakhir dari prinsip hygiene sanitasi makanan adalah penyajian
makanan. Dalam penyajian makanan harus diperhatikan tempat penyajian, alat
penyajian, dan tenaga penyaji. Makanan disajikan pada tempat yang bersih, sirkulasi
udara dapat berlangsung, peralatan yang digunakan bersih, dan orang yang
menyajikan makanan harus berpakaian bersih, menggunakan tutup kepala, dan
tangan penyaji tidah boleh kontak langsung dengan makanan yang disajikan
(Slamet, 2004). Pengemasan makanan bertujuan untuk memberi perlindungan
terhadap kerusakan, dapat memberikan dan mempertahanakan kualitas produksi,
berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan luar serta untuk menarik perhatian
konsumen. Bahan pengemas yang digunakan seperti plastik harus dalam keadaan
baik dan bersih. Ketika mengemas makanan penjamah seharusnya menggunakan
sarung tangan agar terhindar dari kontaminasi, serta memakai pakaian yang bersih
(Sumantri, 2010). Adapun syarat penyajian makanan yang baik adalah sebagai
berikut (Depkes RI, 2011) :
1. Cara menyajikan makanan harus terhindar dari pencemaran
2. Peralatan yang dipergunakan untuk menyajikan makanan harus terjaga
kebersihannya.
3. Makanan jadi yang disajikan harus diwadahi dan dijamah dengan peralatan yang
bersih.
4. Makanan yang disajikan dalam keadaan hangat ditempatkan pada fasilitas
penghangat makanan dengan suhu minimal 60 o C.
5. Penyajian dilakukan dengan perilaku yang sehat dan pakaian bersih
6. Penyajian makanan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- Ditempat yang bersih
- Meja dimana makanan disajikan harus tertutup kain putih atau tutup plastik
berwarna menarik kecuali bila meja terbuat dari formica, taplak tidak mutlak
ada.
- Tempat-tempat bumbu/merica, garam, cuka, saus, kecap, sambal, dan lain-
lain perlu dijaga kebersihannya terutama mulut tempat bumbu.
- Asbak tempat abu rokok yang tersedia di atas meja makan setiap saat
dibersihkan.
- Peralatan makan dan minum yang telah dipakai, paling lambat lima menit
sudah dicuci bersih.

2.3 Home Industry


2.3.1 Pengertian Home Industry
Istilah Home industry atau usaha di rumah adalah tempat tinggal yang
merangkap tempat usaha, baik itu berupa usaha jasa, kantor hingga
perdagangan. Semula pelaku home industry yang memiliki desain ini adalah
kalangan enterpreneur dan profesional, yang sekarang mulai meluas pada
kalangan umum, untuk memiliki lokasi yang strategis untuk tempat
berkembangnya usaha jenis rumahan ini tidak terlepas dari berkembangnya
virus enterpreneur/kewirausahaan yang berperan membuka pola pikir ke depan
masyarakat bahwa rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal namun dapat
digunakan juga sebagai tempat mencari penghasilan. (Alkim,2005:3)
2.3.2 Karakteristik Home Industry
Menurut Pohan Farida (2012:9) Karakteristik ciri-ciri usaha kecil
meliputi beberapa karakteristik antara lain:
1. Dikelolah oleh pemiliknya
2. Usaha dilakukan dirumah
3. Produksi dan pemasaran dilakukan di rumah pemilik usaha
4. Modal terbatas
5. Jumlah tenaga kerja terbatas
6. Berbasis keluarga atau rumahan tangga
7. Lemah dalam pembukuan
8. Sangat diperlukan manajemen pemilik
2.3.3 Macam-macam Industri
Adapun pengelompokan industri berdasarkan kapasitas pekerja yang
diperlukan meliputi:
a. Industri rumah tangga (home industry), menggunakan tenaga kerja 1-4
orang.
b. Industri kecil, menggunakan tenaga kerja minimal 5 sampai 19 orang.
c. Industri sedang, menggunakan tenaga kerja 20 sampai 99 orang.
d. Industri besar, menggunakan tenaga kerja 100 orang atau lebih.

Daftar Pustaka

Azwar, Asrul. 1990. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mutiara Sumber Widya

Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC.

Cahyadi, Wisnu. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta :
Bumi Aksara.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003.


Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan. Jakarta

Notoadmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta : Rineka Cipta

Saksono, Lukman dan Saksono, Isro’in. 1986. Pengantar Sanitasi Makanan. Bandung :
Penerbit Alumni

Winarmo, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.