Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan hidayahnya kami telah mampu menyelesaikan sebuah makalah yang
berjudul MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU& AMAKHLUK
SOSIAL.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ILMU SOSIAL
BUDAYA DASAR.
Sebagai makhluk individu manusia merupakan bagian dan unit terkecil dari
kehidupan sosial atau masyarakat dan sebaliknya sebagai Makhluk sosial yang
membentuk suatu kehidupan masyarakat, manusa merupakan kumpulan dari
berbagai individu. Dalam menjalankan peraanya masing-masing dari kedua hal
tersebut secara seimbang, maka setiap individu harus mengetahui dari perannya
masing-masing tersebut. Untuk itu, perlu kiranya penulis menulis sebuah makalah
yang mengemukakan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menjadi inspirasi para pembaca.
Kami menyadari bahw selama penulisan makalah ini banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, kami ucapkan terimakasih.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan, baik dalamhasil maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh
sebab itu, kami sangat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan
manfaat khusunya bagi kami sebagai penulis dan umumnya bagiyang membaca
makalah ini.

Ciamis, 02 Oktober 2018

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya manusia adalah sebagai makhluk individu yang unik, berbeda
antara yang satu dengan lainnya. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi
kebutuhannya masing-masing, ingin merealisasikan diri atau ingin dan mampu
mengembangkan potensi-potensinya masing-masing. Hal ini merupakan gambaran
bahwa setiap individu akan berusaha untuk menemukan jati dirinya masing-
masing, tidak ada manusia yang ingin menjadi orang lain sehingga dia akan selalu
sadar akan keindividualitasannya.
Adapun hubungannya dengan manusia sebagai mahluk sosial adalah bahwa
dalam mengembangkan potensi-potesinya ini tidak akan terjadi secara alamiah
dengan sendirinya, tetapi membutuhkan bantuan dan bimbingan manusia lain.
Selain itu, dalam kenyataannya, tidak ada manusia yang mampu hidup tanpa
adanya bantuan orang lain. Hal ini menunjukan bahwa manusia hidup saling
ketergantungan dan saling membutuhkan antara yang satu dengan lainnya.
Dari kedua hal diatas, manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
memiliki fungsi masing-masing dalam menjalankan peranannya dalam kehidupan.
Sebagai makhluk individu manusia merupakan bagian dan unit terkecil dari
kehidupan sosial atau masyarakat dan sebaliknya sebagai makhluk sosial yang
membentuk suatu kehidupan masyarakat, manusia merupakan kumpulan dari
berbagai individu. Dalam menjalankan peranannya masing-masing dari kedua hal
tersebut secara seimbang, maka setiap individu harus mengetahui dari peranannya
masing-masing tersebut. Untuk itu, perlu kiranya penulis menulis sebuah makalah
yang mengemukakan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menginspirasi pembaca.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial?
2. Bagaimana interaksi sosial dan sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial ?

2
3. Bagaimana perbedaan antara masyarakat dan komunitas?
4. Bagaimana dilema antara kepentingan individu dan kepentingan sosial?

1.3 Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
2. Interkasi sosial dan sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial.
3. Masyarakat dan komunitas.
4. Dilema antara kepentingan individu dan kepentingan sosial.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial


Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya.
Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena
manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk
mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari
individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.
Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran
manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta
bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan
a. Manusia Sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah
satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi
individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu
berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu
sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan
tak terbatas.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani,


unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia
individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut
sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam
diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya,
atau ada unsur raga dan jiwanya.

Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada
manusia yang sama persis. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing
memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor
fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir,
ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang
individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga
memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan
(faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan
karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada

4
lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam
sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang individu
melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota
keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.

Karakteristik yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian.
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh
faktor bawaan genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi
terus-menerus.

b. Manusia sebagai Makhluk Sosial

Menurut kodratnya manusia selain sebagai makhluk individu, mereka juga


merupakan makhluk sosial. Adapun yang dimaksud dengan Istilah sosial adalah
”Sosial” berasal dari akar kata bahasa Latin Socius, yang artinya berkawan atau
masyarakat. Sosial memiliki arti umum yaitu kemasyarakatan dan dalam arti
sempit mendahulukan kepentingan bersama atau masyarakat. Adapun dalam hal ini
yang dimaksud manusia sebagai makhluk sosial adalah makhluk yang hidup
bermasyarakat, dan pada dasarnya setiap hidup individu tidak dapat lepas dari
manusia lain. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial,
manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang
dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena
itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam
kehidupannya.Seperti kita ketahui bahwa sejak bayi lahir sampa iusia tertentu
manusia adalah mahkluk yang tidak berdaya, tanpa bantuan orang orang disekitar
iatidak dapat berbuat apa-apa dan untuk segala kebutuhan hidup bayi sangat
tergantung pada luar dirinya sepert iorang tuanya khususnya ibunya. Bagisi bayi
keluarga merupakan segitiga abadi yang menjadi kelompok sosial pertama
dikenalnya. Pada perjalanan hidup yang selanjutnya keluarga akan tetap menjadi
kelompok pertama tempat meletakan dasakepribadian dan proses pendewasaan
yang didalamnya selalu terjadi “sosialisi” untuk menjadi manusia yang
mengetahui pengetahuan dasar, nilai-nilai, normasosial dan etika-etika pergaulan.
Manusia dapat di katakan makluk sosial karena pada dirinya terdapat
dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat
kebutuhan untuk mencari berteman dengan orang lain yang sering di dasari atas
kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Manusia juga tidak akan bisa

5
hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan
manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan
bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau
bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Makhluk sosial
adalah makluk yang terdapat dalam beragam aktivitas dan lingkungan sosial.

2.2. Interaksi Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai


Makhluk individu dan Makhluk Sosial
Manusia sebagai mahkluk sosial dalam kehidupan sehari-harinya pasti
membutuhkan orang lain. Proses interaksi dan sosialisasi selalu terjadi kapan dan
dimanapun manusia itu berada. Dalam hal ini bentuk interaksi sosial sangat
bermacam-macam.Pola sosialisasi pun ada bermacam-macam.Untuk lebih jelasnya
uraian mengenai interaksi sosial dan sosialisasi adalah sebagai berikut.
. a. Interaksi Sosial.
Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.Dikatakan
makhluk sosial karena manusia sebagai individu saling membutuhkan dan saling
berinteraksi dengan manusia atau individu lainnya. Oleh sebab itu manusia sebagai
makhluk sosial sangat membutuhkan orang lain pada hidupnya untuk saling
memberi, menolong, dan melengkapi satu sama lain.
Adapun pengertian interaksi sosial menurut Effendi (2010:46) adalah kata
interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal
balik saling mempengaruhi antar individu, kelompok social, dan masyarakat.
Dalam hal ini berarti bahwa manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas
dari hubungan dengan manusia lainnya.Interaksi juga berarti bahwa setiap manusia
saling berkomunikasi dan mempengaruhi bisa dalam pikiran maupun tindakan.
Menurut Gillin dan Gillin (Effendi, 2010:46) menyatakan bahwa interaksi
sosia adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individu, antar
kelompok, orang, dan orang perorangan dengan kelompok.Dalam hal ini
interaksisosial bisa dilakukan oleh orang perorangan, bisa oleh kelompok, juga
bisa perorangan dengan kelompok.
Interaksi sosial dimulai dari hal yang terkecil yaitu saling menegur, menyapa,
berjabat tangan, saling berbicara dan lain-lain. Bahkan dalam pertengkaran atau
perkelahianpun termasuk interaksi sosial.
Faktor yang pertama adalah imitasi, imitasi merupakan proses peniruan. Kita
sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan orang lain termasuk dalam hal meniru

6
perilaku orang lain yang positif bagi kita. Peniruan sudah dilakukan pada rentan
anak usia dini. Anak usia dini merupakan peniru yang ulung, maka dari itu sikap
dan perilaku setiap orang dewasa perlu dijaga dan diperhatikan agar peniruan yang
dilakukan anak usia dini bersifat positif. Pada proses peniruan ini mudah berubah-
ubah karena perkembangan teknologi didunia ini berlangsung secara global dan
sangat cepat.
Yang kedua yaitu Sugesti, sugesti adalah suatu proses dimana seorang
individu menerima pendapat atau pandangan dari orang lain tanpa adanya kritik
terlebih dahulu. Sugesti merupakan pengaruh psikis yang datang dari dirinya
sendiri maupun orang lain. Orang akan mudah menerima sugesti dari orang lain
ketika seseorang sedang ada pada kondisi yang dilematis. Dalam hubungan
interaksi sosial, arti Imitasi dan sugesti hampir sama perbedaannya adalah dalm
imitasi seseorang mengikuti atau meniru orang lain, sedangkan pada sugesti
seseorang memberikan pandangan atau pendapat menurut dirinya dan diterima
oleh orang lain.
Yang ketiga yaitu Identifikasi, dalam psikologis identifikasi berarti dorongan
untuk menjadi identik atau dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik
secara lahir maupun batin.
Faktor yang keempat yaitu simpati, simpati yaitu perasaaan yang timbul pada
orang lain atas dasar penilaian menurut perasaan didalam dirinya.

b. Bentuk Interaksi Sosial


Ada beberapa bentuk interaksi sosial yaitu:
Kerjasama (cooperation),
Persaingan (competition), dan
Pertentangan (conflict).
Menurut Gillin dan Gillin bentuk kerjasama dibagi dalam dua proses yang
didalamnya terdapat bentuk bentuk khusus. Yang pertama yaitu proses Asosiatif
terdiri dari 2 bentuk khusus yaitu akomodasi dan asimilasi. Yang kedua yaitu
proses Disosiatif, disosiatif terdiri dari tiga bentuk khusus yaitu Persaingan
(competition), Kontravnersi (contravention), dan Pertentangan (conflict).
1. Bentuk Interaksi Asosiatif
a. Kerjasama (cooperation)

7
Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang sering terjadi
dimasyarakat pada umumnya. Kerjasama menggambarkan sebagian besar bentuk
interaksi sosial. Dan setiap bentuk interaksi sosial dapat ditemukan pada setiap
kelompok manusia. Kerjasama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap
kelompoknya atau kelompok yang lainnya.
Ada tiga bentuk kerjasama yang biasa dilaksanakan yaitu:
Bargaining, yaitu pelaksanaan kerjasama atau perjanjian antara dua organisasi atau
lebih mengenai pertukaran barang dan jasa.
Cooperation, yaitu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan atau dalam
pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk
menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi tersebut.
Coalition, yaitu kombinasi antar dua organisasi atau lebih yang mempunyai
pandangan dan tujuan yang sama.

b. Akomodasi (accomodation)
Dalam interaksi sosial, istilah akomodasi berarti suatu kenyataan adanya
keseimbangan dalam interaksi orang perorangan dan kelompok manusia
sehubungan dengan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat.
Ada beberapa bentuk akomodasi, diantaranya:
Coertion adalah bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya
suatu paksaan.
Compromise adalah salah satu bentukakomodasi dimana pihak yang terlibat
perselisihan mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap
perselisihan tersebut.
Arbitration adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak yang
berselisih tidak sanggup untuk mencapainya sendiri.
Mediation cara untuk mencapai penyelesaina dalam perselisihan dengan cara
menghadirkan orang ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.
Concilitation adalah usaha untuk mengabulkan atau mempertemukan keinginan
pihak yang berselisih agar tercapainya suatu persetujuan bersama.
Tolerantion adalah bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal. Contohnya
toleransi dalam beribadah.

8
Stelemate adalah suatu akomodasi dimana pihak pihak yang berkepentingan
mempunyai yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan
pertentangannya.
Adjudication adalah perselisihan perkara atau sengketa dipengadilan.

2. Bentuk Interaksi Disosiatif


1. Persaingan (competition)
Persaingan merupakan bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh individu
atau kelompok untuk memperoleh keuntungan tertentu baik bagi dirinya maupun
kelompoknya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang
telah ada tanpa menggunakan kekersan.
2. Kontravensi (contravention)
Kontraversi adalah rperasaaan yang menggejolak yang ada pada diri
seseorang yag ditandai oleh adanya ketidakpastian dalam diri seseorang, perasaan
tidak suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap orang lain. Tapi gejala-
gejala tersebut tidak sampai menimbulkan pertentangan atau pertikaian.
3. Pertentangan (conflict)
Pertentangan merupakan suatu bentuk interaksi individu atau kelompok sosial
yang berusaha utuk mencapai tujuannya dengan cara menentang pihak yang lain
atau pihak yang menghalangi dengan ancaman atau tindak kekerasan.
c. Sosialisasi
Sosialisasi sangat erat kaitannya terhadap manusia sebagai makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial kita harus senantiasa hidup bersosial dengan orang lain
agar dapat saling membantu, melengkapi, dan mencapai tujuan hidup kita. Menurut
Berger (Effendi, 2010:49) mendefinisika sosialisasi sebagai “a process by which a
child learns to be a participant member of society” yaitu suatu proses dimana
seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam
masyarakat. Dalam hal ini jelas dikatakan bahwa proses sosialisasi dimulai dari
sejak anak usia dini hingga usia seseorang berakhir. Proses sosialisasi terus
dilakukan selama kita masih hidup dan masih membutuhkan orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses dimana seseorang
dapat berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat yang ada disekitarnya.
Setiap makhluk hidup pasti sangat membutuhkan proses sosialisasi, baik itu
dimulai dari anak usia dini sampai dewasa bahkan sosialisasi berjalan seumur

9
hidup.apa yang terjadi jika sejak usia dini anak tidak mengalami sosialisasi ? pasti
anak tidak akan menjadi manusia seutuhnya, karenan kemampuan seseorang untuk
berperan sebagai anggota masyarakat sangat tergantung pada proses sosialisasi.
Ketika seseorang tidak mengalami sosialisasi maka yang terjadi adalah orang itu
tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Contohnya banyak ditemuakan anak
anak yang terlantar dihutan dan dibesarkan oleh hewan atau yang disekap oleh
orang tuanya sejak kecil. Mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Mereka
cenderung bagaimana berprilaku seperti hewan, mereka tidak dapat berbicara,
tidak dapat berpakaian bahkan tidak dapat tertawa atau menangis. Ketika anak-
anak itu diselamatkan dan diberi terapi seperti manusia umumnya, mereka
mungkin bisa menerima sedikit demi sedikit perubahan pada diri mereka untuk
menjadi manusia seutuhnya namun kemampuan mereka tidak akan mampu
menyamai kemampuan anak lain yang sebaya dengannya, karena kemampuan
kemampuan tertentu hanya dapat diajarkan pada periode tertentu dikehidupan
anak. Bila proses sosialisasinya terlambat, maka proses tersebut tidak akan berhasil
atau hanya berhasil untuk sebagian kecil saja. Mereka juga tidak akan menjadi
manusia seutuhnya karena mereka tidak pernah tersosialisasi secara wajar dan
mereka cenderung meninggal dengan usia muda.
Sosialisasi dilakukan oleh semua individu yang bersosial. Ada beberapa pihak
yang membantu melaksanakan sosialisasi yaitu keluarga, kelompok bermain media
massa dan sistem pendidikan. Peran agen utama yaitu orangtua merupakan peran
penting bagi anak untuk bersosialisasi. Orang tua merupaka awal dimana kita
melakukan interaksi dengan dunia pertama kita. Keluarga merupakan pendidik
yang pertama dan yang paling utama dalam hal pertumbuhan dan perkembangan
anak begitupun dengan perkembangan sosialisasi mereka. Maka orang tua
hendaknya mengoptimalkan proses sosialisasi pertama untuk anak. Kelompok
bermain juga tidak kalah pentingnya dengan orang tua. Melalui kelompok bermain
anak mulai bisa belajar bersosialisasi secara umum. Bagaimana ia berinteraksi
dengan teman sebayanya, bagaimana ia menyelesaikan suatu permasalahan dalam
berinteraksi dengan temannya dan juga bagaimana ia bisa memilih teman yang
sejalan dengannya. Agen yang ketiga yaitu media massa. Media masa sangat erat
kaitannya dengan teknologi yang makin maju dan berkembang. Media masa pun
sangat penting untuk sosialisasi dengan hal-hal yang terjadi disekitar kita.

10
2.3. Masyarakat dan Komunitas
Dalam kehidupan sebagai makluk individu dan sosial, manusia selalu
berhubungan dan tidak dapat lepas dengan masyarakat dan komunitas. Sering kali
penggunaan kedua istilah tersebut tertukar dalam penggunaannya, padahal pada
hakikatnya kedua istilah tersebut tidaklah sama. Terdapat perbedaan mendasar
antara kedua konsep tersebut, dan untuk mengetahui lebih lanjut, berikut akan
penulis sajikan beberapa devinisi masyarakat dan komunitas menurut para ahli
sebagai berikut.
a. Masyarakat
Krech, Crutchfield, dan Ballachey (Effendi,2010:59) mengemukakan
devinisi masyarakat sebagai ”a society is that it is an organized collectivity of
interacting people whose actives become centered around a set of common goals,
and who tend to share common beliefs, attitudes, and of action.” Dari devinisi
tersebut dapat ditarik kesimpulan unsur-unsur yanga ada dalam masyarakat adalah
kolektivitas interaksi manusia yang terorganisasi, kegiatannya yang terarah pada
sejumlah tujuan yang sama, memilikin kecenderungan untuk memiliki keyakinan,
sikap, dan bentuk tindakan yang sama. Dalam hal ini, interkasi dan tindakan itu
tentu saja interaksi serta tindakan sosial.
Menurut konsep di atas, karakteristik dari masyarakat itu adalah adanya
sekelompok manusia yang menunjukan perhatian bersama secara mendasar,
pemeliharaan kekekalan bersama, perwakilan menusia menurut sejenisnya yang
berhubungan satu sama lain secara berkesinambungan. Dengan demikian, relasi
manusia sebagai suatu bentuk masyarakat itu tidak terjadi dalam waktu yang
singkat, melainkan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif cukup
lama.
b. Komunitas
Komunitas merupakan bagian kelompok dari masyarakat dalam lingkup
yang lebih kecil, serta ikatan kebersamaannya yang kuat dan lebih terikat oleh
tempat.
Adapun menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto (Effendi, 2010: 62) istilah
community dapat diterjemahkan sebgai masyarakat setempat, istilah ini menunjuk
pada warga-warga sebuah desa, sebuah kota, suku atau suatu bangsa. Apabila
anggota-anggota suatu kelompok hidup bersama sedemikian rupa sehingga mereka
merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan

11
hidup yang utama, maka kelompok tadi dapat disebut masyarakat setempat. Intinya
mereka menjalin hubungan sosial.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat setempat adalah
suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan social
yang tertentu. Jadi dasar-dasr dari masyarakat setempat adalah lokalitas atau
wilayah, perasaan sepenanggungan dan hubungan sosial tertentu yang merupakan
perasaan saling ketergantungan .
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa devinisi masyarakat dengan
masyarakat setempat/komunitas. Definisi masyarakat sifatnya lebih umum dan
lebih luas, sedangkan definisi masyarakat setempat lebih terbatas dan juga dibatasi
oleh area kawasan serta sejumlah warganya. Ditinjau dari aktivitas hubungannya
dan persatuan lebih erat masyarakat setempat dibandingkan dengan masyarakat.

12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia sebagai mahluk individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara
jasmani dan rohani. Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur
tersebut menyatu dalam dirinya.
Selain sebagai makhluk individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah
satunya dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau
berinteraksi dengan orang lain yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk
menjadi pribadi yang bermakhluk sosial setiap individu dihadapkan dengan
sosialisasi, yaitu suatu proses dimana seseorang belajar menjadi seorang anggota
yang berpartisipasi dalam masyarakat.
Adapun yang dimaksud masyarakat setempat atau komunitas berbeda dengan
masyarakat. Masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedang masyarakat
setempat lebih terbatas dan juga dibatasi oleh kawasan tertentu. Namun ditinjau
dari aktivitas hubungannya dan persatuannya lebih erat pada masyarakat setempat
dibandingkan dengan masyrakat.
Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial selalu dihadapkan oleh dua
kepentingan yaitu kepentingan individu dan sosial. Persoalan pengutamaan
kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang
berkembang yaitu pandangan individualisme dan pandangan sosialisme.
Sebetulnya kedua kepentingan tersebut tidak dapat dipisahkan dan bukanlah
pilihan.

3.2 Saran
Sejalan dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.
Setiap individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial, sehingga mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti
tidak mengambil hak orang lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan
sebaliknya.
Dalam upaya pendidikan hendaknya para pendidik harus menghormati
keindividualitasan, karakteristik, keunikan dan kepribadian anak. pendidikan tidak
boleh memaksa anak untuk mengikuti dan menuruti segala kehendaknya, karena

13
dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan pengembangan yang
ditentukan oleh dirinya sendiri.
Pembentukan proses sosialisasi pada anak dalam interaksi sosial hendaknya harus
didukung oleh semua pihak. Keluarga, lingkungan masyarakat juga tenaga
pendidik harus membantu menstimulasinya.
Kesempatan berinteraksi akan sangat dibutuhkan oleh anak dalam bersosialisasi
dengan orang lain. Hendaknya kita sebagai calon guru dan calon ibu harus sadar
bahwa pemberitahuan, pemberian contoh dan pembiasaan sangat penting dan
dibutuhkan dalam bersosialisasi dengan orang lain dimasyarakat.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://wulanda46.blogspot.com/2014/02/makalah-tentang-manusia-sebagai.html
http://mranarchiy.blogspot.com/2013/12/makalah-manusia-sebagai-makhluk.html
https://azenismail.wordpress.com/2010/05/14/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-makhluk-
sosial
http://manusiabudaya.blogspot.com/2012/03/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan.html

15