Anda di halaman 1dari 4

Novdaly Fillamenta

Tugas Matakuliah Ekosistem Lahan Basah


Dosen pengampu: Dr. M. Rasyid Ridho, M.Si

Tujuan konsep zonasi makro adalah menjaga adanya kegiatan di daerah


konservasi (pemukiman, pertanian, perikanan, konsesi, HP, HPT, HPK, dan APL)
agar tidak mengganggu ekosistem gambut atau ekosistem berharga lainnya.

Konversi atau perubahan kawasan hutan adalah suatu proses perubahan


terhadap suatu kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan hutan atau menjadi
kawasan hutan dengan fungsi hutan lainnya. Namun yang lebih difokuskan dalam
dokumen ini adalah perubahan kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan
hutan atau disebut dengan ”perubahan status kawasan”. Fokus ini diberikan, karena
dokumen ini pada intinya terkait dengan perumusan kebijakan untuk distribusi
tanah negara yang salah satunya adalah memanfaatkan kawasan hutan yang dapat
dikonversi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara
Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, jenis-jenis hutan produksi
meliputi hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan produksi yang dapat
dikonversi.

1. Hutan Produksi Terbatas (HPT)

Hutan Produksi Terbatas merupakan kawasan hutan dengan faktor kelas lereng,
jenis tanah dan intensitas hutan tertentu sehingga memiliki skor 125 sampai 174 di
luar kawasan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan taman
buru. Eksploitasi kayu di Hutan Produksi Terbatas ini tidak dapat dilakukan dalam
intensitas tinggi atau skala besar karena pada umumnya terdapat pada daerah
pegunungan yang kondisi topografinya curam. Eksploitasi yang dilakukan juga
harus menerapakan teknik tebang pilih.
2. Hutan Produksi Tetap (HP)

Hutan Produksi Tetap merupakan kawasan hutan dengan faktor kelas lereng, jenis
tanah dan intensitas hutan tertentu sehingga memiliki skor di bawah 125 di luar
kawasan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan taman
buru.Hutan Produksi Tetap dapat dieksploitasi secara menyeluruh dengan
menggunakan teknik tebang habis maupun tebang pilih. Kawasan Hutan Produksi
Tetap memiliki kondisi topografi yang cenderung landai, tanah rendah erosi, dan
curah hujan kecil.

3. Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK)

Hutan Produksi yang dapat Dikonversi merupakan kawasan Hutan Produksi yang
tidak produktif dan produktif yang secara ruang dapat dicadangkan untuk
pembangunan di luar kegiatan kehutanan atau dapat dijadikan lahan pengganti
tukar menukar kawasan hutan.

4. Areal Penggunaan Lain (APL)

Di APL terdapat hutan primer (1.306,4 ribu ha) dan lahan gambut (3.720 ha).
Kedua lokasi tersebut menjadi prioritas untuk dilakukan land swap karena
berpotensi menjadi pengganti peran fungsi hutan dan kawasan hutan yang telah
terdegradasi. Hutan primer dan lahan gambut di APL menyimpan kekayaan
biodiversiras tinggi dan cadangan karbon tinggi. Dikhawarirkan kawasan
tersebut scwaktu-waktu bisa berubah atas dalih kebutuhan manusia akan Iahan.
Beberapa provinsi yang berpotcnsi untuk dilakukannya land swap adalah:
Kalimantan Tirnur, Nusa Tcnggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah
dan jawa Tirnur.
Konversi atau perubahan kawasan hutan adalah suatu proses perubahan
terhadap suatu kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan hutan atau menjadi
kawasan hutan dengan fungsi hutan lainnya. Namun yang lebih difokuskan dalam
dokumen ini adalah perubahan kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan
hutan atau disebut dengan ”perubahan status kawasan”. Fokus ini diberikan, karena
dokumen ini pada intinya terkait dengan perumusan kebijakan untuk distribusi
tanah negara yang salah satunya adalah memanfaatkan kawasan hutan yang dapat
dikonversi.
Berdasarkan PP No 47 tahun 1997 tentang RTRW Nasional dan PP No 44
tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan ditegaskan bahwa kawasan hutan
merupakan bagian dari tata ruang nasional yang wilayahnya dikuasai oleh negara (Ali
Djajono, 2007). Kawasan hutan dibagi ke dalam dua bagian wilayah sesuai fungsinya,
yaitu kawasan hutan yang berfungsi lindung, yaitu Hutan Lindung (HL), kawasan
pelestarian alam yang meliputi Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya
(Tahura), dan Taman Wisata Aalam (TWA); Kawasan Suaka Alam yang meliputi
Cagar Alam (CA), Suaka Margasatwa (SM) dan Taman Buru. Selanjutnya adalah
Kawasan hutan yang berfungsi budi daya, yaitu hutan prouksi yang meliputi
Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan
Produksi Yang Dapat Dikonversi (HPK).
Sesuai dengan UU 41/1999 yang disebut dengan Hutan Produksi
adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.
Selanjutnya yang disebut dengan Hutan Produksi Terbatas adalah hutan alam
produksi yang karena faktor topografi, kepekaan jenis tanah dan iklim sehingga
pemanfaatan hasil hutan kayunya dibatasi berdasarkan limit diameter tebang
sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Kepmenhut 88/kpts-II/2003. Sedangkan
Hutan Produksi Konversi (HPK) adalah kawasan hutan produksi yang dapat diubah
untuk kepentingan usaha perkebunan dan tidak dipertahankan sebagai hutan
tetap (Kepmenhut 146/Kpts- II/2003).

Luas kawasan hutan di Indonesia menurut catatan Direkrur lnventarisasi


Sumber Daya Hutan (2013) adalah 124,02 juta hektar, sekitar 71,21%
merupakan areal berhutan dan 28.78% lainnya areal tidak berhutan. Sernentara luas
lahan Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 63.89 juta hektar, sebesar 13% di
antaranya masih berhutan. Data rersebut memperlihatkan ada kawasan hutan yang
tidak lagi berhutan dan sebaliknya terdapat lahan APL yang masih berhuran,
sehingga muncul pcmikiran untuk melakukan land swap..