Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH ANTROPOLOGI DAN HUBUNGAN

ANTROPOLOGI DENGAN ILMU LAINNY

Disusun
Oleh :

Andayani Saputri
15172012

JURUSAN S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ABULYATAMA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas Kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini membahas tentang Antropologi dengan hubungan antropologi dengan
ilmu lainnya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan
tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu penulis
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpa dari Tuhan
yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
menyempurnakan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan mamfaat pada kita semua.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………….......................... i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………...........................ii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………….............................iii

1. Latar Belakang……....………………………………………………………………....................1

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………...............................iv

1. Sejarah Antropologi.......................…………………………………………..............................2
2. Hubungan Antropologi dengan Sosiologi……………………………………............................3
3. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Hukum………………………………..............................4
4. Hubungan Antropologi dengan Psikologi.............………………………….............................5
5. Hubungan Antropologi dengan Ekologi.................................................................................6
6. Hubungan Antropologi dengan Biologi dan Ilmu Hukum.......................................................7

BAB III PENUTUP………………………………………………………………….............................v

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Manusia adalah makhluk sosial, artinya dalam hidupnya, manusia memerlukan


kerjasama dengan orang lain. Sejak manusia lahir ke dunia mereka membutuhkan bantuan
dan hubungan orang lain agar mereka dapat tetap hidup (survival). Hal ini berbeda dengan
beberapa makhluk lain yang dikaruniai kemampuan untuk terus hidup walaupun tanpa
bantuan induknya. Manusia dalam hidup di masyarakat diharapkan memiliki keterampilan
dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam hidupnya, seperti: memudahkan dalam
mencari pekerjaan, berinteraksi dengan manusia lain, dan memiliki wawasan budaya lokal
daerah setempat agar tidak punah. Dalam berinteraksi di masyarakat, manusia dipengaruhi
oleh nilai, aturan (norma), budaya, serta kondisi geografisnya terhadap perubahan
perilakunya.
Pada hakekatnya pendidikan merupakan proses transformasi nilai dan
kebudayaan dari generasi satu kepada generasi berikutnya, karena itu proses pendidikan akan
terkait erat dengan latar belakang budaya tempat proses pendidikan berlangsung. (D. M.
Brooks: 1988). Dengan demikian fungsi pendidikan sangat penting dalam melestarikan
budaya dan menjadikan manusia berperilaku sesuai dengan nilai, norma, dan budaya lokal,
sehingga manusia masih memiliki wawasan budaya setempat tanpa harus melupakan budaya
aslinya. Secara tidak langsung pendidikan berbasis budaya lokal akan mempengaruhi pola
pikir dan membentuk manusia seutuhnya.
Praktik di lapangan, bahwa kurikulum pendidikan mencerminkan sentralisasi.
Sentralisasi kurikulum pendidikan merupakan cerminan akan kurangnya penghayatan
pentingnya landasan antropologi dalam pendidikan secara mendalam, khususnya kurikulum
ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Disatu pihak, setralisasi kurikulum akan memudahkan
pembakuan proses belajar, namun tanpa memperhatikan latar belakang budaya daerah,
keluaran pendidikan tersebut tidak akan terserap kembali ke dalam masyarakat. Adanya
kebijakan dan upaya pengembangan kurikulum sekolah merupakan salah satu perwujudan
akan pentingnya tinjauan latar sosial antropologi dalam pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penyusun akan membahas secara lengkap tentang
landasan antropologi dalam pendidikan di masa yang terdahulu sampai saat ini. Tujuannya
agar pendidikan di Indonesia tetap memahami keanekaragaman budaya setempat dan tidak
menghilangkan nilai luhur, norma, serta etika dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah Antropologi
Antropologi adalah ilmu tentang manusia, masa lalu dan kini, yang menggambarkan
manusia melalui pengetahuan ilmu sosial dan ilmu hayati (alam), dan juga humaniora.
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia"
atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal") atau
secara etimologis antropologi berarti ilmu yang memelajari manusia.
Antropologi bertujuan untuk lebih memahami dan mengapresiasi manusia sebagai
spesies homo sapiens dan makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan
komprehensif. Oleh karena itu, antropologi menggunakan teori evolusi biologi dalam
memberikan arti dan fakta sejarah dalam menjelaskan perjalanan umat manusia di bumi sejak
awal kemunculannya. Antropologi juga menggunakan kajian lintas-budaya (Inggris cross-
cultural) dalam menekankan dan menjelaskan perbedaan antara kelompok-kelompok
manusia dalam perspektif material budaya, perilaku sosial, bahasa, dan pandangan hidup
(worldview).
Dengan orientasinya yang holistik, antropologi dibagi menjadi empat cabang ilmu
yang saling berkaitan, yaitu: antropologi biologi, antropologi sosial budaya, arkeologi, dan
linguistik. Keempat cabang tersebut memiliki kajian-kajian konsentrasi tersendiri dalam
kekhususan akademik dan penelitian ilmiah, dengan topik yang unik dan metode penelitian
yang berbeda.
Antropologi lahir atau berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa pada ciri-ciri fisik,
adat istiadat, dan budaya etnis-etnis lain yang berbeda dari masyarakat yang dikenal di Eropa.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal
dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, memiliki ciri fisik dan bahasa
yang digunakan
2. Hubungan Antropologi dengan Sosiologi
Sosiologi berkembang dari filsafat, masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.
Sedangkan antropologi bermula dari sejarah perkembangan budaya maupun masyarakatnya.
Antropologi melihat masyarakat pedesaan. Sebaliknya, sosiologi melihat masyarakat
perkotaan sebagai objek ilmunya. Antropologi dan sosiologi memiliki tujuan yang sama,
yaitu untuk mencapai pengertian tentang asas-asas hidup masyarakat dan kebudayaan
manusia pada umumnya.
Dilihat dari metode ilmiah, antropologi menggunakan metode kualitatif. Sedangkan
sosiologi menggunakan metode kuantitatif, karena sosiologi berdasarkan pada metode
pengolahan bahan dan analisis berdasarkan perhitungan dalam jumlah besar. Antropologi
menggunakan metode kualitatif karena antropologi menggunakan observasi, wawancara
mendalam, serta menjadi bagian dari lapangan yang akan diteliti dalam pengolahan dan
pengumpulan datanya karena antropologi memerlukan pemahaman yang mendalam.

3.Hubungan Antropologi dengan Ilmu Hukum

Dalam perspektif antropologi hukum, hukum lahir dari kebudayaan. Melihat hal
tersebut di atas tentunya menyadarkan kepada kita akan peran Antropologi Hukum sebagai
sebuah perspektif untuk melihat berbagai macam corak hukum yang lahir dan berkembang
pula dari berbagai corak dan ragam kebudayaan. Mempelajari Antropologi Hukum berarti
kita melihat sebuah realitas, kenyataan atas kehidupan hukum yang sesungguhnya yang
berjalan di masyarakat.

Hal ini karena para ahli antropologi mempelajari hukum bukan semata-semata sebagai
produk dari hasil abstraksi logika sekelompok orang yang diformulasikan dalam bentuk
peraturan perundang-undangan semata, tetapi lebih mempelajari hukum sebagai perilaku dan
proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat.Hukum dalam perspektif
antropologi dipelajari sebagai bagian yang integral dari kebudayaan secara keseluruhan, dan
karena itu hukum dipelajari sebagai produk dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh aspek-
aspek kebudayaan yang lain, seperti politik, ekonomi, ideologi, religi,struktur sosial, dll.

Satu hal yang dapat kita ambil dari antropologi hukum, adalah diharapkan dapat
memunculkan kesadaran atas kenyataan adanya keberagaman hukum karena beragamnya
budaya. Beragamnya hukum tersebut jangan dimaknakan sebagai pertentangan hukum
(conflict of laws), tetapi patut dianggap sebagai khazanah kekayaan hukum yang akan
mampu memperkuat serta memperbaharui hukum nasional. Di sisi lain akibatnya adalah
memunculkan sikap toleransi untuk menghargai umat manusia yang beragam pola fikir,
karakter, pemahaman, dan tentunya juga beragam hukum.
4. Hubungan Antropologi dengan Psikologi

Psikologi berasal dari bahasa Yunani : psyche yang berarti jiwa dan logosyang berarti
ilmu. Secara umum psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit
didefinisikan karena jiwa itu bersifat abstrak.

Hubungan antara Antropologi dengan Psikologi

Hubungan ini terjadi karena dalam psikologi pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia
dan proses-proses perkembangan mentalnya. Dengan demikian, psikologi membahas faktor-
faktor penyebab perilaku manusia dari dalam (secara internal), seperti minat, motivasi, sikap,
konsep diri, dan lain-lain. Sedangkan dalam antropologi, khususnya antropologi budaya lebih
bersifat faktor eksternal (luar), yaitu lingkungan fisik, lingkungan keluarga, dan lingkungan
sosial dalam arti luas.Jadi menurut saya, hal yang berkaitan dengan psikologi dan antropologi
adalah keadaan manusia dan perilakunya. Antropologi mengamati dan mempelajari manusia
dan lingkungan (pendekatan eksternal), sedangkan psikologi mengamati serta mempelajari
perilaku manusia

5.Hubungan Antropologi dengan Ekologi

Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan


banyak metode untuk mempelajari satu hal yang kita tak bisa tinggal tanpa itu. Antropologi
ialah tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita dipengaruhi lingkungan kita, ekologi ialah
tentang bagaimana lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran kita.
Beberapa orang berpikir mereka hanya seorang ilmuwan, namun paradigma
mekanistik bersikeras meletakkan subyek manusia dalam kontrol objek ekologi — masalah
subyek-obyek. Namun dalam psikologi evolusioner atau psikoneuroimunologi misalnya jelas
jika kemampuan manusia dan tantangan ekonomi berkembang bersama. Dengan baik
ditetapkan Antoine de Saint-Exupery: "Bumi mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita
daripada seluruh buku. Karena itu menolak kita. Manusia menemukan dirinya sendiri saat ia
membandingkan dirinya terhadap hambatan.
6.Hubungan Antropologi dengan Biologi dan Ilmu Alam
Antropologi Biologi atau juga disebut Antropologi Fisik merupakan cabang ilmu
antropologi yang memelajari manusia dan primata bukan manusia (non-human primates)
dalam arti biologis, evolusi, dan demografi. Antropologi Biologi/Fisik memfokuskan pada
faktor biologis dan sosial yang memengaruhi (atau yang menentukan) evolusi manusia dan
primata lainnya, yang menghasilkan, mempertahankan, atau merubah variasi genetik dan
fisiologisnya pada saat ini.
Antropologi Biologi dibagi lagi menjadi beberapa cabang ilmu, diantaranya yaitu:
 Paleoantropologi adalah ilmu yang memelajari asal usul manusia dan evolusi manusia
melalui bukti fosil-fosil.
 Somatologi adalah ilmu yang memelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-
ciri fisik.
 Bioarkeologi adalah ilmu tentang kebudayaan manusia yang lampau dengan melalui analisis
sisa-sisa (tulang) manusia yang biasa ditemukan dalam situs-situs arkeologi.
 Ekologi Manusia adalah studi tentang perilaku adaptasi manusia pada lingkungannya
(mengumpulkan makanan, reproduksi, ontogeni) dengan perspektif ekologis dan evolusi.
Studi ekologi manusia juga disebut dengan studi adaptasi manusia, atau studi tentang respon
adaptif manusia (perkembangan fisik, fisiologi, dan genetik) pada tekanan lingkungan dan
variasinya.
 Paleopatologi adalah studi penyakit pada masa purba (kuno). Studi ini tidak hanya berfokus
pada kondisi patogen yang diamati pada tulang atau sisa-sisa jaringan (misalnya pada mumi),
tetapi juga pada gangguan gizi, variasi morfologi tulang, atau juga bukti-bukti stres pada
fisik.
 Antropometri adalah ilmu yang memelajari dan mengukur variasi fisik manusia.
Antropometri pada awalnya digunakan sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi sisa-sisa
fosil kerangka manusia purba atau hominid dalam rangka memahami variasi fisik manusia.
Pada saat ini, antropometri berperan penting dalam desain industri, desain pakaian, desain
industrial ergonomis, dan arsitektur di mana data statistik tentang distribusi dimensi tubuh
dalam populasi digunakan untuk mengoptimalkan produk yang akan digunakan konsumen.
 Osteologi/osteometri adalah ilmu tentang tulang yang memelajari struktur tulang, elemen-
elemen pada kerangka, gigi, morfologi mikrotulang, fungsi, penyakit, patologi, dsb.
Osteologi digunakan dalam menganalisis dan mengidentifikasi sisa-sisa tulang (baik
kerangka utuh mau pun yang telah menjadi serpihan) untuk menentukan jenis kelamin, umur,
pertumbuhan dan perkembangannya, sebab kematian, dan lain sebagainya dalam konteks
biokultural.
 Primatologi adalah ilmu tentang primata bukan manusia (non-human primates). Primatologi
mengkaji perilaku, morfologi, dan genetik primata yang berpusat pada homologi dan analogi
dalam mengambil kesimpulan kenapa dan bagaimana ciri-ciri manusia berkembang dalam
primata.
BAB III
PENUTUP

Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara
lebih banyak. Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman suku
bangsa dan budaya yang mempunyai keunikannya masing-masing. Pendidikan dapat
merubah kebudayaan yang buruk dan mempertahankan kebudayaan yang baik pada peserta
didik. Oleh karena itu untuk memahami dan menghargai siswa dengan keanekaragaman yang
dimilikinya diperlukan landasan antropologi dalam pengembangan kurikulum pendidikan di
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Coleman, Simon dan Helen Watson, Pengantar Antropologi (Jakarta: Nuansa, 2005)

http://www.kompasiana.com/wildan_habibulloh/fase-fase-perkembangan-
antropologi_54f80387a33311b8048b470f

Fedyani, Achmad Saifudin, Ph.D, Antropologi Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2006)

Koentjaraningrat, Pengantar ilmu Antropologi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1

990)

Boas, F, Primitive art (New York: Dover, 1927)

Nash, M, Primitive and PeasentEconomic System (San Fransisco: Chandler Publishing


Company, 1966
http://www.psychologymania.net/2010/04/sejarah-perkembangan-antropologi.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi

https://audirayatiputri.wordpress.com/2013/01/09/hubungan-antropologi-dengan-
psikologi/

http://dauztech.blogspot.co.id/2013/12/hubungan-antropologi-dan-ilmu-hukum.html

T.O Ihromi/E.K.M. Masinambow, Hukum dan Kemajemukan Budaya, Jakarta: Yayasan


Obor Indonesia, 2003. Hlm. 1.

https://jojorlamrias.wordpress.com/2013/10/05/hubungan-antropologi-dengan-ilmu-ilmu-lain/