Anda di halaman 1dari 17

STUDI EVALUASI PENGGUNAAN RELAI STATIK JENIS ALSTOM

TYPE MBCH 12 PADA GARDU INDUK SUNGGUMINASA

Karlina (D411 08 878)


Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

Abstrak kapasitas suplai sistem kelistrikan.


Perkembangan kebutuhan tenaga kelistrikan
Salah satu cara untuk meningkatkan dan dewasa ini mengalami perkembangan yang
mengoptimalkan pelayanan energi listrik ke sangat besar. Tentu dalam hal ini
pelanggan dengan mutu dan keandalan yang memerlukan sebuah peralatan proteksi yang
baik dibutuhkan peralatan penunjang yang baik memiliki keandalan yang tinggi.
yaitu relai proteksi yang meminimalkan Perkembangan relai proteksi sudah sangat
kerusakan yang lebih besar dan menghindari pesat khususnya pada peralatan yang
pemadaman yang luas. Relai statik MBCH 12 digunakan pada gardu induk misalkan pada
merupakan salah satu aplikasi dari relai transformator daya, feeder distribusi dan
diffrensial yang bekerja sebagai proteksi utama beberapa peralatan lainnya yang ada di
transformator 2 belitan yang berfungsi gardu induk.
melindungi transformator daya dari gangguan Telah banyak peralatan yang bekerja
internal seperti adanya hubung singkat yang secara otomatis yang mengendalikan sebuah
bersumber dari transfotmator daya tersebut. relai proteksi tetapi keandalannya masih
Pada tugas akhir ini akan membahas diragukan terutama dalam melakukan proses
evaluasi cara kerja dan penyettingan dari MBCH pemutusan saat terjadi gangguan.
12. Untuk cara kerja dari MBCH 12 yang Kebanyakan pendapat yang keberatan
merupakan salah satu aplikasi dari relai terhadap penggunaan peralatan proteksi
differensial yang hanya mengatasi gangguan yang bekerja otomatis tidaklah berlebihan,
yang terjadi dalam transformator saja dan untuk karena mungkin peralatan otomatis bekerja
gangguan yang bersumber dari luar memutuskan beban pada peralatan tidak
transformator, relai ini tidak bekerja. Untuk sesuai yang kita kehendaki, dimana semakin
setting dari MBCH 12 dimulai dari pemilihan banyak kontak-kontak yang digunakan,
CT, Tap ACT, dan slope. Dari hasil penelitian semakin besar pula kemungkinan kesalahan
secara teori CT yang digunakan 120/5 A dan yang dilakukan dimana relai bekerja tidak
1000/5 A sehingga dipilih Tap ACT 32 dan 34 sesuai dengan yang dikehendaki.
dengan keadaan hubung Δ. Sedangkan untuk Jenis relaipun juga ikut berkembang
slope didapatkan nilai 6.36%. Sedangkan yang dimana pada awalnya jenis relai berupa
diperoleh dilapangan, setting dari MBCH 12 elektromekanik berkembang menjadi relai
dipilih 0.3 x In dengan kondisi slope sebesar statik dan sekarang lebih berkembang lagi
48,33%. menjadi relai numerik. Relai statik relai
Kata kunci : Transformator, MBCH 12, CT, listrik yang responya dibentuk oleh atau
ACT, slope. secara elektronik/ magnetik/ optik tanpa
adanya komponen yang bergerak (statik).
BAB I PENDAHULUAN Relai Alstom tipe MBCH 12 merupakan
jenis relai yang tergolong relai statik yang
1.1 Latar Belakang dikategorikan unrestricted relay atau relai
Seiring dengan bertambahnya jumlah yang kerjanya terbatas yang digunakan pada
penduduk, perkembangan zaman dan transformator daya ataupun pada generator.
teknologi,maka seiring pula permintaan Pada tugas akhir ini kami akan melakukan
tenaga listrik akan terus meningkat, hal ini analisis tentang keandalan sistem kelistrikan
dialami oleh seluruh daerah di Indonesia yang menggunakan relai jenis ini pada suatu
baik yang sudah maju maupun yang sedang gardu induk yang berkapasitas besar dan
berkembang. Meningkatnya permintaan prinsip kerja relai statik dan pengaturan relai
tenaga listrik ini tentu saja harus diiringi ini pada Gardu Induk Sungguminasa.
dengan meningkatnya jaminan tingkat
ketersediaan daya. Usaha untuk 1.2 Rumusan Masalah
meningkatkan jaminan ketersediaan daya ini Adapun rumusan masalah dalam
sendiri dapat dilakukan dengan menambah tugas akhir ini yaitu :
a. Bagaimana kondisi keandalan sistem pustaka atau informasi lainnya yang
proteksi gardu induk yang menggunakan terkait dengan materi yang dibahas
relai statik jenis Alstom tipe MBCH 12 dalam tulisan ini.
pada Gardu Induk Sungguminasa.
b. Bagaimana pengaturan relai statik jenis 1.6 Sistematika Penulisan
Alstom tipe MBCH 12 pada Gardu Sistematika penulisan tugas akhir ini
Induk Sungguminasa. terbagi dalam 5 bab. Pembagian bab tersebut
adalah sebagai berikut :
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai BAB I : PENDAHULUAN
dalam tugas akhir ini adalah : BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
a. Untuk menganalisis cara kerja Relai BAB III : GAMBARAN UMUM GARDU
statik jenis Alstom tipe MBCH 12 pada INDUK
Gardu Induk Sungguminasa. SUNGGUMINASA
b. Untuk menganalisis setting Relai statik BAB 4 : ANALISIS PENGATURAN
jenis Alstom tipe MBCH 12. RELAI STATIK
JENIS ALSTOM
1.4 Batasan Masalah TIPE MBCH 12 DAN
Untuk menyederhanakan analisis dan PEMBAHASAN
perhitungan, maka dalam penulisan BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
penelitian di berikan batasan masalah antara
lain : BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Kerja Relai statik jenis Alstom tipe
MBCH 12 pada sistem proteksi di area 2. 1. Pengertian Gardu Induk
Gardu Induk Sungguminasa. Gardu induk adalah suatu instalasi listrik yang
2. Peralatan tegangan tinggi pada Gardu terdiri dari peralatan - peralatan listrik yang
Induk Sungguminasa yang merupakan titik hubung antara beberapa bagian
menggunakan Relai statik jenis Alstom dari sistem tenaga listrik
tipe MBCH 12 seperti transformator 2. 2. Klasifikasi Gardu Induk
daya pada Gardu Induk Sungguminasa. Klasifikasi gardu induk
3. Analisis pengaturan relai statik jenis digolongkan dalam :
Alstom tipe MBCH 12 pada Gardu 2.2.1. Keberadaan jenis pemasangan pada
Induk Sungguminasa. gardu induk
1. Gardu induk jenis pemasangan luar
1.5 Metode Penelitian terdiri dari peralatan – peralatan
Metode penelitian yang digunakan tegangan tinggi pasangan luar.
dalam penyusunan tugas akhir ini antara lain : 2. Gardu induk jenis pesangan dalam,
a. Metode Pengambilan Data baik peralatan penghubung dan
Metode pengambilan data dilakukan sebagainya, maupun peralatan
dengan pengambilan data secara kontrolnya, yang terpasang di
langsung dan melalui dalam.
wawancara/diskusi dengan pihak 3. Gardu induk jenis setengah
praktisi. pasangan luar, sebagian dari
b. Metode Analisis Data peralatan tegangan tingginya
Metode analisis data yaitu dengan terpasang didalam gedung.
menganalisis dan menghitung 4. Gardu induk jenis pasangan bawah
perhitungan yang terkait dengan tujuan tanah, hampir semua peralatan
penelitian. yang terpasang dalam bangunan
c. Studi Literatur bawah tanah.
Studi literatur yaitu mengadakan studi
dari buku, internet dan sumber bahan
5. Gardu induk jenis mobil dilengkapi untuk menyalurkan tenaga listrik dari
dengan peralatan diatas kereta hela tegangan tinggi ke tegangan rendah /
(trailer) atau semacam truk.. menengah atau sebaliknya (step up atau
step down). Transformator tenaga pada
2.2.2. Klasifikasi berdasarkan fungsi gardu umumnya terdiri dari 3 bagian,
induk yaitu:Bagian utama, Peralatan bantu,
Berdasarkan tujuan pengadaannya, Peralatan pengaman.
maka gardu induk dapat dibedakan atas :
1. Step Up Substation.
2. Secondary Substation.
3. Distribution Substation.
4. Primer Grid Substation
5. Bulk Supply and Industrial Substation.
6. Mining Substation.
7. Mobile substation.

2. 3 Peralatan Tenaga Listrik Pada Gardu


Induk
Gardu induk merupakan instalasi yang
terdiri dari berbagai macam peralatan Gambar 2.2 Transformator daya pada gardu
tenaga listrik antara lain: induk
1. Saluran Transmisi / Saluran Udara 4. Pemutus Tenaga (PMT) / Circuit Breaker
Tegangan Tinggi (SUTT) (CB)
Saluran transmisi / Saluran Udara Pemutus tenaga (PMT) adalah
Tegangan Tinggi (SUTT) adalah sarana saklar yang dapat digunakan untuk
diatas tanah (overhead line) yang menghubungkan atau memutuskan arus /
berfungsi untuk menyalurkan tenaga daya listrik, baik pada kondisi kerja
listrik dari pusat pembangkit ke gardu normal maupun pada saat terjadi
induk atau dari gardu induk ke gardu gangguan (fault), sesuai dengan
induk lainnya, (30 kV, 70 kV, 150 kV). kemampuannya (rated).

Gambar 2.1. Saluran transmisi gardu induk


2. Rel Daya (busbar)
Busbar berfungsi sebagai titik
pertemuan / hubungan transformator – Gambar 2.3 PMT menggunakan gas SF6
transformator tenaga, SUTT, SKTT, dan Berdasarkan media pemadam busur api
peralatan listrik lainnya untuk menerima tersebut, PMT dapat dibedakan menjadi 3
dan menyalurkan tenaga listrik. macam yaitu:
3. Transformator Daya (Power Transformer) PMT dengan media minyak ,PMT dengan
Transformator tenaga adalah suatu media udara, dan PMT hampa udara
peralatan tenaga listrik yang berfungsi
(vacuum circuit breaker), PMT dengan
media gas.
5. Transformator Arus / Current
Transformers (CT) Gambar 2.5 Potential Transformers
Transformator arus (CT) merupakan Relay proteksi yang menggunakan
jenis transformator yang digunakan untuk tegangan sekunder potensial transformator
memperkecil atau menurunkan besaran antara lain:
arus dari sisi primer (tegangan tinggi / a. Distance relay
menengah) ke sisi sekunder (tegangan b. Synchron relay
rendah), sesuai dengan range peralatan c. Directinal relay
yang dipasangkan. d. Frequency relay
e. Voltage relay
7. Relay dan Control Panel

Gambar 2.4 Current transformers


Relai proteksi yang menggunakan
arus sekunder dari transformator arus
(CT) antara lain:
a. Distance relay
b. Synchron relay
c. Directional relay
d. Differential relay Gambar 2.6 Relai dan kontrol panel.
e. Restricted earth fault relay 8. Baterai (Battery)
f. Standby earth fault Baterai (battery) adalah suatu alat
g. Overload relay / Overcurrent yang menghasilkan sumber tenaga listrik
relay. arus searah (DC) dari hasil proses kimia
class untuk keperluan relay proteksi yang terdiri dari cairan elektrolit.
antara lain: 5p, 10p dan sebagainya.
CT mempunyai batas kemampuan
yang disebut CT burdendalam satuan VA
(volt Ampere) antara lain: 150 VA, 30 VA
dan sebagainya.
6. Transformator Tegangan / Potential
Transformers (PT) Gambar 2.7 Batterai.
Transformator tegangan (PT) Pada gardu induk, baterai berfungsi
merupakan jenis transformator yang sebagai, Sumber tenaga untuk alat
digunakan untuk memperkecil atau kontrol, pengawasan, tanda – tanda isyarat
menurunkan besaran tegangan dari sisi (signaling and alarm),Sumber tenaga
primer (tegangan tinggi / menengah) ke sisi motor – motor untuk PMT, PMS, tap
sekunder (tegangan rendah), sesuai dengan changer transformator tenaga, dsb,
range peralatan yang dipasang pada sisi Sumber tenaga untuk penerangan darurat.
sekundernya. Sumber tenaga untuk relai proteksi,
Sumber tenaga untuk peralatan
telekomunikasi.
2. 4 Gangguan (fault) Pada Transformator Pada sistem tenaga listrik, relai
Daya proteksi dapat berfungsi untuk:
Gangguan yang terjadi pada a. Merasakan, mengukur dan
transformator tenaga (transformer) dapat menentukan bagian sistem yang
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: terganggu serta memisahkan
1. Internal fault, secapatnya sehingga sistem lainnya
Jenis – jenis internal fault antara lain: yang tidak terganggu dapat
a. Incient fault. beroperasi secara normal.
b. Active fault. b. Mengurangi pengaruh gangguan
2. Through fault, terhadap bagian sistem yang lain dan
dapat diklasifikasikan sebagai tidak terganggu di dalam sistem
berikut: tersebut serta mencegah meluasnya
a. Gangguan di luar (external fault). gangguan.
b. Beban lebih (overload). c. Mengurangi kerusakan yang lebih
2. 5 Keandalan Sistem Tenaga Listrik parah dari perlatan yang terganggu.
Keandalan (reliability) merupakan d. Memperkecil bahaya bagi manusia.
peluang komponen memenuhi fungsinya Maka dari itu relai proteksi
dalam beberapa periode yang diberikan berperan sebagai:
selama kondisi beroperasi. a. Memberikan sinyal alarm atau
2. 6 Relai Proteksi melepas pemutus tenaga (circuit
2. 6. 1 Definisi Relai Proteksi breaker).
Relai proteksi adalah susunan b. Melepas / mentripkan pada PMT jika
peralatan yang direncanakan untuk dapat terdeteksi adanya peralatan yang
mendeteksi adanya kondisi abnormal pada berfungsi abnormal untuk mencegah
peralatan atau bagian sistem tenaga listrik timbulnya kerusakan.
dan segera secara otomatis membuka c. Melepas / mentripkan peralatan yang
pemutus tenaga (PMT) untuk memisahkan mengalami gangguan secara cepat
peralatan atau bagian dari sistem tenaga dengan tujuan mengurangi kerusakan
listrik yang terganggu dan memberi yang lebih besar.
isyarat berupa lampu dan bel (alarm). d. Melokalisir kemungkinan dampak
Relai proteksi dapat merasakan akibat gangguan dengan memisahkan
adanya gangguan pada peralatan yang peralatan yang terganggu dari sistem.
diamankan dengan mengukur atau e. Melepaskan peralatan atau bagian
membandingkan besaran – besaran yang yang terganggu secara cepat dengan
diterimanya, misalnya arus, tegangan, maksud menjaga stabilitas sistem,
daya, sudut fasa, frekuensi, impedansi dan kontinutas pelayanan dan unjuk kerja
sebagainya. Dengan besaran yang telah peralatan.
ditentukan, kemudian mengambil Untuk dapat melaksanakan fungsi
keputusan untuk seketika ataupun dengan tersebut, maka relai proteksi harus
perlambatan waktu mengirimkan tanda memenuhi beberapa persyaratan sebagai
kepada pemutus tenaga (PMT). berikut:
Berdasarkan uraian di atas, relai 1. Dapat diandalkan (reability)
proteksi dapat dibagi menjadi 3 elemen Relai proteksi setiap saat harus
dasar antara lain adalah: dapat berfungsi dengan baik dan
a. Elemen sensor (sensing element) betul pada setiap kondisi gangguan
b. Elemen pembanding (comparison yang telah direncanakan untuk relai
element. proteksi tersebut.
c. Elemen pemutus (control element). 2. Selektif (selectivity or descriminating
2.6.2 Fungsi dan Peranan Relai Proteksi action)
Serta Persyaratannya Relai proteksi harus mampu
menentukan dimana gangguan terjadi
dan memilih pemutus tenaga (PMT) Namun demikian relai proteksi harus
terdekat mana yang akan bekerja stabil, artinya
yang mampu membebaskan sistem a. Relai harus dapat membedakan
yang sehat dari gangguan dengan antara arus gangguan atau arus
kerusakan sekecil mungkin. beban maksimum.
b. Relai tidak boleh bekerja karena
Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: adanya arus inrush, yang besarnya
seperti arus gangguan yaitu 3
sampai 5 kali arus beban
maksimum, yaitu pada saat
F
1
pemasukan transformator daya atau
P
√ √ motor induksi.
M PMT
T c. Relai harus dapat membedakan
A2 antara adanya gangguan atau
A1
ayunan beban.
Transmission 5. Ekonomis
line zone Dalam usaha mendapatkan
P √ √
P
M M perencanaan teknik relai proteksi yang
T T baik, faktor biaya memegang peranan
B1 B2F penting.
2 2.6.3 Relay Contact System
Transform
er zone Terdapat dua macam sistem kontak
relai proteksi, antara lain:
Gambar 2.8 Single Line Diagram Selectivity a. Self – reset
Protection Relay. b. Hand or electrical reset
Jika gangguan terjadi pada titik F1
(Gambar 2.8), maka PMT A1 dan A2 yang Sebagian besar elemen relai proteksi
akan bekerja. Sedangkan jika gangguan yang mempunyai sistem kontak self – reset, jika
terjadi pada F2, maka PMT B1 dan B2 akan diperlukan dapat diberikan kontak output
bekerja. hand reset melalui elemen – elemen
3. Kecepatan (quickness of action) pembantu. Relai dengan hand or electrical
Kecepatan, artinya bahwa relai reset digunakan pada kondisi lock – out
proteksi harus dapat melepaskan bagian (terkunci) atau pemeliharaan sinyal.
yang terganggu secepat mungkin. Daya yang dibutuhkan dalam
Selang waktu yang diperlukan tripping coil circuit breaker adalah mulai
dimana bagian sistem yang terganggu dari 50 Watt untuk circuit breaker
dapat dipisahkan dari sistem atau waktu distribusi yang kecil, sampai dengan 3000
bebas (clearing time) adalah jumlah dari Watt untuk circuit breaker tegangan
waktu operasi relai proteksi ditambah ekstra tinggi yang berukuran besar.
dengan waktu opersi pemutusan tenaga 2.6.4 Proteksi Utama (Main Protection)
(PMT). dan Proteksi Penyangga
Relai proteksi saat ini mempunyai (Back Up Protection)
waktu operasi 1 – 2 cycles, atau 0.02 – Proteksi utama (main protection)
0.06 detik, sedangkan waktu operasi adalah sistem proteksi yang pertama –
PMT saat ini adalah 2.5 – 3 cycle atau tama beraksi apabila terjadi gangguan
0.05 – 0.06 detik. didalam daerah suhan proteksi, sehingga
4. Peka (sensitivitie) memerintahkan pengisoliran sistem yang
Relai proteksi dikatakan peka terganggu, yang berada didalam daerah
apabila dapat bekerja dengan masukan proteksi tersebut dari sistem lainnya
dari besaran yang dideteksi kecil. secara sempurna. Proteksi penyanggah
(back up protection) adalah sistem
proteksi yang harus bereaksi untuk berinti besi dialiri arus. Secara teoritis
mengisolir sistem yang terganggu dapat dinyatakan dalam persamaan:
tersebut, apabila proteksi utama gagal 𝐵2 𝐴
F=
mengisolir gangguan tersebut. Proteksi 8𝜋
penyanggah, ada yang berada pada daerah Dimana:
asuhan proteksi yang sama (local back F = force
up), atau pada daerah asuhan proteksi B = flux density
yang lain (remote back up). A = effective area of magnetic pole
2.6.5 Klasifikasi Relai Proteksi Gaya elektromagnetik (force) ini
Relai proteksi dapat digunakan untuk menggerakkan jangkar
diklasifikasikan menjadi tiga hal yaitu (armature) sehingga kontak relai clesed.
prinsip kerja, karakteristik waktu dan Relai ini dapat bekerja dengan arus bolak
penggunaanya. – balik (AC) atau arus searah (DC).
1. Relai Berdasarkan Prinsip Kerjanya b. Jenis Induksi (induction)
Berdasarkan prinsip kerjanya, relai Relai induksi adalah relai yang
proteksi dapat dibedakan menjadi beberapa paling banyak digunakan untuk proteksi
jenis antara lain sistem tenaga listrik yang digerakkan
a. Relai Elektromekanik hanya oleh sumber arus bolak – balik
Persamaan dasar dari untuk (AC). Relai magnetik jenis induksi
memahami prinsip kerja relai dengan dua besaran ukur biasa disebut
elektromekanik adalah: dengan relai induksi berarah (directional
F = F0 – FR atau T = T0 - TR induction relay), dimana hanya besaran
Dimana: ukur dari suatu arah tertentu saja yang
F0 = gaya operasi dari relai (operating dapat membuat relai beroperasi.
force) b. Relai Suhu / Termis
FR = gaya lawan (restricting force) Relai jenis ini bekerja karena panas
T0 = momen inersia / torka operasi yang ditimbulkan oleh arus yang
TR = momen lawan / torka lawan melaluinya dan dapat beroperasi dengan
Relai dikatakan ‘operate’ bila F atau arus bolak balik (AC) atau arus searah
T lebih besar dari nol. Dalam hal ini (DC).
dikenal istilah sebagai berikut c. Relai Statik
 Pick Up : jika F > 0 atau T > 0. Relai statik adalah relai listrik yang
 Operate : jika F > 0 atau T > 0 namun responnya dibentuk oleh atau secara
disini status kontak sudah berubah dari elektronik / magnetik / optik tanpa ada
sebelumnya menjadi terbuka atau komponen yang bergerak. Meskipun pada
sebaliknya (close → open atau open → definisi diatas tercantum tanpa komponen
close). yang bergerak, akan tetapi masih banyak
Relai proteksi jenis relai statik pada bagian yang berhubungan
elektromagnetik bekerja berdasarkan dengan output-nya masih memakai
prinsip pergerakan besi magnetik komponen yang elektromekanikal, kecuali
(elektromagnetik) dengan arus bolak – pada akhir – akhir ini dengan
balik (AC) atau arus searah (DC) untuk berkembangnya komponen elektronika
menggerakkan kontak. Jenis daya (power elektronic) maka pada output
elektromagnetik dapat dibedakan stage-nyapun dipakai peralatan /
menjadi: komponen solid state.
a. Jenis Jangkar Bergerak (attrected Diagram blok relai statik yang
armature) disederhanakan, yaitu:
Pada jenis ini, jenis ektromagnetik 1. Bagian sekunder dari transformator
dibangkitkan oleh fluks magnet yang instrumen / transducer
timbul sebagai akibatdari kumparan relai
2. Bagian penyearah (rectifier) Relai ini akan memberikan perintah pada
berfungsi menyearahkan besaran – PMT pada saat terjadi gangguan, bila besar
besaran operasi. arus gangguannya melampaui setting arusnya
3. Rangkaian pengukuran (relay (Im). Dengan jangka waktu kerja mulai dari
measuring circuit) pick-up sampai kerja sangat singkat (20 – 60
4. Amplifier ms) atau hampir dikatakan tanpa penundaan
5. Komponen output (output device). waktu..
6. Rangkaian trip (trip circuit) 2. Definite time lag relay
transducer
Definite time lag relay, dimana
Sumber DC waktu operasi relai sama sekali tidak
tergantung pada besar arus atau besaran
listrik yang lain.
2 3 4 5

Gambar 2.9 Blok diagram relai statik


d. Relai Numerik
Pada relai numerik, pengukuran
atau lebih tepatnya penganalisis besaran Gambar 2.12 Karakteristik waktu definite.
input, dilakukan pada prosessor. Untuk 3. Inverse time – lag relay
kedua tipe awal, hanya mempunyai output Relai waktu balik (inverse time –
berupa sinyal pertanda atau trip lag relay), dimana waktu operasi relai
sedangkan pada relai numerik output-nya berbanding terbalik terhadap besar arus
selain sinyal pertanda dan trip, juga atau besaran listrik lain yang
sebagai data logger dan event dan fault menyebabkan relai bekerja.
recorder serta control. Gambar dibawah
ini memperlihatkan blok diagram
sederhana dari relai numerik.
CB
CT
Tripping Coil

VT
Gambar 2.13 Karakteristik waktu inverse.
Input unit
Analog /
Digital
Converter
Microprosessor Dengan jangka waktu kerja mulai
Data request
dari pick – up sampai kerja relai
and display
diperpanjang berbanding terbalik dengan
Data logger
besarnya arus gangguan. Ada beberapa
Controller karakteristik waktu inverse berdasarkan
Gambar 2.10 Blok diagram relai numerik. standar BS 142 th, yaitu: normal inverse,
2. Relai Berdasarkan Karakteristik Waktu very inverse, long inverse dan definite
Berdasarkan karakteristik waktu time.
kerjanya, relai proteksi dapat dibedakan 4. Inverse Definite Minimum Time Relay
menjadi beberapa jenis, antara lain: (IDTM)
1. Relai sesaat Waktu kerja relai ini hampir
Relai sesaat (intantaneous relay), terbalik dengan harga terkecil dari arus
dimana operasi relai memerlukan waktu atau besaran lain yang menyebabkan relai
yang sesingkat mungkin. bekerja dan relai akan bekerja pada waktu
minimum tergantung jika besaran listrik
naik tanpa batas.

Gambar 2.11 Karakteristik waktu seketika.


Gambar 2.14 Karakteristik waktu IDMT.
Relai ini mempunyai karakteristik Trafo
kombinasi antara inverse time relay dan CT 1 CT 2

definite time relay. IA

Relai Berdasarkan Penggunaannya I1 I2


dapat dibedakan menjadi beberaapa jenis
antara lain: c
Operating coil

1. Relai arus kurang, daya kurang dan


tegangan kurang.
2. Relai tegangan lebih, arus lebih dan
daya lebih. IA

3. Relai frekuensi kurang / lebih (UFR). Gambar 2.15 Rangkaian Differensial Relai.
Relai frekuensi berfungsi Pemilihan CT disesuaikan dengan
sebagai penyeimbang beban sistem alat ukur dan proteksi. Pemilihan CT
dengan pembangkit yang beroperasi. kualitas baik akan memberikan
4. Relai arah atau relai arus balik. perlindungan sistem yang baik pula. Relai
5. Relai arah atau relai daya balik. differensial sangat tergantung terhadap
6. Differential relay. karakteristik CT.
7. Relai jarak (distance relay) Oleh karena itu penyetelan arus
2.6.6 Relai Differensial Statik (static differensial diperlukan penentuan rasio
differential relay) dan hubungan (vektor grup) CT, dan
Relai differensial bekerja atas dasar penentuan rasio dan hubungan ACT.
adanya perbedaan arus pada rangkaian Relai differensial tipe statik,
yang diamankan atau yang dapat parameter arus bolak – balik yang masuk
dikatakan prinsip kerja dari relai ke relai disearahkan dahulu kemudian
differensial yaitu dengan membandingkan diperbandingkan pada comperator.
arus yang masuk dan arus yang keluar Terlihat pada gambar 2.16 dibawah ini.
dari transformator. Dimana bila dalam Input CT 1 Input CT 2
comparator
keadaan normal arus yang masuk ke relai
Perbedaan vaktoris dari
selalu sama (i1 = i2). Apabila terjadi besaran input I dan II
gangguan maka salah satu arus akan
berbeda nilai dan ini akan dideteksi oleh amplifier

relai dan relai akan bekerja.


Dalam keadaan ini relai akan
bekerja dan sekaligus CB akan Trip device
memutuskan rangkaian sumber sehingga
transformator bebas dari tegangan.
Dalam kondisi normal, arus
Trip Coil
mengalir melalui peralatan listrik yang
diamankan (generator, transformator dan Gambar 2. 16 Blok diagram statik differensial.
lainnya). Arus-arus sekunder transformaor Pada umumnya besaran arus
arus, yaitu I1 dan I2 bersirkulasi melalui tersebut ada yang dikonversikan menjadi
jalur IA. Jika relai pengaman dipasang besaran tegangan sebelum disearahkan
antara terminal 1 dan 2, maka dalam kemudian besar tegangan yang
kondisi normal tidak akan ada arus yang disearahkan yang diperbandingkan.
mengalir melaluinya. Berhubung karena arus operasi pada
Dapat dilihat pada gambar 2.16 komponen statik relai proteksi pada
dibawah ini: umumnya pada orde yang lebih kecil dari
arus sekunder yang berasal dari CT, maka
sebelum disalurkan ke komponen statik
tersebut arus sekunder tersebut diperkecil
dengan menggunakan ACT (Auxliarry
Current Transformers) yang terdapat Relai differensial sebagai
dalam relai tersebut. Dapat dilihat pada pengaman utama transformator tenaga
gambar 2.17 dibawah ini. harus sensitif terhadap gangguan internal
sekecil mungkin, tetapi harus lebih besar
I1 I2
dari pada arus magnetisasi serta
pertimbangan adanya missmath akibat
kesalahan ratio CT utama baik disisi
id Wd primer maupun sisi sekunder serta
i1 i2
axuillary CT (ACT) yang terpasang.
Wh Beberapa vendor
Q A merekomendasikan Id> 4 x Imag, dimana
H
Imag adalah arus magnetisasi pada
Gambar 2.17 Rangkaian ekuivalen relai transformator yang mengalir tanpa
differensial statik. beban (5%). Maka arus kerja minimum
Keterangan: ditentukan:
Id = arus operasi (differential current) Id = (0.2 s/d 0.3) x In
(i1 + i2)/1 = arus lawan (restraining current) 2.8.3 Setting Slope
Wd = Auxilliarry CT untuk Id Relai differensial harus
Wh = Auxilliarry CT untuk Ir memastikan bahwa tidak boleh bekerja
A = penyearah untuk arus operasi pada beban maksimum atau adanya
H = penyearah untuk restraining coil konstribusi arus yang besar akibat
Q = tripping coil gangguan eksternal. Oleh karena itu,
Pengaturan percentage relai differensial perlu diperhatikan hal – hal sebagai
(PDR) dinyatakan dalam %, dimana nilai % berikut:
diambil dari : 1. Selektifitas relai terhadap gangguan
i1 + i2
% setting PDR = i1 – i2 x 100% eksternal.
2 a. Kedua sisi transformator arus
Dimana dalam kondisi normal, nilai yang digunakan harus
i1 dan i2 yang timbul tidak boleh lebih mempunyai rasio dan
besar atau menghasilkan nilai persen yang karakteristik yang tipikal.
jatuh ke daerah operasi. b. Polaritas transformator arus
Dimana i1 dan i2 adalah besar arus harus sama.
yang masuk ke relai, yang besarnya 2. Pengaruh kejenuhan CT utama dan
sangat dipengaruhi oleh ratio CT dan cara ACT akan mengakibatkan arus
– cara penyambungan CT pada ketiga sekunder yang melalui relai tidak
fasanya (dihubung Y atau Δ). sama.
2.7 Koordinasi Relai Dalam Sistem 3. Pengaruh tap ACT dapat
Yang dimaksud selektif disini mengakibatkan selisih arus primer
adalah apabila terjadi gangguan pada dan sekunder transformator.
salah satu bagian sistem maka hanya 4. Pengaruh adanya OLTC (On
pemutus tenaga yang paling dekat dengan Load Tap changer) pada transformator
bagian sistem yang terganggu saja, daya dimana waktu operasi
sehingga bagian sistem yang tidak perbandingan transformasinya berubah
mengalami gangguan akan tetap – ubah mengikuti tegangan yang
mengalirkan daya. masuk sementara tap CT / ACT tidak
2. 8 Setting Relai Differensial mengalami perubahan.
2.8.1 Data Relai 5. Pengaruh kesalahan (error) yang harus
Data yang diambil yaitu merek / dikompensasi dalam menentukan
tipe, karakteristik kerja dan arus nominal. setelan kecuraman (slope), yaitu:
2.8.2 Setelan Arus Kerja Minimum  Kesalahan sadapan
 Kesalahan transformator internal fault, ketika di-energized melalui
arus (CT) : 10 % CT. Ketika memproteksi sebuah
 Mismatch transformator
:4% tenaga, setting differensial
 Arus eksitasi :1% sebaiknya tidak lebih kecil daripada 20%
 Faktor Keamanan arus: rated relay, untuk memberikan
stabilitas pada moderate transient
Maka penyetelan slope adalah sebagai overfluxing. Arus jatuh (spill current)
berikut: maksimum sebaiknya dijaga dibawah 20%
Untuk transformator tenaga  arus rated relay, jika lebih tinggi maka
slope – 1 = (25 – 35) % setting relay dinaikkan (variable
slope – 2 = (50 – 80) % percentage bias restraint) untuk
menghindari operasi yang tidak diinginkan
dan juga mempertahankan sensitivity untuk
Id internal fault, ketika perbedaan arus relatif
Slope 2
Operate kecil. Arus jatuh (spill current) akan naik
area selama through fault. Terdapat manfaat
Slope 1 untuk menambah proteksi diferensial
block
Id transformator tenaga dengan sebuah
area
m Ih (I1+I2)/2 restricted earth fault relay, khususnya pada
transformator tenaga yang titik netralnya
Gambar 2.18 Karakteristik kerja relai diketanahkan melalui sebuah tahanan
differensial (resistor). Restricted earth fault relay yang
mungkin ditambahkan adalah MCAG atau
2. 9 Alstom type MBCH 12 MFAC 14, tidak diperlukan tambahan CT.
Relai type MBCH 12 merupakan Berikut ini diagram hubungannya.
biased differential relay dengan 2 biased
input, satu fasa, kecepatan tinggi yang
digunakan untuk proteksi trafnsformator
tenaga 2 belitan. Relai type MBCH 12
pada suatu gardu induk diaplikasikan
sebagai differential relay pada
transformator tenaga. Berikut ini diagram
aplikasinya.

Gambar 2. 20 diagram hubungan MBCH 12


dengan restricted Earth Fault Relay.
2.9.2 Deskripsi Fungsional

Proteksi diferensial transformator tenaga


berdasarkan prinsip sirkulasi arus yang
dikenal dengan nama Merz-Price. Gambar
2. 21, menunjukkan blok diagram
fungsional relai. Output dari setiap
Gambar 2.19 Diagram aplikasi relai type transformator bias restraint T3-T5,
MBCH 12. sebanding dengan arus primer, disearahkan
2.9.1 Deskripsi Umum dan dijumlahkan untuk menghasilkan
Relai mempunyai kestabilan luar biasa sebuah tegangan bias restraint. Perbedaan
selama through fault dan memberikan arus (Idiff) yang dihasilkan disirkulasikan
operasi yang tinggi pada saat terjadi melalui transformator T1 dan T2. Output
transformator T1 disearahkan dan Adapun alur dari penelitian ini
digabungkan dengan tegangan bias yaitu:
restraint untuk menghasilkan sebuah sinyal
yang diberikan kepada amplitude Mulai
comparator.

Mengumpulkan teori tentang


Peralatan pada gardu induk,
sistem proteksi dan MBCH
12

Memasukkan data arus nominal


trafo, data CT dan data ACT

Menghitung Tap ACT dan


Setting dari relai MBCH 12

Gambar 2.Gambar 2.21 Blok Diagram Mengevaluasi pemilihan setting


MBCH 12 dan menganalisa
Fungsional relay type MBCH 12. keandalan relai tersebut

BAB III METODE PENELITIAN


3. 1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini berlangsung 2 (dua) Selesai

bulan yang dimulai September 2011


sampai November 2011 dan bertempat di BAB IV EVALUASI PENGGUNAAN
Makassar pada Tragi Panakukang dan GI RELAI STATIK JENIS ALSTOM TYPE
Sungguminasa. MBCH 12 PADA GARDU INDUK
3. 2 Data Transformator SUNGGUMINASA
4.1 DATA
4.1.1 Data Relai
Adapun data relai dalam penelitian ini
adalah;
Tabel 4.1 Data Relai
No Jenis Data Keterangan
1 Merek GEC-Alstom
2 Tipe MBCH 12
3 Nilaiarus nominal 5 Amp
Gambar 3.1 Transformator Unindo 30 MVA (In)
Adapun data spesifikasi dari transformator 4 Jeniskarakteristik Bias
daya yang ada di GI Sungguminasa adalah 5 Burden relai 1.2 VA
Merk : Unindo
6 Frekuensikerja 50 Herz
Tipe : P030LEC575
7 Tegangan input 110 – 125 Volt
Daya : 30 MVA
DC
Tegangan primer : 150 kV
Tegangan sekunder : 20 kV Sumber: GI Sungguminasa AP2B Sistem
Impedansi : 12,5% Sulselbar PT. PLN (Persero) Wilayah
Vektor group : YNyn0 Sultanbatara.
Rasio CT sisi 150 kV : 150 / 5 A 4.1.2 Data CT (Current Transformers)
Rasio CT sisi 20 kV : 1200 / 5 A Adapun data CT yang digunakan dalam
Buatan : Indonesia pengaturan relai ini adalah:
3. 4 Alur Penelitian  Rasio CT 150 kV :150 / 5 Amp
 Rasio CT 20 kV :1200 / 5 Amp In = arus nominal pada CT
 Auxilary CT :5 / 5 Amp Ts = jumlah kumparan pada sisi
 Data ratio Auxilary CT sekunder ACT
Tabel 4.1.2 Data ratio ACT. Untuk Tap ACT yang dipilih pada
Tap Jumlah Kumparan (Primer) sisi 150 kV yaitu
Kumparan
Primer 5
Ratio 1 / Ratio 5 / Ratio 5 / Tap ACTprimer = 3 𝑥4.618 x 43
1A 1 Amp 5 Amp = 26.91
1–2 5 1 1 Jadi dipilih tap dengan jumlah
2–3 5 1 1 belitan 27
3–4 5 1 1 Untuk Tap ACT yang dipilih pada
4 -5 5 1 1 sisi 20 kV yaitu
5–6 125 25 25 5
Tap ACTprimer = 3 𝑥 4.333 x 43
X–7 25 5 5
7–8 25 5 5 = 28.68
8–9 25 5 5 Jadi dipilih tap dengan jumlah
S1 – S2 125 125 125 belitan 29
S3 – S4 90 90 90 4.2.1.3 PengaturanSlope
Sumber :ALSTOM, Service Manual Book, Adapun rumus yang digunakan untuk
Type MBCH Biased Differential Relay menentukan pengaturan slope relai ini yaitu:
|𝐼𝑛 1−𝐼𝑛2|
4.2 ANALISIS DATA Slope = x 100%
𝐼𝑛 1+𝐼𝑛 2/2
4.2.1 Setting SecaraTeori Dimana
4.2.1.1Arus Nominal TransformatorDaya In1 = arus yang masuk pada sisi
Untuk menentukan besarnya arus yang primer ( sisi 150 kV)
mengalir pada transformator daya baik disisi In2 = arus yang masuk pada sisi
primer dan sisi sekunder digunakan persamaan: sekunder (sisi 20 kV)
P = √3 V I Jadi
Sehingga |4.618−4.333|
𝑃 Slope = 4.618 −4.333 x 100%
I= 3𝑉 2
0.285
Jadi arus yang mengalir pada sisi =
4.4755
x 100%
150 kV transformator daya 30 MVA ialah = 6.36 %
30 000
IN1 = 3 𝑥 150 = 115,47 Amp Atau slope juga dapat ditentukan dalam
Dipilih rating CT : 125 / 5 Amp bentuk fasa
0.285
5 Slope = inv tan 4.4755
in1 = 125 x 115,47 = 4.618 Amp
Jadi arus yang mengalir disisi = inv tan 0.06368
sekunder transformator daya 30 MVA =o
ialah 4.2.2 Setting MBCH 12 Dilapangan
20 000 4.2.2.1 Menghitung Arus Nominal
IN2 = = 866,025 Amp Jadi arus yang mengalir pada
3 𝑥 20
Dipilih rating CT : 1000 / 5 sisi 150 kV transformator daya 30 MVA
5 ialah
in2 = 1000 x 866,025 = 4.333 Amp
30 000
4.2.1.2 Setting Tap AuxirallyCT IN1 = 3 𝑥 150 = 115,47 Amp
Adapun rumus yang digunakan pada Dipilih rating CT : 150 / 5 Amp
penentuan Tap ACT yaitu 5
𝐼 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑦
in1 = 125 x 115,47 = 3.849 Amp
Tap ACT = 3 𝐼𝑛 x Ts Jadi arus yang mengalir disisi
Dimana sekunder transformator daya 30 MVA
Irelay= arus nominal pada relai ialah
MBCH 12
20 000 150 kV
IN2 = = 866,025 Amp
3 𝑥 20 DS
CB
Dipilih rating CT : 1000 / 5
5 CT1
in2 = 1200 x 866,025 = 3.608 Amp Ip = Ihs

F1
Ip Idiff = Ada

4.2.2.2 Menghitung Tap Auxilary CT Is


C
Coil MBCH 12
30 MVA

fault
Untuk Tap ACT yang dipilih pada Is = 0 CT2
sisi 150 kV yaitu 20 kV

F3 RRI
F2 Parangbanua

F4 GMTDC

F5 Barombong
F1 GH Sungguminasa

F6 Takalar
5
Tap ACTprimer = 3 𝑥3.849x 43
= 32.25
Jadi dipilih tap dengan jumlah
belitan 32 Gambar 4.1 Kondisi transformator saat
Untuk Tap ACT yang dipilih pada gangguan F1.
sisi 20 kV yaitu Terlihat dari gambar 4.1, ketika kondisi
5 gangguan yang berada pada F1 maka terukur
Tap ACTprimer = 3 𝑥 3.608 x 43
arus yang mengalir pada CT1 itu arus hubung
= 34.4
singkat dan yang terukur pada CT2 itu nol.
Jadi dipilih tap dengan jumlah belitan 34
Sehingga diperoleh hasil
4.2.2.3 Setting slopeMBCH 12 IN1 = 10 x IN1
Untuk setting MBCH 12 secara nyata
= 10 x 115.47 Amp
dapat dilihat lebih jelas dari kurva karakteristik
= 1154.7 Amp
MBCH yang ada pada lampiran.
Terlihat untuk pengaturan MBCH 12 5
terdapat lima (5) pilihan pengaturan yaitu in1 = 150 x 1154.7 Amp
1. 0.1 x In dengan slope 33.3% = 38.49 Amp
2. 0.2 x In dengan slope 40% IN2 = 0 Amp
3. 0.3 x In dengan slope 48.33% in2 = 0 Amp
4. 0.4 x In dengan slope 57.14 Sehingga,
5. 0.4 x In dengan slope 66.03% Idiff = [38.49 – 0]
Dimana dalam pengaturan ini karakteristik dari = 38.49 Amp
slope telah ditentukan sebelumnya. Untuk Irest = ( 38.49 + 0 ) / 2
pengaturan MBCH 12 itu sendiri dipilih 0.3 x In = 19.245 Amp
dengan nilai slope 48.33%. Jadi
38.49
4.3 Kondisi MBCH 12 Dalam Keadaan Slope
= 19.245 x 100%
Gangguan = 200 %
4.3.1 Kondisi gangguan F1 Telihat slope yang terbentuk lebih besar
Dalam kondisi ini gangguan berada dari slope setting awal sehingga Relai MBCH 12
didalam transformator itu sendiri dengan asumsi harus bekerja (operate).
besarnya gangguan hubung singkat sebesar 4.3.2 Kondisi Gangguan F2
sepuluh kali arus normal (10 x Inominal).Lebih Dalam keadaan ini gangguan berada di
jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut; penyulang atau dengan kata lain terjadi hubung
singkat pada penyulang yang di supply oleh
transformator. Dimana besarnya arus hubung
singkat diasumsikan sepuluh kali arus nominal
pada transformator.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
berikut;
150 kV 150 kV F3

DS DS
CB CB

Ip = Ihs CT1 Ip = Ihs CT1

Ip Idiff = Ada Ip Idiff = Ada

C 30 MVA C 30 MVA
Is Coil MBCH 12 Is Coil MBCH 12
fault fault
Is = 0 CT2 Is = 0 CT2
20 kV 20 kV

F3 RRI
F2 Parangbanua

F4 GMTDC
F3 RRI

F5 Barombong
F2 Parangbanua

F4 GMTDC

F5 Barombong

F1 GH Sungguminasa

F6 Takalar
F1 GH Sungguminasa

F6 Takalar
F2

Gambar 4.2 Kondisi transformator saat Gambar 4.3 Kondisi transformator saat
gangguan F2. gangguan F3
Terlihat dari gambar 4.2, terjadinya Dalam kondisi ini terjadi gangguan di
gangguan dalam hal ini hubung singkat yang luar transformator sehingga arus yang mengalir
terjadi pada daerah penyulang F2.Pada kondisi dan terukur pada CT1 dan CT2 adalah nol.
ini arus hubung singkat mengalir dan terukur Sehingga diperoleh hasil
pada CT1 dan CT2 yang diasumsikan sepuluh IN1 = 0 Amp
kali dari arus nominal. in1 = 0 Amp
Sehingga diperoleh hasil IN2 = 0 Amp
IN1 = 10 x IN1 in2 = 0 Amp
= 10 x 115.47 Amp Sehingga,
= 1154.7 Amp Idiff = [ 0 – 0]
5 = 0 Amp
in1 = x 1154.7 Amp
150 Irest =(0+0)/2
= 38.49 Amp = 0 Amp
IN2 = 10 x IN2
Jadi
IN2 = 10 x 866.025 0
= 8660.25 Amp Slope
= 0x 100%
5 = Tak terdefinisi %
in2 = 1200 x 8660.25 Amp
Terlihat slope yang terbentuk lebih besar
= 36.084 Amp dari slope awal sehingga Relai MBCH 12 dalam
Sehingga, kondisi restrain atau non operate.
Idiff = [38.49 – 36.084] Pada Relai MBCH 12 sudah dikatakan
= 2.406 Amp handal jika dijadikan sebagai main protection
Irest = ( 38.49 + 36.084 ) / 2 atau proteksi utama.Dimana relai ini hanya
= 37.287Amp berfungsi untuk jenis gangguan yang berada
Jadi pada wilayah kerjanya (zone protection).
2.406
Slope
= 37.287 x 100% Dengan kata lain relai MBCH 12 bekerja untuk
= 6.452 % melindungi transformator dari gangguan yang
Terlihat slope yang terbentuk lebih besar terjadi di dalam transformator yang dikenal
dari slope awal sehingga Relai MBCH 12 dalam dengan internal fault.
kondisi restrain atau non operate. 4.4 Evaluasi Setting MBCH 12
4.3.3 KondisiGangguan F3 Adapun perbandingan hasil data yang
Dalam kondisi ini gangguan terjadi di kita peroleh baik secara teori maupun praktek
daerah luar transformator atau di daerah sebelum adalah
transformator yang tertera sesuai gambar 4.3.
Tabel 4.3Tabel perbandingan setting relai Inti dari pengaturan relai ini adalah
differensial antara slope. Slope merupakan sudut yang terbentuk
hasil perhitungan dengan yang ada di lapangan. antara perbandingan dari Idiffdan Irest. Dari sini
No Data Teori Lapangan kita dapat menentukan daerah kerja relai ini
1 Pemilihan 125 /5 150/5 Amp yang kita kenal dengan kondisi operate(bekerja)
CTsisi 150 kV Amp dan restrain (menahan).
2 Pemilihan CT 1000/5 1200/5 Setting slope secara teori kita dapat
sisi 20 kV Amp Amp 6.36%. nilai ini kita dapatkan pada kondisi
3 Inominal CT sisi 4.618 Amp 3.849 Amp transformator beroperasi secara normal. Akan
150 kV tetapi yang kita temukan di lapangan sangatlah
4 Inominal CT sisi 4.333 Amp 3.608 Amp berbeda dimana setting relai MBCH 12 yang
20 kV dipilih 0.3 x Indengan slope 48.33%. Hal
5 Tap ACT sisi 27 32 ini dilakukan dengan tujuan relai MBCH 12 bisa
150 kV lebih selektif lagi dengan kondisi transformator
6 Tap ACT sisi 29 34 baik dari pengaruh internal dan eksternal yang
20 kV dengan kata lain adanya toleransi yang diberikan
7 Rangkaian Δ Δ untuk beberapa keadaan transformator yang
ACT sedang beroperasi.
8 Setting Slope 6.36 % 48.33 Setting MBCH 12 yang dipilih 0.3 x
Indengan nilai slope 48.33% dengan
Terlihat dari tabel yang diatas, untuk memperhatikan kondisi pengaruh internal dan
pemilihan CT baik pada sisi primer ataupun eksternal dari transformator itu sendiri.
sisi sekunder secara teori dipilih 125 / 5 Amp Untuk pengaruh internal yang dimaksud
dan 1000 / 5 Amp.Pemilihannya ini dilakukan dalam hal ini yaitu;
sesuai dengan rating CT yang ada dan telah 1. Pengaruh kejenuhan CT dan ACT.
disesuiakan dengan besarnya arus nominal 2. Missmath.
transformator baik pada sisi 150 kV maupun sisi 3. Pengaruh kondisi On Load Tap
20 kV. Akan tetapi jenis CT yang kita dapatkan Changer.
dilapangan yaitu 150 / 5 Amp dan 1200 / 5 4. Arus Eksitasi
Amp. Hal ini disebabkan oleh CT yang terdapat 5. Dan lain lain
di PT. PLN (Persero) sesuai yamg dibutuhkan Untuk pengaruh eksternal yang
tidak terdapat dan jika dilakukan pemesanan dimaksud dalam hal ini yaitu;
akan memerlukan waktu yang agak lama. 1. Inrush current
Untuk pemilihan Tap ACT kita dapat 2. Proses switching
secara teori pada sisi primer 27 dan ditemukan 3. Dan lain-lain.
di lapangan 32 dan untuk sisi sekunder 29 dan
ditemukan di lapangan 34. Terdapatnya ` Dipilihnya setting MBCH 12 0.3 x In
perbedaan pemilihan Tap ACT disebabkan dengan slope 48.33% juga berdasarkan relai ini
berbedanya jenis CT yang dipilih sehingga dibuat bisa bekerja lebih selektif dengan jenis
berbeda pula besarnya arus yang terdapat disisi gangguan yang harus diproteksi. Dengan kata
sekunder dari CT baik pada sisi 150 kV dan sisi lain ketika memilih setting 0.1 x In dengan slope
20 kV. Kegunaan digunakan transformator bantu 33.3% relai dibuat sangat sensitif dan
atau kita kenal dengan ACT (Auxirally Current dikhawatirkan relai bias bekerja dan keandalan
Transformers) dengan tujuan untuk mengatasi system menurun. Begitu pula dengan ketika
adanya pergeseran fasa yang timbul akibat arus- memilih 0.5 x In dengan slope 66.03%, relai
arus yang masuk pada relai dan mencocokkan / dibuat kurang sensitif dan ditakutkan relai tidak
menyeimbangkan arus yang masuk kerelai bekerja ketika sudah terjadi gangguan dimana
MBCH 12 dari masing-masing pihak dalam hal dalam kondisi ini relai harusnya bekerja.
ini sisi 150 kV dan sisi 20 kV.
BAB V KESIMPULAN Hudzaifah, 2009, “Evaluasi Proteksi Arus Lebih
5.1 Kesimpulan (OCR) Pada Feeder Distribusi Area
1. Relai MBCH 12 merupakan salah satu GI Sidrap”, Skripsi, Makassar.
aplikasi relai differensial, dimana Kadir, Abdul, “Transmisi Tenaga Listrik”,
hanya bekerja pada daerah asuhannya Universitas Indonesia, Jakarta.
saja.Dengan kata lain relai MBCH 12 Ponglabba, Ismaya, 2010, “Analisis
bekerja untuk melindungi Penggunaan Relai Differensial Pada
transformator dari gangguan yang Proteksi Transformator Gardu Induk
terjadi di dalam transformator yang Maros 30 MVA, 150/20 kV”, Skripsi
dikenal dengan internal fault. Makassar.
2. Perbandingan antara perhitungan Pudiklat PT. PLN (Persero), 2008, “Perhitungan
secara teori dan berdasarkan data yang Setting Proteksi Gardu Induk”,
terdapat di lapangan yaitu dapat dilihat Semarang.
bahwa untuk pemilihan CT baik Sumanto, 1996, “Teori Transformator”,
pada sisi primer ataupun sisi sekunder Percetakan Andi, Yogyakarta.
secara teori dipilih 125 / 5 Amp dan Tanyadji, Sonny, Ir, 2011, “Diktat Kuliah Sistem
1000 / 5 Amp.Pemilihannya ini Proteksi”, Universitas Hasanuddin
dilakukan sesuai dengan rating CT Makassar.
yang ada dan telah disesuiakan dengan Udiklat Mawang, “Transmisi dan Gardu
besarnya arus nominal transformator Induk”, Modul Kursus.
baik pada sisi 150 kV maupun sisi 20
kV. Akan tetapi jenis CT yang kita
dapatkan dilapangan yaitu 150 / 5
Amp dan 1200 / 5 Amp. Setting slope Karlina, lahir di
secara teori kita dapat 6.36%. nilai ini Manokwari, 1989, Provinsi
kita dapatkan pada kondisi Papua Barat, Indonesia.
transformator beroperasi secara Anak ketiga dari pasangan
normal. Akan tetapi yang kita temukan H.Abdul Madjid dan
di lapangan sangatlah berbeda dimana Hj.Dahlia. Pada tahun
setting relai MBCH 12 yang dipilih 0.3 2008-sekarang menjalankan
x Indengan slope 48.33%. studi S1 di Jurusan Elektro
Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin
DAFTAR PUSTAKA Makassar, subjurusan
ALSTOM T&D Protection & Control Ltd., Teknik Energi Listrik.
“Protection Relays”. 15 Oktober 2011
<http://www.areva-td.com>.
Arismunandar, Artono, 1998, “Teknik Tegangan
Tinggi”, PT. Pratnya Paramita,
Jakarta.
Curtis, Bob. Electric Power eTool: Illustrated
Glossary. U.S. Department of Labor
Occupational Safety & Health
Administration. 15 Oktober 2011
<http://www.osha.gov>.
GEC ALSTOM, 1990, “Protective Relays
Apllication Guide”. ALSTOM T&D
Protectiom & Control Ltd, England.
GEC ASTOM, “Type MBCH Biased
Differential Relay”, Service Manual.