Anda di halaman 1dari 11

Sistem transmisi tenaga listrik merupakan salah satu komponen dari sistem

penyaluran tenaga listrik menyalurkan energi tenaga listrik dari pusat-pusat


pembangkitan menggunakan kawat-kawat (saluran) transmisi, menuju gardu- gardu
induk yang selanjutnya akan didistribusikan ke pelanggan atau konsumen.

Ada dua kategori saluran transmisi: saluran udara (overhead line) dan saluran
bawah tanah (uderground). Saluran udara menyalurkan tenaga listrik melalui kawat-
kawat yang digantung pada tiang-tiang transmisi dengan perantaraan-perantaraan
isolator-isolator, sedang saluran bawah tanah menyalurkan listrik melalui kabel-kabel
bawah tanah. Kedua cara penyaluran mempunyai untung ruginya sendiri-sendiri.
Dibandingakn dengan saluran udara, saluran bawah tanah tidak terpengaruh oleh
cuaca buruk, taufan, hujan angin, bahaya petir dan sebagainya. Saluran bawah tanah
lebih estetis (indah), karena tidak tampak. Karena alasan terakhir ini, saluran-saluran
bawah tanah lebih disukai di Indonesia, terutama untuk kota-kota besar. Namun biaya,
pembangunannya jauh lebih mahal daripada saluran udara, dan perbaikannya lebih
sukar bila terjadi gangguan hubung singkat dan kesukaran-kesukaran lainnya .

Menurut jenis arusnya, pada saluran transmisi dikenal sistem arus bolak- balik
(AC, atau alternating current) dan sistem arus searah (DC, atau direct current). Didalam
sistem AC, penaikan dan penurunan tegangan mudah dilakukan yaitu dengan
menggunakan transformator. Itulah sebabnya maka dewasa ini saluran transmisi di
dunia sebagian besar adalah saluran AC. Di dalam sistem AC ada sistem satu-fasa
dan sistem tiga-fasa.

Sistem tiga-fasa mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistem satu-fasa karena:

1. Daya yang disalurkan lebih besar


2. Nilai sesaatnya (instantaneous value) konstan
3. Medan magnit putarnya mudah diadakan.

Berhubung dengan keuntungan-keuntungannya hampir seluruh penyaluran


tenaga listrik didunia dewasa ini dilakukan dengan arus bolak- balik. Namun, sejak
beberapa tahun terakhir ini penyaluran arus searah mulai dikembangkan dibeberapa
bagian dunia ini. Penyaluran DC mempunyai keuntungan karena, isolasinya yang lebih
sederhana, daya guna (efisiensi) yang tinggi karena faktor dayanya satu, serta tidak
adanya masalah stabilitas sehingga dimungkinkan penyaluran jarak jauh. Namun
persoalan ekonominya masih harus diperhitungkan. Penyaluran tenaga listrik dengan
sistem DC baru dianggap ekonomis bila jarak saluran udara lebih jauh dari 640 km atau
saluran bawah- tanah lebih panjang dari 50 km. Ini disebabkan karena biaya peralatan
pengubah AC ke DC dan sebaliknya (converter dan inverter equipment) sangat mahal.
Untuk daya yang sama, maka daya guna penyaluran naik oleh karena hilang
daya transmisi turun, apabila tegangan transmisi ditinggikan. Namun peninggian
tegangan transmisi berarti juga penaikan isolasi dan biaya peralatan gardu induk. Oleh
karena itu, pemilihan tegangan transmisi dilakukan dengan memperhitungkan daya
yang disalurkan, jumlah rangkaian, jarak penyaluran, keandalan (reliability), biaya
peralatan untuk tegangan tertentu, serta tegangan- tegangan yang sekarang dan yang
direncanakan. Kecuali itu, penentuan tegangan harus juga dilihat dari standarisasi
peralatan yang ada. Penentuan tegangan merupakan bagian dari perancangan sistem
secara keseluruhan .

Meskipun tidak jelas menyebutkan keperluannya sebagai tegangan transmisi, di


Indonesia, Pemerintah telah menyeragamkan deretan tegangan tinggi sebagai berikut:

1. Tegangan Nominal Sistim (kV) : 30-66-110-150-220-380-500


2. Tegangan Tertinggi untuk Perlengkapan : 36-72,5-123-170-245-420-525
Penentuan deretan tegangan diatas disesuaikan dengan rekomendasi
International Electrotechnical Comission.

Pada penyaluran tenaga listrik terdapat beberapa jenis konfigurasi yang secara garis
besar umumnya dibagi dalam 5 bentuk konfigurasi jaringan:

1. Sistem Radial
2. Sistem open loop / Tie Line
3. Sistem close loop
4. Sistem Cluster
5. Sistem Spindel

Sistem Radial merupakan sistem jaringan distribusi tegangan menengah yang


paling sederhana, murah, banyak digunakan terutama untuk sistem yang kecil,
kawasan pedesaan. Umumnya digunakan pada SUTM proteksi yang digunakan tidak
rumit dan keandalannya paling rendah.

Sedangkan Sistem Open Loop biasanya merupakan pengembangan dari sistem


Radial, sebagai akibat diperlukannya keandalan yang lebih tinggi dan umumnya sistem
ini dapat dipasok dalam satu gardu induk. Dimungkinkan juga dari gardu induk lain
tetapi harus dalam satu sistem di sisi tegangan tinggi karena hal ini diperlukan untuk
memudahkan manuver beban pada saat terjadi gangguan atau kondisi-kondisi
pengurangan beban. Proteksi untuk sistem ini masih sederhana tetapi harus
memperhitungkan panjang jaringan pada titik manuver terjauh di sistem tersebut.
Sistem ini umunya banyak digunakan di PLN baik pada SUTM maupun SKTM.
Untuk Sistem Close Loop layak digunakan untuk jaringan yang dipasok dari satu
gardu induk, memerlukan sistem proteksi yang cukup rumit biasanya menggunakan rele
arah (directional). Sistem ini mempunyai kehandalan yang lebih tinggi dibandingkan
sistem lainnya, dan sistem ini jarang digunakan di PLN tetapi biasanya dipakai untuk
pelanggan-pelanggan khusus yang membutuhkan keandalan tinggi.

Sistem spindle merupakan sistem yang relatif handal karena disediakan satu
buah express feeder yang merupakan feeder/ penyulang tanpa beban dari gardu induk
sampai Gardu Hubung (GH) refleksi, banyak digunakan pada jaringan SKTM. Sistem ini
relatif mahal karena biasanya dalam pembangunannya sekaligus untuk mengatasi
perkembangan beban di masa yang akan datang, Proteksinya relatif sederhana hampir
sama dengan sistem Open Loop. Biasanya di tiap-tiap feeder dalam sistem spindle
disediakan gardu tengah (middle point) yang berfungsi untuk titik manuver apabila
terjadi gangguan pada jaringan tersebut. Sistem merupakan hampir mirip dengan
sistem spindle. Dalam sistem Cluster tersedia satu express feeder yang merupakan
feeder atau penyulang tanpa beban yang digunakan sebagai titik manuver beban oleh
feeder atau penyulang lain dalam sistem Cluster tersebut. Proteksi yang diperlukan
untuk sistem ini relatif sama dengan sistem Open Loop atau sistem Spindle.

Selain itu ada juga konfigurasi single phi dan double phi yang biasa digunakan
pada sistem transmisi tenaga listrik.

Dengan membuat topologi jaringan yang baik akan didapat performance jaringan
yang handal dan optimal dalam arti akan diperoleh kerugian energi jaringan yang lebih
kecil dan pelayanan ke pelanggan lebih baik dari sisi missal mutu tegangan ke
pelanggan.

Dalam membuat / menentukan topologi jaringan perlu dilakukan perhitungan-


perhitungan analisa teknis pada jaringan yang meliputi:

1. Analisa Aliran Daya


2. Analisa Hubung Singkat
3. Analisa Drop Tegangan
4. Pengaturan beban agar optimal

Dari analisa-analisa tersebut di atas dan dipadukan dengan pengalaman


operasional akan diperoleh bentuk topologi jaringan yang paling optimal.

Komponen-komponen utama dari transmisi jenis saluran udara terdiri dari:

Menara transmisi atau tiang transmisi beserta fondasinya


Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi, yang
bisa berupa menara baja, tiang beton bertulang dan tiang kayu. Tiang tiang baja, beton
atau kayu umumnya digunakan pada saluran- saluran dengan tegangan kerja relatif
rendah (di bawah 70 kV) sedang untuk saluran transmisi tegangan tinggi atau ekstra
tinggi atau ekstra tinggi digunakan menara baja. Menara baja dibagi sesuai dengan
fungsinya, yaitu : menara dukung, menara sudut, menara ujung, menara percabangan
dan menara transposisi.

Isolator-isolator

Jenis isolator yang digunakan pada saluran transmisi adalah jenis porselin atau gelas.
Menurut penggunaan dan konstruksinya dikenal tiga jenis isolator, yaitu : isolator jenis
pasak, isolator jenis pos saluran dan isolator gantung. Isolator jenis pasak dan pos
saluran digunakan pada saluran transmisi dengan tegangan kerja relatif rendah (kurang
dari 22 – 33 kV), sedang isolator gantung dapat digandeng menjadi rentangan isolator
yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Kawat penghantar

Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi adalah
tembaga dengan konduktivitas 100% (CU 100%), tembaga dengan konduktivitas 97,5
% (CU 97,5 %) atau alumunium dengan koduktivitas 61% (Al 61%). Kawat penghantar
alumunium dari berbagai jenis dengan lambang sebagai berikut:

1. AAC : “All Alumunium Conductor” yaitu kawat penghantar yang seluruhnya


terbuat dari alumunium
2. AAAC : “ All Alumunium Alloy Conductor” yaitu kawat penghantar yang
seluruhnya terbuat dari campuran alumunium.
3. ACSR : “Alumunium Conductor Steel Reinforced” yaitu kawat penghantar
alumunium ber-inti kawat baja.
4. ACAR : “Alumunium Conductor Alloy Reinforced” yaitu kawat penghantar
alumunium yang diperkuat dengan logam campuran.

Kawat penghantar tembaga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan


kawat penghantar alumunium karena konduktivitas dan kuat tariknya lebih tinggi. Tetapi
kelemahannya ialah untuk besar tahanan yang sama tembaga lebih berat dari
alumunium dan juga lebih mahal. Oleh karena itu kawat penghantar alumunium telah
menggantikan kedudukan tembaga. Untuk memperbesar kuat tarik dari kawat
alumunium digunakan campuran alumunium (alumunium alloy). Untuk saluran-saluran
transmisi tegangan tinggi, di mana jarak antara dua tiang/menara jauh (ratusan meter),
dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi. Untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR.

Kawat tanah
Kawat tanah atau “ground wire” juga disebut sebagai kawat pelindung (shield wires)
gunanya untuk melindungi kawat-kawat penghantar atau kawat fasa terhadap
sambaran petir. Jadi kawat tanah itu dipasang diatas kawat fasa. Sebagai kawat tanah
umumnya dipakai kawat baja (steel wire) yang lebih murah, tetapi tidaklah jarang
digunakan ACSR.

Setiap saluran transmisi memiliki karakteristik listrik, yaitu konstanta- konstanta


saluran, seperti: tahanan R, induktansi L, konduktansi G, dan kapasitansi C. Pada
saluran udara konduktansi G sangat kecil sehingga dengan mengabaikan konduktansi
G , perhitungan-perhitungan akan jauh lebih mudah dan pengaruhnyapun masih dalam
batas-batas yang dapat diabaikan.

Untuk keperluan analisa dan pehitungan maka diagram pengganti untuk klasifikasi
saluran transmisi biasanya dibagi dalam 3 kelas, yaitu:

1. kawat pendek (<80 km)


2. kawat menengah (80-250 km)
3. kawat panjang (>250 km).

Klasifikasi di atas sangat kabur dan sangat relatif. Klasifikasi saluran transmisi
harus didasarkan atas besar kecilnya kapasitansi ke tanah. Jadi bila kapasitansi kecil,
dengan demikian arus bocor ke tanah kecil terhadap beban, maka dalam hal ini
kapasitansi ke tanah dapat diabaikan dan dinamakan kawat pendek. Tetapi bila
kapasisatansi sudah mulai besar sehingga tidak dapat diabaikan, tetapi belum begitu
besar sekali sehingga masih dapat dianggap seperti kapasitansi terupsat (lumped
capacitance), dan ini dinamakan kawat menengah. Bila kapasitansi itu besar sekali
sehingga tidak mungkin lagi dianggap sebagai kapasistansi terpusat, dan harus
dianggap terbagi rata sepanjang saluran, maka dalam hal ini dinamakan kawat panjang.

Semakin tinggi tegangan operasi maka kemungkinan timbulnya korona sangat


besar. Korona ini akan memperbesar kapasitansi, dengan demikian memperbesar arus
bocor. Jadi ada kalanya walaupun panjang saluran hanya 50 km, misalnya, dan bila
tegangan kerja sangat tinggi (Tegangan Ekstra Tinggi, EHV, apalagi Tegangan Ultra
Tinggi, UHV) maka kapasitansi relatif besar sehingga tidak mungkin lagi diabaikan
walapun panjang saluran hanya 50 km.

Sedangkan untuk klasifikasi saluran transmisi berdasarkan fungsinya dalam operasi


dapat dibedakan dalam:

1. transmisi: yang menyalurkan daya besar dari pusat-pusat pembangkit ke daerah


beban, atau antara dua atau lebih sistem, biasa juga disebut sebagai saluran
interkoneksi atau biasa disebut tie line.
2. sub transmisi: sub transmisi ini biasanya adalah transmisi percabangan dari
saluran yang tinggi ke saluran yang lebih rendah
3. distribusi: di Indonesia telah ditetapkan bahawa tegangan distribusi adalah 20
kV.

Peralatan Proteksi Jaringan Transmisi

1. Pengertian Proteksi Transmisi Tenaga Listrik


Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah proteksi yang dipasang pada peralatan-peralatan
listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluaran tenaga listrik dari tempat
pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik (substation distribution) dapat
disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik dengan aman. Proteksi transmisi tenaga listrik
diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar jika terjadi gangguan peralatan yang berhubungan dengan
transmisi tenaga listrik tidak mengalami kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam
kondisi menyala. Jika proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan
transmisi tenaga listrik dalam kondisi bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi
gangguan, maka pengaman-pengaman yang terpasang harus bekerja demi mengamankan sistem dan
manusia yang sedang melakukan perawatan.

Transmisi tenaga listrik terbagi dalam beberapa kategori. Kategori yang pertama adalah transmisi
dengan tegangan sebesar 500kV. Ini merupakan transmisi yang sangat tinggi. Karena di Indonesia masih
menggunakan sistem 500 kV. Kategori yang kedua adalah transmisi dengan tegangan sebesar 150 kV.
Dan yang ketiga adalah transmisi 75 kV. Untuk dibawah 75 kV selanjutnya dinamakan dengan distribusi
tenaga listrik.
Proteksi berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti system tersebut tidak
merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem, sistem merasakan
gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangat singkat dapat diamankan. Sehingga sistem tidak
mengalami kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama. Gangguan pada transmisi tenaga listrik dapat
berupa :
a. Gangguan transmisi akibat hubung singkat.
b. Gangguan transmisi akibat sambaran petir.
c. Gangguan transmisi akibat hilangnya salah satu kabel fasa disebabkan dicuri oleh manusia
2. Peralatan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik
Peralatan proteksi transmisi tenaga listrik diantaranya adalah :
a. Relay arus lebih
merupakan relay Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang pada Jaringan
Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga. Rele ini berfungsi
untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan phasa-phasa.
b. Relay hubung tanah
Merupakan relay Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang pada jaringan
Tegangan tinggi,Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga.
c. Relay Diferensial
Relay diferensial ini berfungsi untuk mengamankan transformator tenaga terhadap gangguan hubung
singkat yang terjadi didalam daerah pengaman transformator, yang disambung ke instalasi trafo arus (
CT ) dikedua sisi

d. Relay jarak
a. Dapat menentukan arah letak gangguan
b. Gangguan didepan relai harus bekerja.
c. Gangguan dibelakang relai tidak boleh bekerja
d. Dapat menentukan letak gangguan.
e. Gangguan di dalam daerahnya relai harus bekerja.
f. Gangguan diluar daerahnya relai tidak boleh bekerja.
g. Dapat membedakan gangguan dan ayunan daya.
e. Kawat tanah
Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat fasa dari sambaran petir. Kawat
ini dipasang diatas kawat fasa dengan sudut perlindungan sekecil mungkin karena dianggap petir
menyambar diatas kawat. Pada umumnya ground wire terbuat dari kawat baja (steel wire) dengan
kekuatan St 35 atauSt 50, tergantung dari spesifikasiyang ditentukan oleh PLN.
f. Pemutus Tenaga ( PMT )
Adalah alat untuk memisahkan / menghubungkan satu bagian instalasi dengan bagian instalasi lain, baik
instalasi dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terganggu. Batas dari bagian-bagian instalasi
tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau lebih.

3. Cara Kerja Proteksi Transmisi Tenaga Listrik


a. Relay arus lebih
Jika dalam suatu transmisi terdapat gangguan yang berupa arus lebih, maka dalam waktu yang singkat
relay arus lebih akan bekerja sehingga jaringan transmisi akan tidak terhubung sementara. Jika
gangguan telah hilang, maka jaringan transmisi akan terhubung kembali. Macam-macam karakteristik
relay arus lebih :
a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay)
Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya,
relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10 – 20 ms).
b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay)
Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya
arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay
diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya arus yang mengerjakan relay.
c. Relay arus lebih waktu terbalik (Inverse Relay)
Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse
time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap
pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga
kelompok :
Standar invers, Very inverse, Extreemely inverse
b. Relay hubung tanah
Jika dalam transmisi tenaga listrik terjadi hubung singkat antara kabel fasa dengan tanah, maka relay
hubung tanah akan langsung bekerja dalam waktu yang sangat singkat, sehingga sistem menjadi aman
karena tidak terjadi kerusakan yang sangat banyak.
c. Relay diferensial
Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan sangat selektif
berdasarkan keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo daya
melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan
listrik yang diamankan (generator, transformator dan lain-lainnya).
Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan (generator, transformator
dan lain-lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur IA. Jika
relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak akan ada arus Jika
terjadi gangguan diluar peralatan listrik peralatan listrik yang diamankan (external fault), maka arus yang
mengalir akan bertambah besar, akan tetapi sirkulasinya akan tetap sama dengan pada kondisi normal,
sehingga relay pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut. Jika gangguan terjadi
didalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus disalah satu sisi akan terbalik, menyebabkan
keseimbangan pada kondisi normal terganggu, akibatnya arus ID akan mengalir melalui relay pengaman
dari terminal 1 menuju ke terminal 2. Selama arus-arus sekunder transformator arus sama besar, maka
tidak akan ada arus yang mengalir melalui kumparan kerja (operating coil) relay pengaman, tetapi setiap
gangguan (antar fasa atau ke tanah) yang mengakibatkan sistem keseimbangan terganggu, akan
menyebabkan arus mengalir melalui Operating Coil relay pengaman, maka relai pengaman akan bekerja
dan memberikan perintah putus (tripping) kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan atau instalasi
listrik yang terganggu dapat diisolir. Adapun gambar kerja dari relai differensial seperti gambar dibawah
ini.

d. Relay jarak
Rele jarak merupakan proteksi yang paling utama pada saluran transmisi. Rele jarak menggunakan
pengukuran teganan dan arus untuk mendapatkan impedansi saluran yang harus diamankan. Di sebut
rele jarak, karena impedansi pada saluran besarnya akan sebanding dengan panjang saluran. Oleh
karena itu, rele jarak tidak tergantung oleh besarnya arus gangguan yang terjadi, tetapi tergangung pada
jarak gangguan yang terjadi terhadap rele proteksi. Impedansi yang diukur dapat berupa Z, R saja
ataupun X saja. Tergantung rele yang dipakai.
Relai jarak mengukur tegangan pada titik relai dan arus gangguan yang terlihat dari relai, dengan
membagi besaran tegangan dan arus, maka impedansi sampai titik terjadinya gangguan dapat
ditentukan. Perhitungan impedansi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Zf=Vf/If
Dimana:
Zf = Impedansi (ohm)
Vf = Tegangan (Volt)
If = Arus gangguan
Relai jarak akan bekerja dengan cara membandingkan impedansi gangguan yang terukur dengan
impedansi setting, dengan ketentuan:
a. Bila harga impedansi gangguan lebih kecil dari pada impedansi seting relai maka relai akan trip.
b. Bila harga impedansi ganguan lebih besar daripada impedansi setting relai maka relai akan tidak trip.
e. Kawat tanah
Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat fasa dari sambaran petir. Kawat
ini dipasang diatas kawat fasa dengan sudut perlindungan sekecil mungkin karena dianggap petir
menyambar diatas kawat. Kawat ini merupakan proteksi transmisi tenaga listrik yang bersifat pasif. Jika
terjadi sambaran petir, maka kawan ini akan mebyalurkan arus petir langsung ketanah. Sehingga sistem
transmisi aman dari gangguan. Kawat yang bagus adalah yang memiliki tahanan kurang dari 4 ohm. Jika
lebih dari 4 ohm, maka arus yang mengalir tidak bisa cepat, dapat menyebabkan putusnya kawat atau
terjadinya flashover antara kawat dasa dengan kawat tanah.
f. Pemutus tenaga (PMT)
PMT termasuk proteksi terhadap transmisi tenaga listrik. PMT dapat membuka dan menutup baik secara
otomatis maupun secara manual. Sehingga, jika transmisi sedang dalam pemeliharaan, maka jaringan
transmisi dapat diputus sementara.
4. Penerapan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik
Proteksi transmisi tenaga listrik diberlakukan di semua transmisi tenaga listrik. Namun, untuk
pemasangannya hanya berada di gardu induk. Pemasangannya pada saluran masuk ke gardu induk dan
di saluran keluar garu induk. Sehingga jika jaringan transmisis terjadi gangguan, maka gardu induk tidak
mengalami kerusakan. Jika terjadi kerusakan, maka kerusakannya minimal. Kecuali kawat tanah. Kawat
tanah dipasang diatas kawat fasa yang berfungsi untuk melindungi kawat fasa dari sambaran petir.
Sehingga pemasanggannya berada diseluruh jaringan transmisi tenaga listrik.
Gambar pemasangan relai untuk memproteksi arus lebih pada jaringan transmisi disebuah gardu induk

5. Pencegahan Gangguan Transmisi Tenaga Listrik


Pencegahan gangguan pada jaringan transmisi sangat penting dilaksanakan karena jaringan tranmisi
merupakan penyalur utama dari energi listrik untuk sampai ke jaringan distribusi dan seterusnya sampai
ke konsumen. Jika jaringan transmisi menyalurkan secara baik maka energi listrik tidak akan terputus-
putus. Pencegahan gangguan bertujuan untuk mengecilkan dari frekuensi terjadinya hambatan
penyaluran energi listrik.
1. Usaha Memperkecil Terjadinya Gangguan
Cara yang ditempuh, antara lain:
a. Membuat alat proteksi sesuai dengan fungsinya masing-masing dan dapat bekerja dengan cepat jika
terjadi gangguan sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada sistem jaringan.
b. Menyetting relay proteksi sesuai dengan waktu kerjanya. Arus atau tegangan kerja relay harus lebih
besar dari arus dan tegangan normal, sehingga relay dapat bekerja sesuai fungsinya
c. Membuat isolasi yang baik untuk semua peralatan transmisi
d. Membuat koordinasi isolasi yang baik antara ketahanan isolasi peralatan transmisi dan penangkal
petir (arrester)
e. Memakai kawat tanah dan membuat tahanan tanah pada kaki menara sekecil mungkin, serta selalu
mengadakan pengecekan
f. Membuat perencanaan yang baik untuk mengurangi pengaruh dan mengurangi atau menghindarkan
sebab-sebab gangguan karena hubungsingkat dan sambaran petir.
g. Pemasangan yang baik, artinya pada saat pemasangan harus mengikuti peraturan-peraturan yang
berlaku
h. Menghindari kemungkinan kesalahan operasi, yaitu dengan membuat prosedur tata cara operasional
(standing operational procedur) dan membuat jadwal pemeliharaan yang rutin
i. Memasang kawat tanah pada SUTT dan gardu induk untuk melindungi terhadap sambaran petir
j. Memasang lightning arrester (penangkal petir) untuk mencegah kerusakan pada peralatan akibat
sambaran petir.

2. Usaha Mengurangi Kerusakan Akibat Gangguan


Beberapa cara untuk mengurangi pengaruh akibat gangguan, antara lain sebagai berikut:
a. Secepatnya memisahkan bagian sistem yang terganggu dengan memakai pengaman dan pemutus
beban dengan kapasitas pemutusan yang memadai yang di perintah otomatis oleh relay proteksi.
b. Merencanakan agar bagian sistem yang terganggu bila harus dipisahkan dari sistem tidak akan
menganggu operasi sistem secara keseluruhan atau penyaluran tenaga listrik ke jaringan distribusi tidak
terganggu.
c. Mempertahankan stabilitas sistem selama terjadi gangguan, yaitu dengan memakai pengatur
tegangan otomatis yang cepat dan karakteristik kestabilan generator memadai.