Anda di halaman 1dari 3

Mengolah Air Gambut Menjadi Air Sehat

Kompas.com - 03/08/2012, 11:06 WIB BAGIKAN: Komentar Oleh NAWA TUNGGAL

Masyarakat di lahan gambut berisiko mengalami gangguan kesehatan karena


mengonsumsi air bersifat asam yang bisa membuat gigi keropos. Selain itu, air
gambut mengandung zat organik ataupun anorganik yang bisa mengganggu
metabolisme tubuh. Untuk mengatasi masalah itu, periset pada Pusat Penelitian
Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ignatius DA Sutapa,
merancang instalasi pengolah air gambut menjadi air baku yang sehat untuk
dikonsumsi. ”Hasil penelitian kami sudah dimanfaatkan di Kabupaten Katingan,
Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Bengkalis, Riau,” kata Sutapa, Kamis (2/8), di
Cibinong Science Center LIPI, Cibinong, Jawa Barat. Saat ini, instalasi pengolah air
gambut (IPAG) LIPI diproduksi dengan kapasitas 60 liter per menit. IPAG60 mampu
mencukupi kebutuhan air bersih 100 rumah tangga. Air gambut memiliki derajat
keasaman (pH) 2,7- 4. Adapun pH netral adalah 7. Pengolahan air gambut melalui
sejumlah tahapan, meliputi koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi,
netralisasi, dan desinfektasi. Air gambut yang berwarna hitam kecoklatan itu
mengandung senyawa organik trihalometan yang bersifat karsinogenik (memicu
kanker). Selain itu, air gambut mengandung logam besi dan mangan dengan kadar
cukup tinggi. Konsumsi dalam jangka panjang bisa mengganggu kesehatan.
Diendapkan dan disaring Air gambut diolah dengan cara koagulasi (diendapkan).
Koagulan utama yang digunakan adalah alum sulfat. Koagulan ini digunakan dengan
variasi konsentrasi hingga 50 bagian per sejuta (ppm), bergantung pada kepekatan
air gambut. Koagulasi menghasilkan endapan yang ditampung dalam bak
sedimentasi. Selanjutnya, air dialirkan untuk disaring dengan pasir silika dan
antrasit. Unit filtrasi merupakan saringan pasir cepat. Diameter pasir silika dan
antrasit adalah 0,6-2 milimeter.

Komposisi media penyaring disusun berdasarkan tingkat efisiensi proses koagulasi.


Media filter memungkinkan terbentuknya biofilm mikroorganisme. Ini yang
menguraikan polutan organik air gambut yang dialirkan. Untuk menghilangkan bau,
warna, dan rasa digunakan penyaring karbon aktif. Dengan ukuran partikel karbon
aktif relatif kecil, warna air gambut yang pekat dan mengandung asam humat dapat
diserap. Konsentrasi karbon aktif bergantung pada intensitas warna yang akan
direduksi. Kemudian dilanjutkan dengan proses netralisasi tingkat keasaman air
menggunakan soda ash. Untuk membunuh bakteri patogen di dalam air digunakan
kalsium hipoklorit. Dipatenkan Tahun 2012, LIPI menghasilkan tiga unit IPAG60 dan
sedang mengerjakan pesanan sebanyak 15 unit. Metode pengolahan air gambut
serta kelengkapan peralatannya sedang dipatenkan. Sutapa mendaftarkan hak
paten dengan nomor registrasi P00201000586 ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan
Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Klaim patennya mencakup
pengolahan air gambut, termasuk ditemukannya kombinasi optimal antara proses
netralisasi, pembubuhan karbon aktif, dan koagulasi. Dari hasil penemuan instalasi
pengolah air gambut memungkinkan dibuat sistem pengolah air gambut yang
kontinu dengan produktivitas tinggi. Peralatannya bisa dirancang dalam bentuk kecil
dan mudah dibawa. ”Pemerintah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan PT
Sinar Mas di Riau sudah memasang IPAG60,” kata Sutapa. Sutapa merancang
IPAG60 bersama peneliti LIPI lain yang tergabung ke dalam Program Kompetitif
LIPI, Energi Bersih Terbarukan, dan Pasokan Air Bersih Berkelanjutan. IPAG60
merupakan instalasi pengolah air gambut menjadi air bersih terbesar di Indonesia
saat ini. Kualitas air produksinya memenuhi standar kesehatan berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010. Untuk pengolahan
dibutuhkan energi listrik relatif rendah. Energi itu bisa diupayakan dari panel surya.
Biaya produksi air bersih mencapai Rp 15.000-Rp 25.000 per meter kubik. Besar
biaya bergantung pada kualitas air gambut yang diolah. Saat ini diperkirakan luas
hutan dan lahan gambut yang tersisa sekitar 21 juta hektar. Jutaan penduduk di
lokasi itu masih memanfaatkan air gambut untuk keperluan sehari-hari, selain air
tadah hujan. Pemenuhan kebutuhan air bersih di Indonesia masih sangat kurang.
Diperkirakan hanya 30 persen dari kebutuhan yang terpenuhi. Bahkan, di kawasan
lahan gambut marginal diperkirakan hanya 10 persen penduduk yang memiliki akses
air bersih. Hasil riset pengolah air gambut memberikan sumbangan nyata.
Pemanfaatannya sekaligus juga untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium
2015 melalui peningkatan akses terhadap air bersih.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengolah Air Gambut Menjadi
Air
Sehat", https://sains.kompas.com/read/2012/08/03/11060761/Mengolah.Air.Gambut.
Menjadi.Air.Sehat?page=2.