Anda di halaman 1dari 50

Enam Makhluk yang Belum Dikenal

Ilmu Pengetahuan Menghuni Tambora

KOMPAS.com - Enam makhluk yang belum dikenal ilmu pengetahuan


diyakini menghuni Tambora. Itu terungkap lewat Ekspedisi NKRI yang
dilakukan oleh Lembaga Ilmu Penmgetahuan Indonesia (LIPI) dan
sejumlah pihak mulai 16 April 2015 lalu selama 10 hari.

Cahyo Rahmadi, peneliti arachnida LIPI yang menjadi koordinator


ekspedisi, mengungkapkan bahwa keenam makhluk yang diyakini
menghuni Tambora itu merupakan kandidat spesies baru. Riset masih
perlu dilakukan untuk mengonfirmasi kebaruannya.

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati,


mengatakan bahwa keenam makhluk itu adalah "dua spesies cicak, dua
spesies kupu-kupu malam dan dua spesies kalacemeti, serta opiliones."

Enam hewan tersebut hanya sedikit dari banyak keanekaragaman


hayati yang terungkap lewat ekspedisi. Selain jenis yang diduga baru,
ekspedisi juga mengungkap makhluk-makhluk endemik dan unik dari
Tambora.

"Spesies endemik yang ditemukan yaitu satu spesies kelelawar, enam


spesies burung endemik Nusa Tenggara Barat dan beberapa spesies
baru diyakini merupakan spesies yang sebarannya sangat terbatas,”
urai Cahyo.

Selama ekspedisi, tim melewati jalur pendakian Kawinda Toi. Cahyo


mengatakan, kondisi hutan di jalur pendakian masih sangat bagus. Area
seluas setengah hektar di wilayah itu menyimpan 22 jenis flora.

"Elaeocarpus batudulangi merupakan spesies endemik dari kelompok


flora,” imbuh Cahyo. Pohon tersebut memiliki karakteristik sebagian
besar daunnya telah menguning dan kemudian gugur yang merupakan
ciri umum hutan daerah kering, sambungnya.

Adapun spesies yang banyak dijumpai sepanjang jalur pendakian


Kawinda Toi, yaitu Duabanga moluccana Blume, Engelhardia
spicata Lech. ex Blume, Acronychia trifoliata Zoll., dan Syzigium spp.

Di area tersebut, peneliti mencatat 46 spesies burung dimana tiga


spesies merupakan burung migran, 21 spesies reptil dan empat spesies
amfibi dari berbagi marga. Jumlah itu masih bisa bertambah bila
dilakukan penelitian.

Dari kelompok mamalia sedikitnya ditemukan 10 spesies, terdiri tiga


spesies kelelawar, tiga spesies tikus, satu spesies primata, satu spesies
musang dan beberapa mamalia lain seperti babi dan rusa.

Sementara dari golongan kalajengking, kalacemeti dan laba-laba


ditemukan setidaknya 10 spesies, meliputi satu jenis kalajengking, satu
jenis kalacemeti, satu jenis kalacuka, tiga jenis opiliones dan lebih dari
empat jenis laba-laba.

“Keanekaragaman kalajengking maupun laba-laba relatif rendah dengan


kondisi hutan yang masih sangat bagus seperti di jalur pendakian
Kawinda Toi,” tutur Cahyo dalam rilis LIPI, Senin (11/5/2015).

Pada wilayah Tambora dengan ketinggian 100 - 500 mdpl, tim peneliti
mengungkap 230 jenis kupu-kupu dan 27 jenis tawon. Tim mengungkap
ada dua jenis lebah madu yang potensial nilai ekonominya.
Temuan dalam ekspedisi ini menambah serta memperbarui data
keanekaragaman hayati di Tambora. LIPI akan mengungkap lebih detail
jenis-jenis yang ditemukan di Tambora pada Selasa (12/5/2015).

Teka-teki Naskah Kuno di


Birmingham, Benarkah Al Quran
Pertama di Dunia?

KOMPAS.com - Ketika Universitas Birmingham mengungkapkan bahwa


mereka memiliki fragmen dari salah satu Al Quran tertua di dunia,
pernyataan itu menjadi berita utama di seluruh dunia.

Dalam hal penemuan, tampaknya mungkin tidak luar biasa, tetapi timbul
pertanyaan lebih besar tentang asal-usul naskah kuno ini.

Saat ini, ada sebuah pendapat dari Timur Tengah yang menyatakan
bahwa penemuan tersebut bisa menjadi lebih signifikan dan spektakuler
daripada yang diperkirakan.

Ada klaim bahwa fragmen ini bisa jadi merupakan fragmen dari versi
lengkap Al Quran pertama, yang ditugaskan kepada Abu Bakar—
sahabat Nabi Muhammad—dan bahwa penemuan fragmen ini adalah
penemuan paling penting bagi dunia Muslim.
Kecocokan dengan fragmen Paris

Namun, beberapa dari potongan itu telah jatuh ke beberapa tempat.

Tampaknya fragmen di Birmingham, setidaknya berusia 1.370 tahun,


dan pernah tersimpan di masjid tertua Mesir, Masjid Amr ibn al-As di
Fustat.

Setelah dilakukan berbagai penelitian dan uji coba, para akademisi


semakin percaya bahwa naskah Birmingham benar-benar cocok
dengan fragmen di Perpustakaan Nasional Perancis, Bibliotheque
Nationale de France.

Pihak perpustakaan menunjuk pakar bernama Francois Deroche,


sejarawan Quran dan akademisi di College de France, dan ia
menegaskan bahwa fragmen di Paris merupakan bagian dari Al Quran
yang sama dengan fragmen yang ada di Birmingham.

Alba Fedeli, peneliti yang pertama kali mengidentifikasi naskah di


Birmingham, juga yakin bahwa fragmen tersebut sama dengan fragmen
di Paris.

Hal terpenting yang diketahui adalah bahwa naskah di Paris juga


berasal dari Masjid Amr ibn al-As di Fustat.

“Pergi diam-diam”

"Fragmen Paris" dari manuskrip ini dibawa ke Eropa oleh Asselin de


Cherville, yang menjabat sebagai wakil konsul di Mesir ketika negara itu
di bawah kendali tentara Napoleon pada awal abad ke-19.

Deroche mengatakan bahwa janda Asselin de Cherville sepertinya telah


mencoba untuk menjual manuskrip ini dan manuskrip Islam kuno
lainnya ke Perpustakaan Inggris pada tahun 1820-an, tetapi mereka
berakhir di perpustakaan nasional di Paris, dan tetap di sana sejak itu.

Jika seharusnya manuskrip ini berada di Paris, apa yang terjadi pada
fragmen yang berada di Birmingham?

Deroche menjelaskan, pada abad ke-19, manuskrip dipindahkan dari


masjid di Fustat ke perpustakaan nasional di Kairo.
Sepanjang jalan, beberapa lembar “pergi diam-diam” dan memasuki
pasar barang antik.

Lembaran-lembaran tersebut mungkin dijual dan dijual kembali, sampai


pada tahun 1920 mereka diakuisisi oleh Alphonse Mingana dan dibawa
ke Birmingham.

Mingana merupakan seorang Suriah, yang melakukan perjalanan ke


Timur Tengah dengan didanai oleh keluarga Cadbury.

"Tentu saja, tidak ada jejak resmi dari episode ini yang tersisa, tetapi itu
pasti menjelaskan bagaimana Mingana mendapat beberapa lembar dari
harta Fustat," kata Deroche.

Yang menggoda, ia mengatakan bahwa fragmen sejenis lainnya, dijual


ke para kolektor Barat, masih menunggu untuk ditemukan.

Tanggal disengketakan

Namun, hal yang lebih kontroversial adalah penanggalan naskah di


Birmingham. Hal yang benar-benar mengejutkan tentang penemuan
Birmingham adalah tanggal awal, dengan pengujian radiokarbon yang
menempatkannya antara 568 dan 645.

Studi lebih lanjut mengungkap naskah itu bertanggal dalam kisaran 13


tahun setelah kematian Nabi Muhammad pada 632 M.

David Thomas, profesor Kristen dan Islam Universitas Birmingham,


menjelaskan bahwa naskah ditempatkan pada tahun-tahun awal Islam.
"Orang yang benar-benar menulisnya dapat diketahui sebagai Nabi
Muhammad."

Tetapi, tanggal awal bertentangan dengan temuan akademisi yang


berdasar pada analisis mereka terhadap gaya teks.

Mustafa Shah, dari Departemen Studi Islam di School of Oriental and


African Studies in London, mengatakan, "bukti grafis", seperti
bagaimana ayat-ayat dipisahkan dan tanda gramatikal, menunjukkan ini
berasal dari tanggal sesudahnya.

Dalam bentuk awal bahasa Arab ini, gaya menulis dikembangkan dan
aturan tata bahasa berubah. Dr Shah mengatakan, naskah Birmingham
tidak konsisten dengan tanggal awal.

Deroche juga mengatakan bahwa ada kasus radiokarbon di mana


naskah dengan tanggal yang diketahui telah diuji dan hasilnya salah.

Yakin tanggalnya akurat

Akan tetapi, staf di unit akselerator radiokarbon Oxford University, yang


menguji tanggal perkamen, yakin temuan mereka benar.

Peneliti David Chivall mengatakan, keakuratan penanggalan telah


meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan pendekatan yang
lebih dapat diandalkan untuk menghilangkan kontaminasi dari sampel.

"Kami yakin bahwa kami melakukan penanggalan yang akurat."

Selain itu, opini akademik dapat berubah. Shah mengatakan bahwa


sampai tahun 1990-an pandangan akademis yang dominan di Barat
adalah bahwa tidak ada versi tertulis lengkap Al-Quran sampai abad ke-
8.

Namun, para peneliti telah membalik konsensus ini, membuktikan hal itu
"benar-benar salah" dan memberikan lebih banyak dukungan untuk
catatan Muslim tradisional tentang sejarah Al Quran.

Naskah yang cocok di Paris sebenarnya dapat membantu untuk


menyelesaikan argumen tentang tanggal, tetapi sayangnya naskah itu
belum diuji radiokarbon.

Quran pertama

Tetapi, jika penanggalan naskah Birmingham benar, lantas apa artinya?

Hanya ada dua lembar di Birmingham, tetapi Prof Thomas mengatakan,


koleksi lengkap akan terdiri dari sekitar 200 lembar yang terpisah.

Kemudian, timbul pertanyaan tentang siapakah yang ditugaskan


menulis dan menyusun Quran dan mampu memobilisasi sumber daya
untuk memproduksinya?

Jamal bin Huwareib, managing director dari Mohammad bin Rasyid Al


Maktoum Foundation, sebuah yayasan pendidikan yang didirikan oleh
penguasa Uni Emirat Arab, mengatakan, bukti menunjuk ke kesimpulan
luar biasa.

Ia percaya naskah di Birmingham adalah bagian dari versi pertama Al


Quran yang ditulis komprehensif dan dirakit oleh Abu Bakar, khalifah
Muslim yang memerintah antara 632 dan 634.

"Ini penemuan paling penting yang pernah ada bagi dunia Muslim," kata
bin Huwareib, yang telah mengunjungi Birmingham untuk memeriksa
naskah.

"Saya yakin ini adalah Al Quran dari Abu Bakar."

Dia mengatakan, kualitas tinggi tulisan tangan dan perkamen


menunjukkan bahwa lembaran ini adalah sebuah karya bergengsi yang
dibuat untuk seseorang yang penting. Penanggalan radiokarbon
menunjukkan bahwa fragmen tersebut berasal dari hari-hari Islam awal.

"Versi ini, koleksi ini, naskah ini adalah akar Islam, itu adalah akar dari
Al Quran," kata bin Huwareib.

"Ini akan menjadi sebuah revolusi dalam mempelajari Islam,”


tambahnya.

"Naskah tak ternilai"

Ada kemungkinan lain. Penanggalan radiokarbon didasarkan pada


kematian hewan yang kulitnya digunakan untuk perkamen, bukan ketika
naskah itu selesai ditulis. Itu berarti naskah bisa saja ditulis beberapa
tahun kemudian dari rentang akhir di 645, dengan Prof Thomas
menunjukkan tanggal kemungkinan dari 650-655.

Ini akan tumpang tindih dengan produksi salinan Al Quran pada masa
pemerintahan khalifah Utsman—antara 644 dan 656, yang
dimaksudkan untuk menghasilkan Al Quran versi standar dan akurat
untuk dikirim ke komunitas-komunitas Muslim.

Jika naskah Birmingham adalah sebuah fragmen dari salah satu salinan
tersebut, tentu ini juga akan menjadi hasil yang spektakuler.

Memang tidak mungkin untuk secara definitif membuktikan atau


menyangkal teori tersebut.
Tetapi, Joseph Lumbard, profesor di departemen bahasa Arab dan studi
penerjemahan di American University of Sharjah, mengatakan, jika
penanggalan awal benar maka tidak ada yang harus disingkirkan.

"Saya tidak akan mengabaikan bahwa bisa saja fragmen tersebut


berasal dari naskah kuno yang dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit di
bawah kepemimpinan Abu Bakar.”

"Saya tidak akan mengabaikan bahwa itu bisa saja menjadi salinan
naskah kuno Usman. Saya juga tidak akan mengabaikan argumen
Deroche, dia ahli di bidang ini," kata Prof Lumbard.

Prof Thomas mengatakan bisa saja salinan-salinan dibuat, dan mungkin


naskah Birmingham merupakan salinan dari salinan yang dibuat khusus
untuk masjid di Fustat.

Jamal bin Huwaireb melihat penemuan ini seperti "naskah tak ternilai" di
Inggris, yang bukan sebuah negara Muslim, seperti mengirim pesan
saling toleransi antar-agama.

"Kita harus menghormati satu sama lain, bekerja sama, kita tidak perlu
konflik," pungkasnya.
El Nino Tahun 2015 Samai Tahun 1998,
Terkuat Sepanjang Sejarah

KOMPAS.com — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat


atau NASA memperingatkan bahwa efek fenomena cuaca El Nino
belakangan ini bisa menyamai rekor tahun 1998 sebagai yang terparah
dan terkuat dalam sejarah.

El Nino saat itu mengacaukan sistem cuaca dunia dan disebut sebagai
pemicu beberapa peristiwa cuaca ekstrem.

El Nino pada tahun ini dikaitkan dengan sejumlah peristiwa banjir dan
kenaikan suhu yang tidak biasa di belahan bumi utara.

Fenomena tersebut mengakibatkan air hangat dari Pasifik tengah


mengalir ke arah timur menuju Amerika Utara dan Selatan.

El Nino ialah fenomena cuaca yang terjadi secara alami setiap 2-7
tahun.

Fenomena ini biasanya memuncak pada akhir tahun, meskipun


dampaknya dapat berlangsung sampai musim semi berikutnya, dan
bertahan sampai 12 bulan.
NASA mengatakan, El Nino yang sekarang "tidak menunjukkan tanda
pelemahan" berdasarkan citra satelit terbaru dari Samudra Pasifik.

Manurut NASA, hal tersebut memiliki "kemiripan yang mencolok"


dengan El Nino pada Desember 1997, yang merupakan "pertanda El
Nino yang besar dan kuat".

Temuan NASA mirip dengan hasil telaah Organisasi Meteorologi Dunia


(WMO) yang menyebutkan, fenomena cuaca El Nino saat ini mungkin
saja adalah yang terkuat sejak 1950.

El Nino tahun ini dihubungkan dengan banjir terburuk selama 50 tahun


di Paraguay, Argentina, Uruguay, dan Brasil.

Banjir tersebut memaksa lebih dari 150.000 warga meninggalkan rumah


mereka.

Sebanyak 13 orang tewas di negara bagian Missouri, AS, akibat sungai


yang meluap setelah tornado dan badai melanda wilayah itu.

Delapan kilometer bagian dari Sungai Mississippi dekat St Louis ditutup


untuk kapal akibat "kondisi berbahaya" yang diakibatkan badai.

El Nino juga dinyatakan sebagai faktor penyebab banjir yang


menghantam bagian utara Inggris, memaksa ribuan warga mengungsi
dari rumah mereka dan meninggalkan ribuan lainnya tanpa listrik.

Badai Frank, yang diperkirakan akan membawa hujan dan banjir ke


Inggris pekan ini, merupakan bagian dari sistem cuaca yang
menyebabkan kenaikan suhu tidak normal di Arktik.

Satu pemantau cuaca dekat Kutub Utara mengukur suhu di atas titik
beku. Hal ini hampir tidak pernah ditemukan pada tahun-tahun
sebelumnya, saat angka normal sekitar 25 derajat celsius.
Kentang Akan Dibudidayakan di Mars
bak di Film "The Martian"

KOMPAS.com — Di film The Martian, ada adegan seorang astronot


yang terdampar di Planet Mars dan mencoba untuk bertanam kentang
untuk memenuhi pasokan makanannya.

Kini para ilmuwan NASA akan melakukan eksperimen serupa dengan


menumbuhkan kentang di Planet Mars.
Eksperimen ini tidak hanya untuk mencari tahu apakah manusia akan
bisa bercocok tanam di planet lain, tetapi juga mencari solusi untuk
bertanam dalam kondisi yang sulit di Planet Bumi.
Penelitian yang akan dilakukan oleh International Centre Potato atau
CIP dan NASA ini merupakan terobosan untuk membangun sebuah
kubah yang bisa dikendalikan di Planet Mars untuk menanam bibit yang
sulit tumbuh.
"Adakah cara yang lebih baik untuk belajar soal perubahan iklim dengan
menanam tumbuhan di sebuah planet yang telah mati 2 miliar tahun
yang lalu?" ujar Joel Ranck dari CIP.
"Kami ingin agar orang-orang paham bahwa jika kita dapat
menumbuhkan kentang dalam kondisi ekstrem seperti di Mars, maka
kita bisa menyelamatkan kehidupan di Bumi," tambahnya.
Tujuan dari eksperimen ini adalah meningkatkan kesadaran soal
ketahanan kentang, selain untuk mendanai penelitian lebih lanjut dan
berbudidaya di kawasan dunia yang sulit serta menghadapi kekurangan
gizi dan kemiskinan.
Pemimpin proyek, Will Rust, dari Memac Ogilvy Dubai, mengatakan,
eksperimen ini nantinya bisa menjadi jawaban untuk masalah kelaparan
global.
Dengan menggunakan tanah dari Gurun Pampas de La Joya, yang
hampir identik dengan yang ditemukan di Mars, tim selanjutnya akan
meniru kondisi atmosfer Mars di laboratorium.
Tingkat karbon dioksida yang tinggi akan menguntungkan tanaman
kentang, dengan hasil produksi yang bisa meningkat dua hingga empat
kali lipat jika dibandingkan dengan menanam di kondisi Bumi.
Hampir 95 persen atmosfer di Planet Mars mengandung karbon
dioksida.
CIP mengatakan, kentang merupakan sumber yang sangat baik untuk
vitamin C, zat besi, dan seng. Kentang juga mengandung mikronutrisi
penting yang perlahan hilang dalam masyarakat secara global.
Pemimpin ilmuwan Julio E Valdivia-Silva mengatakan bahwa ia sangat
senang dengan gagasan membudidayakan kentang di Planet Mars.
"Saya senang dengan ide menanam kentang di Mars, dan lebih dari itu,
kita dapat melakukan simulasi dari kondisi Mars yang memiliki
persamaan dengan daerah tempat kentang berasal," ujarnya.
Peneliti Mulai Periksa Gigi Manusia
"Hobbit" dari Flores

KOMPAS/Aloysius Budi KurniawanArkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, E Wahyu Saptomo (kiri)
dan Jatmiko (kanan), mengamati replika tengkorak Homo floresiensis atau manusia Liang Bua,
Selasa (16/12/2014), di Kantor Pusat Arkeologi Nasional, Jalan Raya Condet, Pejaten, Jakarta.
Selain Wahyu dan Jatmiko, dua arkeolog lain, yaitu Rokus Awe Due dan Thomas Sutikna, turut
menemukan kerangka manusia kerdil asal Flores, NTT, ini. Akhir tahun lalu, keempat ilmuwan
tersebut masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh 2014 menurut Thomson Reuters.

Oleh Lusiana Indriasari

KOMPAS.com - Peneliti dari Jepang, Australia, dan Indonesia mulai


meneliti struktur gigi manusia purba Homo floresiensis yang ditemukan
di Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak 2003.

Penelitian dilakukan untuk mencari bukti bahwa "manusia hobbit"


dengan tinggi hanya berkisar satu meter itu bukan dari jenis manusia
modern (Homo sapiens) yang mengalami kecacatan.

Tim peneliti terdiri dari para ahli di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan
dan Alam (Jepang), Universitas Wollongong (Australia), dan Pusat
Arkeologi Nasional (Indonesia).

Pekan lalu para ahli mulai membandingkan 40 spesimen gigi dari


sembilan Homo floresiensis dengan gigi 490 manusia modern serta gigi
sepupu manusia yang telah punah.
Dari hasil analisis, mereka menemukan bahwa sebagian gigi manusia
purba dari Flores ini memang berukuran sama dengan gigi individu
manusia modern, tetapi sebagian lagi ukuran giginya sama dengan
manusia purba yang lebih tua lagi. Karakter giginya juga lebih mirip
dengan manusia purba seperti Homo erectus.

Mereka membandingkan gigi-gigi tersebut dengan menggunakan


analisis metric linear, analisis kontur gigi geraham, dan membandingkan
satu demi satu ciri khas morfologi gigi. Dari situ, para ahli menemukan
indikasi bahwa sisa gigi pada beberapa individu memiliki kombinasi gigi
yang tidak ditemukan pada spesies manusia modern.

Dalam jurnal yang diunggah ke dalam situs Plos One disebutkan,


temuan itu membuat para ilmuwan menolak anggapan bahwa hobbit
merupakan satu spesies dengan manusia modern.

Ada kemungkinan Homo floresiensis ini merupakan keturunanHomo


erectus. Mereka menduga manusia purba ini menjadi kecil karena
tinggal di pulau yang sumber daya alamnya sangat terbatas sekitar
18.000 tahun lalu.

Kerangka manusia Homo floresisensis ditemukan empat peneliti Pusat


Arkeologi Nasional, yakni Wahyu Saptomo, Jatmiko, Thomas Sutikna,
dan Rokus Awe Due, bersama Mike Morwood dari University of New
England, Australia.

Ketika melakukan penggalian di gua karst Liang Bua pada 2003 yang
diketuai RP Soeroso, mereka menemukan sembilan kerangka tulang
manusia yang ukurannya seperti bocah, tingginya hanya 1 meter lebih
sedikit.

Temuan kerangka itu digali di salah satu sudut Liang Bua. Menurut
Thomas Sutikna, Liang Bua memiliki data sejarah yang sangat lengkap
mulai dari masa Holosen hingga Plestosen. Mengingat rentang masa
itu, kemungkinan masih akan ada temuan lain selain Homo floresiensis.

Kerangka manusia kerdil Flores itu ditemukan saat menggali kedalaman


5,9 meter pada lapisan tanah Plestosen. Dari ukuran tengkorak,
diperkirakan volume otak manusia purba itu hanya 417 sentimeter
kubik.
Kontroversi

Temuan itu memunculkan kontroversi. Sebagian ilmuwan meragukan


bahwa Homo floresiensis atau manusia Flores merupakan manusia
yang usianya jauh lebih tua dari manusia modern.

Teuku Jacob, peneliti dari Laboratoriun Bioantropologi dan


Paleoantropologi Universitas Gadjah Mada dalam laporan yang
diterbitkan National Academy of Science (2006), menyatakan bahwa
tulang tengkorak dan kerangka tubuh hobbit mengalami kelainan
pertumbuhan dan perkembangan.

Teuku Jacob menulis laporan tersebut bersama peneliti lain, yakni RP


Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kenneth Hsu dari
National Institute of Earth Science Beijing, DW Frayer dari Departemen
Antropologi Universitas Kansas, dan lain-lain.

Seperti dikutip situs Proceeding National Academy of Science, dari 140


kerangka yang diteliti ditemukan bahwa mereka yang terkubur itu mirip
dengan populasi Austromelanesia.

Itu berarti Homo floresiensis merupakan nenek moyang manusia


modern (Homo sapiens). Rahang bawah dan gigi manusia hobbit
menunjukkan kesamaan dengan suku pigmi Rampasasa yang tinggal di
sekitar Liang Bua.

Sebagian individu menunjukkan kondisi mikrosefalia atau bertengkorak


dan berotak kecil, sebagian lain meski bertubuh kecil tidak mengalami
mikrosefalia.
"Diasingkan" dari Sumatera, Kini
Pulau Ini Memberi Kejutan bagi
Indonesia

LIPIKatak enggano (atas) dan Bengkulu serta analisis "bahasa" yang digunakan untuk memanggil
betina.

KOMPAS.com — "Diasingkan" dari Sumatera oleh proses geologi,


Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan
bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan
belum dikenal sebelumnya.

Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah
dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak
seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber
engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis
serta bunganya yang khas.
LIPIJahe baru dari Enggano (Zingiber engganoensis) dan kerabat terdekatnya, Zingiber spectabile

Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa


kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA.
"Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini,"
ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

LIPISalakhutan yang dikoleksi di Pulau Enggano lewat Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. lain dengan salak biasanya, jenis ini memiliki buah yang tersusun menjuntai.

Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di
Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan
sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya
mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak
itu khas Enggano.
LIPINinox sp dan Alcedo sp, burung hantu dan burung raja udang yang diyakini jenis baru dari
Enggano.

Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru.
Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninoxspp. Jenis lain
adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda
signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai.

Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua
jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda
untuk menarik pasangan. "Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di
Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya
juga berbeda," ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14


spesies yang diyakini pasti baru. "Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin
baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan,
2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu," urai Amir.
LIPIUlar tikus Enggano (Coelognathus enganensis)

Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi


juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah
satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular
itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil
menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M


placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius
Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama
kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia.

Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur
garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano
ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI
meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di


Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. "Karena
mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi,
biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi," kata Amir.
Tikus Hidung Babi Ditemukan di Hutan
Perawan Sulawesi

Museum Victoria/LIPITikus hidung babi (Hyorhinomys stuempkei)

KOMPAS.com — Tim ilmuwan dari Museum Zoologi Bogor, Pusat


Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Lousiana State University, dan Museum Victoria mengungkap genus
baru tikus, yang disebut tikus hidung babi.

Genus baru itu ditemukan di hutan perawan wilayah Tolitoli, Sulawesi,


yang jarang dijamah. Hanya satu dua pencari rotan yang mencapai
wilayah itu.

Temuan ini memberi pengetahuan tentang penyebaran tikus celurut


yang ternyata bisa mencapai wilayah lebih ke utara dan lebih tinggi dari
yang diduga. Riset dipublikasikan di Journal of Mammalogy edisi
Oktober 2015.

Anang Setiawan Achmadi, Jake Esselstyn, Kevin Rowe, dan Heru


Handika sedang melakukan ekspedisi penelitian ke hutan wilayah
Gunung Dako ketika menjumpai genus tikus itu pada tahun 2012.

Tim memasang perangkap jepit dan umpan di suatu dataran di hutan


berketinggian lebih dari 1.500 meter. Perangkap jepit adalah perangkat
umum yang biasa dipakai untuk mengoleksi hewan pengerat liar.

"Yang pertama menemukan tikus ini Kevin. Dia berteriak. Kami yang
masih di kamp dan mendengar langsung curiga ada sesuatu yang
mengejutkan," kata Anang.

Begitu Kevin membawa spesimen ke kamp, seluruh tim kegirangan.


Mereka langsung melakukan analisis singkat dan meyakini bahwa tikus
yang dijebak adalah jenis baru.

Saat melakukan analisis di laboratorium, tim mengungkap bahwa


spesimen tikus yang ditangkap sangat khas dan berbeda dengan
lainnya sehingga bahkan layak disebut genus baru.

Museum Victoria/LIPITikus Hidung Babi (Hyorhinomys stuempkei)

Secara ilmiah, tikus baru ini dinamai Hyorhinomys stuempkei. Nama


genus "Hyorhinomys" diambil dari kata "hyro" yang berarti "babi", "rhino"
yang berarti "hidung", dan "mys" yang berarti "tikus".

Sementara itu, nama spesies "Stuempkei" diambil dari nama samaran


Gerolf Steiner, Harald Stuempke. Dia adalah penulis buku fiksi The
Snouter yang bercerita tentang adanya tikus yang terpapar radiasi
sehingga hidungnya menjadi panjang.

Kepada Kompas.com, Senin (5/10/2015), Anang mengatakan, "Ciri


yang sangat menonjol dari tikus ini adalah hidungnya yang seperti
hidung babi." Hewan itu dikatakan seperti hidung babi karena bentuknya
yang besar, rata, dan berwarna merah muda.

Ciri lainnya adalah adanya rambut yang sangat panjang di bagian dekat
saluran kencing. "Kami belum pernah menemukan tikus celurut memiliki
rambut urogenital yang sepanjang ini, mencapai 5 sentimeter. Kami
belum tahu fungsinya apa."

Karakteristik unik lain dari tikus baru ini adalah gigi serinya yang putih.
Kebanyakan tikus memiliki gigi seri oranye. Sementara itu, telinganya
juga besar.

"Di Australia, Hyorhinomys lebih terlihat seperti tikus bilby, dengan kaki
belakang yang besar, telinga besar dan panjang, serta moncong yang
panjang dan meruncing," ungkap Kevin.

Ciri itu merupakan salah satu karakteristik tikus pengerat karnivora yang
memakan cacing tanah, larva kumbang, dan serangga kecil.

Temuan tikus ini menantang pandangan ilmuwan tentang penyebaran


celurut di Sulawesi saat ini. Sejauh ini, celurut dikatakan hanya
menyebar hingga wilayah Sulawesi bagian tengah dan di dataran
rendah.

Wilayah Tolitoli sudah terlalu ke utara. "Untuk sampai ke sana,


ada barrier yang harus dilewati. Bagaimana celurut ini sampai ke sana,
ini masih menjadi pertanyaan," kata Anang.

Sementara itu, celurut hingga saat ini ditemukan hanya pada ketinggian
di bawah 1.500 meter di atas permukaan laut. Tikus hidung babi
ditemukan di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut.

Temuan ini menambah daftar tikus-tikus unik di bumi sebelumya.


Sebelumnya, keberadaan sejumlah tikus diungkap, yakni tikus ompong
(Paucidentomys vermidax) dan tikus air mamasa (Waiomys mamasae).

Kevin mengungkapkan, "Kami masih kagum kita bisa berjalan ke


pelosok hutan di Sulawesi dan menemukan beberapa spesies baru
mamalia yang sangat berbeda dari spesies yang telah diketahui, atau
bahkan genus sekalipun."

Anang menuturkan, penemuan genus baru yang ketiga dalam kurun


waktu 5 tahun terakhir adalah bukti nilai penting kawasan hutan dan
pegunungan di Pulau Sulawesi. Masih banyak "harta karun terpendam"
keanekaragaman yang harus dijaga.
Hal ini menunjukkan pentingnya konservasi bagi masyarakat Indonesia.
Jangan sampai keanekaragaman hayati punah sebelum diungkap dan
diketahui manfaatnya.

Satelit Lapan A2/Orari Berhasil


Diluncurkan

KOMPAS.COM/ YUNANTO WIJI UTOMOPeluncuran satelit LAPAN A2/ORARI dipantau dari Kantor
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta, Senin (28/9/2015) oleh Kepala LAPAN
Thomas Djamaluddin (tengah) beserta pejabat lain dan undangan.

KOMPAS.com — Satelit Lapan A2/Orari berhasil diluncurkan ke


antariksa. Menunggang roket milik India, Lapan A2/Orari kini siap
memulai misi menjaga kedaulatan Nusantara.
Satelit berhasil diluncurkan pada pukul 11.30 WIB. Pada 21 menit 56
detik setelah peluncuran dari Pusat Antariksa Satish Dhawan,
Sriharikota, India, roket PSLV C30 beserta 7 satelit, termasuk Lapan
A2/Orari berhasil mencapai orbitnya pada ketinggian 650 kilometer dari
permukaan Bumi.
Dari kantor Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di
Jakarta, Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, Deputi Ilmu Pengetahuan
Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri
Handaka, dan sejumlah tamu undangan menyaksikan peluncuran.
Peluncuran satelit ini bersejarah bagi Indonesia karena, untuk kali
pertama, Indonesia berhasil meluncurkan satelit yang 100 persen dibuat
di Indonesia. Lapan A2/Orari dirancang, diuji, dan akan dipantau oleh
perekayasa Indonesia.
Thomas mengatakan, "Peluncuran satelit ini adalah lompatan besar
pengembangan teknologi satelit. Bagi Lapan, peluncuran ini memupuk
kepercayaan diri para perekayasa. Bagi Indonesia, ini adalah tahapan
menuju kemandirian satelit."
Sebelum mencapai orbit, roket PSLV C30 dan satelit yang dibawanya
melewati sejumlah tahap kritis. Roket pertama lepas pada 1 menit 52
detik setelah peluncuran. Roket kedua lepas pada 4 menit 23 detik.
Sementara itu, roket ketiga lepas pada 9 menit 48 detik.
Roket keempat menyertai satelit hingga ketinggian orbitnya. Saat
mencapai orbit, roket langsung mati dan memisahkan diri dari satelit.
Muatan utama roket, satelit Astrosat milik India, berhasil dilepaskan
pada ketinggian 650,17 kilometer pada 22 menit 33 detik setelah
peluncuran. Sementara itu, satelit Lapan A2/Orari lepas 23 menit 3 detik
setelah peluncuran pada ketinggian 650,16 kilometer. Satelit lain lepas
dengan rentang waktu 30 detik kemudian.
Thomas mengungkapkan, Lapan telah menyiapkan tim untuk
mendeteksi satelit. Tim akan ditempatkan di Rancabungur, Bogor, dan
Biak. Deteksi satelit akan berlangsung maksimal 7 hari.
Setelahnya, satelit perlu diposisikan menghadap Bumi sehingga bisa
mengirimkan data dan memotret. Sejumlah sensor juga perlu dites. "Ini
akan memakan waktu sekitar 1 bulan," kata Thomas.
Muka Air Laut Meningkat, Gerak Bumi
Semakin Lambat

NASABumi tampak sebagai kelereng biru dalam citra hasil jepretan misi Apollo 17

KOMPAS.com — Kenaikan suhu bumi akibat perubahan iklim bisa


membuat muka air laut meningkat. Peningkatan muka air laut bisa
membuat rotasi bumi lebih lambat. Hal itu diungkap dalam studi yang
dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Jumat (11/12/2015).

Bagaimana bisa?

Walter Munk, pakar oseanografi dari Scripps Institution of


Oceanography di la Jolla, California, memublikasikan makalah yang
mengulas tentang kaitan perbedaan muka air laut, pelelehan masa
glasial, dan rotasi planet pada tahun 2002.

Dalam makalahnya, Munk mengatakan bahwa perpindahan massa,


seperti ketika es di kutub mencair dan menutupi daratan, akan
menyebabkan perubahan poros rotasi bumi dan memengaruhi gerak
bumi terhadapnya.

Gagasan Munk belum bisa dibuktikan sehingga disebut "enigma Munk".

Dengan mengombinasikan kalkulasi rumit dan pemodelan dengan


komputer, Jerry Mitrovica yang seorang profesor geofisika di Harvard
University baru-baru ini berhasil mengungkap kaitan antara kenaikan
muka air laut dan rotasi bumi itu.
Sains dan Seksualitas, Tentang
Identitas yang Beragam

DIDIK SW/KOMPASIlustrasi

Oleh Maria Hartiningsih

KOMPAS.com - Seksualitas merupakan wilayah kontestasi politik


paling serius karena benturan antara nilai-nilai moral (agama),
kemajuan riset di bidang sains medik, dan realitas sosial.

Tama (26) harus menunggu tujuh tahun untuk kembali diakui sebagai
bagian dari keluarganya di Malang, Jawa Timur. Anak pertama dari tiga
bersaudara itu menyebut identitas seksualnya sebagai "trans-man",
bukan lesbian.

"Orangtua sangat marah," kenang aktivis remaja dan orang muda


dengan identitas beragam, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(Yotha-PKBI) Cabang Yogyakarta itu.

Siang itu, di salah satu ruangan di Gedung PKBI Yogyakarta, Alia (26)
mengisahkan, sejak usia 16 tahun, ia berpakaian perempuan dan
berada di jalanan. Keluarga dan tetangga menerima dirinya apa adanya.

Berbeda dengan kelompok homoseksual lainnya, kelompok waria lebih


kental stigma sosialnya dan kemanusiaannya direduksi sebatas sosok
menor di pinggir jalan. Mereka menelan seluruh hinaan. Apalagi kalau
tertangkap petugas keamanan.

Akan tetapi, kelompok inilah yang mengungkap sikap hipokrit


masyarakat. Kata Alia, kliennya adalah laki-laki, yang mungkin beristri
dan punya anak. Sebagian dengan ekspresi dan fantasi seksual yang
unik.

"Ada yang sebelum dilayani, minta memakai baju saya, lalu bersikap
seperti perempuan. Setelah selesai, dia bersikap seolah-olah yang tadi
itu tak pernah terjadi," tuturnya.

Rumit

Awalnya, Tama bergabung dengan gerakan perempuan, tetapi ada


resistansi dari dalam. Dia lalu menemukan ruang bersama remaja dan
kaum muda beragam identitas.

Dalam pertemuan nasional pada Agustus lalu, mereka mendiskusikan


posisi "trans-man" dalam gerakan sosial dan berbagai isu yang
menyertainya, khususnya terkait upaya membangun teori, informasi,
dan kesetaraan hak sebagai warga negara. "Layanan kesehatan
reproduksi tak ramah kepada orang-orang seperti kami," ungkap Tama.

Hak-hak atas kesehatan reproduksi dan seksual (SRHR) bersifat


universal. Namun, meminggirkan kelompok lesbian, gay, biseksual,
transjender, queer, dan interseks (LGBTQI). Mereka didiskriminasi
karena orientasi seksual dan identitas jendernya, serta menghadapi
ancaman kaum homofobia dan ekstremis transfobia.

Identitas jender, menurut American Psychological Association (2006),


mengacu pada perasaan seseorang sebagai laki-laki, perempuan, atau
transjender. Jika identitas jender dan seks tak selaras secara biologis,
seseorang bisa diidentifikasi sebagai trans-seksual atau kategori
transjender lain (Gainor, 2000).

Orientasi seksual mengacu pada ketertarikan secara seksual kepada


jenis seks tertentu, termasuk ketertarikan kepada seks sejenis (gay dan
lesbian), kepada jenis seks yang lain (heteroseksual), atau keduanya
(biseksual).

Kategori-kategori itu digunakan secara luas dan berkelanjutan. Namun,


riset menunjukkan, orientasi seksual tak selalu muncul dalam kategori-
kategori yang bisa didefinisikan dan tidak berkelanjutan (Klein 1993,
Klein, Sepekoff & Wolff 1985). Beberapa hasil penelitian menunjukkan,
orientasi seksual bersifat cair bagi beberapa orang, khususnya
perempuan (Diamond, 2007, Peplau & Garnets, 2000).

Tama dan Alia, juga Opi, Rika, Emil, dan lain-lain dari organisasi People
Like Us, Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), dan Satu Hati menguraikan
rumitnya mendefinisikan peran, keterikatan, dan konstruksi sosial dalam
hubungan sesama jenis.

"Ada istilah fake comfortability di kalangan remaja homoseksual," jelas


Opi (23), "Dalam masa tertentu, dia merasa nyaman, tetapi lalu ekspresi
seksualnya ingin berubah dan bisa dengan lawan jenis."

Hal yang sama terjadi di kalangan hetero. "Tetapi, lebih sulit bagi
kelompok ini mengakui dirinya biseksual," sambung Amir dari Yotha-
PKBI Yogyakarta.

Tidak dikotomis

Dikotomi dalam hidup tak bisa diandaikan. Amir mengutip Skala Kinsey,
Skala Peringkat Heteroseksual-Homoseksual yang diciptakan Alfred
Kinsey bersama Wardell Pomeroy dan Clyde Martin, pada tahun 1948.

Dalam "Sexual Behavior in the Human Male" (1948) dan "Sexual


Behavior in the Human Female" (1953), Kinsey menyatakan, perilaku
seksual, baik yang secara sosial diterima maupun tidak diterima,
heteroseksual atau homoseksual, adalah kenyataan. Hal yang
disangkali ialah gradasi dari ujung ekstrem satu ke ujung ekstrem
lainnya.

Kinsey menciptakan sistem klasifikasi yang mendeskripsikan sejarah


seksual seseorang pada waktu tertentu, untuk menunjukkan kontinuitas
gradasi dari sejarah perjalanan heteroseksual murni ke homoseksual
murni. Skala dengan 7 peringkat itu menggambarkan gradasi tersebut
secara lebih akurat.

Kalau mengacu pada Kinsey, "koreksi" untuk "meluruskan" orientasi


seksual sesuai dengan yang dianggap "normal" dalam norma arus
utama, selain melanggar hak, juga sia-sia.
Correction rape biasanya dilakukan dengan paksaan menikah dan
punya anak, tanpa dipahami, seksualitas di otak berlawanan dengan
seksualitas fisik. "Kalau ketangkep, waria dipotong rambutnya, dipaksa
memakai pakaian laki-laki," kata Alia.

Strategis

Isu SRHR adalah perjuangan tanpa akhir, lebih-lebih di kalangan remaja


dan kaum muda dengan seksualitas beragam. Hal inilah yang membuat
posisi Yotha strategis dalam perjuangan kesetaraan dan keadilan.

Yotha diawali pengorganisasian komunitas waria tahun 1993, dengan


program penanggulangan HIV/AIDS. "Sejak 2006, cakupannya lebih
luas, terkait relasi kuasa, konstruksi sosial, identitas, serta hak-hak atas
kesehatan reproduksi dan seksual," ungkap Direktur PKBI Yogyakarta
Gama Triono.

Mereka juga mengubah model kampanye. "Kalau kampanye Hari Anti


Kekerasan terhadap Perempuan berlangsung 16 hari, agenda kami 39
hari menuju Hari HAM, 10 Desember," lanjutnya.

Sepanjang tahun 2005-2010 mereka menyelenggarakan berbagai


kegiatan dan festival terkait seksualitas beragam. Sejak tahun 2012,
Yotha dinyatakan sebagai gerakan.

"Kalau dulu perjuangannya menolak kekerasan terkait jender biner,


sekarang jender beragam," sambung Tama.

Isu yang rumit itu hampir tak pernah disentuh di ruang publik.
Diskriminasi dan kekerasan terus berlangsung. Suara mereka hilang di
ruang-ruang politik formal.

Dalam "Sexual Politics" (1970), ilmuwan feminis Kate Millet menulis,


politik seksual sangat tajam mendefinisikan relasi-relasi atas dasar
kontak personal antaranggota dari berbagai kelompok koheren, ras,
kasta, kelas, dan seks. Kelompok yang tidak terwakili dalam struktur
politik cenderung terus ditindas. "PKBI Yogya menggantikan peran
negara untuk menanggapi isu ini," tegas Tama.
Perusahaan Teknologi Dukung
Gerakan Pengetahuan Bebas

Reuters
Microsoft

KOMPAS.com - Perusahaan teknologi terus menunjukan dukungan


terhadap gerakan "ilmu pengetahuan bebas" atau biasa disebut "open
science" yang telah mendorong perdebatan tentang publikasi karya
ilmiah dan proses ilmiah itu sendiri.

Ensiklopedia online Wikipedia, sejak 2001 telah mengambil langkah


untuk membuat ilmu pengetahuan bisa diakses siapa saja. Google, juga
melakukan hal itu, dengan mempublikasi penelitian yang diterbitkan
dalam forum online tersendiri, dan membayar biaya akses terbuka untuk
memastikan bahwa jurnal ilmiah tertentu dapat diakses oleh semua
orang.

"Ketika datang ke penelitian ilmiah, kita telah secara konsisten


mengatakan bahwa akses terbuka untuk publikasi mempercepat
penelitian, mempercepat inovasi, dan turut memajukan ekonomi global,"
tulis Google di blog resmi perusahaan, bulan Mei 2013.

Perusahaan teknologi Microsoft, baru-baru ini berkomitmen mendukung


gerakan ilmu pengetahuan bebas. Divisi penelitian Microsoft Research
mengumumkan akan mengadopsi kebijakan baru untuk mengajak
peneliti atau penerbit mempublikasi jurnal ilmiah ke situs online yang
diakses secara bebas.
Direktur Senior Microsoft Research, Jim Pinkelman percaya, langkah ini
akan mempercepat laju penelitian. "Kami pikir akses lebih terbuka
terhadap temuan penelitian adalah cara yang tepat di masa depan.
Lembaga menyadari hal itu, penulis menyadari, dan kami menyadari hal
itu," tutur Pinkelman, seperti dikutip dari Recode.net.

Yang pasti, Microsoft memang tidak akan memberikan kode


pemrograman perangkat lunaknya. Akan tetapi, setidaknya mereka
melonggarkan kendali terhadap divisi penelitian agar mau merilis hasil
penelitian.

Beberapa tahun terakhir, beberapa lembaga mulai membangun sistem


yang lebih terbuka atas jurnal ilmiah, mengutamakan kolaborasi, yang
memungkinkan siapa saja mengakses penelitian atau jurnal tanpa biaya
dan tanpa kerumitan. Langkah ini sangat membantu peneliti yang sering
menemui kendala atas jurnal ilmiah komersial.

Konsep dasar di balik ilmu pengetahuan terbuka ini adalah membuat


pengetahuan harus disebarkan seluas mungkin, mengundah partisipasi
pihak luar. Harapannya, akan muncul inovasi dari berbagai pihak.

"Pengetahuan ilmiah baik untuk global. Sangat penting agar setiap


orang memiliki akses," kata Richard Price, CEO Acedemia.edu, sebuah
situs web untuk berbagi jurnal ilmiah.

Situs web semacam Academia.edu dan ResearchGate.net, telah


menjadi jejaring sosial bagi para peneliti yang ingin berbagi, membaca,
dan mengomentari jurnal ilmiah.

Bukan hanya perusahaan teknologi, perusahaan farmasi sekelas


Johnson & Johnson pun, berencana merilis data ilmiah hasil uji
klinisnya, melalui kesepakatan dengan Universitas Yale dalam program
Open Data Access Project.

Universitas Yale merupakan salah satu universitas di AS yang memiliki


kebijakan open science, yang menyediakan banyak jurnal ilmiah.
10 Film yang Paling Banyak Dibajak
pada 2015
Fatimah Kartini Bohang - Kompas Tekno
Kamis, 31 Desember 2015 | 14:11 WIB

ist.Poster film "Interstellar".

KOMPAS.com — Film sci-fi Interstellar paling banyak dibajak


sepanjang 2015. Hal itu diungkap oleh perusahaan audit hak cipta
Excipio.
Menurut hasil audit, Interstellar diunduh secara ilegal sebanyak 46,7 juta
kali hingga 25 Desember 2015. Jumlah itu meningkat 56 persen
dibandingkan pembajakan The Wolf of Wall Street tahun lalu.
Kala itu, film yang dimainkan Leonardo Dicaprio tersebut dinobatkan
sebagai film yang paling banyak dibajak. Total pengunduhan ilegalnya
sebanyak 30 juta kali, sebagaimana dilaporkan Mashable dan
dihimpunKompasTekno, Kamis (31/12/2015).
Menurut hitungan kasar Excipio, pembajakan film makin merajalela
tahun ini. Walapun begitu, Excipio tak membeberkan secara spesifik
negara mana yang paling banyak berkontribusi pada pembajakan film.
Tahun ini, menyusul pada posisi kedua setelah Interstellar, ada Furious
7 yang diunduh ilegal lebih dari 44 juta kali. Avengers: Age of
Ultron,Jurrasic World, dan Mad Max: Fury Road menggenapkan daftar
lima besar film dengan jumlah pembajakan tertinggi.
Berturut-turut pada posisi keenam hingga kesepuluh ada American
Sniper, Fifty Shades of Grey, The Hobbit: Battle of The Five
Armys,Terminator: Genisys, dan The Secret Service.

Di Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tengah menggodok


program berkonsep peringatan untuk mereduksi aksi
pembajakanonline. Sistem peringatan akan dipasang di berbagai situs
yang menyediakan konten musik dan film bajakan.

Saat hendak mengunduh konten bajakan atau ilegal, netizen akan


"dikagetkan" dengan pemberitahuan pasal yang dilanggar beserta
ancaman hukuman yang dikenai. Implementasi program dijadwalkan
pada 2016 mendatang.
Pendaftaran "Beasiswa Orange Tulip"
ke Belanda Sudah Dibuka!

M LATIEF/KOMPAS.comNyimas Dian Fitriani dari Bidang Promosi Edukasi Netherlands Education


Support Office (Neso) dan Archie Swasti, peraih beasiswa OTS yang baru saja lulus dari
Universitas of Amsterdam (kanan) tengah berbincang tentang beasiswa OTS di kantor Nuffic Neso
Indonesia, Jakarta, Senin (1/12/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelajar pintar atau memiliki kualitas


akademik tinggi, bahkan dinilai sangat tinggi, memang banyak. Tapi,
berapa banyak di antara mereka yang punya kesempatan melanjutkan
kuliah?

Kesempatan itulah yang tengah ditawarkan oleh Nuffic Neso Indonesia


bersama-sama lembaga pendidikan tinggi Belanda kepada para pelajar
Indonesia. Dibuka pendaftaran untuk tahun depan, Nuffic Neso
Indonesia menawarkan program Orange Tulip Scholarship atau
Beasiswa Orange Tulip (OTS) 2016.

Sebanyak 22 institusi pendidikan tinggi Belanda yang berbeda telah


berkontribusi untuk menerima pelajar Indonesia yang mengirimkan
aplikasi beasiswa OTS tersebut. Akan ada 35 skema beasiswa berbeda
untuk 73 pelamar dengan nilai total 657.130 Euro.

Adapun jenjang studi yang ditawarkan program OTS tahun depan itu
meliputi program gelar S-1 (Bachelor) dan S-2 (Master) di berbagai
mata pelajaran dan program studi.
"Kami senang tahun ini OTS masih memberikan kesempatan bagi
pelajar Indonesia ingin mengembangkan diri untuk menjadi warga
dunia. Nantinya, para siswa akan didorong untuk menyelesaikan kasus-
kasus akademik dan kehidupan nyata dalam lingkungan internasional
sehingga lebih siap untuk dapat bekerja kerja di dunia global yang
kompetitif," ujar Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, Selasa
(1/12/2015).

Archie Swasti, peraih beasiswa OTS yang baru saja lulus dari
Universitas of Amsterdam mengatakan, meskipun program
internasional, setiap kelas memiliki batasan kuota maksimum. Hal itu
membuat suasana belajar dalam lingkungan internasional semakin
terasa.

"Karena setiap orang berasal negara atau tempat berbeda di dunia.


Jadi, hampir tidak mungkin satu kelas itu hanya diisi oleh mahasiswa
dari negara tertentu saja," kata Archie.

Pendaftaran

Nyimas Dian Fitriani dari Bidang Promosi Edukasi Netherlands


Education Support Office (Neso) mengatakan bahwa setiap beasiswa
memiliki struktur pendanaan berbeda. Sebagian besar beasiswa
diberikan dalam bentuk biaya kuliah parsial atau penuh.

"Sedangkan skema lainnya meliputi tambahan biaya hidup, atau biaya


visa, dan asuransi," ujar Nyimas.

Untuk itu, jika tertarik mendaftar beasiswa OTS tahun depan, para
pelajar harus mengajukan permohonan ke institusi pendidikan Belanda
pilihan serta Nuffic Neso Indonesia. Batas waktu pendaftaran akan
dibuka secara umum pada 1 April 2016.

"Tapi, beberapa skema beasiswa ini akan mensyaratkan batas waktu


yang berbeda," ujarnya.

Informasi lebih lanjut tentang beasiswa ini bisa dilihat


diwww.nesoindonesia.or.id/ots.
PR Besar... Di Luar Jawa, Hanya Dua
Universitas yang Berakreditasi A!

www.shutterstock.comDi
luar Jawa, hanya ada 223 prodi yang telah mendapat akreditasi A.
Bandingkan dengan prodi di pulau Jawa yang berjumlah sekitar 1.478 prodi.

KOMPAS.com – Hingga saat ini ketimpangan mutu pendidikan antara


perguruan tinggi di Pulau Jawa dan luar Jawa masih terlihat jelas.
Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN
PT) pada 2014, hanya ada dua perguruan tinggi di luar Jawa yang
meraih akreditasi A.
Sementara itu, untuk akreditasi program studi hanya ada 223 yang telah
mendapat nilai A. Jumlah tersebut masih tertinggal jauh dibanding
perguruan tinggi di Jawa yang sekitar 1.478 prodinya telah meraih
akreditasi A.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar kualitas perguruan tinggi di luar
daerah bisa memenuhi kualifikasi standar Indonesia? Untuk menjawab
tantangan tersebut, pendidikan berbasis teknologi sebenarnya telah
dicanangkan.

Pendidikan daring
Sejak dua tahun lalu pemerintah bersama beberapa perguruan tinggi
telah meluncurkan portal Pendidikan Daring Terbuka dan Terpadu
(PDITT). Lima universitas (UGM, UI, ITB, ITS, dan Bina Nusantara)
yang menjadi pionir program ini mengunggah mata kuliah sesuai
kualifikasi mereka ke portal tersebut sehingga bisa diakses kapan dan di
mana saja.
"Apakah dosen UGM harus keliling (Indonesia) supaya sama (kualitas)
materi perkuliahannya? Kan enggak mungkin. Energinya besar,
biayanya juga sangat tinggi. Oleh karena itu dibuatlah portal," tutur
Engkos Achmad Kuncoro, Director of Binus Online Learning, saat
ditemui Kompas.com di Kampus Syahdan, Jakarta, Senin (9/11/2015).
Cara kerjanya sederhana. Lima universitas tersebut melakukan kerja
sama dengan perguruan tinggi di daerah agar mahasiswanya bisa
mengambil mata kuliah secara daring lewat portal PDITT.

Engkos mencontohkan, saat ini Universitas Binus telah melakukan kerja


sama dengan perguruan tinggi di Medan dan Batam. Mahasiswa dari
perguruan tinggi tersebut bisa mengambil mata kuliah di Binus tanpa
perlu datang ke kampus Binus di Jakarta.
"Dosennya dari Binus. Si mahasiswa cukup mengakses Learning
Management atau semacam kelas maya. Nah, terjadilah pembelajaran,"
ucapnya.
Dia juga menjelaskan, mata kuliah di dalam portal harus lengkap dari
mulai perencanaan sampai ke evaluasi. Mahasiswa yang telah
mengambil perkuliahan lewat PDITT tidak perlu lagi mengambil mata
kuliah sama di kampusnya.
"(Jika sudah lulus mata kuliahnya) Langsung diterbitkan sertifikat di
mata kuliah itu. (Bentuknya) Resmi," kata Engkos.
Untuk info lebih lanjut bisa dilihat dihttp://kuliahdaring.dikti.go.id/
Online learning
Alternatif lain agar masyarakat luar Jawa bisa menikmati pendidikan
tinggi bermutu adalah dengan memanfaatkan perkuliahan bersistem
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau dikenal juga dengan istilah online
learning.
Dok Binus University/Binus Online LearningMetodependidikan jarak jauh adalah metode yang
memperkenankan mahasiswa untuk tidak melakukan pertemuan dengan dosen. Dengan demikian,
aktivitas perkuliahan seluruhnya tidak di lakukan di dalam kampus

"Nah, sejalan dengan itu (program PDITT) pemerintah juga membuka


peluang untuk mendirikan program studi PJJ supaya tingkat
aksesibilitas masyarakat untuk kuliah semakin tinggi," kata Engkos.
Syarat mendirikan PJJ pun tidak sembarangan. Universitas terkait harus
mampu menyediakan Unit Sumber Belajar Jarak Jauh (USBJJ) atau
semacam learning center di daerah. Penentuan wilayahnya pun wajib
disesuaikan agar mudah diakses mahasiswa.
"Saat ini Binus sudah punya 5 learning center dari total target 15. Target
ini kita kejar terus," tuturnya.
Tidak hanya itu. Materi dan sistem pembelajaran pun disiapkan secara
matang agar mahasiswa dapat dengan mudah beradaptasi dan tidak
menemui kendala berarti. Penggunaan Learning Management System
(LMS) sangat penting untuk menjaga kualitas pembelajaran.
"Materi online learning berbeda dari kuliah konvensional. Harus lebih
detail dan dapat dimengerti tanpa tatap muka secara langsung," kata
Engkos.
Saat ini, Binus Online Learning telah membuka perkuliahan onlineuntuk
jurusan Management dan Sistem Informasi.

"Kita lagi pengajuan (izin) untuk Akuntansi dan Teknik Informatika,"


ucap Engkos.
Kreatif, Pelajar SMA Ini Membuat
Genteng dari Sampah!

ThinkstockSampah dan limbah menjadi permasalahan yang membutuhkan solusi kreatif.

KOMPAS.com — Pantai Sanur, Denpasar, Bali, termasuk destinasi


wisata paling digemari turis karena keindahan alamnya. Tak hanya elok,
Bali pun menyuguhkan beragam pengalaman budaya dalam tradisi
yang telah melekat erat selama berabad-abad.
Namun, ada sisi lain yang ditangkap I Made Bagus Wisnu Wisnawa dan
I Wayan Narayana Putra saat menyusuri area Sanur. Kedua siswa SMA
Negeri 6 Denpasar ini melihat tumpukan sampah mengancam
keindahan lingkungan, termasuk Pantai Sanur yang letaknya sekitar 2
kilometer dari sekolah mereka.
"Setiap beberapa periode itu kan kami ada upacara adat, sembahyang.
Nah, sampah (dari upacara) ini lama-lama menumpuk. Got-got sering
kali penuh sehingga memicu banjir dan membuat kotor," kata Wisnu
saat dihubungi Kompas.com, Rabu (30/12/2015).

Tak berhenti di situ. Permasalahan ini mereka utarakan kepada Guru


Fisika di sekolah, I Ketut Sinah, untuk mencari solusi alternatif.

Kemudian, memadukan kreativitas dan sains, sampah-sampah organik


tadi diubah menjadi bahan bangunan berupa genteng biokomposit.
Bahan-bahan genteng ini diambil dari sampah daun janur, enau, pisang,
dan pandan.
Proses pembuatan genteng dimulai dari memilah sampah,
mengeringkan, lalu mengetes kandungannya. Tahapan ini sangat
penting karena bahan-bahan tersebut harus bisa melekat dengan baik.
"Prosesnya memakan waktu sekitar 3 bulan. Semua komposisi kami
coba sampai menemukan yang pas," kata Wisnu.
Namun, perjalanan mereka tak selalu mulus. Banyak tantangan
dihadapi, salah satunya cuaca yang kurang mendukung.

Wisnu bercerita, percobaan dilakukan pada bulan-bulan rawan hujan,


sekitar Januari hingga April. Hal ini membuat proses pengeringan
menjadi sulit.
"Tetapi, ternyata kami bisa mengatasi hal itu," ujarnya.
Keunggulan genteng karya mereka, selain ramah lingkungan, adalah
bobotnya lebih ringan, yakni hanya 200 gram. Genteng itu lebih ringan
dibandingkan material berbahan tanah liat yang beratnya mencapai 500
gram. Berdasarkan uji ketahanan, genteng biokomposit mereka pun
terbilang unggul.
"Dari tes yang dilakukan, genteng kami baru pecah saat diberi beban
lebih dari 30 kilogram. Kalau dari tanah liat, 20 kilogram saja sudah
pecah," ucap Ketut, guru Fisika yang juga membimbing penelitian Wisnu
dan Narayana.
Bahkan, karya mereka terbukti mampu menjuarai kompetisi Toyota Eco
Youth (TEY) 2015 untuk kategori sains. TEY merupakan kompetisi yang
dirancang khusus bagi pelajar sekolah menengah untuk membangun
cara berpikir dan berkontribusi nyata terhadap perbaikan lingkungan di
sekitar sekolah.
"Kalau kami amati dari beberapa kali penyelenggaraan program TEY ini,
partisipasinya semakin meningkat. Artinya, mereka semakin terlibat.
Kemudian, tiap sekolah juga melibatkan siswanya, termasuk guru-
gurunya untuk semakin peduli dan sadar untuk mencari solusi
permasalahan lingkungan sekitar," kata Direktur Corporate and External
Affair Directorate PT TMMIN I Made Tangkas kepada Kompas.com,
Rabu (2/9/2015).
Saat ini, pengujian tahap akhir sedang dilakukan untuk menguji
ketahanan genteng biokomposit terhadap cuaca. Periode pengujian
dilakukan bertahap dengan jangka waktu 6 bulan hingga 5 tahun.
"Kami lihat, tahan atau enggak. Rencananya, setelah itu baru akan kami
patenkan. Nah, karena nanti kami sudah lulus, yang akan meneruskan
adik-adik kelas kami," ucap Wisnu.
Semakin peka
Saat ini penelitian berbasis kepedulian pada lingkungan semakin
digandrungi anak-anak muda. Kreativitas dan semangat tinggi mereka
tumpahkan dalam karya-karya yang ternyata bisa memberi solusi bagi
permasalahan sekitar.
Hal itu seperti cerita lain yang datang dari Surakarta, Jawa Tengah.
Loca Cada Lora dan Galih Ramadhan menemukan cara menyaring
logam yang terkandung dalam air limbah menggunakan abu vulkanik.
Awalnya, siswa SMA Negeri 1 Surakarta ini penasaran melihat saluran
pembuangan yang airnya terlihat bersih dan banyak ditemukan sisa abu
vulkanik.
"Kami penasaran dan mencari tahu fungsi dan kegunaan abu vulkanik,"
ucap Galih seperti dikutip Kompas Cetak, Senin (18/5/2015).

Dari penelitian tersebut, dua ilmuwan muda itu meraih grand


awards dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair
(Intel ISEF) 2015 yang digelar di Pittsburgh, AS.
Sementara itu, dari Pontianak, Kalimantan Barat, Hansen Hartono dan
Shinta Dewi mengembangkan penelitian untuk menyaring air di Sungai
Mandor yang mengandung kadar merkuri tinggi. Padahal, air sungai
tersebut merupakan sumber air penopang kehidupan masyarakat
sekitar.
"Kami mencari cara paling efektif dan murah untuk menyaring logam
besi dan merkuri di sungai yang tercemar," tutur Hansen.
Berdasarkan penelitian tersebut, siswa SMA Katolik Gembala Baik ini
menemukan bahwa ampas tebu bisa dimanfaatkan untuk menyerap
logam besi dan merkuri yang terkandung di dalam air.
Tak ayal, karya mereka pun turut meraih special awards di ajang Intel
ISEF. Rentetan prestasi di atas membuktikan bahwa Indonesia
mempunyai anak-anak muda luar biasa. Mereka mau menggunakan
ilmu pengetahuannya untuk mencari solusi dari permasalahan yang
terjadi di sekitar.

Namun begitu, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies


Baswedan, tugas anak-anak muda tersebut belum selesai. Mereka
harus membagikan pengalamannya kepada semua orang, terutama
teman-teman di sekolah, sebagai inspirasi.
"Jangan berhenti sampai di sini, anak-anak Indonesia harus terus
bermimpi untuk masa depan yang lebih baik," ujar Anies saat
menyambut kedatangan delegasi Indonesia dari Pittsburgh, AS, di
Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (18/5/2015).

Terbukti, Keterampilan Lulusan SMK


Juga Berkualitas Internasional!

www.worldskills.orgTahun
ini, Indonesia berhasil membawa pulang dua medali kemenangan dalam
ajang WorldSkills Competition (WSC) 2015 di Sao Paulo, Brazil.

KOMPAS.com – Banyak potensi luar biasa dimiliki para lulusan sekolah


menengah atas dan kejuruan (SMA-SMK) di Indonesia. Mereka mampu
membuktikan kualitasnya di ajang kompetisi internasional.
Sebut saja Arfian Fuadi dan Arie Kurniawan. Kakak beradik lulusan
SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah, ini
berhasil menjadi juara dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan
General Electric pada 2014.
Arfian dan Arie mampu merancang jet engine bracket, salah satu
komponen untuk mengangkat mesin pesawat terbang paling ringan di
dunia. Desain duo itu berhasil menyisihkan 700 karya dari 50 negara
lainnya.
Berbekal ijazah sekolah menengah, Arfian dan Arie akhirnya berdiri di
posisi teratas. Mereka mengalahkan peserta bergelar Ph D di posisi
kedua dan insinyur lulusan Oxford University di posisi ketiga.
Adu skill
Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan di SMK masih minim
materi praktik akibat keterbatasan fasilitas. Hal itu dialami Arie yang
semasa sekolah mengambil jurusan otomotif.
Menurut dia, banyak pelajaran disampaikan secara teoritis tanpa praktik
sehingga siswa hanya mengandalkan imajinasi. (Kompas.com, Senin
(28/7/2014). Karena itu, beragam kontes keterampilan sebenarnya perlu
diekspos kepada siswa-siswa SMK demi memperpendek jarak antara
praktik dan teori.
Salah satu ajang yang disediakan pemerintah adalah Lomba
Kompetensi Siwa (LKS), mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga
kawasan ASEAN. Kompetisi tersebut bisa menjadi salah satu tiket
menuju ajang tingkat dunia, yaitu WorldSkills Competition (WSC).
Kompetisi dua tahunan itu dirancang khusus untuk mengadu
keterampilan kejuruan antar-pemuda usia 17-22 tahun. Bidang
keterampilan yang dilombakan pun beragam, mulai dari kesenian
dan fashion, teknologi telekomunikasi dan informasi, hingga teknik
manufaktur.
"Sejak 2005, pertama kali kami ikut itu baru 37 negara. Pada 2013
sebanyak 54 negara, dan tahun 2015 ini ada 75 negara. Persaingan
semakin ketat," ujar Hamid Muhammad, Direktur Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat
melepas 32 peserta untuk mewakili Indonesia ke Sao Paulo, Brazil,
dalam WSC 2015 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (4/8/2015).

Tahun ini Indonesia berhasil membawa pulang dua medali


kemenangan. Hari Sunarto menyumbang satu medali perak untuk
kategori skill "Plastic Die Engineering". Adapun satu medali perunggu
diraih Rifki Yanto pada kategori "Prototype Modelling".

www.worldskills.orgBendera
Indonesia berkibar di Sao Paulo, Brazil, dalam ajang WorldSkills
Competition (WSC) pada 11-16 Agustus 2015.

Perlu diasah
Kemenangan tersebut bukan tanpa perjuangan. Kedua karyawan PT
Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) itu telah digembleng
selama kurang lebih 18 bulan sebelum kompetisi dimulai.
"Rata-rata, level anak SMK kita masih jauh untuk masuk ke Worldskills,
jauh sekali. Itu baru skill, belum lagi fisik dan mental. Itulah gunanya kita
gembleng dulu," kata Agung Satriawan, pembimbing atlet WSC di
Toyota Indonesia Institute Division (TIIN).
Khusus dua kategori di atas, Kemendikbud sengaja melakukan kerja
sama dengan TMMIN dalam proses pemilihan dan pelatihan atlet. Hal
itu diperlukan karena TMMIN merupakan satu-satunya industri yang
memiliki teknologi pelatihan Plastic Die Engineeringdan Prototype
Modelling.
"Industri swasta lain juga ikut berpartisipasi, tapi untuk kategori lain,"
kata Mo Daniel Setiawan, Manager TIIN.
Motivasi awal TMMIN berpartisipasi dalam WSC adalah untuk menguji
kemampuan dalam mengembangkan sumber daya manusia. Lebih jauh,
menurut Bob Azam, Direktur Administrasi TMMIN, poin yang
sebenarnya dikompetisikan bagi TMMIN dalam WSC adalah sistem
manajemen di balik para atlet ini.
"Kami sebagai perusahaan yang memang fokus strateginya di
pengembangan SDM harus terus menguji kemampuan dalam
mengembangkan potensi SDM. Tidak hanya sesama entitas
perusahaan, tapi juga (dalam skala) negara," ujar Bob.
Meski begitu, mempersiapkan atlet untuk bertanding secara profesional
di tingkat dunia tidaklah mudah. Terlebih lagi WSC memiliki batasan
umur sehingga atlet harus diseleksi dari karyawan baru yang tentu
pengalaman praktiknya belum mencukupi.
"Kita minta mereka ulang terus (pelatihannya). Model yang sama kita
modifikasi terus sampai sesusah mungkin. (Satu model) bisa sampai
100 kali bikin, sampai ukurannya pas. Kita juga tetap menggunakan
waktu yang sama seperti di Worldskills, yaitu 4 hari (per satu kali
praktik)," kata Agung.
Tak hanya keterampilan yang terus diasah, karena kondisi fisik pun
masuk agenda latihan. Setiap hari, para atlet ini diwajibkan olahraga
pagi selama kurang lebih 30 menit.
"Karena untuk menjadi atlet (WSC) dibutuhkan fisik yang kuat.
Pertandingan itu (memakan waktu) empat hari berturut-turut, total ada
sekitar 20 jam kerja," katanya.
Namun, pada akhirnya semua jerih payah itu terbayar. Rifki dan Hari
pulang membawa harum nama bangsa di dunia internasional. Mereka
pun ingin mendorong anak muda lain percaya diri menggantungkan cita-
cita setinggi-tingginya.
"Jika kita punya mimpi, maka kejar sampai dapat. Kalau ada niat, Allah
pasti kasih jalan. Saya juga dulu ada saja kendalanya. Tapi kalau kita
tetap melangkah, insyallah jalan akan selalu ada," kata Hari.
Mengamini Hari, Rifki juga menyemangati agar anak muda tidak mudah
patah arang dan tetap optimis.
"Indonesia di mata negara lain itu negara yang kuat, bukan negara yang
bisa diremehkan, yang penting yakin pada diri sendiri," ucap Rifki.
Jangan Takut Hadapi MEA, SDM
Berkualitas Internasional Sudah
Disiapkan!

Adhis AnggianyMenyiapkan SDM bangsa

KOMPAS.com – Tinggal menghitung hari, tahun 2015 segera berlalu.


Saat pergantian tahun, perayaan heboh biasanya diadakan di berbagai
tempat. Pesta kembang api disiapkan, jamuan santap bersama orang
tercinta juga masuk agenda.
Namun, ada yang berbeda di perayaan tahun baru kali ini. Tak hanya
menyambut kedatangan tahun 2016, masyarakat Indonesia pun harus
mengucapkan selamat datang pada datangnya Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA). Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan
diuji secara terbuka bersama sekitar 633 juta penduduk ASEAN lain.
Kabar buruknya, rapor sektor SDM berdasarkan survei yang diadakan
Bisnis Indonesia pada 2014 masih di angka merah. Sekitar 60 persen
dari 200 koresponden yang merupakan pelaku bisnis setingkat direksi,
direktur, dan komisaris di Indonesia menyatakan bahwa SDM dalam
negeri tidak kompetitif. (Kompas.com, Rabu (15/10/2014)
Tapi, jangan berkecil hati. Kabar baiknya, industri Indonesia berpeluang
menghasilkan SDM berkualitas asal kita terus melakukan perbaikan
berkesinambungan atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai
"kaizen".
Salah satu strategi yang menggunakan filosofi ini adalah Quality Control
Circle atau Gugus Kendali Mutu (GKM). GKM adalah suatu sistem
dalam manajemen usaha yang bertujuan meningkatkan efisiensi,
produktivitas, dan mutu produksi agar daya saing produk meningkat.
Sitem ini fleksibel diaplikasikan dalam sektor industri apapun.
Solusi "kilat"
Permasalannya, hingga kini masih ada kesenjangan antara standar
kebutuhan SDM industri dan kapabilitas para jebolan sekolah
menengah maupun perguruan tinggi. Alhasil, ketika terserap industri,
perusahaan masih harus melakukan serangkaian pelatihan demi
meningkatkan kompetensi mereka.
"Selama ini pengembangan SDM menjadi rumit dan sulit karena ada
gap antara apa yang diajarkan dan dialami," jelas Bob Azam, Direktur
Administrasi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) saat
ditemui Kompas.com di kantornya, Jumat (18/12/2015).

Menurutnya, GKM merupakan salah satu strategi cepat untuk


mengembangkan SDM jika perusahaan ingin menggenjot kualitas hasil
produk. Kenapa begitu?
Di dalam perusahaan, GKM biasa dilakukan dalam kelompok kecil,
terdiri dari 3-8 karyawan berasal dari unit sama. Fokusnya adalah
mengasah karyawan untuk proaktif mengidentifikasi, mengurai, lalu
mencari solusi dari permasalahan yang kerap dihadapi dalam
keseharian kerja mereka.
"Selesai mendapat induksi (pelatihan awal), karyawan baru akan
langsung bekerja dan terlibat dalam GKM. Di sini dia mencontoh senior-
seniornya. Bagaimana proses (GKM), mulai dari menemukan tema
(permasalahan) untuk diperbaiki, kemudian dari tema itu dia cari apa
akar permasalahannya," ucap Bob.
Bob menilai, solusi tersebut lebih efektif ketimbang harus melakukan
pelatihan karyawan secara individu ataupun kelompok di ruangan kelas
dalam waktu tertentu.
"Bayangkan, karyawan baru Toyota (tiap tahun) ada 3000. kita harus
siapkan berapa (kelas)? Berapa bulan kita harus menyiapkan itu? Tapi
dengan GKM, (pengembangan SDM) bisa dilakukan serentak. Senior
menularkan ilmunya kepada yang junior," tuturnya.
Fleksibel
Tak hanya TMMIN, GKM juga bisa diadopsi perusahaan lain yang
jumlah karyawannya lebih sedikit. Salah satu contohnya adalah PT
Menara Terus Makmur. Perusahaan yang berdiri sejak 1986 ini telah
lama menyokong kebutuhan komponen mobil dan sepeda motor industri
otomotif Indonesia, termasuk TMMIN.
"Pengaruh luar, seperti pajak dan harga bahan baku, ada di luar kendali
kita. (Karena itu) yang bisa kita lakukan adalah bagaimana memperbaiki
kondisi di dalam perusahaan yang memang ada di bawah kendali kita,"
kata Siswijono, Presiden Direktur PT Menara Terus Makmur.
Kemudian, dia pun menantang para karyawan melakukan perbaikan di
area kerja mereka. Namun, menanamkan pola pikir kaizen, lanjut
Siswijono, tidak mudah. Butuh waktu sekitar satu tahun untuk
mensosialisasikannya ke semua jajaran manajemen.
"Pertama-tama kita harus membuat perbaikan yang nilai tambahnya
bisa dirasakan dulu oleh karyawan. Setelah merasakan manfaat
perbaikannya, baru ada keinginan dari mereka untuk melakukan
perbaikan lain," ucapnya.
Bahkan, Siswijono merancang iklim kompetitif dengan mengadakan
kompetisi GKM untuk memotivasi karyawan mengeluarkan ide dan
inovasi. Apresiasi pun diberikan bagi mereka yang idenya paling
cemerlang.
"Tanpa motivasi, agak berat menanamkan Kizen sebagai mindset," ujar
Siswijono.

Percaya diri
Dilihat berdasarkan potensi yang ada saat ini, sebenarnya SDM
Indonesia tidak kalah bersaing di kancah internasional. Bob mengakui
hal hal setelah melihat sendiri kemampuan tim didiknya saat mengikuti
kompetisi GKM bertaraf internasional.
"(Selain kompetisi nasional) Kita kirim juga (tim GKM) ke konvensi
Toyota Regional se-ASEAN dan Toyota Global di Jepang. Kelihatan
memang kualitas orang kita (Indonesia) lebih baik daripada negara-
negara lain seperti Australia, India, atau Malaysia," kata Bob.
"Kalau menurut feedback dari petinggi-petinggi Toyota (di Jepang), kita
ini one step ahead," tambahnya.
Agar mampu unggul dalam persaingan global, pola pikir kompetitif perlu
ditanamkan sejak dini. Rasa tidak mudah puas juga wajib dipupuk agar
perbaikan berkesinambungan terus terjadi. Dengan begitu, Indonesia
tak akan tenggelam, sederas apapun tantangan arus persaingan global.
Selamat datang era MEA!

Negara Pendukung Kenaikan


Toleransi Maksimal Suhu Bumi 1,5
Derajat Bertambah

www.diplomate.gov.frUNFCCC COP 21

Laporan Kontributor Kompas.com Firmansyah dari Paris


PARIS, KOMPAS.com – Kelompok negara-negara pendukung
kenaikan toleransi maksimal suhu bumi hanya 1,5 derajat celsius
menguat.

Kolombia, Paraguay, Chili dan Peru menyatakan bergabung dengan


kelompok tersebut saat berlangsungnya KTT Iklim di Paris.
(Baca: Toleransi 2 Derajat Kenaikan Suhu Bumi Sulit Terpenuhi)

Kelompok pendukung kenaikan toleransi maksimum suhu bumi 1,5


derajat ini tergabung dalam Climate Vulnerable Forum (CVF) atau
negara-negara rentan terhadap perubahan iklim yang sebagain
besarnya negara kepulauan kecil dan berpantai.
Kelompok ini memiliki 43 anggota yang digawangi Filipina. Kelompok ini
menentang kesepakatan kenaikan suhu bumi tertinggi 2 derajat karena
menurut mereka kenaikan 2 derajat mengakibatkan negara mereka bisa
terendam air laut.

"Tekad kami telah kuat setelah pertemuan ini," kata Kepala Komisi
Perubahan Iklim Filipina dan Kepala Delegasi Filipina ke UNFCCC
Emmanuel S. de Guzman usai mendapatkan dukungan dari empat
anggota baru tersebut. (Baca: Bumi Catat Suhu Terpanas Sepanjang
Sejarah)

"Gerakan untuk masa depan yang aman tak terbendung. Warga


menyerukan target 1,5 derajat akan tercermin dalam perjanjian Paris,"
tambah dia.

Ia juga menilai bahwa ini merupakan momentum bagi negara-negara


lain untuk menyatakan dukungan untuk target suhu maksimum
tambahan 1,5 derajat.

Hal ini dinilainya sebagai gerakan spontan dari masyarakat sipil dan
kelompok-kelompok pemuda.

Wakil dari Sudan Selatan yang berbicara dalam sesi menteri luar biasa
pada CVF menilai bahwa memperjuangkan toleransi maksimum suhu
bumi 1,5 derajat adalah masalah hidup dan mati.

Bentuk tim

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius membentuk tim fasilitator


beranggotakan 14 negara untuk mendobrak kebuntuan dua keinginan
kelompok tersebut.

Isu besar yang mengganjal COP 21 pada minggu pertama adalah soal
target jangka panjang penurunan emisi di atmosfer. (Baca
juga: Norwegia Lipat Gandakan Dana Penanganan Perubahan Iklim)

Ke-14 negara anggota yang ditunjuk tersebut termasuk Norwegia,


Gabon, Peru, Kanada, Ekuador, Bolivia, Inggris dan beberapa negara
lainnya.