Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM KOMPLEKS

Pembimbing:

Dr. Mas Wishnuwardhana, Sp.A

Penyusun:

Ferio Joelian

030.05.095

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Anak


Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi
Periode 18 Agustus – 24 Oktober 2014
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakt

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Kejang demam merupakan penyakit kejang yang paling sering dijumpai di bidang neurologi
khususnya anak. Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua, sehingga bagi
dokter kita wajib mengatasi kejang demam dengan tepat dan cepat. Kejang demam pada umumnya
dianggap tidak berbahaya dan sering tidak menimbulkan gejala sisa; akan tetapi bila kejang
berlangsung lama sehingga menimbulkan hipoksia pada jaringan Susunan Saraf Pusat (SSP), dapat
menyebabkan adanya gejala sisa di kemudian hari.
Frekuensi dan lamanya kejang sangat penting untuk diagnosa serta tata laksana kejang,
ditanyakan kapan kejang terjadi, apakah kejang itu baru pertama kali terjadi atau sudah pernah
sebelumnya, bila sudah pernah berapa kali dan waktu anak berumur berapa . Sifat kejang perlu
ditanyakan, apakah kejang bersifat klonik, tonik, umum atau fokal. Ditanya pula lama serangan,
kesadaran pada waktu kejang dan pasca kejang. Gejala lain yang menyertai diteliti, termasuk demam,
muntah, lumpuh, penurunan kesadaran atau kemunduran kepandaian. Pada neonatus perlu diteliti
riwayat kehamilan ibu serta kelahiran bayi.1
Kejang demam jarang terjadi pada epilepsi, dan kejang demam ini secara spontan sembuh
tanpa terapi tertentu. Kejang demam ini merupakan gangguan kejang yang paling lazim pada masa
anak, dengan pragnosa baik secara seragam.2 Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai
2 – 4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan
penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara jumlah penderita mengalami kejang demam
kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam
sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki.3
1.2 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah:
1. Memahami mengenai kejang demam kompleks
2. Meningkatkan kemampuan menulis ilmiah di dalam bidang kedokteran khususnya bagian
ilmu kesehatan anak.
3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Bekasi.

LAPORAN KASUS

2
Identitas pasien
Nama Pasien : An ASF
Umur : 11 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Tanggal masuk RS : 12/10/2014
Alamat : Pinang Ranti

Anamnesis
Diberikan Oleh : Ibu kandung pasien
Keluhan Utama
Kejang saat 2 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


 Sejak 5 hari SMRS, pasien mengalami demam dengan suhu (38,5 0C). Demam tidak pernah
turun menjadi normal, dan meningkat suhunya saat malam hari (39,0 0C). Pada saat demam,
ibu pasien mengeluhkan anaknya susah menelan makanan dan meminum minuman. Mencret
(-), muntah (-), batuk (+), pilek(+), sesak nafas (-), bintik-bintik merah dikulit (-), nyeri pada
telinga/ keluar sekret dari telinga (-).
 2 jam SMRS pasien mengalami kejang disertai demam. Kejang dimulai dari tangan dan kaki
pasien yang tampak menegang dan kaku, lalu tampak mulut pasien mencucu, kening
menyeringit, dan seluruh badan tampak kaku. Lama kejang menurut ibu pasien ± 10 menit.
Selama bangkitan kejang, pasien tidak menoleh saat dipanggil oleh ibunya. Setelah kejang
selesai, pasien sadar kembali dan tampak lemas.
± 1 jam setelah itu pasien dibawa ibunya ke IGD RSUD Bekasi untuk memeriksakan keadaan
pasien. Di IGD, pasien mengalami kejang kembali. Proses dan gambaran kejang yang kedua,
sama seperti kejang yang pertama dengan lama kejang ± 5 menit. Pasien diberikan obat
dengan merk “dumin” melalui anus dan obat anti kejang melalui infus. Setelah kejang, pasien
sadar kembali

Riwayat Penyakit Dahulu


 Trauma kepala (-)
 Riwayat kejang saat demam 1 kali saat usia 7 bulan selama 1 menit, seluruh tubuh menegang,
setelah kejang pasien menangis, obat kejang tidak diberikan hanya diberikan obat penurun
panas.
 Riwayat kejang saat tidak demam (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

3
 Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien.
 Riwayat epilepsi (-).

Riwayat Orangtua
 Pekerjaan ayah pasien swasta, ibu sebagai IRT.

Riwayat Kehamilan
 Pasien lahir cukup bulan, secara spontan ditolong oleh bidan BBL 3.300 gram, PB 51 cm,
lahir langsung menangis.
 Ibu pasien rutin memriksakan kehamilan kebidan. Riwayat mengkonsumsi alkohol (-), obat-
obatan (-), merokok (-), jamu-jamuan (-),
 Tidak ada riwayat demam selama kehamilan.

Riwayat Makan Dan Minum


 ASI: dari lahir sampai sekarang
Riwayat Imunisasi
 Hepatitis B 3x
 BCG 1x
 Polio 4x
 DPT 4x
 Campak 1x

Riwayat pertumbuhan fisik


 Merangkak usia 8 bulan
 Berusaha berdiri usia 9 bulan
Kesan: pertumbuhan fisik sesuai umur

Riwayat Pertumbuhan Mental


 Senyum spontan usia 3 bulan
Kesan: pertumbuhan mental sesuai umur

Keadaan Perumahan dan Tempat Tinggal


Pasien tinggal di rumah permanen, ventilasi cukup, lingkungan cukup bersih.
Sumber air minum : sumur bor
Sumber air MCK : sumber bor

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis

4
 Keadaan umum : tampak sakit ringan.
 Kesadaran : AVPU : Pain
 Vital Sign :
 Nadi : 130x/i reguler, cukup
 Nafas : 42x/i, reguler
 Suhu : 39,2 oC
 PB : 61 cm
 BB : 7 kg
 LILA : 10 cm
 Lingkar kepala : 38 cm
 Gizi : 7/12,2x100% = 98,42% (Normal)
 Kulit : Pucat (-), sianosis (-), ikterik (-)
 Kepala : UUB sudah menutup, LK 48 cm, normosefal.
 Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut.
 Mata
- Konjungtiva : Anemis (-/-)
- Sclera : Tidak ikterik
- Pupil : Bulat, isokhor Ɵ 3 mm/ 3 mm
- Reflek cahaya : +/+
 Telinga : Sekret -/-
 Hidung : Sekret -/-, tidak ada tanda-tanda perdarahan
 Pemeriksaan leher :
- pembesaran KGB tidak ada
- Kaku kuduk tidak ditemukan.
 Pemeriksaan Thoraks :
- Paru : Inspeksi gerakan dada simetris kiri dan kanan,retraksi(-)
Perkusi sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi bronkhovesikuler, ronki-/-, wheezing -/-
- Jantung : Inspeksi ictus cordis tidak terlihat
Auskultasi bunyi jantung normal, bising jantung (-).

 Pemeriksaan Abdomen :
- Inspeksi datar, distensi (-), venektasi (-)
- Palpasi  supel, organomegali (-)
- Perkusi  tympani
- Auskultasi bising usus (+), normal.
 Pemeriksaan alat kelamin : perempuan, dalam batas normal
 Pemeriksaan Ekstremitas : RCT > 3 detik, akral dingin.
 STATUS NEROLOGIS
Tanda Rangsang meningeal : kaku kuduk (-), burdzinski I (-), burdzinski II (-), kernique (-),
laseque (-)
Refleks Patologis : Babinski (-)
Openheim (-)
Refleks fisiologis : Refleks biseps +/+
Refleks triseps +/+
Refleks patella +/+
Refleks achilles +/+

Hasil pemeriksaan laboratorium (13 Oktober 2014)


KIMIA KLINIK

5
ELEKTROLIT
Natrium : 135 mmol/L
Kalium : 4.8 mmol/L
Clorida : 110 mmol/L

Hal-hal Penting dari Anamnesis


 2 jam SMRS pasien mengalami kejang disertai demam. Kejang dimulai dari tangan dan kaki
pasien yang tampak menegang dan kaku, lalu tampak mulut pasien mencucu, kening
menyeringit, dan seluruh badan tampak kaku. Lama kejang 10 menit. Selama bangkitan
kejang, pasien tidak sadar. Setelah kejang selesai, pasien sadar kembali dan menangis kuat.
± 1 jam kemudian pasien mengalami kejang kembali. Proses dan gambaran kejang yang
kedua, sama seperti kejang yang pertama dengan lama kejang ± 5 menit. Setelah kejang,
pasien sadar kembali
 Sejak 5 hari SMRS, pasien mengalami demam dengan suhu (38,5 0C). Demam tidak pernah
turun menjadi normal, dan meningkat suhunya saat malam hari (39,0 0C). Pada saat demam,
ibu pasien mengeluhkan anaknya susah menelan makanan dan meminum minuman.

Hal-hal Penting dari Pemeriksaan Fisik


Kesadaran composmentis, suhu: 37,8 0C, tonsil dan faring hiperemis, rangsang meningeal (-), refleks
fisiologis (+), refleks patologis (-).

Hal- hal yang penting lab rutin.


ELEKTROLIT
Natrium : 135 mmol/L
Kalium : 4.8 mmol/L
Clorida : 110 mmol/L

SERIAL DHF
13-10-2014 14-10-2014 15-10-2014 16-10-2014
LEKOSIT 39.9 30.6 23.5 26
HEMOGLOBIN 8.3 7.9 14.9 15.9
HEMATOKRIT 26.2 22.9 46.6 44.5
TROMBOSIT 70 61 53 31

Diagnosis Kerja:
Kejang demam kompleks

6
Diagnosis Banding :
Epilepsi
Meningoensepalitis

Rencana Pemeriksaan Lanjutan


Darah Rutin
Pungsi Lumbal

Penatalaksanaan
- Medikamentosa
IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg (dosis 50-100mg/kgBB/hari)
Sibital 2 x 30mg (dosis 15-20mb/kgBB)
Sanmol drip 70mg (dosis 10mg/kgBB/hari)
Amikasin 2 x 50mg (dosis 7,5mg/kgBB/hari)
Dexamethason 2 x 0,3cc (dosis 0,06-0,3 mg/kgBB/hari)
Ranitidin 2 x 0,5cc (dosis 2mg/kgBB/hari)
Benutrion 75cc / hari

Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam

Follow up
13 Oktober 2014
S : Demam (+) , kejang > 30menit
O : Nadi : 100x/mnt intake : 840
Nafas : 30x/mnt output : 750
Suhu : 37,70C diuresis : 1,7
A : Kejang Demam Kompleks.
P : IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg
Sibital 2 x 30mg
Sanmol drip 70mg
Amikasin 2 x 50mg
Dexamethason 2 x 0,3cc
Ranitidin 2 x 0,5cc

7
Benutrion 75cc / hari

14 Oktober 2014
S : Demam (+), BAB cair warna hijau
O : Nadi : 120x/mnt intake : 965
Nafas : 30x/mnt output : 1150
0
Suhu : 37,7 C diuresis : 3,8
A : Kejang Demam Kompleks.
P : IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg
Sibital 2 x 30mg
Sanmol drip 70mg
Amikasin 2 x 50mg
Dexamethason 2 x 0,3cc
Ranitidin 2 x 0,5cc
Benutrion 75cc / hari
Tranfusi PRC 75cc

15 Oktober 2014
S : Demam (-), nafsu makan membaik, BAB (+) normal, BAK (+) normal, kejang (-)
O : Nadi : 147x/mnt intake : 925
Nafas : 30x/mnt output : 1000
Suhu : 36,00C diuresis : 5
A : Kejang Demam Kompleks.
P : IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg
Sibital 2 x 30mg
Sanmol drip 70mg
Amikasin 2 x 50mg
Dexamethason 2 x 0,3cc
Ranitidin 2 x 0,5cc
Benutrion 75cc / hari

16 Oktober 2014
S : Keluhan (-)

8
O : Nadi : 119x/mnt intake : 875
Nafas : 24x/mnt output : 1060
0
Suhu : 36,8 C diuresis : 5,2
A : Kejang Demam Kompleks.
P : IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg
Sibital 2 x 30mg
Sanmol drip 70mg
Amikasin 2 x 50mg
Dexamethason 2 x 0,3cc
Ranitidin 2 x 0,5cc
Benutrion 75cc / hari

17 Oktober 2014
S : Keluhan (-)
O : Nadi : 136x/mnt intake : 890
Nafas : 24x/mnt output : 1200
Suhu : 360C diuresis : 5,8
A : Kejang Demam Kompleks.
P : IVFD Kaen 3A 30cc/jam
Ceftriaxone 1 x 500mg
Sibital 2 x 30mg
Sanmol drip 70mg
Amikasin 2 x 50mg
Dexamethason 2 x 0,3cc
Ranitidin 2 x 0,5cc
Benutrion 75cc / hari

9
10
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak
yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. 3 Derajat tinggi
suhu yang dianggap cukup untuk diagnosa kejang demam adalah 38 derajat celcius di atas suhu rektal
atau lebih. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang
ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam
kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.4

2.2 Epidemiologi3,5

Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun.
Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang
demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena
pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki.

Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr.
Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada tahun 1999
ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Pada
tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %).
Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37%.

Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 – 4% dari jumlah penduduk di AS,
Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20%
di antara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih
teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-
laki.

2.3 Etiologi

Etiologi dan pathogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi umur
anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor hereditas juga
mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang mengalami kejang demam mempunyai orang tua dengan
riwayat kejang demam pasa masa kecilnya.3

12
Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat
menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi
saluran pernafasan atas terutama tonsillitis dan faringitis, otitis media akut(cairan telinga yang tidak
segera dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada otak akan menyebabkan kejang demam),
gastroenteritis akut, exantema subitum dan infeksi saluran kemih. Selain itu, imunisasi DPT (pertusis)
dan campak (morbili) juga dapat menyebabkan kejang demam. 6

2.4 Patofisiologi7
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO 2 dan air.
Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu
ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +)
dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na +) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl -).
Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah, sedang di luar sel
neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar
sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk
menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang
terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
 Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
 Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya
 Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65
% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Oleh karena itu kenaikan
suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat
terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan
listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya
dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih
dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi
otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh
meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak
meningkat.

13
2.5 Klasifikasi

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, membagi kejang demam menjadi dua 4

1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)

- Berlangsung singkat

- Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit

- Bangkitan kejang tonik, tonik-klonik tanpa gerakan fokal

- Tidak berulang dalam waktu 24 jam

2. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)

- Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit

- Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang parsial

- Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali di antara bangkitan
kejang.

2.6 Manifestasi Klinis8

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, otitis
media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam
pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik,
tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Namun anak akan terbangun dan
sadar kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.

Gejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain : anak mengalami demam
(terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang tonik-klonik
atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-
anak yang mengalami kejang demam). Kejang dapat dimulai dengan kontraksi yang tiba-tiba pada
otot kedua sisi tubuh anak. Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan dan kaki.
Anak dapat menangis atau merintih akibat kekuatan kontaksi otot. Anak akan jatuh apabila dalam
keadaan berdiri.

14
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-
20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung
selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia
(mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas),
dan kulitnya kebiruan.

Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti :

1. Anak hilang kesadaran


2. Tangan dan kaki kaku atau tersentak-sentak

3. Sulit bernapas

4. Busa di mulut

5. Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan

6. Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.

2.7 Diagnosis6,9,10
Diagnosis kejang demam dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyakit-penyakit lain
yang dapat menyebabkan kejang, di antaranya: infeksi susunan saraf pusat, perubahan akut pada
keseimbangan homeostasis, air dan elektrolit dan adanya lesi structural pada system saraf, misalnya
epilepsi. Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan diagnosis ini.

1. Anamnesis
- waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang
- sifat kejang (fokal atau umum)
- Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
- Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis)
- Riwayat demam ( sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau naik turun)
- Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, GE)
- Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam atau
epilepsi)
- Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
- Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
- Trauma kepala

2. Pemeriksaan fisik
- Tanda vital terutama suhu
- Manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau
kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.

15
- Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti nafas,
kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan terdapatnya
kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.

- Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan
oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian
tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural.
Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin
dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi
pada ibu.

- Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin
disertai gangguan perkembangan kortex serebri.

- Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau
kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.

- Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA,
GE)
- Pemeriksaan refleks patologis
- Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis)

3. Pemeriksaan laboratorium
- Darah tepi lengkap
- Elektrolit, glukosa darah. Diare, muntah, hal lain yang dpt mengganggu keseimbangan
elektrolit atau gula darah.
- Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal untuk mendeteksi gangguan metabolisme
- Kadar TNF alfa, IL-1 alfa & IL-6 pada CSS, jika meningkat dapat dicurigai Ensefalitis akut /
Ensefalopati.

4. Pemeriksaan penunjang
- Lumbal Pungsi jika dicurigai adanya meningitis, umur kurang dari 12 bulan sangat
dianjurkan, dan umur di antara 12-18 bulan dianjurkan.
- EEG, tidak dapat mengidentifikasi kelainan yang spesifik maupun memprediksi terjadinya
kejang yang berulang, tapi dapat dipertimbangkan pada KDK. Tetapi beberapa ahli
berpendapat EEG tidak sensitif pada anak < 3 tahun.
- CT-scan atau MRI hanya dilakukan jika ada indikasi, misalnya: kelainan neurologi fokal yang
menetap (hemiparesis) atau terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial.

2.8 Diagnosis Banding3

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan apakah
penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat. Kelainan di dalam otak biasanya karena

16
infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak, dan lain-lain.oleh sebab itu perlu waspada untuk
menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak.

Menegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan anak yang
masih muda. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan gangguan neurologisnya
kurang nyata. Oleh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang berakibat fatal dapat dilakukan
pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya diambil melalui pungsi lumbal.

Baru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam atau
epilepsi yang dprovokasi oleh demam.

Tabel Diagnosa Banding

No Kriteri Banding Kejang Demam Epilepsi Meningitis


Ensefalitis

1. Kejang Pencetusnya Tidak berkaitanSalah satu gejalanya


demam dengan demam demam
2. Kelainan Otak (-) (+) (+)
3. Kejang berulang (+) (+) (+)
4. Penurunan kesadaran (+) (-) (+)

2.9 Penatalaksanaan4,10

Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :

1. Mengatasi kejang secepat mungkin

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu datang, kejang sudah berhenti.
Apabila pasien dating dalam keadaan kejang, obat paling cepat untuk menghentikan kejang adalah
diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0,3-0,5 mm/kgBB perlahan-lahan dengan
kecepatan 1-2mg.menit atau dalam waktu 3-5 menit. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh
orang tua di rumah atau yang sering digunakan di rumah sakit adalah diazepam rektal. Dosis
diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan
kurang dari 10 kg, dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10kg. atau diazepam rektal dengan dosis 5
mg untuk anak di bawah usia 3 tahun atau 7,5 mg mg untuk anak diatas usia 3 tahun.

Jika kejang masih berlanjut :

1. Pemberian diazepam 0,2 mg/kgBB per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus, 0,5
mg/kg per rektal

17
2. Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :

1. Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kgBB per infus dalam 30 menit


2. Pemberian fenitoin 10-20mg/kgBB per infus dalam 30 menit dengan kecepatan 1
mg/kgBB/menit atau kurang dari 50mg/menit.

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif
dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya
tergantung dari jenis kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya.

2. Pengobatan penunjang

Pengobatan penunjang dapat dilakukan dengan memonitor jalan nafas, pernafasan, sirkulasi
dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sebaiknya semua pakaian ketat dibuka, posisi kepala
dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Penting sekali mengusahakan jalan nafas yang bebas
agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi. Pengisapan lender
dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen. Cairan intavena
sebaiknya diberikan dan dimonitor sekiranya terdapat kelainan metabolik atau elektrolit. Fungsi vital
seperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat.

Pada demam, pembuluh darah besar akan mengalami vasodilatasi, manakala pembuluh darah
perifer akan mengalami vasokontrisksi. Kompres es dan alkohol tidak lagi digunakan karena
pembuluh darah perifer bisa mengalami vasokontriksi yang berlebihan sehingga menyebabkan proses
penguapan panas dari tubuh pasien menjadi lebih terganggu. Kompres hangat juga tidak digunakan
karena walaupun bisa menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah perifer, tetapi sepanjang waktu
anak dikompres, anak menjadi tidak selesa karena dirasakan tubuh menjadi semakin panas, anak
menjadi semakin rewel dan gelisah. Menurut penelitian, apabila suhu penderita tinggi (hiperpireksi),
diberikan kompres air biasa. Dengan ini, proses penguapan bisa terjadi dan suhu tubuh akan menurun
perlahan-lahan. Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya
kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis
parasetamol yang digunakan adalah 10 – 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari
5 kali. Dosis ibuprofen 5 – 10 mg/kgBB/kali, 3 – 4 kali sehari.

3. Memberikan pengobatan rumat

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara mengirim
penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Kejang demam kompleks

18
merupakan salah satu indikasi seorang pasien untuk dirawat di rumah sakit selain adanya
hiperpireksia, pasien < 6 bulan, kejang demam yang pertama kali, dan terdapat kelainan neurologis.
Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:

 Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam diberikan
obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada anak selama episode
demam. Antipiretik yang diberikan adalah paracetamol dengan dosis 10-15mg/kg/kali diberikan 4 kali
sehari atau ibuprofen dengan dosis 5-10mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Antikonvulsan yang ampuh dan
banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik diberikan
secara rectal dengan dosis 5 mg pada anak dengan berat di bawah 10kg dan 10 mg pada anak dengan
berat di atas 10kg, maupun oral dengan dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat tubuh ≥ 38,50C.
Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang
demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun. Fenobarbital, karbamazepin dan
fenition pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

 Profilaksis jangka panjang

Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang stabil
dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.
Pengobatan jangka panjang dapat dipertimbangan jika terjadi hal berikut:

1. Kejang demam ≥ 2 kali dalam 24 jam


2. Kejang demam terjadi pada umur < 12 bulan
3. Kejang demam ≥ 4 kali per tahun

Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:

1). Fenobarbital

Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka panjang ialah
perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang-kadang gangguan kognitif
atau fungsi luhur.

2). Sodium valproat / asam valproat

19
Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 1-2 tahun dan dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan. Efek samping yang dapat terjadi adalah gejala toksik berupa rasa
mual, kerusakan hepar, pankreatitis.

3). Fenitoin

Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa hiperaktif
sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang memuaskan. Pemberian antikonvulsan
pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati
epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi
dosis selama 3 atau 6 bulan.

4. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi traktus
respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan kuat perlu untuk
mengobati infeksi tersebut. Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk
pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan
faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis. Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama,
pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya
gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

2. 10 Prognosis6,11
1. Kematian. Dengan penanganan kejang yang cepat dan tepat, prognosa biasanya baik, tidak
sampai terjadi kematian. Dalam penelitian ditemukan angka kematian KDS 0,46 % s/d
0,74%.
2. Terulangnya Kejang. Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih 25 s/d 50 % pada
6 bulan pertama dari serangan pertama.

3. Epilepsi. Angka kejadian Epilepsi ditemukan 2,9 % dari KDS dan 97 % dari kejang demam
kompleks. Resiko menjadi Epilepsi yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita
KDS tergantung kepada faktor :
a. riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
b. kelainan dalam perkembangan atau kelainan sebelum anak menderita KDS
c. kejang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor di atas, maka kemungkinan mengalami
serangan kejang tanpa demam adalah 13 %, dibanding bila hanya didapat satu atau tidak sama
sekali faktor di atas.

20
4. Hemiparesis. Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung
lebih dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun kejang fokal. Kejang fokal
yang terjadi sesuai dengan kelumpuhannya. Mula-mula kelumpuhan bersifat flacid, sesudah 2
minggu timbul keadaan spastisitas. Diperkirakan + 0,2 % KDS mengalami hemiparese
sesudah kejang lama.
5. Retardasi Mental. Ditemuan dari 431 penderita dengan KDS tidak mengalami kelainan IQ,
sedang kejang demam pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan perkembangan atau
kelainan neurologik ditemukan IQ yang lebih rendah. Apabila kejang demam diikuti dengan
terulangnya kejang tanpa demam, kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 5x lebih
besar.

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

21
Penegakan diagnosis kejang demam kompleks dilakukan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan, pasien mengalami kejang
saat demam sebanyak 2 x dalam waktu 24 jam, dengan lama kejang I ±10 menit dan kejang II ± 5
menit. Kejang bersifat umum yang didahului kejang parsial. Selama kejang pasien tidak sadar dan
pasien sadar diantara dua serangan kejang. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis kejang demam
kompleks. Pasien juga tidak mempunyai riwayat kejang pada saat tidak demam, untuk menyingkirkan
diagnosis epilepsi.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya hiperemis pada tonsil dan faring yang dicurigai
sebagai penyebab kejang demam akibat tonsilifaringitis. Tidak adanya kaku kuduk, rangsang
meningeal, refleks patologis menunjukkan penyebab kejang demam pada pasien tidak disebabkan
oleh proses intrakranial walaupun hal ini harus dipastikan lebih lanjut dengan pemeriksaan pungsi
lumbal.
Dari pemeriksaan penunjang darah rutin yang penting menunjukkan adanya peningkatan
kadar leukosit dalam darah (23.500/mm3). Hal ini dapat sebagai acuan bahwa infeksi sudah menuju ke
arah sepsis, karena tingginya kadar lekosit dalam darah.
Pada pasien ini dianjurkan pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah untuk menyingkiran
kemungkinan kejang akibat gangguan elektrolit. Pemeriksaan pungsi lumbal juga dianjurkan pada
pasien ini untuk memastikan tidak adanya penyebab intrakranial untuk terjadinya kejang.
Penatalaksanaan pasien ini pemberian cairan infus Kaen 3A. Hal ini untuk memberikan
kebutuhan glukosa, cairan, dan elektrolit pada pasien yang saat demam, tidak terpenuhi asupannya.
Pasien masuk keruangan bangsal dalam keadaan tidak kejang lagi, sehingga seharusnya diberikan
obat anti kejang profilaksis intermitten yaitu diazepam dengan dosis 0,3mg/kgBB setiap 8 jam untuk
oral atau 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam untuk rektal..

DAFTAR PUSTAKA

1. Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 3, Edisi 15.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2000; XXVII : 2059 – 2060

22
2. Hendarto S. K. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No.
27. 1982 : 6 – 8.
3. Behrman dkk, (e.d Bahasa Indonesia), Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15, EGC, 2000. Hal 2059-
2067.
4. Pusponegoro HD, Widodo DP, Sofyan I. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit
Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta. 2006 : 1 – 14.
5. Price, Sylvia, Anderson. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC, Jakarta
2006.
6. Febrile Seizures: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment. Diunduh pada tanggal 23
April 2012. Didapatkan dari: www.medicinenet.com/febrile_seizures/article.htm
7. Mary Rudolf, Malcolm Levene. Pediatric and Child Health. Edisi ke-2. Blackwell
pulblishing; 2006. Hal 72-90.
8. Rudolph AM. Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. Edisi ke-20. Appleton dan Lange, 2002
9. Pudjaji AH, Hegar B, Handryastuti, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman
pelayanan medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia; Jakarta. 2010. h. 150-2.
10. Ministry of health service. Guidelines and protocols febrile seizure. British columbia medical
association. 2010.
11. Febrile Seizures Fact Sheets: National Institutes of Neurology and Stroke Diunduh pada
tanggal 23 April 2012. Didapatkan dari:
www.ninds.nih.gov/disorders/febrile_seizures/detail_febrile_seizures.htm

23