Anda di halaman 1dari 48

SYOK

oleh : Febri Christian

1
DEFINISI
SYOK

Keadaan darurat yang disebabkan oleh kegagalan perfusi darah


ke jaringan, sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme sel.

Kematian karena syok terjadi bila keadaan ini menyebabkan


gangguan nutrisi dan metabolism sel.

Didefinisikan juga sebagai volume darah sirkulasi tidak adekuat yang


mengurangi perfusi.

Pertama pada jaringan nonvital


(kulit, jaringan ikat, tulang, otot)

Kemudian ke organ vital


(otak, jantung, paru- paru, dan ginjal)

2
KLASIFIKASI
SYOK

Syok Hipovolemik syok yang disebabkan karena tubuh

- Kehilangan darah/syok hemoragik


• Hemoragik eksternal : trauma, perdarahan gastrointestinal
• Hemoragik internal : hematoma, hematotoraks

- Kehilangan plasma : luka bakar

-Kehilangan cairan dan elektrolit


Eksternal : muntah, diare, keringat yang berlebih
Internal : asites, obstruksi usus

Syok Kardiogenik •Kegagalan kerja jantung.


•Gangguan perfusi jaringan yang disebabkan
karena disfungsi jantung
•misalnya : aritmia, AMI (Infark Miokard Akut)

3
KLASIFIKASI
SYOK

Syok Septik Terjadi karena penyebaran atau invasi kuman dan


toksinnya didalam tubuh yang berakibat vasodilatasi

Syok Anafilaktif Gangguan perfusi jaringan akibat adanya reaksi antigen


antibodi yang mengeluarkan histamine dengan akibat
peningkatan permeabilitas membran kapiler dan terjadi
dilates arteriola sehingga venous return menurun.

Misalnya: reaksi tranfusi, sengatan serangga, gigitan ular


berbisa.

Syok Neurogenik Terjadi gangguan perfusi jaringan yang disebabkan karena


disfungsi sistem saraf simpatis sehingga terjadi vasodilatasi

Misalnya : trauma pada tulang belakang, spinal syok.


4
PATOFISIOLOGI
FASE KOMPENSASI

Penurunan perfusi jaringan Timbul gangguan perfusi jaringan

tapi belum cukup menimbulkan gangguan seluler

Mekanisme kompensasi

vasokonstriksi untuk menaikkan aliran darah penurunan aliran darah ke


ke jantung, otak dan otot skelet tempat yang kurang vital

Pelepasan faktor humoral  vasokonstriksi Ventilasi meningkat

terjadi peningkatan frekuensi dan peningkatan respirasi untuk


kontraktilitas otot jantung untuk memperbaiki ventilasi alveolar
menaikkan curah jantung

5
PATOFISIOLOGI
FASE PROGRESIF

Jika tekanan darah arteri tidak lagi Curah jantung tidak lagi mencukupi
mampu mengkompensasi kebutuhan
tubuh
Gangguan seluler di seluruh tubuh

aliran darah menurun tekanan darah arteri menurun

hipoksia jaringan gangguan seluler produk metabolisme


bertambah nyata dan metabolisme menumpuk

akhirnya terjadi Dinding pembuluh venous return


kematian sel darah menjadi lemah menurun

6
PATOFISIOLOGI
FASE PROGRESIF

Menurunnya aliran darah ke otak menyebabkan kerusakan pusat


vasomotor dan respirasi di otak

menambah hipoksia jaringan

Menyebabkan terlepasnya toksin dan bahan lainnya dari jaringan


(histamin dan bridikinin) yang ikut memperburuk syok

Hipoksia jaringan juga menyebabkan perubahan metabolisme dari


aerobik menjadi anaerobik

Akibatnya terjadi asidosis metabolik, terjadi peningkatan asam


laktat ekstraseluler dan timbunan asam karbonat di jaringan

7
PATOFISIOLOGI
FASE IRREVESIBEL/REFRAKTER

Kerusakan seluler dan sirkulasi tidak dapat diperbaiki

Gagal sistem kardiorespirasi

jantung tidak mampu lagi memompa darah yang cukup

paru menjadi kaku timbul edema interstisial

daya respirasi menurun

anoksia dan hiperkapnea

8
SYOK HIPOVOLEMIK

9
Patogenesis dan Patofisiologi Syok Hipovolemik

Patofisiologis dari syok hipovolemik yang mengacu pada etiologi perdarahan

Saat terjadi perdarahan  sirkulasi dalam tubuh akan terganggu,  akan terjadi
penurunan tekanan pembuluh darah rata-rata (Mean Arterial Pressure  terjadi
penurunan aliran darah balik ke jantung

Setelah terjadi proses ini  akan menyebabkan penurunan dari cardiac outputnya
 pada pasien akan ditemukan akral digin dan basah  selain itu juga dapat
ditemukan terganggunya fungsi organ.

•Otak akan mengalami penurunan kesadaran (somnolen hingga koma)


•Paru-paru  akan menyebabkan pasien tersebut sesak,
•Sistem pencernaan  mengakibatkan ileus paralatik
•Ginjal  menyebabkan kerusakan ginjal yaitu acute kidney injury (gagal ginjal
akut)

10
SYOK HIPOVOLEMIK
Manifestasi Klinis
ANAMNESIS

Gejala-gejala syok seperti :


•kelemahan,
•penglihatan kabur,
•kebingungan

Pada pasien trauma  menentukan mekanisme cedera dan beberapa informasi


lain akan memperkuat kecurigaan terhadap cedera tertentu

Pasien dengan perdarahan gastrointestinal mengumpulan keterangan tentang:


Hematemesis,
Melena,
Riwayat minum alkohol,
Penggunaan obat anti-inflamasi non steroid yang lama, dan

Suatu penyebab ginekologik dipertimbangkan, perlu dikumpukan informasi


mengenai hal berikut:
Periode terakhir menstruasi,
Faktor risiko kehamilan ektopik,
Perdarahan pervaginam (termasuk jumlah dan durasinya), 11
SYOK HIPOVOLEMIK

PEMERIKSAAN FISIK

Selalu dimulai dengan penanganan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi

Tabel Perkiraan kehilangan cairan dan darah berdasarkan presentasi penderita.

12
SYOK HIPOVOLEMIK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan antara lain:

1) Hemoglobin dan hematokrit

2) Urin

3) Pemeriksaan analisa gas darah

4) Pemeriksaan elektrolit serum

5) fungsi ginjal pemeriksaan BUN (Blood urea nitrogen) dan


serum kreatinin

13
TATALAKSANA
SYOK HIPOVOLEMIK

Prinsip pengelolaan dasar adalah menghentikan perdarahan dan mengganti


kehilangan volume

I. Penatalaksanaan Awal
A. Pemeriksaan Jasmani
1. Airway and Breathing
Tujuan: menjamin airway yang baik dengan cukupnya pertukaran
ventilasi dan oksigenasi. Mempertahankan saturasi >95%
Untuk memfasilitasi ventilasi maka dapat diberikan oksigen yang sifat
alirannya high flow
Dapat diberikan dengan menggunakan non rebreathing mask sebanyak
10-12 L/menit

14
TATALAKSANA

2. Sirkulasi
Kontrol pendarahan dengan:
•Mengendalikan pendarahan
•Memperoleh akses intravena yang cukup
•Menilai perfusi jaringan

Pengendalian pendarahan:
•Dari luka luar  tekanan langsung pada tempat pendarahan (balut
tekan).
•Pendarahan patah tulang pelvis dan ekstremitas bawah  PASG
(Pneumatic Anti Shock Garment).
•Pendarahan internal  operasi

15
TATALAKSANA

3. Disability : pemeriksaan neurologi


Menentukan tingkat kesadaran, pergerakan mata dan respon pupil, fungsi
motorik dan sensorik.
Manfaat: menilai perfusi otak, mengikuti perkembangan kelainan
neurologi dan meramalkan pemulihan.

4. Exposure : pemeriksaan lengkap


Pemeriksaan lengkap terhadap cedera lain yang mengancam jiwa serta
pencegahan terjadi hipotermi pada penderita

5. Pemasangan kateter urin


Memudahkan penilaian adanya hematuria dan evaluasi perfusi ginjal
dengan memantau produksi urin. Kontraindikasi: darah pada uretra.

16
TATALAKSANA
B. Terapi Awal Cairan

Larutan elektrolit isotonik  terapi cairan awal


Jenis cairan ini mengisi intravaskuler dalam waktu singkat dan juga
menstabilkan volume vaskuler dengan mengganti volume darah yang hilang
berikutnya ke dalam ruang intersisial dan intraseluler

Ringer Laktat adalah cairan pilihan pertama sedangkan NaCl fisologis


adalah pilihan kedua

Jumlah cairan yang diberikan 3 untuk 1, 300 ml larutan elektrolit untuk


100 ml darah yang hilang

Jumlah darah pada dewasa adalah sekitar 7% dari berat badan, anak-
anak sekitar 8-9% dari berat badan. Bayi sekitar 9-10% dari berat badan.

Perlu dinilai respon penderita untuk mencegah kelebihan atau


kekurangan cairan

17
TATALAKSANA
II. Evaluasi Resusitasi Cairan dan Perfusi Organ

A. UMUM
Pulihnya tekanan darah menjadi normal, tekanan nadi dan denyut nadi merupakan
tanda positif yang menandakan bahwa perfusi sedang kembali ke keadaan normal,
tetapi tidak memberi informasi tentang perfusi organ.

B. Produksi urin
Jumlah produksi urin merupakan indikator penting untuk perfusi ginjal. Penggantian
volume yang memadai menghasilkan pengeluaran urin sekitar 0,5 ml/kgBB/jam pada
orang dewasa, 1 ml/kgBB/jam pada anak-anak dan 2 ml/kgBB/jam pada bayi.

C. Keseimbangan Asam-Basa
Penderita syok hipovolemik dini  mengalami alkalosis pernafasan karena takipneu
Asidosis metabolik yang berat dapat terjadi pada syok yang terlalu lama atau berat.

18
TATALAKSANA
III. Respon Terhadap Resusitasi Cairan Awal

Respon Cepat Respon Sementara Tanpa Respon


Tanda vital Kembali ke normal Perbaikan sementara Tetap abnormal
tek. Darah dan nadi
kemudian kembali
turun

Dugaan Kehilangan darah Minimal (10-20%) Sedang-masih ada Berat (>40%)


(20-40%)
Kebutuhan kristaloid Sedikit Banyak Banyak
Kebutuhan darah Sedikit Sedang-banyak Banyak
Persiapan darah Type specific & Type specific Emergency
crossmatch
Operasi Mungkin Sangat mungkin Hampir pasti
Kehadiran dini ahli bedah Perlu Perlu Perlu 19
TATALAKSANA
IV. Transfusi Darah

Tujuan utama transfusi darah adalah memperbaiki kemampuan mengangkut


oksigen dari volume darah.

a. Pemberian darah packed cell vs darah biasa

Beberapa indikasi pemberian tranfusi PRC adalah:

1. Jumlah perdarahan diperkirakan >30% dari volume total atau perdarahan


derajat III
2. Pasien hipotensi yang tidak berespon terhadap 2 L kristaloid
3. Memperbaiki delivery oksigen
4. Pasien kritis dengan kadar hemoglobin 6-8 gr/dl.

Fresh frozen plasma diberikan apabila terjadi kehilangan darah lebih dari 20-25%
atau terdapat koagulopati dan dianjurkan pada pasien yang telah mendapat 5-10
unit PRC.
Tranfusi platelet diberikan apada keadaan trombositopenia (trombosit <20.000-
50.000/mm15) dan perdarahan yang terus berlangsung
20
SYOK KARDIOGENIK

21
Patogenesis dan Patofisiologi Syok Kardiogenik

Disfungsi miokard berakibat pada menurunnya cardiac outputnya dan sering


juga menyebabkan kongestif pulmonum.

Hipoperfusi jaringan dan koroner  menyebabkan progresifitas dari iskemia

Terjadinya infark yang akan menginduksi terbentuknya nitrit oxide dan akan
menyebabkan vasodilatasi  penurunan dari perfusi sistemik dan koroner 
progresifitas dari disfungsi dari iskemik

22
SYOK KARDIOGENIK

ANAMNESIS

Syok kardiogenik ditandai dengan tekanan sistolik rendah (kurang dari 90


mmHg), diikuti menurunnya aliran darah ke organ vital :

1) Produksi urin kurang dari 20 ml/jam


2) Gangguan mental, gelisah, sopourus
3) Akral dingin
4) Aritmia yang serius, berkurangnya aliran darah koroner, meningkatnya
laktat kardial.
5) Meningkatnya adrenalin, glukosa, free fatty acid cortisol, rennin,
angiotensin plasma serta menurunnya kadar insulin plasma.

Kriteria hemodiamik syok kardiogenik  hipotensi terus menerus (tekanan


darah sistolik < 90 mmHg lebih dari 90 menit) dan bekurangnya cardiac index
(<2,2/menit per m2) dan meningginya tekanan kapiler paru (>15 mmHg).

23
SYOK KARDIOGENIK

ANAMNESIS

Diagnosis dapat juga ditegakkan sebagai berikut:

a) Tensi turun : sistolik< 90 mmHg atau menurun lebih dari 30-60 mmHg dari
semula, sedangkan tekanan nadi < 30 mmHg.
b) Curah jantung, indeks jantung < 2,1 liter/menit/m2.
c) Tekanan di atrium kanan (tekanan vena sentral) biasanya tidak turun,
normal, rendah sampai meninggi.
d) Asidosis.

24
SYOK KARDIOGENIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang segera dilakukan

Serum elektrolit, fungsi ginjal dan fungsi hepar.

Jumlah sel darah merah, leukosit (infeksi), trombosit (koagulopati)

Enzim Jantung (Creatinine Kinase, troponin, myoglobin, LDH)

Analisa gas darah arteri

Pemeriksaan yang harus direncanakan adalah EKG, ekokardiografi.


foto polos dada

25
TATALAKSANA
SYOK KARDIOGENIK

26
SYOK SEPTIK

27
Patogenesis Syok Septik

Pada septik syok, kuman atau bakteri akan masuk ke pembuluh darah yang
sebelumnya telah terjadi infeksi pada tubuh host sendiri seperti adanya
meningitis, pneumonia, peritonitis dan lain-lain.

Tubuh akan menghasilkan atau mensekresi makrofag dan reseptor komplemen


 akan merangsang sekresi dari C-reaktif protein untuk keluar  akan
membunuh kuman tersebut

Jika pertahanan pertama gagal  tubuh akan mengeluarkan mediator inflamasi,


seperti interleukin, nekroting factor, interferon, dan sitokin-sitokin yang lain 
proses ini dapat disebut dengan SIRS (systemic inflammatory respone syndrome)
 Hal ini dapat menyebabkan syok dan kerusakan organ multiple jika tidak
ditangani dengan baik

28
SYOK SEPSIS

ANAMNESIS

sering didapatkan:
Riwayat demam tinggi yang berkepanjangan,
Sering berkeringat dan menggigil,
Menilai faktor resiko menderita penyakit menahun, mengkonsumsi
antibiotik jangka panjang,
Pernah mendapatkan tindakan medis/pembedahan

29
PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik didapatkan


keadaan demam tinggi, akral
dingin, tekanan darah turun <
80 mmHg dan disertai
penurunan kesadaran.

30
SYOK SEPSIS

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah putih yang banyak atau
sedikit, dan jumlah faktor pembekuan yang menurun.
Jika terjadi gagal ginjal, kadar hasil buangan metabolik (seperti urea nitrogen)
dalam darah akan meningkat.
Analisa gas darah menunjukkan adanya asidosis dan rendahnya konsentrasi
oksigen.
Pemeriksaan EKG jantung menunjukkan ketidakteraturan irama jantung,
menunjukkan suplai darah yang tidak memadai ke otot jantung.
Biakan darah dibuat untuk menentukan bakteri penyebab infeksi

31
TATALAKSANA
SYOK SEPTIK
A. Tindakan Medis

I. Terapi Cairan

Cairan parenteral yang sering digunakan pada awal terapi syok septik adalah
larutan garam berimbang.

Dopamin harus segera diberi apabila resusitasi cairan tidak memperoleh


perbaikan, untuk menciutkan pembuluh darah sehingga tekanan darah naik dan
aliran darah ke otak dan jantung meningkat.

II. Terapi Antibiotik

Sebaiknya terapi antibiotik di sesuaikan dengan hasil kultur dan resistensi.

32
TATALAKSANA

33
SYOK NEUROGENIK

34
Patogenesis Syok Neurogenik

Disebut juga syok spinal merupakan bentuk dari syok distributif atau sinkop

Terjadi akibat kegagalan pusat vasomotor karena hilangnya tonus pembuluh


darah secara mendadak di seluruh tubuh  sehingga terjadi hipotensi dan
penimbunan darah pada pembuluh darah pada capacitance vessels.

Diakibatkan oleh cidera pada sistem saraf (seperti : trauma kepala, cedera spinal
atau anestesi umum yang dalam)

Terjadi karena reaksi vasovagal berlebihan  mengakibatkan terjadinya


vasodilatasi menyeluruh di daerah splangnikus  aliran darah ke otak berkurang

Gambaran klasik dari syok neurogenik  hipotensi tanpa takikardi atau


vasokonstriksi perifer.

35
SYOK NEUROGENIK

ANAMNESIS

Biasanya terdapat cedera pada sistem saraf (seperti: trauma kepala, cidera
spinal, atau anestesi umum yang dalam)

PEMERIKSAAN FISIK

Terdapat tanda:
•Tekanan darah turun,
•Nadi tidak bertambah cepat, bahkan dapat lebih lambat (bradikardi)
•Kadang disertai dengan adanya defisit neurologis berupa quadriplegia
atau paraplegia

36
SYOK NEUROGENIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1) Darah (Hb, Ht, leukosit, golongan darah), kadar elektrolit, kadar ureum,
kreatinin, glukosa darah.
2) Analisa gas darah
3) EKG

DIFERENSIAL DIAGNOSIS

1. Semua jenis syok.


2. Sinkop (pingsan)
3. Hipoglikemia

37
TATALAKSANA
SYOK NEUROGENIK

Pemberian vasoaktif seperti fenilefrin dan efedrin  untuk mengurangi daerah


vaskuler dengan penyempitan sfingter prekapiler dan vena kapasitan untuk
mendorong keluar darah yang berkumpul ditempat tersebut.

1. Baringkan pasien dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki (posisi
Trendelenburg).

2. Untuk keseimbangan hemodinamik, sebaiknya ditunjang dengan resusitasi


cairan.

3. Bila tekanan darah dan perfusi perifer tidak segera pulih, berikan obat-obat
vasoaktif :
a) Dopamin
b) Norepinefrin
c) Epinefrin
d) Dobutamin

38
SYOK ANAFILAKTIK

39
Patogenesis Syok Anafilaktik

40
Patogenesis Syok Anafilaktik

Mekanisme anafilaksis melalui beberapa fase :

Fase Sensitisasi waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya
oleh reseptor spesifik pada permukaan mastosit dan basofil.

Fase Aktivasi waktu selama terjadinya pemaparan ulang dengan antigen yang
sama

Fase Efektor waktu terjadinya respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator yang dilepas mastosit atau basofil dengan aktivitas
farmakologik pada organ – organ tertentu

41
SYOK ANAFILAKTIK

ANAMNESIS

Didapatkan zat penyebab anafilaksis (injeksi, minumobat, disengathewan,


makan sesuatu atau setelah test kulit ), timbul biduran mendadak, gatal dikulit,
suara parau sesak ,sukar nafas, lemas, pusing, mual, muntah sakit perut setelah
terpapar sesuatu.

42
SYOK ANAFILAKTIK

PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan umum  baik sampai buruk

2) Kesadaran  compos mentis sampai koma

3) Tensi  hipotensi

4) Nadi  takikardi

5) Kepala dan leher  sianosis, dispneu, konjungtivitis, lakrimasi,


edema periorbita, perioral, rinitis

6) Thorax aritmia sampai arrest pulmo bronkospasme, stridor, rhonki dan


wheezing, abdomen : nyeri tekan, bising usus meningkat

7) Ekstremitas  urtikaria, edema.

43
SYOK ANAFILAKTIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIFERENSIAL DIAGNOSIS

1) Pemeriksaan Tambahan Hematologi Reaksi vasovagal

2) Analisa gas darah Infark miokard akut

3) X foto  Hiperinflasi dengan Reaksi hipoglikemik


atau tanpa atelektasis karena
mukus plug Reaksi histeris

4) EKG Carsinoid syndrome

Chinese restaurant syndrome

Asma bronkial

Rinitis alergika

44
TATALAKSANA
SYOK ANAFILAKTIK

45
TATALAKSANA
SYOK ANAFILAKTIK

46
47